<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Sabar</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/sabar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 10:19:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Kisah Menakjubkan Tentang Sabar dan Syukur Kepada Allah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 14:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>
		<category><![CDATA[WEB USTADZ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1775</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, Lc. Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama Abu Qilabah bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh <strong>Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, Lc.</strong></p>
<p>Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama<strong> Abu Qilabah </strong>bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Oleh karena itu nama Abu Qilabah sering berulang-ulang seiring dengan sering diulangnya nama Anas bin Malik. Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqoot menyebutkan kisah yang ajaib dan menakjubkan tentangnya yang menunjukan akan kuatnya keimanannya kepada Allah.</p>
<p><span id="more-1775"></span>Nama beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu &#8216;anhuma- . Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid bin Abdilmalik.</p>
<p>Abdullah bin Muhammad berkata, &#8220;Aku keluar menuju tepi pantai dalam rangka untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala aku tiba di tepi pantai tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah yang di dalamnya terdapat seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu berkata, <strong>&#8220;Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan&#8221;</strong>&#8221;</p>
<p>Abdullah bin Muhammad berkata, &#8220;Demi Allah aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini, apakah ia faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah ucapannya itu merupakan ilham yang diberikan kepadanya??.</p>
<p>Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu kukatakan kepadanya, &#8220;Aku mendengar engkau berkata &#8220;Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan&#8221;, maka nikmat manakah yang telah Allah anugrahkan kepadamu sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut??, dan kelebihan apakah yang telah Allah anugrahkan kepadamu hingga engkau menysukurinya??&#8221;</p>
<p>Orang itu berkata, &#8220;Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh Robku kepadaku?, demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku hingga membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku hingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu kecuali semakin membuat aku bersyukur kepadaNya karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah, engkau telah mendatangiku maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat kondisiku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku, di saat tiba waktu sholat ia mewudhukan aku, jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika aku haus maka ia memberikan aku minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya maka tolonglah engkau mencari kabar tentangya –semoga Allah merahmati engkau-&#8221;.</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Demi Allah tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau&#8221;.</p>
<p>Maka akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari situ aku sampai di suatu gudukan pasir, tiba-tiba aku mendapati putra orang tersebut telah diterkam dan di makan oleh binatang buas, akupun mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi roji&#8217;uun. Aku berkata, &#8220;Bagaimana aku mengabarkan hal ini kepada orang tersebut??&#8221;.</p>
<p>Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Tatkala aku menemui orang tersbut maka akupun mengucapkan salam kepadanya lalu ia menjawab salamku dan berkata, &#8220;Bukankah engkau adalah orang yang tadi menemuiku?&#8221;, aku berkata, &#8220;Benar&#8221;. Ia berkata, &#8220;Bagaimana dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?&#8221;.</p>
<p>Akupun berkata kepadanya, &#8220;Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub ‘alaihissalam?&#8221;, ia berkata, &#8220;Tentu Nabi Ayyub ‘alaihissalam &#8220;, aku berkata, &#8220;Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub?, bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?&#8221;, orang itu berkata, &#8220;Tentu aku tahu&#8221;. Aku berkata, &#8220;Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?&#8221;, ia berkata, &#8220;Nabi Ayyub bersabar, bersyukur, dan memuji Allah&#8221;. Aku berkata, &#8220;Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya&#8221;, ia berkata, &#8220;Benar&#8221;. Aku berkata, &#8220;Bagaimanakah sikapnya?&#8221;, ia berkata, &#8220;Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah&#8221;. Aku berkata, &#8220;Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?&#8221;, ia berkata, &#8220;Iya&#8221;, aku berkata, &#8220;Bagaimanakah sikap nabi Ayyub?&#8221;, ia berkata, &#8220;Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah, lagsung saja jelaskan maksudmu –semoga Allah merahmatimu-!!&#8221;.</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau&#8221;. Orang itu berkata, <strong>&#8220;Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya dengan api neraka&#8221;</strong>, kemudian ia berkata, &#8220;Inna lillah wa inna ilaihi roji&#8217;uun&#8221;, lalu ia menarik nafas yang panjang lalu meninggal dunia.  Aku berkata, &#8220;Inna lillah wa inna ilaihi roji&#8217;uun&#8221;, besar musibahku, orang seperti ini jika aku biarkan begitu saja maka akan dimakan oleh binatang buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak bisa melakukan apa-apa[1]. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis. Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku &#8220;Wahai Abdullah, ada apa denganmu?, apa yang telah terjadi?&#8221;.</p>
<p>Maka akupun menceritakan kepada mereka apa yang telah aku alami. Lalu  mereka berkata, &#8220;Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!&#8221;, maka akupun membuka wajahnya, lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka berkata, &#8220;Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur!!&#8221;.</p>
<p>Aku bertanya kepada mereka, &#8220;Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati kalian-?&#8221;, mereka berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu &#8216;Abbas, ia sangat cinta kepada Allah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kamipun memandikannya dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu merekapun berpaling dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di kawasan perbatasan. Tatkala tiba malam hari akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah</p>
<h5>}سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ{ (الرعد:24)</h5>
<p>&#8220;Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.&#8221; (QS. 13:24)</p>
<p>Lalu aku berkata kepadanya, &#8220;Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?&#8221;, ia berkata, &#8220;Benar&#8221;, aku berkata, &#8220;Bagaimana engkau bisa memperoleh ini semua&#8221;, ia berkata, &#8220;<strong>Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan bersendirian maupun dalam kaeadaan di depan khalayak ramai</strong>&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>[1] Hal ini karena biasanya daerah perbatasan jauh dari keramaian manusia, dan kemungkinan Abdullah tidak membawa peralatan untuk menguburkan orang tersebut, sehingga jika ia hendak pergi mencari alat untuk menguburkan orang tersebut maka bisa saja datang binatang buas memakannya, Wallahu a&#8217;lam</p>
<p>Sumber: situs pribadi guru kami Ustadz Firanda -<em>hafizhahullah</em>- <a href="http://firanda.com" target="_blank">http://firanda.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-menakjubkan-tentang-sabar-dan-syukur-kepada-allah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semuanya Merugi, Kecuali&#8230;</title>
		<link>http://abumushlih.com/semuanya-merugi-kecuali.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/semuanya-merugi-kecuali.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Mar 2010 21:22:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1662</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Demi waktu. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-&#8217;Ashr: 1-3) Surat yang agung ini mengandung mutiara hikmah: Waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi umat manusia, bahkan waktu itu termasuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsemuanya-merugi-kecuali.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsemuanya-merugi-kecuali.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi waktu. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.”</em> (QS. al-&#8217;Ashr: 1-3)</p>
<p><span id="more-1662"></span></p>
<p>Surat yang agung ini mengandung mutiara hikmah:</p>
<ol>
<li>Waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi umat manusia,      bahkan waktu itu termasuk nikmat paling agung yang Allah karuniakan kepada      mereka (lihat <em>Syarh Kitab Tsalatsat al-Ushul</em> Syaikh Shalih bin      Abdul Aziz alu Syaikh, hal. 6)</li>
<li>Dengan menyempurnakan iman, amal salih, dakwah, dan sabar maka      seorang hamba akan selamat dari kerugian dan berhasil meraih keberuntungan      yang sangat besar (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em> Syaikh as-Sa&#8217;di      [2/1303])</li>
<li>Wajib bagi kita untuk mempelajari empat perkara, yaitu: ilmu,      amal, dakwah, dan sabar. Adapun ilmu yang paling pokok untuk dimengerti      adalah: mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam dengan      dalil-dalilnya (lihat <em>Majmu&#8217;ah at-Tauhid</em>, hal. 17)</li>
<li>Orang yang selamat dari kerugian di dunia maupun di akherat      adalah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang beriman kepada      Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan      beriman kepada takdir (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em> Syaikh Ibnu Utsaimin,      hal. 230-231).</li>
<li>Orang yang selamat dari kerugian di dunia maupun di akherat      adalah orang-orang yang beramal salih. Sedangkan amalan tidak dikatakan      sebagai amal salih kecuali apabila terpenuhi padanya dua buah syarat:      ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em>. Kalau seandainya amalannya mengikuti tuntunan namun      tidak ikhlas maka tidak diterima. Demikian juga kalau ikhlas tapi tidak      mengikuti tuntunan juga tidak diterima (lihat <em>Tafsir Juz &#8216;Amma</em>,      hal. 232-233).</li>
<li>Benarnya akidah menentukan diterima atau tidaknya amalan (lihat      <em>Abraz al-Fawa&#8217;id min al-Arba&#8217; al-Qawa&#8217;id </em>Syaikh Zaid bin Hadi      al-Madkhali, hal. 27). Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata,      “Akidah yang benar merupakan pondasi tegaknya agama dan syarat sah      diterimanya amalan. Hal itu sebagaimana yang difirmankan oleh Allah (yang      artinya), <em>“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya,      maka hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatu      pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”</em> (QS. al-Kahfi: 110). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan      kepada orang-orang sebelummu: Seandainya kamu berbuat syirik niscaya akan      lenyap seluruh amalmu, dan kamu pasti termasuk golongan orang-orang yang      merugi.”</em> (QS. az-Zumar: 65). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang      artinya), <em>“Sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya.      Ingatlah, untuk Allah agama/ketaatn yang tulus/murni itu.”</em> (QS.      az-Zumar: 2-3). Maka ayat-ayat yang mulia ini serta ayat-ayat lain yang      semakna -dan itu banyak jumlahnya- menunjukkan bahwa amalan tidak akan      diterima kecuali apabila bersih dari syirik. Oleh sebab itulah maka fokus      perhatian para rasul -semoga salawat dan keselamatan dicurahkan Allah      kepada mereka- menjadikan perbaikan akidah sebagai prioritas utama      dakwahnya&#8230;” (<em>at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 9-10)</li>
<li>Iman itu mencakup ucapan, amalan, dan keyakinan. Itu artinya      amal merupakan bagian dari iman. Di dalam surat ini Allah mengiringkan      amal setelah iman demi menunjukkan betapa penting dan mulianya amalan      (lihat <em>Syarh Kitab Tsalatsat al-Ushul,</em> hal. 7)</li>
<li>Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amalan. Kalau      seorang hamba memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya maka dia telah      mengikuti jalannya orang-orang yang dimurkai -<em>al-maghdhubi &#8216;alaihim</em>-.      Adapun apabila dia beramal namun tanpa landasan ilmu maka dia telah      mengikuti jalannya orang-orang yang sesat -<em>adh-dhaallin</em>-. Apabila      ilmu dan amal itu berjalan beriringan pada diri seorang hamba maka dia      telah berjalan di atas jalannya orang-orang yang diberi karunia oleh      Allah; yaitu jalannya para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang      shalih (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>,      hal. 21)</li>
<li>Dakwah -mengajak- kepada kebenaran merupakan bagian dari      beramal dengan ilmu yang dimiliki. Dan orang yang paling mulia adalah      orang yang sangat memperhatikan urusan dakwah -yaitu mengajak- orang untuk      berilmu dan beramal. Kemuliaan itu mereka dapatkan karena mereka telah      mewarisi tugas para rasul yaitu mendakwahkan ilmu dan amal yang dengan      sebab dakwah mereka itulah Allah berkenan mencurahkan petunjuk kepada      hamba-hamba-Nya (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah      al-Ushul</em>, hal. 22)</li>
<li>Orang yang selamat dari kerugian di dunia maupun di akherat      adalah orang-orang yang saling menasehati dalam kebenaran. Sedangkan      maksud dari saling menasehati dalam kebenaran itu adalah saling menasehati      untuk mewujudkan iman dan amal shalih. Artinya mereka satu sama lain      saling mengingatkan dan memotivasi untuk mengamalkannya (lihat <em>Taisir      al-Karim ar-Rahman</em> [2/1303])</li>
<li>Setiap muslim maupun muslimah wajib berdakwah mengajak manusia      kepada ajaran agama Allah ini sesuai dengan kemampuan dan bekal ilmu yang      dia miliki (lihat <em>Syarh Tsalatsat al-Ushul</em> Syaikh Ibnu Baz, hal. 4)</li>
<li>Untuk berdakwah mengajak kepada kebenaran harus dibekali dengan      ilmu. Karena seorang tidak bisa mengajak kepada kebenaran kecuali setelah      mengenal kebenaran itu terlebih dulu (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah      ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 14-15, lihat juga QS. Yusuf ayat 108).</li>
<li>Kebenaran paling utama dan paling wajib didakwahkan terlebih      dulu kepada manusia adalah ajakan untuk bertauhid. Yang hal itu mencakup      tauhid dalam hal rububiyah, uluhiyah, maupun asma&#8217; wa shifat-Nya (lihat <em>Thariq      al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 15). Tauhid rububiyah      yaitu meyakini Allah sebagai satu-satunya pencipta, pengatur dan penguasa      alam ini. Tauhid uluhiyah yaitu mengesakan Allah dalam hal ibadah. Tauhid      asma wa shifat yaitu meyakini nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana      disebutkan dalam al-Kitab dan as-Sunnah tanpa menolak dan tanpa      menyerupakan dengan makhluk-Nya.</li>
<li>Sabar merupakan salah satu pilar tegaknya dakwah. Karena      seorang da&#8217;i pasti akan menghadapi manusia dengan berbagai corak pemahaman      dan kecondongan, yang mereka itu berasal dari beraneka ragam tingkatan      masyarakat. Ada di antara mereka yang dengan mudah menerima dakwahnya, dan      tidak sedikit pula yang berpaling dan menolaknya, atau bahkan kemudian      menyakiti dirinya (lihat <em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah      al-Ushul</em>, hal. 23)</li>
<li>Keselamatan dan keberuntungan hidup ini hanya akan diperoleh      dengan kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, kesabaran dalam      menahan diri agar tidak terjerumus dalam maksiat/kedurhakaan kepada Allah,      dan juga kesabaran dalam menyikapi takdir musibah yang terasa menyakitkan      (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em> [2/1303])</li>
<li>Sabar yang dipuji adalah yang dilandasi dengan keikhlasan,      bukan karena mencari sanjungan atau kedudukan di mata orang. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang bersabar karena      mengharapkan wajah Rabb mereka.”</em> (QS. ar-Ra&#8217;d: 22) (lihat <em>Thariq      al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 18)</li>
<li>Salah satu bentuk kesabaran yang akan mendatangkan keselamatan      bagi umat adalah bersabar dalam menghadapi pemimpin yang zalim. Dalam hal      ini Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah berpesan, <em>“Tunaikanlah      hak-hak mereka -pemerintah- dan mintalah kepada Allah hak-hak kalian.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan perkara ini, yaitu bersatu di bawah      naungan pemerintah, tidak memerangi para pemimpin -yang zalim tersebut-,      dan tidak mengobarkan peperangan dalam kondisi kacau merupakan salah satu      pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, sebagaimana yang ditegaskan oleh      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullahu ta&#8217;ala</em> (lihat <em>al-Amru      bil Ma&#8217;ruf wa an-Nahyu &#8216;anil Mungkar</em>, hal. 32)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/semuanya-merugi-kecuali.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Mukmin &#8216;Perkasa&#8217;</title>
		<link>http://abumushlih.com/menjadi-mukmin-perkasa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/menjadi-mukmin-perkasa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 17:34:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[MANAJEMEN QOLBU]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[Potensi]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tawakal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1563</guid>
		<description><![CDATA[Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Apabila sesuatu menimpamu janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku berbuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenjadi-mukmin-perkasa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmenjadi-mukmin-perkasa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em> meriwayatkan bahwa Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Seorang mukmin yang kuat lebih  baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, namun  pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa  yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan  bersikap lemah. Apabila sesuatu menimpamu janganlah berkata, ‘Seandainya  dahulu aku berbuat demikian niscaya akan begini dan begitu.’ Akan  tetapi katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah dan terserah Allah apa yang  dia inginkan maka tentu Dia kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ’seandainya’  itu akan membuka celah perbuatan syaitan.”</em> (HR. Muslim [2664] lihat  <em>Syarh Nawawi</em>, jilid 8 hal. 260).</p>
<p><span id="more-1563"></span>Hadits yang mulia ini menunjukkan :</p>
<p><strong>Pertama</strong>; Allah <em>ta’ala</em> memiliki sifat cinta kepada  sesuatu. Kecintaan Allah kepada sesuatu bertingkat-tingkat,  kecintaan-Nya kepada mukmin yang kuat [imannya] lebih dalam daripada  kecintaan-Nya kepada mukmin yang lemah [imannya]. Orang mukmin yang kuat  adalah orang yang menyempurnakan dirinya dengan 4 hal; [1] ilmu yang  bermanfaat, [2] beramal salih, [3] saling mengajak kepada kebenaran, dan  [4] saling menasihati kepada kesabaran. Adapun mukmin yang lemah adalah  yang belum bisa menyempurnakan semua tingkatan ini.</p>
<p><strong>Kedua</strong>; kebaikan pada diri orang-orang beriman itu  bertingkat-tingkat. Mereka terdiri dari tiga golongan manusia. Pertama;  kaum <em>As-Saabiqun ilal Khairat</em>, orang-orang yang bersegera melakukan  kebaikan-kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang menunaikan amal yang  wajib maupun yang sunnah serta meninggalkan perkara yang haram dan yang  makruh. Kedua; kaum <em>Al-Muqtashidun</em> atau pertengahan. Mereka itu adalah  orang yang hanya mencukupkan diri dengan melakukan kewajiban dan  meninggalkan keharaman. Ketiga; <em>Azh-Zhalimuna li anfusihim</em>. Mereka  adalah orang-orang yang mencampuri amal kebaikan mereka dengan amal-amal  jelek.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>; perkara yang bermanfaat ada dua macam;  perkara akhirat/keagamaan dan perkara keduniaan. Sebagaimana seorang  hamba membutuhkan perkara agama maka ia juga membutuhkan perkara dunia.  Kebahagiaan dirinya akan tercapai dengan senantiasa bersemangat untuk  melakukan hal-hal yang bermanfaat di dalam kedua perkara tersebut.  Perkara yang bermanfaat dalam urusan agama kuncinya ada 2; ilmu yang  bermanfaat dan amal salih. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang  membersihkan hati dan ruh sehingga dapat membuahkan kebahagiaan di dunia  dan di akhirat, yaitu ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> yang terdapat dalam ilmu hadits, tafsir, dan fiqih  serta ilmu-ilmu lain yang dapat membantunya seperti ilmu bahasa Arab dan  lain sebagainya. Adapun amal salih adalah amal yang memadukan antara  niat yang ikhlas untuk Allah serta perbuatan yang selalu mengikuti  tuntunan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sedangkan perkara  dunia yang bermanfaat bagi manusia adalah dengan bekerja mencari rezeki.  Pekerjaan yang paling utama bagi orang berbeda-beda tergantung pada  individu dan keadaan mereka. Batasan untuk itu adalah selama hal itu  benar-benar bermanfaat baginya, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan, <em>“Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu”</em></p>
<p><strong>Keempat</strong>; dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat itu  tidak sepantasnya manusia bersandar kepada kekuatan, kemampuan dan  kecerdasannya semata. Namun, dia harus menggantungkan hatinya kepada  Allah <em>ta’ala</em> dan meminta pertolongan-Nya dengan harapan Allah akan  memudahkan urusannya.</p>
<p><strong>Kelima</strong>; apabila seseorang menjumpai perkara yang  tidak menyenangkan setelah dia berusaha sekuat tenaga, maka hendaknya  dia merasa ridha dengan takdir Allah <em>ta’ala</em>. Tidak perlu berandai-andai,  karena dalam kondisi semacam itu berandai-andai justru akan membuka  celah bagi syaitan. Dengan sikap semacam inilah hati kita akan menjadi  tenang dan tentram dalam menghadapi musibah yang menimpa.</p>
<p><strong>Keenam</strong>; di dalam hadits yang mulia ini Nabi  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menggabungkan antara keimanan kepada  takdir dengan melakukan usaha yang bermanfaat. Kedua pokok ini telah  ditunjukkan oleh dalil Al-Kitab maupun As-Sunnah dalam banyak tempat.  Agama seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan kedua hal itu. Sabda  Nabi, <em>“Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu”</em> merupakan perintah untuk menempuh sebab-sebab agama maupun dunia, bahkan  di dalamnya terkandung perintah untuk bersungguh-sungguh dalam  melakukannya, membersihkan niat dan membulatkan tekad, mewujudkan hal  itu dan mengaturnya dengan sebaik-baiknya. Sedangkan sabda Nabi, <em>“Dan  mintalah pertolongan kepada Allah”</em> merupakan bentuk keimanan kepada  takdir serta perintah untuk bertawakal kepada Allah ketika mencari  kemanfaatan dan menghindar dari kemudharatan dengan penuh rasa harap  kepada Allah ta’ala agar urusan dunia dan agamanya menjadi sempurna.</p>
<p>Diringkas dari <em>Bahjat Al-Qulub Al-Abrar wa Qurratu ‘Uyun Al-Akhyar  Syarh Jawami’ Al-Alkhbar</em> karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di  <em>rahimahullahu ta’ala</em>, cetakan Darul Kutub Ilmiyah, hal. 40-46.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/menjadi-mukmin-perkasa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amalan Yang Paling Disukai</title>
		<link>http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 01:27:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Waktu]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1555</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya : حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ Qutaibah menuturkan kepada kami dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah -radhiyallahu’anha-, dia berkata, “Amal yang paling disukai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Famalan-yang-paling-disukai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Famalan-yang-paling-disukai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ  هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ  أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ</strong></p>
<p>Qutaibah menuturkan kepada kami dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya  dari Aisyah -<em>radhiyallahu’anha</em>-, dia berkata, <em>“Amal yang paling disukai  oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang dikerjakan  secara terus menerus oleh pelakunya.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab ar-Riqaq</em>)</p>
<p><span id="more-1555"></span>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ  حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ  عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ سُئِلَ النَّبِيُّ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى  اللَّهِ قَالَ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ وَقَالَ اكْلَفُوا مِنْ  الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ</strong></p>
<p>Muhammad bin Ar’arah menuturkan kepadaku. Dia berkata; Syu’bah  menuturkan kepada kami dari Sa’d bin Ibrahim dari Abu Salamah dari  Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em>, dia berkata, <em>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam pernah ditanya, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah?’</em>. Maka  beliau menjawab,<em>”Yaitu yang paling kontinyu, meskipun hanya sedikit.”</em> Beliau juga bersabda, <em>“Bebanilah diri kalian dengan amal-amal yang mampu  untuk kalian kerjakan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab ar-Riqaq</em>)</p>
<p>Kedua hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa :</p>
<ol>
<li> Penetapan sifat mahabbah bagi Allah</li>
<li>Amalan satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan keutamaan di sisi  Allah</li>
<li>Amal yang paling Allah cintai adalah amalan yang dikerjakan secara  kontinyu</li>
<li>Apa yang dicintai oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> -dalam pandangan syari’at- maka hal itu menunjukkan bahwa Allah <em>ta’ala</em> juga mencintai perkara tersebut</li>
<li>Manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam mengerjakan  amalan</li>
<li>Dalam memilih amalan -sunnah- maka hendaknya seorang memperhatikan  kemampuannya agar bisa kontinyu dalam mengerjakannya, lebih baik sedikit  tapi kontinyu daripada banyak namun terhenti.</li>
<li>Hadits ini menganjurkan agar seorang hamba istiqomah dalam beramal  dan mengikhlaskan amalnya karena Allah dan sesuai dengan tuntunan  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></li>
<li>Amal salih merupakan sebab datangnya kecintaan Allah</li>
<li>Seorang mukmin hendaknya mencitai apa yang dicintai oleh Allah dan  Rasul-Nya, sebagaimana dia juga harus membenci segala perkara yang  dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya</li>
<li>Hadits ini menunjukkan keutamaan sabar di dalam ketaatan</li>
<li>Hadits ini menunjukkan pentingnya menjaga motivasi dan semangat  dalam beramal supaya bias kontinyu</li>
<li>Hadits ini menunjukkan perlunya <em>targhib</em>/dorongan dan <em>tarhib</em>/ancaman  dalam menjaga stabilitas keimanan</li>
<li>Hadits ini juga menunjukkan bahwa amal termasuk bagian dari iman</li>
<li>Allah tidak membebankan sesuatu kepada hamba-Nya melainkan sesuai  dengan batas kemampuannya</li>
<li>Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui, <em>wallahu a’lam. Wa  shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa sallam. Walhamdu  lillahi Rabbil ‘alamin.</em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/amalan-yang-paling-disukai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istiqomahlah!</title>
		<link>http://abumushlih.com/istiqomahlah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/istiqomahlah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 02:42:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1448</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita agar kita beriman dan istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi terakhir dan kekasih ar-Rahman, sang pembawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan di atas seluruh agama yang ada. Amma ba’du. Saudara-saudaraku sekalian, … kita hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fistiqomahlah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fistiqomahlah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div>
<p>Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita agar kita beriman dan istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi terakhir dan kekasih ar-Rahman, sang pembawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan di atas seluruh agama yang ada. Amma ba’du.</p>
<p><span id="more-1013"> </span></p>
<p>Saudara-saudaraku sekalian, … kita hidup di zaman yang penuh dengan cobaan dari Allah al-’Aziz al-Hakim. Cobaan dan ujian yang menyelimuti umat manusia ibarat derasnya hujan yang menyirami bumi, bahkan terkadang bergelombang menyerang silih berganti bak ombak lautan yang menerjang tepi-tepi pantai. Maha suci Allah dari melakukan perbuatan yang sia-sia. Sesungguhnya, dengan ujian dan musibah yang mendera manusia akan menampakkan kepada kita siapakah orang yang tegar di atas jalan-Nya, dan siapakah orang-orang yang berjatuhan dan melenceng dari jalan-Nya yang lurus.</p>
<p><span id="more-1448"></span></p>
<p>Istiqomah merupakan sebuah perkara yang sangat mulia, yang tak akan ditemukan jawabannya kecuali dari jawaban seorang utusan Rabb semesta alam. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya;</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ جَمِيعًا عَنْ جَرِيرٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ كُلُّهُمْ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ غَيْرَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ</strong></p>
<p>Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib menuturkan kepada kami. Mereka berdua berkata; Ibnu Numair menuturkan kepada kami [tanda perpindahan sanad] demikian pula Qutaibah bin Sa’id dan Ishaq bin Ibrahim mereka semuanya menuturkan kepada kami dari Jarir [tanda perpindahan sanad] begitu pula Abu Kuraib menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abu Usamah menuturkan kepada kami. Mereka semuanya meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi, dia berkata; Aku berkata, <em>“Wahai Rasulullah, katakanlah kepada saya suatu ucapan di dalam Islam yang tidak akan saya tanyakan kepada seorang pun sesudah anda.”</em> Sedangkan dalam penuturan Abu Usamah dengan ungkapan, “orang selain anda”, maka beliau menjawab, <em>“Katakanlah; Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.”</em> (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman, lihat Syarh Nawawi [2/91-92])</p>
<p>Sebuah perkara yang sangat agung dan tidak bisa diremehkan, sampai-sampai Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan tatkala menjelaskan firman Allah ta’ala,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ</strong></p>
<p><em>“Istiqomahlah engkau sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu.”</em> (QS. Huud : 112)</p>
<p>Ibnu Abbas mengatakan, “Tidaklah turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam keseluruhan al-Qur’an suatu ayat yang lebih berat dan lebih sulit bagi beliau daripada ayat ini.” (lihat Syarh Nawawi [2/92]).</p>
<p>Sampai-sampai sebagian ulama -sebagaimana dinukil oleh Abu al-Qasim al-Qusyairi- mengatakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>الِاسْتِقَامَة لَا يُطِيقهَا إِلَّا الْأَكَابِر</strong></p>
<p>“Tidak ada yang bisa benar-benar istiqomah melainkan orang-orang besar.” (Disebutkan oleh an-Nawawi dalam Syarh Muslim [2/92])</p>
<p>Oleh sebab itu ikhwah sekalian, semoga Allah meneguhkan kita di atas jalan-Nya, marilah barang sejenak kita mengingat besarnya nikmat yang Allah karuniakan kepada Ahlus Sunnah yang tetap tegak di atas kebenaran di antara berbagai golongan yang menyimpang dari jalan-Nya. Inilah nikmat teragung dan anugerah terindah yang menjadi cita-cita setiap mukmin. Allah ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُون</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah akan turun kepada mereka para malaikat seraya mengatakan; Janganlah kalian takut dan jangan sedih, dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian.”</em> (QS. Fusshilat : 30).</p>
<p>al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas -QS. Fusshilat : 30- adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan beriman kepada-Nya lalu istiqomah dan tidak berpaling dari tauhid. Mereka konsisten dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sampai akhirnya mereka meninggal dalam keadaan itu (lihat Syarh Nawawi [2/92]).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mengakui dan mengikrarkan -keimanan mereka-, mereka ridha akan rububiyah Allah ta’ala serta pasrah kepada perintah-Nya. Kemudian mereka istiqomah di atas jalan yang lurus dengan ilmu dan amal mereka, mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan kabar gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [2/1037-1038]).</p>
<p>Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu’anhu mengatakan ketika menafsirkan ayat di atas (yang artinya), “Kemudan mereka tetap istiqomah”, maka beliau mengatakan, “Artinya mereka tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” Diriwayatkan pula dari beliau, “Yaitu mereka tidak berpaling kepada sesembahan selain-Nya.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali di dalam Jami’ al-’Ulum, hal. 260).</p>
<p>Ali bin Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma tentang makna firman Allah ta’ala “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah”, beliau mengatakan, “Yaitu mereka istiqomah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban yang Allah bebankan.” Sedangkan Abu al-’Aliyah mengatakan, “Kemudian -setelah mengatakan ‘Rabb kami adalah Allah- maka mereka pun mengikhlaskan kepada-Nya agama dan amal.” Qatadah mengatakan, “Mereka istiqomah di atas ketaatan kepada Allah.” Diriwayatkan pula dari Hasan al-Bashri, apabila beliau membaca ayat ini maka beliau berdoa, <em>Allahumma anta Rabbuna farzuqnal istiqomah</em>; ‘Ya Allah, engkaulah Rabb kami, karuniakanlah rezeki keistiqomahan kepada kami’.” (Jami’ al-’Ulum, hal. 260).</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/istiqomahlah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keagungan Sabar</title>
		<link>http://abumushlih.com/keagungan-sabar.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/keagungan-sabar.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 00:07:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1443</guid>
		<description><![CDATA[Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata, “Hakekat kesabaran itu adalah teguh di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7]). Ibnu ‘Atha’ rahimahullah berkata, “Sabar adalah menyikapi musibah dengan adab/cara yang baik.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq rahimahullah berkata, “Hakekat dari sabar yaitu tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkeagungan-sabar.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkeagungan-sabar.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ibrahim al-Khawwash <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hakekat kesabaran itu adalah teguh di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” </em>(<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7]). Ibnu ‘Atha’ <em>rahimahullah</em> berkata,<em> “Sabar adalah menyikapi musibah dengan adab/cara yang baik.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hakekat dari sabar yaitu tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk berkeluh-kesah -kepada makhluk- maka hal itu tidak meniadakan kesabaran.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7])</p>
<p><span id="more-1443"></span>Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> menjelaskan, <em>“Sabar secara bahasa artinya adalah menahan diri. Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya (yang artinya), ‘Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka’. Maksudnya adalah tahanlah dirimu untuk tetap bersama mereka. Adapun di dalam istilah syari’at, sabar adalah: menahan diri di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan untuk meninggalkan kedurhakaan/kemaksiatan kepada-Nya. …”</em> (<em>I’anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid</em> [3/134] software Maktabah asy-Syamilah)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Macam-Macam Sabar</strong></p>
<p>al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan…”</em> (<em>Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 279)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya Allah memiliki hak untuk diibadahi oleh hamba di saat tertimpa musibah, sebagaimana ketika dia mendapatkan kenikmatan.”</em> Beliau juga mengatakan, <em>“Maka sabar adalah kewajiban yang selalu melekat kepadanya, dia tidak boleh keluar darinya untuk selama-lamanya. Sabar merupakan penyebab untuk meraih segala kesempurnaan.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [11/344]).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Adapun sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, maka hal itu sudah jelas bagi setiap orang bahwasanya keduanya merupakan bagian dari keimanan. Bahkan, kedua hal itu merupakan pokok dan cabangnya. Karena pada hakekatnya iman itu secara keseluruhan merupakan kesabaran untuk menetapi apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya serta untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, demikian pula harus sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Dan juga karena sesungguhnya agama ini berporos pada tiga pokok utama: [1] membenarkan berita dari Allah dan rasul-Nya, [2] menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya, dan [3] menjauhi larangan-larangan keduanya…”</em> (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 105-106)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sabar merupakan akhlak para rasul</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah didustakan rasul-rasul sebelummu maka mereka pun bersabar menghadapi tindakan pendustaan tersebut, dan mereka pun disakiti sampai datanglah kepada mereka pertolongan Kami.”</em> (QS. al-An’am: 34)</p>
<p><strong>Sabar membuahkan kebahagiaan hidup</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.”</em> (QS. al-’Ashr: 1-3)</p>
<p>Umar bin Khatthab <em>radhiyallahu’anhu</em> mengatakan, <em>“Kami berhasil memperoleh penghidupan terbaik kami dengan jalan kesabaran.”</em> (HR. Bukhari secara <em>mu’allaq</em> dengan nada tegas, dimaushulkan oleh Ahmad dalam <em>az-Zuhd</em> dengan sanad sahih, lihat <em>Fath al-Bari</em> [11/342] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p><strong>Sabar </strong><strong>penopang</strong><strong> </strong><strong>ke</strong><strong>iman</strong><strong>an</strong></p>
<p>Dari Shuhaib <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” </em>(HR. Muslim [2999] lihat <em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim</em> [9/241])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu’anhu</em> mengatakan, <em>“Sabar adalah separuh keimanan.”</em> (HR. Abu Nu’aim dalam <em>al-Hilyah</em> dan al-Baihaqi dalam <em>az-Zuhd</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/62] dan [11/342]). Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em> mengatakan, <em>“Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.”</em> (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Mushannaf</em>nya [31079] dan al-Baihaqi dalam <em>Syu’ab al-Iman</em> [40], bagian awal atsar ini dilemahkan oleh al-Albani dalam <em>Dha’if al-Jami’</em> [3535], lihat <em>Shahih wa Dha’if al-Jami’ as-Shaghir</em> [17/121] software Maktabah asy-Syamilah).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sabar penepis fitnah</strong></p>
<p>Dari Abu Malik al-Asy’ari <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“…Dan sabar itu adalah cahaya -yang panas-…”</em> (HR. Muslim [223], lihat <em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim</em> [3/6] cet. Dar Ibn al-Haitsam tahun 2003). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“… Fitnah syubhat bisa ditepis dengan keyakinan, sedangkan fitnah syahwat dapat ditepis dengan bersabar. Oleh karena itulah Allah Yang Maha Suci menjadikan kepemimpinan dalam agama tergantung pada kedua perkara ini. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24). Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan bekal sabar dan keyakinan itulah akan bisa dicapai kepemimpinan dalam hal agama. Allah juga memadukan keduanya di dalam firman-Nya (yang artinya), “Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 3). Saling menasehati dalam kebenaran merupakan sebab untuk mengatasi fitnah syubhat, sedangkan saling menasehati untuk menetapi kesabaran adalah sebab untuk mengekang fitnah syahwat…”</em> (dikutip dari <em>adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir</em> yang disusun oleh Syaikh Ali ash-Shalihi [5/134], lihat juga <em>Ighatsat al-Lahfan</em> hal. 669)</p>
<p><strong>Sabar membuahkan hidayah bagi hati</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.”</em> (QS. at-Taghabun: 11)</p>
<p>Ibnu Katsir menukil keterangan al-A’masy dari Abu Dhabyan. Abu Dhabyan berkata, <em>“Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini ‘barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya’ dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, ‘<strong>Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya</strong>.”</em> Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa’id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, <em>“Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja’ yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”</em> (<em>Tafsir al-Qur’an al-’Azhim</em> [4/391] cet. Dar al-Fikr)</p>
<p><strong>Hikmah dibalik musibah</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.”</em> (HR. Tirmidzi, hadits hasan gharib, lihat <em>as-Shahihah</em> [1220])</p>
<p>Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberitakan bahwa ada kalanya Allah <em>ta’ala</em> memberikan musibah kepada hamba-Nya yang beriman dalam rangka membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa yang pernah dilakukannya selama hidup. Hal itu supaya nantinya ketika dia berjumpa dengan Allah di akherat maka beban yang dibawanya semakin bertambah ringan. Demikian pula terkadang Allah menahan dari memberikan musibah kepada sebagian orang akan tetapi bukan karena rasa cinta dan pemuliaan dari-Nya kepada mereka namun dalam rangka menunda hukuman mereka di alam dunia sehingga nanti pada akhirnya di akherat mereka akan menyesal dengan tumpukan dosa yang sedemikian besar dan begitu berat beban yang harus dipikulnya ketika menghadap-Nya. Di saat itulah dia akan merasakan bahwa dirinya memang benar-benar layak menerima siksaan Allah. Allah memberikan karunia kepada siapa saja dengan keutamaan-Nya dan Allah juga memberikan hukuman kepada siapa saja dengan penuh keadilan. Allah tidak perlu ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, namun mereka -para hamba- itulah yang harus dipertanyakan tentang perbuatan dan tingkah polah mereka (diolah dari keterangan Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Qor’awi dalam <em>al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid</em>, hal. 275)</p>
<p>Setelah kita mengetahui betapa indahnya sabar, maka sekarang pertanyaannya adalah: sudahkah kita mewujudkan nilai-nilai kesabaran ini dalam kehidupan kita? Sudahkah kita menjadikan sabar sebagai pilar kebahagiaan kita? Sudahkah sabar mewarnai hati, lisan, dan gerak-gerik anggota badan kita?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/keagungan-sabar.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Putus Asa!</title>
		<link>http://abumushlih.com/jangan-putus-asa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jangan-putus-asa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 21:55:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Problematika]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Tawakal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1306</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dan memberikan kesempatan yang lebar kepada mereka untuk bertaubat dan taat kepada-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada manusia teladan yang memberikan motivasi kepada umatnya untuk tegar dalam menghadapi kehidupan. Amma ba&#8217;du. Saudaraku, perjalanan waktu tak terasa telah melindas lembaran sejarah kehidupan kita. Pahit getirnya hidup mewarnai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-putus-asa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-putus-asa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dan memberikan kesempatan yang lebar kepada mereka untuk bertaubat dan taat kepada-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada manusia teladan yang memberikan motivasi kepada umatnya untuk tegar dalam menghadapi kehidupan. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p>Saudaraku, perjalanan waktu tak terasa telah melindas lembaran sejarah kehidupan kita. Pahit getirnya hidup mewarnai lembaran-lembaran itu sehingga terkadang membuat pemiliknya diselimuti sikap pesimis dan ragu-ragu untuk melanjutkan langkah perjuangannya untuk menggapai kebahagiaan. Padahal kita telah tahu, sesungguhnya perjalanan waktu inilah yang akan membuktikan siapa di antara manusia yang beruntung dan siapa yang celaka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sesungguhnya dia telah beruntung, dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang menipu.”</em> (QS. Ali Imran: 185)</p>
<p><span id="more-1306"></span></p>
<p>Oleh sebab itu, menunda-nunda amal merupakan sebab utama kebinasaan. Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Jadilah kalian anak-anak akherat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah amal dan belum ada hisab, sedangkan besok yang ada adalah hisab dan tidak ada lagi waktu untuk beramal.”</em> (HR. Bukhari secara <em>mu&#8217;allaq</em> dalam Kitab <em>ar-Riqaq</em>, lihat Shahih Bukhari cet. Maktabah al-Iman hal. 1307). Ini artinya, selama udara masih bisa kita hirup dan akal masih berfungsi, maka tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Umur yang senja bukan penghalang untuk menggapai kemuliaan dan derajat yang tinggi di sisi Allah <em>ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Tidakkah kita ingat, cuplikan-cuplikan kisah menakjubkan para ulama salaf yang melukiskan ketinggian semangat mereka untuk mengejar keutamaan ini? Nu&#8217;aim bin Hamad menceritakan: Aku mendengar Abdullah bin Mubarak <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> -ketika itu sebagian orang telah mencelanya karena terlalu sering mencari hadits sehingga mereka pun berkata kepadanya, <em>“Sampai kapan kamu mau terus mendengar hadits?”</em>- maka beliau menjawab, <em>“Sampai mati!”</em> Abdullah bin Muhammad al-Baghawi berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>berkata, <em>“Sesungguhnya aku akan menuntut ilmu sampai masuk kubur.”</em> al-Hasan pernah ditanya perihal seorang lelaki yang sudah berusia delapan puluh tahun, apakah dia masih layak untuk menuntut ilmu. Maka beliau menjawab, <em>“Apabila dia masih layak hidup -maka masih layak-.”</em> (atsar-atsar ini dikutip dari <em>al-&#8217;Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu</em>, hal. 77). Kalau kakek-kakek berumur 80 tahun saja masih pantas menjadi <em>thalibul ilmi</em> (penuntut ilmu), lalu apa alasan pemuda-pemuda yang gagah perkasa untuk bermalas-malasan menimba ilmu agama?!</p>
<p>Saudaraku, lupakah dirimu akan kata-kata emas yang disampaikan oleh Amirul mukminin fil hadits Muhammad bin Isma&#8217;il al-Bukhari yang terkenal itu? <em>al-&#8217;Ilmu qablal qauli wa &#8216;amali</em>, ilmu sebelum berkata dan berbuat. Lalu apa yang akan kita katakan dan kita perbuat di sisa perjalanan hidup kita yang singkat ini kalau kita tidak membekali dan mempersenjatai diri dengan ilmu? Bukankah Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah keluar suatu ucapan melainkan di sisinya ada malaikat yang dekat dan senantiasa mencatat.”</em> (QS. Qaaf: ). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar akan mengutarakan suatu ucapan yang diridhai Allah sementara dia tidak mempedulikannya namun mengangkat kedudukannya beberapa tingkatan. Dan sesungguhnya ada pula seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang membuat murka Allah sedangkan dia tidak mempedulikannya sehingga hal itu membuatnya terjerumus ke dalam Jahannam.”</em> (HR. Bukhari dalam Kitab <em>ar-Riqaq</em>, lihat <em>Shahih Bukhari</em> hal. 1316)</p>
<p>Kesempatan hidup di dunia merupakan medan perjuangan untuk menyambut datangnya hari pembalasan. Menyia-nyiakan waktu di dunia akan menyebabkan penyesalan di akherat. Ingatlah kisah mengerikan yang diceritakan oleh Nabimu <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Pada hari kiamat nanti orang kafir akan didatangkan lalu ditanyakan kepadanya, “Bagaimanakah menurutmu, seandainya kamu memiliki emas sepenuh bumi, maukah kamu menebus siksa dengannya?” maka dia menjawab, “Mau.” Maka dikatakan kepadanya, “Dahulu kamu telah diminta untuk melakukan sesuatu yang lebih mudah daripada itu.”</em> (HR. Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq, lihat <em>Shahih Bukhari</em> hal. 1325).</p>
<p>Di saat itulah -di hari kiamat- harta kekayaan tidak lagi bernilai, tumpukan-tumpukan uang, tabungan di bank yang mencapai milyaran, <em>bodyguard</em> dan pengawal yang perkasa pun tak sanggup untuk mencegah malaikat dari menunaikan titah Rabbnya untuk melemparkan makhluk-makhluk yang sombong ke dalam api neraka&#8230; Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri darinya maka tidak akan dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit dan tidak akan masuk ke dalam surga sampai unta bisa masuk ke dalam lubang jarum. Demikian itulah Kami akan membalas orang-orang yang berdosa/kafir itu.”</em> (QS. al-A&#8217;raaf: 40)</p>
<p>Pada saat itulah, rasa haus penduduk neraka tidak lagi bisa terobati. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka penduduk neraka pun memanggil penduduk surga: &#8216;Berikanlah kepada kami air minum atau -makanan- apa saja yang diberikan Allah kepada kalian.&#8217; Maka mereka menjawab, &#8216;Sesungguhnya Allah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir&#8217;, yaitu orang-orang yang telah menjadikan agama mereka sebagai bahan senda gurau dan permainan dan tertipu oleh kehidupan dunia. Maka pada hari ini Kami lupakan mereka, sebagaimana dulu -ketika di dunia- mereka telah melupakan hari pertemuan mereka ini dan juga karena dahulu mereka senantiasa menentang ayat-ayat Kami.”</em> (QS. al-A&#8217;raaf: 50-51). Saat itulah Allah akan berkata kepada orang-orang yang tidak meyakini perjumpaan dengan Rabbnya, <em>“Maka pada hari ini Aku melupakanmu, sebagaimana dahulu kamu telah melupakan-Ku.”</em> (HR. Muslim dalam Kitab <em>az-Zuhd</em>, lihat Tafsir Ibnu Katsir [3/305])</p>
<p>Saudaraku, hari ini kau memang belum bisa bertemu dengan-Nya, sehingga kau hanya bisa berharap untuk menjumpai-Nya kelak dalam suasana gembira. Namun ingatlah, bahwasanya orang yang akan bergembira di saat berjumpa dengan-Nya adalah orang yang tunduk dan patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Orang-orang yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan, bukan hawa nafsu, pangkat, harta, ataupun ketenaran. Orang-orang yang menjadikan Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebagai satu-satunya panutan dan pemandu perjalanan. Orang-orang yang mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan menjalankan puasa karena dorongan iman dan ingin mendapatkan ganjaran. Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan. Sebuah kegembiraan ketika berbuka/berhari raya, dan sebuah kegembiraan lagi ketika berjumpa dengan Rabbnya.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari itu -hari kiamat- akan memutih/berseri wajah-wajah dan menghitam/muram wajah-wajah yang lain.”</em> (QS. Ali Imran: 106). Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata, <em>“Yaitu akan memutih wajah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah (orang-orang yang berpegang teguh dengan Sunnah), dan akan menghitam wajah Ahlul Bid&#8217;ah wal Furqah (orang-orang yang menebar bid&#8217;ah dan perpecahan).”</em> (dikutip dari <em>Kun Salafiyan &#8216;alal Jaddah</em>, hal. 57)</p>
<p>Hari ini, harapan itu masih terbuka lebar di hadapanmu. Selama nyawa masih belum sampai ke tenggorokan. Sebelum datangnya hari penyesalan, ketika kematian mengalami kematian. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akan didatangkan kematian dalam bentuk seekor domba putih kehitam-hitaman. Lalu ada yang berseru, &#8216;Wahai penduduk surga&#8217; maka mereka pun mendongakkan kepala seraya memandanginya. Lalu ditanyakan kepada mereka, &#8216;Apakah kalian mengenalinya?&#8217;. Maka mereka menjawab, &#8216;Iya. Ini adalah kematian.&#8217; Dan mereka semua pun telah melihatnya. Lalu diserukan lagi, &#8216;Wahai penduduk neraka.&#8217; maka mereka pun mendongakkan kepalanya seraya memandanginya. Lalu ditanyakan, &#8216;Apakah kalian mengenalinya?&#8217;. Mereka menjawab, &#8216;Iya. Ini adalah kematian&#8217;. Dan mereka semua pun telah ikut melihatnya. Kemudian domba (kematian) pun disembelih, dan dikatakan, &#8216;Wahai penduduk surga, kekallah. Tiada lagi kematian&#8217;, &#8216;Wahai penduduk neraka, kekallah. Tiada lagi kematian.&#8217; Kemudian Nabi membaca ayat -yang artinya-, &#8216;Dan berikanlah peringatan kepada mereka akan hari penyesalan ketika keputusan itu sudah ditetapkan sementara mereka tenggelam dalam kelalaian.&#8217; dan mereka memang berada dalam kelalaian; yaitu para pemuja dunia, &#8216;dan mereka pun tidak beriman&#8217;.”</em> (HR. Bukhari dalam Kitab <em>Tafsir al-Qur&#8217;an</em>, lihat <em>Shahih Bukhari</em>, hal. 990)</p>
<p>Kalau engkau jujur ingin berjumpa Rabbmu, maka marilah kita laksanakan perintah-Nya (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, lakukanlah amal salih dan janganlah mempersekutukan sesuatu apapun dalam beribadah kepada Rabbnya.”</em> (QS. al-Kahfi: 110). Inilah jalan yang akan membawa hamba-hamba Allah menuju kebahagiaan dan kesuksesan yang sejati; mengikuti Sunnah/ajaran Nabi dan memurnikan tauhid di dalam diri. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih bagi mereka itu surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Itulah keberuntungan yang sangat besar&#8230;”</em> (QS. al-Buruj: 11).</p>
<p>Harapan masih terbuka lebar&#8230;, bekali diri dengan keyakinan, sabar, dan tawakal. Karena orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab adalah orang-orang yang bertawakal hanya kepada Rabb mereka, semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan mereka, <em>amin yaa Rabbal &#8216;alamin</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jangan-putus-asa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Sabar</title>
		<link>http://abumushlih.com/indahnya-sabar.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/indahnya-sabar.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 05:51:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1301</guid>
		<description><![CDATA[Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata, “Hakekat kesabaran itu adalah teguh di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7]). Ibnu &#8216;Atha&#8217; rahimahullah berkata, “Sabar adalah menyikapi musibah dengan adab/cara yang baik.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq rahimahullah berkata, “Hakekat dari sabar yaitu tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Findahnya-sabar.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Findahnya-sabar.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibrahim al-Khawwash <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hakekat kesabaran itu adalah teguh di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” </em>(<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7]). Ibnu &#8216;Atha&#8217; <em>rahimahullah</em> berkata,<em> “Sabar adalah menyikapi musibah dengan adab/cara yang baik.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hakekat dari sabar yaitu tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk berkeluh-kesah -kepada makhluk- maka hal itu tidak meniadakan kesabaran.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim </em>[3/7])</p>
<p><span id="more-1301"></span>Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> menjelaskan, <em>“Sabar secara bahasa artinya adalah menahan diri. Allah ta&#8217;ala berfirman kepada nabi-Nya (yang artinya), &#8216;Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka&#8217;. Maksudnya adalah tahanlah dirimu untuk tetap bersama mereka. Adapun di dalam istilah syari&#8217;at, sabar adalah: menahan diri di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dan untuk meninggalkan kedurhakaan/kemaksiatan kepada-Nya. &#8230;”</em> (<em>I&#8217;anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid</em> [3/134] software Maktabah asy-Syamilah)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Macam-Macam Sabar</strong></p>
<p>al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah &#8216;azza wa jalla, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah &#8216;azza wa jalla, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan itu lebih utama daripada sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan&#8230;”</em> (<em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 279)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya Allah memiliki hak untuk diibadahi oleh hamba di saat tertimpa musibah, sebagaimana ketika dia mendapatkan kenikmatan.”</em> Beliau juga mengatakan, <em>“Maka sabar adalah kewajiban yang selalu melekat kepadanya, dia tidak boleh keluar darinya untuk selama-lamanya. Sabar merupakan penyebab untuk meraih segala kesempurnaan.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [11/344]).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Adapun sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, maka hal itu sudah jelas bagi setiap orang bahwasanya keduanya merupakan bagian dari keimanan. Bahkan, kedua hal itu merupakan pokok dan cabangnya. Karena pada hakekatnya iman itu secara keseluruhan merupakan kesabaran untuk menetapi apa yang dicintai Allah dan diridhai-Nya serta untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, demikian pula harus sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Dan juga karena sesungguhnya agama ini berporos pada tiga pokok utama: [1] membenarkan berita dari Allah dan rasul-Nya, [2] menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya, dan [3] menjauhi larangan-larangan keduanya&#8230;”</em> (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 105-106)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sabar merupakan akhlak para rasul</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah didustakan rasul-rasul sebelummu maka mereka pun bersabar menghadapi tindakan pendustaan tersebut, dan mereka pun disakiti sampai datanglah kepada mereka pertolongan Kami.”</em> (QS. al-An&#8217;am: 34)</p>
<p><strong>Sabar membuahkan kebahagiaan hidup</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.”</em> (QS. al-&#8217;Ashr: 1-3)</p>
<p>Umar bin Khatthab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, <em>“Kami berhasil memperoleh penghidupan terbaik kami dengan jalan kesabaran.”</em> (HR. Bukhari secara <em>mu&#8217;allaq</em> dengan nada tegas, dimaushulkan oleh Ahmad dalam <em>az-Zuhd</em> dengan sanad sahih, lihat <em>Fath al-Bari</em> [11/342] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p><strong>Sabar </strong><strong>penopang</strong><strong> </strong><strong>ke</strong><strong>iman</strong><strong>an</strong></p>
<p>Dari Shuhaib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” </em>(HR. Muslim [2999] lihat <em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim</em> [9/241])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, <em>“Sabar adalah separuh keimanan.”</em> (HR. Abu Nu&#8217;aim dalam <em>al-Hilyah</em> dan al-Baihaqi dalam <em>az-Zuhd</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/62] dan [11/342]). Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, <em>“Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.”</em> (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam <em>Mushannaf</em>nya [31079] dan al-Baihaqi dalam <em>Syu&#8217;ab al-Iman</em> [40], bagian awal atsar ini dilemahkan oleh al-Albani dalam <em>Dha&#8217;if al-Jami&#8217;</em> [3535], lihat <em>Shahih wa Dha&#8217;if al-Jami&#8217; as-Shaghir</em> [17/121] software Maktabah asy-Syamilah).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sabar penepis fitnah</strong></p>
<p>Dari Abu Malik al-Asy&#8217;ari <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“&#8230;Dan sabar itu adalah cahaya -yang panas-&#8230;”</em> (HR. Muslim [223], lihat <em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim</em> [3/6] cet. Dar Ibn al-Haitsam tahun 2003). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“&#8230; Fitnah syubhat bisa ditepis dengan keyakinan, sedangkan fitnah syahwat dapat ditepis dengan bersabar. Oleh karena itulah Allah Yang Maha Suci menjadikan kepemimpinan dalam agama tergantung pada kedua perkara ini. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24). Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan bekal sabar dan keyakinan itulah akan bisa dicapai kepemimpinan dalam hal agama. Allah juga memadukan keduanya di dalam firman-Nya (yang artinya), “Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-&#8217;Ashr: 3). Saling menasehati dalam kebenaran merupakan sebab untuk mengatasi fitnah syubhat, sedangkan saling menasehati untuk menetapi kesabaran adalah sebab untuk mengekang fitnah syahwat&#8230;”</em> (dikutip dari <em>adh-Dhau&#8217; al-Munir &#8216;ala at-Tafsir</em> yang disusun oleh Syaikh Ali ash-Shalihi [5/134], lihat juga <em>Ighatsat al-Lahfan</em> hal. 669)</p>
<p><strong>Sabar membuahkan hidayah bagi hati</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.”</em> (QS. at-Taghabun: 11)</p>
<p>Ibnu Katsir menukil keterangan al-A&#8217;masy dari Abu Dhabyan. Abu Dhabyan berkata, <em>“Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini &#8216;barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya&#8217; dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, &#8216;<strong>Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya</strong>.”</em> Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa&#8217;id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, <em>“Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja&#8217; yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji&#8217;un.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [4/391] cet. Dar al-Fikr)</p>
<p><strong>Hikmah dibalik musibah</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.”</em> (HR. Tirmidzi, hadits hasan gharib, lihat <em>as-Shahihah</em> [1220])</p>
<p>Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan bahwa ada kalanya Allah <em>ta&#8217;ala</em> memberikan musibah kepada hamba-Nya yang beriman dalam rangka membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa yang pernah dilakukannya selama hidup. Hal itu supaya nantinya ketika dia berjumpa dengan Allah di akherat maka beban yang dibawanya semakin bertambah ringan. Demikian pula terkadang Allah memberikan musibah kepada sebagian orang akan tetapi bukan karena rasa cinta dan pemuliaan dari-Nya kepada mereka namun dalam rangka menunda hukuman mereka di alam dunia sehingga nanti pada akhirnya di akherat mereka akan menyesal dengan tumpukan dosa yang sedemikian besar dan begitu berat beban yang harus dipikulnya ketika menghadap-Nya. Di saat itulah dia akan merasakan bahwa dirinya memang benar-benar layak menerima siksaan Allah. Allah memberikan karunia kepada siapa saja dengan keutamaan-Nya dan Allah juga memberikan hukuman kepada siapa saja dengan penuh keadilan. Allah tidak perlu ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, namun mereka -para hamba- itulah yang harus dipertanyakan tentang perbuatan dan tingkah polah mereka (diolah dari keterangan Syaikh Muhammad bin Abdul &#8216;Aziz al-Qor&#8217;awi dalam <em>al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid</em>, hal. 275)</p>
<p>Setelah kita mengetahui betapa indahnya sabar, maka sekarang pertanyaannya adalah: sudahkah kita mewujudkan nilai-nilai kesabaran ini dalam kehidupan kita? Sudahkah kita menjadikan sabar sebagai pilar kebahagiaan kita? Sudahkah sabar mewarnai hati, lisan, dan gerak-gerik anggota badan kita?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/indahnya-sabar.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Kau Buat Allah Cemburu!</title>
		<link>http://abumushlih.com/jangan-kau-buat-allah-cemburu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jangan-kau-buat-allah-cemburu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 02:02:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Cemburu]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqomah]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1162</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Sang pembawa lentera ilmu dan bimbingan. Demikian pula semoga dicurahkan kepada para sahabatnya yang berjihad dengan segenap harta dan diri mereka di jalan-Nya, begitu pula para pengikut mereka di sepanjang masa. Amma ba&#8217;du. Asma&#8217; binti Abu Bakar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-kau-buat-allah-cemburu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-kau-buat-allah-cemburu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Sang pembawa lentera ilmu dan bimbingan. Demikian pula semoga dicurahkan kepada para sahabatnya yang berjihad dengan segenap harta dan diri mereka di jalan-Nya, begitu pula para pengikut mereka di sepanjang masa. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-1162"></span></p>
<p>Asma&#8217; binti Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> meriwayatkan, suatu saat dia mendengar Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah &#8216;azza wa jalla.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/28] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Seorang mukmin itu merasa cemburu, sedangkan Allah lebih besar rasa cemburunya -daripada dirinya-.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/29] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p><strong>Kapan Allah cemburu?</strong><br />
Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah merasa cemburu. Dan seorang mukmin pun merasa cemburu. Adapun kecemburuan Allah itu akan bangkit tatkala seorang mukmin melakukan sesuatu yang Allah haramkan atasnya.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/28] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak ada satupun sosok yang lebih menyukai pujian kepada dirinya dibandingkan Allah. Oleh sebab itulah Allah pun memuji diri-Nya sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang lebih punya rasa cemburu dibandingkan Allah, dikarenakan itulah maka Allah pun mengharamkan perkara-perkara yang keji.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/27] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p><strong>Kapan Allah gembira?</strong><br />
Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh, Allah sangat-sangat bergembira terhadap taubat salah seorang di antara kalian jauh melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian di saat ia berhasil menemukan kembali ontanya yang telah menghilang.”</em> (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/13] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh, Allah jauh-jauh lebih bergembira terhadap taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya daripada salah seorang dari kalian yang suatu saat mengendarai hewan tunggangannya di suatu padang yang luas namun tiba-tiba hewan itu lepas darinya. Padahal di atasnya terdapat makanan dan minumannya. Dia pun berputus asa untuk bisa mendapatkannya kembali. Lalu dia mendatangi sebuah pohon kemudian berbaring di bawah naungannya dengan perasaan putus asa dari memperoleh tunggangannya tadi. Ketika dia sedang larut dalam perasaan semacam itu, tiba-tiba hewan tadi telah ada berdiri di sisinya. Lalu dia pun meraih tali pengikat hewan tadi, dan karena saking bergembiranya dia pun berkata, &#8216;Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu.&#8217; Dia salah berucap gara-gara saking gembiranya. “</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/16] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p><strong>Allah amat menyayangi kalian!</strong><br />
Umar bin al-Khaththab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan bahwa suatu ketika didatangkan di hadapan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> serombongan tawanan perang. Ternyata ada seorang perempuan yang ikut dalam rombongan itu. Dia sedang mencari-cari sesuatu -yaitu anaknya, pent-. Setiap kali dia menjumpai bayi di antara rombongan tawanan itu maka dia pun langsung mengambil dan memeluknya ke perutnya dan menyusuinya. Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun berkata kepada kami, <em>“Apakah menurut kalian perempuan ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”</em>. Maka kamipun menjawab, <em>“Tentu saja dia tidak akan mau melakukannya, demi Allah. Walaupun dia sanggup, pasti dia tidak mau melemparkan anaknya -ke dalamnya-.”</em> Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun mengatakan, <em>“Sungguh, Allah jauh lebih menyayangi hamba-hamba-Nya dibandingkan -kasih sayang- perempuan ini kepada anaknya.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/21] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p><strong>Bertaubatlah, sekarang juga!</strong><br />
Abu Musa al-Asy&#8217;ari <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menuturkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah &#8216;azza wa jalla membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berbuat dosa di siang hari segera bertaubat. Dan Allah bentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di waktu malam hari segera bertaubat. Sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” </em>(HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/26] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda, <em>“Semua umatku akan dimaafkan kecuali orang yang melakukan dosa secara terang-terangan. Termasuk perbuatan dosa yang terang-terangan yaitu apabila seorang hamba pada malam hari melakukan perbuatan (dosa) lalu menemui waktu pagi dalam keadaan dosanya telah ditutupi oleh Rabbnya, namun setelah itu dia justru mengatakan, &#8216;Wahai fulan, tadi malam saya melakukan ini dan itu&#8217;. Padahal sepanjang malam itu Rabbnya telah menutupi aibnya sehingga dia pun bisa melalui malamnya dengan dosa yang telah ditutupi oleh Rabbnya itu. Akan tetapi pagi harinya dia justru menyingkap tabir yang Allah berikan untuk menutupi aibnya itu.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/225] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p><strong>Jangan sepelekan maksiat</strong><br />
Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengatakan, <em>“Sesungguhnya kalian akan melakukan perbuatan-perbuatan yang dalam pandangan mata kalian hal itu lebih ringan daripada helaian rambut. Sementara kami dulu di masa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menganggapnya termasuk perkara-perkara yang membinasakan.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari [11/372] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seorang hamba bisa saja hanya mengucapkan suatu kalimat namun hal itu menyebabkan dirinya terjerumus ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/234] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p><strong>Tanda kiamat sudah dekat</strong><br />
Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah hari kiamat.”</em> Ada yang berkata, <em>“Bagaimanakah -contoh bentuk- penyia-nyiaannya wahai Rasulullah?”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari [11/377] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p><strong>Jangan hanya bicara, amalkan ilmu</strong><br />
Usamah bin Zaid <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kelak pada hari kiamat didatangkan seorang lelaki lalu dilemparkan ke dalam neraka. Maka usus perutnya pun terburai lalu dia pun berputar-putar dengannya sebagaimana halnya seekor keledai yang mengelilingi alat penggiling. Maka para penduduk neraka pun berkeumpul mengerumuninya. Mereka mengatakan, &#8216;Wahai fulan, apa yang terjadi padamu. Bukankah dulu kamu memerintahkan yang ma&#8217;ruf dan melarang yang mungkar?&#8217;. Dia menjawab, &#8216;Benar. Aku dulu memang memerintahkan yang ma&#8217;ruf tapi aku sendiri tidak melaksanakannya. Dan aku juga melarang dari yang mungkar namun aku sendiri justru melakukannya.&#8217;.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/235] cet. Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003)</p>
<p><strong>Sabar, Dunia hanya sebentar</strong><br />
Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Dunia adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi orang kafir.”</em> (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/214] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Surga diliputi oleh perkara-perkara yang terasa tidak menyenangkan, sedangkan neraka diliputi oleh perkara-perkara yang terasa menyenangkan hawa nafsu.”</em> (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/101] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ya Allah, tiada kehidupan yang sejati melainkan kehidupan akherat&#8230;”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/260] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H).</p>
<p>Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang berusaha menjaga kehormatannya maka Allah pun akan mengaruniakan iffah/terjaganya kehormatan kepadanya. Barangsiapa yang melatih diri untuk bersabar maka Allah akan jadikan dia penyabar. Barangsiapa yang melatih diri untuk senantiasa merasa cukup maka niscaya Allah akan beri kecukupan untuk dirinya. Tidaklah kalian diberikan suatu karunia yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/343] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p><strong>Jangan tertipu oleh dunia!</strong><br />
Amr bin Auf <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bukanlah kemiskinan yang kukhawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi sesungguhnya yang kukhawatirkan menimpa kalian adalah ketika dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian sehingga kalian pun berlomba-lomba untuk meraupnya sebagaimana dahulu mereka berlomba-lomba mendapatkannya. Dan dunia mencelakakan kalian sebagaimana dulu dunia telah mencelakakan mereka.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/216] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003 dan Fath al-Bari [11/274] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p>&#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> menceritakan,<em> “Keluarga Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sejak awal tiba di Madinah tidak pernah sampai merasakan kenyang karena menyantap hidangan gandum halus selama tiga malam berturut-turut sampai beliau meninggal.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/327] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p>&#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> menceritakan, <em>“Keluarga Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah memakan dua jenis makanan dalam sehari kecuali salah satunya pasti kurma kering.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/329] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p><strong>Ikhlaslah!</strong><br />
Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Allah tabaraka wa ta&#8217;ala berfirman, &#8216;Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan selain-Ku bersama dengan diri-Ku maka akan Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.”</em> (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/232] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Sa&#8217;ad bin Abi Waqqash <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, kaya jiwanya (merasa cukup), dan tersembunyi (tidak suka menonjol-nonjolkan diri, pent).”</em> (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/220] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bukanlah kekayaan yang sejati itu kekayaan yang berupa melimpahnya perbendaharaan dunia. Akan tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan di dalam hati -merasa cukup dengan pemberian Allah, pent-.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/306] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p><strong>Kenikmatan tiada tara menanti di sana&#8230;</strong><br />
Abu Hurairah<em> radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Allah &#8216;azza wa jalla berfirman, &#8216;Aku telah persiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang soleh kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah terdengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.&#8217;.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/102] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang masuk surga maka dia akan selalu senang dan tidak akan merasa susah. Pakaiannya tidak akan usang dan kepemudaannya tidak akan habis.” </em>(HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/110] cet. Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003)</p>
<p>Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila para penduduk surga telah memasuki surga dan para penduduk neraka pun telah memasuki neraka maka didatangkanlah kematian hingga diletakkan di antara surga dan neraka, kemudian kematian itu disembelih. Lalu ada yang menyeru, &#8216;Wahai penduduk surga, kematian sudah tiada. Wahai penduduk neraka, kematian sudah tiada&#8217;. Maka penduduk surga pun semakin bertambah gembira sedangkan penduduk neraka semakin bertambah sedih karenanya.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/120-121] cet. Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003)</p>
<p><strong>Saudariku, jangan kau seperti mereka!</strong><br />
Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> meriwayatkan, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada dua kelompok manusia calon penghuni neraka yang belum pernah kulihat keduanya. Suatu kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang dengannya mereka memukuli manusia. Dan kaum perempuan yang berpakaian tapi telanjang, yang menyimpang dan mengajak orang lain untuk ikut menyimpang. Kepala mereka seperti punuk onta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, dan tidak akan mencium baunya. Padahal baunya akan bisa tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.”</em> (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/124] cet. Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003)</p>
<p><strong>Kiamat terlalu dahsyat untuk dibayangkan!</strong><br />
Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Pada hari kiamat umat manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan.” </em>Maka Aisyah mengatakan, <em>“Wahai Rasulullah, perempuan dan laki-laki dikumpulkan menjadi satu? Tentu saja mereka akan saling melihat satu dengan yang lain.”</em> Maka beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Wahai &#8216;Aisyah, sesungguhnya urusan di waktu itu lebih dahsyat sehingga tidak sempat bagi mereka untuk saling memperhatikan satu dengan yang lain.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/126] cet. Dar Ibnu al-Haitsam tahun 2003)</p>
<p><strong>Istiqomahlah!</strong><br />
&#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> menceritakan, <em>“Amal yang paling disenangi oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah yang dikerjakan secara terus menerus oleh pelakunya.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/332] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p>&#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha </em>meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Berbuatlah sebaik dan selurus mungkin dan lakukan apa yang paling mendekati ideal. Ketahuilah sesungguhnya bukan amal kalian semata yang bisa memasukkan kalian ke surga. Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu walaupun hanya sedikit.”</em> (HR. Bukhari, lihat Fath al-Bari [11/335] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)</p>
<p>Demikianlah yang bisa kami sajikan ke hadapan para pembaca yang mulia, dengan harapan Allah berkenan untuk mengaruniakan petunjuk dan bimbingan-Nya ke dalam hati kita sehingga akan semakin meningkatkan rasa cinta kita kepada-Nya, harap dan takut serta tawakal hanya kepada Rabb alam semesta. Teriring doa semoga Allah mengampuni semua dosa kita di masa lalu, dan semoga Allah -Yang Maha Pemberi petunjuk- menuntun kita agar tetap berjalan di atas shirathal mustaqim sampai ajal tiba. Akhirnya, segala puji bagi Allah yang dengan karunia-Nya segala kebaikan bisa menjadi terlaksana. <em>Wa shallallahu &#8216;ala nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam.</em></p>
<p>Yogyakarta, Akhir bulan Syawwal 1430 H,<br />
Hamba yang sangat membutuhkan Rabbnya</p>
<p>Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
<em>-Semoga Allah memperbaiki dirinya-</em></p>
<p>http://abumushlih.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jangan-kau-buat-allah-cemburu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudariku… Sampai Kapan Kau Terlena?</title>
		<link>http://abumushlih.com/saudariku%e2%80%a6-sampai-kapan-kau-terlena.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/saudariku%e2%80%a6-sampai-kapan-kau-terlena.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 16:02:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Aurat]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1122</guid>
		<description><![CDATA[Diterjemahkan dari kitab Ilaa Mataa Al Ghaflah karya Abu Umar Salim al Ajmi’ oleh Nafisah bintu Abi Salim -semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik- Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi termulia, pemuka para rasul. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudariku%25e2%2580%25a6-sampai-kapan-kau-terlena.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudariku%25e2%2580%25a6-sampai-kapan-kau-terlena.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Diterjemahkan dari kitab <em>Ilaa Mataa Al Ghaflah</em> karya Abu Umar Salim al Ajmi’</p>
<p>oleh Nafisah bintu Abi Salim -semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik-</p>
<p>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi termulia, pemuka para rasul. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya.</p>
<p><span id="more-1122"></span></p>
<p>Saudariku muslimah…<br />
Ketahuilah, kesulitan yang menimpa umat Islam saat ini merupakan adzab dari Allah. Adzab tersebut tidaklah turun kecuali disebabkan dosa-dosa para hamba, yang dengan itu diharapkan mereka mau bertaubat kepada Rabb mereka dan mau kembali kepada-Nya.</p>
<p>Dalam tulisan ringkas ini kami ingin menjelaskan sebagian sebab yang menyampaikan kita pada apa yang kita alami sekarang ini, agar kita mengoreksi diri dan memperbaiki kesalahan.</p>
<p><strong>Pertama, dosa-dosa dan kemaksiatan</strong><br />
Tidak diragukan lagi bahwa dosa dan kemaksiatan termasuk sebab terbesar yang menyampaikan umat terdahulu pada kebinasaan. Ali radhiyallahu&#8217;anhu berkata: “Tidaklah turun bala (siksaan) kecuali karena dosa, dan bala tersebut tidak akan diangkat kecuali dengan taubat.”</p>
<p>Ketika bala menimpa suatu kaum, tak ada satupun usaha manusia yang mampu menahannya, meski ada orang-orang shalih ada diantara mereka, adzab tetap meliputi. Sebagaimana ucapan Zainab kepada Nabi: “Apakah kita akan dibinasakan sedangkan ada orang-orang shalih diantara kita?” Nabi bersabda: “Ya, apabila telah banyak kejelekan.” (HR. Bukhari no. 7059 dan Muslim no. 2880)</p>
<p>Pada umat ini pun ada orang-orang shalih, akan tetapi banyak pula tersebar kejelekan. Oleh karena itu hendaknya orang-orang yang memiliki akal menjauhi dosa-dosa dan kemaksiatan agar Allah tidak memasukkan dirinya ke dalam adzab-Nya yang pedih dan tidak menghadapkan dirinya kepada kemurkaan Allah.</p>
<p>Berapa banyak penduduk negeri yang berada dalam keamanan dan ketenangan, mereka diberi nikmat dengan makmurnya kehidupan kemudian Allah membinasakan dan mengubah keadaan mereka. Allah ganti nikmat tersebut dengan kelaparan dan rasa aman dengan ketakutan disebabkan dosa dan kemaksiatan.</p>
<p>Allah berfirman (yang artinya): “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezeki datang kepada mereka melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nahl:112)</p>
<p>Maka perhatikanlah kelembutan sifat Allah dan perhatikan bagaimana Allah mengubah keadaan mereka. Semua itu disebabkan dosa dan kemaksiatan hamba.</p>
<p><strong>Kedua, lemahnya ketakwaan</strong><br />
Ketahuilah wahai Saudariku, semoga Allah merahmatimu.<br />
Lemahnya takwa dalam hati juga merupakan sebab yang mengantarkan kepada kebinasaan dan hilangnya kenikmatan serta berubahnya keadaan yang paling baik menjadi yang paling buruk. Lemahnya takwa termasuk sebab datangnya murka Allah.</p>
<p>Dia yang Maha Suci berfirman (yang artinya): “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami, maka Kami siksa mereka karena perbuatan mereka itu.” (QS. Al A’raf: 96)</p>
<p><strong>Ketiga, merajalelanya kerusakan</strong><br />
Merajalelanya bermacam-macam perbuatan dosa, seperti wanita menampakkan perhiasan (aurat) nya di depan laki-laki yang bukan mahram, bercampur baurnya laki-laki dan wanita yang buka mahram tanpa hijab yang syar’i, banyaknya perzianaan, ditinggalkannya shalat dan zakat, banyaknya riba, homo seks, dan sebagainya termasuk sebab turunnya bala pada umat ini. Ketika perbuatan tersebut dilakukan terang-terangan dalam suatu kaum dan disiarkan sampai merata di kalangan mereka, maka dipastikan akan turun adzab. Allah berfirman dalam surat Ar-Ruum ayat 41 (yang artinya):  “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka mau kembali.”</p>
<p>Bila Allah ingin membinasakan suatu kaum, Allah jadikan orang-orang yang paling jahat diantara mereka bertambah kefasikan dan kerusakkannya kemudian mereka menyebarkan kerusakkan itu dan menyeru manusia untuk melakukannya. Saat itulah turun adzab, sebagaimana firman Allah (yang artinya): “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya mentaati Allah, tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan) Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Isra:16)</p>
<p><strong>Keempat, merasa aman dari makar Allah.</strong><br />
Orang-orang yang shalih selalu tunduk dalam ketaatan, bertaubat, dan khusyu. Hati mereka bergetar karena takut kepada Allah dan khawatir terhadap adzab-Nya yang pedih. Namun sungguh mengherankan, ada orang yang menampakkan kemaksiatan di hadapan Allah secara terang-terangan. Sungguh mengherankan, ia terus-menerus melakukan dosa besar dan kemaksiatan. Tidaklah ia meninggalkan satu dosa kecuali telah melakukan dosa yang lain.</p>
<p>Sungguh mengherankan, wanita yang keluar dalam keadaan tidak berpakaian kecuali hanya sekedar menutup separuh badannnya, kemudian ia pergi ke pasar dan menimbulkan fitnah di hati hamba-hamba Allah. Betapa mengherankan orang yang lalai padahal ia berada dalam pengawasan Allah. Sungguh sangat mengherankan, bagaimana mereka semua merasa aman dari makar Allah!!</p>
<p>Apakah mereka belum pernah mendengar firman Allah (yang artinya):  “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami pada mereka di malam hari saat mereka tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami di waktu dhuha ketika mereka sedang bermain? Apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)?. Tidaklah merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf:97-99)</p>
<p>Orang-orang yang merasa aman dari makar Allah adalah orang-orang yang merugi, karena mereka lengah dari adzab Allah hingga adzab itu sampai kepada mereka dengan tiba-tiba tanpa mereka sadari. Yang demikian itu disebabkan mereka merasa aman dari makar Allah. Mereka terus-menerus dalam kemaksiatan, tidak menyadari kemurkaan Allah hingga terjadilah apa yang terjadi.</p>
<p>Wahai Saudariku muslimah…sepantasnya seorang muslim yang hakiki mengetahui beberapa perkara penting berikut ini:<br />
<em></em></p>
<p><em>Pertama</em>, hendaknya kita berserah diri dan meyakini bahwa Allah tidak akan mendzalimi siapapun sebagaimana firman-Nya (yang artinya):  “Dan sekali-kali Allah tidak mendzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushilat: 46)</p>
<p>Sebab turunnya adzab kepada manusia adalah akibat ulah mereka sendiri, sebagai buah dari amalan mereka. Allah berfirman (yang artinya):  “Dan musibah apapun yang menimpa kalian adalah disebabkan perbuatan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan itu).”</p>
<p>“Dan Allah tidaklah mendzalimi mereka, akan tetapi diri-diri mereka sendirilah yang dzalim.” (QS. Ali Imran: 117)</p>
<p><em>Kedua</em>, wajib atas setiap muslim mengetahui bahwa ujian itu datangnya dari Allah. Firman Allah (yang artinya):  “Dan Kami akan memberi kalian cobaan dengan kejelekan dan kebaikan sebagai ujian dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiya: 35)</p>
<p>Hendaknya pula ia mengerti bahwa Allah menguji hamba-hamba-Nya agar dapat dibedakan siapa yang betul-betul beriman kepada Allah dan siapa orang-orang munafik, siapa yang jujur dan siapa yang dusta. Hal ini adalah sunatullah yang berlaku pada umat-umat terdahulu.  Allah berfirman (yang artinya):  “Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang kafir. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantara kalian dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 141-142)</p>
<p><em>Ketiga</em>, wajib bagi kita untuk bersabar, mengharap pahala, dan memuji Allah atas segala yang ditakdirkan-Nya. Hendaknya kita tidak mengeluh atas takdir buruk yang menimpa kita. Kesabaran adalah jalan yang paling selamat dan paling mudah untuk mendapatkan kelapangan dari Allah. Dia berfirman (yang artinya):  “Jika kalian bersabar dan bertakwa maka yang demikian itu sungguh merupakan hal yang patut diutamakan.” (QS. Ali Imran: 186)</p>
<p><em>Keempat</em>, marilah kita bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan-Nya atas apa yang telah kita lakukan baik itu perbuatan maksiat dan dosa-dosa ataupun kelemahan dalam menjalankan kewajiban. Kita sadari bahwa taubat adalah satu-satunya cara mencapai jalan keselamatan. Akankah kita sambut seruan Allah tatkala berfirman (yang artinya): “Dan bertaubatlah kamu sekalian wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (QS. An Nur: 13)</p>
<p>Ataukah kita akan terus berada dalam kemaksiatan dan dosa dengan meninggalkan shalat, memakan riba, dan lainnya?<br />
Akankah para wanita tetap bertabarruj (bersolek dan dipertontonkan di depan laki-laki bukan mahram) dan safar (bepergian) tanpa mahram? Apakah kita ingin menunda taubat dan melupakan firman Allah (yang artinya):  “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Hujurat: 11)</p>
<p>Wahai Saudariku muslimah…<strong>marilah kita bertaubat kepada Allah dengan taubatan nashuha</strong> (yang tulus):<br />
“Wahai Rabb kami, hilangkanlah adzab dari kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang beriman kepada-Mu.” (QS. Ad Dukhan: 12)</p>
<p>Mari kita kembali kepada Allah. Semoga Allah meringankan bencana atas kita dan menahan siksa-Nya. Shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad.</p>
<p>Dikutip dari <a href="http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=32" target="_blank">www.asysyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/saudariku%e2%80%a6-sampai-kapan-kau-terlena.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
