<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Sabar</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/sabar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Arti Sebuah Perjuangan</title>
		<link>http://abumushlih.com/arti-sebuah-perjuangan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/arti-sebuah-perjuangan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 17:57:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Muhasabah]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[target]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2344</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi perkara yang telah dipahami oleh setiap orang bahwa kesuksesan selalu diiringi dengan kesungguh-sungguhan dan perjuangan dalam mencapai cita-cita dan harapan. Keberhasilan bukanlah warisan yang bisa diperoleh dengan mudah ataupun barang murah yang bisa didapatkan di mana saja. Akan tetapi &#8230; <a href="http://abumushlih.com/arti-sebuah-perjuangan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Farti-sebuah-perjuangan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Farti-sebuah-perjuangan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Menjadi perkara yang telah dipahami oleh setiap orang bahwa kesuksesan selalu diiringi dengan kesungguh-sungguhan dan perjuangan dalam mencapai cita-cita dan harapan. Keberhasilan bukanlah warisan yang bisa diperoleh dengan mudah ataupun barang murah yang bisa didapatkan di mana saja. Akan tetapi sunnatullah menuntut bahwa keberhasilan akan diberikan kepada para pejuang dan sosok yang mau untuk berkorban.</p>
<p><span id="more-2344"></span></p>
<p>Ini bukan sekedar logika, akan tetapi inilah yang ditunjukkan oleh al-Qur&#8217;an, tatkala Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan [menuju keridhaan] Kami. Dan sesungguhnya Allah akan bersama dengan orang-orang yang berbuat ihsan.”</em> (<strong>QS. al-Ankabut: 69</strong>)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Allah mengaitkan antara hidayah dengan jihad/kesungguhan. Ini artinya, orang yang paling besar mendapat hidayah adalah yang paling besar kesungguhannya. Sedangkan jihad yang paling wajib adalah jihad menundukkan jiwa dan berjuang mengendalikan hawa nafsu, berjihad melawan syaitan, dan berjihad melawan [ambisi] dunia. Maka barangsiapa yang berjihad melawan keempat hal ini akan Allah tunjukkan kepadanya jalan-jalan keridhaan-Nya yang akan mengantarkan menuju surga-Nya. Dan barangsiapa yang meninggalkan jihad itu maka dia akan kehilangan sebagian petunjuk sekadar dengan jihad/perjuangan yang dia abaikan.”</em> (<em>adh-Dhau&#8217; al-Munir</em> [4/518])</p>
<p>Demikianlah saudaraku, hal itu menunjukkan betapa besar buah dari jihad itu. Di mana pun, orang-orang yang memiliki keunggulan dalam hal ini adalah orang yang tepat untuk dijadikan sebagai rujukan di tengah perselisihan, bukan sembarang orang. al-Auza&#8217;i dan Ibnul Mubarak berkata, <em>“Apabila orang-orang berselisih tentang sesuatu maka perhatikanlah kepada apa yang dipegang oleh Ahluts Tsughur.”</em> Yang dimaksud adalah <em>ahlul jihad</em> (lihat <em>adh-Dhau&#8217; al-Munir</em> [4/518])</p>
<p>Memang, berbicara lebih mudah daripada melakukan sebuah tindakan. Oleh sebab itulah di samping kekuatan ilmu dan ma&#8217;rifah, manusia juga diberikan kekuatan tekad dan harapan. Kesuksesan tidak akan diraih hanya dengan omongan, namun ia juga membutuhkan sebuah tindakan nyata dalam kehidupan. Siapa pun yang menginginkan ilmu maka dia tertuntut untuk mengerahkan kesungguhan, demikian juga orang yang mendambakan kekayaan dan kesejahteraan. Mereka rela untuk pergi pagi pulang petang, memeras keringat, membanting tulang, demi menggapai apa yang mereka kira sebagai sebuah masa depan dan ketentraman yang diimpikan.</p>
<p>Yang jelas, bagi seorang mukmin menyia-nyiakan waktu yang singkat dan amat berharga ini untuk perkara-perkara rendah, semu dan sementara adalah sebuah kehinaan dan kerugian. Oleh sebab itu, sebagaimana kata pepatah, <em>“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” </em>Inilah motivasi sekaligus, penghibur hati, sekaligus cambuk bagi orang-orang yang dirundung kesedihan akibat beratnya jalan yang mereka tempuh dan sedikitnya teman yang meringankan beban mereka. Tidak perlu risau dan khawatir, Allah tidak akan menyia-nyiakan jerih payah hamba-hamba-Nya yang berbuat baik&#8230;</p>
<p>Saudaraku, kekecewaan akan bisa berubah menjadi kebahagiaan, tatkala kita menyadari bahwa sesungguhnya banyak sekali musibah dan tekanan yang kita alami sebenarnya bersumber dari kelalaian dan kelengahan diri kita sendiri. Oleh sebab itu Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Orang yang paling bijak adalah yang menjadikan keluhannya tertuju kepada Allah dari [hal-hal] yang ada pada dirinya sendiri, bukan dari diri orang lain.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/arti-sebuah-perjuangan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudaraku&#8230; Apa Yang Kau Cari?</title>
		<link>http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 16:31:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2329</guid>
		<description><![CDATA[Salah seorang teman -semoga Allah menambahkan kepadanya ilmu yang bermanfaat- pernah menulis sebuah artikel dengan judul yang kurang lebih sama dengan judul tulisan ini. Namun, pada kesempatan ini saya hanya akan sedikit menyampaikan beberapa keterangan dan sedikit mengkaji realita yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-apa-yang-kau-cari.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-apa-yang-kau-cari.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Salah seorang teman -<em>semoga Allah menambahkan kepadanya ilmu yang bermanfaat</em>- pernah menulis sebuah artikel dengan judul yang kurang lebih sama dengan judul tulisan ini. Namun, pada kesempatan ini saya hanya akan sedikit menyampaikan beberapa keterangan dan sedikit mengkaji realita yang ada di sekitar kita demi mengingatkan diri kami sendiri dan segenap <em>ikhwah</em>&#8230;</p>
<p><span id="more-2329"></span><strong>Pertama</strong>; <em>Masalah Niat</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa amalan yang kita lakukan akan sangat tergantung pada niat pelakunya. Oleh sebab itu kami mengingatkan kepada segenap <em>ikhwah</em> untuk senantiasa menjaga niat dalam beramal karena Allah, bukan karena mencari tujuan-tujuan yang rendah dan hina. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya setiap amal dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan niatnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan diri-Ku dengan selain-Ku maka akan Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Maka keikhlasan adalah perkara yang sangat penting dan tidak boleh dilupakan oleh setiap kita, dalam setiap amalan yang kita lakukan, di mana pun dan kapan pun&#8230;</p>
<p><strong>Kedua</strong>; <em>Masalah Prioritas</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa keutamaan amalan itu bertingkat-tingkat, ada yang wajib dan ada yang sunnah, ada yang utama dan ada yang lebih utama, ada yang penting dan ada yang lebih penting. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada mengerjakan hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu hendaknya kita lebih mendahulukan sesuatu yang memiliki urgensi dan keutamaan yang lebih daripada sesuatu yang kurang penting dan kurang utama, terlebih lagi di saat-saat kebanyakan manusia tenggelam dalam kelalaian dan penyimpangan-penyimpangan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ibadah di saat fitnah berkecamuk laksana berhijrah kepadaku.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>; <em>Masalah Ilmu</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa ilmu merupakan pintu menuju kebahagiaan, keselamatan, dan kemuliaan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka akan dipahamkan oleh-Nya dalam urusan agama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Beliau juga bersabda, <em>“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu [agama] niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu hendaknya kita bersemangat dalam menuntut ilmu ini. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> pernah mengatakan, <em>“Barangsiapa yang menuntut ilmu dalam rangka menghidupkan ajaran Islam, maka dia termasuk Shiddiqin dan derajatnya adalah sesudah derajat kenabian.” </em>Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> juga berkata, <em>“Manusia lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dalam sehari cukup sekali atau dua kali. Adapun ilmu, ia dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.”</em></p>
<p><strong>Keempat</strong>; <em>Masalah Hidayah</em></p>
<p>Kita semua mengetahui betapa butuhnya kita terhadap hidayah dan bimbingan dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Sehingga setiap hari kita memohon kepada-Nya untuk ditunjuki jalan yang lurus. Hidayah ini mencakup petunjuk berupa ilmu dan amalan. Karena orang yang berjalan di atas jalan yang lurus adalah yang memadukan antara ilmu dan amalan. Bukan sekedar berilmu tapi tidak beramal. Bukan juga beramal namun tanpa ilmu.</p>
<p>Oleh sebab itu kita harus menjaga nikmat hidayah ini dengan baik. Jangan sampai Allah mencabut hidayah ini dari dalam diri kita akibat kelalaian dan kesalahan kita sendiri. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tatkala mereka menyimpang maka Allah pun simpangkan hati mereka.”</em> (<strong>QS. ash-Shaff: 5</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka dia akan mendapatkan penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya di hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata: Wahai Rabbku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku bisa melihat. Allah menjawab; Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami akan tetapi kamu justru melupakannya, maka demikian pula pada hari ini kamu dilupakan.”</em> (<strong>QS. Thaha: 124-125</strong>)</p>
<p><strong>Kelima</strong>; <em>Masalah Dakwah</em></p>
<p>Kita semua juga mengetahui bahwa dakwah merupakan tugas agung para pengikut setia Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dakwah memiliki keutamaan dan urgensi yang sangat besar. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah di atas ilmu yang nyata, aku dan orang-orang yang mengikutiku, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 108</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu ilmu yang telah kita dapatkan tidak boleh disembunyikan. Hendaknya kita ikut berpartisipasi dalam menyebarluaskannya. Terlebih lagi di masa seperti masa kita sekarang ini tatkala kebatilan dan kemaksiatan begitu gencarnya dipromosikan melalui segala sarana, baik di kota maupun di desa, di kalangan orang tua maupun anak muda. Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> pernah berkata, <em>“Ilmu itu tidak bisa ditandingi oleh apapun, yaitu bagi orang yang niatnya benar.”</em> Ketika ditanya apa maksud niat yang benar itu, beliau menjawab, <em>“Yaitu belajar dalam rangka menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan dari orang lain.”</em></p>
<p><strong>Keenam</strong>; <em>Masalah Sabar</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa untuk menuntut ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya tentu saja dibutuhkan kesabaran. Demikian juga untuk menjauhi larangan-larangan, menjalankan perintah, serta tatkala mengalami musibah. Maka hendaknya setiap kita menggembleng diri dengan kesabaran. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Dengan bekal kesabaran dan keyakinan, maka akan diraih kepemimpinan dalam urusan agama.” </em></p>
<p>Para ulama kita juga menegaskan, bahwa sabar laksana kepala bagi anggota badan. Apabila kesabaran itu hilang maka hilanglah keimanan. Sabar ini sangat dibutuhkan. Lihatlah kesabaran para ulama kita dalam menuntut ilmu hingga harus merasakan haus dan lapar, jauh dari sanak famili, harus meninggalkan tanah kelahiran mereka, bahkan ada di antara mereka yang rela menjual pakaian dan bahkan rumahnya demi menuntut ilmu.</p>
<p>Demikian juga lihatlah kesabaran mereka dalam menghadapi berbagai ujian dan tekanan yang datang dari musuh-musuh dakwahnya. Tidaklah itu semua mereka lakukan kecuali karena keyakinan mereka akan kebenaran janji Allah <em>ta&#8217;ala</em> kepada orang-orang yang sabar. Allah tidak akan menyia-nyiakan jerih payah mereka, Allah tidak akan menyia-nyiakan keimanan dan kesabaran mereka selama hidup di dunia&#8230; Karena Allah akan membalasnya dengan surga yang kenikmatannya belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia&#8230; Sebuah kenikmatan yang sekali celupan di dalamnya bisa melupakan segala kesusahan dan kerepotan yang pernah dialaminya selama hidup di dunia&#8230;</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>; <em>Masalah Akidah</em></p>
<p>Kita semua telah mengetahui keutamaan dan urgensi akidah bagi individu dan masyarakat. Sebab akidah yang benar merupakan kunci keselamatan pada hari pembalasan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari itu [hari kiamat] tidaklah berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong>). Allah pun menjadikan dakwah kepada akidah yang benar sebagai pondasi dan ruh dakwah para nabi dan rasul. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu selayaknya setiap pribadi muslim dan muslimah memiliki perhatian yang besar terhadap masalah akidah, memahaminya dengan benar dan berusaha mendakwahkannya kepada umat setelah berusaha menanamkannya di dalam dirinya sendiri. Janganlah kita meremehkan masalah akidah, karena ia adalah pondasi dan ruh agama ini. Akidah tidak hanya dibutuhkan di permulaan, di tengah-tengah, ataupun di akhir saja, namun dia dibutuhkan di semua waktu dan di segala kondisi. Inilah ibadah hati yang tidak boleh terlepas barang sedetik pun dari hati setiap insan.</p>
<p>Kita harus ingat, bahwa bodoh dan lalai terhadap akidah adalah gerbang kehancuran. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman tentang bahaya penyimpangan akidah ini (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.”</em> (<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 72</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 48</strong>)</p>
<p><strong>Kedelapan</strong>; <em>Masalah Bahasa Arab</em></p>
<p>Kita semua juga telah mengetahui bahwa ayat-ayat dan hadits-hadits ditulis dalam bahasa arab, demikian juga kitab-kitab para ulama kita. Maka menjadi kebutuhan bagi kita semua untuk bisa memahami ayat-ayat, hadits-hadits serta keterangan para ulama dengan benar. Oleh sebab itu alangkah pentingnya bagi setiap penuntut ilmu untuk mempelajari bahasa ini. Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Pelajarilah bahasa arab, karena ia adalah bagian penting dari agama kalian.” </em>Dengan memahami bahasa arab, maka seorang penuntut ilmu akan dapat membaca kitab-kitab tafsir, hadits dan fikih serta kitab-kitab ushul yang akan sangat berguna bagi pembentukan pribadi muslim yang cerdas dan bermanfaat bagi umat manusia.</p>
<p><strong>Kesembilan</strong>; <em>Masalah Waktu</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa waktu, umur dan kesempatan merupakan kenikmatan yang tidak ternilai harganya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada dua nikmat yang banyak orang tertipu olehnya; yaitu kesehatan dan waktu luang.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>). Oleh sebab itu, Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga bersumpah dengan waktu. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi waktu. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu semestinya kita gunakan waktu ini sebaik-baiknya demi kebahagiaan hidup kita di dunia maupun di akhirat. Sebab kita juga tidak tahu kapan kita akan mati dan dalam keadaan apa kita mati. Yang bisa kita lakukan adalah beramal dan beramal. Hasan al-Bashri <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah kumpulan hari. Apabila berlalu hari itu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.” </em>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpesan, <em>“Bersegeralah dalam beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Pada waktu pagi seorang beriman namun di sore hari menjadi kafir, atau pada sore hari dia beriman dan esok harinya kafir, dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mungkin ini saja sebagian catatan yang rasanya perlu kami sampaikan sebagai pengingat bagi diri kami dan pembaca sekalian, mengingat pentingnya hal ini untuk disampaikan dan demikian banyaknya perkara yang menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka.</p>
<p>Tulisan ini terutama kami tujukan kepada segenap generasi muda yang telah diberikan kenikmatan oleh Allah berupa akal pikiran dan kesempatan serta kekuatan, agar mereka tidak menyia-nyiakan berbagai kesempatan baik yang telah dibukakan untuk mereka.</p>
<p>Semoga yang singkat ini bermanfaat, <em>wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em>.</p>
<p>* Tulisan ini disusun dengan saran dari salah seorang teman -<em>semoga Allah senantiasa menjaganya</em>-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harga Emas Sepenuh Bumi</title>
		<link>http://abumushlih.com/harga-emas-sepenuh-bumi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/harga-emas-sepenuh-bumi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 02:26:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Azab]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Miskin]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Siksaan]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2298</guid>
		<description><![CDATA[Emas 1 gram berapa harganya? Kalau bumi ini ditimbang berapa gram beratnya?! Kalau ada emas sepenuh isi bumi dijual harganya kira-kira berapa ya? Wah&#8230; pasti mahal sekali, bisa untuk bersenang-senang tujuh turunan itu&#8230;! Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari &#8230; <a href="http://abumushlih.com/harga-emas-sepenuh-bumi.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fharga-emas-sepenuh-bumi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fharga-emas-sepenuh-bumi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Emas 1 gram berapa harganya? Kalau bumi ini ditimbang berapa gram beratnya?! Kalau ada emas sepenuh isi bumi dijual harganya kira-kira berapa ya? Wah&#8230; pasti mahal sekali, bisa untuk bersenang-senang tujuh turunan itu&#8230;!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><span id="more-2298"></span>Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kelak pada hari kiamat orang kafir akan didatangkan lalu ditanyakan kepadanya, &#8216;Bagaimana menurutmu seandainya kamu mempunyai emas sepenuh isi bumi apakah kamu mau menebus (siksaan) dengannya?&#8217;. Dia menjawab, &#8216;Iya tentu saja.&#8217; Maka dikatakan kepadanya, &#8216;Sesungguhnya dahulu -di dunia- kamu diminta sesuatu yang lebih mudah daripada itu [akan tetapi kamu enggan dan tetap berbuat syirik].&#8217;.”</em> (<strong>HR. Bukhari [6538] dan Muslim [2805]</strong>)</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau bercerita bahwa suatu ketika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melewati pasar melalui sebagian jalan dari arah pemukiman, sementara orang-orang [para sahabat] menyertai beliau. Lalu beliau melewati bangkai seekor kambing yang telinganya cacat (berukuran kecil). Beliau pun mengambil kambing itu seraya memegang telinga nya. Kemudian beliau berkata, <em>“Siapakah di antara kalian yang mau membelinya dengan harga satu dirham?”</em>. Mereka menjawab, <em>“Kami sama sekali tidak berminat untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?”</em>. Beliau kembali bertanya, <em>“Atau mungkin kalian suka kalau ini gratis untuk kalian?”</em>. Mereka menjawab, <em>“Demi Allah, seandainya hidup pun maka binatang ini sudah cacat, karena telinganya kecil. Apalagi kambing itu sudah mati?”</em> Beliau pun bersabda, <em>“Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian.”</em> (<strong>HR. Muslim [2957]</strong>)</p>
<p>Kedua hadits di atas menerangkan kepada kita betapa tidak ada nilainya kekayaan dunia semata jika  tidak disertai dengan keimanan. Oleh sebab itu sebanyak apa pun harta yang dimiliki oleh seseorang jika tidak dilandasi dengan keimanan kepada Allah dan rasul-Nya, maka di akherat harta itu tidak bermanfaat  bagi pemiliknya. Sebagaimana Allah <em>ta&#8217;ala</em> tegaskan hal ini dalam ayat (yang artinya), <em>“Pada hari itu -kiamat- tidak bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara: 88-89</strong>).</p>
<p>Hati yang selamat itu adalah hati yang beriman dengan sebenarnya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang kafir itu seandainya mereka memiliki segala isi bumi ini seluruhnya dan bahkan ditambah yang semisalnya demi menebus siksaan pada hari kiamat maka tidak akan diterima, dan mereka layak untuk menerima siksaan yang sangat pedih.”</em> (<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 36</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan meninggal dalam keadaan kafir maka tidak akan diterima dari salah seorang mereka [tebusan atas siksa yang mereka terima] meskipun berupa emas sepenuh isi bumi kalaulah mereka mau menebus dengannya. Mereka itu adalah orang-orang yang layak menerima siksaan yang pedih dan tidak ada bagi mereka sedikit pun penolong.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 91</strong>)</p>
<p>Maka keimanan yang benar adalah sumber kebahagiaan dan keselamatan meskipun ekonomi pas-pasan atau bahkan berada di bawah garis kemiskinan. Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Aku pernah melihat surga, ternyata di dalamnya dihuni kebanyakan oleh orang-orang miskin. Dan aku pun melihat neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.”</em> (<strong>HR. Muslim [2737]</strong>)</p>
<p>Kesulitan dan kesedihan dunia seperti apa pun yang dirasakan oleh orang-orang miskin yang menjaga keimanan mereka akan terlupakan hanya dengan satu celupan kenikmatan surga. Sebaliknya, selezat apa pun kenikmatan duniawi yang dirasakan oleh orang kafir di dunia, maka akan terlupakan dengan satu celupan siksa di neraka, <em>na&#8217;udzu billahi min dzalik</em>&#8230; Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kelak pada hari kiamat akan didatangkan penduduk neraka yang pernah merasakan kenikmatan paling lezat selama di dunia lalu dia dicelupkan di neraka sekali celupan. Kemudian ditanyakan kepadanya, &#8216;Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?&#8217;. Maka dia menjawab, &#8216;Sama sekali tidak pernah, wahai Tuhanku.&#8217; Dan juga didatangkan penduduk surga yang hidupnya paling susah selama di dunia, lalu dicelupkan sekali celupan di dalam surga. Kemudian ditanyakan kepadanya, &#8216;Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesusahan? Apakah kamu pernah merasakan kesulitan?&#8217;. Maka dia menjawab, &#8216;Sama sekali tidak pernah, wahai Tuhanku. Aku belum pernah merasakan kesusahan dan belum pernah melihat kesulitan.&#8217;.”</em> (<strong>HR. Muslim [2807]</strong>)</p>
<p>Hal ini menunjukkan kepada kita betapa agungnya kesabaran dan betapa besar ganjarannya di sisi Allah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu akan disempurnakan balasan amalnya tanpa hitungan.”</em> (<strong>QS. az-Zumar: 10</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”</em> (<strong>QS. al-Anfal: 46</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Allah mencintai orang-orang yang sabar.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 146</strong>)</p>
<p>Kemiskinan dan kesulitan perekonomian memang tidak menyenangkan, akan tetapi jika seorang hamba bersabar menghadapinya dan tetap menjaga nilai-nilai keimanan yang ada di dalam dirinya, niscaya kesabaran itu akan mengantarkannya menuju pintu surga. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Surga itu diliputi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan dan neraka itu diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan (nafsu).”</em> (<strong>HR. Muslim [2822]</strong>)</p>
<p>Imam Muslim juga meriwayatkan dari Shuhaib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak dijumpai kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mengalami kesenangan, dia pun bersyukur. Maka hal itu adalah baik untuknya. Dan apabila dia mengalami kesusahan, dia pun bersabar. Maka hal itu pun baik untuknya.”</em> (<strong>HR. Muslim [2999]</strong>)</p>
<p>Apabila ternyata kekayaan materi semata sama sekali tidak menjanjikan kebahagiaan, bahkan terkadang kemiskinan jauh lebih menyelamatkan dan mengantarkan menuju kebahagiaan yang sejati, tentu saja seorang hamba tidak akan lagi memelihara sifat tamak dan rakus kepada dunia di dalam hatinya. Akan tetapi kenyataannya masih banyak juga orang yang lupa atau pura-pura lupa tentang hakekat kesenangan dunia yang fana ini. Sehingga mereka pun rela menjual agama demi mencicipi kesenangan dunia yang tak seberapa.</p>
<p>Sungguh indah perkataan seorang penyair,</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cendekia, </em></p>
<p><em>Mereka ceraikan dunia dan takut akan fitnahnya. </em></p>
<p><em>Mereka perhatikan apa yang ada di sana. </em></p>
<p><em>Tatkala mereka sadar bahwa dunia bukanlah tempat tinggal sebenarnya. </em></p>
<p><em>Maka mereka jadikan dunia ini sebagai samudera, </em></p>
<p><em>dan mereka gunakan amal salih sebagai perahu yang berlayar di atasnya.”</em></p>
<p>(lihat Mukadimah <em>Riyadhus Shalihin</em> oleh Imam an-Nawawi)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/harga-emas-sepenuh-bumi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Tengah Era Fitnah dan Kelalaian</title>
		<link>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 03:42:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2286</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai bentuk ujian bagi segenap insan. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada rasul pembawa rahmat bagi seru sekalian alam. Amma ba&#8217;du. Masa-masa yang penuh dengan kekacauan (baca: fitnah) dan kelalaian adalah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fdi-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai bentuk ujian bagi segenap insan. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada rasul pembawa rahmat bagi seru sekalian alam. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2286"></span> Masa-masa yang penuh dengan kekacauan (baca: fitnah) dan kelalaian adalah masa-masa yang membutuhkan kesiap-siagaan pada diri setiap insan. Tidakkah kita ingat bersama, <em>wahai saudaraku semoga Allah menjagaku dan menjagamu</em>&#8230; bahwa menjadi orang yang istiqomah di atas ketaatan di kala-kala fitnah merajalela adalah sebuah keutamaan yang sangat besar&#8230;</p>
<p>Dari Ma&#8217;qil bin Yasar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Beribadah di kala fitnah berkecamuk laksana berhijrah kepadaku.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Menjadi orang yang teguh di atas kebenaran di saat manusia tenggelam dalam kesesatan jelas merupakan sebuah keutamaan. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang asing itu? Dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjelaskan bahwa mereka itu adalah, <em>“Orang-orang yang berbuat baik tatkala orang-orang lain berbuat kerusakan.”</em> (<strong>HR. Thabrani</strong>, disahihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani)</p>
<p>Ingatkah engkau <em>wahai saudaraku</em>&#8230; bahwa kebaikan paling utama yang saat ini banyak dilalaikan oleh manusia adalah tauhid, iman dan keikhlasan?</p>
<p>Tentang keutamaan tauhid, maka kita semua ingat bahwa tauhid inilah yang menjadi tujuan diciptakannya seluruh jin dan manusia. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>QS. adz-Dzariyat: 56</strong>). Para ulama salaf menafsirkan bahwa makna ibadah di sini adalah tauhid&#8230;</p>
<p>Lihatlah umat manusia yang ada&#8230; betapa banyak di antara mereka yang melalaikan tauhid! Sehingga mereka terjerumus dalam berbagai perbuatan syirik&#8230; Entah itu syirik besar maupun kecil, entah itu yang tampak maupun yang tersembunyi&#8230; Padahal, kita semua tahu betapa besar bahaya dosa yang satu ini, sampai-sampai Allah mengatakan (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik, yaitu bagi orang-orang yang Allah kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 48</strong>)</p>
<p>Tentang pentingnya keimanan, maka terlalu banyak dalil yang menunjukkan betapa besar peranan iman bagi kehidupan setiap insan. Di antaranya Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 82</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya semua manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong>)</p>
<p>Lihatlah umat manusia yang ada di sekitar kita&#8230; betapa banyak orang yang rela menjual keimanannya demi mendapatkan kesenangan dunia yang hanya sementara! Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bersegeralah dalam melakukan amalan-amalan sebelum datangnya fitnah-fitnah yang seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang masih beriman namun di sore harinya dia menjadi kafir, atau pada sore hari dia beriman namun di pagi harinya dia menjadi kafir. Dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Adapun, tentang keagungan ikhlas&#8230; maka banyak sekali dalil yang menunjukkan hal itu kepada kita. Di antaranya, Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Bayyinah: 5</strong>). Dari Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya setiap amal itu diukur dengan niatnya. Dan setiap orang akan diberi balasan seperti apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, niscaya hijrahnya akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena motivasi dunia atau karena keinginan menikahi seorang wanita, maka hijrahnya hanya akan mendapatkan balasan seperti apa yang dia niatkan.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Lihatlah, berbagai fenomena yang ada di tengah umat manusia&#8230; Betapa banyak indikasi yang mencerminkan rusaknya nilai-nilai keikhlasan ini di dalam aktifitas hidup mereka. Penyakit riya&#8217; dan ujub seolah telah menjadi wabah yang merambah kemana-mana&#8230; Orang yang sholat, orang yang bersedekah, orang yang berdakwah, orang yang mengajarkan kebaikan&#8230; tidaklah ada satu celah kebaikan kecuali setan berusaha untuk membidikkan anak panah ujub dan riya&#8217; ini kepadanya&#8230;</p>
<p>Oleh sebab itu, Allah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa membaca <em>Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in</em> di dalam sholat kita&#8230; Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan -menukil keterangan gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah- bahwa <em>iyyaka na&#8217;budu</em> merupakan senjata untuk melawan penyakit riya&#8217;, sedangkan <em>iyyaka nasta&#8217;in</em> merupakan senjata untuk melumpuhkan penyakit ujub&#8230;</p>
<p><em>Saudaraku</em>.., semoga Allah meneguhkan kita di atas kebenaran.. Tauhid, iman dan keikhlasan inilah yang menjadi perisai hidup seorang muslim. Tidak ada nilainya harta dan keturunan apabila tidak diiringi dengan tauhid, iman dan keikhlasan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari -kiamat- tidaklah berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong>)</p>
<p>Tidaklah seorang hamba mendapatkan kemuliaan derajat di sisi Allah kecuali karena tauhid, iman dan keikhlasan yang mewarnai tindak-tanduk dan perilakunya. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada tujuh golongan yang diberi naungan oleh Allah pada hari tiada lagi naungan kecuali naungan dari-Nya: [1] Seorang pemimpin yang adil, [2]  pemuda yang tumbuh dalam ketekunan beribadah kepada Allah, [3] lelaki yang hatinya bergantung di masjid, [4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka bertemu dan berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak berbuat keji oleh seorang wanita berkedudukan dan cantik namun ia mengatakan, &#8216;Aku takut kepada Allah&#8217;, [6] orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sepi lalu berlinanglah air matanya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Maka di masa-masa yang penuh dengan fitnah dan kelalaian semacam ini setiap muslim harus berjuang mempertahankan tauhid, keimanan dan keikhlasan yang ada di dalam dirinya. Semoga Allah <em>ta&#8217;ala</em> menunjuki kita kepada kebenaran dan meneguhkan kita di atasnya, dan semoga Allah menunjuki kita kebatilan dan menjauhkan kita darinya. <em>Wallahul musta&#8217;an</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/di-tengah-era-fitnah-dan-kelalaian.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Donasi Program Recovery Merapi (14/2/2011)</title>
		<link>http://abumushlih.com/laporan-donasi-program-recovery-merapi-1422011.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/laporan-donasi-program-recovery-merapi-1422011.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 05:59:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Cangkringan]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[Erupsi]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Recovery]]></category>
		<category><![CDATA[Relawan]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[YPIA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2225</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka. Amma ba&#8217;du. Kaum muslimin.. semoga senantiasa dirahmati Allah&#8230; Tidak terasa telah sekian lama program recovery Merapi digulirkan. Semenjak bulan Januari 2011 hingga &#8230; <a href="http://abumushlih.com/laporan-donasi-program-recovery-merapi-1422011.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flaporan-donasi-program-recovery-merapi-1422011.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flaporan-donasi-program-recovery-merapi-1422011.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada  Rasulullah, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka. <em>Amma  ba&#8217;du</em>.</p>
<p>Kaum muslimin.. <em>semoga senantiasa dirahmati Allah</em>&#8230;</p>
<p><span id="more-2225"></span>Tidak  terasa telah sekian lama program recovery Merapi digulirkan. Semenjak  bulan Januari 2011 hingga pertengahan Februari 2011 ini <strong>Posko Dakwah dan  Sosial Al-Atsari</strong> masih terus bergerak untuk menebarkan dakwah dan  menyalurkan bantuan para dermawan ke lereng Merapi. Kegiatan dakwah  berupa pengajian maupun penyaluran bantuan -alhamdulillah- masih tetap  berjalan di tengah terpaan musibah yang sampai saat ini masih belum  berhenti. Erupsi Merapi yang memuntahkan awan panas dan lontaran batu  mungkin sudah banyak sekali berkurang, atau bahkan hampir tiada. Akan  tetapi banjir lahar dingin dan musibah kehilangan rumah dan pekerjaan  tetap saja masih menghantui. <em>Hanya kepada Allah kita berharap dengan  musibah ini dapat mempertebal iman dan takwa kita kepada-Nya, bukan  justru menjauhkan dari ibadah kepada-Nya semata&#8230;</em></p>
<p>Maka di  saat-saat semacam ini bantuan moril berupa nasehat dan wejangan serta  bimbingan rohani adalah sesuatu yang sangat berarti bagi para pengungsi  secara khusus dan korban bencana Merapi secara umum. Menyaksikan  puing-puing rumah yang telah luluh lantak bukan pemandangan yang asing  lagi bagi para relawan yang rajin menyambangi lereng Merapi. Seolah-olah  sebelumnya tidak ada pemukiman dan tak ada denyut nadi perekonomian di  tanah ini. Karena yang tampak adalah bebatuan, pasir, pohon-pohon yang  tumbang, rumput-rumputan, sebagian jalan aspal pun seolah tak ada karena  telah tertimbun material ratusan meter jaraknya. Perjalanan menyusuri  lereng Merapi dari bantaran Sungai Gendol di desa Argomulyo -yang  berjarak 12  Km dari puncak Merapi- sampai dusun Kopeng, Jambu, Petung  dan Kaliadem -yang berjarak 4-6 Km dari puncak Merapi- sudah  berulangkali kami lalui. Nestapa pengungsi seolah senantiasa menyelimuti  setiap perjalanan relawan di lereng Merapi.</p>
<p>Beberapa waktu lalu,  kami bertemu dengan Bapak Suwarno yang dahulunya menetap di dusun  Petung yang kini telah musnah akibat erupsi. Beliau adalah sosok  bapak-bapak yang cukup arif dalam menyikapi musibah ini. Deraan musibah  yang bertubi-tubi sehingga memaksa diri dan keluarganya untuk mengungsi  kesana kemari tidak melunturkan keyakinannya kepada Rabb penguasa langit  dan bumi. Sholat berjama&#8217;ah di masjid rajin beliau jalani. Di antara  sekian banyak jama&#8217;ah Sholat Jum&#8217;at maka beliaulah orang pertama yang  hadir di masjid An-Nur Pagerjurang; salah satu posko tempat kami  menggerakkan kegiatan pengajian dan khutbah di lereng Merapi. Beliau  juga menceritakan, bahwa masih banyak saudara-saudaranya -sesama muslim-  di lereng Merapi ini yang tak kunjung menyadari apa hikmah yang  tersimpan di balik musibah ini. Inilah yang semakin mendorong kami untuk  ikut serta dalam proyek dakwah dan kemanusiaan ini. Sedikit demi  sedikit menyelami kehidupan para pengungsi dan memberikan dorongan  spiritual bagi mereka untuk bangkit dan kembali menata diri&#8230;</p>
<p>Barak  pengungsian sampai saat ini masih menjadi tempat berteduh bagi para  pengungsi korban erupsi. Walaupun ada juga sebagian dari mereka yang  tidak mau tidur di pengungsian. Mengapa? Karena masih belum bisa  menerima kenyataan bahwa rumahnya telah hancur dan tiada&#8230;. Tidur di  ruang kelas SMK bersama pengungsi yang lain sudah menjadi sajian hidup  mereka sehari-hari. Listrik mati akibat guyuran hujan dan angin kencang  yang merobohkan pepohonan dan memutuskan kabel jaringan sudah biasa  mereka alami. Sebagian jembatan yang putus akibat lahar dingin hingga  hari ini pun belum bisa tersambung lagi. Dalam situasi rawan semacam ini  pemanfaatan HT (Handy Talky) sebagai jalur komunikasi penanganan  musibah sangat penting bagi relawan maupun pengungsi. Selain itu,  dikarenakan sumber air yang telah terputus alirannya akibat erupsi maka  penduduk pun mengalami kesulitan air bersih untuk keperluan sehari-hari.  Alhamdulillah pasokan air dari PMI masih setia melayani masyarakat di  lereng Merapi. Entah, sampai kapan kondisi ini akan berlangsung&#8230; <em>Hanya  Allah yang mengetahuinya</em>&#8230;</p>
<p>Dengan senantiasa memohon kepada  Allah ta&#8217;ala, Posko Dakwah dan Sosial Al-Atsari berusaha untuk ikut  meringankan musibah yang melanda. Sampai saat ini partisipasi kaum  muslimin dalam menjalankan program recovery ini masih terus menyertai,  <em>segala puji bagi Allah yang atas karunia dari-Nya segala kebaikan bisa  terlaksana</em>&#8230;</p>
<p>Berikut ini kami laporkan, bahwa selama program recovery:</p>
<p>Total <strong>pengeluaran</strong> donasi program recovery sejak <strong>1 Januari 2011 &#8211; 14 Februari 2011</strong> adalah sebesar:<br />
<strong>Rp.33.067.800,-</strong></p>
<p>Rincian pengeluaran bisa diunduh di tautan berikut ini:<br />
<a rel="nofollow" href="http://www.archive.org/download/LaporanPengeluaranDonasiRecoveryMerapiYpia14Febr2011/LaporanPengeluaranProgramRecoveryBencanaMerapi2011.14Feb2011.pdf" target="_blank">http://www.archive.org/download/LaporanPengeluaranDonasiRecoveryMerapiYpia14Febr2011/LaporanPengeluaranProgramRecoveryBencanaMerapi2011.14Feb2011.pdf</a></p>
<p>Total <strong>pemasukan</strong> donasi program recovery sejak <strong>1 Januari 2011 &#8211; 14 Februari 2011</strong> adalah sebesar:<br />
<strong>Rp.39.151.350,-</strong></p>
<p>Rincian pemasukan bisa diunduh di tautan berikut ini:<br />
<a rel="nofollow" href="http://www.archive.org/download/LaporanDonasiRecoveryMerapiYpia14Febr2011/LaporanPemasukanProgramRecoveryBencanaMerapi2011.14-2.pdf" target="_blank">http://www.archive.org/download/LaporanDonasiRecoveryMerapiYpia14Febr2011/LaporanPemasukanProgramRecoveryBencanaMerapi2011.14-2.pdf</a></p>
<p>Sebagai tambahan informasi, bahwa selama <strong>tanggap darurat Merapi</strong>:</p>
<p>Total <strong>pemasukan</strong> donasi program tanggap merapi sejak <strong>29 Oktober 2010 &#8211; 31 Desember 2010</strong> adalah sebesar:<br />
<strong>Rp.239.762.854,-</strong></p>
<p>Rincian pemasukan bisa diunduh di tautan berikut ini:<br />
<a rel="nofollow" href="http://www.archive.org/download/LaporanDonasiMerapi31Des2010/LaporanPemasukanProgramTanggapBencanaMerapi2010.pdf" target="_blank">http://www.archive.org/download/LaporanDonasiMerapi31Des2010/LaporanPemasukanProgramTanggapBencanaMerapi2010.pdf</a></p>
<p>Total <strong>pengeluaran</strong> donasi program tanggap merapi sejak   <strong>29 Oktober 2010 &#8211; 31 Desember 2010</strong> adalah sebesar:<br />
<strong>Rp.218.225.002,-</strong></p>
<p>Rincian pengeluaran bisa diunduh di tautan berikut ini:<br />
<a rel="nofollow" href="http://www.archive.org/download/LaporanPengeluaranDonasiMerapi31Des2010/LaporanPengeluaranProgramTanggapBencanaMerapi2010.pdf" target="_blank">http://www.archive.org/download/LaporanPengeluaranDonasiMerapi31Des2010/LaporanPengeluaranProgramTanggapBencanaMerapi2010.pdf</a></p>
<p>Inilah  sekilas laporan yang bisa kami sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita  semua. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa  shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</em></p>
<p>Yogyakarta, 16/2/2011<br />
<strong>Posko Dakwah dan Sosial Al-Atsari</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/laporan-donasi-program-recovery-merapi-1422011.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agenda Tim Recovery Masjid Al-Atsari (Januari 2011)</title>
		<link>http://abumushlih.com/agenda-tim-recovery-masjid-al-atsari.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/agenda-tim-recovery-masjid-al-atsari.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 13:44:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Bantuan]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Cangkringan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[Erupsi]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Pengungsi]]></category>
		<category><![CDATA[Relawan]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2160</guid>
		<description><![CDATA[A. Pengajian Rutin Untuk Pengungsi Waktu: Ba&#8217;da Maghrib &#8211; Isyak Jadwal: Senin, Rabu, Jum&#8217;at Tempat: Masjid Barak SMK Cangkringan Pemateri: Asatidz Islamic Center Bin Baz, Ma&#8217;had Jamilurrahman, dsb Fasilitas: Makan malam Sifat: Terbuka untuk umum, putra-putri B. Penyaluran Bantuan Logistik &#8230; <a href="http://abumushlih.com/agenda-tim-recovery-masjid-al-atsari.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fagenda-tim-recovery-masjid-al-atsari.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fagenda-tim-recovery-masjid-al-atsari.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div>
<div>
<p><strong> A. Pengajian Rutin Untuk Pengungsi </strong></p>
<p>Waktu: Ba&#8217;da Maghrib &#8211; Isyak<br />
Jadwal: Senin, Rabu, Jum&#8217;at<br />
Tempat: Masjid Barak SMK Cangkringan<br />
Pemateri: Asatidz Islamic Center Bin Baz, Ma&#8217;had Jamilurrahman, dsb<br />
Fasilitas: Makan malam<br />
Sifat: Terbuka untuk umum, putra-putri</p>
<p><span id="more-2160"></span><strong>B. Penyaluran Bantuan Logistik dan Pengajian Umum </strong></p>
<p>Waktu: Insidental<br />
Jadwal: Setiap pekan sekali<br />
Tempat: Menyesuaikan, di wilayah Kec. Cangkringan dan sekitarnya yang terdampak erupsi<br />
Pemateri: Asatidz Islamic Center Bin Baz, Ma&#8217;had Jamilurrahman, dsb<br />
Fasilitas: Bingkisan untuk masjid, jama&#8217;ah, snack<br />
Sifat: Terbuka untuk umum, putra-putri<br />
Sumber Logistik: Posko Islamic Center Bin Baz</p>
<p><strong>C. Penyaluran Bantuan Buku Agama </strong></p>
<p>Waktu: Insidental<br />
Jadwal: Minimal sekali sepekan, mengikuti jadwal pengajian umum<br />
Tempat: Menyesuaikan, di wilayah Kec. Cangkringan dan sekitarnya yang terdampak erupsi<br />
Sifat: Terbuka untuk umum, putra-putri</p>
<p><strong>D. Pengajian Penggalangan Dana </strong></p>
<p>Waktu: Insidental<br />
Jadwal: Minimal sekali sebulan<br />
Tempat: Menyesuaikan, di wilayah kampus UGM atau tempat lainnya</p>
<p><strong>E. Buletin Dakwah Untuk Korban Erupsi Merapi </strong></p>
<p>Waktu: Insidental<br />
Jadwal: Minimal sekali sebulan<br />
Sasaran: Kaum muslimin di Kec. Cangkringan dan sekitarnya yang terdampak erupsi</p>
<p><strong>F. Kerja Bakti Pembersihan </strong></p>
<p>Waktu: Insidental<br />
Jadwal: Minimal dua pekan sekali<br />
Tempat: Menyesuaikan, di wilayah Kec. Cangkringan dan sekitarnya yang terdampak erupsi<br />
Peserta: Relawan dari berbagai tempat<br />
Sifat: Khusus putra</p>
<p><strong>G. Penghijauan Bantaran Sungai Gendol dan Opak </strong></p>
<p>Waktu: Insidental<br />
Jadwal: Minimal sekali<br />
Tempat: Menyesuaikan, di wilayah Kec. Cangkringan dan sekitarnya yang terdampak erupsi<br />
Peserta: Relawan dari berbagai tempat<br />
Sifat: Khusus putra</p>
<p><strong>H. Penyaluran Bantuan Untuk Renovasi Masjid </strong></p>
<p>Waktu: Insidental<br />
Jadwal: Minimal sekali sebulan<br />
Tempat: Menyesuaikan, di wilayah Kec. Cangkringan dan sekitarnya yang terdampak erupsi</p>
<p><strong>I. Penyaluran Bantuan Untuk Pemulihan Perekonomian Masyarakat </strong></p>
<p>Waktu: Insidental<br />
Jadwal: Minimal sekali sebulan<br />
Tempat: Menyesuaikan, di wilayah Kec. Cangkringan dan sekitarnya yang terdampak erupsi</p>
<p>Semoga Allah memberkahi upaya kita dalam meringankan beban saudara-saudara kita&#8230;﻿</p>
<p><em><strong>Anda Ingin Berpartisipasi?</strong></em></p>
<p>Bantuan dapat disalurkan ke:</p>
<p><strong>Rekening BNI UGM Yogyakarta</strong><br />
Nomor rekening 0125792540 a.n. Devi Novianti</p>
<p><strong>Rekening Bank Syari’ah Mandiri</strong> Cabang 094 Kaliurang Yogyakarta<br />
Nomor rekening 0947008920 a.n. Ginanjar Indrajati Bintoro</p>
<p><strong>Rekening Bank Mandiri</strong> Cabang Yogyakarta Gedung Magister 13705<br />
Nomor rekening 137-00-065.4879-2 a.n. Bintoro</p>
<p><strong>Rekening BCA</strong><br />
Nomor rekening 0130537146 a.n. Hanif Nur Fauzi</p>
<p>Bagi anda yang telah berpartisipasi, harap mengkonfirmasikan diri kepada kami melalui sms dengan format sebagai berikut:</p>
<p><strong>Nama/Alamat/TanggalKirim/JumlahUang/RekeningTujuan/Merapi</strong></p>
<p>Ke nomor :<br />
<strong>0852 5205 2345</strong> (Wiwit Hardi P.)<br />
atau<br />
<strong>0856 4305 2159</strong> (Nizamul Adli)</p>
<p>YM: ypiapeduli@yahoo.com</p>
<p>Atas partisipasi dan perhatian anda kami ucapkan <em>jazaakumullahu khairaan</em>.</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.muslim.or.id/" target="_blank">www.muslim.or.id</a><br />
<a rel="nofollow" href="http://www.ypia.or.id/" target="_blank">www.ypia.or.id</a></p>
<p><em><strong>Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah</strong></em></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/agenda-tim-recovery-masjid-al-atsari.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentara Pun Bersujud Kepada-Nya</title>
		<link>http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Dec 2010 11:52:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Pengungsi]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[TNI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2144</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari ini, musholla peduli bencana Merapi di sebelah utara Stadion Maguwoharjo kedatangan jama&#8217;ah yang istimewa. Mereka adalah para tentara, prajurit-prajurit bangsa yang siap siaga mengerahkan tenaganya untuk membantu para pengungsi yang tengah dirundung duka akibat musibah erupsi Merapi. Kehilangan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftentara-pun-bersujud-kepada-nya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftentara-pun-bersujud-kepada-nya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div>
<div>
<p>Beberapa hari ini,  musholla peduli bencana Merapi di sebelah utara Stadion Maguwoharjo  kedatangan jama&#8217;ah yang istimewa. Mereka adalah para tentara,  prajurit-prajurit bangsa yang siap siaga mengerahkan tenaganya untuk  membantu para pengungsi yang tengah dirundung duka akibat musibah erupsi  Merapi. Kehilangan rumah, kehilangan harta, kehilangan sanak saudara,  kehilangan usaha, kehilangan ternak, bahkan kehilangan cita-cita&#8230;  Inilah mendung yang menggelayuti alam pikiran banyak pengungsi.</p>
<p><span id="more-2144"></span><em>&#8220;Saya mau pulang kemana?&#8221;</em>. <em>&#8220;Saya mau kerja apa?&#8221;</em>.<em> &#8220;Saya mau makan apa?&#8221;</em>. <em>&#8220;Anak saya bagaimana?&#8221;</em>.  Itulah sebagian tanda tanya besar yang merasuk dalam hati mereka,  mengusik pikiran dan terkadang harus memecahkan tangisan dan lelehan air  mata&#8230; Hanya Allah tempat kami meminta pertolongan dari segala  keburukan dan kesusahan yang terpampang di depan mata&#8230;  Oleh sebab itu  wajarlah apabila banyak sekali pihak yang menangkap kesedihan mereka  dan mewujudkannya dalam berbagai bentuk kepedulian dan bantuan. Dan para  tentara itu, saya rasa juga memiliki empati yanag dalam terhadap  penderitaan yang sedang dialami oleh saudara-saudara mereka. Tidak  tanggung-tanggung, Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) hari ini datang ke  Maguwo meninjau kinerja anak buahnya dalam menjalankan tugas-tugas  mereka dalam program rehabilitasi dan recovery pasca bencana ini.  Sesuatu yang layak untuk dihargai dan mendapatkan perhatian dari  anak-anak negeri.</p>
<p>Tatkala waktu sholat Zhuhur tiba, mereka  pun berdatangan menghadiri sholat jama&#8217;ah dengan seragam mereka yang  khas, baju loreng dan sepatu tentara yang kemudian mereka lepas di depan  musholla. Mereka ganti sepatu itu dengan sandal jepit yang disediakan  di sana -yang bahkan kanan dan kirinya tidak serasi-, melangkah ke  tempat wudhu dan bersuci untuk menghadap Rabb langit dan bumi,  menunaikan kewajiban sholat 5 waktu, sesuatu yang lebih mereka cintai  daripada jabatan yang mereka miliki. Tak lama kemudian, mereka telah  larut dalam ibadah agung yang mencerminkan keimanan seorang mukmin di  hadapan Rabbnya. Sebuah ibadah -yang kalau dikerjakan dengan sepenuh  hati- tentu akan menahan diri pelakunya dari perbuatan keji dan  mungkar&#8230;</p>
<p>Selepas sholat dan berdzikir, mereka pun  beranjak pergi meninggalkan musholla ini. Namun, di tengah langkah  mereka datanglah sosok da&#8217;i sederhana yang menawarkan buletin dakwah  kepada mereka. Bukan itu saja yang ditawarkannya, akan tetapi buku ushul  tsalatsah (tiga landasan utama), hadits arba&#8217;in, panduan dzikir dan  doa, bahkan tak lupa beberapa butir korma dan air minum pun ditawarkan  olehnya. Sungguh, pemandangan yang menyejukkan sekaligus mencerminkan  kejernihan sikap seorang da&#8217;i. Bukan hanya pengungsi atau korban erupsi  merapi yang butuh dakwah, bahkan bapak-bapak tentara ini pun semestinya  diperhatikan. Jangan sia-siakan kesempatan ini&#8230; <em>&#8220;Sungguh, apabila Allah menunjuki seorang saja dengan perantara dirimu, itu jauh lebih baik daripada onta-onta merah.&#8221;</em></p>
<p>Melalui  kepedulian semacam inilah, disertai kesadaran yang tertancap kuat di  dalam hati, kesabaran dalam menghadapi kesulitan, keinginan yang kuat  untuk membantu sesama, segala beban berat dan penderitaan para pengungsi  dan korban erupsi -dengan izin Allah- akan sedikit demi sedikit  terkurangi. Apalagi mereka adalah saudara kita, yang bersujud kepada  Rabb yang sama, mengikuti Nabi yang sama, dan memegang teguh agama yang  sama. Walaupun dalam beberapa perkara mereka tergelincir -itupun karena  ketidakpahaman mereka-, namun mereka adalah saudara kita, yang  barangkali hati mereka jauh lebih bersih daripada hati kita, mereka  lebih sabar dan ikhlas daripada kita, bahkan mungkin lebih banyak  perjuangan dan pengorbanannya untuk membela agama&#8230;</p>
<p>Oleh  sebab itulah, kepedulian kita kepada mereka merupakan konsekuensi dari  perasaan cinta karena Allah (baca: aqidah) yang tertanam dalam hati  setiap mukmin. <em>Laa yu&#8217;minu ahadukum hatta yuhibba li akihi maa yuhibbu li nafsihi</em>, <em>&#8220;Tidak  sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai dia menyukai  kebaikan bagi saudaranya sebagaimana yang dia sukai bagi dirinya  sendiri.&#8221;</em></p>
<p>Sekarang, marilah kita bertanya sejauh mana bukti kesempurnaan iman itu ada dan tertancap di dalam hati kita? <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin. </em></p>
<p>Yogyakarta, 8 Muharram 1432 H/ 14 Desember 2010</p>
<p>Bantuan dapat disalurkan ke:</p>
<p><strong>Rekening BNI UGM Yogyakarta </strong><strong> </strong><br />
Nomor rekening 0125792540 a.n. Devi Novianti</p>
<p><strong>Rekening Bank Syari’ah Mandiri Cabang 094 Kaliurang Yogyakarta</strong><br />
Nomor rekening 0947008920 a.n. Ginanjar Indrajati Bintoro</p>
<p><strong>Rekening Bank Mandiri Cabang Yogyakarta Gedung Magister 13705</strong><br />
Nomor rekening 137-00-065.4879-2 a.n. Bintoro</p>
<p><strong>Rekening BCA</strong><br />
Nomor rekening 0130537146 a.n. Hanif Nur Fauzi</p>
<p>Bagi anda yang telah berpartisipasi, harap mengkonfirmasikan diri    kepada kami melalui sms dengan format sebagai berikut:<br />
<strong>Nama</strong><strong>/Alamat</strong><strong>/TanggalKirim</strong><strong>/JumlahUang</strong><strong>/RekeningTujuan</strong><strong>/Merapi</strong></p>
<p>Ke nomor :<br />
<strong>0852</strong><strong> 5205</strong><strong> 2345</strong> (Wiwit Hardi P.)<br />
atau<br />
<strong>0856</strong><strong> 4305</strong><strong> 2159</strong> (Nizamul Adli)</p>
<p>YM: ypiapeduli@yahoo.com</p>
<p>Atas partisipasi dan perhatian anda kami ucapkan <em>jazaakumullahu    khairaa</em>n.</p>
<p>Laporan Pemasukan per 12 Desember 2010<br />
<a rel="nofollow" href="http://muslim.or.id/dari-redaksi/update-12-des-laporan-pemasukan-donasi-tanggap-merapi.html" target="_blank">http://muslim.or.id/dari-redaksi/update-12-des-laporan-pemasukan-donasi-tanggap-merapi.html</a></p>
<p>Profesor Simon Pimpin Rapat Rehabilitasi Masjid Pasca Bencana<br />
<a rel="nofollow" href="http://ypia.or.id/prof-simon-pimpin-rapat-rehabilitasi.html" target="_blank">http://ypia.or.id/prof-simon-pimpin-rapat-rehabilitasi.html</a></p>
<p>Susunan Tim Rehabilitasi<br />
<a rel="nofollow" href="http://ypia.or.id/revisi-susunan-panitia-rehabilitasi-dan-recovery-masjid.html" target="_blank">http://ypia.or.id/revisi-susunan-panitia-rehabilitasi-dan-recovery-masjid.html</a></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tentara-pun-bersujud-kepada-nya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kajian Penggalangan Dana Untuk Korban Merapi (Yogya)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kajian-penggalangan-dana-untuk-korban-merapi-yogya.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kajian-penggalangan-dana-untuk-korban-merapi-yogya.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Nov 2010 18:43:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Donasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Infak]]></category>
		<category><![CDATA[Korban]]></category>
		<category><![CDATA[Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Pengajian]]></category>
		<category><![CDATA[Pengungsi]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2110</guid>
		<description><![CDATA[Hadirilah kajian penggalangan dana bagi korban bencana merapi dengan pembicara: 1. Ust. Afifi Abdul Wadud &#8211;&#62; Hikmah dibalik Musibah 2. Ust. Abu Sa&#8217;ad &#8211;&#62; Realita Kondisi Korban Bencana merapi Tempat : MPR (Masjid Pogung Raya), utara Fakultas Teknik UGM Tanggal/Waktu &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kajian-penggalangan-dana-untuk-korban-merapi-yogya.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-penggalangan-dana-untuk-korban-merapi-yogya.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-penggalangan-dana-untuk-korban-merapi-yogya.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div>
<div>
<p>Hadirilah kajian penggalangan dana bagi korban bencana merapi dengan pembicara:</p>
<p>1. Ust. Afifi Abdul Wadud &#8211;&gt; Hikmah dibalik Musibah<br />
2. Ust. Abu Sa&#8217;ad &#8211;&gt; Realita Kondisi Korban Bencana merapi</p>
<p><span id="more-2110"></span>Tempat :<br />
MPR (Masjid Pogung Raya), utara Fakultas Teknik UGM</p>
<p>Tanggal/Waktu :<br />
Jum&#8217;at, 12 November 2010 (Ba&#8217;da Sholat Jum&#8217;at &#8211; Selesai)</p>
<p>Contact Person :<br />
Taufik (085789109181)</p>
<p>Acara ini diselenggarakan oleh<br />
Panitia Tanggap Bencana Merapi<br />
Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari</p>
<p>NB : bawa infak Terbaik, insya Allah akan ada pendaftaran relawan untuk menangani dakwah di pengungsian        ﻿</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kajian-penggalangan-dana-untuk-korban-merapi-yogya.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Apa Di Balik Musibah?</title>
		<link>http://abumushlih.com/ada-apa-di-balik-musibah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/ada-apa-di-balik-musibah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Oct 2010 06:50:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Korban]]></category>
		<category><![CDATA[Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tsunami]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2088</guid>
		<description><![CDATA[Musibah dan bencana merupakan bagian dari takdir Allah Yang Maha Bijaksana. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (QS. at-Taghabun: 11). &#8230; <a href="http://abumushlih.com/ada-apa-di-balik-musibah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fada-apa-di-balik-musibah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fada-apa-di-balik-musibah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Musibah dan bencana merupakan bagian dari takdir Allah Yang Maha Bijaksana. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya),<em>“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.”</em> (<strong>QS. at-Taghabun: 11</strong>).</p>
<p><span id="more-2088"></span>Abu Dhabyan berkata: Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini <em>‘Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya’</em> dan beliau ditanya tentang maknanya. Beliau menjawab, <em>“Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya.”</em>. Sa’id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan menafsirkan, <em>“Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja’ yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”</em> (lihat <em>Tafsir al-Qur’an al-’Azhim</em> [4/391])</p>
<p><strong>Hikmah Di Balik Derita</strong></p>
<p>Tidaklah kita ragu barang sedikitpun bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana, tidak sedikit pun Allah menganiaya hamba-Nya. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya),<em>“Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyapnya nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 155-157</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba maka Allah akan menyegerakan hukuman baginya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya maka Allah akan menunda hukuman atas dosanya itu sampai pada hari kiamat nanti hukuman itu baru akan ditunaikan.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, disahihkan al-Albani dalam <em>Shahih al-Jami’</em> [308]).</p>
<p>Hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa cobaan/musibah yang menimpa orang-orang yang beriman merupakan salah satu tanda kebaikan baginya selama hal itu tidak menyebabkan dia meninggalkan kewajiban atau terjatuh dalam keharaman. Di sisi lain, semestinya seseorang merasa khawatir atas kenikmatan dan kesehatan yang selama ini senantiasa dia rasakan. Sebab boleh jadi itu adalah <em>istidraj</em>/bentuk penundaan hukuman baginya, sementara dia tahu betapa banyak maksiat yang telah dilakukannya, <em>wal ‘iyadzu billah</em>. Hadits ini juga menunjukkan wajibnya berprasangka baik kepada Allah atas segala musibah yang menimpa. Perlu diingat pula bahwa pemberian Allah kepada seseorang tidak selalu menjadi bukti bahwa Allah meridhainya. Contohnya, orang yang setiap kali hendak minum <em>khamr</em> (minuman keras, narkotika dsb) kemudian dia selalu mendapatkan kemudahan untuk mendapatkannya. Hal itu bukanlah bukti bahwa Allah meridhai hal itu untuknya (disarikan dari <em>al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid</em>, hal. 275 dengan sedikit perubahan dan penambahan)</p>
<p>Meskipun demikian, seseorang tidak boleh berdoa kepada Allah agar hukumannya disegerakan di dunia. Dikisahkan bahwa dahulu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah mengunjungi seorang yang sakit di antara para sahabatnya yang kondisinya sangat lemah. Nabi bertanya kepadanya, <em>“Apakah engkau meminta atau berdoa sesuatu kepada Allah sebelum ini?”</em>. Maka lelaki itu menjawab, <em>“Ya, dahulu saya pernah berdoa; Ya Allah, hukuman yang akan Kamu berikan kepadaku di akhirat maka segerakanlah bagiku di dunia.”</em> Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun mengatakan, <em>“Subhanallah! Kamu pasti tidak akan sanggup menanggungnya, tidakkah sebaiknya kamu berdoa; Allahumma aatinaa fid dunya hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar (Ya Allah, berikanlah kebaikan kepada kami di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari neraka).”</em> Maka lelaki itu pun berdoa dengannya dan disembuhkan oleh Allah (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p><strong>Jangan Salah Sangka!</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Adapun manusia, apabila Rabbnya menimpakan ujian kepadanya dengan memuliakan dan mencurahkan nikmat kepadanya maka dia mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakanku’. Dan apabila Dia mengujinya dengan membatasi rezkinya niscaya dia akan mengatakan, ‘Rabbku telah menghinakanku’. Sekali-kali bukan demikian…”</em> (<strong>QS. al-Fajr : 15-17</strong>).</p>
<p>Maknanya adalah: Tidaklah setiap orang yang Allah berikan kemuliaan dan kenikmatan dunia kepadanya maka itu berarti Allah mengaruniakan nikmat yang hakiki kepadanya. Karena sesungguhnya hal itu merupakan cobaan dan ujian dari Allah baginya. Dan tidaklah setiap orang yang Allah batasi rezkinya -sehingga Allah jadikan rezkinya sebatas apa yang diperlukannya saja tanpa ada kelebihan- maka itu artinya Allah sedang menghinakan dirinya. Namun, sesungguhnya Allah sedang menguji hamba-Nya dengan nikmat-nikmat sebagaimana halnya Allah ingin mengujinya dengan musibah (lihat <em>Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah</em>, hal. 8. Islamspirit.com).</p>
<p>Adakah di antara kita yang mau mengambil pelajaran?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/ada-apa-di-balik-musibah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merapi Meletus Kembali&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/merapi-meletus-kembali.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/merapi-meletus-kembali.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Oct 2010 08:28:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Awan Panas]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2077</guid>
		<description><![CDATA[Bencana letusan Gunung Merapi baru saja menimpa sebagian bumi Yogyakarta. Luncuran awan panas telah menelan korban tewas dan luka-luka. Penduduk mengungsi demi menyelamatkan diri. Sementara itu, keadaan rumah, perabot dan ternak mereka sudah tidak jelas lagi. Tentu saja musibah semacam &#8230; <a href="http://abumushlih.com/merapi-meletus-kembali.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmerapi-meletus-kembali.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmerapi-meletus-kembali.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Bencana letusan Gunung Merapi baru saja menimpa sebagian bumi Yogyakarta. Luncuran awan panas telah menelan korban tewas dan luka-luka. Penduduk mengungsi demi menyelamatkan diri. Sementara itu, keadaan rumah, perabot dan ternak mereka sudah tidak jelas lagi.</p>
<p><span id="more-2077"></span>Tentu saja musibah semacam ini menuntut kepedulian kaum muslimin untuk mendoakan kebaikan bagi saudara mereka yang tertimpa musibah dan berupaya untuk meringankan musibah yang dialami. Di sisi lain, ada sesuatu yang tidak kalah pentingnya bagi kita semua yaitu memetik pelajaran dari musibah yang telah melanda.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya Allah memiliki hak untuk diibadahi oleh hamba di saat tertimpa musibah, sebagaimana –Allah juga harus diibadahi- ketika dia mendapatkan kenikmatan.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [11/344]).</p>
<p>Ibnu ‘Atha’ <em>rahimahullah</em> berkata,<em> “Sabar adalah menyikapi musibah dengan adab/cara yang baik.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hakekat sabar adalah tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk berkeluh-kesah -kepada makhluk- maka hal itu tidak meniadakan kesabaran.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7]). Sabar adalah menahan diri dari marah kepada Allah, menahan lisan agar tidak mengeluh dan murka kepada takdir, serta menahan anggota badan agar tidak melakukan perkara-perkara yang dilarang seperti menampar-nampar pipi, merobek-robek pakaian, dsb (lihat <em>Hasyiyah Kitab at-Tauhid</em>).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah seseorang mendapatkan pemberian yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Sesungguhnya dengan adanya musibah, maka seorang hamba akan mendapatkan pengampunan dari Allah <em>ta’ala</em>. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah ada suatu musibah yang menimpa seorang muslim melainkan Allah akan menghapuskan dosa dengannya sampai pun duri yang menusuk badannya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda, <em>“Sesungguhnya pahala yang besar itu bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka maka murka pula yang akan didapatkannya.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, dihasankan al-Albani dalam <em>as-Shahihah</em> [146]).</p>
<p>Namun, yang menjadi keprihatinan kita sekarang ini adalah tatkala musibah dunia ini juga dibumbui dengan musibah agama. Bukankah, kepercayaan mengenai adanya roh/jin penunggu Gunung Merapi yang menentukan keselamatan dan bahaya masih saja bercokol di tengah-tengah umat ini? Sehingga berbagai macam sesaji dan persembahan pun diberikan kepada Sang Penunggu Gunung Merapi agar ancaman bencana menjadi sirna. Namun, kenyataan telah membuktikan bahwa Gunung Merapi ini –dan alam semesta ini seluruhnya- memang hanya berada di bawah kekuasaan Allah Yang Maha Tinggi!</p>
<p>Sementara Allah tidak tidak ridha, bahkan murka sekali apabila diri-Nya dipersekutukan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan masih akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatannya bagi siapa saja yang Dia kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’: 48</strong>). Apabila kita merasa sedih dengan nyawa dan harta yang pergi, tentunya kita lebih merasa sedih tatkala aqidah dan keimanan yang suci ini ternodai kemusyrikan yang akan menyeret pelakunya ke dalam siksa neraka yang abadi. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolong sama sekali.”</em> (<strong>QS. al-Ma’idah: 72</strong>).</p>
<p>Semoga Allah <em>ta’ala</em> melimpahkan kesabaran kepada saudara-saudara kita yang sertimpa musibah, menambahkan keteguhan iman kepada mereka agar tidak goyah dan bersandar kepada selain-Nya, dan semoga Allah mencurahkan pahala dan ampunan atas musibah yang menimpa mereka. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/merapi-meletus-kembali.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

