<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Neraka</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/neraka/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 10:19:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Bekas-Bekas Pelajaran Tauhid</title>
		<link>http://abumushlih.com/bekas-bekas-pelajaran-tauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/bekas-bekas-pelajaran-tauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 20:33:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1783</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Syaikh as-Sa&#8217;di rahimahullah berkata, “Tidak ada suatu perkara yang memiliki bekas-bekas/dampak yang baik serta keutamaan yang beraneka ragam seperti halnya tauhid. Karena sesungguhnya kebaikan di dunia dan di akherat itu semua merupakan buah dari tauhid dan keutamaan yang muncul darinya.” (al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbekas-bekas-pelajaran-tauhid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbekas-bekas-pelajaran-tauhid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, “Tidak ada suatu perkara yang memiliki bekas-bekas/dampak yang baik serta keutamaan yang beraneka ragam seperti halnya tauhid. Karena sesungguhnya kebaikan di dunia dan di akherat itu semua merupakan buah dari tauhid dan keutamaan yang muncul darinya.” (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 16)</p>
<p><span id="more-1783"></span></p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> juga berkata, “Segala kebaikan yang segera -di dunia- ataupun yang tertunda -di akherat- sesungguhnya merupakan buah dari tauhid, sedangkan segala keburukan yang segera ataupun yang tertunda maka sesungguhnya itu merupakan buah/dampak dari lawannya&#8230;.” (<em>al-Qawa&#8217;id al-Hisan al-Muta&#8217;alliqatu Bi Tafsir al-Qur&#8217;an</em>, hal. 26)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>)</p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata: Ketika turun ayat <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>) Maka hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Lantas merekapun mengadu, <em>“Lalu siapakah diantara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?”</em>. Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya yang dimaksudkan adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Luqman kepada anaknya; &#8216;Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.&#8217; </em>(<strong>QS. Luqman: 13</strong>)<em>.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/206])</p>
<p>al-Khatthabi <em>rahimahullah</em> berkata, “Asal makna dari zalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, dan barangsiapa yang menempatkan ibadah untuk selain Allah <em>ta&#8217;ala</em> maka dia adalah sosok pelaku kezaliman yang paling zalim.” (sebagaimana dinukil oleh an-Nawawi <em>rahimahullah</em> dalam <em>Syarh Muslim</em> [2/206])</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Qar&#8217;awi <em>hafizhahullah</em> berkata, “Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> memberitakan kepada kita bahwasanya barangsiapa yang mentauhidkan-Nya dan tidak mencampuri tauhidnya dengan syirik maka Allah menjanjikan atasnya keselamatan dari masuk ke dalam neraka di akherat serta Allah akan membimbingnya menuju jalan yang lurus di dunia.” (<em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 35)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Qar&#8217;awi <em>hafizhahullah</em> juga menjelaskan, “Ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang meninggal di atas tauhid serta bertaubat dari dosa-dosa besar maka dia akan selamat dari siksa neraka. Dan barangsiapa yang meninggal dalam keadaan masih bergelimang dengan dosa-dosa besar/tidak bertaubat darinya sementara dia masih bertauhid maka dia akan selamat dari -hukuman- kekal di neraka.” (<em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 35)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mengucapkan la ilaha illallah wahdahu la syarika lah -tiada sesembahan yang benar selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya- dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Kemudian mengatakan bahwa Isa adalah hamba Allah dan putra dari seorang hamba perempuan-Nya serta terjadi dengan kalimat-Nya yang diberikan kepada Maryam dan merupakan ruh dari -ciptaan-Nya. Dan dia mengatakan bahwa surga itu benar, neraka juga benar. Maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga melalui salah satu pintu manapun di antara kedelapan pintu surga yang dia kehendaki.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/70-71])</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, “Di antara keutamaan tauhid yang paling agung adalah ia merupakan sebab yang menghalangi kekalnya seorang di dalam neraka, yaitu apabila -minimal- di dalam hatinya masih terdapat tauhid meskipun seberat biji sawi. Kemudian, apabila tauhid itu sempurna di dalam hati maka akan bisa menghalangi masuk neraka secara keseluruhan/tidak masuk neraka sama sekali.” (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 17)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah ada seorang hambapun yang mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya melainkan Allah pasti haramkan dia tersentuh api neraka.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/82-83])</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah barang sedikitpun maka dia pasti masuk neraka.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/164])</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Jibril &#8216;alaihis salam datang kepadaku dan menyampaikan kabar gembira bahwa barangsiapa yang meninggal di antara umatmu dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah barang sedikitpun maka dia pasti masuk surga.” </em>Aku -Abu Dzar- berkata, <em>“Meskipun dia berzina dan mencuri?”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Meskipun dia berzina dan mencuri.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/166])</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, “&#8230;Apabila dia adalah seorang pelaku dosa besar -yaitu yang masih bertauhid- meninggal dalam keadaan terus-menerus bergelimang dengannya -maksudnya tidak bertaubat dari dosa besarnya- maka dia berada di bawah kehendak Allah -artinya terserah kepada Allah mau menghukum atau memaafkannya-. Apabila dia dimaafkan maka dia bisa masuk surga secara langsung sejak awal. Kalau tidak, maka dia disiksa terlebih dulu lalu akan dikeluarkan dari neraka dan dikekalkan di dalam surga&#8230;” (<em>Syarh Muslim</em> [2/168])</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, “&#8230;Sesungguhnya salah satu ciri hati yang sakit adalah ia berpaling dari mengkonsumsi hal-hal yang bermanfaat dan yang cocok dengannya menuju hal-hal yang justru membahayakan dirinya, serta ia berpaling dari obat yang manjur menuju penyakit yang membahayakan&#8230;” (<em>Ighatsat al-Lahfan</em>, hal. 96)</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> juga berkata, “&#8230;Salah satu ciri sehatnya hati adalah ia senantiasa merasa rindu dan berhasrat untuk berkhidmat/mengabdi dan taat -kepada Allah- sebagaimana halnya orang yang lapar menginginkan makanan dan minuman.” (<em>Ighatsat al-Lahfan</em>, hal. 98)</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang merasa takut akan kedudukan Rabbnya serta menahan dari melampiaskan hawa nafsunya -dengan cara yang terlarang-, maka sesungguhnya surga adalah tempat tinggal baginya.”</em> (<strong>QS. an-Nazi&#8217;aat: 40-41</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari itu -kiamat- tidak berguna harta dan keturunan, kecuali bagi orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;araa&#8217;: 88-89</strong>). <em>Wallahu a&#8217;lam. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammad wa &#8216;ala alihi wa sallam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/bekas-bekas-pelajaran-tauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Puasa</title>
		<link>http://abumushlih.com/keutamaan-puasa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/keutamaan-puasa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 03:24:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ampunan]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhilah Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1769</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya para lelaki muslim dan perempuan muslimah, para lelaki dan perempuan yang beriman, para lelaki dan perempuan yang taat, para lelaki dan perempuan yang jujur, para lelaki dan perempuan yang sabar, para lelaki dan perempuan yang khusyu&#8217;, para lelaki dan perempuan yang rajin bersedekah, para lelaki dan perempuan yang rajin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkeutamaan-puasa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkeutamaan-puasa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya para lelaki muslim dan perempuan muslimah, para lelaki dan perempuan yang beriman, para lelaki dan perempuan yang taat, para lelaki dan perempuan yang jujur, para lelaki dan perempuan yang sabar, para lelaki dan perempuan yang khusyu&#8217;, para lelaki dan perempuan yang rajin bersedekah, </span></em><em><strong>para lelaki dan perempuan yang rajin berpuasa</strong></em><em><span style="font-weight: normal;">, para lelaki dan perempuan yang senantiasa menjaga kemaluannya, dan para lelaki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, maka </span></em><em><strong>Allah siapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang sangat besar</strong></em><em><span style="font-weight: normal;">.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Ahzab: 35</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1769"></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Puasa merupakan perisai yang dapat digunakan oleh seorang hamba untuk melindungi dirinya dari jilatan api neraka.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Ahmad</strong><span style="font-weight: normal;">, sahih)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Suatu ketika, Abu Umamah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;"> bertanya kepada Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dengan sebab itu aku bisa masuk ke dalam surga.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Maka beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Lakukanlah puasa, tiada yang dapat menyamainya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Nasa&#8217;i</strong><span style="font-weight: normal;">, sanadnya sahih)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dari Abu Hurairah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah berfirman: Semua amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila suatu hari salah seorang dari kalian sedang berpuasa maka janganlah dia mengucapkan kata-kata kotor ataupun berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencaci-maki dirinya atau memeranginya maka ucapkanlah; Aku sedang puasa. Demi tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi. Seorang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan; ketika berbuka puasa maka dia merasa senang, dan ketika berjumpa dengan Rabbnya maka dia pun merasa senang dengan puasanya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dicuplik dengan peringkasan dari kitab</span><strong> Shifat Shaum Nabi </strong><em><strong>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</strong></em><strong> fi Ramadhan</strong><span style="font-weight: normal;"> karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilali dan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid -</span><em><span style="font-weight: normal;">hafizhahumallah</span></em><span style="font-weight: normal;">-</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa 	merupakan salah satu sebab turunnya ampunan dan curahan pahala</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa 	merupakan salah satu sebab untuk menyelamatkan diri dari siksaan api 	neraka</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa 	merupakan salah satu sebab untuk masuk ke dalam surga</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa 	merupakan sebuah amalan yang sangat istimewa yang disandarkan Allah 	kepada diri-Nya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa 	merupakan benteng dari perbuatan jelek</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa akan 	mendatangkan kegembiraan di hati orang yang beriman; yaitu di dunia 	ketika dia berbuka/berhari raya dan di akherat ketika dia berjumpa 	dengan Allah dengan membawa amalannya</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Semoga Allah yang Maha kuasa lagi Maha mengetahui masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadhan di tahun ini. Sehingga kita bisa menjalankan sebuah ibadah yang sangat agung demi menggapai ampunan dan pahala dari-Nya. </span><em><span style="font-weight: normal;">Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Wisma al-Ghuroba&#8217;, Pogung Dalangan</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">7 Jumadi Tsani 1431 H/21 Mei 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/keutamaan-puasa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Ikhlas</title>
		<link>http://abumushlih.com/tentang-ikhlas.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tentang-ikhlas.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 17:03:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Sum'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1738</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, yang berkuasa membolak-balikkan hati anak Adam bagaimanapun Dia inginkan. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi akhir zaman dan pembawa lentera bimbingan untuk membangkitkan kesadaran hati manusia yang telah lalai dan lupa akan hakekat kehidupan. Amma ba&#8217;du. Saudara-saudara sekalian, semoga Allah menambahkan kepada kita bimbingan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftentang-ikhlas.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftentang-ikhlas.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Sesungguhnya segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, yang berkuasa membolak-balikkan hati anak Adam bagaimanapun Dia inginkan. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi akhir zaman dan pembawa lentera bimbingan untuk membangkitkan kesadaran hati manusia yang telah lalai dan lupa akan hakekat kehidupan. </span><em><span style="font-weight: normal;">Amma ba&#8217;du</span></em><span style="font-weight: normal;">.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Saudara-saudara sekalian, semoga Allah menambahkan kepada kita bimbingan dan pertolongan&#8230; sesungguhnya pada masa-masa seperti sekarang ini; masa yang penuh dengan ujian dan godaan serta kekacauan yang meluas di berbagai sudut kehidupan&#8230; kita sangat memerlukan hadirnya hati yang diwarnai dengan keikhlasan. Hati yang selamat, sebagaimana yang disinggung oleh Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> dalam firman-Nya (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Pada hari itu -hari kiamat- tidaklah bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;"><span id="more-1738"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>Hati yang ikhlas itulah yang selamat</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> memaparkan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ia adalah hati yang selamat dari segala syahwat/keinginan nafsu yang menyelisihi perintah dan larangan Allah serta terbebas dari segala syubhat yang menyelisihi berita yang dikabarkan-Nya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Ighatsat al-Lahfan</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 15)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Syaikh as-Sa&#8217;di </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Hati yang selamat itu adalah hati yang selamat dari syirik dan keragu-raguan serta terbebas dari kecintaan kepada keburukan/dosa atau perilaku terus menerus berkubang dalam kebid&#8217;ahan dan dosa-dosa. Karena hati itu bersih dari apa-apa yang disebutkan tadi, maka konsekunsinya adalah ia menjadi hati yang diwarnai dengan lawan-lawannya yaitu; keikhlasan, ilmu, keyakinan, cinta kepada kebaikan serta dihiasinya -tampak indah- kebaikan itu di dalam hatinya. Sehingga keinginan dan rasa cintanya akan senantiasa mengikuti kecintaan Allah, dan hawa nafsunya akan tunduk patuh mengikuti apa yang datang dari Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Taisir al-Karim ar-Rahman</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/812]) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> juga mensifatkan pemilik hati yang selamat itu dengan ucapannya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“&#8230;Ia akan senantiasa berusaha mendahulukan keridhaan-Nya dalam kondisi apapun serta berupaya untuk selalu menjauhi kemurkaan-Nya dengan segala macam cara&#8230;”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Kemudian, beliau juga mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“&#8230; amalnya ikhlas karena Allah. Apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah. Apabila dia membenci maka bencinya juga karena Allah. Apabila memberi maka pemberiannya itu karena Allah. Apabila tidak memberi juga karena Allah&#8230;”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Ighatsat al-Lahfan</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 15)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>Ayat-Ayat Yang Memerintahkan Untuk Ikhlas</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab dengan benar, maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, sesungguhnya agama yang murni itu merupakan hak Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. az-Zumar: 2-3</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Padahal, mereka tidaklah disuruh melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dalam menjalankan ajaran yang lurus, mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Demikian itulah agama yang lurus.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/amal untuk-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. Ghafir: 14</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Dialah Yang Maha Hidup, tiada sesembahan -yang benar- selain Dia, maka sembahlah Dia dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. Ghafir: 65</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>Hadits-Hadits Yang Memerintahkan Untuk Ikhlas</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlas dan dilakukan demi mengharap wajah-Nya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Nasa&#8217;i </strong><span style="font-weight: normal;">dari Abu Umamah al-Bahili </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, sanadnya hasan, dihasankan oleh al-Iraqi dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">Takhrij al-Ihya&#8217;</span></em><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang yang paling berbahagia dengan syafa&#8217;atku kelak pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas dari dalam hati atau dirinya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Bukhari </strong><span style="font-weight: normal;">dari Abu Hurairah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>Gara-Gara Tidak Ikhlas</strong><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata: Suatu saat, ketika orang-orang mulai bubar meninggalkan majelis Abu Hurairah -</span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">-, maka Natil -salah seorang penduduk Syam- (beliau ini adalah seorang tabi&#8217;in yang tinggal di Palestina, pent) berkata kepadanya, </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">“Wahai Syaikh, tuturkanlah kepada kami suatu hadits yang pernah anda dengar dari Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">.”</span></span><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Abu Hurairah menjawab, </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">“Baiklah. Aku pernah mendengar Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda: </span></span><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah: [</span><strong>Yang pertama</strong><span style="font-weight: normal;">] Seorang lelaki yang telah berjuang demi mencari mati syahid. </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Lalu dia</span></span><span style="font-weight: normal;"> dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Dia menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Allah menimpali jawabannya, </span><em><strong>“Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.”</strong></em><span style="font-weight: normal;"> Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">hingga akhirnya dia</span></span><span style="font-weight: normal;"> dilemparkan ke dalam api neraka. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">[</span><strong>Yang kedua</strong><span style="font-weight: normal;">] Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur&#8217;an. </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Lalu dia</span></span><span style="font-weight: normal;"> dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Dia menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur&#8217;an di jalan-Mu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Allah menimpali jawabannya, </span></span><em><strong>“Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur&#8217;an agar disebut sebagai qari&#8217;. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.”</strong></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>Yang ketiga</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">] Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Dia menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah menimpali jawabannya, </span></span><em><strong>“Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.”</strong></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.”</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Muslim</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1903], lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/529-530])</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Hadits yang agung ini memberikan faedah bagi kita, di antaranya:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[1] Dosa riya&#8217; -yaitu beramal karena dilihat orang dan demi mendapatkan sanjungan- adalah dosa yang sangat diharamkan dan sangat berat hukumannya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/531]). Riya&#8217; merupakan bahaya yang lebih dikhawatirkan Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> menimpa orang-orang salih sekelas para sahabat. Beliau bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Maukah kukabarkan kepada kalian mengenai sesuatu yang lebih aku takutkan menyerang kalian daripada al-Masih ad-Dajjal?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Para sahabat menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Mau ya Rasulullah.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Beliau berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Yaitu syirik yang samar. Tatkala seorang berdiri menunaikan sholat lantas membagus-baguskan sholatnya karena merasa dirinya diperhatikan oleh orang lain.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Ahmad dan Ibnu Majah</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, al-Bushiri berkata sanadnya hasan) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tam-hid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 397, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul al-Mufid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/55]). Kalau para sahabat saja demikian, maka bagaimana lagi dengan orang seperti kita? </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul musta&#8217;aan</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">&#8230;</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[2] Dorongan agar menunaikan kewajiban ikhlas dalam beramal. Hal ini sebagaimana yang telah Allah perintahkan dalam ayat (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan amal untuk-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/531])</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[3] Hadits ini menunjukkan bahwa dalil-dalil lain yang bersifat umum yang menyebutkan keutamaan jihad itu hanyalah berlaku bagi orang-orang yang berjihad secara ikhlas. Demikian pula pujian-pujian yang ditujukan kepada ulama dan orang-orang yang gemar berinfak dalam kebaikan hanyalah dimaksudkan bagi orang-orang yang melakukannya ikhlas karena Allah (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/531-532])</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[4] Sesungguhnya ikhlas tidak akan berkumpul dengan kecintaan kepada pujian dan sifat rakus terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Ibnul Qayyim </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak akan bersatu antara ikhlas di dalam hati dengan kecintaan terhadap pujian dan sanjungan serta ketamakan terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, kecuali sebagaimana bersatunya air dengan api atau dhobb/sejenis biawak dengan ikan -musuhnya-.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 143)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[5] Keikhlasan merupakan sesuatu yang membutuhkan perjuangan dan kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu. Sahl bin Abdullah berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk memuaskan hawa nafsunya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 26). Sebagian salaf berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah aku berjuang menundukkan diriku dengan perjuangan yang lebih berat daripada perjuangan untuk meraih ikhlas.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul al-Mufid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/53])</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[6] Tercela dan diharamkannya orang yang menimba ilmu agama tidak ikhlas karena Allah. Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa yang menuntut ilmu yang semestinya dipelajari demi mencari wajah Allah akan tetapi dia tidak menuntutnya melainkan untuk menggapai kesenangan dunia maka dia pasti tidak akan mendapatkan bau -harum- surga pada hari kiamat kelak.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Abu Dawud</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dan disahihkan al-Albani) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 22)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[7] Amalan yang tercampuri syirik -contohnya riya&#8217;- tidak diterima oleh Allah. Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah ta&#8217;ala berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang dia mempersekutukan diri-Ku dengan selain-Ku maka akan Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Muslim</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 23)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[8] Sebesar apapun amalan, maka yang akan diterima Allah hanyalah amal yang ikhlas. Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan demi mencari wajah-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Nasa&#8217;i</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dan dihasankan al-Albani) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 21)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[9] Amalan yang  besar bisa berubah menjadi kecil gara-gara niat, sebagaimana amal yang kecil bisa menjadi bernilai besar karena niat. Ibnu Mubarak berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil karena niat.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 19)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>Buah Keikhlasan</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Di antara buah paling agung yang diperoleh oleh orang-orang yang ikhlas adalah diharamkan tersentuh api neraka. Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Allah mengharamkan sentuhan api neraka kepada orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas karena ingin mencari wajah Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong><span style="font-weight: normal;"> dari Itban </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Orang yang ikhlas/bertauhid maka akan selamat dari hukuman kekal di dalam neraka, yaitu selama di dalam hatinya masih tersisa iman/tauhid meskipun sekecil biji sawi. Dan apabila keikhlasan itu sempurna di dalam hatinya maka ia akan selamat dari hukuman neraka dan tidak masuk ke dalamnya sama sekali (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul as-Sadid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 17)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Orang yang mendapatkan keutamaan ini hanyalah orang yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat syahadat. Maka terkecualikan dari keutamaan ini orang-orang munafik, dikarenakan mereka tidak mencari wajah Allah ketika mengucapkannya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tam-hid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 26). </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Hadits ini mengandung bantahan bagi kaum Murji&#8217;ah yang menganggap bahwa ucapan la ilaha illallah itu sudah cukup meskipun tidak disertai dengan harapan untuk mencari wajah Allah (ikhlas). Demikian pula, hadits ini mengandung bantahan bagi kaum Khawarij dan Mu&#8217;tazilah yang beranggapan bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam neraka, sementara hadits ini menunjukkan bahwa para pelaku perbuatan-perbuatan yang diharamkan tersebut -dan tidak bertaubat sebelum matinya- tidak akan kekal di neraka, hanya saja  pelakunya memang berhak menerima hukuman/siksa (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/46])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Selain itu, orang yang ikhlas juga akan merasa ringan dalam melakukan berbagai ketaatan -yang pada umumnya terasa memberatkan-, karena orang yang ikhlas senantiasa menyimpan harapan pahala dari Allah. Demikian pula, ia akan merasa ringan dalam meninggalkan maksiat, karena rasa takut akan hukuman Rabbnya yang tertanam kuat di dalam hatinya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul as-Sadid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 17) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Orang yang ikhlas dalam beramal akan bisa mengubah amalannya yang tampak sedikit menjadi banyak pahalanya, sehingga ucapan dan amalannya akan membuahkan pahala yang berlipat ganda (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul as-Sadid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 19). Syaikh as-Sa&#8217;di </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Amal-amal itu sesungguhnya memiliki keutamaan yang bervariasi dan pahala yang berlipat-lipat tergantung pada keimanan dan keikhlasan yang terdapat di dalam hati orang yang melakukannya&#8230; ”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Bahjat al-Qulub al-Abrar</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 17). Semoga Allah menjadikan kita orang yang ikhlas. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">NB: Sebagian materi artikel ini kami ambil dari kitab <em>Ta&#8217;thir al-Anfaas bi Ahaadits al-Ikhlas</em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tentang-ikhlas.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuduhlah Akal Kalian!</title>
		<link>http://abumushlih.com/tuduhlah-akal-kalian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tuduhlah-akal-kalian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 09:02:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1613</guid>
		<description><![CDATA[Yazid al-Faqir (si bungkuk, tabi&#8217;in ini dijuluki demikian karena tulang punggungnya cidera) menuturkan: Dahulu aku sempat terseret dalam salah satu pendapat sekte Khawarij -yaitu berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, dan orang yang sudah masuk neraka tidak bisa lagi keluar darinya-. Pada suatu ketika, kami bersama serombongan orang banyak berangkat menunaikan ibadah haji.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftuduhlah-akal-kalian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftuduhlah-akal-kalian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yazid <em>al-Faqir</em> (si bungkuk, tabi&#8217;in ini dijuluki demikian karena tulang punggungnya cidera) menuturkan:</p>
<p>Dahulu aku sempat terseret dalam salah satu pendapat sekte Khawarij -yaitu berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, dan orang yang sudah masuk neraka tidak bisa lagi keluar darinya-. Pada suatu ketika, kami bersama serombongan orang banyak berangkat menunaikan ibadah haji.  Kemudian, kamipun keluar di hadapan orang-orang -sembari menyerukan pemikiran Khawarij dan menghasut orang-orang untuk mengikutinya-.</p>
<p><span id="more-1613"></span></p>
<p>Ketika kami melewati Madinah, kami bertemu di sana dengan Jabir bin Abdullah -seorang sahabat Nabi- yang sedang menuturkan hadits dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada sekelompok orang sambil dia duduk bersandar kepada sebuah tiang. Ketika itu, dia menyebutkan hadits tentang <em>al-Jahannamiyun</em> (yaitu orang-orang yang dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke surga).</p>
<p>Aku pun (Yazid) berkata kepadanya,</p>
<p><em>“Wahai Sahabat Rasulullah, apa-apaan yang kalian ceritakan ini? Bukankah Allah telah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka maka Engkau benar-benar telah menghinakannya.” (QS. Ali Imran: 192). Allah juga menyatakan (yang artinya), “Setiap kali mereka -penduduk neraka- ingin keluar darinya maka mereka pun dikembalikan lagi ke dalamnya.” (QS. as-Sajdah: 20). Lalu apa-apaan yang kalian ucapkan tadi?”. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Jabir pun menjawab, <em>“Apakah Engkau membaca al-Qur&#8217;an?”</em>.</p>
<p>Kujawab, <em>“Iya.”</em></p>
<p>Jabir berkata, <em>“Apakah kamu pernah mendengar (di dalam al-Qur&#8217;an) mengenai maqam/kedudukan agung yang dimiliki oleh Muhammad &#8216;alaihis salam, yaitu yang beliau dibangkitkan oleh Allah di atasnya (maksudnya adalah syafa&#8217;at Nabi kepada umatnya kelak di akherat)?”</em>.</p>
<p>Kujawab, <em>“Iya.” </em></p>
<p>Jabir berkata, <em>“Sesungguhnya hal itu -yang aku sampaikan- merupakan kedudukan terhormat Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang dengan sebab itu Allah berkenan mengeluarkan siapa saja yang ingin dikeluarkan-Nya -yaitu semua orang beriman-.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Yazid berkata:</p>
<p>Kemudian Jabir menceritakan kejadian diletakkannya jembatan/shirath -di atas neraka- dan bagaimana keadaan orang-orang yang berjalan di atasnya, namun aku khawatir tidak hafal dengan baik rentetan ceritanya. Yang jelas, dia menceritakan bahwa <strong>ada suatu kaum yang keluar dari neraka yang sebelumnya mereka berada di dalamnya</strong>.</p>
<p>Dia -Jabir- berkisah, <em>“Mereka itu keluar darinya dalam keadaan seperti pucuk-pucuk benih tanaman wijen -yang menghitam karena tersengat sinar matahari- (hal iti disebabkan tubuh mereka terbakar di dalam neraka, sebagaimana diceritakan dalam sebagian riwayat). Kemudian mereka masuk ke dalam sebuah sungai di antara sungai-sungai yang ada di surga dan mandi di dalamnya. Kemudian mereka pun keluar -dalam keadaan putih bersih- seperti lembaran-lembaran kertas.” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Setelah mendengar -hadits- itu, maka kami pun rujuk -dari pendapat kami-. Kami berkata, <em>“Sungguh celaka kalian ini -maksudnya adalah diri mereka sendiri- apakah kalian mengira orang tua ini (yaitu Jabir bin Abdullah) berdusta atas nama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam?”</em>.</p>
<p>Setelah itu, kamipun  kembali pulang -seusai menunaikan ibadah haji-. Demi Allah, tidak ada di antara kami yang tetap berkeras untuk keluar (memberontak sebagaimana Khawarij) kecuali hanya satu orang.</p>
<p>Demikianlah isi kisah itu, atau sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Nu&#8217;aim -seorang guru dari gurunya Imam Muslim yang meriwayatkan hadits ini-.</p>
<p>(Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/323-324])</p>
<p>Kisah ini mengandung banyak pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Kewajiban mengimani adanya neraka dan siksaan pedih yang ada di      dalamnya. Sehingga hal itu akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah      kemudian berupaya senantiasa menjauhkan diri dari meninggalkan kewajiban      atau menerjang larangan-Nya.</li>
<li>Semua orang yang beriman pasti masuk ke dalam surga, meskipun      di antara mereka ada juga yang terlebih dahulu &#8216;mampir&#8217; ke neraka untuk      dibersihkan dosa-dosanya, <em>semoga Allah menyelamatkan kita dari      siksanya&#8230;</em></li>
<li>Keutamaan tauhid yang sangat agung, karena tidak mungkin orang      bisa masuk surga tanpa tauhid di dalam dirinya. Orang yang beriman tidak      dikatakan beriman jika dia tidak mengikhlaskan (memurnikan ibadahnya)      untuk Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Oleh sebab itu Allah      berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni      dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa lain yang di bawahnya bagi siapa      saja yang dikehendaki-Nya.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 48)</li>
<li>Keadilan para sahabat. Artinya mereka adalah penukil berita dan      hadits-hadits yang terpercaya. Oleh sebab itu para tabi&#8217;in tidak meragukan      kejujuran mereka dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Dakwah yang dikumandangkan oleh para sahabat adalah seruan      untuk berpegang teguh dengan Sunnah. Oleh sebab itu mereka adalah      orang-orang yang paling giat menyebarkan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> di tengah-tengah manusia, bahkan mereka itulah      narasumber  kunci periwayatan      hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada      generasi-generasi lain sesudah mereka, <em>semoga Allah membalas jasa-jasa      mereka dengan sebaik-baik balasan</em>.       Oleh sebab itu barangsiapa yang berupaya untuk mendiskreditkan para      sahabat dan menjatuhkan kehormatan mereka di mata kaum muslimin -apalagi      sampai mengkafirkan mereka- maka pada hakekatnya dia ingin menghancurkan      agama Islam yang mulia ini dengan cara menolak riwayat-riwayat mereka! <em>Maha      suci Allah dari perbuatan keji yang mereka lakukan..</em></li>
<li>Kedalaman ilmu para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>. Dimana      mereka senantiasa mengembalikan penafsiran ayat-ayat al-Qur&#8217;an kepada      Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (hadits). Karena mereka      meyakini bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah manusia      yang paling paham tentang al-Qur&#8217;an. Dan juga mereka memahami bahwa apa      yang disabdakan oleh Rasul tidak mungkin bertentangan dengan al-Qur&#8217;an.      Karena kewajiban Rasul adalah menyampaikan apa yang diturunkan oleh Allah.      Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan Kami telah turunkan      kepadamu adz-Dzikra (al-Qur&#8217;an) untuk kamu jelaskan kepada manusia apa      yang diturunkan kepada mereka dan mudah-mudahan mereka mau memikirkannya.”</em> (QS. An-Nahl: 44). Oleh sebab itu siapapun juga yang meninggalkan manhaj      para sahabat dalam memahami al-Qur&#8217;an dan menerapkannya pasti akan      tersesat&#8230; Kisah ini sebagai salah satu buktinya!</li>
<li>Menyimpang dari manhaj (metode beragama) para sahabat akan      berujung kepada kesesatan. Bagaimana tidak? Sementara Allah <em>&#8216;azza wa      jalla</em> sendiri telah merekomendasikan mereka di hadapan segenap umat      manusia di dalam Kitab-Nya Yang Mulia dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Orang-orang      yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta      orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada      mereka dan mereka pun pasti akan ridha kepada-Nya. Allah telah persiapkan      untuk mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka      kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang sangat besar.”</em> (QS.      at-Taubah: 100)</li>
<li>Bantahan bagi Khawarij yang berpemahaman bahwa pelaku dosa      besar kekal di neraka dan tidak mungkin keluar darinya. Dan pembuktian      kepada mereka bahwa kesalahan yang mereka lakukan <strong>bukan terletak pada      dalil</strong> (sumber hukum) yang mereka pakai, akan tetapi <strong>letak kesalahan      mereka adalah dalam hal istidlal</strong> (cara penyimpulan hukum) dari dalil      yang ada,  entah itu ayat-ayat      al-Qur&#8217;an maupun hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. </em>Oleh      sebab itu untuk mengikuti kebenaran tidak cukup dengan membawakan dalil      tanpa disertai dengan cara pemahaman terhadap dalil yang benar! Dan betapa      banyak orang yang tersesat  melalui      pintu ini -istidlal yang salah-, <em>maka ambillah pelajaran wahai      saudaraku!</em></li>
<li>Sebab utama sekte Khawarij menyimpang dari jalan yang lurus      adalah karena mereka terlalu kagum dengan hasil pikiran mereka dan tidak      mau mengikuti cara pemahaman para sahabat <em>radhiyallahu ta&#8217;ala &#8216;anhum.</em> Mereka ahli membaca al-Qur&#8217;an, namun mereka tidak memahaminya sebagaimana      yang dipahami oleh Rasul dan para sahabat. Oleh sebab itulah mereka itu      sesat dan menyesatkan. Bukankah ketika mengkafirkan Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mereka juga berdalil dengan ayat al-Qur&#8217;an, namun ternyata mereka sendiri      yang tidak paham tentang tafsirannya?!</li>
<li>Tidak boleh mempertentangkan antara dalil al-Qur&#8217;an dengan      dalil Hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Sebab keduanya      adalah wahyu yang bersumber dari Allah <em>ta&#8217;ala. </em>Adapun sebuah hadits      yang disandarkan kepada Nabi yang bunyinya, <em>“Apa saja datang kepada      kalian dariku maka bandingkanlah ia dengan apa yang ada dalam Kitabullah.      Apabila ia cocok dengan Kitabullah maka itu berarti aku benar-benar mengucapkannya.      Akan tetapi jika ia bertentangan dengan Kitabullah maka itu artinya aku      tidak mengucapkannya&#8230;”</em> maka ini adalah hadits yang <strong>tidak sahih</strong> yang dibuat-buat oleh kaum Zindiq dan Khawarij, sebagiamana yang      diungkapkan oleh Abdurrahman bin Mahdi dan dikutip oleh Ibnu Abdil Barr      (lihat kutipannya dalam <em>Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wal      Jama&#8217;ah</em>, Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani hal. 126) <em> </em></li>
<li>Meninggalkan bimbingan para ulama Rabbani -dan para sahabat      adalah tokoh terdepan dalam barisan mereka- akan menjerumuskan umat ke      dalam jurang kehancuran. Salah satu penyebab utama terjadinya hal itu      -baik di masa dahulu maupun sekarang- adalah <strong>rasa percaya diri yang      berlebihan dan kekaguman terhadap pendapat pribadi atau kelompoknya</strong> sehingga menganggap diri telah paham perkara agama tanpa terlebih dulu      berkonsultasi kepada para ulama. <em>Maka camkanlah hal ini baik-baik,      wahai para pemuda!</em> Dan ketika ulama sudah ditinggalkan, maka yang      diangkat adalah sosok <em>Ruwaibidhah</em> yaitu orang-orang yang bodoh      -meskipun dijuluki dengan Kiyai, Ustadz, atau Cendekiawan- yang nekad      berbicara soal urusan orang banyak.. <em>Laa haula wa laa quwwata illa      billaah</em></li>
<li>Syafa&#8217;at Nabi bagi para pelaku dosa besar agar dikeluarkan dari      neraka adalah benar adanya. Hal itu sebagaimana yang dikisahkan oleh      Hammad bin Zaid ketika dia bertanya kepada Amr bin Dinar, <em>“Apakah kamu      pernah mendengar Jabir bin Abdullah -radhiyallahu&#8217;anhuma- menyampaikan      hadits dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang isinya:      Sesungguhnya Allah akan mengeluarkan sekelompok orang dari neraka dengan      sebab syafa&#8217;at?”</em>. Maka dia menjawab, <em>“Benar.”</em> (lihat Sahih      Muslim yang dicetak bersama <em>Syarh Muslim</em> [2/322])</li>
<li>Keutamaan ahlul hadits, yaitu orang-orang yang berpegang teguh      dengan hadits-hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Ada di      antara ulama salaf dahulu yang mengatakan, <em>“Para malaikat adalah      penjaga-penjaga langit, sedangkan ahlul hadits adalah penjaga-penjaga      bumi.” Semoga Allah membalas jasa-jasa mereka dan meneguhan kita untuk      berada di dalam rombongan mereka, Allahul musta&#8217;an&#8230; </em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tuduhlah-akal-kalian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Allah Pun Tertawa Karenanya</title>
		<link>http://abumushlih.com/allah-pun-tertawa-karenanya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/allah-pun-tertawa-karenanya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 06:27:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Akhir]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kenikmatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1593</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku mengetahui orang yang paling terakhir keluar dari neraka dan orang yang paling terakhir masuk surga. Dia adalah seorang lelaki yang keluar dari neraka sembari merangkak. Allah tabaraka wa ta&#8217;ala berkata kepadanya, &#8216;Pergilah kamu, masuklah ke dalam surga.&#8217; Kemudian diapun mendatanginya dan dikhayalkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fallah-pun-tertawa-karenanya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fallah-pun-tertawa-karenanya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh, aku mengetahui orang yang paling terakhir keluar dari neraka dan orang yang paling terakhir masuk surga. Dia adalah seorang lelaki yang keluar dari neraka sembari merangkak. Allah tabaraka wa ta&#8217;ala berkata kepadanya, &#8216;Pergilah kamu, masuklah ke dalam surga.&#8217; Kemudian diapun mendatanginya dan dikhayalkan padanya bahwa surga itu telah penuh. Lalu dia kembali dan berkata, &#8216;Wahai Rabbku, aku dapati surga telah penuh.&#8217; Allah tabaraka wa ta&#8217;ala berfirman kepadanya, &#8216;Pergilah, masuklah kamu ke surga.&#8217;.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Nabi berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Kemudian diapun mendatanginya dan dikhayalkan padanya bahwa surga itu telah penuh. Lalu dia kembali dan berkata, &#8216;Wahai Rabbku, aku dapati surga telah penuh.&#8217; Allah tabaraka wa ta&#8217;ala berfirman kepadanya, &#8216;Pergilah, masuklah kamu ke surga. Sesungguhnya kamu akan mendapatkan kenikmatan semisal dunia dan sepuluh lagi yang sepertinya&#8217; atau &#8216;Kamu akan memperoleh sepuluh kali kenikmatan dunia&#8217;.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Nabi berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang itu pun berkata, &#8216;Apakah Engkau hendak mengejekku, ataukah Engkau hendak menertawakan diriku, sedangkan Engkau adalah Sang Raja?&#8217;.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Ibnu Mas&#8217;ud berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sungguh, ketika itu aku melihat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tertawa sampai tampak gigi taringnya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Periwayat berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Maka orang-orang pun menyebut bahwa dialah sang penghuni surga yang paling rendah kedudukannya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Dalam riwayat lain disebutkan: Maka Ibnu Mas&#8217;ud pun tertawa, lalu berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apakah kalian tidak bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Mereka menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Mengapa engkau tertawa?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Demikian itulah tertawanya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. -Ketika itu- mereka -para sahabat- bertanya, &#8216;Mengapa anda tertawa wahai Rasulullah?&#8217;. &#8216;Disebabkan tertawanya Rabbul &#8216;alamin tatkala orang itu berkata, &#8216;Apakah Engkau mengejekku, sedangkan Engkau adalah Rabbul &#8216;alamin?&#8217;. Lalu Allah berfirman, &#8216;Aku tidak sedang mengejekmu. Akan tetapi Aku Maha kuasa melakukan segala sesuatu yang Kukehendaki.&#8217;.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/314-315])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1593"></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Hadits yang agung ini memberikan pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Beriman 	terhadap keberadaan surga dan neraka. Surga merupakan tempat tinggal 	bagi orang-orang yang beriman, sedangkan neraka merupakan tempat 	tinggal orang-orang yang kufur kepada Rabbnya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Iman kepada 	hari akhir serta pembalasan amal manusia kelak di akherat</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Iman kepada 	perkara gaib</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Iman 	bahwa Nabi Muhammad </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> adalah benar-benar utusan Allah yang berbicara berlandaskan wahyu 	dari-Nya, bukan menyampaikan dongeng atau cerita yang beliau karang 	sendiri </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Dorongan 	untuk beramal salih agar termasuk penduduk surga, dan peringatan 	dari kemaksiatan yang dapat menyeret pelakunya ke dalam jurang 	neraka</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Boleh 	tertawa, dan hal itu bukanlah perkara yang dibenci dalam sebagian 	kondisi dan kesempatan. Hal itu juga tidak menyebabkan jatuhnya 	muru&#8217;ah/kehormatan selama tidak sampai melampaui batas kewajaran 	(lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/315])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Boleh 	menirukan tertawanya orang lain dengan tujuan menggambarkan keadaan 	sosok yang patut diteladani sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu 	Mas&#8217;ud menirukan tertawanya Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [11/503])</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Pada 	hari kiamat kelak, Allah berbicara kepada hamba-hamba-Nya (lihat 	Shahih al-Bukhari, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	at-Tauhid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 1490-1491)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Allah Maha kuasa atas segala sesuatu</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah 	adalah Sang Raja (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Malik</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) 	yang menguasai jagad raya</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Allah adalah Rabb (pemelihara dan pengatur) alam semesta</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Allah Maha berkehendak</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Allah 	pun bisa tertawa, namun tertawanya Allah tidak sebagaimana makhluk. 	Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak 	ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi 	Maha Melihat.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. 	asy-Syura: 11). Syaikh Ibnu Utsaimin </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Para salaf 	telah bersepakat menetapkan &#8216;tertawa&#8217; ada pada diri Allah. Oleh 	sebab itu wajib menetapkannya (menerimanya, pent) tanpa 	menyelewengkan maknanya, tanpa menolaknya, tanpa membagaimanakan 	sifatnya, dan tidak menyerupakannya. Itu merupakan tertawa yang 	hakiki yang sesuai dengan -keagungan- Allah ta&#8217;ala.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Lum&#8217;at 	al-I&#8217;tiqad</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 61)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Kenikmatan 	yang ada di Surga jauh berlipat ganda daripada kenikmatan di alam 	dunia (lihat Shahih Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	ar-Riqaq</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 1329). 	Oleh sebab itu tidak selayaknya kenikmatan yang sedemikian besar 	&#8216;dijual&#8217; demi mendapatkan kesenangan dunia yang sedikit dan 	sementara saja, bahkan tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan 	akherat</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Khayalan atau 	perasaan tidak bisa dijadikan sebagai pegangan, tetapi yang 	dijadikan pegangan adalah wahyu/dalil atau perkataan orang yang 	benar-benar mengetahui/berilmu</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Wajib 	mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Luasnya 	rahmat Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	tatkala orang yang paling terakhir keluar dari neraka pun masih 	merasakan kenikmatan surga yang sepuluh kali lipat dari kenikmatan 	dunia</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Orang 	mukmin yang dihukum di neraka karena dosa besarnya maka suatu saat 	akhirnya diapun akan dikeluarkan darinya dan masuk ke dalam surga. 	Sehingga ini merupakan bantahan bagi Khawarij yang beranggapan bahwa 	pelaku dosa besar kekal di dalam neraka (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/323])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Ada sebagian 	orang beriman yang &#8216;mampir&#8217; dulu ke neraka sebelum dimasukkan ke 	dalam surga, tentu saja hal itu bukan karena kezaliman Allah namun 	karena dosa besar yang mereka lakukan</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Peringatan 	atas bahaya dosa-dosa besar bagi pelakunya di akherat kelak -apabila 	dia belum bertaubat darinya-, karena pelakunya termasuk golongan 	orang yang diancam dengan siksa neraka, </span><em><span style="font-weight: normal;">wal 	&#8216;iyadzu billah</span></em><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Tidak boleh 	bersikap meremehkan dosa-dosa besar</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Orang 	yang benar-benar memahami keutamaan tauhid bukanlah orang yang 	menganggap sepele dosa-dosa besar. Oleh sebab itu Ibnu Mas&#8217;ud pernah 	berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Seorang 	mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah 	bukit yang dia khawatir akan runtuh menimpa dirinya. Adapun orang 	fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas 	hidungnya kemudian cukup dia usir dengan cara seperti ini -yaitu 	dengan menggerakkan tangannya semata-.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [11/118])</span></span><em><span style="font-weight: normal;"> </span></em><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini juga menunjukkan keadilan Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> dimana Allah memberikan hukuman kepada orang-orang yang berbuat dosa 	besar kelak di akherat sesuai dengan kehendak-Nya, meskipun bisa 	saja Allah berkehendak untuk mengampuninya (untuk sebagian 	hamba-Nya) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Hadits ini 	menunjukkan keutamaan orang yang lebih dulu masuk surga</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Anjuran untuk 	berlomba-lomba dalam beramal supaya bisa menjadi golongan orang yang 	terdahulu masuk surga</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Orang yang 	masuk surga itu bertingkat-tingkat dalam hal keutamaan diri dan 	balasan yang mereka dapatkan</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Hadits ini 	menunjukkan keutamaan tauhid, karena tidaklah orang masuk surga 	kecuali karena tauhid yang dilaksanakannya ketika di dunia</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;">Hadits ini 	juga menunjukkan bahaya syirik dan kekafiran, karena tidaklah 	seorang kekal di dalam neraka melainkan karena sebab dosa syirik 	besar dan kekafiran yang dilakukan olehnya</p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/allah-pun-tertawa-karenanya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larangan Berdusta Atas Nama Nabi</title>
		<link>http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 19:35:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Dusta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1573</guid>
		<description><![CDATA[Dari Samurah bin Jundub dan al-Mughirah bin Syu&#8217;bah radhiyallahu&#8217;anhuma, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku yang hal itu tampak dusta, maka dia tergolong salah satu di antara dua pendusta.” (HR. Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, hal. 8 ) Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flarangan-berdusta-atas-nama-nabi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flarangan-berdusta-atas-nama-nabi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Samurah bin Jundub dan al-Mughirah bin Syu&#8217;bah <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku yang hal itu tampak dusta, maka dia tergolong salah satu di antara dua pendusta.”</em> (HR. Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat <em>al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain</em>, hal. 8 )</p>
<p><span id="more-1573"></span>Dari Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Janganlah kalian berdusta atas namaku. Sesungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka dia akan masuk neraka.”</em> Dalam riwayat Bukhari, <em>“Hendaknya dia masuk ke neraka.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-&#8217;Ilm</em>, dan Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat <em>al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain</em>, hal. 8 )</p>
<p>Dari Abdullah bin az-Zubair <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berdusta atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.”</em> (HR. Bukhari, lihat <em>al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain</em>, hal. 8 )</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)</p>
<p>Dari al-Mughirah bin Syu&#8217;bah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama orang lain. Maka barangsiapa yang berdusta secara sengaja atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)<em> </em></p>
<p>Dari Salamah bin al-Akwa&#8217; <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berkata-kata atas namaku padahal aku sendiri tidak mengucapkannya</em> <em>maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” </em>(HR. Bukhari, lihat<em> al-Jam&#8217;u Baina ash-Shahihain, </em>hal. 9)<em> </em></p>
<p>Hadits-hadits di atas mengandung pelajaran:</p>
<ol>
<li>Tidak boleh berdusta atas nama Nabi</li>
<li>Berdusta atas nama Nabi lebih besar dosanya daripada berdusta      atas nama selainnya</li>
<li>Berdusta atas nama Nabi termasuk dosa besar</li>
<li>Wajib berhati-hati dalam menyampaikan hadits yang disandarkan      kepada Nabi, oleh sebab itu harus diteliti kebenarannya</li>
<li>Yang dimaksud berdusta atas nama Nabi adalah mengatakan bahwa      Nabi mengatakan sesutau padahal beliau tidak mengatakannya</li>
<li>Istilah hadits untuk menyebut sabda Nabi adalah istilah yang      syar&#8217;i dan sudah ada sejak jaman Nabi, bahkan beliau sendiri yang pertama      kali menyebutkannya</li>
<li>Wajibnya mempelajari ilmu hadits, untuk membedakan hadits yang      sahih dan yang bukan</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa Yang Bisa Menjamin Dirinya?</title>
		<link>http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 13:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Husnul Khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul Khotimah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Taufik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1570</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk surga.” (HR. Muslim, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsiapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsiapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk surga.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/246])</p>
<p><span id="more-1570"></span></p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;ad as-Sa&#8217;idi <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk surga.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/246])</p>
<p>Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya hati anak keturunan Adam seluruhnya berada di antara dua jari di antara jari-jemari ar-Rahman, laksana hati yang satu, -sehingga dengan mudahnya- Allah palingkan hati itu sebagaimana yang dikehendaki-Nya.”</em> Kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berdoa, <em>“Wahai Yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami untuk berada di atas ketaatan kepada-Mu.”</em> (HR. Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/250])</p>
<p>Tiga hadits yang agung ini mengandung pelajaran:</p>
<ol>
<li>Hendaknya merasa takut terhadap su&#8217;ul khotimah dan mengharapkan      husnul khotimah</li>
<li>Iman terhadap surga dan neraka</li>
<li>Amalan yang telah sekian lama dilakukan tidak bisa menjamin      seseorang bahwa dirinya pasti selamat, karena di akhir hidupnya belum      tentu dia masih istiqomah</li>
<li>Tidak boleh tertipu oleh banyaknya amalan yang pernah dilakukan</li>
<li>Tidak boleh merasa aman dari makar Allah</li>
<li>Tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah</li>
<li>Hendaknya menyeimbangkan antara khauf (takut) dan roja&#8217;      (harapan)</li>
<li>Hendaknya menempuh sebab-sebab yang bisa menjadikan istiqomah</li>
<li>Hendaknya menjaga keikhlasan dalam beramal</li>
<li>Pentingnya memperhatikan dan menata amalan-amalan hati</li>
<li>Peringatan dari bahaya riya&#8217; dan kemunafikan</li>
<li>Ikhlas merupakan sebab utama keselamatan</li>
<li>Tidak boleh memvonis orang sebagai penduduk surga sehebat      apapun amalannya, karena kita tidak tahu bagaimana keadaan akhir hidupnya,      kecuali yang ada dalilnya secara jelas</li>
<li>Tidak boleh memvonis orang sebagai penduduk neraka seburuk      apapun amalannya, karena kita tidak tahu bagaimana keadaan akhir hidupnya,      kecuali yang ada dalilnya secara jelas</li>
<li>Nasib seseorang di akherat kelak ditentukan bagaimana keadaan      akhir hidupnya di alam dunia ini, apakah dia meninggal di atas keimanan      ataukah tidak?</li>
<li>Penetapan bahwa Allah memiliki jari yang sesuai dengan      keagungan dan kemuliaan-Nya, tidak seperti apa yang ada pada makhluk</li>
<li>Penetapan bahwa hati manusia itu berada di bawah kekuasaan      Allah</li>
<li>Penetapan sifat kasih sayang pada diri Allah, Allah tidak      berbuat semena-mena terhadap makhluk-Nya</li>
<li>Hendaknya selalu memohon taufik kepada Allah agar hatinya      berada di atas kebenaran</li>
<li>Ketaatan kepada Allah merupakan sumber keselamatan</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/siapa-yang-bisa-menjamin-dirinya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat di Tengah Malam</title>
		<link>http://abumushlih.com/nasehat-di-tengah-malam.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nasehat-di-tengah-malam.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 15:42:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Poligami]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat Malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1522</guid>
		<description><![CDATA[Dari Ummu Salamah radhiyallahu&#8217;anha -salah seorang isteri Nabi-, beliau berkata: Suatu malam, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bangun dari tidur -dalam keadaan terkejut- lalu berkata, “Subhanallah! Fitnah apa yang diturunkan pada malam ini, dan perbendaharaan apakah yang sedang dibukakan. Bangunkanlah para wanita yang tinggal di bilik-bilik itu (isteri-isteri beliau) -untuk mendirikan sholat-. Betapa banyak wanita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-di-tengah-malam.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-di-tengah-malam.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dari Ummu Salamah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anha -</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">salah seorang isteri Nabi-</span></span><span style="font-weight: normal;">, beliau berkata: Suatu malam, Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bangun dari tidur -dalam keadaan terkejut- lalu berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Subhanallah! Fitnah apa yang diturunkan pada malam ini, dan perbendaharaan apakah yang sedang dibukakan. Bangunkanlah para wanita yang tinggal di bilik-bilik itu (isteri-isteri beliau) -untuk mendirikan sholat-. Betapa banyak wanita yang berpakaian di dunia namun telanjang di akherat.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Bukhari, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/255])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1522"></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits yang mulia ini banyak mengandung pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bahwa yang dimaksud larangan berbicara (ngobrol) 	selepas sholat Isyak -sebagaimana dalam hadits lainnya- adalah 	pembicaraan yang tidak dalam kebaikan. Dan hadits ini juga 	menunjukkan bolehnya melakukan ta&#8217;lim (pelajaran/kajian) atau 	mau&#8217;izhah (nasehat) di waktu malam (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/255]). Oleh 	sebab itu suatu ketika Umar bersama dengan Abu Musa al-Asy&#8217;ari 	pernah berbincang-bincang seputar permasalahan agama hingga larut 	malam, sehingga Abu Musa mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ini 	adalah saat sholat malam.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Maka Umar pun menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya 	kita juga sedang sholat.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (dinukil dari </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/259])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan bolehnya mengucapkan </span><em><span style="font-weight: normal;">&#8216;Subhanallah&#8217;</span></em><span style="font-weight: normal;"> ketika merasa heran/takjub kepada sesuatu, entah sesuatu yang 	diherankan itu dominan membawa dampak buruk (semacam fitnah) ataupun 	yang tidak selalu memberikan dampak buruk (semacam 	perbendaharaan/harta) (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/256], lihat 	juga Shahih Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	al-Adab</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 1272)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	untuk berdzikir kepada Allah setelah bangun dari tidur (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/256])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	bagi seorang suami untuk membangunkan isterinya di malam hari dalam 	rangka menunaikan ibadah, terlebih lagi di saat melihat atau 	mengalami kejadian yang menakjubkan (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/256]) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	mengerjakan sholat malam (lihat Shahih Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	at-Tahajjud</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 234)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	untuk bersegera mengerjakan sholat -sunnah- di saat-saat muncul 	kekhawatiran terhadap suatu keburukan yang akan menimpa (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/257])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dianjurkan 	bertasbih -membaca subhanallah- ketika menjumpai keadaan yang 	mengerikan atau menimbulkan kegoncangan (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/257])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Semestinya 	seorang yang berilmu memberikan peringatan kepada orang-orang yang 	belajar kepadanya dari segala kondisi yang akan mereka hadapi dan 	pasti akan terjadi. Kemudian, ia semestinya juga membimbing mereka 	bagaimana cara mengatasi perkara yang membahayakan tersebut (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/257])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan salah satu bukti kenabian Muhammad </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	dimana beliau bisa mengetahui turunnya fitnah dan terbukanya 	perbendaharaan di malam tersebut (lihat Shahih Bukhari, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab 	al-Manaqib</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 752)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini menunjukkan betapa melekat ingatan Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengenai Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> serta kampung akherat, dan hal itu mencerminkan ketekunan beliau 	dalam berdzikir kepada-Nya</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Tidak 	semestinya kenikmatan dunia ini melalaikan manusia dari beribadah 	kepada Rabbnya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Tolong 	menolong dalam kebaikan dan takwa, terutama di dalam lingkungan 	internal keluarga sangat dibutuhkan demi terwujudnya keluarga yang 	sakinah, mawaddah wa rahmah</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	mengisyaratkan bolehnya berpoligami dan hendaknya sang suami berlaku 	adil kepada isteri-isterinya, di antaranya adalah dalam hal tempat 	tinggal dan waktu bermalam</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Kedudukan 	sebagai isteri Nabi tidak boleh melalaikan kaum wanita dari 	beribadah kepada Allah (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/256]). Kalau 	isteri Nabi saja demikian, maka bagaimana lagi dengan selain mereka, 	seperti isteri pak kyai, ustadz, ataupun da&#8217;i&#8230; </span></p>
</li>
</ol>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<p><!--Session data--><br />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nasehat-di-tengah-malam.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmat Memandang Wajah-Nya</title>
		<link>http://abumushlih.com/nikmat-memandang-wajah-nya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nikmat-memandang-wajah-nya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 15:35:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Akherat]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Akhir]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Wajah Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1506</guid>
		<description><![CDATA[Dari Shuhaib radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Apabila penduduk surga telah masuk surga.” Nabi berkata, “Maka Allah tabaraka wa ta&#8217;ala berfirman, &#8216;Apakah kalian menginginkan sesuatu tambahan dari-Ku?&#8217;. Mereka menjawab, &#8216;Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?&#8217;.” Nabi berkata, “Maka Allah pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnikmat-memandang-wajah-nya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnikmat-memandang-wajah-nya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dari Shuhaib </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apabila penduduk surga telah masuk surga.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Nabi berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Maka Allah tabaraka wa ta&#8217;ala berfirman, &#8216;Apakah kalian menginginkan sesuatu tambahan dari-Ku?&#8217;. Mereka menjawab, &#8216;Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?&#8217;.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Nabi berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Maka Allah pun menyingkapkan hijab -yang menutupi wajah-Nya-. Dan tidaklah ada kenikmatan yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka sukai daripada memandang Rabb mereka &#8216;azza wa jalla.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/297])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span id="more-1506"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits yang mulia ini memberikan pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Wajib 	mengimani adanya surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya serta 	mengimani adanya neraka dan kesengsaraan yang ada di dalamnya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Surga adalah 	negeri yang penuh dengan kenikmatan, sedangkan Neraka adalah negeri 	yang penuh kesengsaraan</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Penetapan 	bahwa Allah berkata-kata</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Kenikmatan 	paling agung adalah memandang wajah Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Ketika 	hari itu wajah-wajah berseri, mereka memandang kepada Rabb mereka.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-Qiyamah: 22-23). Abu Shalih meriwayatkan dari Ibnu Abbas </span></span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	beliau menafsirkan ayat ini, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Yaitu 	melihat wajah Rabb mereka &#8216;azza wa jalla.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Aqidah ath-Thahawiyah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 190). Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> juga berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Bagi 	mereka -penduduk surga- apa saja yang mereka inginkan di dalamnya 	-di surga- dan di sisi Kami masih ada tambahan -nikmat-.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. Qaaf: 35). ath-Thabari meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib dan 	Anas bin Malik </span></span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	mereka mengatakan, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Maksudnya 	-tambahan nikmat- adalah memandang wajah Allah &#8216;azza wa jalla.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Aqidah ath-Thahawiyah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 190). Inilah yang dipahami oleh para sahabat, di antaranya: Abu 	Bakar, Hudzaifah, dan Abu Musa al-Asy&#8217;ari </span></span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhum</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Aqidah 	ath-Thahawiyah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 191). Maka senikmat-nikmat apapun pemandangan di dunia, maka 	melihat wajah Allah di akherat kelak jauh lebih nikmat di atas 	segala-galanya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">semoga 	Allah menganugerahkan nikmat itu kepada kita&#8230;</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Orang-orang 	beriman akan merasakan kenikmatan memandang wajah Allah di akherat 	kelak. Hadits-hadits yang menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan 	melihat Allah di akherat adalah hadits-hadits yang mutawatir. Ada 	sekitar tiga puluh orang sahabat yang meriwayatkan hal ini (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Aqidah 	ath-Thahawiyah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 193-194). </span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Mengimani 	adanya hari kebangkitan setelah kematian</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Mengimani 	perkara gaib sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Mengimani 	adanya pembalasan amal</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><em><span style="font-weight: normal;">Targhib</span></em><span style="font-weight: normal;"> (motivasi) agar orang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta </span><em><span style="font-weight: normal;">tarhib</span></em><span style="font-weight: normal;"> (ancaman) agar orang-orang tidak durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya. 	Karena orang yang taat akan masuk surga, sedangkan orang yang 	durhaka akan masuk neraka. </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Di 	surga manusia memiliki rasa cinta (</span><em><span style="font-weight: normal;">mahabbah</span></em><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Kenikmatan di 	surga itu bertingkat-tingkat</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa 	sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> menyampaikan 	wahyu dari Allah, maka kita wajib membenarkannya dan tidak boleh 	mendustakan atau meragukannya</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Semestinya 	manusia itu berpikir ke depan, bagaimanakah nasibnya kelak di 	akherat. Apakah dia ingin termasuk penghuni neraka atau penduduk 	surga? Sehingga dia akan memanfaatkan waktunya di dunia ini 	sebaik-baiknya demi menggapai kebahagiaan yang sebenarnya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Kenikmatan 	dunia ini tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan akherat</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Bodoh sekali 	orang yang menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia yang 	fana</p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nikmat-memandang-wajah-nya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Meninggalkan Perbuatan Keji</title>
		<link>http://abumushlih.com/keutamaan-meninggalkan-perbuatan-keji.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/keutamaan-meninggalkan-perbuatan-keji.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 21:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Inabah]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1325</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah mengatakan di dalam Shahihnya di kitab al-Muharibin: Bab. Keutamaan orang yang meninggalkan perbuatan-perbuatan keji. Muhammad bin Sallam menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abdullah mengabarkan kepada kami dari Ubaidullah bin Umar dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin &#8216;Ashim dari Abu Hurairah -radhiyallahu&#8217;anhu- dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada tujuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkeutamaan-meninggalkan-perbuatan-keji.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkeutamaan-meninggalkan-perbuatan-keji.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> mengatakan di dalam Shahihnya di kitab <em>al-Muharibin</em>:</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Bab. Keutamaan orang yang meninggalkan perbuatan-perbuatan keji.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Muhammad bin Sallam menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abdullah mengabarkan kepada kami dari Ubaidullah bin Umar dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin &#8216;Ashim dari Abu Hurairah -<em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>- dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, <em>“Ada tujuh golongan manusia yang akan diberikan naungan oleh Allah pada hari kiamat ketika tiada naungan kecuali naungan dari-Nya: seorang pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Allah, seorang lelaki yang mengingat Allah dalam kesepian sehingga mengalirlah -air mata- dari kedua matanya, seorang lelaki yang hatinya senantiasa tergantung di masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, </em><em><strong>seorang lelaki yang diajak oleh perempuan yang berkedudukan serta cantik untuk melakukan sesuatu dengannya namun dia berkata, &#8216;Sesungguhnya aku takut kepada Allah&#8217;</strong></em><em>, dan seorang lelaki yang bersedekah dengan sesuatu dengan menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya pun tidak mengerti apa yang dilakukan oleh tangan kanannya.”</em> (<em>Shahih Bukhari</em> cet. Maktabah al-Iman, hal. 1368. Hadits no. 6806)</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span id="more-1325"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> mengatakan di dalam Shahihnya di kitab <em>ar-Riqaq</em>:</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Bab. Neraka itu diliputi dengan berbagai perkara yang disukai oleh hawa nafsu/syahwat.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Isma&#8217;il menuturkan kepada kami. Dia berkata: Malik menuturkan kepadaku dari Abu Zinad dari al-A&#8217;raj dari Abu Hurairah -<em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>- bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Neraka itu diliputi oleh perkara-perkara yang disukai oleh hawa nafsu, sedangkan surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disukai -oleh nafsu-.”</em> (<em>Shahih Bukhari</em> cet. Maktabah al-Iman, hal. 1317. Hadits no. 6487)</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Imam Muslim <em>rahimahullah</em> mengatakan di dalam Shahihnya di kitab <em>ar-Riqaq</em>:</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Muhammad bin al-Mutsanna dan Muhammad bin Basyar menuturkan kepada kami. Mereka berdua berkata: Muhammad bin Ja&#8217;far menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu&#8217;bah menuturkan kepada kami dari Abu Maslamah, dia berkata: Aku mendengar Abu Nadhrah menyampaikan hadits dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri -<em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>- dari Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, <em>“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah/penerus generasi di atasnya untuk melihat bagaimanakah yang kalian kerjakan. Oleh sebab itu maka berhati-hatilah kalian terhadap -fitnah- dunia dan -terutama- wanita, karena sesungguhnya fitnah yang pertama kali melanda Bani Isra&#8217;il adalah soal wanita.”</em> (<em>Shahih Muslim</em> yang dicetak bersama syarahnya, jilid 9 hal. 7-8. hadits no. 2742)</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Imam Muslim <em>rahimahullah</em> mengatakan di dalam Shahihnya di kitab <em>at-Taubah</em>:</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Muhammad bin al-Mutsanna menuturkan kepada kami. Dia berkata: Muhammad bin Ja&#8217;far menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu&#8217;bah menuturkan kepada kami dari Amr bin Murrah. Dia berkata: Aku mendengar Abu Ubaidah menyampaikan hadits dari Abu Musa -<em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>- dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah &#8216;azza wa jalla senantiasa membentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat pelaku dosa di waktu siang dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubat pelaku dosa di waktu malam, sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya.”</em> (<em>Shahih Muslim</em> yang dicetak bersama syarahnya, jilid 9 hal. 26. hadits no. 2759)</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“&#8230; orang yang tidak menerima hadits maka tidak ada lagi yang bisa memberikan manfaat untuknya, orang seperti ini di dalam hatinya terdapat penyakit.”</em> (muqaddimah <em>Kitab al-Arba&#8217;in fi Madzhab as-Salaf</em> karya Syaikh Ali bin Yahya al-Haddadi, hal. 3)</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/keutamaan-meninggalkan-perbuatan-keji.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
