<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Radikalisme Islam</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/radikalisme-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 07:31:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Antara Wahabi Dan Teroris</title>
		<link>http://abumushlih.com/antara-wahabi-dan-teroris.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/antara-wahabi-dan-teroris.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 16:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Fundamentalis]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Radikalisme Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Teroris]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1598</guid>
		<description><![CDATA[Terorisme seringkali ditudingkan kepada umat Islam, terutama golongan Wahabi/Salafi. Sebagian orang mengira bahwa tudingan itu hanya sekedar propaganda barat untuk menjatuhkan harga diri kaum muslimin di mata dunia internasional. Sehingga mereka senantiasa menuduh barat (baca: Amerika) sebagai dalang di balik &#8230; <a href="http://abumushlih.com/antara-wahabi-dan-teroris.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fantara-wahabi-dan-teroris.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fantara-wahabi-dan-teroris.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Terorisme seringkali ditudingkan kepada umat Islam, terutama golongan Wahabi/<a href="http://abumushlih.com/hakekat-dakwah-salafiyah.html/" target="_blank">Salafi</a>. Sebagian orang mengira bahwa tudingan itu hanya sekedar  propaganda barat untuk menjatuhkan harga diri kaum muslimin di mata  dunia  internasional. Sehingga mereka senantiasa menuduh barat (baca:  Amerika) sebagai dalang di balik munculnya fenomena radikal semacam itu. Sebagian lagi sebaliknya, mengira bahwa terorisme  -dengan melakukan pengeboman di tempat-tempat umum- merupakan bagian  dari jihad <em>fi sabilillah</em> dan tergolong amal salih yang paling utama.  Sehingga mereka beranggapan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah sosok  mujahid dan mati syahid.</p>
<p><span id="more-1598"></span>Terlepas dari apa yang mereka sangka, sebenarnya kita bisa melihat  dengan kaca mata yang adil dan objektif bahwa di samping adanya makar  musuh-musuh Islam dari luar, sebenarnya kita juga menghadapi   musuh-musuh dalam selimut yang berupaya meruntuhkan kekuatan umat dari  dalam. Salah satu di antara mereka adalah sekte Khawarij di masa silam  dan para penganut pemikiran sekte tersebut di masa kini yang gemar  melakukan aksi teror dengan mengatasnamakan jihad. Mereka menampakkan  diri sebagai kaum muslimin yang punya komitmen terhadap agama,  berpenampilan seperti layaknya orang-orang salih dan taat, dan bersikap  seakan-akan membela ajaran Islam, namun sebenarnya mereka sedang  melakukan upaya penghancuran Islam dari dalam, sadar ataupun tidak!</p>
<p><strong>Sejarah Hitam Sekte Khawarij</strong></p>
<p>Tidakkah kita ingat sejarah hitam kaum Khawarij yang diabadikan di dalam  kitab-kitab hadits? Sebuah sekte yang diperselisihkan status  keislamannya oleh para ulama (yang kuat mereka tidak dikafirkan, lihat  <em>al-Minhaj Syarh Muslim bin al-Hajjaj</em> [4/390 dan 393]). Mereka adalah  sekelompok orang yang memiliki ciri khas pandai membaca al-Qur’an dan  menghafalkannya, suka mengusung slogan keadilan dan pembelaan rakyat  yang tertindas guna menghalalkan pemberontakan kepada penguasa muslim.  Berawal dari kedangkalan berpikir mereka, akhirnya hal itu menyeret  mereka ke jurang kebid’ahan yang mengerikan. Mereka bunuhi umat Islam  sementara para pegiat kemusyrikan justru mereka biarkan.</p>
<p>Nah, berikut ini kami nukilkan sebagian hadits yang mengisahkan  tentang kekejian manhaj kaum <a href="http://abumushlih.com/khawarij-kontemporer.html/" target="_blank">Khawarij</a> dan sikap Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersama para sahabat dalam menghadapi mereka. Agar  jelas bagi siapa saja bahwa sikap ulama Ahlus Sunnah as-Salafiyun -pengikut salafus shalih- dalam  memerangi Khawarij dan pemikiran mereka bukanlah karena motif menjilat  penguasa atau mencari muka di hadapan mereka, namun hal itu mereka  lakukan semata-mata demi ‘melanjutkan kehidupan Islam’ sebagaimana yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tentu saja dengan cara meneladani metode perjuangan  generasi terbaik dari umat ini.</p>
<p>Jabir bin Abdullah <em>radhiyallahu’anhuma</em> menceritakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله  عليه وسلم- بِالْجِعْرَانَةِ مُنْصَرَفَهُ مِنْ حُنَيْنٍ وَفِى ثَوْبِ  بِلاَلٍ فِضَّةٌ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْبِضُ مِنْهَا  يُعْطِى النَّاسَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ اعْدِلْ. قَالَ « وَيْلَكَ وَمَنْ  يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ  أَكُنْ أَعْدِلُ ». فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رضى الله عنه دَعْنِى  يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَقْتُلَ هَذَا الْمُنَافِقَ. فَقَالَ « مَعَاذَ  اللَّهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّى أَقْتُلُ أَصْحَابِى إِنَّ هَذَا  وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ  يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ».</strong></p>
<p><em>“Ada seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam di Ji’ranah -nama tempat- sepulangnya beliau dari  -peperangan- Hunain, ketika itu di atas kain Bilal terdapat perak yang  diambil sedikit demi sedikit oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam untuk dibagikan kepada orang-orang. Kemudian lelaki itu  mengatakan, ‘Hai Muhammad, berbuat adillah!’. Maka Nabi menjawab,  ‘Celaka kamu! Lalu siapa lagi yang mampu berbuat adil jika aku tidak  berbuat adil. Sungguh kamu pasti telah celaka dan merugi jika aku tidak  berbuat adil.’ Maka Umar bin al-Khatthab radhiyallahu’anhu berkata,  ‘Biarkanlah saya wahai Rasulullah untuk menghabisi orang munafiq ini.’  Maka beliau bersabda, ‘Aku berlindung kepada Allah, jangan sampai  orang-orang nanti mengatakan bahwa aku telah membunuh para sahabatku  sendiri. Sesungguhnya orang ini dan para pengikutnya adalah suka membaca  al-Qur’an akan tetapi bacaan mereka tidak melampaui pangkal tenggorokan  mereka. Mereka keluar darinya sebagaimana keluarnya anak panah yang  menembus  sasaran bidiknya.’.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa ungkapan <strong>‘mereka suka  membaca al-Qur’an akan tetapi bacaan mereka tidak melampaui pangkal  tenggrorokan mereka’</strong> memiliki dua penafsiran. Pertama, dimaknakan bahwa  hati mereka tidak memahami isinya dan tidak bisa memetik manfaat darinya  selain membaca saja. Kedua, dimaknakan amal dan bacaan mereka tidak  bisa diterima oleh Allah (lihat <em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin  al-Hajjaj</em> [4/389] cet. 2003 penerbit Dar Ibn al-Haitsam)</p>
<p>Dalam riwayat lain, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menegaskan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا  يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَقْتُلُونَ أَهْلَ  الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ  كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ  لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya di belakang orang ini akan muncul suatu kaum yang rajin  membaca al-Qur’an namun tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka.  Mereka membunuhi umat Islam dan justru meninggalkan para pemuja berhala.  Mereka keluar dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari sasaran  bidiknya. Apabila aku menemui mereka, niscaya aku akan membunuh mereka  dengan cara sebagaimana terbunuhnya kaum ‘Aad.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim  dari Abu Sa’id al-Khudri <em>radhiyallahu’anhu</em>, ini lafaz Muslim)</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menerangkan, <em>“Di dalam hadits ini terkandung  dorongan untuk memerangi mereka -yaitu Khawarij- serta menunjukkan  keutamaan Ali radhiyallahu’anhu yang telah memerangi mereka.”</em> (<em>al-Minhaj  Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj</em> [4/391] cet. 2003 penerbit Dar Ibn  al-Haitsam)</p>
<p>Mereka  bukanlah orang yang malas beribadah, bahkan mereka adalah  sosok yang menakjubkan dalam ketekunan dan kesungguhan beribadah. Namun  di sisi yang lain, mereka telah menyimpang dari manhaj Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat sehingga membuat mereka  layak menerima ancaman dan hukuman yang sangat-sangat berat, yaitu hukum  bunuh!</p>
<p>Dalam teks riwayat yang lain Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebutkan ciri mereka,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ  أَحَدُكُمْ صَلاَتَهُ مَعَ صَلاَتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya orang ini -Dzul Khuwaishirah, gembong Khawarij,pent-  akan memiliki pengikut-pengikut yang membuat salah seorang di antara  kalian meremehkan sholatnya apabila dibandingkan dengan sholat mereka,  dan meremehkan puasanya apabila dibandingkan dengan puasa mereka…”</em> (HR.  Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri <em>radhiyallahu’anhu</em>, ini lafaz  Muslim)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>سَيَخْرُجُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ  أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ  قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ  يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ  فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِى قَتْلِهِمْ أَجْرًا  لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</strong></p>
<p><em>“Akan muncul di akhir masa ini nanti sekelompok orang yang umurnya  masih muda-muda dan lemah akalnya. Apa yang mereka ucapkan adalah  perkataan manusia yang terbaik. Mereka suka membaca al-Qur’an akan  tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka.  Mereka melesat dari agama seperti halnya anak panah yang melesat dari  sasaran bidiknya. Apabila kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka.  Karena sesungguhnya dengan terbunuhnya mereka maka orang yang  membunuhnya itu akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat  kelak.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib  <em>radhiyallahu’anhu</em>, ini lafaz Muslim)</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menerangkan, <em>“Hadits ini menegaskan wajibnya  memerangi Khawarij dan pemberontak negara, dan hal itu merupakan perkara  yang telah disepakati oleh segenap ulama.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih  Muslim bin al-Hajjaj</em> [4/397] cet. 2003 penerbit Dar Ibn al-Haitsam)</p>
<p>Ubaidullah bin Abi Rafi’ <em>radhiyallahu’anhu</em> -salah seorang bekas budak  yang dimerdekakan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>-  menceritakan bahwa ketika terjadi pemberontakan kaum Haruriyah  (Khawarij) sedangkan saat itu dia bersama pihak Ali bin Abi Thalib  <em>radhiyallahu’anhu</em>, mereka -kaum Khawarij- mengatakan, <em>“Tidak ada hukum  kecuali milik Allah.”</em> Maka Ali bin Abi Thalib pun menanggapi ucapan  mereka dengan mengatakan, <em>“Itu adalah ucapan yang benar namun dipakai  dengan maksud yang batil…”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim)</p>
<p>Dalam riwayat lainnya, Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> menyatakan  tentang betapa buruknya mereka,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ</strong></p>
<p><em>“Mereka itu adalah sejelek-jelek makhluk.”</em> (HR. Muslim dari Abu Dzar  <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p><strong>Mewaspadai al-Qa&#8217;adiyah Gaya Baru</strong></p>
<p>al-Qa’adiyah merupakan salah saktu sekte Khawarij yang memiliki  ideologi Khawarij, hanya saja mereka tidak memilih sikap memberontak.  Meskipun demikian, mereka menganggap pemberontakan sebagai perkara yang  baik, tidak boleh diingkari, bahkan berpahala! Dengan kata lain -dalam  bahasa sekarang- mereka menilai bahwa pemberontakan yang dilakukan oleh  rekan-rekan mereka -dengan menimbulkan kekacauan dan mengancam penguasa;  bom bunuh diri dan semisalnya- bukan perkara yang salah, alias hasil  ijtihad yang harus dihargai dan layak untuk diberi pahala [?!].</p>
<p>Sampai-sampai salah seorang tokoh mereka di negeri ini berkata, <em>“Menurut  saya mereka -teroris- adalah mujahid. Dan apa yang mereka lakukan itu merupakan  hasil ijtihad mereka. Walaupun saya tidak sependapat dengan -hasil  ijtihad- mereka.”</em> Maha Suci Allah dari ucapan mereka!</p>
<p>Ketika menjelaskan biografi ringkas Imran bin Hitthan -salah seorang  perawi hadits yang terseret paham Khawarij- Ibnu Hajar berkata,  <em>“al-Qa’adiyah adalah salah satu sekte dari kelompok Khawarij. Mereka  berpendapat sebagaimana pendapat Khawarij, namun mereka tidak ikut  melakukan pemberontakan. Akan tetapi mereka menghias-hiasi/menilai baik  perbuatan itu.”</em> (<em>Hadyu as-Sari</em>, hal. 577). Sebelumnya, Ibnu Hajar juga  menukil ucapan Abul Abbas al-Mubarrid, <em>“Imran bin Hitthan adalah gembong  kelompok al-Qa’adiyah dari aliran Shafariyah. Dia adalah khathib/orator  dan penya’ir di kalangan mereka.”</em> (<em>Hadyu as-Sari</em>, hal. 577).</p>
<p>Imran bin  Hitthan inilah yang meratapi kematian Abdurrahman bin Muljam -sang  pembunuh Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em>- dengan untaian bait-bait  sya’irnya yang heroik. Dikisahkan bahwa pada akhir hidupnya dia kembali  ke jalan yang benar dan meninggalkan paham Khawarij, sebagaimana yang  diriwayatkan oleh Abu Zakariya al-Mushili di dalam <em>Tarikh al-Mushil</em> (lihat <em>Hadyu as-Sari</em>, hal. 577,578, lihat juga <em>Tahdzib at-Tahdzib</em> [8/128] as-Syamilah)</p>
<p>Ibnu Hajar mengatakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>والقَعَدية الذين يُزَيِّنون الخروجَ على  الأئمة ولا يباشِرون ذلك</strong></p>
<p><em>“al-Qa’adiyah adalah orang-orang yang menghias-hiasi perbuatan  pemberontakan kepada para pemimpin -umat Islam- dan mereka tidak ikut  terjun langsung dalam tindakan tersebut.”</em> (<em>Hadyu as-Sari</em>, hal. 614 cet  Dar al-Hadits)</p>
<p>as-Syahrastani mengatakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>كل من خرج على الإمام الحق الذي اتفقت  الجماعة عليه يُسمى خارجياً سواء كان الخروج في أيام الصحابة على الأئمة  الراشدين أو كان بعدهم على التابعين بإحسان والأئمة في كل زمان</strong></p>
<p><em>“Setiap orang yang memberontak kepada pemimpin yang sah yang  disepakati oleh rakyat sebagai pemimpin mereka maka dia disebut sebagai  Khariji (kata tunggal dari Khawarij). Sama saja apakah dia melakukan  pemberontakan itu di masa sahabat masih hidup kepada para pemimpin yang  lurus atau setelah masa mereka yaitu kepada para tabi’in yang senantiasa  mengikuti pendahulu mereka dengan baik serta para pemimpin umat di  sepanjang masa.”</em> (<em>al-Milal wa an-Nihal</em> [1/28] as-Syamilah)</p>
<p>Salah satu pemikiran Khawarij yang berkembang saat ini -terutama di  kalangan sebagian pemuda Islam yang bersemangat tapi tanpa ilmu- adalah  pendapat yang <strong>membolehkan -tidak harus- untuk memberontak kepada  pemimpin muslim yang zalim</strong> (lihat mukadimah kitab <em>al-Khawarij wal Fikru  al-Mutajjaddid</em> karya Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir al-Ubaikan, hal. 6).  Sebagaimana pula keterangan semacam ini pernah kami dengar dari  perkataan Syaikh Abdul Malik Ramadhani -<em>hafizhahullah</em>- dalam sebuah rekaman video  ceramah beliau ketika memberikan pelajaran kitab <em>asy-Syari’ah</em> karya Imam  al-Ajurri.</p>
<p><strong>Bom Bunuh Diri Bukan Jihad</strong></p>
<p>Di manakah letak ilmu pada diri orang yang melakukan bom bunuh diri  dan menyuruh orang lain untuk bunuh diri? Padahal Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ  اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا</strong></p>
<p><em>“Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah  Maha menyayangi kalian.”</em> (QS. an-Nisaa’: 29)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ  بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</strong></p>
<p><em>“Barang siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu alat/senjata  maka dia akan disiksa dengannya kelak pada hari kiamat.”</em> (HR. Bukhari  dan Muslim dari Tsabit bin ad-Dhahhak <em>radhiyallahu’anhu</em>, ini lafaz  Muslim)</p>
<p>Ketika mengomentari ulah sebagian orang yang nekad melakukan bom  bunuh diri dengan alasan untuk menghancurkan musuh, maka Syaikh Ibnu  Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Hanya saja kami katakan, orang-orang  itu yang kami dengar melakukan tindakan tersebut, kami berharap mereka  tidak disiksa seperti itu sebab mereka adalah orang-orang yang  jahil/bodoh dan melakukan penafsiran yang keliru. Akan tetapi, tetap  saja mereka tidak memperoleh pahala, dan <strong>mereka bukan orang-orang yang  syahid </strong>dikarenakan mereka telah melakukan sesuatu yang tidak diijinkan  oleh Allah, akan tetapi mereka telah melakukan apa yang dilarang  oleh-Nya.”</em> (<em>Syarh Riyadh as-Shalihin</em>, dinukil dari <em>al-Kaba’ir ma’a Syarh  Ibnu Utsaimin</em>, hal. 109)</p>
<p>Di manakah letak ilmu pada diri orang yang membunuh nyawa orang kafir  tanpa hak? Padahal Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ  رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ  عَامًا</strong></p>
<p><em>“Barang siapa yang membunuh seorang kafir yang terikat perjanjian maka dia tidak akan mencium  bau surga. Sesungguhnya baunya itu akan tercium dari jarak perjalanan  empat puluh tahun.”</em> (HR. Bukhari dalam Kitab al-Jizyah dan Kitab  ad-Diyat dari Abdullah bin Amr <em>radhiyallahu’anhuma</em>, lafaz ini ada di  dalam Kitab al-Jizyah)</p>
<p>al-Munawi menjelaskan bahwa ancaman yang disebutkan di dalam hadits  ini merupakan dalil bagi para ulama semacam adz-Dzahabi dan yang lainnya  untuk menegaskan bahwa <strong>perbuatan itu -membunuh kafir mu’ahad-  termasuk kategori dosa besar</strong> (<em>Faidh al-Qadir</em> [6/251] as-Syamilah).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حتَّى  يَشْهَدُوا أنْ لا إلَهَ إلاَّ الله، وأَنَّ مُحَمَّداً رسولُ اللهِ،  ويُقيموا الصَّلاةَ ، ويُؤْتُوا الزَّكاةَ ، فإذا فَعَلوا ذلكَ ، عَصَمُوا  مِنِّي دِمَاءهُم وأَموالَهُم، إلاَّ بِحَقِّ الإسلامِ ، وحِسَابُهُم على  اللهِ تَعالَى</strong></p>
<p><em>“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi  bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan Muhammad adalah  utusan Allah, mendirikan shalat, membayarkan zakat, apabila mereka  telah melakukannya maka terjagalah darah dan harta mereka dariku kecuali  dengan alasan haq menurut Islam, dan hisab mereka terserah pada Allah  ta’ala”</em> (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu’anhuma</em>)</p>
<p>Syaikh <a href="http://al-islam.com/ind/" target="_blank">Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh</a> -<em>hafizhahullah</em>- (beliau adalah menteri Urusan Keislaman Arab Saudi) menerangkan  bahwa di dalam kata-kata <em>“apabila mereka telah melakukannya maka  terjagalah darah dan harta mereka dariku”</em> terdapat dalil yang  menunjukkan bahwa orang kafir itu hartanya boleh diambil dan darahnya  boleh ditumpahkan. Dan orang <strong>yang dimaksud di dalam hadits ini adalah  kafir harbi</strong>, yaitu orang kafir yang sedang terlibat peperangan dengan  pasukan kaum muslimin. Oleh sebab itu misalnya jika anda mengambil harta  seorang kafir harbi maka tidak ada hukuman bagi anda. <strong>Adapun  orang kafir mu’ahad, kafir musta’man dan kafir dzimmi -ketiganya bukan  kafir harbi,pen- maka mereka semua tidak boleh diperangi</strong> (lihat  <em>Syarah Arba’in</em>, hal. 63)</p>
<p><strong>Siapakah Wahabi/Salafi?</strong></p>
<p>Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi <em>hafizhahullah</em> -beliau  adalah guru besar Aqidah di Universitas Islam Madinah- menerangkan di  dalam kitabnya <em>‘Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid Asma’ wa  Shifat’</em> [halaman 54] bahwa pendapat yang benar lagi  populer ialah pendapat jumhur ulama Ahlis Sunnah wal Jama’ah yaitu yang  menyatakan bahwa salafush shalih itu mencakup tiga generasi yang  diutamakan dan telah dipersaksikan kebaikannya oleh Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> dalam sabdanya, <em>“Sebaik-baik manusia adalah di  jamanku, kemudian sesudah mereka, kemudian sesudahnya lagi.”</em> (HR.  Bukhari dan Muslim). Sehingga istilah salafush shalih itu mencakup  sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.</p>
<p>Syaikh at-Tamimi mengatakan, <em>“Dan <strong>setiap orang yang meniti jalan  mereka dan berjalan di atas metode/manhaj mereka maka dia disebut  salafi</strong>, sebagai penisbatan kepada mereka.”</em> (<em>Mu’taqad</em>, hal. 54).</p>
<p>Beliau juga memaparkan [halaman 54] bahwa salafiyah adalah manhaj  yang ditempuh oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> beserta generasi  yang diutamakan sesudah beliau. Nabi telah memberitakan bahwa manhaj  salaf ini akan tetap ada hingga datangnya hari kiamat. Sebagaimana yang  disabdakan oleh Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Akan senantiasa ada  segolongan manusia di antara umatku yang selalu menang di atas  kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menelantarkan  mereka sampai datang ketetapan Allah sementara mereka tetap dalam  keadaan menang.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Kemudian, Syaikh at-Tamimi juga menegaskan [halaman 55] bahwa perkara  yang dibenarkan apabila seorang menyandarkan diri kepada manhaj salaf  ini selama dia konsisten menetapi syarat-syarat dan kaidah-kaidahnya.  Maka siapa pun yang menjaga keselamatan aqidah dan amalnya sehingga  sesuai dengan pemahaman tiga generasi yang utama tersebut, maka dia  adalah orang yang bermanhaj salaf.</p>
<p>Di tempat yang lain [halaman 63] beliau mengatakan, <em>“Terkadang para  ulama menggunakan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai pengganti  istilah salaf.”</em></p>
<p>Dari pemaparan ringkas di atas maka kita dapat mengambil kesimpulan  bahwa istilah salaf atau salafi sebenarnya adalah istilah yang sudah  sangat terkenal dalam pembicaraan para ulama. Mereka itu tidak lain  adalah para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta orang-orang yang  mengikuti mereka dengan baik. Orang-orang yang mengikuti manhaj Salaf inilah yang biasa dijuluki dengan gelar &#8216;Wahabi&#8217;. Yang amat disayangkan adalah, <a href="http://abumushlih.com/awas-bahaya-ruwaibidhah.html/" target="_blank">sebagian pemuda</a> yang terseret dalam paham Khawarij -sebagaimana sudah diterangkan di atas- juga merasa bahwa dirinya adalah penganut ajaran Wahabi. Sehingga itulah salah satu faktor pemicu munculnya anggapan bahwa Wahabi itu ada dua golongan yaitu Wahabi Salafi dan Wahabi Jihadi (yaitu yang menebar teror berkedok jihad). Padahal, para ulama Salafi berlepas diri dari tindakan-tindakan brutal yang mereka perbuat, sebagaimana sudah dipaparkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin di atas.</p>
<p><strong>Reaksi Yang Salah</strong></p>
<p>Dengan mencermati beberapa keterangan di atas, maka kita bisa menarik  kesimpulan bahwa salah satu sebab utama munculnya aksi-aksi bom bunuh  diri dan perusakan tempat-tempat umum dengan mengatasnamakan jihad  adalah racun pemikiran Khawarij yang bercokol di dada sebagian pemuda  yang ‘cetek’ pemahaman agamanya. Mereka sama sekali tidak berjalan di  bawah bimbingan para ulama Rabbani. Semangat mereka membara, namun ilmu  yang mereka miliki tidak cukup untuk menopang cita-citanya. Niat mereka  mungkin baik, namun cara yang mereka tempuh jelas-jelas menyelisihi  al-Kitab dan as-Sunnah serta pemahaman salafus shalih.</p>
<p>Akibatnya, musuh-musuh dari luar Islam pun dengan mudah  menyamaratakan bahwa Islam mengajarkan kekerasan dan agama yang tidak  mengenal perikemanusiaan. Mereka ingin menanamkan kesan kepada publik  bahwa siapa saja yang ingin menegakkan kembali syari’at Islam dan tauhid  maka mereka pasti identik dengan terorisme dan gemar membuat kekacauan.  Oleh sebab itu mereka pun melekatkan gelaran <strong>Islam Fundametalis</strong> kepada  kelompok mana saja yang bercita-cita untuk mengembalikan kejayaan Islam  sebagaimana yang diraih oleh para pendahulu mereka, tidak terkecuali  kepada Ahlus Sunnah as-Salafiyun.</p>
<p>Sayangnya, sebagian kaum muslimin yang  tidak mengerti juga ikut-ikutan latah menuduh saudaranya yang mengikuti  Sunnah Nabi dan berupaya untuk menebarkan dakwah tauhid sebagai penganut aliran  sesat dan menyimpang gara-gara penampilan mereka yang mirip dengan  tokoh-tokoh teroris atau istri mereka yang dimunculkan fotonya di media-media massa.  Semata-mata karena celana cingkrang, jenggot dan cadar maka julukan  teroris pun dengan enteng dilekatkan kepada mereka. Padahal memelihara  jenggot dan memakai cadar termasuk tuntunan Nabi Muhammad <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>. Bagi anda yang ingin menyimak penjelasan lebih tentang hukum cadar, jenggot, dan celana &#8216;cingkrang&#8217; silahkan membaca tulisan saudara kami yang mulia al-Akh Muhammad Abduh Tuasikal di link berikut ini -<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2655-penampilan-seperti-ini-bukanlah-teroris.html" target="_blank">rumaysho.com</a>-. Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan.</p>
<p>Akhir kata, kami memohon kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang tinggi lagi mulia, semoga Allah membukakan pintu hidayah bagi saudara-saudara kita yang melenceng dari jalan yang lurus dan semoga Allah berkenan melimpahkan ampunan-Nya kepada kita. Dan semoga kejadian semacam ini bisa menjadi pelajaran bagi para pemuda Islam di mana saja mereka berada, bahwa perjuangan Islam adalah perjuangan yang suci, yang harus ditegakkan di atas ilmu al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman sahabat Nabi dan bimbingan para ulama Rabbani. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em>.</p>
<p>Selesai disusun ulang di wisma MTI, Pogung Kidul</p>
<p>28 Rabi&#8217;ul Awwal 1431 H</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/antara-wahabi-dan-teroris.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

