<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; MANHAJ</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/manhaj/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Iman Kepada Takdir</title>
		<link>http://abumushlih.com/iman-kepada-takdir.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/iman-kepada-takdir.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 06:58:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jabriyah]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Qodariyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2499</guid>
		<description><![CDATA[Iman kepada takdir adalah salah satu rukun iman. Dari &#8216;Umar bin Khaththab radhiyallahu&#8217;anhu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda tentang iman, “Yaitu kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir baik maupun yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/iman-kepada-takdir.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fiman-kepada-takdir.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fiman-kepada-takdir.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Iman kepada takdir adalah salah satu rukun iman. Dari &#8216;Umar bin Khaththab <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda tentang iman, <em>“Yaitu kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir baik maupun yang buruk.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [1]])</p>
<p><span id="more-2499"></span></p>
<p>Ketika mendengar pengingkaran takdir yang dilakukan oleh sebagian penduduk Bashrah yang terpengaruh pemikiran Ma&#8217;bad al-Juhani, Abdullah bin &#8216;Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> mengatakan dengan tegas kepada Yahya bin Ya&#8217;mar dan Humaid bin Abdurrahman, <em>“Apabila kamu bertemu dengan mereka, kabarkanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka telah berlepas diri dariku. Demi Allah yang dengan nama-Nya Abdullah bin Umar bersumpah! Seandainya salah seorang diantara mereka ada yang berinfak dengan emas sebesar Uhud maka Allah tidak akan menerimanya hingga mereka beriman kepada takdir.”</em> Kemudian beliau membawakan hadits di atas sebagai dalilnya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/15] cet. Dar Ibnu al-Haitsam)</p>
<p><strong>[1] Kandungan Iman Kepada Takdir</strong></p>
<p>Iman kepada takdir mencakup empat tingkatan:</p>
<ol>
<li>Mengimani ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu sebelum      terjadinya</li>
<li>Mengimani bahwa Allah telah menuliskan itu semua sebelum      terjadinya</li>
<li>Mengimani bahwa semua itu terjadi dengan kehendak dari-Nya</li>
<li>Mengimani bahwa semua itu ada karena diciptakan oleh-Nya</li>
</ol>
<p>Diantara dalil untuk keempat tingkatan ini adalah:</p>
<ol>
<li>Firman Allah (yang artinya), <em>“Agar kalian mengetahui bahwa      Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan bahwasanya Allah itu ilmu-Nya      meliputi segala sesuatu.”</em> (QS. ath-Thalaq: 12)</li>
<li>Firman Allah (yang artinya), <em>“Dan segala sesuatu telah kami      catat dalam imam/kitab induk yang jelas.”</em> (QS. Yasin: 12). Yang      dimaksud kitab induk yang jelas adalah Lauhul Mahfuzh</li>
<li>Dari Abdullah bin &#8216;Amr bin al-&#8217;Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>,      Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Allah telah      menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan      langit dan bumi.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Qadar</em> [2653])</li>
<li>Firman Allah (yang artinya), <em>“Seandainya Rabb-mu berkehendak      niscaya seluruh yang ada di atas muka bumi itu pasti beriman.” </em>(QS.      Yunus: 99)</li>
<li>Firman Allah (yang artinya), <em>“Bagi siapa pun diantara kalian      yang berkehendak untuk menempuh jalan yang lurus. Namun, kalian tidaklah      berkehendak kecuali apabila Allah Rabb alam semesta juga menghendakinya.” </em>(QS.      at-Takwir: 28-29)</li>
<li>Firman Allah (yang artinya), “Allah adalah pencipta segala      sesuatu.” (QS. az-Zumar: 62) (lebih lengkap lihat <em>al-Mukhtashar fi      &#8216;Aqidati Ahlis Sunnah fi al-Qadar</em> karya Syaikh Dr. Ibrahim ar-Ruhaili <em>hafizhahullah</em>,      hal. 17-25 cet. Dar al-Imam Ahmad)</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[2] Dua Macam Kehendak Allah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kehendak/<em>irodah</em> Allah terbagi menjadi dua macam:</p>
<ol>
<li><em>Irodah kauniyah</em>; yaitu kehendak      Allah yang mencakup segala hal yang terjadi di alam semesta. Apa pun yang      Allah kehendaki pasti terjadi dan apa pun yang tidak Allah kehendaki tidak      akan terjadi. Bisa jadi hal itu dicintai dan diridhai oleh-Nya, atau      justru sebaliknya; hal itu adalah perkara yang tidak dicintai dan tidak      diridhai-Nya. Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), <em>“Barangsiapa      yang Allah kehendaki untuk mendapatkan hidayah maka Allah akan lapangkan      dadanya untuk menerima Islam, dan barangsiapa yang Allah kehendaki untuk      disesatkan maka Allah akan jadikan dadanya sempit dan sesak; seolah-olah      dia sedang mendaki ke atas langit.”</em> (QS. al-An&#8217;am: 125)</li>
<li><em>Irodah syar&#8217;iyah</em>; yaitu kehendak      Allah yang terkandung dalam perintah-Nya, di dalamnya tercermin kecintaan      dan keridhaan-Nya. Namun, apa yang dikehendaki-Nya menurut syari&#8217;at belum      tentu terjadi kecuali apabila dikehendaki oleh-Nya secara kauni/<em>irodah      kauniyah</em>. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah      menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi      kalian.”</em> (QS. al-Baqarah: 185). Segala bentuk ketaatan adalah sesuatu      yang Allah kehendaki secara syar&#8217;i (<em>irodah syar&#8217;iyah</em>), akan tetapi      tidak setiap hamba menjadi pelaku ketaatan. Ada diantara mereka yang      bermaksiat. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang taat bisa melakukan ketaatan      dengan terkumpulnya kedua macam kehendak tersebut. Adapun orang yang      bermaksiat, maka pada dirinya hanya terwujud <em>irodah kauniyah</em>. Allah      -dengan hikmah-Nya- menghendakinya terjadi walaupun hal itu bukan perkara      yang Allah cintai (lihat <em>al-Mukhtashar fi &#8216;Aqidati Ahlis Sunnah fi      al-Qadar</em>, hal. 55-58)</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[3] Buah Iman Kepada Takdir </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Diantara faidah yang bisa dipetik dari beriman kepada takdir adalah ketenangan hati serta tidak mudah goncang dalam menghadapi pahit getirnya perjalanan hidup. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah menimpa suatu musibah di muka bumi atau pada diri kalian sendiri melainkan telah tercatat dalam kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya hal itu bagi Allah sangatlah mudah. Supaya kalian tidak berputus asa atas apa yang telah luput dari kalian dan supaya kalian tidak terlalu bergembira atas apa yang Allah berikan kepada kalian.”</em> (QS. al-Hadid: 22-23) (lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 343-344)</p>
<p>Selain itu, orang yang beriman terhadap takdir akan memiliki keteguhan sikap dalam menghadapi berbagai cobaan, krisis, dan tekanan. Karena mereka meyakini bahwa hidup ini memang sebuah ujian. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.”</em> (QS. al-Mulk: 2). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang memang Allah tetapkan atas kami. Dia lah penolong kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakal.”</em> (QS. at-Taubah: 51) (lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 345)</p>
<p>Bahkan, dengan keimanan kepada takdir, seorang hamba bisa merubah bencana yang menimpanya menjadi pahala. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah menimpa suatu musibah melainkan dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya. Dan Allah terhadap segala sesuatu Maha Mengetahui.”</em> (QS. at-Taghabun: 11). &#8216;Alqomah berkata tentang maksud ayat ini, <em>“Dia adalah seorang yang tertimpa musibah, maka dia menyadari bahwa hal itu datang dari Allah, oleh sebab itu dia pun merasa ridha dan pasrah.”</em> Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tertimpa musibah kemudian bersabar maka Allah akan anugerahkan petunjuk ke dalam hatinya (lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 345-346)</p>
<p><strong>[4] Sabar Menghadapi Takdir</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah &#8216;azza wa jalla, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah &#8216;azza wa jalla, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan lebih utama di atas kesabaran menghadapi takdir yang terasa menyakitkan.”</em> (lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 279)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya Allah memiliki hak untuk diibadahi oleh hamba di saat tertimpa musibah, sebagaimana ketika dia mendapatkan kenikmatan.”</em> Beliau juga mengatakan, <em>“Maka sabar adalah kewajiban yang selalu melekat kepadanya, dia tidak boleh keluar darinya untuk selama-lamanya. Sabar merupakan penyebab untuk meraih segala kesempurnaan.”</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [11/344]).</p>
<p>Dari Shuhaib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” </em>(HR. Muslim dalam <em>Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;iq</em> [2999])</p>
<p><strong>[5] Kaum Penolak Takdir</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kaum penolak takdir/Qadariyah dapat dibagi menjadi 2:</p>
<ol>
<li>Qadariyah ekstrim yaitu yang mengingkari ilmu Allah terhadap      segala sesuatu sebelum terjadinya. Mereka juga mengingkari apabila      segalanya telah tertulis dalam <em>lauhul mahfuzh</em>. Mereka mengatakan      bahwa Allah memang telah memerintah dan melarang, akan tetapi Allah tidak      mengetahui siapakah yang akan taat dan siapa yang akan bermaksiat.      Sehingga menurut mereka segalanya terjadi begitu saja secara tiba-tiba      tanpa diketahui dan ditakdirkan sebelumnya oleh Allah. Aliran ini bisa      dikatakan telah musnah atau hampir tiada</li>
<li>Qadariyah yang mengakui ilmu Allah mencakup segalanya, akan      tetapi mengingkari takdir Allah terhadap perbuatan hamba. Menurut mereka      perbuatan hamba tercipta secara merdeka sebagai hasil ciptaan mereka      sendiri -bukan atas ciptaan dan kehendak Allah- dan inilah yang dianut      oleh Mu&#8217;tazilah. Kebalikan dari aliran ini adalah kelompok yang ekstrim      dalam menetapkan takdir, sampai-sampai mereka mengatakan bahwa hamba tidak      lagi memiliki kemampuan dan pilihan atas perbuatannya sendiri. Menurut      mereka hamba dalam keadaan <em>mujbar</em>/dipaksa dalam semua perbuatan      mereka. Karena pemikiran itulah mereka disebut dengan Jabriyah (lihat <em>al-Irsyad      ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 341 cet. Dar Ibnu Khuzaimah)</li>
</ol>
<p><strong>[6] Takdir Rahasia Allah</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk surga.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Qadar</em> [2651])</p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;ad as-Sa&#8217;idi <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk surga.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Jihad wa as-Siyar</em> [2898] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Qadar</em> [112])</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/iman-kepada-takdir.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbaiki Tauhid</title>
		<link>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 09:10:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2474</guid>
		<description><![CDATA[Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 16) Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperbaiki-tauhid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperbaiki-tauhid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p><span id="more-2474"></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak/sakit maka sakitlah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah jantung.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari an-Nu&#8217;man bin Basyir <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Oleh sebab itu mendakwahkan tauhid merupakan program yang sangat mulia. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Oleh sebab itu para da&#8217;i yang menyerukan tauhid adalah da&#8217;i-da&#8217;i yang paling utama dan paling mulia. Sebab dakwah kepada tauhid merupakan dakwah kepada derajat keimanan yang tertinggi.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman terdiri dari tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah laa ilaaha illallaah, sedangkan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (<strong>HR. Muslim </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Jati diri seorang muslim sangat ditentukan oleh sejauh mana kualitas tauhidnya. Karena tauhid dalam jiwanya laksana pondasi bagi sebuah bangunan. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan.” </em>(<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manakah yang lebih baik; orang yang menegakkan bangunannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, ataukah orang yang menegakkan bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia pun akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 109</strong>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hal itu dikarenakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat padanya. Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini -yaitu membangun masjid- dengan keikhlasan yang tertanam di dalam hatinya, maka amalan itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Tauhid ibarat sebatang pohon. Cabang-cabangnya adalah amalan. Adapun buahnya adalah kebahagiaan hidup di dunia dan kenikmatan tiada tara di akhirat. Demikian pula syirik, dusta dan riya&#8217; seperti sebatang pohon, yang buah-buahnya di dunia adalah cekaman rasa takut, kekhawatiran, sempit dada, dan gelapnya hati. Dan di akhirat nanti pohon yang jelek itu akan membuahkan siksaan dan penyesalan (lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 14)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan perumpamaan suatu kalimat yang baik seperti pohon yang indah, pokoknya tertanam kuat -di dalam tanah- sedangkan cabangnya menjulang ke langit.”</em> (<strong>QS. Ibrahim: 24</strong>). Yang dimaksud &#8216;kalimat yang baik&#8217; di dalam ayat ini adalah syahadat <em>laa ilaaha illallaah</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 425)</p>
<p>Saudara-saudaraku, sangat banyak ayat maupun hadits yang menerangkan tentang keutamaan memperbaiki dan mendakwahkan tauhid ini. Tidak sanggup rasanya lisan dan tangan ini untuk menggambarkan betapa agungnya dakwah tauhid ini. Bagaimana tidak? Sementara inilah hak Allah Rabb penguasa alam semesta dan intisari dakwah para Rasul<em> &#8216;alaihimush sholatu was salam</em>!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, agama yang murni adalah milik Allah.”</em> (<strong>QS. az-Zumar: 2-3</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku adalah orang yang pertama-tama pasrah.” </em>(<strong>QS. al-An&#8217;aam: 162-163</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang rasul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya; Tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” </em>(<strong>QS. al-Anbiyaa&#8217;: 25</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” </em>(<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 23</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Allah pun membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri.” </em>(<strong>QS. al-Hasyr: 19</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tentram.” </em>(<strong>QS. ar-Ra&#8217;d: 28</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Orang yang paling berbahagia dengan syafa&#8217;atku adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dengan ikhlas dari dalam hatinya.”</em> (<strong>HR. Bukhari </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah laa ilaha illallaah niscaya dia akan masuk surga.” </em>(<strong>HR. Abu Dawud </strong>dari Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya seluruh seruan yang ditegakkan dengan klaim ishlah/perbaikan sedangkan ia tidak memiliki pusat perhatian dalam masalah tauhid, tidak pula berangkat dari sana, niscaya dakwah semacam itu akan tertimpa penyimpangan sebanding dengan jauhnya mereka dari pokok yang agung ini. Seperti halnya orang-orang yang menghabiskan umur mereka dalam upaya memperbaiki hubungan antara sesama makhluk semata, akan tetapi hubungan mereka terhadap al-Khaliq -yaitu aqidah mereka- sangat menyelisihi petunjuk salafus shalih.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 17)</p>
<p>Maka tidaklah berlebihan jika kita katakan, <em>“Di mana pun bumi dipijak, maka di situlah dakwah tauhid harus ditegakkan!”</em>. Kebahagiaan seperti apakah yang anda idamkan, kejayaan macam apakah yang anda impikan, apabila semangat dakwah tauhid sama sekali tidak bergejolak di dalam hati anda?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemuliaan Abu Bakar</title>
		<link>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 22:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2457</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Kitab Fadha&#8217;il ash-Shahabah [Fath al-Bari Juz 7 hal. 15] dengan judul &#8216;Bab; Sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar.” Di dalamnya beliau menyebutkan sebuah riwayat &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-abu-bakar.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-abu-bakar.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> membuat bab di dalam <em>Kitab Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> [<em>Fath al-Bari</em> Juz 7 hal. 15] dengan judul <em>&#8216;Bab; Sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar.” </em>Di dalamnya beliau menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak penuturan Imam Bukhari tersebut.</p>
<p><span id="more-2457"></span></p>
<p>Imam Bukhari berkata:</p>
<p><strong>Abdullah bin Muhammad</strong> menuturkan kepada kami. [Dia berkata]: <strong>Abu &#8216;Amir</strong> menuturkan kepada kami. Dia berkata: <strong>Fulaih</strong> menuturkan kepada kami. Dia berkata: <strong>Salim Abu Nazhar</strong> menuturkan kepadaku dari <strong>Busr bin Sa&#8217;id</strong> dari <strong>Abu Sa&#8217;id al-Khudri</strong> <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata:</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkhutbah kepada orang-orang (para sahabat). Beliau mengatakan, <em>“Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba; antara dunia dengan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.”</em></p>
<p>Beliau -Abu Sa&#8217;id- berkata: “Abu Bakar pun menangis. Kami merasa heran karena tangisannya. Tatkala Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan ada seorang hamba yang diberikan tawaran. Ternyata yang dimaksud hamba yang diberikan tawaran itu adalah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Memang, Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami.”</p>
<p>Kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dengan ikatan persahabatan dan dukungan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang Khalil -kekasih terdekat- selain Rabb-ku niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai Khalil-ku. Namun, cukuplah -antara aku dengan Abu Bakar- ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam. Dan tidak boleh ada satu pun pintu yang tersisa di [dinding] masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.”</em></p>
<p>Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, di <em>Kitab</em> <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> (lihat <em>Syarh Nawawi</em> Juz 8 hal. 7-8)</p>
<p>Berikut ini pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari hadits di atas. Kami sarikan dari keterangan al-Hafizh Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi. Semoga bermanfaat.</p>
<ol>
<li>Hadits      ini mengandung keistimewaan yang sangat jelas pada diri Abu Bakar      ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>yang tidak ditandingi oleh siapapun -di      antara para sahabat-. Hal itu disebabkan beliau berhak mendapat predikat <em>Khalil</em> -kekasih terdekat- bagi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kalaulah      bukan karena faktor penghalang yang disebutkan oleh Nabi di atas (lihat <em>Fath      al-Bari</em> [7/17 dan 19])</li>
<li>Abu      Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengetahui bahwa seorang hamba yang      diberikan tawaran tersebut adalah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.      Oleh sebab itu beliau pun menangis karena sedih akan berpisah dengannya,      terputusnya wahyu, dan akibat lain yang akan muncul setelahnya (lihat <em>Syarh      Nawawi</em> [8/7])</li>
<li>Hadits      ini menunjukkan bahwa semestinya masjid dijaga agar tidak menjadi seperti      jalan tempat berlalu-lalangnya manusia kecuali dalam kondisi darurat yang      sangat penting (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Para      ulama itu memiliki pemahaman yang bertingkat-tingkat. Setiap orang yang      lebih tinggi pemahamannya maka ia layak untuk disebut sebagai<em> a&#8217;lam</em> (orang yang lebih tahu) (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Hadits      ini mengandung motivasi untuk lebih memilih pahala akhirat daripada perkara-perkara      dunia (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Hendaknya      seorang berterima kasih kepada orang lain yang telah berbuat baik      kepadanya dan menyebutkan keutamaannya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
</ol>
<p>Saudaraku&#8230; Kita bisa melihat bersama bagaimana zuhudnya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap dunia. Kecintaan kepada akhirat dan kerinduan untuk bertemu dengan Allah jauh lebih beliau utamakan daripada kesenangan dunia.</p>
<p>Kita juga bisa melihat bersama bagaimana kedalaman ilmu Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> terhadap hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sehingga ilmu itupun terserap dengan cepat ke dalam hatinya dan membuat air matanya meleleh. Beliau sangat menyadari bahwa kehadiran Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di tengah-tengah para sahabat laksana lentera yang menerangi perjalanan hidup mereka. Nikmat hidayah yang dicurahkan kepada mereka melalui bimbingan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah di atas segala-galanya.</p>
<p>Kita pun bisa menarik kesimpulan bahwa dakwah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berjalan dengan bantuan dan dukungan para sahabatnya. Beliau -dengan kedudukan beliau yang sangat agung- tidaklah berdakwah sendirian. Terbukti pengakuan beliau terhadap jasa-jasa Abu Bakar yang sangat besar kepadanya. Tentu saja yang beliau maksud bukan semata-mata bantuan Abu Bakar untuk kepentingan pribadi beliau, akan tetapi demi kemaslahatan umat yang itu tak lain adalah dalam rangka dakwah dan berjihad di jalan Allah.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan betapa agungnya kedudukan Abu Bakar di mata Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang melebihi sahabat-sahabat yang lain. Sehingga sangat keliru pemahaman sekte Syi&#8217;ah yang menjelek-jelekkan bahkan sampai mengkafirkan beliau.</p>
<p>Hadits ini pun menggambarkan keluhuran akhlak Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap para sahabatnya. Bagaimana beliau dengan tanpa malu-malu mengakui keutamaan Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Padahal, kedudukan Abu Bakar tentu saja berada di bawah kedudukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Meskipun demikian, beliau menyebutkan jasanya dan menyanjungnya di hadapan para sahabat yang lain.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa memuji orang di hadapannya diperbolehkan selama orang tersebut tidak dikhawatirkan <em>ujub</em> karenanya. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Abu Bakar dari sisi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetap memujinya di hadapannya dan di hadapan para sahabat yang lain. Hal itu mengisyaratkan kepada kita bahwa Abu Bakar bukanlah termasuk kategori orang yang dikhawatirkan merasa ujub setelah mendengar pujian tersebut.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa kecintaan yang terpendam di dalam hati pasti akan membuahkan pengaruh pada gerak-gerik fisik manusia. Kecintaan yang sangat dalam pada diri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap Abu Bakar pun tampak dari ucapan dan perbuatan beliau. Kalau kita mencintai Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka konsekuensinya kita pun mencintai orang yang beliau cintai. Dan di antara orang yang beliau cintai, bahkan yang paling beliau cintai adalah Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Kecintaan yang berlandaskan Islam dan persaudaraan seagama. Lantas ajaran apakah yang justru mengajarkan kita untuk membenci orang-orang yang paling dicintai oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, kalau bukan ajaran kesesatan?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salafi Kembali Dicaci</title>
		<link>http://abumushlih.com/salafi-kembali-dicaci.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/salafi-kembali-dicaci.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 00:49:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Aliran]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunni]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Wahhabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2429</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Sunnah sebagai penyelamat di tengah derasnya badai fitnah. Salawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, yang telah menunjukkan dengan gamblang mengenai jalan kebenaran, yaitu jalan al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat). Amma ba’du. Rasulullah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/salafi-kembali-dicaci.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsalafi-kembali-dicaci.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsalafi-kembali-dicaci.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Sunnah sebagai penyelamat di tengah derasnya badai fitnah. Salawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, yang telah menunjukkan dengan gamblang mengenai jalan kebenaran, yaitu jalan <em>al-Firqah an-Najiyah</em> (golongan yang selamat). <em>Amma ba’du</em>.</p>
<p><span id="more-2429"></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam itu datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali menjadi asing seperti kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Saudara seiman dan seakidah yang dirahmati Allah, tak henti-hentinya ahlul bathil menyerang dan menyerbu ahlul haq. Namun sama sekali hal itu tak akan menggoyahkan al haq sedikit pun. Belum lagi berlalu tragedi pengepungan kaum Syi’ah Hutsi di Yaman kepada saudara-saudara kita di Dammaj yang telah menewaskan sejumlah korban Ahlus Sunnah -<em>semoga Allah menempatkan mereka di surga-Nya</em>-.</p>
<p>Ternyata, dalam situasi yang sedemikian memprihatinkan ini, di negeri kita masih ada juga orang-orang yang berusaha menebarkan keragu-raguan terhadap kebenaran kepada umat Islam. Tuduhan dan celaan yang tidak pada tempatnya telah mengotori lisan dan tulisan mereka. Maha Suci Allah dari apa yang mereka lontarkan&#8230;</p>
<p>Saudaraku, semoga Allah mengokohkan imanku dan imanmu&#8230; Sesungguhnya Islam yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan mengikuti metode beragama para sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>.</p>
<p>Terlalu banyak dalil, dari ayat maupun hadits yang menetapkan hakikat yang agung ini. Sehingga pemahaman tentang hal ini menjadi sebuah perkara yang teramat jelas dan gamblang di mata orang-orang yang masih mendengar suara hatinya.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu urusan maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan rasul (as-Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’: 59</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menaati rasul, sesungguhnya dia telah menaati Allah.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa’: 80</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan/tuntunan rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah/petaka atau siksaan yang amat pedih.” </em>(<strong>QS. an-Nuur: 63</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi Rabbmu, sekali-kali mereka tidak beriman sampai mereka menjadikanmu sebagai hakim/pemutus perkara dalam segala perselisihan yang terjadi di antara mereka, kemudian mereka tidak mendapati dalam hati mereka rasa sempit atas apa yang kamu putuskan, dan mereka pasrah dengan sepenuhnya.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa’: 65</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah layak bagi seorang lelaki yang beriman, demikian pula bagi seorang perempuan yang beriman, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lain untuk urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia justru mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami akan membiarkan dia di dalam kesesatan yang dia pilih, dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa’: 115</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama yaitu Muhajirin dan Anshar, beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya&#8230;” </em>(<strong>QS. at-Taubah: 100</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku, maka dia akan melihat banyak perselisihan. Oleh sebab itu wajib atas kalian untuk mengikuti Sunnah/ajaranku dan Sunnah Khulafa’ur rasyidin yang berjalan di atas hidayah. Berpegang teguhlah dengannya. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham, dan jauhilah berbagai perkara yang diada-adakan. Karena setiap bid’ah itu sesat.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud dan Tirmidzi</strong>, Tirmidzi berkata; <em>hadits hasan sahih</em>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami pasti tertolak.” </em>(<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang menciptakan suatu bid’ah yang dia pandang sebagai sebuah kebaikan (bid’ah hasanah) maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengkhianati risalah.”</em></p>
<p>Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sunnah adalah bahtera Nuh. Barangsiapa yang menaikinya niscaya akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.”</em></p>
<p>Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah berhasil memperbaiki generasi awalnya.”</em></p>
<p>Imam al-Auza’i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Wajib bagimu untuk mengikuti jejak orang-orang yang terdahulu (salaf), dan jauhilah pendapat-pendapat akal manusia meskipun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan yang indah.”</em></p>
<p>Imam asy-Syafi’i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya suatu Sunnah/hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak halal baginya meninggalkannya hanya gara-gara mengikuti pendapat seseorang.”</em></p>
<p>Ketika membicarakan tentang <em>ath-Tha’ifah al-Manshurah</em>/golongan yang dimenangkan, Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Apabila mereka itu bukan ahlul hadits maka aku tidak tahu lagi siapakah mereka itu.”</em></p>
<p>Imam adz-Dzahabi <em>rahimahullah</em> memuji Imam ad-Daruquthni dengan ucapannya, <em>“Beliau tidak pernah menggeluti ilmu kalam/filsafat dan perdebatan, beliau pun tidak suka menceburkan diri ke dalamnya. Bahkan beliau adalah seorang salafi/pengikut salaf.”</em></p>
<p>Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa mengikuti Salafus Shalih –kaum Muhajirin dan Anshar, yaitu para sahabat, dan juga tabi’in dan tabi’ut tabi’in- adalah sebuah keharusan, apabila kita ingin termasuk golongan orang diridhai dan ditolong Allah. Maka setiap muslim tanpa kecuali harus beragama dengan berpegang kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pehamaman Salafus Shalih berdasarkan dalil-dalil yang sudah sangat jelas dan gamblang di atas, dan dalil-dalil lain yang banyak sekali. Inilah yang dimaksud dengan istilah salafi!!</p>
<p>Sekarang marilah kita bertanya kepada diri-diri kita:</p>
<p>Dari manakah kita mengetahui cara sholat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> –dari takbir sampai salam- kalau bukan dari para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>?</p>
<p>Dari manakah kita mengetahui tuntunan puasa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> –dari sejak sahur sampai buka- kalau bukan dari para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>?</p>
<p>Dari manakah kita mengetahui cara wudhu dan tayammum yang diajarkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kalau bukan dari para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>?</p>
<p>Dari manakah kita mengetahui akhlak Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kalau bukan dari keterangan para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>?</p>
<p>Aduhai, lantas mengapa sekarang di zaman ini, tatkala kita berbicara akidah, tatkala kita berbicara tauhid, tatkala kita berbicara tentang dakwah dan metode <em>ishlahul ummah</em>/memperbaiki umat sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan dipahami oleh para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em> kemudian seketika muncul tokoh-tokoh kaum muslimin yang berteriak-teriak mengingkari, melecehkan bahkan memusuhinya?!</p>
<p>Sungguh benar, apa yang dikatakan oleh sahabat Anas bin Malik <em>radhiyallahu’anhu </em>bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya tidaklah datang suatu zaman, melainkan yang sesudahnya itu lebih buruk daripada zaman sebelumnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Di saat-saat seperti inilah, semestinya setiap kita berintrospeksi sudahkah kita benar-benar berusaha mengikuti pemahaman Salafus Shalih, dalam akidah kita, ibadah kita, akhlak kita, dan mu’amalah kita. Bukannya malah menjauhkan umat dari pemahaman Salafus Shalih dan para ulamanya!</p>
<p>Apakah seperti ini balasan kalian kepada orang-orang yang telah mengorbankan harta, waktu, tenaga, bahkan nyawanya demi tegaknya dakwah Islam ini, wahai saudaraku! Tidakkah kalian ingat sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Janganlah kalian mencela para sahabatku! Seandainya ada salah seorang di antara kalian yang berinfak emas sebesar gunung Uhud maka hal itu tidak akan bisa mengimbangi infak mereka walaupun hanya satu mud/dua genggaman tangan, atau pun setengahnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Akankah kita mengikuti jejak makhluk-makhluk keji yang telah mencaci-maki para Sahabat bahkan mengkafirkan mereka dengan kedok kecintaan kepada keluarga Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>? Apakah kita akan menjadi juru bicara mereka yang senantiasa menutup-nutupi  aib, kedustaan, dan pengkhianatan mereka (baca: Syi’ah) kepada umat, sementara para Sahabat yang mulia –para pemetik janji surga- beserta para ulama pengikut setia mereka kita hinakan dan kita cela habis-habisan?! <em>Subhanallah</em>&#8230; Sungguh ini adalah kezaliman yang sangat besar!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/salafi-kembali-dicaci.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Tengah Era Fitnah dan Kelalaian</title>
		<link>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 03:42:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2286</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai bentuk ujian bagi segenap insan. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada rasul pembawa rahmat bagi seru sekalian alam. Amma ba&#8217;du. Masa-masa yang penuh dengan kekacauan (baca: fitnah) dan kelalaian adalah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai bentuk ujian bagi segenap insan. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada rasul pembawa rahmat bagi seru sekalian alam. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2286"></span> Masa-masa yang penuh dengan kekacauan (baca: fitnah) dan kelalaian adalah masa-masa yang membutuhkan kesiap-siagaan pada diri setiap insan. Tidakkah kita ingat bersama, <em>wahai saudaraku semoga Allah menjagaku dan menjagamu</em>&#8230; bahwa menjadi orang yang istiqomah di atas ketaatan di kala-kala fitnah merajalela adalah sebuah keutamaan yang sangat besar&#8230;</p>
<p>Dari Ma&#8217;qil bin Yasar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Beribadah di kala fitnah berkecamuk laksana berhijrah kepadaku.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Menjadi orang yang teguh di atas kebenaran di saat manusia tenggelam dalam kesesatan jelas merupakan sebuah keutamaan. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang asing itu? Dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjelaskan bahwa mereka itu adalah, <em>“Orang-orang yang berbuat baik tatkala orang-orang lain berbuat kerusakan.”</em> (<strong>HR. Thabrani</strong>, disahihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani)</p>
<p>Ingatkah engkau <em>wahai saudaraku</em>&#8230; bahwa kebaikan paling utama yang saat ini banyak dilalaikan oleh manusia adalah tauhid, iman dan keikhlasan?</p>
<p>Tentang keutamaan tauhid, maka kita semua ingat bahwa tauhid inilah yang menjadi tujuan diciptakannya seluruh jin dan manusia. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>). Para ulama salaf menafsirkan bahwa makna ibadah di sini adalah tauhid&#8230;</p>
<p>Lihatlah umat manusia yang ada&#8230; betapa banyak di antara mereka yang melalaikan tauhid! Sehingga mereka terjerumus dalam berbagai perbuatan syirik&#8230; Entah itu syirik besar maupun kecil, entah itu yang tampak maupun yang tersembunyi&#8230; Padahal, kita semua tahu betapa besar bahaya dosa yang satu ini, sampai-sampai Allah mengatakan (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik, yaitu bagi orang-orang yang Allah kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 48</strong>)</p>
<p>Tentang pentingnya keimanan, maka terlalu banyak dalil yang menunjukkan betapa besar peranan iman bagi kehidupan setiap insan. Di antaranya Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya semua manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong>)</p>
<p>Lihatlah umat manusia yang ada di sekitar kita&#8230; betapa banyak orang yang rela menjual keimanannya demi mendapatkan kesenangan dunia yang hanya sementara! Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bersegeralah dalam melakukan amalan-amalan sebelum datangnya fitnah-fitnah yang seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang masih beriman namun di sore harinya dia menjadi kafir, atau pada sore hari dia beriman namun di pagi harinya dia menjadi kafir. Dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Adapun, tentang keagungan ikhlas&#8230; maka banyak sekali dalil yang menunjukkan hal itu kepada kita. Di antaranya, Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong>). Dari Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya setiap amal itu diukur dengan niatnya. Dan setiap orang akan diberi balasan seperti apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, niscaya hijrahnya akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena motivasi dunia atau karena keinginan menikahi seorang wanita, maka hijrahnya hanya akan mendapatkan balasan seperti apa yang dia niatkan.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Lihatlah, berbagai fenomena yang ada di tengah umat manusia&#8230; Betapa banyak indikasi yang mencerminkan rusaknya nilai-nilai keikhlasan ini di dalam aktifitas hidup mereka. Penyakit riya&#8217; dan ujub seolah telah menjadi wabah yang merambah kemana-mana&#8230; Orang yang sholat, orang yang bersedekah, orang yang berdakwah, orang yang mengajarkan kebaikan&#8230; tidaklah ada satu celah kebaikan kecuali setan berusaha untuk membidikkan anak panah ujub dan riya&#8217; ini kepadanya&#8230;</p>
<p>Oleh sebab itu, Allah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa membaca <em>Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in</em> di dalam sholat kita&#8230; Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan -menukil keterangan gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah- bahwa <em>iyyaka na&#8217;budu</em> merupakan senjata untuk melawan penyakit riya&#8217;, sedangkan <em>iyyaka nasta&#8217;in</em> merupakan senjata untuk melumpuhkan penyakit ujub&#8230;</p>
<p><em>Saudaraku</em>.., semoga Allah meneguhkan kita di atas kebenaran.. Tauhid, iman dan keikhlasan inilah yang menjadi perisai hidup seorang muslim. Tidak ada nilainya harta dan keturunan apabila tidak diiringi dengan tauhid, iman dan keikhlasan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari -kiamat- tidaklah berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong>)</p>
<p>Tidaklah seorang hamba mendapatkan kemuliaan derajat di sisi Allah kecuali karena tauhid, iman dan keikhlasan yang mewarnai tindak-tanduk dan perilakunya. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tujuh golongan yang diberi naungan oleh Allah pada hari tiada lagi naungan kecuali naungan dari-Nya: [1] Seorang pemimpin yang adil, [2]  pemuda yang tumbuh dalam ketekunan beribadah kepada Allah, [3] lelaki yang hatinya bergantung di masjid, [4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka bertemu dan berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak berbuat keji oleh seorang wanita berkedudukan dan cantik namun ia mengatakan, &#8216;Aku takut kepada Allah&#8217;, [6] orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sepi lalu berlinanglah air matanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Maka di masa-masa yang penuh dengan fitnah dan kelalaian semacam ini setiap muslim harus berjuang mempertahankan tauhid, keimanan dan keikhlasan yang ada di dalam dirinya. Semoga Allah <em>ta&#8217;ala</em> menunjuki kita kepada kebenaran dan meneguhkan kita di atasnya, dan semoga Allah menunjuki kita kebatilan dan menjauhkan kita darinya. <em>Wallahul musta&#8217;an</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebab Utama Perpecahan</title>
		<link>http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 16:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Ishlah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>
		<category><![CDATA[Umat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2284</guid>
		<description><![CDATA[Ahlus Sunnah meyakini, bahwa persatuan merupakan salah satu pokok ajaran agama mereka. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (QS. Ali Imran: 103) Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan &#8216;tali &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsebab-utama-perpecahan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsebab-utama-perpecahan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ahlus Sunnah meyakini, bahwa persatuan merupakan salah satu pokok ajaran agama mereka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 103</strong>) <span id="more-2284"></span></p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan &#8216;tali Allah&#8217; di sini adalah <em>al-Jama&#8217;ah</em>/persatuan, atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya. Dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud, tatkala menceritakan golongan yang selamat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Yaitu al-Jama&#8217;ah.”</em> (dinukil dari <em>al-Ishbah fi Bayani Manhaj as-Salaf fi at-Tarbiyah wa al-Ishlah</em> karya Syaikh Abdullah bin Shalih al-Ubailan, hal. 79)</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Apabila umat manusia kembali kepada al-Kitab dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam niscaya persatuan itu akan terwujud. Sebagaimana hal itu telah terjadi pada generasi awal umat ini, padahal mereka dahulu -sebelumnya- berpecah-belah&#8230;”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 82). Beliau menekankan, <em>“Tidak akan bisa menyatukan hati dan mempersatukan umat manusia kecuali dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Kalau tanpa itu maka tidak mungkin mereka bisa bersatu&#8230;”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 82).</p>
<p>Syaikh Abdullah al-Ubailan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Dengan tiga perkara berikut ini, maka persatuan itu akan terlaksana; [1] aqidah yang sahihah, [2] kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah ketika berselisih, [3] taat kepada ulil amri (umara/ulama) serta selalu menginginkan kebaikan bagi mereka dan menasehati dengan cara yang bijak&#8230;” </em>(<em>al-Ishbah</em>, hal. 84).</p>
<p><strong>Apa Sebab Perpecahan?</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Syaikh Abdullah al-Ubailan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Mereka -Ahlus Sunnah- meyakini bahwa sebab utama perpecahan adalah sikap sektarian dan suka bergolong-golongan pada diri sebagian kaum muslimin terhadap suatu kelompok tertentu, jama&#8217;ah tertentu, atau sosok tertentu selain Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 85)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan. Maka engkau -wahai Muhammad- tidak ikut bertanggung jawab atas mereka sedikitpun.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;am: 159</strong>).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa agama memerintahkan untuk bersatu dan bersepakat, dan agama ini melarang tindak perpecah-belahan dan persengketaan bagi segenap pemeluk agama (Islam), dalam seluruh persoalan agama; yang pokok maupun yang cabang&#8230;”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 285)</p>
<p>Suatu ketika, Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> ditanya, <em>“Kamu berada di atas millah Ali atau millah Utsman?”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Bahkan, saya berada di atas millah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (dinukil dari <em>al-Ishbah</em>, hal. 86)</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Para sahabat dahulu biasa meninggalkan pendapat pribadi mereka, meskipun pendapat itu dibangun di atas al-Kitab dan as-Sunnah. Mereka meninggalkannya apabila hal itu menyebabkan tercerai-berainya persatuan. Lihatlah, bagaimana sikap Abdullah bin Mas&#8217;ud seorang sahabat yang mulia -semoga Allah meridhainya- tatkala Amirul Mukminin Utsman radhiyallahu&#8217;anhu menyempurnakan sholat (tidak mengqashar) di Mina. Padahal, Ibnu Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu berpendapat qashar di Mina. Meskipun demikian, apabila beliau sholat di belakang Utsman radhiyallahu&#8217;anhu maka beliau menyempurnakan (tidak qashar). Ketika ditanyakan kepadanya tentang hal itu, beliau menjawab, <strong>&#8216;Wahai putraku, perselisihan itu buruk.&#8217;</strong> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>).”</em> (dinukil dari <em>al-Ishbah</em>, hal. 97). Lihatlah, bagaimana Ibnu Mas&#8217;ud mengalah dan mengikuti pendapat Amirul Mukminin demi mempertahankan kesatuan umat&#8230;</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Memang terkadang sesuatu yang lebih utama ditinggalkan kepada sesuatu yang kurang utama, hal itu apabila dengan sesuatu yang kurang utama itu akan membuahkan persatuan. Di saat semacam itu, wajib baginya untuk mengalah dari menginginkan sesuatu yang lebih utama menuju sesuatu yang kurang utama. Hal itu perlu dilakukan demi utuhnya kesatuan dan persatuan kaum muslimin&#8230;” </em>(<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p>Beliau menambahkan, <em>“Hal itu -dianjurkan untuk mengalah- berlaku dengan catatan selama tidak merusak agama. Adapun apabila menimbulkan kerusakan agama, maka tidak boleh. Oleh karenanya wajib bagi seorang muslim mengalah dari memaksakan pendapat dan ijtihadnya, meskipun menurutnya apa yang dia yakini itulah yang lebih utama. Lantas, bagaimana lagi apabila ternyata apa yang dianut oleh jama&#8217;ah (mayoritas umat/ulama) adalah sesuatu yang lebih utama, sedangkan apa yang diyakini oleh orang yang menyelisihi ini adalah sesuatu yang kurang utama, atau bahkan sesuatu yang tidak benar?!.”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Oleh sebab itu seharusnya para penuntut ilmu dan orang-orang yang menyandarkan diri kepada ilmu mencamkan baik-baik kaidah ini; yaitu <strong>apabila seseorang muslim memiliki pendapat dan ijtihad yang seandainya ditampakkan kepada orang banyak menimbulkan kekacauan dan persengketaan, maka semestinya dia tidak perlu menampakkannya</strong>. Cukuplah dia mengikuti apa yang dianut oleh mayoritas umat Islam. Sebab hal itu lebih menjamin -kebaikan- baginya dan lebih mendekati kebenaran.” </em>(<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p>Syaikh Abdullah al-Ubailan mengomentari ucapan terakhir Syaikh Fauzan di atas, <em>“Benar, hal ini tidak ragu lagi sangat diperlukan. Apalagi dalam kondisi berkecamuknya fitnah.”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p><strong>Kesimpulan dan Pelajaran</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari paparan ringkas di atas, dapat kita petik kesimpulan dan faedah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Berpegang      teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah dengan benar -sebagaimana dipahami      Nabi dan para sahabat- membuahkan persatuan yang sejati, bukan justru      mengobarkan perpecahan di tengah-tengah umat, terlebih lagi di kalangan para      da&#8217;i&#8230;!</li>
<li>Apabila      perpecahan itu telah terjadi, maka sebabnya adalah tidak mewujudkan salah      satu di antara ketiga hal di atas. Bisa jadi karena perbedaan aqidah, atau      tidak mau merujuk kepada al-Kitab dan as-Sunnah, atau karena tidak merujuk      kepada ulil amri (ulama dan umara) dan menasehati mereka dengan cara yang      bijak.</li>
<li>Seorang      muslim hendaknya tidak segan untuk mengalah, menjaga persatuan, dan lebih      mengutamakan kemaslahatan umat di atas kepentingan pribadi dan golongan.</li>
<li>Seorang      muslim -apalagi penuntut ilmu dan da&#8217;i- semestinya memperhitungkan dampak      dari pendapat atau ucapan yang dilontarkannya di hadapan manusia, apakah      hal itu menimbulkan kekacauan di tengah-tengah mereka ataukah tidak.</li>
<li>Sebuah      pelajaran berharga, bahwa perpecahan tidak akan teratasi dengan perpecahan      pula. Perpecahan hanya bisa diatasi dengan persatuan yang sejati.      Barangsiapa mengira bahwa perpecahan bisa diatasi dengan sikap <em>ta&#8217;ashub</em> kepada sosok tertentu selain Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,      maka sungguh dia telah keliru!</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Perkenalan&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/sebuah-perkenalan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sebuah-perkenalan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 May 2011 03:54:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Audio]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin]]></category>
		<category><![CDATA[Daurah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Publikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Radio]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Website]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2277</guid>
		<description><![CDATA[:: Ma&#8217;had al-&#8217;Ilmi Menuntut ilmu adalah amal yang membutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Tanpa keduanya, tidaklah mungkin seseorang akan mendapatkan apa yang ia inginkan dari berbagai kebaikan yang begitu banyak. Pentingnya kesabaran dan kesungguhan banyak disinggung baik di dalam Al Qur’an &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sebuah-perkenalan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsebuah-perkenalan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsebuah-perkenalan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div>
<div>
<p><strong>:: Ma&#8217;had al-&#8217;Ilmi</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Menuntut  ilmu adalah amal yang membutuhkan kesungguhan dan kesabaran.  Tanpa  keduanya, tidaklah mungkin seseorang akan mendapatkan apa yang ia   inginkan dari berbagai kebaikan yang begitu banyak. Pentingnya   kesabaran dan kesungguhan banyak disinggung baik di dalam Al Qur’an   maupun As Sunnah. Dalam sebuah sya’ir Imam Syafi’i mengatakan :</p>
<p><span id="more-2277"></span></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Wahai Saudaraku …</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>engkau takkan mendapatkan ilmu</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>kecuali dengan enam perkara</em></p>
<p><em>‘kan ku sebutkan perincian beserta penjelasannya</em></p>
<p><em>Semangat, Sungguh-sungguh dan kecerdasannya</em></p>
<p><em>Modal, bersama pengajar dan panjang waktunya</em></p>
<p>Sumber:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://mahadilmi.wordpress.com/tentang-kami/pengantar/" target="_blank">http://mahadilmi.wordpress.com/tentang-kami/pengantar/</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Jadwal Kajian Rutin: <a rel="nofollow" href="http://mahadilmi.wordpress.com/kegiatan-rutin/" target="_blank">http://mahadilmi.wordpress.com/kegiatan-rutin/</a></p>
<p>Download Rekaman Kajian: <a rel="nofollow" href="http://mahadilmi.wordpress.com/download/download-kajian/" target="_blank">http://mahadilmi.wordpress.com/download/download-kajian/</a></p>
<p><strong>:: Buletin Dakwah</strong></p>
<p><strong> Buletin At-Tauhid</strong> merupakan buletin dakwah yang disebarkan secara rutin setiap pekan.   Materi yang disampaikan difokuskan pada pembenahan aqidah kaum muslimin   dan penanaman Sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagaimana  motonya <strong>‘Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah’</strong>.  Buletin  ini disebarkan ke berbagai masjid yang ada di Yogyakarta  (sekitar 70  masjid) setiap hari Jum’at sebanyak 11000 eksemplar. Jumlah  ini masih  terhitung kecil dibandingkan dengan 5000 masjid yang ada di  Yogyakarta.  Alhamdulillah, sekarang ini buletin sudah memasuki tahun  kelima.  Meskipun demikian, masalah klasik masih saja dihadapi yaitu  kendala  pendanaan yang sangat terbatas dikarenakan tidak adanya donatur  tetap  untuk kegiatan ini dan pemasukan infak yang kecil dan tidak  menentu.</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://buletin.muslim.or.id/about" target="_blank">http://buletin.muslim.or.id/about</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Arsip Artikel: <a rel="nofollow" href="http://buletin.muslim.or.id/arsip" target="_blank">http://buletin.muslim.or.id/arsip</a></p>
<p>Donasi: <a rel="nofollow" href="http://buletin.muslim.or.id/about/donasi-buletin-at-tauhid" target="_blank">http://buletin.muslim.or.id/about/donasi-buletin-at-tauhid</a></p>
<p><strong>Buletin Muslimah</strong></p>
<p>Bermula  dari buletin muslimah Zuhairoh yang disebarkan di kampus UGM,  UNY, dan  sekitarnya, kami memandang perlu menyebarkan  artikel-artikel  Zuhairoh  ke area yang lebih luas lagi, sehingga muslimah yang tidak  mendapat  versi cetak buletin ini dapat ikut mengambil faidah ilmu syar’i  yang  kami tuangkan ke dalam artikel-artikel Zuhairoh yang telah terbit   melalui blog yang sederhana ini.</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://buletinzuhairoh.wordpress.com/about/" target="_blank">http://buletinzuhairoh.wordpress.com/about/</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Bahasan Utama: <a rel="nofollow" href="http://buletinzuhairoh.wordpress.com/category/bahasan-utama/" target="_blank">http://buletinzuhairoh.wordpress.com/category/bahasan-utama/</a></p>
<p>Ziyadah: <a rel="nofollow" href="http://buletinzuhairoh.wordpress.com/category/azziyadah/" target="_blank">http://buletinzuhairoh.wordpress.com/category/azziyadah/</a></p>
<p><strong>:: Website Dakwah</strong></p>
<p><strong>Muslim.or.id</strong> adalah situs yang dikelola oleh mahasiswa dan alumni di  Yogyakarta   dan sekitarnya. Muslim.or.id berusaha menyebarkan dakwah  Islamiyyah  Ahlu Sunah  wal Jama’ah di jagad maya. Moto Muslim.or.id  adalah <strong>“Memurnikan Aqidah,  Menebarkan Sunah”</strong>.</p>
<p>Kami mengambil moto <strong>“Memurnikan Aqidah”</strong> karena  banyaknya  kerancuan-kerancuan yang tersebar di kalangan  masyarakat,  khususnya di negeri  kita tercinta ini, tentang Aqidah  Islamiyyah.  Ibadah yang seharusnya  dipersembahkan hanya kepada Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> telah dipalingkan pada  selain Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>.   Kesyirikan tersebar merajalela, sampai-sampai  orang-orang yang telah   dijuluki dengan sederetan titel dunia pun tidak luput  dari virus yang   sangat ganas ini. Masalah paling besar di balik itu semua adalah  bahwa   kesyirikan akan membuat pelakunya kekal selama-lamanya di dalam  neraka.   Hanya satu hal yang bisa mencegah itu semua yaitu dakwah  dengan  memurnikan  aqidah, menjadikan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai   satu-satunya sesembahan dan  tidak memalingkan segala macam ibadah  baik  perbuatan anggota badan, lisan dan  perbuatan hati pada selain  Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>.</p>
<p>Sumber:<a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/tentang-kami" target="_blank">http://muslim.or.id/tentang-kami</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Arsip Artikel: <a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/arsip" target="_blank">http://muslim.or.id/arsip</a></p>
<p>Pemasangan Iklan: <a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/iklan/" target="_blank">http://muslim.or.id/iklan/</a></p>
<p><strong>:: Website Muslimah</strong></p>
<p>Kami  mempersembahkan bingkisan kecil ini untuk  saudariku muslimah,   Bingkisan yang tersaji dalam situs  muslimah.or.id yang terbungkus   cantik dengan motto <strong>Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah</strong>.    Ini Bukan sekedar kata-kata manis yang kami tuliskan untukmu dan  bukan   sekedar pula uraian indah yang menghanyutkan rasa hati untuk  sementara   waktu. Kami bawakan untukmu sesuatu yang lebih manis dari  itu sehingga   engkau dengan seizin Allah ta’ala akan merasakan manisnya  iman,   kebahagiaan melakukan ketaatan dalam syari’at-Nya dan kerinduan    mendapatkan ilmu karena-Nya, baik dalam perkara dunia apalagi  akherat.   Kami berikan untukmu dengan landasan yang kokoh, yaitu  Al-Qur’an dan   As-Sunnah, dan dengan pemahaman dari generasi terbaik  dari umat ini   (salafush sholeh) yang ini telah jelas dalam firman-Nya:<em>“Orang-orang  yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan   muhajirin dan  anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,   Allah ridha  kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.”</em> (QS. At-Taubah: 100)</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://muslimah.or.id/tentang-muslimah" target="_blank">http://muslimah.or.id/tentang-muslimah</a></p>
<p><strong>BADAR On-Line</strong></p>
<p>Nama  BADAR merupakan brand yang kami usung sejak mulainya pembelajaran   bahasa arab di tempat kami, di pogung, utaran Fakultas Teknik UGM. Badar   merupakan singkatan dari Bahasa Arab Dasar. Selama berjalannya program   bahasa arab, kami melihat antusias masyarakat untuk belajar bahasa  arab  sangat tinggi, karena itulah kami pun bertekad supaya bahasa yang  penuh  barakah ini juga bisa dipelajari oleh kaum muslimin di mana pun  dia  berada.</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://badaronline.com/tentang-kami" target="_blank">http://badaronline.com/tentang-kami</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Arsip Artikel: <a rel="nofollow" href="http://badaronline.com/arsip" target="_blank">http://badaronline.com/arsip</a></p>
<p>Donasi: <a rel="nofollow" href="http://badaronline.com/dari-redaksi/donasi-pengembangan-web-bahasa-arab-online.html" target="_blank">http://badaronline.com/dari-redaksi/donasi-pengembangan-web-bahasa-arab-online.html</a></p>
<p><strong>:: Radio Muslim</strong></p>
<p><strong>Radio</strong> <strong>Muslim</strong> dikelola oleh teman-teman dari mahasiswa dan pemuda muslim di kota   Yogyakarta yang tergabung dalam Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.   Selain belajar di bangku kuliah, kami juga belajar Ilmu Agama Islam   melalui kajian-kajian yang ada. Begitu banyaknya kajian ilmiah tentang   Agama Islam ini terutama di kota Jogja, menumbuhkan keinginan kami untuk   menyebarluaskan ilmu kepada segenap sahabat muslim di mana pun berada.   Kami melihat saudara-saudara kami; sahabat muslim yang berada jauh  dari  kota Jogja, di luar kota bahkan di luar negeri jumlahnya cukup  banyak  dan mereka berminat sekali untuk bisa mendengarkan kajian-kajian  Islam.  Kami berterima kasih kepada sahabat muslim semua atas dorongan  dan  dukungan bagi kami untuk mendirikan Radio. Berkat Taufik dan  Rahmat-Nya  kemudian usaha rekan-rekan kru <strong>Radio</strong> <strong>Muslim</strong> -semoga Allah membalasnya dengan kebaikan- maka berdirilah Radio ini.</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://radiomuslim.com/tentang-kami/" target="_blank">http://radiomuslim.com/tentang-kami/</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Kajian Live Terbaru: <a rel="nofollow" href="http://radiomuslim.com/kajian-live-radiomuslim/" target="_blank">http://radiomuslim.com/kajian-live-radiomuslim/</a></p>
<p>Donasi Radio: <a rel="nofollow" href="http://radiomuslim.com/donasi-dakwah/" target="_blank">http://radiomuslim.com/donasi-dakwah/</a></p>
<p><strong>:: Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari</strong></p>
<p>Dalam   perkembangannya yang terakhir, YPIA memiliki 4 bidang konsentrasi    kegiatan, yaitu; pendidikan, dakwah, humas, dan kemuslimahan. Untuk    bidang pendidikan, YPIA membentuk 4 divisi; Ma’had al-‘Ilmi, Ma’had Umar    Bin Khattab (yang dahulu hanya berupa panitia BADAR), Ma’had  Syabaabul   Masjid (untuk mengkader aktifis masjid), dan Wisma Muslim  (untuk   menampung teman-teman mahasiswa yang ingin mendapatkan  lingkungan yang   kondusif untuk belajar dan mengaji). Untuk bidang  dakwah, YPIA membentuk   4 divisi, yaitu; Kajian Umum, Khutbah Jum’at  dan Kultum, FKIM (Forum   Kajian Islam Mahasiswa), dan Ketakmiran.  Adapun untuk bidang humas, YPIA   membentuk 5 divisi; Buletin dakwah,  Web dakwah, Radio muslim,   Pengembangan teknologi informasi (IT), dan  bagian Eksternal. Untuk   bidang kemuslimahan, kegiatan yang ada dibagi  ke dalam 3 divisi; dakwah,   buletin, dan perpustakaan. Khusus untuk  kemuslimahan ini diwadahi  dalam  forum yang disebut dengan FKKA (Forum  Kegiatan Kemuslimahan  Al-Atsari)</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://ypia.or.id/about/sejarah-ypia" target="_blank">http://ypia.or.id/about/sejarah-ypia</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Struktur Organisasi: <a rel="nofollow" href="http://ypia.or.id/about/struktur-organisasi" target="_blank">http://ypia.or.id/about/struktur-organisasi</a></p>
<p>Program Periode April &#8211; Sept 2011: <a rel="nofollow" href="http://ypia.or.id/about/program-yayasan-pendidikan-al-atsary" target="_blank">http://ypia.or.id/about/program-yayasan-pendidikan-al-atsary</a></p>
<p>Download Proposal: <a rel="nofollow" href="http://www.4shared.com/document/w-kB6YlM/proposal_ypia_bo_web.html" target="_blank">http://www.4shared.com/document/w-kB6YlM/proposal_ypia_bo_web.html</a></p>
<p><strong>Jadwal Kajian Terbaru: </strong></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-tematik-kampus-ugm-yogyakarta-mei-2011.html" target="_blank">http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-tematik-kampus-ugm-yogyakarta-mei-2011.html</a></p>
<p><strong>Daurah Muslimah:</strong></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-umum-untuk-muslimah-%E2%80%9Ckado-terindah-untuk-saudariku-muslimah%E2%80%9D-yogyakarta-mei-2011.html" target="_blank">http://muslim.or.id/info-dauroh-dan-kajian/kajian-umum-untuk-muslimah-%E2%80%9Ckado-terindah-untuk-saudariku-muslimah%E2%80%9D-yogyakarta-mei-2011.html</a></p>
<p><strong>:: SDIT Yaa Bunayya</strong></p>
<p><strong>Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) </strong><strong>Yaa Bun</strong><strong>ayya</strong> adalah bentuk satuan pendidikan dasar yang menyelenggarakan program    pendidikan enam tahun berdasarkan sistem pendidikan Islam yang benar    yang diperkaya kurikulum nasional sesuai dengan standar DIKDASMEN     KemenDiknas.</p>
<p>Sumber: <a rel="nofollow" href="http://www.sdityaabunayya.com/tentang-kami/" target="_blank">http://www.sdityaabunayya.com/tentang-kami/</a></p>
<p><strong>Info Terkait</strong></p>
<p>Penerimaan Siswa Baru: <a rel="nofollow" href="http://www.sdityaabunayya.com/2011/04/penerimaan-santri-baru/" target="_blank">http://www.sdityaabunayya.com/2011/04/penerimaan-santri-baru/</a></p>
<p>Pendaftaran: <a rel="nofollow" href="http://www.sdityaabunayya.com/form-pendaftaran/" target="_blank">http://www.sdityaabunayya.com/form-pendaftaran/</a></p>
<p>Peta Lokasi: <a rel="nofollow" href="http://www.sdityaabunayya.com/2011/04/peta-lokasi-sdit-yaa-bunayya/" target="_blank">http://www.sdityaabunayya.com/2011/04/peta-lokasi-sdit-yaa-bunayya/</a></p>
<p>Donasi: <a rel="nofollow" href="http://www.sdityaabunayya.com/donasi-sdit-yaa-bunayya/" target="_blank">http://www.sdityaabunayya.com/donasi-sdit-yaa-bunayya/</a></p>
<p><strong>:: Tautan Bermanfaat</strong></p>
<p>Mesin Pencari:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://yufid.com/" target="_blank">http://yufid.com/</a></p>
<p>Pusat Download Kajian:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://kajian.net/" target="_blank">http://kajian.net/</a></p>
<p>Perpustakaan Digital:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://mufiidah.com/" target="_blank">http://mufiidah.com/</a></p>
<p>Pusat Info Kajian:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://infokajian.com/" target="_blank">http://infokajian.com/</a></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sebuah-perkenalan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Program Dakwah Berkelanjutan Bagi Korban Erupsi Merapi</title>
		<link>http://abumushlih.com/program-dakwah-berkelanjutan-bagi-korban-erupsi-merapi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/program-dakwah-berkelanjutan-bagi-korban-erupsi-merapi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 14:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Cangkringan]]></category>
		<category><![CDATA[Erupsi]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Center]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Khutbah Jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[YPIA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2258</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah, as sholatu was salamu &#8216;ala rasulillah. Amma ba&#8217;du. Kaum muslimin yang dirahmati Allah, semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita&#8230; Kegiatan dakwah pasca bencana di lereng Merapi -khususnya di kecamatan Cangkringan- sampai hari ini (Jum&#8217;at, 1/4/2011) telah memasuki bulan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/program-dakwah-berkelanjutan-bagi-korban-erupsi-merapi.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fprogram-dakwah-berkelanjutan-bagi-korban-erupsi-merapi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fprogram-dakwah-berkelanjutan-bagi-korban-erupsi-merapi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Bismillah, as sholatu was salamu &#8216;ala rasulillah. Amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Kaum muslimin yang dirahmati Allah, <em>semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita</em>&#8230;</p>
<p><span id="more-2258"></span></p>
<p>Kegiatan  dakwah pasca bencana di lereng Merapi -khususnya di kecamatan  Cangkringan- sampai hari ini (Jum&#8217;at, 1/4/2011) telah memasuki bulan  ke-5. Sebagian besar pengungsi telah meninggalkan barak-barak mereka  menuju shelter-shelter yang telah dibangun oleh pemerintah bersama  elemen masyarakat yang lain. Meskipun demikian, bukan berarti dakwah  bagi korban erupsi sudah berhenti.</p>
<p>Masjid-masjid dan  musholla-musholla, di area pemukiman maupun di shelter masih kami  kunjungi untuk pelaksanaan kegiatan dakwah; khutbah jum&#8217;at, penyebaran  buletin, pengajian rutin, kerja bakti, dan terkadang juga disertai bakti  sosial. Hal ini telah menjadi komitmen kami <strong>Posko Dakwah dan Sosial Al-Atsari</strong> yang diusung bersama oleh 3 komponen utama: Islamic Center Bin Baaz,  Ponpes Jamilurrahman, dan Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Dakwah  tauhid dan sunnah di kawasan bencana ini harus tetap dijalankan, apa pun  resikonya.</p>
<p>Hal itu tidak lain, karena kita bersama telah  meyakini bahwa tauhid dan sunnah inilah yang akan mendatangkan  kemaslahatan hidup yang hakiki, ketentraman, keamanan, petunjuk, dan  kebahagiaan yang sejati bagi umat manusia dan segenap penduduk negeri.  Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Orang-orang yang  beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik)  mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah yang  diberikan petunjuk.&#8221;</em> (<strong>QS. al-An&#8217;am: 82</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>&#8220;Pada hari itu -kiamat- tidak berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.&#8221;</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong>)</p>
<p>Posko  Dakwah dan Sosial Al-Atsari, sangat bersyukur kepada Allah atas taufik  yang diberikan Allah kepada kami, sehingga kegiatan dakwah yang kami  lakukan &#8211;walaupun tentu saja banyak kekurangan disana-sini&#8211; masih bisa  berjalan dan berusaha mewarnai kehidupan kaum muslimin korban erupsi  dengan sentuhan rohani penyejuk hati.</p>
<p>Tercatat beberapa <strong>pengajian rutin</strong> yang telah diagendakan di Cangkringan. Di antaranya adalah; pengajian  rutin di Shelter Gondang I setiap pekan 3 kali; selasa, kamis dan sabtu,  waktu ba&#8217;da maghrib &#8211; isyak. Kemudian, pengajian rutin di Masjid an-Nur  Pagerjurang sepekan sekali setiap hari Kamis ba&#8217;da maghrib &#8211; isyak.  Selain itu, pengajian rutin di Masjid al-Mujahidin Plosokerep sepekan  sekali setiap hari Kamis ba&#8217;da maghrib juga. Pengajian rutin ba&#8217;da  maghrib juga setiap Sabtu di Masjid al-Mujahidin Bronggang dan musholla  Shelter Plosokerep II.</p>
<p>Selain pengajian rutin, <strong>khutbah Jum&#8217;at</strong> juga kami adakan di beberapa masjid, di antaranya di: Masjid an-Nur  Pagerjurang, masjid Baiturrahim Kopeng &#8211;sedang dibangun oleh Bank  Muamalat&#8211;, masjid al-Mujahidin Plosokerep, masjid al-Mujahidin  Bronggang, masjid al-Ikhlas Tegalbarep, masjid Shelter Gondang I, dan  lain-lain.</p>
<p>Selain itu, setiap hari Kamis dan Jum&#8217;at, ICBB (Islamic Center Bin Baaz) juga mengirimkan santri-santrinya untuk mengajar <strong>TPA</strong> di masjid-masjid di Cangkringan, antara lain di: masjid Shelter Gondang I, masjid Singlar, masjid al-Ikhlas Tegalbarep.</p>
<p>Ke  depan, kami juga akan melanjutkan program bimbingan belajar untuk siswa  SD di Shelter dan masjid-masjid binaan. Lebih jauh lagi, pembangunan <strong>Moslem Center Merapi</strong> (MCM) yang sedang melalui proses pengurusan wakaf juga menjadi kegiatan  pokok yang terus akan kami wujudkan, dengan pertolongan Allah <em>ta&#8217;ala</em> tentu saja.</p>
<p>Halangan,  rintangan dan hambatan, tidak pernah sepi dari perjalanan kami.  Kesibukan dakwah para ustadz di berbagai tempat, kesibukan rekan-rekan  relawan yang masih kuliah maupun yang telah menekuni dunia kerja, dan  berbagai kendala lainnya harus kami hadapi demi terlaksananya proyek  dakwah ini.</p>
<p>Tiada harapan yang kami miliki selain <strong>keistiqomahan</strong> di atas jalan dakwah yang haq ini hingga ajal menghampiri. Semoga  dengan perantaraan dakwah ini saudara-saudara kita di lereng Merapi bisa  menikmati keindahan ajaran tauhid dan Sunnah nabi yang suci. Dukungan  dan doa dari kaum muslimin bagi suksesnya program ini sangat  menggembirakan hati kami.</p>
<p><em>Wa layanshurannallahu man yanshuruh, innallaha laqawiyyun &#8216;aziiz</em>&#8230;</p>
<p><em>Wa shallallahu &#8216;ala nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. </em><br />
<em>Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin. </em></p>
<p>Alamat e-mail: ypiapeduli@yahoo.com<br />
Website: ypia.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/program-dakwah-berkelanjutan-bagi-korban-erupsi-merapi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Goresan Pesan Untuk Pembela Kebenaran</title>
		<link>http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 19:24:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tahdzir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2218</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba&#8217;du. Istilah dakwah salafiyah sudah tidak asing lagi di telinga kita. Suka atau tidak suka semua kelompok -kecuali Syi&#8217;ah dan bala tentaranya- pada akhirnya tentu akan sepakat jika &#8230; <a href="http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgoresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgoresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2218"></span></p>
<p>Istilah dakwah salafiyah sudah tidak asing lagi di telinga kita. Suka atau tidak suka semua kelompok -kecuali Syi&#8217;ah dan bala tentaranya- pada akhirnya tentu akan sepakat jika kita ajak untuk mengikuti para sahabat secara umum, walaupun dalam prakteknya mereka banyak menyelisihi generasi terbaik tersebut. Mereka -secara umum- bahkan mengklaim apa yang mereka yakini sebagai pemahaman para Sahabat, walaupun klaim mereka tidak dilandasi dengan bukti yang memadai. Yang memprihatinkan adalah, tatkala terbukti secara ilmiah bahwa apa yang mereka yakini atau amalkan ternyata bertentangan dengan pemahaman Sahabat mulailah muncul sikap permusuhan dan aksi penolakan. Terkadang penolakan itu sekedar dipendam di dalam hati, terkadang diucapkan dengan lisan, dan tidak jarang berakhir dengan peperangan, <em>Allahul musta&#8217;an</em>&#8230;</p>
<p>Saudaraku, sesungguhnya penisbatan kepada salafus shalih adalah penisbatan yang mulia dan terpuji, bukan perkara yang tercela sama sekali. Hal itu berulang kali kita dengar dari nukilan para ulama, di antaranya Syaikhul Islam Abul Abbas al-Harrani <em>rahimahullah</em>. Namun, yang menjadi persoalan sekarang ini adalah tatkala penisbatan ini dirancukan dengan sikap golongan atau kelompok tertentu yang mempersempit makna salafiyah. Kita memang tidak ingin memasukkan perusak dakwah ke dalam jajaran Salafi. Demikian pula sebaliknya. Kita juga tidak ingin menjatuhkan orang-orang yang masih bisa diperhitungkan perannya dalam dakwah yang agung ini dari kedudukan yang semestinya.</p>
<p>Oleh sebab itu wahai saudaraku, sudah semestinya kita bisa bersikap bijak dan adil dalam menilai dan bersikap, baik kepada diri kita sendiri ataupun kepada orang lain; yang mungkin kita anggap berseberangan dengan kita dalam banyak hal. Perhatikanlah bagaimana para Sahabat -teladan kita semua- dalam menilai diri mereka sendiri dan dalam memposisikan orang lain sebagaimana mestinya. Kita masih ingat, penuturan Ibnu Abi Mulaikah yang sangat masyhur dan dikutip oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, <em>“Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan ternyata mereka semuanya khawatir dirinya terjangkit kemunafikan.”</em> Ini adalah salah satu bukti kerendahan hati para Sahabat bersama dengan segala kebesaran yang mereka miliki. Amat jauh dengan keadaan sebagian kita pada hari ini, yang terkadang -secara tak terasa- telah menobatkan diri sendiri sebagai juru bicara kafilah dakwah yang mulia ini; sehingga siapapun yang berseberangan dengannya dianggap sebagai musuh dakwah salafiyah, <em>laa haula wa laa quwwata illa billah!</em></p>
<p>Dari situlah, alangkah tepat apa yang diungkapkan oleh Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> tatkala menggambarkan sosok manusia yang bijak. Beliau menjelaskan, <em>“Orang yang paling bijak itu adalah yang menjadikan keluhannya kepada Allah -atas musibah</em><em>/cobaan yang menimpanya- dikarenakan kesalahan dirinya sendiri, bukan malah dengan mengambinghitamkan orang lain.” </em>Di satu sisi, seorang Salafi memang dituntut untuk merasa mulia dan bergembira dengan kelurusan manhaj yang telah mereka pilih dan jalani. Akan tetapi, jangan dilupakan pula bahwa salah satu bagian dari kelurusan manhaj ini adalah tidak meremehkan orang lain atau menolak kebenaran yang disampaikan oleh orang atau kelompok lain. Tentu saja kita ingat, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah menjelaskan bahwa hal itu merupakan bentuk kesombongan.</p>
<p>Memang, kita harus angkat bicara untuk mengoreksi berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh sekte-sekte sesat. Itu merupakan bagian dari nasehat. Bahkan, tidak akan tegak agama ini tanpanya. Namun, sekali lagi kita harus bisa membedakan antara pengusung manhaj dengan manhaj itu sendiri. Kita semua tahu bahwa para Sahabat itu secara individu tidaklah ma&#8217;shum, kita tentu saja jauh berada di bawah mereka. Apabila -misalnya- ada salah seorang Sahabat -yang karena ketidaksengajaan darinya atau ketidaktahuan- sedikit melenceng dari Sunnah, kemudian kita tidak mengeluarkannya dari jajaran para Sahabat. Maka demikian pula semestinya, apabila kita melihat ada sebagian saudara kita yang dengan sebab yang sama terjerumus dalam bentuk penyimpangan terhadap sebagian cabang Sunnah tanpa dia sadari. Tentu tidaklah bijak apabila dengan serta merta dan tanpa <em>tabayyun</em> lantas kita pun mencoret namanya dari jajaran pengikut generasi utama; apalagi sampai membid&#8217;ahkan atau mengkafirkannya tanpa alasan yang kuat.</p>
<p>Banyak hal yang harus kita ukur dan kaji jika kita hendak menjatuhkan vonis berat semacam itu, apalagi pada hakekatnya itu bukanlah wilayah kewenangan kita para pemula yang mencium aroma pengajian belum berapa lama. Di antara poin paling pokok yang harus kita garis bawahi adalah pondasi keikhlasan. Tidak ada yang mengingkari bahwa poin ini merupakan intisari dari agama Islam yang hanif ini. Inilah standar utama dalam menilai dan menyikapi. Memang, ikhlas adalah amalan hati. Namun, itu bukan berarti keikhlasan itu tidak bisa dideteksi. Seorang yang jujur dengan keikhlasannya tentu akan sangat tidak menyukai ketenaran. Selain itu, seorang yang ikhlas tidak beramal atau berdakwah untuk mengejar target-target duniawi. Inilah sebabnya mengapa para Sahabat senantiasa berusaha mengoreksi dirinya sendiri sebelum jauh berbicara mengenai penyimpangan yang dilakukan oleh orang lain. Kita tentu masih ingat ucapan emas Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, <em>“Seorang mukmin sejati itu selalu memandang dosa-dosanya seakan-akan dia duduk di bawah gunung dan khawatir kalau-kalau gunung itu akan runtuh menjatuhi dirinya. Adapun seorang fajir akan memandang dosa-dosanya hanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya kemudian dia pun menghalaunya dengan begini -upaya yang ringan sekali- (meremehkannya, pen).”</em></p>
<p>Benar, pembicaraan mengenai sesuai atau tidak dengan Sunnah adalah pembicaraan mengenai cara, bukan niatnya. Akan tetapi ingatlah, bahwa yang kita nilai dengan timbangan syari&#8217;at adalah manusia seperti kita; yang sarat dengan kekurangan dan ketidaktahuan. Kita harus memandang mereka tidak hanya dengan kaca mata syari&#8217;at, namun juga dengan kaca mata takdir; kaca mata kasih sayang dan belas kasihan. Mungkin hujjah belum sampai kepada mereka, mungkin mereka salah paham, mungkin ada perilaku kita yang justru menjauhkan mereka dari dakwah ini, mungkin&#8230; mungkin&#8230; Ada banyak sekali kemungkinan yang mengharuskan kita bersikap hati-hati dan tidak sembarangan menjatuhkan vonis sesat kepada sebagian saudara kita yang berbeda pandangan dengan kita. Inilah mungkin yang selama ini jarang kita praktekkan. Kita justru sering mengambil sikap dan tindakan seolah-olah kita adalah manhaj salaf itu sendiri. Sehingga kita tidak pernah mengenal istilah kompromi dan toleransi. Hantam sana-sini tak peduli, <em>toh</em> ini kan bagian dari nasehat, begitu tipu daya setan yang kerap menghampiri telinga kita -yang penuh dengan &#8216;kotoran&#8217;- ini.</p>
<p>Tidakkah kita ingat wahai saudaraku, bagaimana kelembutan dan kebijakan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam berdakwah kepada orang-orang munafik. Padahal, kita juga mengetahui bersama bahwa Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun diperintahkan oleh Allah untuk berjihad melawan mereka dan bersikap keras kepada mereka. Apakah ini artinya beliau tidak taat atau mengkhianati tugasnya; atau akan kita katakan bahwa beliau bersikap plin-plan, sama sekali tidak! Hal ini justru memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita bahwa terkadang orang yang paling keras permusuhannya kepada kita itulah yang berhak untuk kita perlakukan dengan lemah lembut, bukan dengan sikap keras. Inilah kandungan pesan yang pernah dinasehatkan oleh Syaikh al-Albani <em>rahimahullah</em> kepada segenap penyeru dakwah salafiyah yang mulia ini&#8230;</p>
<p>Sederhananya; seorang Salafi memang dituntut untuk membela manhaj yang haq ini selama-lamanya. Namun, di sisi lain dia juga harus mengingat bahwa dirinya -atau gurunya sekalipun- adalah manusia biasa yang berusaha meniti manhaj ini dengan segala keterbatasan yang ada pada dirinya. Dengan kesadaran semacam inilah akan lenyap segala bentuk fanatisme buta&#8230; <em>Allahul muwaffiq</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lenyapnya Keberkahan Ilmu</title>
		<link>http://abumushlih.com/lenyapnya-keberkahan-ilmu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/lenyapnya-keberkahan-ilmu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Jan 2011 07:17:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2192</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba&#8217;du. Seorang penuntut ilmu, tentu tidak menginginkan ilmunya hilang begitu saja tanpa bekas. Terlebih lagi, jika yang hilang itu adalah keberkahan ilmunya. Alias ilmu yang dipelajarinya tidak &#8230; <a href="http://abumushlih.com/lenyapnya-keberkahan-ilmu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flenyapnya-keberkahan-ilmu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flenyapnya-keberkahan-ilmu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2192"></span></p>
<p>Seorang penuntut ilmu, tentu tidak menginginkan ilmunya hilang begitu saja tanpa bekas. Terlebih lagi, jika yang hilang itu adalah keberkahan ilmunya. Alias ilmu yang dipelajarinya tidak menambah dekat dengan Allah <em>ta&#8217;ala</em>, namun justru sebaliknya, <em>wal &#8216;iyadzu billah</em>&#8230;</p>
<p>Tidak sedikit, kita jumpai para penuntut ilmu syar&#8217;i yang berusaha untuk mengkaji kitab para ulama, bahkan bermajelis dengan para ulama dalam rangka menyerap ilmu dan arahan mereka. Tentu saja, perkara ini adalah sesuatu yang sangat-sangat harus kita syukuri. Karena dengan kokohnya ilmu dalam diri setiap pribadi muslim, niscaya agamanya akan tertopang landasan yang kuat. Sering kita dengar, ucapan yang sangat populer dari seorang Imam, Amirul Mukminin dalam bidang hadits, Muhammad bin Isma&#8217;il al-Bukhari <em>rahimahullah</em> di dalam Kitab Shahihnya yang menegaskan, <em>“Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.” </em></p>
<p>Begitu pula, perkataan Imam Ahlus Sunnah di masanya Ahmad bin Hanbal <em>rahimahullah</em> yang sangat terkenal, <em>“Umat manusia sangat membutuhkan ilmu jauh lebih banyak daripada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari cukup sekali atau dua kali. Adapun ilmu, maka ia dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.” </em>(lihat <em>al-&#8217;Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu</em>, tahqiq Syaikh Ali al-Halabi <em>hafizhahullah</em>).</p>
<p>Akan tetapi, tatkala ilmu yang dikaji, dihafalkan, dan didalami itu tidak sampai meresap serta tertancap kuat ke dalam lubuk hati, maka justru musibah dan bencana yang ditemui. Tidakkah kita ingat ungkapan emas para ulama salaf yang menyatakan, <em>“Orang-orang yang rusak di antara ahli ilmu kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan Yahudi. Dan orang-orang yang rusak di antara ahli ibadah kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan Nasrani.”</em> (lihat <em>Syarh Ba&#8217;dhu Fawa&#8217;id min Surah al-Fatihah</em> oleh <em>Fadhilatusy Syaikh</em> Shalih bin Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em>). Apa yang mereka katakan adalah kenyataan yang amat sering kita jumpai. Itu bukanlah dongeng atau cerita fiksi.</p>
<p>Saudaraku, semoga Allah menjaga diriku dan dirimu&#8230; Masih tersimpan dalam ingatan kita, doa yang sepanjang hari kita panjatkan kepada Allah, <em>“Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka, dan bukan jalannya orang-orang yang dimurkai (Yahudi) dan bukan pula orang-orang yang sesat (Nasrani).” </em>Inilah doa yang sangat ringkas namun penuh dengan arti. Bahkan, Syaikhul Islam Abul Abbas al-Harrani <em>rahimahullah</em> pun menyebutnya sebagai doa yang paling bermanfaat, mengingat kandungannya yang sangat dalam dan berguna bagi setiap pribadi. Kaum Yahudi dimurkai karena mereka berilmu namun tidak beramal. Adapun kaum Nasrani tersesat karena mereka beramal tanpa landasan ilmu. Maka, orang yang berada di atas jalan yang lurus adalah yang memadukan antara ilmu dan amalan.</p>
<p>Dari sinilah, kita mengetahui, bahwa hakekat keilmuan seseorang tidak diukur dengan banyaknya hafalan yang dia miliki, banyaknya buku yang telah dia beli, banyaknya kaset ceramah yang telah dia koleksi, banyaknya ustadz atau bahkan ulama yang telah dia kenali, tidak juga deretan titel akademis yang dibanggakan kesana-kemari. Kita masih ingat, ucapan sahabat Nabi yang mulia, Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu &#8216;anhu wa ardhahu</em>, <em>“Bukanlah ilmu itu diukur dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi pokok dari ilmu adalah khas-yah/rasa takut -kepada Allah-.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em> karya Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em>).</p>
<p>Oleh sebab itulah, kita dapati para ulama salaf sangat keras dalam berjuang menggapai keikhlasan dan menaklukkan hawa nafsu serta ambisi-ambisi duniawi. Diriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri <em>rahimahullah</em>, beliau berkata, <em>“Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih berat daripada niatku.” </em>(lihat <em>Hilyah Thalib al-&#8217;Ilm</em> oleh Syaikh Bakr Abu Zaid <em>rahimahullahu rahmatan wasi&#8217;ah</em>).  Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya setiap amal itu dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang hanya akan meraih balasan sebatas apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya [tulus] karena Allah dan Rasul-Nya niscaya hijrahnya itu akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena [perkara] dunia yang ingin dia gapai atau perempuan yang ingin dia nikahi, itu artinya hijrahnya akan dibalas sebatas apa yang dia inginkan saja.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>).</p>
<p>Ikhlas, bukanlah ucapan yang terlontar di lidah, huruf yang tertulis dalam catatan, banyaknya harta yang telah kita sumbangkan untuk kebaikan, lamanya waktu kita berdakwah, atau penampilan fisik yang tampak oleh mata. Ikhlas adalah &#8216;permata&#8217; yang tersimpan di dalam hati seorang mukmin yang merendahkan hati dan jiwa-raganya kepada Rabb penguasa alam semesta. Inilah kunci keselamatan dan keberhasilan yang akan menjadi sebab terbukanya gerbang ketentraman dan hidayah dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan memperoleh keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;am: 82</strong>). Allah berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari [kiamat] tidak lagi berguna harta dan keturunan, kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, tidak juga harta kalian. Akan tetapi yang dipandang adalah hati dan amal kalian.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Sementara kita semua mengetahui, bahwa tanpa keikhlasan tak ada amal yang akan diterima, <em>Allahul musta&#8217;an</em>.</p>
<p>Kita juga masih ingat, nasehat emas Ahli Hadits kontemporer yang sangat terkenal Syaikh al-Albani <em>rahimahullah</em> di dalam kitab-kitabnya supaya kita tidak menjadi orang yang memburu popularitas. Beliau mengutip ungkapan para ulama kita terdahulu, <em>Hubbuzh zhuhur ya</em><em>qtha&#8217;uzh zhuhur</em>, <em>“</em><em>Menyukai ‘ketinggian’ </em><em>akan mematahkan punggung.”</em> Maknanya, gila popularitas akan menyebabkan kebinasaan, kurang lebih demikian&#8230; Allah berfirman (yang artinya), <em>“Berikanlah peringatan, sesungguhnya peringatan itu akan berguna bagi orang-orang yang beriman.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 55</strong>).</p>
<p>Ikhlas -<em>wahai saudaraku</em>- … adalah rahasia kesuksesan dakwah nabi dan rasul serta para pendahulu kita yang salih. Berapapun jumlah orang yang tunduk mengikuti seruan mereka, mereka tetap dinilai berhasil dan telah menunaikan tugasnya dengan baik. Mereka tidak dikatakan gagal, meskipun ayahnya  sendiri produsen berhala, meskipun anaknya sendiri menolak perintah Rabbnya, meskipun pamannya sendiri tidak mau masuk Islam yang diserukannya, meskipun tidak ada pengikutnya kecuali satu atau dua saja, bahkan ada nabi yang tidak punya pengikut sama sekali&#8230;! Mereka, adalah suatu kaum yang mendapatkan pujian dan keutamaan dari Allah karena keikhlasan dan ketaatan mereka kepada Rabbnya, karena ilmu dan amalan yang mereka miliki. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul, maka mereka itulah yang akan bersama dengan kaum yang mendapatkan kenikmatan dari Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada&#8217; dan orang-orang salih. Mereka itulah sebaik-baik teman.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 69</strong>)</p>
<p>Kalau kita memang ikhlas -<em>wahai saudaraku</em>- niscaya kita akan merasa senang apabila saudara kita mendapatkan hidayah, entah itu melalui tangan kita atau tangan orang lain&#8230; Kalau kita memang ikhlas -<em>wahai saudaraku</em>- maka amalan sekecil apapun tidak akan pernah kita sepelekan! Ibnu Mubarak <em>rahimahullah</em> mengingatkan, <em>“Betapa banyak amalan kecil yang menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil gara-gara niat.”</em> (<em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wal Hikam</em> oleh Ibnu Rajab). <em>Semoga Allah memberikan karunia keikhlasan kepada kita..</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/lenyapnya-keberkahan-ilmu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

