<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Nabi</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/nabi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Kisah Unik Abu Hurairah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 06:41:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Murid]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2423</guid>
		<description><![CDATA[Kutinggalkan rombongan untuk mencari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Akhirnya, aku jumpai sebuah kebun milik kaum Anshar dari Bani Najjar. Aku kelilingi kebun itu, barangkali ada pintu masuk yang bisa dilewati... *** Imam Muslim rahimahullah menuturkan sebuah kisah menarik di &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-unik-abu-hurairah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-unik-abu-hurairah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Kutinggalkan rombongan untuk mencari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Akhirnya, aku jumpai sebuah kebun milik kaum Anshar dari Bani Najjar. Aku kelilingi kebun itu, barangkali ada pintu masuk yang bisa dilewati.</em><em>..</em></p>
<p><span id="more-2423"></span></p>
<p>***</p>
<p>Imam Muslim <em>rahimahullah</em> menuturkan sebuah kisah menarik di dalam kitabnya Shahih Muslim. Beliau berkata: Zuhair bin Harb menuturkan kepada saya: [Dia berkata] Umar bin Yunus al-Hanafi menuturkan kepada kami: [Dia berkata] Ikrimah bin &#8216;Ammar menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Hurairah menuturkan kepadaku.</p>
<p>Abu Hurairah berkata:</p>
<p>Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Ketika itu ada juga bersama kami Abu Bakar dan Umar dalam sebuah rombongan [para sahabat]. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bangkit meninggalkan rombongan kami. Akhirnya, beliau pun tertinggal di belakang kami. Kami khawatir kalau ada apa-apa yang menimpa beliau sehingga tertinggal dari rombongan. Kami pun merasa khawatir dan berusaha mencari tahu keberadaan beliau. Saat itu, aku adalah orang pertama yang dirundung cemas, jangan-jangan ada sesuatu yang menimpa beliau.</p>
<p>Kutinggalkan rombongan untuk mencari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Akhirnya, aku jumpai sebuah kebun milik kaum Anshar dari Bani Najjar. Aku kelilingi kebun itu, barangkali ada pintu masuk yang bisa dilewati. Ternyata pintu itu tidak ada. Yang aku temukan hanyalah sebuah sungai kecil yang menuju bagian dalam kebun. Sungai itu bersumber dari sebuah mata air di luar kebun. Aku pun meloncat -masuk ke dalam kebun- seperti seekor srigala.</p>
<p>Di dalam kebun itu, aku bertemu dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Beliau berkata, <em>“Abu Hurairah?”</em>. Kujawab, <em>“Benar ya Rasulullah”.</em> Beliau mengatakan, <em>“Ada apa denganmu?”</em>. Aku  berkata, <em>“Sebelum ini anda berada di tengah-tengah kami, kemudian anda pergi sehingga tertinggal dari rombongan. Kami merasa khawatir ada apa-apa yang terjadi padamu sehingga tertinggal dari rombongan. Kami merasa was-was, dan akulah orang pertama yang merasa cemas. Oleh sebab itu aku datangi kebun ini. Aku pun meloncat -masuk ke dalam kebun- seperti seekor srigala. Sementara para sahabat yang lain tetap berada di belakang.”</em></p>
<p>Beliau pun bersabda -seraya memberikan sepasang sandalnya kepadaku-, <em>“Pergilah dengan membawa kedua sandalku ini. <strong>Siapa saja yang kamu temui di balik kebun ini sedangkan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya, maka berikanlah kabar gembira surga untuknya</strong>.”</em></p>
<p>Setelah keluar, ternyata orang pertama yang aku jumpai adalah Umar. Umar pun bertanya, <em>“Ada apa dengan kedua sandal ini wahai Abu Hurairah?”</em>. Aku berkata, <em>“Ini adalah sandal Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Beliau mengutusku dengannya seraya berpesan: Barangsiapa yang  aku jumpai di balik kebun ini sedangkan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya, maka akan aku berikan kabar gembira surga untuknya.”</em></p>
<p>Umar pun memukul dadaku dengan tangannya. Aku pun terdorong jatuh dan terduduk di atas pantatku. Umar berkata, <em>“Kembalilah wahai Abu Hurairah.”</em> Aku pun kembali menemui Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Seraya menahan tangis aku adukan hal ini kepada beliau. Umar pun ternyata berjalan mengikutiku dari belakang.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya kepadaku, <em>“Apa yang terjadi padamu, wahai Abu Hurairah?”</em>. Aku menjawab, “Aku tadi bertemu dengan Umar. Kemudian kukabarkan kepadanya berita yang anda perintahkan. Tiba-tiba Umar mendaratkan sebuah pukulan ke dadaku sehingga aku pun terdorong jatuh dan terduduk di atas pantatku. Umar justru berkata kepadaku, <em>“Kembalilah.”</em></p>
<p>Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya kepada Umar, <em>“Wahai Umar. Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?”</em>. Umar menjawab, <em>“Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu. Benarkah anda telah mengutus Abu Hurairah dengan membawa kedua sandalmu untuk mengatakan kepada orang yang dia temui; barangsiapa yang dia temui sedangkan dia telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya bahwa dia mendapatkan kabar gembira surga?”</em>.</p>
<p>Beliau pun menjawab, <em>“Benar”</em>. Umar pun menimpali, <em>“<strong>Jangan anda lakukan itu. Saya khawatir orang-orang menjadi bersandar kepadanya. Biarkan saja mereka sibuk dengan amalnya</strong>.”</em> Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ya, biarkan saja mereka.”</em></p>
<p>[Diterjemahkan dari <em>Shahih Muslim</em> bersama Syarah Nawawi, juz 2 hal. 77-82]</p>
<p>Kaum muslimin yang dirahmati Allah, kisah ini menyimpan segudang pelajaran berharga. Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> telah menyebutkan sebagian pelajaran yang terkandung di dalam hadits ini sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Tatkala memberitakan rombongan para sahabat yang ada saat itu,      Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Ketika itu ada juga      bersama kami Abu Bakar dan Umar&#8230;”</em>. Ini merupakan cara pemberitaan      yang bagus. Yaitu apabila bermaksud menceritakan serombongan orang namun      dirasa terlalu banyak jika harus disebutkan seluruhnya, maka cukuplah      disebutkan tokoh-tokohnya. Adapun yang lain cukup disebutkan secara umum      (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/77])</li>
<li>Di dalam hadits di atas Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebutkan bahwa orang yang akan masuk surga adalah orang yang      mengucapkan la ilaha illallah dengan disertai keyakinan hati. Hal ini      menunjukkan bahwa sekedar mengucapkan kalimat syahadat tanpa disertai      keyakinan terhadap kandungannya tidaklah bermanfaat. Demikian pula, keyakinan      tauhid yang tidak diucapkan juga tidak berguna. Oleh sebab itu keduanya      harus dipadukan; yaitu keyakinan tauhid dan ucapan/syahadat (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/79]). Hal ini tentu saja dengan catatan ucapan dan keyakinan      itu juga diiringi dengan amalan; yaitu seorang beribadah kepada Allah      semata dan mengingkari peribadatan kepada selain-Nya, sebagaimana hal itu      telah dipahami&#8230;</li>
<li>Perbuatan Umar ketika memukul Abu Hurairah bukanlah dalam      rangka menjatuhkan atau menyakitinya, akan tetapi demi mencegahnya dari      apa yang hendak dia lakukan dan supaya dia benar-benar menahan diri      darinya. Sebab, menurut pandangan Umar menyembunyikan berita itu untuk      sementara jauh lebih mendatangkan kebaikan daripada menyebarkannya. Karena      dengan menyebarkannya membuat orang hanya bersandar dengan tauhid dan      meninggalkan amalannya. Tatkala pandangan itu disampaikan Umar kepada Nabi      <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, ternyata beliau pun menyetujui      pendapatnya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/80])</li>
<li>Hal ini menunjukkan bahwa apabila seorang pemimpin atau orang      yang lebih senior memilih suatu pendapat kemudian orang-orang yang      mengikutinya memiliki pendapat yang berlainan, semestinya bagi pengikut      untuk menyampaikan pendapat itu kepada pemimpin atau seniornya. Apabila      tampak baginya bahwa yang benar adalah pendapat si pengikut maka      selayaknya pemimpin itu pun rujuk kepadanya. Apabila ternyata sebaliknya      -pendapat mereka yang salah-, hendaknya dia menjawab kerancuan yang mereka      tanyakan (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/80])</li>
<li>Seorang yang berilmu hendaknya menyempatkan diri untuk      duduk-duduk bersama murid-murid atau orang-orang yang bertanya kepadanya      dalam rangka menyampaikan ilmu atau faidah serta melayani      pertanyaan-pertanyaan mereka (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Kisah di atas menunjukkan betapa besar penghormatan dan sopan      santun para sahabat <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em> dalam menunaikan hak-hak      Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</em> dalam memuliakan beliau      dan menaruh rasa kasih sayang yang sangat besar kepada beliau (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Kisah ini juga memberikan pelajaran hendaknya para murid atau      pengikut memiliki perhatian dan kepedulian terhadap orang yang mereka      ikuti. Hendaknya mereka juga memikirkan tentang kemaslahatan untuknya dan      berusaha menyingkirkan mafsadat yang ditemuinya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Bolehnya memasuki suatu daerah/tempat milik orang lain      -termasuk juga menggunakan barang-barang yang ada di dalamnya- walaupun      tanpa ijin darinya selama dia mengetahui bahwa orang tersebut [pemiliknya]      tidak mempermasalahkan hal itu dikarenakan kedekatan hubungan yang      terjalin di antara mereka berdua. Inilah pendapat yang dianut oleh      mayoritas ulama salaf maupun ulama belakangan (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Hendaknya seorang pemimpin mengirimkan suatu tanda yang bisa      dikenali oleh para pengikutnya demi mendatangkan ketenangan di hati mereka      (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81]). Sebagaimana halnya Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> mengutus Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> dengan membawa sandal beliau agar para sahabat merasa yakin tentang      keselamatan beliau dan tidak perlu lagi mencemaskan keadaannya</li>
<li>Bolehnya menahan penyebaran sebagian ilmu yang dirasa kurang      perlu dalam rangka  kemaslahatan      yang lebih besar atau dikhawatirkan timbulnya mafsadat (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/81]). Pelajaran serupa juga bisa kita petik dari hadits      Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> tatkala berboncengan dengan Nabi      <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. </em>Ketika itu Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah seorang hamba yang bersaksi      bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan Muhammad adalah      hamba dan utusan-Nya -dengan penuh kejujuran- kecuali pasti Allah haramkan      dia masuk neraka.” </em>Mu&#8217;adz berkata, <em>“Wahai Rasulullah, tidakkah      sebaiknya saya kabarkan hadits ini kepada orang-orang sehinga mereka      merasa senang?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Kalau kamu lakukan hal itu,      niscaya mereka akan bersandar (menyepelekan amal).” M</em>enjelang akhir      hayatnya barulah Mu&#8217;adz bin Jabal menyampaikan hadits ini karena ia      khawatir terjatuh dalam perbuatan dosa -yaitu menyembunyikan ilmu- (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/83])</li>
</ol>
<p>Demikianlah secuplik kisah unik yang dialami oleh sahabat Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Mudah-mudahan menjadi bahan pelajaran bagi kita. Dari sini kita juga bisa memetik pelajaran tentang kedalaman ilmu para ulama salaf dan kepahaman mereka tentang kondisi umat manusia.</p>
<p>Para ulama salaf bukanlah kaum tekstualis yang hanya berkutat pada teks dalil tanpa menganalisa hal-hal lain yang terkait dengannya -sebagaimana tuduhan kaum Liberal-, bahkan mereka pun menyelami dampak dan pengaruh dari suatu dalil terhadap pendengarnya. Mereka menggunakan akalnya demi memahami dan menerapkan dalil, bukan untuk menghakimi dan menyelewengkannya.</p>
<p>Wahai kaum muslimin&#8230; Ketahuilah, bahwa kejayaan umat ini hanya akan diraih bersama manhaj salaf. Bukankah Imam Malik <em>rahimahullah</em> telah mengatakan, <em>“Tidak akan memperbaiki kondisi akhir umat ini kecuali sesuatu yang telah berhasil memperbaiki generasi awalnya.” </em>Imam al-Auza&#8217;i <em>rahimahullah</em> juga berpesan, <em>“Hendaklah kamu setia dengan jejak para salaf meskipun orang-orang menolakmu. Dan waspadalah dari pendapat akal manusia, meskipun mereka menghias-hiasinya dengan ungkapan yang indah.” </em>Akankah kita membuang ucapan emas para ulama salaf dan kita telan ucapan kotor kaum sekuler dan pluralis? <em>Kallaa tsumma kallaa</em> -sekali-kali tidak-&#8230;!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiada Nabi Lagi Sesudah Beliau!</title>
		<link>http://abumushlih.com/tiada-nabi-lagi-sesudah-beliau.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tiada-nabi-lagi-sesudah-beliau.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 22:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Aliran]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ayat]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Palsu]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Sekte]]></category>
		<category><![CDATA[Sesat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2228</guid>
		<description><![CDATA[Kaum muslimin&#8230; semoga senantiasa dirahmati Allah&#8230; Allah ta’ala berfirman, مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا “Muhammad itu bukanlah ayah dari salah seorang lelaki di antara kalian. Akan tetapi, beliau &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tiada-nabi-lagi-sesudah-beliau.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiada-nabi-lagi-sesudah-beliau.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiada-nabi-lagi-sesudah-beliau.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Kaum muslimin&#8230; <em>semoga senantiasa dirahmati Allah</em>&#8230;</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p><strong>مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>“Muhammad itu bukanlah ayah dari salah seorang lelaki di antara kalian. Akan tetapi, beliau adalah utusan Allah dan <strong>penutup nabi-nabi</strong>. Dan Allah terhadap segala sesuatu Maha mengetahui.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 40</strong>)</p>
<p><span id="more-2228"></span></p>
<p>Di dalam kitab tafsirnya, Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p><strong>فهذه الآية نص في أنه لا نبي بعده، وإذا كان لا نبي بعده فلا رسول [بعده] بطريق الأولى والأحرى؛ لأن مقام الرسالة أخص من مقام النبوة، فإن كل رسول نبي، ولا ينعكس. وبذلك وردت الأحاديث المتواترة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم من حديث جماعة من الصحابة.</strong></p>
<p><em>“Ayat ini merupakan dasar hukum yang tegas yang menyatakan bahwa <strong>tidak ada lagi nabi setelah beliau</strong>. Dan apabila tidak ada Nabi sesudahnya maka itu artinya lebih-lebih lagi tidak ada rasul [setelahnya]. Sebab kedudukan kerasulan itu lebih istimewa daripada kedudukan kenabian. Karena setiap rasul itu pasti nabi, dan tidak sebaliknya. Banyak hadits mutawatir dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melalui penuturan jama’ah para Sahabat yang telah menegaskan hal itu.”</em> (<em>Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim</em> [6/428] asy-Syamilah)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي</strong></p>
<p><em>“&#8230;Aku adalah penutup nabi-nabi, [artinya] <strong>tidak ada lagi Nabi sesudahku</strong>&#8230;”</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong> dll dari Tsauban <em>radhiyallahu’anhu</em>. al-Hafizh berkata: <em>“Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, dinilai sahih oleh Ibnu Hibban”</em>, lihat <em>al-Fath</em> [20/131] asy-Syamilah)</p>
<p>Penulis kitab ‘<em>Aun al-Ma’bud</em> syarah/keterangan atas Sunan Abu Dawud berkata:</p>
<p><strong>( لَا نَبِيّ بَعْدِي )</strong><strong> </strong><strong>: تَفْسِير لِمَا قَبْله</strong></p>
<p><em>“Tidak ada lagi Nabi sesudahku; Ini merupakan <strong>tafsiran</strong> dari ucapan sebelumnya [yaitu ‘aku adalah penutup nabi-nabi’].”</em> (<em>‘Aun al-Ma’bud</em> [9/292] asy-Syamilah)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ</strong></p>
<p><em>“Aku adalah al-‘Aqib/yang paling belakang; al-‘Aqib yaitu [nabi] yang <strong>tidak ada lagi nabi sesudahnya</strong>.” </em>(<strong>HR. Muslim</strong> dari Jubair bin Muth’im <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p>Berdasarkan ayat dan hadits-hadits yang agung di atas teranglah bagi kita semua <strong>kebatilan</strong> pendapat yang menyatakan bahwa masih ada nabi setelah Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Inilah kebenaran, lantas apa lagi yang masih tersisa setelah kebenaran kecuali kesesatan&#8230;</p>
<p><em>Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tiada-nabi-lagi-sesudah-beliau.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penjelasan Tentang Islam</title>
		<link>http://abumushlih.com/penjelasan-tentang-islam.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/penjelasan-tentang-islam.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 06:51:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[JIL]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2009</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, meminta ampunan kepada-Nya, dan kita berlindung kepada Allah dari keburukan hawa nafsu kita dan dari kejelekan amal-amal kita. Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. &#8230; <a href="http://abumushlih.com/penjelasan-tentang-islam.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpenjelasan-tentang-islam.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpenjelasan-tentang-islam.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, meminta ampunan kepada-Nya, dan kita berlindung kepada Allah dari keburukan hawa nafsu kita dan dari kejelekan amal-amal kita. Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2009"></span></p>
<p>Ketahuilah, wahai saudaraku&#8230; sesungguhnya Islam ini merupakan agama seluruh rasul dari sejak rasul yang pertama Nuh <em>&#8216;alaihis salam</em> hingga yang terakhir yaitu Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Setiap nabi dan rasul datang untuk mendakwahkan kepada agama Islam dengan makna; kepasrahan dan ketundukan kepada Allah dengan menjalani ketaatan dan beribadah kepada-Nya dengan ikhlas serta membebaskan diri dari kesyirikan. Tidak ada dakwah rasul dan nabi yang menyelisihi dalam perkara pokok yang agung ini. Inilah agama Islam, agama yang mengajarkan ilmu, amal, dakwah, dan kesabaran dalam menghadapi cobaan di atasnya (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi al-Madkhali <em>hafizhahullah</em>, hal. 149)</p>
<p><strong>Kebenaran Islam</strong></p>
<p>Allah<em> ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya, dan kelak di akherat dia pasti termasuk orang-orang yang merugi.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 85</strong>)</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang beragama kepada Allah dengan selain agama Islam yang telah diridhai Allah untuk hamba-hamba-Nya maka amalannya tertolak, tidak diterima. Karena agama Islam itu mengandung kepasrahan kepada Allah dalam bentuk keikhlasan -beribadah- dan ketundukan kepada rasul-rasul-Nya. Apabila seorang hamba tidak menghadap -Allah- dengan membawanya maka dia tidak datang dengan membawa sebab keselamatan dari azab Allah dan tidak membawa sesuatu yang akan dapat membuatnya berhasil menuai pahala-Nya, sedangkan semua agama selainnya adalah batil.”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 137)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya agama -yang benar- di sisi Allah hanyalah Islam.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 19</strong>).</p>
<p>Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ini merupakan kabar dari Allah ta&#8217;ala bahwasanya tidak ada agama di sisi-Nya yang diterima oleh-Nya selain Islam; yaitu mengikuti para rasul dalam ajaran-ajaran yang mereka bawa dari Allah pada setiap masa sampai akhirnya ditutup dengan diutusnya Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, yang dengan itu tertutuplah semua jalan kepada-Nya kecuali dari arah  Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang berjumpa dengan Allah setelah diutusnya Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan memeluk agama selain syari&#8217;atnya maka tidak diterima&#8230;” </em>(<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [2/19])</p>
<p><strong>Islam Untuk Segenap Manusia</strong></p>
<p>Oleh sebab itulah, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> diperintahkan Allah untuk menyeru ahli kitab dan orang-orang musyrik untuk masuk ke dalam agama Islam setelah diutusnya beliau. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberikan al-Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kaum yang ummi/buta huruf (yaitu orang-orang musyrik); &#8216;Apakah kalian mau masuk Islam?&#8217;. Apabila mereka masuk Islam, sungguh mereka mendapatkan petunjuk, dan apabila mereka justru berpaling, maka sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Allah Maha melihat semua hamba.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 20</strong>)</p>
<p>Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ayat ini dan juga ayat-ayat lain yang serupa merupakan penunjukan yang sangat tegas mengenai keumuman pengutusan beliau -semoga salawat dan keselamatan tercurah kepadanya- kepada semua manusia sebagaimana hal itu telah diketahui sebagai bagian dari agama secara pasti, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil al-Kitab maupun as-Sunnah dalam banyak ayat dan hadits.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [2/20])</p>
<p>Diantara ayat yang menunjukkan hal itu, firman Allah<em> ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Katakanlah (Muhammad); Wahai umat manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.”</em> (<strong>QS. al-A&#8217;raaf: 158</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Maha berkah Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur&#8217;an) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh manusia.”</em> (<strong>QS. al-Furqan: 1</strong>).</p>
<p>Dalil dari hadits, diantaranya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidaklah seorangpun di kalangan umat ini yang mendengar kenabianku, baik dia beragama Yahudi ataupun Nasrani, lalu dia meninggal dalam keadaan tidak beriman dengan ajaran yang aku bawa melainkan dia pasti termasuk penghuni neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim [153]</strong>). Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Di dalam hadits ini terdapat kandungan hukum bahwasanya semua agama telah dihapuskan pemberlakuannya dengan adanya risalah Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (<em>al-Minhaj</em> [2/245]). Dari Jabir bin Abdullah <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda, <em>“&#8230;Dahulu para nabi itu diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada segenap umat manusia.”</em> (<strong>HR. Bukhari [335] dan Muslim [521]</strong>, ini lafal Bukhari).</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau mengatakan: Suatu saat ketika kami sedang duduk-duduk bersama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di masjid, kemudian ada seorang lelaki yang datang dengan mengendarai seekor onta, lantas dia berhentikan ontanya itu di masjid lalu mengikatnya. Kemudian dia berkata, <em>“Manakah di antara kalian yang bernama Muhammad?”</em>. Ketika itu Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sedang duduk bersandar di antara mereka. Maka kami katakan, <em>“Ini orangnya, lelaki yang berkulit putih dan sedang bersandar.”</em> Lalu lelaki itu pun berkata kepada beliau, <em>“Wahai Ibnu Abdil Muthallib?”</em>. Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata kepadanya, <em>“Ya, kusambut keinginanmu.” </em>Lelaki itu pun berkata kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Aku akan bertanya kepadamu yang mungkin terlalu mengusik dirimu dalam menjawab pertanyaan itu. Maka janganlah engkau menyimpan kemarahan kepadaku disebabkan hal itu.”</em> Nabi berkata, <em>“Tanyakanlah apa yang kira-kira tampak perlu bagimu.”</em> Lalu dia bertanya, <em>“Aku bertanya kepadamu dengan menyebut nama Rabbmu dan Rabb orang-orang sebelummu, <strong>apakah benar Allah mengutusmu kepada semua umat manusia?</strong>”</em>. Beliau menjawab, <strong><em>“Allahumma, hal itu memang benar.”</em></strong> Lalu dia berkata, <em>“Aku meminta kepadamu demi Allah, benarkah Allah yang memerintahkanmu supaya kami menunaikan sholat lima waktu dalam sehari semalam?”</em>. Nabi menjawab, <em>“Allahumma, hal itu memang benar.” Lalu dia berkata, “Aku meminta kepadamu demi Allah, benarkah Allah memerintahkanmu agar kami berpuasa pada bulan -Ramadhan- ini dalam setiap tahunnya?”</em>. Nabi menjawab, <em>“Allahumma, hal itu memang benar.”</em> Lalu dia berkata, <em>“Aku meminta kepadamu demi Allah, benarkah Allah memerintahkanmu untuk memungut sedekah/zakat ini dari kalangan orang kaya di antara kami lalu kamu bagikan kepada orang miskin di antara kami?”</em>. Maka Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, “<em>Allahumma, benar apa yang kamu ucapkan.” </em>Lalu<em> </em>lelaki itu berkata, <em>“Aku telah beriman kepada semua ajaran yang kamu bawa. Dan aku adalah utusan dari kaumku yang ada di belakangku. Namaku Dhimam bin Tsa&#8217;labah, salah seorang kerabat Bani Sa&#8217;d bin Bakr.”</em> (<strong>HR. Bukhari [63] dan Muslim [12]</strong>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/182-183] dan <em>Syarh Muslim</em> [2/25-26])</p>
<p><strong>Nabi dan Rasul Terakhir</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang lelaki di antara kalian, akan tetapi dia adalah seorang utusan Allah dan penutup nabi-nabi.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 40</strong>). Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ayat ini merupakan dalil yang tegas yang menunjukkan bahwa tidak ada lagi nabi sesudah beliau. Apabila tidak ada lagi nabi sesudahnya, maka itu artinya juga tidak ada lagi rasul sesudahnya, tentu lebih tidak ada lagi. Karena kedudukan kerasulan itu lebih khusus/istimewa daripada kedudukan kenabian, setiap rasul pasti nabi dan tidak sebaliknya&#8230;”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [6/261]).</p>
<p>Dari Jabir bin Abdullah <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda, <em>“Perumpamaan diriku dengan para nabi seperti perumpamaan seorang lelaki yang membangun sebuah rumah lalu dia berusaha menyempurnakan dan melengkapinya kecuali tersisa satu tempat yang belum terisi batu-bata. Maka orang-orang pun mulai memasukinya dan terkagum-kagum terhadapnya, namun mereka berkata, &#8216;Seandainya satu tempat batu-bata ini terisi sungguh sempurna!&#8217;.” </em>Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akulah yang menempati tempat batu-bata itu, aku datang lalu menutup nabi-nabi.”</em> (<strong>HR. Bukhari [3534] dan Muslim [2287]</strong>, ini lafal Muslim). al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Di dalam hadits ini terkandung pemberian perumpamaan dalam rangka memudahkan pemahaman dan juga menunjukkan keutamaan diri Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dibandingkan seluruh nabi yang ada, dan ini menunjukkan bahwa dengan diutusnya beliau Allah telah menutup para rasul dan menyempurnakan syari&#8217;at-syari&#8217;at agama.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [6/631], lihat juga penjelasan serupa oleh an-Nawawi dalam <em>al-Minhaj</em> [7/392])  <em> </em></p>
<p><strong>Islam Juga Untuk Bangsa Jin</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam Abu Ja&#8217;far ath-Thahawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Beliau -Nabi Muhammad- diutus kepada segenap jin dan semua manusia, dengan membawa kebenaran dan petunjuk, dengan membawa sinar dan cahaya.”</em> (lihat <em>Syarh al-&#8217;Aqidah ath-Thahawiyah</em>, hal. 166). Diantara dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> diutus kepada bangsa jin adalah firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> yang menceritakan ucapan sebagian dari mereka (yang artinya), <em>“Wahai kaum kami, penuhilah seruan seorang da&#8217;i yang mengajak kepada Allah itu (yaitu Nabi Muhammad).”</em> (<strong>QS. al-Ahqaf: 31</strong>) (lihat <em>Syarh al-&#8217;Aqidah ath-Thahawiyah</em>, hal. 166 dan <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 783).</p>
<p><strong>Rukun Islam</strong></p>
<p>Dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga menegaskan, <em>“Islam dibangun di atas lima perkara: kewajiban untuk <strong>mentauhidkan Allah</strong>, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji.”</em> (<strong>HR. Bukhari [8] dan Muslim [16]</strong>, ini lafal Muslim). Dalam jalur riwayat lain -di dalam Shahih Muslim- masih dari Ibnu Umar juga disebutkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam dibangun di atas lima perkara: kewajiban <strong>beribadah kepada Allah -semata- dan mengingkari segala sesembahan selain-Nya</strong>, mendirikan sholat, menunaikan zakat, haji ke baitullah, dan puasa Ramadhan.”</em> (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/32])</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/penjelasan-tentang-islam.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haba&#8217;ib Serukan Tinggalkan Perayaan Maulid!</title>
		<link>http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 07:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Haba'ib]]></category>
		<category><![CDATA[Habib]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Peringatan]]></category>
		<category><![CDATA[Rasululllah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1957</guid>
		<description><![CDATA[Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah untuk tidak memperturuti hawanafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka sebut dengan Maulid Nabi dengan dalih Cinta Rasul, dan berbagai acara yang menyelisih syari&#8217;at,yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati oleh sebagian anak keturunan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhabaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fhabaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah  untuk tidak memperturuti hawanafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka  sebut dengan Maulid Nabi dengan dalih Cinta Rasul, dan berbagai acara  yang menyelisih syari&#8217;at,yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati  oleh sebagian anak keturunan Nabi yang mulia ini jelas merupakan sebuah  penyimpangan, dan tidak sesuai dengan <em>Maqasidu asy-Syar&#8217;I al-Muthahhar</em> (tujuan-tujuan syari&#8217;at yang suci) untuk menjadikan ittiba&#8217; (mengikuti)  kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> sebagai standar utama yang  dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan  (ibadah)mereka.</p>
<p><span id="more-1957"></span></p>
<p>Dalam sebuah pernyataan yang dilansir &#8221;  Islam Today &#8220;, para Habaib berkata, &#8220;Bahwa Kewajiban Ahlul Bait  (Keturunan Rasulullah) adalah <strong>hendaklah mereka menjadi orang yang paling  yang mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em></strong>,  mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta  yang sebenarnya (terhadap beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, red.),  serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari&#8217;at  Islam datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, sedangkan <strong>cinta yang  hakiki pasti akan menyeru Ittiba&#8217; yang benar</strong>.&#8221;</p>
<p>Mereka (Para  Habaib) menambahkan, &#8220;Di antara fenomena yang menyakitkan adalah  terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang mulia (AhlulBait) dalam berbagai macam penyimpangan syari&#8217;at, dan  pengagungan terhadap syi&#8217;ar-syi&#8217;ar yang tidak pernah dibawa oleh  al-Habibal-Mushtafa <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>. Dan di antara  syiar-syiar tersebut adalah <strong>bid&#8217;ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih  cinta</strong>.</p>
<p>Para Habaib menekankan dalam pernyataannya, bahwa  yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> adalah karena hal itu dapat menyebabkan  pengkultusan terhadap beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang beliau  sendiri tidak membolehkannya, bahkan tidak ridho dengan hal itu. Dan  lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits  yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu  <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> akan pengingkaran terhadap sikap-sikap yang  berlebihin seperti ini, dengan sabdanya:</p>
<p><em>Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam</em>. (HR. al-Bukhari)</p>
<p>Sedangkan  seputar adanya preseden untuk perayaan-perayaan seperti itu pada  as-Salafu ash-Shalih, Para Habaib tersebut mengatakan,</p>
<p>&#8220;Bahwa  <strong>perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah  dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, dan  tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Baityang  mulia</strong>, seperti Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali ZainalAbidin,  Ja&#8217;far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat  Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam &#8220;Radhiyallahu &#8216;anhum ajma&#8217;in</em>-begitu  pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi&#8217;in.</p>
<p>Para  Habaib tersebut mengatakan kepada Ahlul Bait,</p>
<p>Wahai Tuan-tuan Yang  terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya  kemulian Asal usul (Nasab) merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif  (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em>, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah  sepeninggalnya dengan menjaga agama dan menyebarkan dakwah yang  dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari&#8217;at  tidak mendatangkan kebenaran sedikitpun, bahkan merupakan amalan yang  ditolak oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah  <em>shallallahu &#8216;alaihiwasallam</em>:</p>
<p><em>Barangsiapa mengada-adakan sesuatu  yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di  dalamnya, maka ia tertolak</em>. (HR. al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Berikut  ini adalah teks pernyataannya:</p>
<p><strong>Risalah untuk Ahlul Bait (Anak-Cucu  Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>) tentang Peringatan/ perayaan  Maulid Nabi.</strong></p>
<p>Di antara Prinsip-prinsip yang agung yang berpadu di  atasnya hati-hati para ulama dan kaum Mukminin adalah meyakini  (mengimani) bahwa petunjuk Nabi Muhammad <em>Shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> adalah petunjuk yang paling sempurna, dan syari&#8217;at yang beliau bawa  adalah syari&#8217;at yang paling sempurna, Allah <em>Ta&#8217;ala</em>berfirman:</p>
<p><em>Pada hari  ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah  Ku-cukupkankepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi  agamamu.</em> (QS. Al Ma&#8217;idah:3)</p>
<p>Dan meyakini (mengimani) bahwa  mencintai Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> merupakan keyakinan  atau tanda kesempurnaan iman seorang Muslim, Rasulullah  <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p><em>Tidak sempurna iman salah  seorang di antara kamu sehingga aku lebih dia cintai dari ayahnya,  anaknya, dan semua manusia</em>. (HR. al-Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Beliau  adalah penutup para nabi, Imam orang-orang yang bertaqwa, Raja  anak-cucu Adam, Imam Para Nabijika mereka dikumpulkan, dan Khatib mereka  jika mereka diutus, si empu Tempat yang Mulia, Telaga yang akan  dikerumuni (oleh manusia), si empu bendera pujian, pemberi syafa&#8217;at  manusia pada hari kiamat, dan orang yang telah menjadikan umatnya  menjadi umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri  teladan yang baik bagimu(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah  dan (kedatangan) harikiamat dan dia banyak menyebut Allah</em>. (QS.  al-Ahzab: 21)</p>
<p>Dan di antara kecintaan kepadabeliau adalah  mencintai keluarga beliau (Ahlul Bait/ Habaib), Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p><em>Aku mengingatkan kalian kepada Allah pada Ahlu Bait (keluarga)ku</em>. (HR. Muslim).</p>
<p>Maka  Kewajiban keluarga Rasulullah (Ahlul Bait/ Habaib) adalah <strong>hendaklah  mereka menjadi orang yang paling yang mulia dalam mengikuti Sunnah  Beliau</strong> <em>Shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em>, mengikuti petunjuknya, dan wajib  atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau  <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em>, red.), serta menjadi manusia yang paling  menjauhi hawa nafsu. Karena Syari&#8217;at datang untuk menyelisihi penyeru  hawa nafsu, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em>Maka demi Rabbmu, mereka (pada  hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam  perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa  keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan  mereka menerima dengan sepenuhnya</em>. (QS. An-Nisa&#8217;: 65)</p>
<p>Sedangkan cinta yang hakiki pastilah akan menyeru Ittiba&#8217; yang benar. Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p><em>Katakanlah:&#8221;Jika kamu  (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi  dan mengampuni dosa-dosamu&#8221;. Allah Maha Pengampun lagi MahaPenyayang</em>.  (QS. Ali &#8216;Imran: 31)</p>
<p>Tidak cukup hanya sekedar berafiliasi  kepada beliau secara nasab, tetapi keluarga beliau (Ahlulbait) haruslah  sesuai dengan al-haq (kebenaran yang beliau bawa) dalam segala hal, dan  tidak menyalahi atau menyelisinya.</p>
<p>Dan di antara fenomena  menyakitkan adalah orang yang diterangi oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em> pandangannya  dengan cahaya ilmu, dan mengisi hatinya dengan cinta dan kasih sayang  kepada keluarga NabiNya (ahlul bait), khususya jika dia termasuk  keluarga beliau pula dari keturunan beliau yang mulia adalah terlibatnya  sebagian anak-cucu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang mulia  (Ahlul Bait/ Habaib) dalam berbagai macam penyimpangan syari&#8217;at, dan  pengagungan terhadap syi&#8217;ar-syi&#8217;ar yang tidak pernah dibawa oleh  <em>al-Habib al-Mushtafa Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Dan di  antara syi&#8217;ar-syi&#8217;ar yang diagungkan yang tidak berdasarkan petunjuk  moyang kami Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> tersebut adalah <strong>bid&#8217;ah  peringatan Maulid Nabi</strong> dengan dalih cinta. Dan ini jelas merupakan  sebuah penyimpangan terhadap prinsip yang agung, dan tidak sesuai dengan  <em>Maqasidu asy-Syar&#8217;Ial-Muthahhar</em> (tujuan-tujuan syari&#8217;at yang suci)  untuk menjadikan <em>ittiba&#8217;</em> (mengikuti) Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam  segala sikapdan perbuatan (ibadah) mereka.</p>
<p>Karena  kecintaan kepada beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> mengharuskan  ittiba&#8217; (mengikuti) beliau <em>Shallalllahu &#8216;alaihi wasallam</em> secara lahir dan  batin. Dan tidak ada pertentangan antara mencintai beliau dengan  mengikuti beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, bahkan mengikuti  (ittiba&#8217;) kepada beliau merupakan inti/ puncak kecintaan kepadanya. Dan  orang yang mengikuti beliau secara benar (Ahlul ittiba&#8217;) adalah komitmen  dengan sunnahnya, mengikuti petunjuknya, membaca sirah (perjalanan  hidup)nya, mengharumi majlis-majlis mereka dengan pujian-pujian  terhadapnya tanpa membatasi hari, berlebihan dalam menyifatinya serta  menentukan tata cara yang tidak berdasar dalam syari&#8217;at Islam.</p>
<p>Dan  di antara yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi  adalah karena dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau  <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> yang beliau sendiri tidak membolehkannya,  bahkan beliau tidak ridho dengan hal itu. Dan hal lainnya adalah bahwa  peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan  aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em> pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihan  seperti ini, dengan sabdanya:</p>
<p><em>Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam.</em> (HR. al-Bukhari)</p>
<p>Maka  bagaimana dengan faktanya,sebagian majlis dan puji-pujian dipenuhi  dengan lafazh-lafazh bid&#8217;ah,dan istighatsah-istighatsah syirik.</p>
<p>Dan  <strong>perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah  dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi</strong> <em>Shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, dan  tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait  yang mulia, seperti &#8216;Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal  Abidin, Ja&#8217;far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para  Sahabat Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi wasallam –Radhiyallahu &#8216;anhum  ajma&#8217;in</em>—begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para  tabi&#8217;in, dan tidak pula Imam Madzhab yang empat, serta tidak seorangpun  dari kaum muslimin pada periode-periode pertama yang diutamakan.</p>
<p>Jika  ini tidak dikatakan bid&#8217;ah,lalu apa bid&#8217;ah itu sebenarnya? Dan  Bagaimana pula apabila mereka bersenandung dengan memainkan rebana?, dan  terkadang dilakukan di dalam masjid-masjid? Rasulullah <em>shallallahu  &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda dalam hal ini secara gamblang dan tanpa  pengecualian di dalamnya:</p>
<p><em>Semua bid&#8217;ah itu sesat</em>. (HR. Muslim).</p>
<p>Wahai Tuan-tuan Yang terhormat!</p>
<p>Wahai  sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asalusul/  nasab merupakan kemulian yang diikuti dengan <em>taklif</em> (pembebanan),yakni  melaksanakan sunnah Rasululullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>,dan  berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya, dengan  menjaga agama, menyebarkan dakwah yang dibawanya.</p>
<p>Dan karena  mengikuti apa yangtidak dibolehkan oleh syari&#8217;at tidak mendatangkan  kebenaran sedikitpun, dan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah  <em>Ta&#8217;ala</em>, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi  wasallam</em>:</p>
<p><em>Barang siapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam  urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia  tertolak</em>. (HR. al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Demi Allah, demi Allah, wahai para habaib (Ahlu bait Nabi)!</p>
<p>Jangan  kalian diperdayakan oleh kesalahan orang yang melakukan kesalahan, dan  kesesatan orang yang sesat, dan menjadi pemimpin- pemimpin yang tidak  mengajarkan petunjuk beliau!</p>
<p>DemiAllah, tidak seorangpun  di muka bumi ini lebih kami cintai petunjuknya dari kalian, semata-mata  karena kedekatan kalian dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p><strong>Ini  merupakan seruan dari hati-hati yang mencintai dan menginginkan  kebaikan bagi kalian</strong>, dan menyeru kalian untuk selalu mengikuti sunnah  lelulur kalian dengan meninggalkan bid&#8217;ah dan seluruh yang tidak  diketahui oleh seseorang dengan yakin bahwa itu merupakan sunnah dan  agama yang dibawanya, maka bersegeralah, Beliau bersabda:</p>
<p><em>Barang siapa yang lambat dalam amalnya, niscaya nasabnya tidak mempercepat amalnya tersebut</em>. (HR. Muslim).</p>
<p>Yang menanda tangan risalah di atas yaitu:</p>
<p>1. <em>Habib Syaikh</em> Abu Bakar bin Haddar al-Haddar (Ketua Yayasan Sosial Adhdhamir al-Khairiyah di Traim)</p>
<p>2. <em>Habib Syaikh</em> Aiman bin Salim al-Aththos (Guru Ilmu Syari&#8217;ah di SMP dan Khatib di Abu &#8216;Uraisy)</p>
<p>3. <em>Habib Syaikh</em> Hasan bin Ali al-Bar (Dosen Kebudayaan Islam Fakultas Teknologi di Damam dan Imam serta khatib di Zhahran.</p>
<p>4. <em>Habib Syaikh</em> Husain bin Alawi al-Habsyi (Bendahara Umum &#8216;Muntada al-Ghail ats-Tsaqafi al-Ijtima&#8217;I di Ghail Bawazir)</p>
<p>5.<em>Habib  Syaikh</em> Shalih bin Bukhait Maula ad-Duwailah (Pembimbing  al-Maktabat-Ta&#8217;awuni Li ad-Da&#8217;wah wal Irsyad wa Taujih al-Jaliyat, dan  Imam serta Khatib di Kharj).</p>
<p>6.<em>Habib Syaikh</em> Abdullah bin Faishal  al-Ahdal (Ketua Yayasan ar-Rahmahal-Khairiyah, dan Imam serta Khatib  Jami&#8217; ar-Rahmah di Syahr).</p>
<p>7.<em>Habib Syaikh</em> DR. &#8216;Ishom bin Hasyim  al-Jufri (Act. Profesor Fakultas Syari&#8217;ah Jurusan Ekonomi Islam di  Universitas Ummu al-Qurra&#8217;, Imam dan Khotib di Mekkah).</p>
<p>8. <em>Habib Syaikh</em> &#8216;Alawi bin Abdul Qadir as-Segaf (Pembina Umum Mauqi&#8217; ad-Durar as-Saniyah)</p>
<p>9. <em>Habib Syaikh</em> Muhammad bin Abdullah al-Maqdi (Pembina Umum Mauqi&#8217; ash-Shufiyah, Imam dan Khotib di Damam).</p>
<p>10.<em>Habib Syaikh</em> Muhammad bin Muhsi al-Baiti (Ketua Yayasan al-Fajrial-Khoiriyah, Imam dan Khotib Jami&#8217; ar-Rahman di al-Mukala).</p>
<p>11. <em>Habib Syaikh</em> Muhammad Sami bin Abdullah Syihab (Dosen di LIPIA Jakarta)</p>
<p>12.<em>Habib  Syaikh</em> DR. Hasyim bin &#8216;Ali al-Ahdal (Prof di Universitas UmmulQurra&#8217; di  Mekkah al-Mukarramah Pondok Ta&#8217;limu al-Lughah al-&#8217;Arabiyah LiGhairi  an-Nathiqin Biha).</p>
<p>sumber: Milis As-Sunnah</p>
<p>Dikutip dari note fb <strong>Surya Noor Rahmatullah</strong>, <em>jazahullahu khairan</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara Faedah Hadits Jibril</title>
		<link>http://abumushlih.com/mutiara-faedah-hadits-jibril.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mutiara-faedah-hadits-jibril.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 05:39:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Jibril]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Taqdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wahyu]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1899</guid>
		<description><![CDATA[Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan: Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb menuturkan kepadaku. [Dia berkata]: Waki&#8217; menuturkan kepada kami dari Kahmas dari Abdullah bin Buraidah, dari Yahya bin Ya&#8217;mar. Ubaidullah bin Mu&#8217;adz al-Anbari menuturkan kepada kami: dan ini merupakan haditsnya. [Dia berkata]: &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mutiara-faedah-hadits-jibril.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmutiara-faedah-hadits-jibril.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmutiara-faedah-hadits-jibril.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Muslim <em>rahimahullah</em> meriwayatkan:</p>
<p>Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb menuturkan kepadaku. [Dia berkata]: Waki&#8217; menuturkan kepada kami dari Kahmas dari Abdullah bin Buraidah, dari <strong>Yahya bin Ya&#8217;mar</strong>.</p>
<p><span id="more-1899"></span></p>
<p>Ubaidullah bin Mu&#8217;adz al-Anbari menuturkan kepada kami: dan ini merupakan haditsnya. [Dia berkata]: Ayahku menuturkan kepada kami. [Dia berkata]: Kahmas menuturkan kepada kami, dari Ibnu Buraidah, dari <strong>Yahya bin Ya&#8217;mar</strong>, dia berkata:</p>
<p>Dahulu, yang pertama kali mempersoalkan masalah takdir di Bashrah adalah Ma&#8217;bad al-Juhani. Maka suatu ketika, aku beserta Humaid bin Abdurrahman al-Himyari memutuskan untuk bersama-sama berangkat menunaikan haji atau umrah, kami berkata, <em>“Seandainya kita bisa dipertemukan dengan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lalu kita tanyakan kepadanya mengenai apa yang dilontarkan oleh orang-orang itu seputar masalah takdir.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Maka kamipun bisa bertemu dengan Abdullah bin Umar bin al-Khaththab tatkala masuk ke dalam masjid. Kemudian aku dan temanku memeluknya. Seorang dari kami memeluk dari sebelah kanan, sementara yang lain dari sebelah kiri. Aku pun mengira bahwa temanku akan menyuruh diriku untuk berbicara. Maka aku pun berkata, <em>“Wahai Abu Abdirrahman -panggilan Ibnu Umar-, sesungguhnya telah muncul di tempat kami orang-orang yang suka membaca/menghafal al-Qur&#8217;an dan gemar mengumpulkan ilmu -lalu dia menceritakan keadaan mereka- akan tetapi mereka mengklaim bahwa takdir itu tidak ada, dan semua urusan itu terjadi begitu saja/tidak ditakdirkan sebelumnya.”</em></p>
<p>Maka dia -Ibnu Umar- berkata, <em>“Apabila kamu bertemu dengan mereka, sampaikan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka juga berlepas diri dariku. Demi tuhan yang dengannya Abdullah bin Umar bersumpah, seandainya salah seorang di antara mereka mempunyai emas sebesar gunung Uhud lalu dia infakkan niscaya Allah tidak akan menerimanya sampai dia beriman terhadap takdir.”</em></p>
<p>Lalu dia -Ibnu Umar- berkata:</p>
<p>Ayahku Umar bin al-Khaththab menuturkan kepadaku, dia berkata:</p>
<p>Pada suatu hari, ketika kami sedang duduk-duduk bersama dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Tiba-tiba muncul seseorang dengan pakaian yang sangat putih dan memiliki rambut yang sangat hitam. Tidak tampak padanya bekas menempuh perjalanan. Namun, tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenali identitasnya. Sampai akhirnya dia duduk di depan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kemudian meletakkan kedua lututnya di depan lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya. Lalu dia berkata, <em>“Wahai Muhammad, beritakan kepadaku tentang Islam.”</em></p>
<p>Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam itu adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan menunaikan haji jika kamu mampu melakukan perjalanan ke sana.”</em> Maka dia -lelaki asing itu- berkata, <em>“Kamu benar.”</em></p>
<p>Dia -Umar- berkata, <em>“Kami pun terheran-heran terhadap ulahnya. Dia yang bertanya kepada beliau, namun di saat yang sama dia juga yang membenarkan jawabannya.” </em></p>
<p>Lalu dia -orang itu- bertanya, <em>“Beritakan kepadaku tentang Iman.”</em> Beliau -Nabi- menjawab, <em>“Yaitu kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu juga harus beriman kepada takdir yang baik ataupun yang buruk.”</em> Dia berkata, <em>“Kamu benar.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Lalu dia berkata, <em>“Beritakan kepadaku tentang Ihsan.”</em> Beliau menjawab, <em>“Yaitu kamu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya. Kalau kamu tidak bisa seolah-olah melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Lalu dia berkata, <em>“Beritakan kepadaku tentang waktu hari kiamat.”</em> Beliau pun menjawab, <em>“Orang yang ditanyai tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” </em>Maka dia berkata, <em>“Kalau begitu beritakan kepadaku tentang tanda-tandanya?”</em></p>
<p>Maka beliau menjawab, <em>“Yaitu ketika seorang budak perempuan melahirkan tuannya. Dan ketika kamu melihat orang-orang yang bertelanjang kaki, tidak berpakaian, yang miskin dan pekerjaannya menggembalakan kambing sudah berlomba-lomba meninggikan bangunan.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dia -Umar- berkata: Lalu dia pergi, dan aku diam di situ selama beberapa waktu. Kemudian beliau -Nabi- berkata kepadaku, <em>“Wahai Umar, tahukah kamu siapakah yang bertanya itu?”</em>. Aku jawab, <em>“Allah dan rasul-Nya lebih tahu.” </em>Beliau berkata, <em>“Sesungguhnya dia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajari kalian tentang agama kalian.” </em>(<strong>HR. Muslim no. 8</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/5-17])</p>
<p><strong>Faedah Hadits</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hadits Jibril yang agung ini menyimpan banyak sekali faedah, di antaranya -sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Yahya al-Hajuri <em>hafizhahullah</em>- adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Orang yang pertama kali mempersoalkan -mengingkari- takdir di      Bashrah adalah Ma&#8217;bad al-Juhani</li>
<li>Hendaknya bertanya untuk mengatasi masalah yang dihadapi, atau      bertanya untuk memberikan pengajaran kepada orang-orang</li>
<li>Semestinya seorang penanya bersikap lembut dalam mengajukan      pertanyaannya</li>
<li>Terkadang seseorang pandai membaca al-Qur&#8217;an sementara dia      bodoh tentangnya, terutama apabila dia tidak terdidik oleh para ulama Sunnah</li>
<li>Boleh mengumumkan sikap <em>hajr</em>/boikot terhadap penebar      kebid&#8217;ahan</li>
<li>Penuntut ilmu yang tidak berpedoman kepada Sunnah niscaya tidak      akan bermanfaat bagi dirinya, bahkan justru mendatangkan bahaya bagi      dirinya sendiri dalam hal agamanya</li>
<li>Kewajiban untuk menjaga rukun-rukun yang disebutkan di dalam      hadits ini dikarenakan itu semua merupakan pokok-pokok ajaran agama</li>
<li>Semestinya untuk merujuk kepada para ulama dalam mengatasi      persoalan yang menimpa</li>
<li>Keutamaan para ulama, dan bahwasanya mereka senantiasa melihat      dan memperhatikan dalil-dalil yang ada demi menyikapi permasalahan</li>
<li>Boleh melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu dengan diiringi      niat untuk sekaligus menunaikan haji dan umrah</li>
<li>Semestinya yang berbicara dalam urusan-urusan penting adalah      orang yang paling senior atau yang paling pandai menjelaskan di antara      mereka</li>
<li>Orang-orang Qadariyah/penolak takdir itu dihukumi kafir, sebab      mereka telah mengingkari  ilmu      Allah, namun madzhab mereka yang ini sekarang sudah punah</li>
<li>Hendaknya memberikan perhatian yang besar dalam mengajarkan      agama yang Allah telah menciptakan kita untuk menjalankannya</li>
<li>Hendaknya berlepas diri dari kebid&#8217;ahan dan penganutnya</li>
<li>Ibnu Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berpendapat tentang      kafirnya kelompok <em>Qadariyah</em> tersebut</li>
<li>Kelompok Qadariyah yang diceritakan di dalam hadits ini adalah      penuntut ilmu dan tidak termasuk golongan para ulama</li>
<li>Hendaknya seorang murid/penuntut ilmu tidak tergesa-gesa      melakukan tindak pengingkaran terhadap perkara-perkara yang belum merebak      selama para ulama masih ada, sampai mereka memutuskan hukum terhadap      perkara tersebut, meskipun menurut seorang murid hal itu memang selayaknya      diingkari. Pelajaran serupa dengan ini adalah yang terdapat dalam      kisah  jama&#8217;ah Masjid Bani Hanifah      beserta keadaan Abu Musa dengan mereka dan Ibnu Mas&#8217;ud -ketika mengingkari      sekelompok orang yang berkumpul untuk dzikir jama&#8217;i, pent-.</li>
<li>Keutamaan para sahabat dan keutamaan ilmu mereka</li>
<li>Sedekah dari orang kafir -yang wajib ataupun sunnah- tidak      diterima</li>
<li>Iman terhadap takdir adalah wajib, tidak sah keimanan tanpanya</li>
<li>Ucapan <em>&#8216;seandainya&#8217;</em> tidak sepenuhnya dibenci kecuali      apabila dalam rangka memprotes takdir, hal ini dapat dipetik dari      perkataan, <em>“Seandainya kita dipertemukan&#8230;”</em></li>
<li>Pengajaran mengenai adab menuntut ilmu</li>
<li>Bertanya dalam rangka memberikan pengajaran bagi orang lain.      Oleh sebab itu, para Sahabat itu sangat merasa senang jika ada orang arab      badui yang bertanya tentang suatu perkara</li>
<li>Keutamaan menggabungkan berbagai macam niat baik dalam satu      perbuatan</li>
<li>Keutamaan mengenakan pakaian putih, dan seyogyanya seorang alim      dan penuntut ilmu untuk berhias diri dengannya lebih daripada yang lainnya</li>
<li>Dalil keabsahan <em>dilalah iqtiran</em>, hal itu bisa dipetik      dari ucapan, <em>“Tidak tampak padanya bekas menempuh perjalanan.” </em>(<em>dilalah      iqtiran</em> adalah suatu kata bisa memiliki makna yang lain tatkala      diiringkan dengan kata yang lain, pent)</li>
<li>Hendaknya menyebutkan dalil atas suatu hukum</li>
<li>Penetapan keberadaan malaikat, salah satunya adalah Jibril <em>&#8216;alaihis      salam</em></li>
<li>Penetapan sebagian sifat/ciri malaikat</li>
<li>Pengenalan tentang rukun-rukun Islam, rukun-rukun Iman, dan      rukun Ihsan</li>
<li>Agama ini terdiri dari tiga tingkatan: Islam, Iman, dan Ihsan</li>
<li>Semestinya membenarkan orang yang benar atau cocok dengan      kebenaran</li>
<li><em>Muraqabah</em>/merasa diawasi oleh Allah      adalah bentuk dari ihsan</li>
<li>Penetapan bahwa Allah melihat hamba-hamba-Nya dan senantiasa      mengawasi mereka</li>
<li>Penetapan adanya hari kiamat beserta tanda-tandanya</li>
<li>Tidak boleh berkata-kata tanpa landasan ilmu. Orang yang tidak      tahu hendaknya berkata, <em>“Allahu a&#8217;lam.”</em></li>
<li>Hanya Allah yang mengetahui kapan terjadinya kiamat, maka orang      yang mengaku-ngaku mengetahuinya adalah pembohong dan pendusta</li>
<li>Takdir ada yang tampak baik dan ada pula yang tampak buruk      dalam pandangan hamba</li>
<li>Salah satu ciri kiamat kecil adalah banyaknya budak perempuan,      sehingga seorang budak perempuan pun melahirkan majikannya</li>
<li>Penjelasan tentang Islam dan Iman terhadap orang banyak. Banyak      ulama yang secara khusus membuat tulisan dengan urutan semacam ini      sebagaimana yang disebutkan dalam hadits</li>
<li>Takdir itu ada yang baik dan ada yang buruk. Adapun hadits yang      artinya, <em>“Kejelekan tidak diarahkan kepada-Mu.”</em> Maka hadits itu      sudah dijelaskan oleh an-Nawawi bahwa maksudnya meliputi lima kandungan      makna: [1] Tidak boleh mendekatkan diri dengan keburukan kepada-Mu. [2]      Keburukan tidak disandarkan kepada-Mu. [3] Keburukan tidak terangkat      kepada-Mu. [4] Hal itu tidak buruk apabila disandarkan kepada-Mu. [5]      Keburukan itu secara mandiri tidak boleh disandarkan sebagai ciptaan-Mu.      Namun, pendapat yang terakhir ini perlu dikaji kembali.</li>
<li>Kata <em>Rabb</em> bisa bermakna <em>&#8216;tuan&#8217;</em>, dan terkadang      bisa juga bermakna <em>&#8216;pemilik&#8217;</em></li>
<li>Ciri banyaknya harta -di masyarakat- adalah tatkala orang-orang      miskin sudah berlomba-lomba       meninggikan bangunan, sebab hal itu tidak mungkin terjadi kecuali      karena begitu melimpahnya harta di saat itu</li>
<li>Sekedar pemberitaan tentang suatu kaum bukan berarti pelecehan      terhadap mereka</li>
<li>Bolehnya bertanya dengan maksud menguji, diambil dari sabda      Nabi, <em>“Tahukah kamu siapakah yang bertanya itu?”</em></li>
<li>Terkadang ta&#8217;lim/pengajaran itu bisa dilakukan dengan      peragaan/perbuatan</li>
<li>Dahulu para sahabat biasa mengucapkan, <em>“Allahu wa rasuluhu      a&#8217;lam.”</em> Namun ucapan ini khusus ketika beliau/Nabi masih hidup saja</li>
<li>Mempersekutukan dua kata ganti -Allah dengan rasul- tidak      sepenuhnya dibenci, adapun hadits <em>“Sejelek-jelek khatib adalah kamu      dst.”</em> Maka hal itu dikarenakan pada saat berkhutbah yang semestinya      dipakai adalah ungkapan-ungkapan yang jelas dan gamblang</li>
<li>Kompromi antara hadits ini dengan hadits Ibnu Abbas yang      menceritakan kedatangan utusan Abdul Qais -yang di sana rukun Islam      disebut dengan iman, pent- ialah; hadits ini menunjukkan bahwa amal-amal      batin termasuk iman, sedangkan hadits tersebut menunjukkan bahwa amal-amal      lahiriyah juga termasuk iman</li>
<li>Boleh menggembalakan kambing sambil berjalan tanpa alas kaki,      namun memakai alas kaki itu lebih utama sebagaimana disebutkan dalam      hadits, <em>“Orang yang memakai alas kaki itu laksana orang yang menunggang      kendaraan maka sering-seringlah kamu memakai alas kaki.”</em></li>
<li>Berlomba meninggikan bangunan biasanya terjadi dalam rangka      berbangga-bangga</li>
<li>Orang-orang akan merasa heran terhadap sesuatu yang mengundang      keheranan</li>
<li>Pada asalnya pertanyaan itu disampaikan untuk meminta      keterangan/<em>istifadah </em></li>
<li>Di antara para malaikat juga terdapat utusan/rasul dan      pengajar-pengajar</li>
<li>Allah memberikan kekuatan kepada para malaikat untuk bisa      menjelma dalam bentuk lain</li>
<li>Agama Allah yang benar adalah agama kita. Ia bisa disebut      dengan agama Allah; karena Dia lah yang mensyari&#8217;atkannya. Bisa juga      disebut dengan agama kita, karena kita beragama kepada Allah dengannya.      Hal ini dipetik dari ucapan beliau, <em>“Dia mengajarkan kepada kalian      tentang agama kalian.”</em></li>
<li>Keutamaan seorang yang berilmu, dan penjelasan bahwa Jibril      tatkala itu berperan sebagai pengajar bagi mereka sementara -ketika itu-      dia bertanya kepada Nabi, walaupun pendapat yang lebih kuat menyatakan      bahwa orang-orang salih dari kalangan manusia itu kedudukannya lebih utama      daripada malaikat</li>
<li>Semua kitab Allah itu harus diimani, yaitu mencakup: al-Qur&#8217;an,      Taurat, Injil, Zabur dan Suhuf Ibrahim dan Musa</li>
<li>Beradab dalam berbicara, ini terkandung dalam ucapan mereka, <em>“Ketika      itu kami duduk-duduk bersama di sisi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> Mereka tidak menggunakan ungkapan, <em>“Beliau duduk-duduk di sisi kami.”</em></li>
<li>Indahnya adab para sahabat -<em>semoga Allah meridhai mereka-</em> ketika berada di dalam majelis ilmu dengan bersikap tenang/diam -tidak      ribut- dan lain sebagainya</li>
<li>Hendaknya bersikap lembut terhadap orang yang bertanya</li>
<li>Seorang murid mengajarkan adab bersama gurunya, hal ini bisa      dipetik dari ucapannya, <em>“Bolehkah saya mendekat, wahai Muhammad.”</em></li>
<li>Hendaknya penanya mengajukan pertanyaannya dengan jelas dan      lemah lembut</li>
<li>Berhias diri adalah perkara yang dituntut, bukan tergolong      perbuatan sombong/angkuh</li>
<li>Penuntut ilmu lebih utama untuk memakai pakaian putih karena      Jibril datang berperan sebagai guru yang mengajarkan agama -dan dia      mencontohkan demikian-</li>
<li>Hendaknya seorang guru berpenampilan yang bagus</li>
<li>Hendaknya meninggalkan sikap berlebih-lebihan di dalam memuji,      karena dia -Yahya bin Ya&#8217;mar- cukup mengatakan -kepada Ibnu Umar, salah      seorang ulama di kalangan Sahabat-, <em>“Wahai Abu Abdirrahman.”</em></li>
<li>Orang yang baru masuk hendaknya mendahului mengucapkan salam,      hal ini diitunjukkan oleh riwayat lain hadits ini dari jalur Abu Hurairah      -dalam riwayat Bukhari no. 50 dan Muslim no. 9- dan Abu Dzar yang di dalamnya      terdapat keterangan tambahan bahwa ketika masuk Jibril berkata, <em>“Assalamu&#8217;alaikum,      wahai Muhammad.”</em> lalu dia berkata, <em>“Bolehkah saya mendekat, wahai      Muhammad.”</em></li>
<li>Hendaknya membawa teman ketika bepergian jauh</li>
<li>Sesuatu yang wajar, bahwa mayoritas orang yang mau      memperhatikan urusan dakwah di suatu daerah adalah penduduk aslinya (lihat      <em>Syarh al-Arba&#8217;in an-Nawawiyah</em> oleh Syaikh Yahya al-Hajuri, hal.      38-42)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mutiara-faedah-hadits-jibril.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ya Allah, Umatku, Umatku&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/ya-allah-umatku-umatku.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/ya-allah-umatku-umatku.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 05:46:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Jibril]]></category>
		<category><![CDATA[Malaikat]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Umat Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1623</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdullah bin Amr bin al-&#8217;Ash radhiyallahu&#8217;anhuma, beliau menceritakan: Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membaca firman Allah &#8216;azza wa jalla mengenai Ibrahim (yang artinya), “Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah banyak menyesatkan manusia, barangsiapa yang mengikutiku maka sesungguhnya dia adalah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/ya-allah-umatku-umatku.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fya-allah-umatku-umatku.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fya-allah-umatku-umatku.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Dari Abdullah bin Amr bin al-&#8217;Ash </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-weight: normal;">, beliau menceritakan: Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> membaca firman Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;azza wa jalla</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengenai Ibrahim (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah banyak menyesatkan manusia, barangsiapa yang mengikutiku maka sesungguhnya dia adalah termasuk golonganku.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. Ibrahim: 36). &#8216;Isa </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;alaihis salam</span></em><span style="font-weight: normal;"> juga berkata (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba-Mu, dan apabila Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-Ma&#8217;idah: 118). Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ya Allah, umatku, umatku.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Dan beliaupun menangis. Allah</span><em><span style="font-weight: normal;"> &#8216;azza wa jalla</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Jibril, pergi dan temuilah Muhammad -sedangkan Rabbmu tentu lebih mengetahui- lalu tanyakan kepadanya, apa yang membuatmu menangis?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Maka Jibril </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;alaihis sholatu was salam</span></em><span style="font-weight: normal;"> pun menemui beliau dan bertanya kepadanya, lalu Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> memberitakan kepadanya tentang apa yang telah diucapkannya -dan Dia (Allah) tentu lebih mengetahuinya-. Lantas Allah berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Jibril, pergi dan temuilah Muhammad, dan katakan kepadanya, &#8216;Sesungguhnya Kami pasti akan membuatmu ridha berkenaan dengan nasib umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu bersedih.&#8217;.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/344-345])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1623"></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Hadits yang agung ini mengandung pelajaran berharga, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Keterangan 	mengenai betapa sempurna rasa kasih sayang Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> terhadap umatnya dan perhatian beliau yang sangat besar terhadap 	kemaslahatan umatnya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/345])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	untuk mengangkat kedua belah tangan ketika berdoa (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/345])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Kabar 	gembira bagi umat ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Kami 	pasti akan membuatmu ridha berkenaan dengan nasib umatmu, dan Kami 	tidak akan membuatmu bersedih.&#8217; </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> Syarh Muslim </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[2/345])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Keterangan 	mengenai keagungan posisi Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> di sisi Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">dan 	betapa lembut sikap Allah kepada beliau </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/345])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Hikmah 	diutusnya Jibril untuk bertanya kepada Nabi adalah demi menampakkan 	kemuliaan yang ada pada diri Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	yang mana beliau berada di sebuah kedudukan -makhluk- yang tertinggi 	sehingga layak untuk dimuliakan dengan bentuk memperoleh apa yang 	bisa membuatnya ridha dari Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/345])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Bolehnya menangis, bahkan itu mencerminkan sifat kasih sayang yang 	ada pada diri seorang hamba. Selama tangisan itu muncul dari 	ketulusan hati, bukan karena pura-pura.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa, Allah tidak membutuhkan 	makhluk-Nya, bahkan para malaikat sekalipun.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Para 	Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;alaihimus 	sholatu was salam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> adalah orang-orang yang sangat menaruh perhatian terhadap nasib 	umatnya dan begitu menyayangi mereka, dan bukti terbesar atas hal 	itu adalah dakwah yang mereka serukan agar manusia kembali ke jalan 	Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya serta taat 	kepada utusan-Nya</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Semestinya 	seorang da&#8217;i merasa sedih dan prihatin dengan keburukan yang menimpa 	masyarakatnya dan berusaha untuk mencari jalan keluar bagi 	permasalahan mereka tersebut. </span></span><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Penetapan 	bahwa Allah berbicara</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Iman terhadap 	keberadaan Malaikat, bahwa mereka itu ada dan bukan sekedar kiasan 	sebuah kekuatan baik yang abstrak/tidak ada wujudnya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Hakekat 	kepedulian kepada umat adalah kepedulian terhadap agama mereka dan 	bagaimana nasib mereka kelak di akherat. Maka orang yang paling 	peduli terhadap nasib umat adalah para da&#8217;i tauhid, karena upaya 	mereka demi &#8216;menyelamatkan&#8217; orang dari kekalnya siksa neraka&#8230;</p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/ya-allah-umatku-umatku.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berhati-Hati Dalam Menukil Berita</title>
		<link>http://abumushlih.com/berhati-hati-dalam-menukil-berita.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/berhati-hati-dalam-menukil-berita.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 00:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Dusta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1332</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila dia senantiasa menceritakan semua yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya) Dari Abu Utsman an-Nahdi, Umar bin al-Khattab radhiyallahu&#8217;anhu berkata, “Cukuplah dianggap pendusta apabila &#8230; <a href="http://abumushlih.com/berhati-hati-dalam-menukil-berita.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberhati-hati-dalam-menukil-berita.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fberhati-hati-dalam-menukil-berita.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila dia senantiasa menceritakan semua yang dia dengar.”</em> (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)</p>
<p><span id="more-1332"></span></p>
<p>Dari Abu Utsman an-Nahdi, Umar bin al-Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Cukuplah dianggap pendusta apabila orang selalu menceritakan apa saja yang dia dengar.”</em> (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)</p>
<p>Dari Abul Ahwash, Abdullah bin Mas&#8217;ud<em> radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Cukuplah menjadi keudstaan pada diri seseorang yang senantiasa menceritakan semua berita yang dia dengar.”</em> (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)</p>
<p>Dari Muhammad bin al-Mutsanna, Abdurrahman bin Mahdi berkata, <em>“Seorang lelaki tidak akan menjadi pemimpin/imam yang diteladani sampai dia bisa menahan diri dari menceritakan sebagian berita yang dia dengar.”</em> (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)</p>
<p>Dari Ubaidulllah bin Abdullah bin Utbah, Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Tidaklah engkau menyampaikan kepada suatu kaum dengan sebuah hadits/pembicaraan yang tidak bisa dicapai oleh akal mereka melainkan pasti akan menimbulkan fitnah/kesalahpahaman pada sebagian mereka.”</em> (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akan muncul kelak di akhir umatku orang-orang yang menuturkan hadits kepada kalian yang tidak pernah didengar oleh kalian dan bapak-bapak kalian, maka berhati-hatilah kalian dari bahaya mereka itu.”</em> (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)</p>
<p><strong>Larangan berdusta atas nama Nabi</strong></p>
<p>Dari Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Janganlah kalian berdusta atas namaku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku, niscaua dia akan masuk neraka.” </em>(HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.”</em> (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.”</em> (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)</p>
<p>Dari al-Mughirah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak seperti berdusta atas nama siapapun. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.”</em> (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)</p>
<p>Muhammad bin Sirin berkata, <em>“Sesungguhnya  ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa  kalian mengambil agama kalian.”</em> (HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/berhati-hati-dalam-menukil-berita.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Tunda Amal Kebaikan!</title>
		<link>http://abumushlih.com/jangan-tunda-amal-kebaikan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jangan-tunda-amal-kebaikan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 18:06:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Waktu]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Soleh]]></category>
		<category><![CDATA[Wali Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1054</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta’ala menggambarkan tentang keistimewaan para Nabi dengan firman-Nya (yang artinya), ”Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan berbagai macam kebaikan, dan mereka senantiasa berdoa kepada Kami dengan disertai rasa harap dan cemas. Dan mereka pun senantiasa khusyu’ dalam &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jangan-tunda-amal-kebaikan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-tunda-amal-kebaikan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-tunda-amal-kebaikan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah ta’ala menggambarkan tentang keistimewaan para Nabi dengan firman-Nya (yang artinya), ”Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan berbagai macam kebaikan, dan mereka senantiasa berdoa kepada Kami dengan disertai rasa harap dan cemas. Dan mereka pun senantiasa khusyu’ dalam beribadah kepada Kami.” (QS. Al Anbiyaa’ [21] : 90).</p>
<p><span id="more-1054"></span></p>
<p><strong>Bersegera dalam kebaikan</strong><br />
al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat tersebut, bahwa para nabi dan orang-orang salih itu besegera dalam melakukan amal pendekatan diri kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/273. cet al-Maktabah at-Taufiqiyah).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah memaparkan, bahwa maknanya ialah para Nabi itu bersegera dalam mengerjakan kebaikan-kebaikan, dan mereka juga melakukan kebaikan pada waktu-waktunya yang utama. Mereka pun berusaha untuk menyempurnakan amalan mereka itu dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak mau meninggalkan sebuah keutamaan pun pada saat mereka sanggup untuk meraihnya. Mereka tidak mau menyia-nyiakannya, sehingga kalau kesempatan itu ada maka mereka pun bergegas untuk memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya… (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 530)</p>
<p><strong>Jangan sia-siakan kesempatan!</strong><br />
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, ”Salah satu bukti kebijaksanaan takdir dan hikmah ilahiyah, yaitu barangsiapa yang meninggalkan apa yang bermanfaat baginya -padahal memungkinkan baginya untuk memetik manfaat itu lantas dia tidak mau memetiknya- maka dia akan menerima cobaan berupa disibukkan dengan hal-hal yang mendatangkan madharat terhadap dirinya. Barangsiapa meninggalkan ibadah kepada ar-Rahman, niscaya dia akan disibukkan dengan ibadah kepada berhala-berhala. Barangsiapa meninggalkan cinta, harap dan takut kepada Allah maka niscaya dia akan disibukkan dalam kecintaan kepada selain Allah, berharap dan takut karenanya. Barangsiapa tidak menginfakkan hartanya dalam ketaatan kepada Allah niscaya dia akan menginfakkannya dalam mentaati syaithan. Barangsiapa meninggalkan merendahkan diri dan tunduk kepada Rabb-nya niscaya dia akan dicoba dengan merendahkan diri dan tunduk kepada hamba. Barangsiapa meninggalkan kebenaran niscaya dia akan dicoba dengan kebatilan.” (Tafsir surat al-Baqarah ayat 101-103, Tais al-Karim ar-Rahman hal. 60-61).</p>
<p>Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku dan mengatakan, ”Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang singgah di perjalanan.” Ibnu ‘Umar berkata, “Kalau engkau berada di waktu pagi jangan sekedar menunggu datangnya waktu sore. Kalau engkau berada di waktu sore jangan sekedar menunggu datangnya waktu pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan gunakanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari. 6053, Kitab ar-Raqaa’iq)</p>
<p><strong>Asas kebaikan dan keburukan</strong><br />
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ”Asas seluruh kebaikan adalah pengetahuanmu bahwa apa saja yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa saja yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi. Ketika itulah akan tampak, bahwa semua kebaikan adalah berasal dari nikmat-Nya, maka sudah semestinya kamu pun bersyukur kepada-Nya atas nikmat itu, dan kamu memohon dengan sangat kepada-Nya agar nikmat itu tidak terputus darimu. Dan akan tampak pula, bahwa seluruh keburukan adalah akibat (manusia) dibiarkan bersandar kepada dirinya sendiri dan bentuk hukuman dari-Nya, maka sudah semestinya kamu bersungguh-sungguh berdoa kepada-Nya agar menghalangimu dari keburukan-keburukan itu. Mintalah kepada-Nya supaya kamu tidak dibiarkan bersandar pada dirimu sendiri (tanpa ada bantuan dari-Nya) dalam mengerjakan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan keburukan-keburukan.”</p>
<p>Beliau melanjutkan, ”Seluruh ahli ma’rifat pun telah sepakat bahwa segala kebaikan bersumber dari taufik yang Allah karuniakan kepada hamba. Dan semua bentuk keburukan bersumber dari penelantaran Allah terhadap hamba-Nya. Mereka pun telah sepakat, bahwa hakekat taufik adalah ketika Allah tidak menyerahkan urusanmu kepada dirimu sendiri. Sedangkan hakekat al-khudzlan (ditelantarkan) yaitu ketika Allah membiarkan kamu bersandar kepada kemampuanmu semata (tanpa bantuan-Nya) dalam mengatasi masalahmu. Kalau ternyata segala kebaikan bersumber dari taufik, sedangkan ia berada di tangan Allah bukan di tangan hamba, maka kunci untuk mendapatkannya adalah do’a, perasaan sangat membutuhkan, ketergantungan hati yang penuh kepada-Nya, serta harapan dan rasa takut kepada-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 94).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jangan-tunda-amal-kebaikan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

