<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Pahala</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/pahala/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Tiga Amalan Harian Muslim Sejati</title>
		<link>http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 22:16:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2207</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku, setiap waktu merupakan ladang pahala bagi setiap muslim&#8230; Oleh sebab itu, janganlah kau lewatkan setiap jengkal waktu yang engkau lalui dengan kesia-siaan dan merugikan diri sendiri. Berikut ini, akan kami sebutkan tiga buah amalan yang agung di sisi Allah, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-amalan-harian-muslim-sejati.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-amalan-harian-muslim-sejati.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Saudaraku</em>, setiap waktu merupakan ladang pahala bagi setiap muslim&#8230; Oleh sebab itu, janganlah kau lewatkan setiap jengkal waktu yang engkau lalui dengan kesia-siaan dan merugikan diri sendiri.</p>
<p><span id="more-2207"></span></p>
<p>Berikut ini, akan kami sebutkan tiga buah amalan yang agung di sisi Allah, amalan yang dicintai-Nya, amalan yang akan mendekatkan dirimu kepada-Nya, amalan yang akan menentramkan hatimu dimanapun kau berada, amalan yang akan menjadi tabunganmu menyambut hari esok setelah ditiupnya sangkakala dan hancurnya dunia beserta segenap isinya&#8230;</p>
<p>Semoga Allah mengumpulkan kita bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang salih di dalam surga-Nya&#8230;, <em>Allahumma amin</em>.</p>
<p><strong>[1] Perbanyaklah berdzikir kepada-Nya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 152</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 41</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.”</em> (<strong>QS. al-Munafiqun: 9</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah suatu kaum berkumpul seraya mengingat Allah, melainkan pasti malaikat akan menaungi mereka, rahmat meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut nama mereka di hadapan malaikat yang di sisi-Nya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p><strong>[2] Tetaplah berdoa kepada-Nya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb kalian berfirman; Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri sehingga tidak mau beribadah (berdoa) kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina.” </em>(<strong>QS. Ghafir: 60</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tiada suatu urusan yang lebih mulia bagi Allah daripada doa.”</em> (<strong>HR. al-Hakim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah subhanah, maka Allah murka kepada dirinya.” </em>(<strong>HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Rabb kita tabaraka wa ta&#8217;ala setiap malam yaitu pada sepertiga malam terakhir turun ke langit terendah dan berfirman, &#8216;Siapakah yang mau berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, siapakah yang mau meminta kepada-Ku niscaya Aku beri, siapa yang mau meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)<em> </em></p>
<p><strong>[3] Mohon ampunlah kepada-Nya</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Allah akan menyiksa mereka sementara kamu berada di tengah-tengah mereka, dan tidaklah Allah akan menyiksa mereka sedangkan mereka selalu beristighfar/meminta ampunan.” </em>(<strong>QS. al-Anfal: 33</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Allah, sesungguhnya aku setiap hari meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>).</p>
<p><em>Saudaraku</em>,&#8230; perjalanan waktu menggiring kita semakin mendekati kematian&#8230; Oleh sebab itu marilah kita isi umur kita dengan dzikir, doa, dan taubat kepada-Nya. Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang dicintai-Nya, diampuni oleh-Nya, dan mendapatkan rahmat dari-Nya&#8230;</p>
<p>Sumber:<br />
<em>Kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a</em> karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tiga-amalan-harian-muslim-sejati.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentara Pun Bersujud Kepada-Nya</title>
		<link>http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Dec 2010 11:52:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Pengungsi]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[TNI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2144</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari ini, musholla peduli bencana Merapi di sebelah utara Stadion Maguwoharjo kedatangan jama&#8217;ah yang istimewa. Mereka adalah para tentara, prajurit-prajurit bangsa yang siap siaga mengerahkan tenaganya untuk membantu para pengungsi yang tengah dirundung duka akibat musibah erupsi Merapi. Kehilangan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftentara-pun-bersujud-kepada-nya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftentara-pun-bersujud-kepada-nya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div>
<div>
<p>Beberapa hari ini,  musholla peduli bencana Merapi di sebelah utara Stadion Maguwoharjo  kedatangan jama&#8217;ah yang istimewa. Mereka adalah para tentara,  prajurit-prajurit bangsa yang siap siaga mengerahkan tenaganya untuk  membantu para pengungsi yang tengah dirundung duka akibat musibah erupsi  Merapi. Kehilangan rumah, kehilangan harta, kehilangan sanak saudara,  kehilangan usaha, kehilangan ternak, bahkan kehilangan cita-cita&#8230;  Inilah mendung yang menggelayuti alam pikiran banyak pengungsi.</p>
<p><span id="more-2144"></span><em>&#8220;Saya mau pulang kemana?&#8221;</em>. <em>&#8220;Saya mau kerja apa?&#8221;</em>.<em> &#8220;Saya mau makan apa?&#8221;</em>. <em>&#8220;Anak saya bagaimana?&#8221;</em>.  Itulah sebagian tanda tanya besar yang merasuk dalam hati mereka,  mengusik pikiran dan terkadang harus memecahkan tangisan dan lelehan air  mata&#8230; Hanya Allah tempat kami meminta pertolongan dari segala  keburukan dan kesusahan yang terpampang di depan mata&#8230;  Oleh sebab itu  wajarlah apabila banyak sekali pihak yang menangkap kesedihan mereka  dan mewujudkannya dalam berbagai bentuk kepedulian dan bantuan. Dan para  tentara itu, saya rasa juga memiliki empati yanag dalam terhadap  penderitaan yang sedang dialami oleh saudara-saudara mereka. Tidak  tanggung-tanggung, Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) hari ini datang ke  Maguwo meninjau kinerja anak buahnya dalam menjalankan tugas-tugas  mereka dalam program rehabilitasi dan recovery pasca bencana ini.  Sesuatu yang layak untuk dihargai dan mendapatkan perhatian dari  anak-anak negeri.</p>
<p>Tatkala waktu sholat Zhuhur tiba, mereka  pun berdatangan menghadiri sholat jama&#8217;ah dengan seragam mereka yang  khas, baju loreng dan sepatu tentara yang kemudian mereka lepas di depan  musholla. Mereka ganti sepatu itu dengan sandal jepit yang disediakan  di sana -yang bahkan kanan dan kirinya tidak serasi-, melangkah ke  tempat wudhu dan bersuci untuk menghadap Rabb langit dan bumi,  menunaikan kewajiban sholat 5 waktu, sesuatu yang lebih mereka cintai  daripada jabatan yang mereka miliki. Tak lama kemudian, mereka telah  larut dalam ibadah agung yang mencerminkan keimanan seorang mukmin di  hadapan Rabbnya. Sebuah ibadah -yang kalau dikerjakan dengan sepenuh  hati- tentu akan menahan diri pelakunya dari perbuatan keji dan  mungkar&#8230;</p>
<p>Selepas sholat dan berdzikir, mereka pun  beranjak pergi meninggalkan musholla ini. Namun, di tengah langkah  mereka datanglah sosok da&#8217;i sederhana yang menawarkan buletin dakwah  kepada mereka. Bukan itu saja yang ditawarkannya, akan tetapi buku ushul  tsalatsah (tiga landasan utama), hadits arba&#8217;in, panduan dzikir dan  doa, bahkan tak lupa beberapa butir korma dan air minum pun ditawarkan  olehnya. Sungguh, pemandangan yang menyejukkan sekaligus mencerminkan  kejernihan sikap seorang da&#8217;i. Bukan hanya pengungsi atau korban erupsi  merapi yang butuh dakwah, bahkan bapak-bapak tentara ini pun semestinya  diperhatikan. Jangan sia-siakan kesempatan ini&#8230; <em>&#8220;Sungguh, apabila Allah menunjuki seorang saja dengan perantara dirimu, itu jauh lebih baik daripada onta-onta merah.&#8221;</em></p>
<p>Melalui  kepedulian semacam inilah, disertai kesadaran yang tertancap kuat di  dalam hati, kesabaran dalam menghadapi kesulitan, keinginan yang kuat  untuk membantu sesama, segala beban berat dan penderitaan para pengungsi  dan korban erupsi -dengan izin Allah- akan sedikit demi sedikit  terkurangi. Apalagi mereka adalah saudara kita, yang bersujud kepada  Rabb yang sama, mengikuti Nabi yang sama, dan memegang teguh agama yang  sama. Walaupun dalam beberapa perkara mereka tergelincir -itupun karena  ketidakpahaman mereka-, namun mereka adalah saudara kita, yang  barangkali hati mereka jauh lebih bersih daripada hati kita, mereka  lebih sabar dan ikhlas daripada kita, bahkan mungkin lebih banyak  perjuangan dan pengorbanannya untuk membela agama&#8230;</p>
<p>Oleh  sebab itulah, kepedulian kita kepada mereka merupakan konsekuensi dari  perasaan cinta karena Allah (baca: aqidah) yang tertanam dalam hati  setiap mukmin. <em>Laa yu&#8217;minu ahadukum hatta yuhibba li akihi maa yuhibbu li nafsihi</em>, <em>&#8220;Tidak  sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai dia menyukai  kebaikan bagi saudaranya sebagaimana yang dia sukai bagi dirinya  sendiri.&#8221;</em></p>
<p>Sekarang, marilah kita bertanya sejauh mana bukti kesempurnaan iman itu ada dan tertancap di dalam hati kita? <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin. </em></p>
<p>Yogyakarta, 8 Muharram 1432 H/ 14 Desember 2010</p>
<p>Bantuan dapat disalurkan ke:</p>
<p><strong>Rekening BNI UGM Yogyakarta </strong><strong> </strong><br />
Nomor rekening 0125792540 a.n. Devi Novianti</p>
<p><strong>Rekening Bank Syari’ah Mandiri Cabang 094 Kaliurang Yogyakarta</strong><br />
Nomor rekening 0947008920 a.n. Ginanjar Indrajati Bintoro</p>
<p><strong>Rekening Bank Mandiri Cabang Yogyakarta Gedung Magister 13705</strong><br />
Nomor rekening 137-00-065.4879-2 a.n. Bintoro</p>
<p><strong>Rekening BCA</strong><br />
Nomor rekening 0130537146 a.n. Hanif Nur Fauzi</p>
<p>Bagi anda yang telah berpartisipasi, harap mengkonfirmasikan diri    kepada kami melalui sms dengan format sebagai berikut:<br />
<strong>Nama</strong><strong>/Alamat</strong><strong>/TanggalKirim</strong><strong>/JumlahUang</strong><strong>/RekeningTujuan</strong><strong>/Merapi</strong></p>
<p>Ke nomor :<br />
<strong>0852</strong><strong> 5205</strong><strong> 2345</strong> (Wiwit Hardi P.)<br />
atau<br />
<strong>0856</strong><strong> 4305</strong><strong> 2159</strong> (Nizamul Adli)</p>
<p>YM: ypiapeduli@yahoo.com</p>
<p>Atas partisipasi dan perhatian anda kami ucapkan <em>jazaakumullahu    khairaa</em>n.</p>
<p>Laporan Pemasukan per 12 Desember 2010<br />
<a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/dari-redaksi/update-12-des-laporan-pemasukan-donasi-tanggap-merapi.html" target="_blank">http://muslim.or.id/dari-redaksi/update-12-des-laporan-pemasukan-donasi-tanggap-merapi.html</a></p>
<p>Profesor Simon Pimpin Rapat Rehabilitasi Masjid Pasca Bencana<br />
<a rel="nofollow" href="http://ypia.or.id/prof-simon-pimpin-rapat-rehabilitasi.html" target="_blank">http://ypia.or.id/prof-simon-pimpin-rapat-rehabilitasi.html</a></p>
<p>Susunan Tim Rehabilitasi<br />
<a rel="nofollow" href="http://ypia.or.id/revisi-susunan-panitia-rehabilitasi-dan-recovery-masjid.html" target="_blank">http://ypia.or.id/revisi-susunan-panitia-rehabilitasi-dan-recovery-masjid.html</a></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Puasa</title>
		<link>http://abumushlih.com/keutamaan-puasa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/keutamaan-puasa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 03:24:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ampunan]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhilah Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1769</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya para lelaki muslim dan perempuan muslimah, para lelaki dan perempuan yang beriman, para lelaki dan perempuan yang taat, para lelaki dan perempuan yang jujur, para lelaki dan perempuan yang sabar, para lelaki dan perempuan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/keutamaan-puasa.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkeutamaan-puasa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkeutamaan-puasa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya para lelaki muslim dan perempuan muslimah, para lelaki dan perempuan yang beriman, para lelaki dan perempuan yang taat, para lelaki dan perempuan yang jujur, para lelaki dan perempuan yang sabar, para lelaki dan perempuan yang khusyu&#8217;, para lelaki dan perempuan yang rajin bersedekah, </span></em><em><strong>para lelaki dan perempuan yang rajin berpuasa</strong></em><em><span style="font-weight: normal;">, para lelaki dan perempuan yang senantiasa menjaga kemaluannya, dan para lelaki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, maka </span></em><em><strong>Allah siapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang sangat besar</strong></em><em><span style="font-weight: normal;">.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Ahzab: 35</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;"><span id="more-1769"></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Puasa merupakan perisai yang dapat digunakan oleh seorang hamba untuk melindungi dirinya dari jilatan api neraka.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Ahmad</strong><span style="font-weight: normal;">, sahih)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Suatu ketika, Abu Umamah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;"> bertanya kepada Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dengan sebab itu aku bisa masuk ke dalam surga.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Maka beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Lakukanlah puasa, tiada yang dapat menyamainya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Nasa&#8217;i</strong><span style="font-weight: normal;">, sanadnya sahih)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dari Abu Hurairah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah berfirman: Semua amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila suatu hari salah seorang dari kalian sedang berpuasa maka janganlah dia mengucapkan kata-kata kotor ataupun berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencaci-maki dirinya atau memeranginya maka ucapkanlah; Aku sedang puasa. Demi tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi. Seorang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan; ketika berbuka puasa maka dia merasa senang, dan ketika berjumpa dengan Rabbnya maka dia pun merasa senang dengan puasanya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dicuplik dengan peringkasan dari kitab</span><strong> Shifat Shaum Nabi </strong><em><strong>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</strong></em><strong> fi Ramadhan</strong><span style="font-weight: normal;"> karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilali dan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid -</span><em><span style="font-weight: normal;">hafizhahumallah</span></em><span style="font-weight: normal;">-</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa 	merupakan salah satu sebab turunnya ampunan dan curahan pahala</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa 	merupakan salah satu sebab untuk menyelamatkan diri dari siksaan api 	neraka</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa 	merupakan salah satu sebab untuk masuk ke dalam surga</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa 	merupakan sebuah amalan yang sangat istimewa yang disandarkan Allah 	kepada diri-Nya</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa 	merupakan benteng dari perbuatan jelek</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Puasa akan 	mendatangkan kegembiraan di hati orang yang beriman; yaitu di dunia 	ketika dia berbuka/berhari raya dan di akherat ketika dia berjumpa 	dengan Allah dengan membawa amalannya</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Semoga Allah yang Maha kuasa lagi Maha mengetahui masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadhan di tahun ini. Sehingga kita bisa menjalankan sebuah ibadah yang sangat agung demi menggapai ampunan dan pahala dari-Nya. </span><em><span style="font-weight: normal;">Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Wisma al-Ghuroba&#8217;, Pogung Dalangan</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">7 Jumadi Tsani 1431 H/21 Mei 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/keutamaan-puasa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Ikhlas</title>
		<link>http://abumushlih.com/tentang-ikhlas.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tentang-ikhlas.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 17:03:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Sum'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1738</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, yang berkuasa membolak-balikkan hati anak Adam bagaimanapun Dia inginkan. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi akhir zaman dan pembawa lentera bimbingan untuk membangkitkan kesadaran hati manusia yang telah lalai dan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tentang-ikhlas.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftentang-ikhlas.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftentang-ikhlas.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Sesungguhnya segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, yang berkuasa membolak-balikkan hati anak Adam bagaimanapun Dia inginkan. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi akhir zaman dan pembawa lentera bimbingan untuk membangkitkan kesadaran hati manusia yang telah lalai dan lupa akan hakekat kehidupan. </span><em><span style="font-weight: normal;">Amma ba&#8217;du</span></em><span style="font-weight: normal;">.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Saudara-saudara sekalian, semoga Allah menambahkan kepada kita bimbingan dan pertolongan&#8230; sesungguhnya pada masa-masa seperti sekarang ini; masa yang penuh dengan ujian dan godaan serta kekacauan yang meluas di berbagai sudut kehidupan&#8230; kita sangat memerlukan hadirnya hati yang diwarnai dengan keikhlasan. Hati yang selamat, sebagaimana yang disinggung oleh Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> dalam firman-Nya (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Pada hari itu -hari kiamat- tidaklah bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;"><span id="more-1738"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>Hati yang ikhlas itulah yang selamat</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> memaparkan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ia adalah hati yang selamat dari segala syahwat/keinginan nafsu yang menyelisihi perintah dan larangan Allah serta terbebas dari segala syubhat yang menyelisihi berita yang dikabarkan-Nya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Ighatsat al-Lahfan</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 15)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Syaikh as-Sa&#8217;di </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Hati yang selamat itu adalah hati yang selamat dari syirik dan keragu-raguan serta terbebas dari kecintaan kepada keburukan/dosa atau perilaku terus menerus berkubang dalam kebid&#8217;ahan dan dosa-dosa. Karena hati itu bersih dari apa-apa yang disebutkan tadi, maka konsekunsinya adalah ia menjadi hati yang diwarnai dengan lawan-lawannya yaitu; keikhlasan, ilmu, keyakinan, cinta kepada kebaikan serta dihiasinya -tampak indah- kebaikan itu di dalam hatinya. Sehingga keinginan dan rasa cintanya akan senantiasa mengikuti kecintaan Allah, dan hawa nafsunya akan tunduk patuh mengikuti apa yang datang dari Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Taisir al-Karim ar-Rahman</span></em><span style="font-weight: normal;"> [2/812]) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> juga mensifatkan pemilik hati yang selamat itu dengan ucapannya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“&#8230;Ia akan senantiasa berusaha mendahulukan keridhaan-Nya dalam kondisi apapun serta berupaya untuk selalu menjauhi kemurkaan-Nya dengan segala macam cara&#8230;”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Kemudian, beliau juga mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“&#8230; amalnya ikhlas karena Allah. Apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah. Apabila dia membenci maka bencinya juga karena Allah. Apabila memberi maka pemberiannya itu karena Allah. Apabila tidak memberi juga karena Allah&#8230;”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Ighatsat al-Lahfan</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 15)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>Ayat-Ayat Yang Memerintahkan Untuk Ikhlas</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab dengan benar, maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, sesungguhnya agama yang murni itu merupakan hak Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. az-Zumar: 2-3</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Padahal, mereka tidaklah disuruh melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dalam menjalankan ajaran yang lurus, mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Demikian itulah agama yang lurus.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/amal untuk-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. Ghafir: 14</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Dialah Yang Maha Hidup, tiada sesembahan -yang benar- selain Dia, maka sembahlah Dia dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>QS. Ghafir: 65</strong><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>Hadits-Hadits Yang Memerintahkan Untuk Ikhlas</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlas dan dilakukan demi mengharap wajah-Nya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Nasa&#8217;i </strong><span style="font-weight: normal;">dari Abu Umamah al-Bahili </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, sanadnya hasan, dihasankan oleh al-Iraqi dalam </span><em><span style="font-weight: normal;">Takhrij al-Ihya&#8217;</span></em><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang yang paling berbahagia dengan syafa&#8217;atku kelak pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas dari dalam hati atau dirinya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Bukhari </strong><span style="font-weight: normal;">dari Abu Hurairah </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><strong>Gara-Gara Tidak Ikhlas</strong><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata: Suatu saat, ketika orang-orang mulai bubar meninggalkan majelis Abu Hurairah -</span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">-, maka Natil -salah seorang penduduk Syam- (beliau ini adalah seorang tabi&#8217;in yang tinggal di Palestina, pent) berkata kepadanya, </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">“Wahai Syaikh, tuturkanlah kepada kami suatu hadits yang pernah anda dengar dari Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">.”</span></span><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Abu Hurairah menjawab, </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">“Baiklah. Aku pernah mendengar Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda: </span></span><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah: [</span><strong>Yang pertama</strong><span style="font-weight: normal;">] Seorang lelaki yang telah berjuang demi mencari mati syahid. </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Lalu dia</span></span><span style="font-weight: normal;"> dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Dia menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Allah menimpali jawabannya, </span><em><strong>“Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.”</strong></em><span style="font-weight: normal;"> Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">hingga akhirnya dia</span></span><span style="font-weight: normal;"> dilemparkan ke dalam api neraka. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">[</span><strong>Yang kedua</strong><span style="font-weight: normal;">] Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur&#8217;an. </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Lalu dia</span></span><span style="font-weight: normal;"> dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Dia menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur&#8217;an di jalan-Mu.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Allah menimpali jawabannya, </span></span><em><strong>“Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur&#8217;an agar disebut sebagai qari&#8217;. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.”</strong></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>Yang ketiga</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">] Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Dia menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah menimpali jawabannya, </span></span><em><strong>“Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.”</strong></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.”</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Muslim</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [1903], lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/529-530])</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal; font-weight: normal;">Hadits yang agung ini memberikan faedah bagi kita, di antaranya:</p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[1] Dosa riya&#8217; -yaitu beramal karena dilihat orang dan demi mendapatkan sanjungan- adalah dosa yang sangat diharamkan dan sangat berat hukumannya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/531]). Riya&#8217; merupakan bahaya yang lebih dikhawatirkan Nabi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> menimpa orang-orang salih sekelas para sahabat. Beliau bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Maukah kukabarkan kepada kalian mengenai sesuatu yang lebih aku takutkan menyerang kalian daripada al-Masih ad-Dajjal?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Para sahabat menjawab, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Mau ya Rasulullah.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Beliau berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Yaitu syirik yang samar. Tatkala seorang berdiri menunaikan sholat lantas membagus-baguskan sholatnya karena merasa dirinya diperhatikan oleh orang lain.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Ahmad dan Ibnu Majah</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, al-Bushiri berkata sanadnya hasan) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tam-hid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 397, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul al-Mufid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/55]). Kalau para sahabat saja demikian, maka bagaimana lagi dengan orang seperti kita? </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul musta&#8217;aan</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">&#8230;</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[2] Dorongan agar menunaikan kewajiban ikhlas dalam beramal. Hal ini sebagaimana yang telah Allah perintahkan dalam ayat (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan amal untuk-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/531])</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[3] Hadits ini menunjukkan bahwa dalil-dalil lain yang bersifat umum yang menyebutkan keutamaan jihad itu hanyalah berlaku bagi orang-orang yang berjihad secara ikhlas. Demikian pula pujian-pujian yang ditujukan kepada ulama dan orang-orang yang gemar berinfak dalam kebaikan hanyalah dimaksudkan bagi orang-orang yang melakukannya ikhlas karena Allah (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [6/531-532])</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[4] Sesungguhnya ikhlas tidak akan berkumpul dengan kecintaan kepada pujian dan sifat rakus terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain. Ibnul Qayyim </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak akan bersatu antara ikhlas di dalam hati dengan kecintaan terhadap pujian dan sanjungan serta ketamakan terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, kecuali sebagaimana bersatunya air dengan api atau dhobb/sejenis biawak dengan ikan -musuhnya-.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Fawa&#8217;id</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 143)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[5] Keikhlasan merupakan sesuatu yang membutuhkan perjuangan dan kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu. Sahl bin Abdullah berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk memuaskan hawa nafsunya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 26). Sebagian salaf berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah aku berjuang menundukkan diriku dengan perjuangan yang lebih berat daripada perjuangan untuk meraih ikhlas.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul al-Mufid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> [2/53])</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[6] Tercela dan diharamkannya orang yang menimba ilmu agama tidak ikhlas karena Allah. Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa yang menuntut ilmu yang semestinya dipelajari demi mencari wajah Allah akan tetapi dia tidak menuntutnya melainkan untuk menggapai kesenangan dunia maka dia pasti tidak akan mendapatkan bau -harum- surga pada hari kiamat kelak.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Abu Dawud</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dan disahihkan al-Albani) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 22)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[7] Amalan yang tercampuri syirik -contohnya riya&#8217;- tidak diterima oleh Allah. Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Allah ta&#8217;ala berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang dia mempersekutukan diri-Ku dengan selain-Ku maka akan Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Muslim</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 23)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[8] Sebesar apapun amalan, maka yang akan diterima Allah hanyalah amal yang ikhlas. Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan demi mencari wajah-Nya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><span style="font-style: normal;"><strong>HR. Nasa&#8217;i</strong></span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> dan dihasankan al-Albani) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 21)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">[9] Amalan yang  besar bisa berubah menjadi kecil gara-gara niat, sebagaimana amal yang kecil bisa menjadi bernilai besar karena niat. Ibnu Mubarak berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil karena niat.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 19)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm; font-style: normal;"><strong>Buah Keikhlasan</strong></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Di antara buah paling agung yang diperoleh oleh orang-orang yang ikhlas adalah diharamkan tersentuh api neraka. Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Allah mengharamkan sentuhan api neraka kepada orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas karena ingin mencari wajah Allah.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong><span style="font-weight: normal;"> dari Itban </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Orang yang ikhlas/bertauhid maka akan selamat dari hukuman kekal di dalam neraka, yaitu selama di dalam hatinya masih tersisa iman/tauhid meskipun sekecil biji sawi. Dan apabila keikhlasan itu sempurna di dalam hatinya maka ia akan selamat dari hukuman neraka dan tidak masuk ke dalamnya sama sekali (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul as-Sadid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 17)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Orang yang mendapatkan keutamaan ini hanyalah orang yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat syahadat. Maka terkecualikan dari keutamaan ini orang-orang munafik, dikarenakan mereka tidak mencari wajah Allah ketika mengucapkannya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tam-hid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 26). </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Hadits ini mengandung bantahan bagi kaum Murji&#8217;ah yang menganggap bahwa ucapan la ilaha illallah itu sudah cukup meskipun tidak disertai dengan harapan untuk mencari wajah Allah (ikhlas). Demikian pula, hadits ini mengandung bantahan bagi kaum Khawarij dan Mu&#8217;tazilah yang beranggapan bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam neraka, sementara hadits ini menunjukkan bahwa para pelaku perbuatan-perbuatan yang diharamkan tersebut -dan tidak bertaubat sebelum matinya- tidak akan kekal di neraka, hanya saja  pelakunya memang berhak menerima hukuman/siksa (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/46])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Selain itu, orang yang ikhlas juga akan merasa ringan dalam melakukan berbagai ketaatan -yang pada umumnya terasa memberatkan-, karena orang yang ikhlas senantiasa menyimpan harapan pahala dari Allah. Demikian pula, ia akan merasa ringan dalam meninggalkan maksiat, karena rasa takut akan hukuman Rabbnya yang tertanam kuat di dalam hatinya (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul as-Sadid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 17) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">Orang yang ikhlas dalam beramal akan bisa mengubah amalannya yang tampak sedikit menjadi banyak pahalanya, sehingga ucapan dan amalannya akan membuahkan pahala yang berlipat ganda (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul as-Sadid</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 19). Syaikh as-Sa&#8217;di </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Amal-amal itu sesungguhnya memiliki keutamaan yang bervariasi dan pahala yang berlipat-lipat tergantung pada keimanan dan keikhlasan yang terdapat di dalam hati orang yang melakukannya&#8230; ”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (</span><em><span style="font-weight: normal;">Bahjat al-Qulub al-Abrar</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 17). Semoga Allah menjadikan kita orang yang ikhlas. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0cm;"><span style="font-weight: normal;">NB: Sebagian materi artikel ini kami ambil dari kitab <em>Ta&#8217;thir al-Anfaas bi Ahaadits al-Ikhlas</em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tentang-ikhlas.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ganasnya Syirik!</title>
		<link>http://abumushlih.com/ganasnya-syirik.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/ganasnya-syirik.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 17:13:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Amal Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=991</guid>
		<description><![CDATA[Syirik merupakan dosa paling besar, kezaliman yang paling zalim, dosa yang tidak akan diampuni Allah, dan pelakunya diharamkan masuk surga serta seluruh amal yang pernah dilakukannya selama di dunia akan hangus dan sia-sia. Oleh sebab itu mengenal hakikat syirik dan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/ganasnya-syirik.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fganasnya-syirik.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fganasnya-syirik.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Syirik merupakan dosa paling besar, kezaliman yang paling zalim, dosa yang tidak akan diampuni Allah, dan pelakunya diharamkan masuk surga serta seluruh amal yang pernah dilakukannya selama di dunia akan hangus dan sia-sia. Oleh sebab itu mengenal hakikat syirik dan bahayanya adalah perkara yang sangat penting.</p>
<p><span id="more-991"></span></p>
<p><strong>Hakikat syirik</strong><br />
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai umat manusia, sembahlah (Allah) Rabb yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dia itu lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap dan Dia pula yang telah menurunkan air hujan dari langit sehingga mampu mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezki untuk kalian maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah sedangkan kalian mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 21-22).</p>
<p>Di dalam ayat yang lain Allah ta’ala menyatakan secara tegas yang artinya, “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya.” (QS. An Nisaa’ : 36). Dari ayat-ayat tersebut kita mengetahui bahwa Allah melarang hamba-hamba-Nya untuk berbuat syirik atau mengangkat tandingan bagi Allah, yaitu menyembah selain Allah di samping menyembah Allah. Dengan demikian ibadah adalah salah satu kekhususan yang hanya boleh ditujukan kepada Allah, karena menujukan ibadah kepada selain Allah adalah perbuatan syirik.</p>
<p><strong>Dosa yang paling besar</strong><br />
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisaa’ : 48, 116). Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata, “Dengan ayat ini maka jelaslah bahwasanya syirik adalah dosa yang paling besar. Karena Allah ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidak akan mengampuninya bagi orang yang tidak bertaubat darinya…” (Fathul Majid). Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar ?” Maka beliau menjawab, “Yaitu engkau mengangkat tandingan/sekutu bagi Allah (dalam beribadah) padahal Dia lah yang telah menciptakanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Dalam hadits yang lain dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya, ayahnya berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar ?”. Beliau bertanya sebanyak tiga kali. Para sahabat menjawab, “Mau wahai Rasulullah !” Lalu beliau bersabda, “Yaitu mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Lalu beliau duduk tegak setelah sebelumnya bersandar seraya melanjutkan sabdanya, “Ingatlah, begitu juga berkata-kata dusta.” Beliau mengulang-ulang kalimat itu sampai-sampai aku bergumam karena kasihan, “Mudah-mudahan beliau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itulah, Adz Dzahabi yang menulis kitab Al Kaba’ir menempatkan dosa syirik kepada Allah sebagai dosa besar nomor satu sebelum dosa-dosa yang lainnya. Beliau berkata, “Dosa besar yang terbesar adalah kesyirikan kepada Allah ta’ala..” (Al Kaba’ir)</p>
<p><strong>Kezaliman yang paling zalim</strong><br />
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh Kami telah mengutus para utusan Kami dengan keterangan-keterangan, dan Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca supaya manusia menegakkan keadilan” (QS. Al Hadiid : 25). Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa di dalam ayat ni Allah memberitakan bahwa Dia mengutus para Rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya supaya manusia menegakkan al qisth yaitu keadilan. Salah satu nilai keadilan yang paling agung adalah tauhid. Ia adalah pokok keadilan yang terbesar dan pilar penegaknya. Sedangkan syirik adalah kezaliman yang sangat besar. Sehingga syirik merupakan kezaliman yang paling zalim, sedangkan tauhid merupakan keadilan yang paling adil (Ad Daa’ wa Ad Dawaa’). Perhatikanlah firman Allah yang mulia yang mengisahkan nasehat seorang ayah yang bijak kepada puteranya, yang artinya, “Wahai puteraku, janganlah berbuat syirik kepada Allah, karena sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman : 13).</p>
<p>Ibadah adalah hak Allah, maka memperuntukkan ibadah kepada selain Allah adalah pelanggaran hak. Oleh sebab itu syirik disebut sebagai kezaliman, bahkan inilah kezaliman terbesar yang harus ditumpas oleh umat manusia! Sampai-sampai beberapa hari menjelang wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih sempat memperingatkan umat dari bahaya syirik dalam masalah kuburan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah. Ketahuilah sesungguhnya aku melarang kalian dari perbuatan itu.” ‘Aisyah mengatakan, “Beliau memberikan peringatan keras dari perbuatan mereka itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>Pelanggaran terhadap hak Sang pencipta</strong><br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Mu’adz, “Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas hamba dan hak hamba atas Allah ?” Maka Mu’adz menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Lalu Rasul bersabda, “Hak Allah atas hamba adalah mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Sedangkan hak hamba atas Allah adalah Allah tidak akan menyiksa hamba yang tidak mepersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”(HR. Al Bukhari dan Muslim). Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan berkata, ”Hadits ini menunjukkan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala memiliki hak yang harus ditunaikan oleh para hamba. Barangsiapa yang menyia-nyiakan hak ini maka sesungguhnya dia telah menyia-nyiakan hak yang paling agung.” (Hushul Al Ma’mul)</p>
<p><strong>Dosa yang tak terampuni</strong><br />
Seandainya seorang hamba berjumpa dengan Allah ta’ala dengan dosa sepenuh bumi niscaya Allah akan mengampuni dosa itu semua, akan tetapi tidak demikian halnya bila dosa itu adalah syirik. Allah ta’ala berfirman melalui lisan Nabi-Nya dalam sebuah hadits qudsi, “Wahai anak Adam, seandainya engkau menjumpai-Ku dengan membawa dosa kesalahan sepenuh bumi dalam keadaan tidak mempersekutukan Aku, niscaya Akupun akan menjumpaimu dengan ampunan sepenuh itu pula” (HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah 127). Bahkan, di dalam Al Qur’an Allah telah menegaskan dalam firman-Nya yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa yang berada di bawah tingkatan syirik bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya” (QS. An Nisaa’ : 48 dan 116).<br />
Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Allah ta’ala mengabarkan bahwasanya Dia tidak akan mengampuni dosa syirik, artinya Dia tidak mengampuni hamba yang bertemu dengan-Nya dalam keadaan musyrik, dan (Dia mengampuni dosa yang dibawahnya bagi orang yang dikehendaki-Nya); yaitu dosa-dosa (selain syirik-pent) yang akan Allah ampuni kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.” ( Tafsir Ibnu Katsir).</p>
<p><strong>Kekal di dalam neraka</strong><br />
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik berada di dalam neraka Jahannam dan kekal di dalamnya, mereka itulah sejelek-jelek ciptaan.” (QS. Al Bayyinah : 6).</p>
<p>Dari Jabir radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Barang siapa yang berjumpa Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya, niscaya masuk surga. Dan barang siapa yang berjumpa Allah dalam keadaan memepersekutukan sesuatu dengan-Nya, maka dia masuk neraka.” (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Pemusnah pahala amalan</strong><br />
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan kemudian diingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang kamu lakukan dengannya ?” Dia menjawab, “Aku berperang untuk-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau berperang karena ingin disebut sebagai pemberani. Dan itu sudah kau dapatkan.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian ada seseorang yang telah mendapatkan anugerah kelapangan harta. Dia didatangkan dan diingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang diperolehnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kamu perbuat dengannya ?” Dia menjawab, “Tidaklah aku tinggalkan suatu kesempatan untuk menginfakkan harta di jalan-Mu kecuali aku telah infakkan hartaku untuk-Mu.” Allah berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau lakukan itu demi mendapatkan julukan orang yang dermawan, dan engkau sudah memperolehnya.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al Qur’an. Dia didatangkan kemudian diingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang sudah didapatkannya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kau perbuat dengannya ?” Maka dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an karena-Mu.” Allah berfirman, ”Engkau dusta, sebenarnya engkau menuntut ilmu supaya disebut orang alim. Engkau membaca Qur’an supaya disebut sebagai Qari’.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim).</p>
<p><strong>Kehilangan rasa aman dan petunjuk</strong><br />
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan merekalah orang yang mendapatkan hidayah” (QS. Al An’aam : 82). Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, ketika ayat ini diturunkan para sahabat mengatakan, ”Wahai Rasulullah. Siapakah di antara kita ini yang tidak melakukan kezaliman terhadap dirinya ?” Maka Rasulullah pun menjawab, ”Maksud ayat itu tidak seperti yang kalian katakan. Sebab makna,”Tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman” adalah (tidak mencampurinya) dengan kesyirikan. Bukankah kalian pernah mendengar ucapan Luqman kepada puteranya,”Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, karena sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar”.” (HR. Bukhari). Semoga Allah menyelamatkan diri kita dari bahaya syirik, yang tampak maupun yang tersembunyi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/ganasnya-syirik.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seribu kebaikan dalam sehari</title>
		<link>http://abumushlih.com/seribu-kebaikan-dalam-sehari.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/seribu-kebaikan-dalam-sehari.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 22:33:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa dan Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Tasbih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=820</guid>
		<description><![CDATA[Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan : حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ وَعَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ مُوسَى الْجُهَنِيِّ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا مُوسَى الْجُهَنِيُّ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنِي &#8230; <a href="http://abumushlih.com/seribu-kebaikan-dalam-sehari.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fseribu-kebaikan-dalam-sehari.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fseribu-kebaikan-dalam-sehari.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan :</p>
<p style="text-align:right;">حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ وَعَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ مُوسَى الْجُهَنِيِّ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا مُوسَى الْجُهَنِيُّ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ قَالَ يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ</p>
<p><span id="more-820"></span>Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Marwan dan Ali bin Mus-hir menuturkan kepada kami dari Musa al-Juhani. Sedangkan dari jalan yang lain Imam Muslim mengatakan: Muhammad bin Abdullah bin Numair menuturkan kepada kami dengan lafaz darinya, dia berkata: Musa al-Juhani menuturkan kepada kami dari Mush&#8217;ab bin Sa&#8217;d. Dia mengatakan: Ayahku menuturkan kepadaku, dia berkata: Dahulu kami berada di sisi Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, kemudian beliau mengatakan, &#8220;Apakah salah seorang di antara kalian tidak mampu untuk menghasilkan pada setiap hari seribu kebaikan?&#8221;. Lalu ada seorang yang duduk bersama beliau bertanya, &#8220;Bagaimana salah seorang di antara kami bisa menghasilkan seribu kebaikan?&#8221;. Beliau menjawab, &#8220;Yaitu dengan bertasbih (membaca subhanallah) seratus kali, maka dengan itu akan dicatat seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu kesalahan.&#8221; (HR. Muslim dalam Kitab adz-Dzikr wa ad-Du&#8217;a wa at-Taubah wa al-Istighfar)</p>
<p>Hadits yang agung ini mengandung pelajaran:</p>
<ol>
<li> Betapa luasnya rahmat Allah ta&#8217;ala sehingga dengan amal yang sedikit seorang bisa mendapatkan balasan yang begitu banyak</li>
<li> Manusia bisa melakukan seribu kebaikan setiap hari, bahkan lebih dari itu pun mampu, dengan izin dari Allah tentunya</li>
<li> Salah satu cara mengajar yang diajarkan oleh Nabi adalah dengan metode tanya-jawab</li>
<li> Keutamaan membaca tasbih</li>
<li> Amal salih merupakan sebab bertambahnya keimanan</li>
<li> Amal salih merupakan sebab terhapusnya dosa</li>
<li> Iman tentang adanya pencatatan amal</li>
<li> Keutamaan berkumpul dengan orang-orang salih</li>
<li> Pentingnya dzikir kepada Allah dan besarnya keutamaannya</li>
<li> Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui, wallahu a&#8217;lam. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/seribu-kebaikan-dalam-sehari.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Undian Berpahala</title>
		<link>http://abumushlih.com/undian-berpahala.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/undian-berpahala.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 07:55:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Adzan]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Shaf]]></category>
		<category><![CDATA[Undian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=657</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ سُمَيٍّ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي &#8230; <a href="http://abumushlih.com/undian-berpahala.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fundian-berpahala.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fundian-berpahala.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align:right;">حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ سُمَيٍّ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ<br />
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا</p>
<p><span id="more-657"></span></p>
<p>Abdullah bin Yusuf menuturkan kepada kami. Dia berkata; Malik mengabarkan kepada kami dari Sumay bekas budak Abu Bakar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah -radhiyallahu&#8217;anhu- bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Seandainya orang-orang itu mengetahui keutamaan yang terdapat pada mengumandangkan adzan dan berada di shaf yang pertama lalu ternyata apabila mereka tidak bisa mendapatkan hal itu kecuali dengan mengundi dengan anak panah niscaya mereka pun akan mau mengundi untuk memperolehnya. Dan kalau seandainya mereka mengetahui keutamaan bergegas menuju shalat niscaya mereka pun akan berlomba mendatanginya. Dan seandainya mereka (kaum lelaki) mengetahui keutamaan yang terdapat pada shalat &#8216;Isyak dan Subuh (berjama&#8217;ah di masjid, pen) niscaya mereka akan mau mendatanginya meskipun harus dengan cara merangkak.&#8221; (HR. Bukhari dalam Kitab al-Adzan hadits no 615 Bab al-Istiham fil adzan, lihat al-Fath, 2/113-114 cet Dar al-Hadits Kairo).</p>
<p>Hadits yang agung ini menyimpan banyak pelajaran berharga, di antaranya adalah :</p>
<ol>
<li> Yang dimaksud &#8216;mengetahui&#8217; di sini adalah ilmu yang selalu melekat dan tertanam pada diri seseorang. Hal itu diketahui dari penggunaan fi&#8217;il mudhari&#8217; -kata kerja sekarang dan akan datang- pada hadits ini, bukan dengan fi&#8217;il madhi -kata kerja lampau-. Demikian keterangan at-Thibi (lihat al-Fath, 2/114). Maksudnya, orang yang rela bersusah payah untuk mendapatkan hal itu -adzan ataupun shaf pertama- adalah orang-orang yang ilmunya senantiasa melekat dalam hatinya sehingga membuahkan keyakinan akan besarnya pahala yang Allah janjikan. Karena keyakinan itulah ia mau menempuh berbagai cara agar keutamaan itu tidak luput dengannya meskipun harus dengan cara mengundi. Wallahu a&#8217;lam.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan pentingnya ilmu dan ilmu itulah yang akan memunculkan semangat untuk beramal. Serta menunjukkan pula bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang disertai dengan ketulusan niat untuk melaksanakan atau mengamalkan konsekuensi dan kandungan dari ilmu tersebut.</li>
<li>Keutamaan yang dimaksud di sini adalah sebagaimana yang disebutkan secara tegas di dalam riwayat lainnya dari jalan al-A&#8217;raj dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu bahwa keutamaan yang dimaksudkan di situ adalah, &#8220;kebaikan dan keberkahan&#8221; (al-Fath, 2/114). Hal itu menunjukkan bahwa dengan mengumandangkan adzan atau berada di shaf pertama akan didapatkan kebaikan dan keberkahan yang lebih daripada yang diperoleh oleh jama&#8217;ah yang tidak adzan dan tidak berada di shaf yang pertama.</li>
<li>Undian ini berlaku apabila orang-orang yang berebut untuk mendapatkannya adalah orang-orang yang memiliki kedudukan, kriteria, atau hak yang sejajar. Adapun orang yang tidak memenuhi syarat sebagai mu&#8217;adzin atau tidak layak berada di belakang imam persis atau tidak berhak menempati shaf pertama karena sudah penuh dan dia terlambat maka undian ini tidak berlaku (lihat al-Fath, 2/114, lihat pula Fath al-Bari li Ibni Rajab, 4/220 as-Syamilah). Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8220;Hendaknya yang berdiri di belakangku -saat shalat- adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan pemahaman agama. Kemudian yang sesudah mereka.&#8221; (HR. Muslim dari Abu Mas&#8217;ud al-Anshari radhiyallahu&#8217;anhu). Demikian pula apabila orang yang satu telah menempati shaf pertama lebih dulu. Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam sabdanya, &#8220;Janganlah seseorang menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya untuk dia tempati, namun hendaknya kalian lapangkan dan luaskanlah.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu&#8217;anhuma, ini lafazh Muslim)</li>
<li>Undian yang dimaksudkan di sini bisa dengan melempar anak panah ataupun dengan cara yang lain. Hal itu sebagaimana yang dilakukan oleh Sa&#8217;ad bin Abi Waqash radhiyallahu&#8217;anhu kepada sebagian pasukan kaum muslimin yang berebut untuk mengumandangkan adzan tatkala sang mu&#8217;adzin tertimpa musibah pada saat perang penaklukan Qadisiyah. Riwayat ini disebutkan oleh Bukhari secara terputus/tanpa sanad namun telah disambungkan sanadnya oleh Saif  bin Umar dalam al-Futuh dan at-Thabari dengan jalur sanadnya dari Saif bin Umar dari Abdullah bin Syubrumah dari Syaqiq -yaitu Abu Wa&#8217;il- (lihat al-Fath, 2/113). Riwayat ini juga menunjukkan kepada kita tentang betapa besar semangat salafush shalih dalam meraih keutamaan.</li>
<li>Undian ini bisa dilakukan untuk mendapatkan kedua hal di atas -adzan ataupun shaf pertama- bukan hanya untuk shaf pertama saja, sebagaimana ditegaskan di dalam riwayat yang lain dari Abdurrazzaq dari Malik dengan teks, &#8220;Niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkan keduanya.&#8221; (lihat al-Fath, 2/114).</li>
<li>Yang dimaksud bergegas menuju shalat di sini adalah bergegas untuk menghadiri shalat  zuhur. Penafsiran inilah yang lebih sesuai dengan makna lafazh yang digunakan yaitu at-Tahjir yang berasal dari kata al-hajirah yang maknanya &#8216;panas yang terik di tengah siang&#8217;, dan inilah penafsiran yang dipilih oleh Bukhari (lihat al-Fath [2/163-164]). Namun, hal itu tidak berarti bertentangan dengan perintah untuk menunggu agak dingin apabila panasnya sangat terik, karena maksud dari perintah itu adalah untuk memberikan kemudahan dan bersikap lunak kepada jama&#8217;ah. Adapun lelaki yang sengaja meninggalkan tidur siang sebelum zuhur lalu berangkat lebih dulu ke masjid demi menunggu shalat jama&#8217;ah dilakukan maka keutamaan yang diperolehnya sudah sangat jelas (lihat al-Fath [2/114])</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan bahwa perintah untuk menunda shalat zuhur sampai cuaca agak dingin sebagaimana dalam hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melalui Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, &#8220;Apabila panas sangat terik maka tundalah shalat hingga cuaca agak dingin&#8230;&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim) adalah perintah yang bermakna istihbab/sunnah. Dan ini adalah pendapat jumhur ulama (lihat Taudhih al-Ahkam [1/444-445], Fath al-Bari [2/20]). Dalilnya adalah hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu&#8217;anhuma, &#8220;Dahulu Nabi shallallahu &#8216;alahi wa sallam mengerjakan sholat zuhur pada saat hajirah -tengah-tengah siang hari/panas terik-.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar mengatakan, &#8220;al-Hajirah adalah panas yang sangat terik di tengah siang hari.&#8221; (al-Fath [2/26], silakan lihat juga al-Mu&#8217;jam al-Wasith [2/973])</li>
<li>Ibnu Abi Jamrah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan &#8216;berlomba&#8217; di dalam hadits ini -yaitu ketika mendatangi masjid- adalah perlombaan dalam makna abstrak/maknawi bukan dalam makna konkret, sebab berlomba-lomba secara fisik untuk itu mengandung konsekuensi ketergesa-gesaan dalam berjalan/melangkah padahal perilaku itu dilarang (lihat al-Fath, 2/115)</li>
<li>Hadits ini menunjukkan bolehnya mengerjakan sholat sunah -maksudnya adalah sholat tahiyyatul masjid atau sholat sunah wudhu, pen- pada saat matahari berada di tengah-tengah yaitu ketika panasnya sangat terik. Sebab tidaklah diperselisihkan bahwa orang yang masuk masjid pada saat itu diperintahkan untuk mengerjakan sholat (lihat al-Muntaqa Syarh al-Muwattha&#8217;, 1/157 as-Syamilah)</li>
<li>Hadits ini juga dengan jelas menunjukkan besarnya keutamaan sholat &#8216;Isyak dan Subuh berjama&#8217;ah di masjid bagi lelaki (lihat Syarh Riyadh as-Shalihin [3/57]). Utsman bin Affan radhiyallahu&#8217;anhu meriwayatkan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Barangsiapa yang mengerjakan sholat &#8216;Isyak secara berjama&#8217;ah maka seolah-olah dia mengerjakan sholat malam separuh malam lamanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan sholat Subuh secara berjama&#8217;ah maka seolah-olah dia telah melakukan sholat semalam suntuk.&#8221; (HR. Muslim). Yang dimaksud mengerjakan sholat Subuh berjama&#8217;ah yang dikatakan seperti sholat semalam suntuk ini adalah apabila disertai dengan sholat &#8216;Isyak berjama&#8217;ah (lihat Aun al-Ma&#8217;bud [2/74] dan Tuhfat al-Ahwadzi [1/254] as-Syamilah). Dan sebagaimana sudah dimaklumi bahwa sholat berjama&#8217;ah di masjid adalah wajib bagi lelaki muslim.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan bolehnya melebihkan keutamaan satu jenis ibadah atas ibadah yang lainnya selama memang ada dalilnya dan tujuannya bukan untuk merendahkan dan melalaikan yang lainnya.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan keadilan Allah ta&#8217;ala. Di mana Allah membagi-bagi ibadah dan keutamaannya sehingga bisa dilakukan oleh siapa saja, baik yang menjadi imam, makmum ataupun mu&#8217;adzin.</li>
<li>Hadits ini menunjukkan diperintahkannya berlomba-lomba dalam hal kebaikan.</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan bolehnya menggunakan alarm untuk membangunkan para mu&#8217;adzin dan takmir masjid supaya tidak terlambat menunaikan tugasnya</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan keutamaan para takmir yang tinggal di komplek masjid, karena mereka memiliki peluang lebih besar dibanding yang lainnya untuk mendapatkan semua keutamaan di atas.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/undian-berpahala.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEORANG PENDUDUK SURGA</title>
		<link>http://abumushlih.com/seorang-penduduk-surga.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/seorang-penduduk-surga.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 04:18:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=569</guid>
		<description><![CDATA[Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Sahihnya; Abu Bakr bin Ishaq menuturkan kepada saya. Dia berkata; &#8216;Affan  menuturkan  kepada kami. Dia berkata; Wuhaib menuturkan kepada kami. Yahya bin Sa&#8217;id menuturkan kepada kami, dari Abu Zur&#8217;ah, dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, &#8220;Ada &#8230; <a href="http://abumushlih.com/seorang-penduduk-surga.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fseorang-penduduk-surga.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fseorang-penduduk-surga.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Sahihnya;</p>
<p><span id="more-569"></span></p>
<p>Abu Bakr bin Ishaq menuturkan kepada saya. Dia berkata; &#8216;Affan  menuturkan  kepada kami. Dia berkata; Wuhaib menuturkan kepada kami. Yahya bin Sa&#8217;id menuturkan kepada kami, dari Abu Zur&#8217;ah, dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, &#8220;Ada seorang arab Badui yang datang kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dia berkata, &#8220;Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang apabila aku lakukan maka aku akan masuk surga.&#8221; Maka beliau menjawab, &#8220;Yaitu kamu beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun, kamu dirikan shalat wajib, kamu tunaikan zakat yang harus dikeluarkan, dan kamu berpuasa Ramadhan.&#8221; Dia berkata, &#8220;Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Aku tidak akan menambah apa pun atas kewajiban ini selamanya, dan aku juga tidak akan menguranginya.&#8221; Ketika dia berpaling, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengatakan, &#8220;Barangsiapa yang ingin melihat seorang lelaki di antara penduduk surga, maka lihatlah orang ini tadi.&#8221; (HR. Muslim [14] Syarh Nawawi, 2/14)</p>
<p>Di antara faidah hadits ini adalah :</p>
<p>[1] Besarnya semangat para sahabat dalam menggapai kebaikan</p>
<p>[2] Pentingnya tauhid dan bahaya syirik</p>
<p>[3] Tidak boleh memastikan seseorang sebagai penduduk surga -demikian juga menyatakan seorang sebagai syahid- kecuali dengan dalil yang tegas (wahyu)</p>
<p>[4] Dengan menunaikan kewajiban-kewajiban maka seseorang dapat terselamatkan dari neraka dan masuk ke surga</p>
<p>[5] Kewajiban itu akan disempurnakan apabila perkara yang sunnah juga dikerjakan, bahkan dengan meningkatkan amal sunnah maka seorang akan semakin dicintai oleh Allah</p>
<p>[6] Ibadah kepada Allah tidak cukup jika tidak disertai dengan menigngkari dan berlepas diri dari syirik</p>
<p>[7] Tidak boleh bersumpah dengan selain nama Allah</p>
<p>[8] Surga akan didapatkan dengan menempuh sebab-sebabnya, dan yang terpenting adalah tauhid</p>
<p>[9] Taufik berada di tangan Allah, seorang Arab badui mengajukan pertanyaan yang bagus yang menunjukkan pengenalannya terhadap tujuan hidupnya, berbeda dengan banyak orang yang berpendidikan tinggi tapi tidak mengenal Allah dan tidak memahami agamanya</p>
<p>[10] Orang yang paling berbahagia adalah orang yang paling bisa merealisasikan tauhid di dalam hidupnya</p>
<p>[11] Hidup di dunia adalah sementara, sementara kebahagiaan yang hakiki adalah di surga</p>
<p>[12] Hendaknya seorang muslim memiliki cita-cita yang tinggi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/seorang-penduduk-surga.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RINGAN DI LISAN BERAT DI TIMBANGAN</title>
		<link>http://abumushlih.com/ringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/ringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 06:01:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa dan Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=543</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’.” (HR. Bukhari [7573] dan Muslim [2694]) Syaikh &#8230; <a href="http://abumushlih.com/ringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’.” (HR. Bukhari [7573] dan Muslim [2694])</p>
<p><span id="more-543"></span></p>
<p>Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Kedua kalimat ini merupakan penyebab kecintaan Allah kepada seorang hamba.” Beliau juga berpesan, “Wahai hamba Allah, sering-seringlah mengucapkan dua kalimat ini. Ucapkanlah keduanya secara kontinyu, karena kedua kalimat ini berat di dalam timbangan (amal) dan dicintai oleh ar-Rahman, sedangkan keduanya sama sekali tidak merugikanmu sedikitpun sementara keduanya sangat ringan diucapkan oleh lisan, ‘Subhanallahi wabihamdih, subhanallahil ‘azhim’. Maka sudah semestinya setiap insan mengucapkan dzikir itu dan memperbanyaknya.” (Syarh Riyadh as-Shalihin, 3/446).</p>
<p>Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Allah dengan nama-Nya ar-Rahman –Yang Maha pemurah-. Hikmahnya adalah –wallahu a’lam- karena untuk menunjukkan keluasan kasih sayang Allah ta’ala. Sebagai contohnya, di dalam hadits ini diberitakan bahwa Allah berkenan memberikan balasan pahala yang banyak walaupun amal yang dilakukan hanya sedikit (lihat Taudhih al-Ahkam, 4/883)</p>
<p><strong>Subhanallahi wabihamdih</strong><br />
Makna ucapan subhanallah –Maha suci Allah- adalah; anda menyucikan Allah ta’ala dari segala aib dan kekurangan dan anda menyatakan bahwa Allah Maha sempurna dari segala sisi. Hal itu diiringi dengan pujian kepada Allah –wabihamdih- yang menunjukkan kesempurnaan karunia dan kebaikan yang dilimpahkan-Nya kepada makhluk serta kesempurnaan hikmah dan ilmu-Nya (lihat Syarh Riyadh as-Shalihin li Ibni Utsaimin, 3/446)</p>
<p>Apabila telah terpatri dalam diri seorang hamba mengenai pengakuan dan keyakinan terhadap kesucian pada diri Allah dari segala kekurangan dan aib, maka secara otomatis akan terpatri pula di dalam jiwanya bahwa Allah adalah Sang pemilik berbagai kesempurnaan sehingga yakinlah dirinya bahwa Allah adalah Rabb bagi seluruh makhluk-Nya. Sedangkan keesaan Allah dalam hal rububiyah tersebut merupakan hujjah/argumen yang mewajibkan manusia untuk mentauhidkan Allah dalam hal ibadah –tauhid uluhiyah-. Dengan demikian maka kalimat ini mengandung penetapan kedua macam tauhid tersebut –rububiyah dan uluhiyah- (lihat Taudhih al-Ahkam, 4/885)</p>
<p><strong>Makna pujian kepada Allah</strong><br />
Al-Hamdu atau pujian adalah sanjungan kepada Allah dikarenakan sifat-sifat-Nya yang sempurna, nikmat-nikmat-Nya yang melimpah ruah, kedermawanan-Nya kepada hamba-Nya, dan keelokan hikmah-Nya. Allah ta’ala memiliki nama, sifat dan perbuatan yang sempurna. Semua nama Allah adalah nama yang terindah dan mulia, tidak ada nama Allah yang tercela. Demikian pula dalam hal sifat-sifat-Nya tidak ada sifat yang tercela, bahkan sifat-sifat-Nya adalah sifat yang sempurna dari segala sisi. Perbuatan Allah juga senantiasa terpuji, karena perbuatan-Nya berkisar antara menegakkan keadilan dan memberikan keutamaan. Maka bagaimana pun keadaannya Allah senantiasa terpuji (lihat al-Qawa’id al-Fiqhiyah karya Syaikh as-Sa’di, hal. 7)</p>
<p>Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “al-hamdu adalah mensifati sesuatu yang dipuji dengan sifat-sifat sempurna yang diiringi oleh kecintaan dan pengagungan -dari yang memuji-, kesempurnaan dalam hal dzat, sifat, dan perbuatan. Maka Allah itu Maha sempurna dalam hal dzat, sifat, maupun perbuatan-perbuatan-Nya.” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 10)</p>
<p><strong>Subhanallahil ‘azhim</strong><br />
Makna ucapan ini adalah tidak ada sesuatu yang lebih agung dan berkuasa melebihi kekuasaan Allah ta’ala dan tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya daripada-Nya, tidak ada yang lebih dalam ilmunya daripada-Nya. Maka Allah ta’ala itu Maha agung dengan dzat dan sifat-sifat-Nya (lihat Syarh Riyadh as-Shalihin li Ibni Utsaimin, 3/446).</p>
<p>Hal itu menunjukkan keagungan, kemuliaan, dan kekuasaan Allah ta’ala, inilah sifat-sifat yang dimiliki oleh-Nya. Di dalam bacaan dzikir ini tergabung antara pujian dan pengagungan yang mengandung perasaan harap dan takut kepada Allah ta’ala (lihat Taudhih al-Ahkam, 4/884-885).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/ringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FLUKTUASI KEIMANAN</title>
		<link>http://abumushlih.com/fluktuasi-keimanan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/fluktuasi-keimanan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 04:01:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=474</guid>
		<description><![CDATA[Sebab-sebab bertambahnya keimanan Di antara hal-hal yang akan menumbuhsuburkan keimanan dan membuat batangnya kokoh serta menyebabkan tunas-tunasnya bersemi adalah : Pertama Mengenali nama-nama dan sifat-sifat Allah, karena apabila pengetahuan hamba terhadap Tuhannya semakin dalam dan berhasil membuahkan berbagai konsekuensi yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/fluktuasi-keimanan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ffluktuasi-keimanan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ffluktuasi-keimanan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>Sebab-sebab bertambahnya keimanan</strong><br />
Di antara hal-hal yang akan menumbuhsuburkan keimanan dan membuat batangnya kokoh serta menyebabkan tunas-tunasnya bersemi adalah :</p>
<p><strong>Pertama</strong><br />
Mengenali nama-nama dan sifat-sifat Allah, karena apabila pengetahuan hamba terhadap Tuhannya semakin dalam dan berhasil membuahkan berbagai konsekuensi yang diharapkan maka pastilah keimanan, rasa cinta dan pengagungan dirinya kepada Allah juga akan semakin meningkat dan menguat.</p>
<p><span id="more-474"></span><strong>Kedua<br />
</strong> Merenungkan ayat-ayat Allah, baik ayat kauniyah maupun ayat syar’iyah. Karena apabila seorang hamba terus menerus memperhatikan dan merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah beserta kemahakuasaan-Nya dan hikmah-Nya yang sangat elok itu maka tidak syak lagi niscaya keimanan dan keyakinannya akan semakin bertambah kuat.</p>
<p><strong>Ketiga<br />
</strong> Senantiasa berbuat ketaatan demi mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Karena sesungguhnya pasang surut keimanan itu juga tergantung pada kebaikan, jenis dan jumlah amalan. Apabila suatu amal memiliki nilai lebih baik di sisi Allah maka peningkatan iman yang dihasilkan darinya juga akan semakin besar. Sedangkan standar kebaikan amal itu diukur dengan keikhlasan dan konsistensi untuk mengikuti tuntunan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Apabila dilihat dari sisi jenis amalan, maka amal itu terbagi menjadi amal yang wajib dan amal sunnah. Sedangkan amal wajib tentu lebih utama daripada amal sunnah apabil ditinjau dari jenisnya. Begitu pula ada sebagian amal ketaatan lebih ditekankan daripada amal yang lainnya. Sehingga apabila suatu ketaatan termasuk jenis ketaatan yang lebih utama maka niscaya pertambahan iman yang diperoleh darinya juga semakin besar. Demikian pula iman akan mengalami peningkatan seiring dengan pertambahan jumlah/kuantitas amalan. Karena amal itu adalah bagian dari iman maka bertambahnya amal tentu saja akan berakibat bertambahnya keimanan.</p>
<p><strong>Keempat<br />
</strong>Meninggalkan kemaksiatan karena merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Apabila keinginan dan faktor pendukung untuk melakukan suatu perbuatan atau ucapan maksiat semakin kuat pada diri seseorang maka meninggalkannya ketika itu akan memiliki dampak yang sangat besar dalam memperkuat dan meningkatkan kualitas iman di dalam dirinya. Karena kemampuannya untuk meninggalkan maksiat itu menunjukkan kekuatan iman serta ketegaran hatinya untuk tetap mengedepankan apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya daripada keinginan hawa nafsunya. (disadur dari Fathu Rabbil Bariyah, hal. 104-105)</p>
<p><strong>Sebab-sebab berkurangnya keimanan</strong><br />
Di antara sebab-sebab yang bisa menyebabkan keimanan seorang hamba menjadi turun dan surut atau bahkan menjadi hilang dan lenyap adalah sebagai berikut :</p>
<p><strong>Pertama</strong><br />
Bodoh tentang Allah ta’ala, tidak mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya</p>
<p><strong>Kedua</strong><br />
Lalai dan memalingkan diri dari rambu-rambu agama, tidak memperhatikan ayat-ayat Allah dan hukum-hukum-Nya, baik yang bersifat kauni maupun syar’i. Sesungguhnya kelalaian dan sikap tidak mau tahu semacam itu pasti akan membuat hati menjadi sakit atau bahkan mati karena belitan syubhat dan jeratan syahwat yang merasuki hati dan sekujur tubuhnya.</p>
<p><strong>Ketiga</strong><br />
Berbuat atau mengutarakan ucapan maksiat. Oleh karena itulah iman akan turun, melemah dan surut sebanding dengan tingkatan maksiat, jenisnya, kondisi hati orang yang melakukannya serta kekuatan faktor pendorongnya. Iman akan banyak sekali berkurang dan menjadi sangat lemah apabila seorang hamba terjerumus dalam dosa besar, jauh lebih parah dan lebih mengenaskan daripada apabila dia terjerembab dalam dosa kecil. Berkurangnya keimanan karena kejahatan membunuh tentu lebih besar daripada akibat mengambil harta orang. Sebagaimana iman akan lebih banyak berkurang dan lebih lemah karena dua buah maksiat daripada akibat melakukan satu maksiat. Demikianlah seterusnya. Dan apabila seorang hamba yang bermaksiat menyimpan perasaan meremehkan atau menyepelekan dosa di dalam hatinya serta diiringi rasa takut kepada Allah yang sangat minim maka tentu saja pengurangan dan keruntuhan iman yang ditimbulkan juga semakin besar dan semakin berbahaya apabila dibandingkan dengan maksiat yang dilakukan oleh orang yang masih menyimpan rasa takut kepada Allah tetapi tidak mampu menguasai diri untuk tidak melakukan maksiat. Dan apabila dilihat dari sisi kekuatan faktor pendorong yang dimiliki orang maka penyusutan iman yang terjadipun berbeda. Apabila suatu maksiat terjadi pada diri orang yang faktor pendorongnya semakin lemah atau semakin kecil maka penurunan iman yang ditimbulkannya juga akan semakin besar, semakin parah dan lebih tercela daripada orang yang bermaksiat tapi memang padanya terdapat faktor pendorong yang lebih kuat dan lebih besar. Oleh sebab itulah orang miskin yang sombong dan orang tua bangka yang berzina dosanya lebih besar daripada dosa orang kaya yang sombong dan perbuatan zina seorang yang masih muda. Hal itu sebagaimana dikisahkan di dalam hadits, “Ada tiga golongan orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah dan tidak akan diperhatikan oleh-Nya pada hari kiamat.” Dan di antara mereka itu adalah orang tua beruban yang berzina dan orang miskin yang sombong.</p>
<p><strong>Keempat</strong><br />
Meninggalkan ketaatan, baik berupa keyakinan, ucapan maupun amalan fisik. Sebab iman akan semakin banyak berkurang apabila ketaatan yang ditinggalkan juga semakin besar. Apabila nilai suatu ketaatan semakin penting dan semakin prinsip maka meninggalkannya pun akan mengakibatkan penyusutan dan keruntuhan iman yang semakin besar dan mengerikan. Bahkan terkadang dengan meninggalkannya bisa membuat pelakunya kehilangan iman secara total, sebagaimana orang yang meninggalkan shalat sama sekali. Perlu diperhatikan pula bahwa meninggalkan ketaatan itu terbagi menjadi dua. Pertama, ada yang menyebabkan hukuman atau siksa yaitu apabila yang ditinggalkan adalah berupa kewajiban dan tidak ada alasan yang hak untuk meninggalkannya. Kedua, sesuatu yang tidak akan mendatangkan hukuman dan siksa karena meninggalkannya, seperti : meninggalkan kewajiban karena udzur syar’i (berdasarkan ketentuan agama) atau hissi (berdasarkan sebab yang terindera), atau tidak melakukan amal yang hukumnya mustahab/sunnah. Contoh untuk orang yang meninggalkan kewajiban karena udzur syar’i atau hissi adalah perempuan yang tidak shalat karena haidh. Sedangkan contoh orang yang meninggalkan amal mustahab/sunnah adalah orang yang tidak mengerjakan shalat Dhuha (disadur dari Fathu Rabbil Bariyah, hal. 105-106)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/fluktuasi-keimanan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

