<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Sahabat</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/sahabat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 07:31:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Orang Terbaik Sesudah Nabi</title>
		<link>http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 05:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Ali bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Umar]]></category>
		<category><![CDATA[Utsman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2459</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari menuturkan: Muhammad bin Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Jami&#8217; bin Abi Rasyid menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Ya&#8217;la menuturkan kepada kami dari Muhammad bin al-Hanafiyah, dia berkata: Aku bertanya kepada &#8230; <a href="http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Forang-terbaik-sesudah-nabi.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Forang-terbaik-sesudah-nabi.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<div id="_mcePaste">
<div id="_mcePaste">Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>Muhammad bin Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Jami&#8217; bin Abi Rasyid menuturkan kepada kami. Dia berkata:</div>
<div><span id="more-2459"></span></div>
<div>Abu Ya&#8217;la menuturkan kepada kami dari Muhammad bin al-Hanafiyah, dia berkata: Aku bertanya kepada bapakku -Ali bin Abi Thalib-, <em>“Siapakah orang yang terbaik setelah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam?”</em>. Beliau menjawab,<em> “Abu Bakar.”</em> Lalu aku katakan, <em>“Kemudian siapa?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Kemudian Umar.”</em> Aku khawatir kalau-kalau beliau akan menyebutkan Utsman -setelah itu-, maka aku katakan, <em>“Kemudian anda?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku hanyalah salah seorang lelaki di antara kaum muslimin.” </em>(Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3671] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/37])</div>
<div>Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>Adam bin Abi Iyas menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu&#8217;bah menuturkan kepada kami dari al-A&#8217;masy. Dia berkata: Aku mendengar Dzakwan menuturkan dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri radhiyallahu&#8217;anhu, dia berkata: Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka hal itu tidak akan bisa menandingi infak mereka yang hanya satu mud/genggaman dua telapak tangan, tidak pula setengahnya.”</em> Riwayat ini diperkuat oleh riwayat Jarir, Abdullah bin Dawud, dan Muhadhir dari al-A&#8217;masy (Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3673] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/38])</div>
<div>Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>Muhammad bin Basyar menuturkan kepadaku. Dia berkata: Yahya menuturkan kepada kami dari Sa&#8217;id dari Qotadah, bahwa Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> pernah menuturkan kepada mereka: Suatu ketika Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman naik di atas gunung Uhud, tiba-tiba gunung itu bergetar (terjadi gempa). Beliau pun bersabda, <em>“Tenanglah wahai Uhud. Sesungguhnya yang di atasmu ini adalah seorang Nabi, seorang yang Shiddiq/jujur, dan dua orang yang akan mati Syahid.”</em> (Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3675] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/44])</div>
<div>Imam Bukhari menuturkan:</div>
<div>al-Humaidi dan Muhammad bin Abdullah menuturkan kepada kami. Mereka berdua berkata: Ibrahim bin Sa&#8217;ad menuturkan kepada kami dari bapaknya, dari Muhammad bin Jubair bin Muth&#8217;im, dari bapaknya, dia berkata: Suatu saat datang seorang perempuan menemui Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, maka beliau memerintahkannya untuk kembali lagi menemuinya. Perempuan itu berkata, <em>“Bagaimana jika nanti saya datang dan tidak bertemu dengan anda -seolah-olah perempuan itu bermaksud kematiannya-?”</em>. Maka beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila kamu tidak berhasil menemuiku, maka temuilah Abu Bakar.”</em> (Hadits ini diriwayatkan Bukhari [3659] dalam Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em>, lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/22])</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/orang-terbaik-sesudah-nabi.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemuliaan Abu Bakar</title>
		<link>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 22:27:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2457</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Kitab Fadha&#8217;il ash-Shahabah [Fath al-Bari Juz 7 hal. 15] dengan judul &#8216;Bab; Sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar.” Di dalamnya beliau menyebutkan sebuah riwayat &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-abu-bakar.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkemuliaan-abu-bakar.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> membuat bab di dalam <em>Kitab Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> [<em>Fath al-Bari</em> Juz 7 hal. 15] dengan judul <em>&#8216;Bab; Sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Tutuplah pintu-pintu -di dinding masjid- kecuali pintu Abu Bakar.” </em>Di dalamnya beliau menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak penuturan Imam Bukhari tersebut.</p>
<p><span id="more-2457"></span></p>
<p>Imam Bukhari berkata:</p>
<p><strong>Abdullah bin Muhammad</strong> menuturkan kepada kami. [Dia berkata]: <strong>Abu &#8216;Amir</strong> menuturkan kepada kami. Dia berkata: <strong>Fulaih</strong> menuturkan kepada kami. Dia berkata: <strong>Salim Abu Nazhar</strong> menuturkan kepadaku dari <strong>Busr bin Sa&#8217;id</strong> dari <strong>Abu Sa&#8217;id al-Khudri</strong> <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata:</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkhutbah kepada orang-orang (para sahabat). Beliau mengatakan, <em>“Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba; antara dunia dengan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.”</em></p>
<p>Beliau -Abu Sa&#8217;id- berkata: “Abu Bakar pun menangis. Kami merasa heran karena tangisannya. Tatkala Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan ada seorang hamba yang diberikan tawaran. Ternyata yang dimaksud hamba yang diberikan tawaran itu adalah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Memang, Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami.”</p>
<p>Kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dengan ikatan persahabatan dan dukungan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang Khalil -kekasih terdekat- selain Rabb-ku niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai Khalil-ku. Namun, cukuplah -antara aku dengan Abu Bakar- ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam. Dan tidak boleh ada satu pun pintu yang tersisa di [dinding] masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.”</em></p>
<p>Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, di <em>Kitab</em> <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> (lihat <em>Syarh Nawawi</em> Juz 8 hal. 7-8)</p>
<p>Berikut ini pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari hadits di atas. Kami sarikan dari keterangan al-Hafizh Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi. Semoga bermanfaat.</p>
<ol>
<li>Hadits      ini mengandung keistimewaan yang sangat jelas pada diri Abu Bakar      ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>yang tidak ditandingi oleh siapapun -di      antara para sahabat-. Hal itu disebabkan beliau berhak mendapat predikat <em>Khalil</em> -kekasih terdekat- bagi Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kalaulah      bukan karena faktor penghalang yang disebutkan oleh Nabi di atas (lihat <em>Fath      al-Bari</em> [7/17 dan 19])</li>
<li>Abu      Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> mengetahui bahwa seorang hamba yang      diberikan tawaran tersebut adalah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.      Oleh sebab itu beliau pun menangis karena sedih akan berpisah dengannya,      terputusnya wahyu, dan akibat lain yang akan muncul setelahnya (lihat <em>Syarh      Nawawi</em> [8/7])</li>
<li>Hadits      ini menunjukkan bahwa semestinya masjid dijaga agar tidak menjadi seperti      jalan tempat berlalu-lalangnya manusia kecuali dalam kondisi darurat yang      sangat penting (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Para      ulama itu memiliki pemahaman yang bertingkat-tingkat. Setiap orang yang      lebih tinggi pemahamannya maka ia layak untuk disebut sebagai<em> a&#8217;lam</em> (orang yang lebih tahu) (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Hadits      ini mengandung motivasi untuk lebih memilih pahala akhirat daripada perkara-perkara      dunia (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
<li>Hendaknya      seorang berterima kasih kepada orang lain yang telah berbuat baik      kepadanya dan menyebutkan keutamaannya (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/19])</li>
</ol>
<p>Saudaraku&#8230; Kita bisa melihat bersama bagaimana zuhudnya Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap dunia. Kecintaan kepada akhirat dan kerinduan untuk bertemu dengan Allah jauh lebih beliau utamakan daripada kesenangan dunia.</p>
<p>Kita juga bisa melihat bersama bagaimana kedalaman ilmu Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> terhadap hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, sehingga ilmu itupun terserap dengan cepat ke dalam hatinya dan membuat air matanya meleleh. Beliau sangat menyadari bahwa kehadiran Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di tengah-tengah para sahabat laksana lentera yang menerangi perjalanan hidup mereka. Nikmat hidayah yang dicurahkan kepada mereka melalui bimbingan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah di atas segala-galanya.</p>
<p>Kita pun bisa menarik kesimpulan bahwa dakwah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berjalan dengan bantuan dan dukungan para sahabatnya. Beliau -dengan kedudukan beliau yang sangat agung- tidaklah berdakwah sendirian. Terbukti pengakuan beliau terhadap jasa-jasa Abu Bakar yang sangat besar kepadanya. Tentu saja yang beliau maksud bukan semata-mata bantuan Abu Bakar untuk kepentingan pribadi beliau, akan tetapi demi kemaslahatan umat yang itu tak lain adalah dalam rangka dakwah dan berjihad di jalan Allah.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan betapa agungnya kedudukan Abu Bakar di mata Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang melebihi sahabat-sahabat yang lain. Sehingga sangat keliru pemahaman sekte Syi&#8217;ah yang menjelek-jelekkan bahkan sampai mengkafirkan beliau.</p>
<p>Hadits ini pun menggambarkan keluhuran akhlak Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap para sahabatnya. Bagaimana beliau dengan tanpa malu-malu mengakui keutamaan Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Padahal, kedudukan Abu Bakar tentu saja berada di bawah kedudukan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Meskipun demikian, beliau menyebutkan jasanya dan menyanjungnya di hadapan para sahabat yang lain.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa memuji orang di hadapannya diperbolehkan selama orang tersebut tidak dikhawatirkan <em>ujub</em> karenanya. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Abu Bakar dari sisi Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> tetap memujinya di hadapannya dan di hadapan para sahabat yang lain. Hal itu mengisyaratkan kepada kita bahwa Abu Bakar bukanlah termasuk kategori orang yang dikhawatirkan merasa ujub setelah mendengar pujian tersebut.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa kecintaan yang terpendam di dalam hati pasti akan membuahkan pengaruh pada gerak-gerik fisik manusia. Kecintaan yang sangat dalam pada diri Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap Abu Bakar pun tampak dari ucapan dan perbuatan beliau. Kalau kita mencintai Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> maka konsekuensinya kita pun mencintai orang yang beliau cintai. Dan di antara orang yang beliau cintai, bahkan yang paling beliau cintai adalah Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Kecintaan yang berlandaskan Islam dan persaudaraan seagama. Lantas ajaran apakah yang justru mengajarkan kita untuk membenci orang-orang yang paling dicintai oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, kalau bukan ajaran kesesatan?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kemuliaan-abu-bakar.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salafi Kembali Dicaci</title>
		<link>http://abumushlih.com/salafi-kembali-dicaci.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/salafi-kembali-dicaci.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 00:49:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Aliran]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunni]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Wahhabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2429</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Sunnah sebagai penyelamat di tengah derasnya badai fitnah. Salawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, yang telah menunjukkan dengan gamblang mengenai jalan kebenaran, yaitu jalan al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat). Amma ba’du. Rasulullah &#8230; <a href="http://abumushlih.com/salafi-kembali-dicaci.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsalafi-kembali-dicaci.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsalafi-kembali-dicaci.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Sunnah sebagai penyelamat di tengah derasnya badai fitnah. Salawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, yang telah menunjukkan dengan gamblang mengenai jalan kebenaran, yaitu jalan <em>al-Firqah an-Najiyah</em> (golongan yang selamat). <em>Amma ba’du</em>.</p>
<p><span id="more-2429"></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam itu datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali menjadi asing seperti kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Saudara seiman dan seakidah yang dirahmati Allah, tak henti-hentinya ahlul bathil menyerang dan menyerbu ahlul haq. Namun sama sekali hal itu tak akan menggoyahkan al haq sedikit pun. Belum lagi berlalu tragedi pengepungan kaum Syi’ah Hutsi di Yaman kepada saudara-saudara kita di Dammaj yang telah menewaskan sejumlah korban Ahlus Sunnah -<em>semoga Allah menempatkan mereka di surga-Nya</em>-.</p>
<p>Ternyata, dalam situasi yang sedemikian memprihatinkan ini, di negeri kita masih ada juga orang-orang yang berusaha menebarkan keragu-raguan terhadap kebenaran kepada umat Islam. Tuduhan dan celaan yang tidak pada tempatnya telah mengotori lisan dan tulisan mereka. Maha Suci Allah dari apa yang mereka lontarkan&#8230;</p>
<p>Saudaraku, semoga Allah mengokohkan imanku dan imanmu&#8230; Sesungguhnya Islam yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan mengikuti metode beragama para sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>.</p>
<p>Terlalu banyak dalil, dari ayat maupun hadits yang menetapkan hakikat yang agung ini. Sehingga pemahaman tentang hal ini menjadi sebuah perkara yang teramat jelas dan gamblang di mata orang-orang yang masih mendengar suara hatinya.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu urusan maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan rasul (as-Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’: 59</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menaati rasul, sesungguhnya dia telah menaati Allah.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa’: 80</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan/tuntunan rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah/petaka atau siksaan yang amat pedih.” </em>(<strong>QS. an-Nuur: 63</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi Rabbmu, sekali-kali mereka tidak beriman sampai mereka menjadikanmu sebagai hakim/pemutus perkara dalam segala perselisihan yang terjadi di antara mereka, kemudian mereka tidak mendapati dalam hati mereka rasa sempit atas apa yang kamu putuskan, dan mereka pasrah dengan sepenuhnya.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa’: 65</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah layak bagi seorang lelaki yang beriman, demikian pula bagi seorang perempuan yang beriman, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lain untuk urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” </em>(<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia justru mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami akan membiarkan dia di dalam kesesatan yang dia pilih, dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” </em>(<strong>QS. an-Nisaa’: 115</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama yaitu Muhajirin dan Anshar, beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya&#8230;” </em>(<strong>QS. at-Taubah: 100</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku, maka dia akan melihat banyak perselisihan. Oleh sebab itu wajib atas kalian untuk mengikuti Sunnah/ajaranku dan Sunnah Khulafa’ur rasyidin yang berjalan di atas hidayah. Berpegang teguhlah dengannya. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham, dan jauhilah berbagai perkara yang diada-adakan. Karena setiap bid’ah itu sesat.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud dan Tirmidzi</strong>, Tirmidzi berkata; <em>hadits hasan sahih</em>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami pasti tertolak.” </em>(<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Barangsiapa yang menciptakan suatu bid’ah yang dia pandang sebagai sebuah kebaikan (bid’ah hasanah) maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengkhianati risalah.”</em></p>
<p>Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sunnah adalah bahtera Nuh. Barangsiapa yang menaikinya niscaya akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.”</em></p>
<p>Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah berhasil memperbaiki generasi awalnya.”</em></p>
<p>Imam al-Auza’i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Wajib bagimu untuk mengikuti jejak orang-orang yang terdahulu (salaf), dan jauhilah pendapat-pendapat akal manusia meskipun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan yang indah.”</em></p>
<p>Imam asy-Syafi’i <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya suatu Sunnah/hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak halal baginya meninggalkannya hanya gara-gara mengikuti pendapat seseorang.”</em></p>
<p>Ketika membicarakan tentang <em>ath-Tha’ifah al-Manshurah</em>/golongan yang dimenangkan, Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Apabila mereka itu bukan ahlul hadits maka aku tidak tahu lagi siapakah mereka itu.”</em></p>
<p>Imam adz-Dzahabi <em>rahimahullah</em> memuji Imam ad-Daruquthni dengan ucapannya, <em>“Beliau tidak pernah menggeluti ilmu kalam/filsafat dan perdebatan, beliau pun tidak suka menceburkan diri ke dalamnya. Bahkan beliau adalah seorang salafi/pengikut salaf.”</em></p>
<p>Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa mengikuti Salafus Shalih –kaum Muhajirin dan Anshar, yaitu para sahabat, dan juga tabi’in dan tabi’ut tabi’in- adalah sebuah keharusan, apabila kita ingin termasuk golongan orang diridhai dan ditolong Allah. Maka setiap muslim tanpa kecuali harus beragama dengan berpegang kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pehamaman Salafus Shalih berdasarkan dalil-dalil yang sudah sangat jelas dan gamblang di atas, dan dalil-dalil lain yang banyak sekali. Inilah yang dimaksud dengan istilah salafi!!</p>
<p>Sekarang marilah kita bertanya kepada diri-diri kita:</p>
<p>Dari manakah kita mengetahui cara sholat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> –dari takbir sampai salam- kalau bukan dari para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>?</p>
<p>Dari manakah kita mengetahui tuntunan puasa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> –dari sejak sahur sampai buka- kalau bukan dari para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>?</p>
<p>Dari manakah kita mengetahui cara wudhu dan tayammum yang diajarkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kalau bukan dari para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>?</p>
<p>Dari manakah kita mengetahui akhlak Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kalau bukan dari keterangan para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em>?</p>
<p>Aduhai, lantas mengapa sekarang di zaman ini, tatkala kita berbicara akidah, tatkala kita berbicara tauhid, tatkala kita berbicara tentang dakwah dan metode <em>ishlahul ummah</em>/memperbaiki umat sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan dipahami oleh para Sahabat <em>radhiyallahu’anhum</em> kemudian seketika muncul tokoh-tokoh kaum muslimin yang berteriak-teriak mengingkari, melecehkan bahkan memusuhinya?!</p>
<p>Sungguh benar, apa yang dikatakan oleh sahabat Anas bin Malik <em>radhiyallahu’anhu </em>bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya tidaklah datang suatu zaman, melainkan yang sesudahnya itu lebih buruk daripada zaman sebelumnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Di saat-saat seperti inilah, semestinya setiap kita berintrospeksi sudahkah kita benar-benar berusaha mengikuti pemahaman Salafus Shalih, dalam akidah kita, ibadah kita, akhlak kita, dan mu’amalah kita. Bukannya malah menjauhkan umat dari pemahaman Salafus Shalih dan para ulamanya!</p>
<p>Apakah seperti ini balasan kalian kepada orang-orang yang telah mengorbankan harta, waktu, tenaga, bahkan nyawanya demi tegaknya dakwah Islam ini, wahai saudaraku! Tidakkah kalian ingat sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Janganlah kalian mencela para sahabatku! Seandainya ada salah seorang di antara kalian yang berinfak emas sebesar gunung Uhud maka hal itu tidak akan bisa mengimbangi infak mereka walaupun hanya satu mud/dua genggaman tangan, atau pun setengahnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Akankah kita mengikuti jejak makhluk-makhluk keji yang telah mencaci-maki para Sahabat bahkan mengkafirkan mereka dengan kedok kecintaan kepada keluarga Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>? Apakah kita akan menjadi juru bicara mereka yang senantiasa menutup-nutupi  aib, kedustaan, dan pengkhianatan mereka (baca: Syi’ah) kepada umat, sementara para Sahabat yang mulia –para pemetik janji surga- beserta para ulama pengikut setia mereka kita hinakan dan kita cela habis-habisan?! <em>Subhanallah</em>&#8230; Sungguh ini adalah kezaliman yang sangat besar!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/salafi-kembali-dicaci.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Unik Abu Hurairah</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 06:41:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Murid]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2423</guid>
		<description><![CDATA[Kutinggalkan rombongan untuk mencari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Akhirnya, aku jumpai sebuah kebun milik kaum Anshar dari Bani Najjar. Aku kelilingi kebun itu, barangkali ada pintu masuk yang bisa dilewati... *** Imam Muslim rahimahullah menuturkan sebuah kisah menarik di &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-unik-abu-hurairah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-unik-abu-hurairah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Kutinggalkan rombongan untuk mencari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Akhirnya, aku jumpai sebuah kebun milik kaum Anshar dari Bani Najjar. Aku kelilingi kebun itu, barangkali ada pintu masuk yang bisa dilewati.</em><em>..</em></p>
<p><span id="more-2423"></span></p>
<p>***</p>
<p>Imam Muslim <em>rahimahullah</em> menuturkan sebuah kisah menarik di dalam kitabnya Shahih Muslim. Beliau berkata: Zuhair bin Harb menuturkan kepada saya: [Dia berkata] Umar bin Yunus al-Hanafi menuturkan kepada kami: [Dia berkata] Ikrimah bin &#8216;Ammar menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Katsir menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu Hurairah menuturkan kepadaku.</p>
<p>Abu Hurairah berkata:</p>
<p>Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Ketika itu ada juga bersama kami Abu Bakar dan Umar dalam sebuah rombongan [para sahabat]. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bangkit meninggalkan rombongan kami. Akhirnya, beliau pun tertinggal di belakang kami. Kami khawatir kalau ada apa-apa yang menimpa beliau sehingga tertinggal dari rombongan. Kami pun merasa khawatir dan berusaha mencari tahu keberadaan beliau. Saat itu, aku adalah orang pertama yang dirundung cemas, jangan-jangan ada sesuatu yang menimpa beliau.</p>
<p>Kutinggalkan rombongan untuk mencari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Akhirnya, aku jumpai sebuah kebun milik kaum Anshar dari Bani Najjar. Aku kelilingi kebun itu, barangkali ada pintu masuk yang bisa dilewati. Ternyata pintu itu tidak ada. Yang aku temukan hanyalah sebuah sungai kecil yang menuju bagian dalam kebun. Sungai itu bersumber dari sebuah mata air di luar kebun. Aku pun meloncat -masuk ke dalam kebun- seperti seekor srigala.</p>
<p>Di dalam kebun itu, aku bertemu dengan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Beliau berkata, <em>“Abu Hurairah?”</em>. Kujawab, <em>“Benar ya Rasulullah”.</em> Beliau mengatakan, <em>“Ada apa denganmu?”</em>. Aku  berkata, <em>“Sebelum ini anda berada di tengah-tengah kami, kemudian anda pergi sehingga tertinggal dari rombongan. Kami merasa khawatir ada apa-apa yang terjadi padamu sehingga tertinggal dari rombongan. Kami merasa was-was, dan akulah orang pertama yang merasa cemas. Oleh sebab itu aku datangi kebun ini. Aku pun meloncat -masuk ke dalam kebun- seperti seekor srigala. Sementara para sahabat yang lain tetap berada di belakang.”</em></p>
<p>Beliau pun bersabda -seraya memberikan sepasang sandalnya kepadaku-, <em>“Pergilah dengan membawa kedua sandalku ini. <strong>Siapa saja yang kamu temui di balik kebun ini sedangkan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya, maka berikanlah kabar gembira surga untuknya</strong>.”</em></p>
<p>Setelah keluar, ternyata orang pertama yang aku jumpai adalah Umar. Umar pun bertanya, <em>“Ada apa dengan kedua sandal ini wahai Abu Hurairah?”</em>. Aku berkata, <em>“Ini adalah sandal Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Beliau mengutusku dengannya seraya berpesan: Barangsiapa yang  aku jumpai di balik kebun ini sedangkan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya, maka akan aku berikan kabar gembira surga untuknya.”</em></p>
<p>Umar pun memukul dadaku dengan tangannya. Aku pun terdorong jatuh dan terduduk di atas pantatku. Umar berkata, <em>“Kembalilah wahai Abu Hurairah.”</em> Aku pun kembali menemui Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Seraya menahan tangis aku adukan hal ini kepada beliau. Umar pun ternyata berjalan mengikutiku dari belakang.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya kepadaku, <em>“Apa yang terjadi padamu, wahai Abu Hurairah?”</em>. Aku menjawab, “Aku tadi bertemu dengan Umar. Kemudian kukabarkan kepadanya berita yang anda perintahkan. Tiba-tiba Umar mendaratkan sebuah pukulan ke dadaku sehingga aku pun terdorong jatuh dan terduduk di atas pantatku. Umar justru berkata kepadaku, <em>“Kembalilah.”</em></p>
<p>Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya kepada Umar, <em>“Wahai Umar. Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?”</em>. Umar menjawab, <em>“Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu. Benarkah anda telah mengutus Abu Hurairah dengan membawa kedua sandalmu untuk mengatakan kepada orang yang dia temui; barangsiapa yang dia temui sedangkan dia telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dengan penuh keyakinan dari dalam hatinya bahwa dia mendapatkan kabar gembira surga?”</em>.</p>
<p>Beliau pun menjawab, <em>“Benar”</em>. Umar pun menimpali, <em>“<strong>Jangan anda lakukan itu. Saya khawatir orang-orang menjadi bersandar kepadanya. Biarkan saja mereka sibuk dengan amalnya</strong>.”</em> Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ya, biarkan saja mereka.”</em></p>
<p>[Diterjemahkan dari <em>Shahih Muslim</em> bersama Syarah Nawawi, juz 2 hal. 77-82]</p>
<p>Kaum muslimin yang dirahmati Allah, kisah ini menyimpan segudang pelajaran berharga. Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> telah menyebutkan sebagian pelajaran yang terkandung di dalam hadits ini sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Tatkala memberitakan rombongan para sahabat yang ada saat itu,      Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Ketika itu ada juga      bersama kami Abu Bakar dan Umar&#8230;”</em>. Ini merupakan cara pemberitaan      yang bagus. Yaitu apabila bermaksud menceritakan serombongan orang namun      dirasa terlalu banyak jika harus disebutkan seluruhnya, maka cukuplah      disebutkan tokoh-tokohnya. Adapun yang lain cukup disebutkan secara umum      (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/77])</li>
<li>Di dalam hadits di atas Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyebutkan bahwa orang yang akan masuk surga adalah orang yang      mengucapkan la ilaha illallah dengan disertai keyakinan hati. Hal ini      menunjukkan bahwa sekedar mengucapkan kalimat syahadat tanpa disertai      keyakinan terhadap kandungannya tidaklah bermanfaat. Demikian pula, keyakinan      tauhid yang tidak diucapkan juga tidak berguna. Oleh sebab itu keduanya      harus dipadukan; yaitu keyakinan tauhid dan ucapan/syahadat (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/79]). Hal ini tentu saja dengan catatan ucapan dan keyakinan      itu juga diiringi dengan amalan; yaitu seorang beribadah kepada Allah      semata dan mengingkari peribadatan kepada selain-Nya, sebagaimana hal itu      telah dipahami&#8230;</li>
<li>Perbuatan Umar ketika memukul Abu Hurairah bukanlah dalam      rangka menjatuhkan atau menyakitinya, akan tetapi demi mencegahnya dari      apa yang hendak dia lakukan dan supaya dia benar-benar menahan diri      darinya. Sebab, menurut pandangan Umar menyembunyikan berita itu untuk      sementara jauh lebih mendatangkan kebaikan daripada menyebarkannya. Karena      dengan menyebarkannya membuat orang hanya bersandar dengan tauhid dan      meninggalkan amalannya. Tatkala pandangan itu disampaikan Umar kepada Nabi      <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, ternyata beliau pun menyetujui      pendapatnya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/80])</li>
<li>Hal ini menunjukkan bahwa apabila seorang pemimpin atau orang      yang lebih senior memilih suatu pendapat kemudian orang-orang yang      mengikutinya memiliki pendapat yang berlainan, semestinya bagi pengikut      untuk menyampaikan pendapat itu kepada pemimpin atau seniornya. Apabila      tampak baginya bahwa yang benar adalah pendapat si pengikut maka      selayaknya pemimpin itu pun rujuk kepadanya. Apabila ternyata sebaliknya      -pendapat mereka yang salah-, hendaknya dia menjawab kerancuan yang mereka      tanyakan (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/80])</li>
<li>Seorang yang berilmu hendaknya menyempatkan diri untuk      duduk-duduk bersama murid-murid atau orang-orang yang bertanya kepadanya      dalam rangka menyampaikan ilmu atau faidah serta melayani      pertanyaan-pertanyaan mereka (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Kisah di atas menunjukkan betapa besar penghormatan dan sopan      santun para sahabat <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em> dalam menunaikan hak-hak      Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</em> dalam memuliakan beliau      dan menaruh rasa kasih sayang yang sangat besar kepada beliau (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Kisah ini juga memberikan pelajaran hendaknya para murid atau      pengikut memiliki perhatian dan kepedulian terhadap orang yang mereka      ikuti. Hendaknya mereka juga memikirkan tentang kemaslahatan untuknya dan      berusaha menyingkirkan mafsadat yang ditemuinya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Bolehnya memasuki suatu daerah/tempat milik orang lain      -termasuk juga menggunakan barang-barang yang ada di dalamnya- walaupun      tanpa ijin darinya selama dia mengetahui bahwa orang tersebut [pemiliknya]      tidak mempermasalahkan hal itu dikarenakan kedekatan hubungan yang      terjalin di antara mereka berdua. Inilah pendapat yang dianut oleh      mayoritas ulama salaf maupun ulama belakangan (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81])</li>
<li>Hendaknya seorang pemimpin mengirimkan suatu tanda yang bisa      dikenali oleh para pengikutnya demi mendatangkan ketenangan di hati mereka      (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/81]). Sebagaimana halnya Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> mengutus Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> dengan membawa sandal beliau agar para sahabat merasa yakin tentang      keselamatan beliau dan tidak perlu lagi mencemaskan keadaannya</li>
<li>Bolehnya menahan penyebaran sebagian ilmu yang dirasa kurang      perlu dalam rangka  kemaslahatan      yang lebih besar atau dikhawatirkan timbulnya mafsadat (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/81]). Pelajaran serupa juga bisa kita petik dari hadits      Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> tatkala berboncengan dengan Nabi      <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. </em>Ketika itu Nabi <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah seorang hamba yang bersaksi      bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan Muhammad adalah      hamba dan utusan-Nya -dengan penuh kejujuran- kecuali pasti Allah haramkan      dia masuk neraka.” </em>Mu&#8217;adz berkata, <em>“Wahai Rasulullah, tidakkah      sebaiknya saya kabarkan hadits ini kepada orang-orang sehinga mereka      merasa senang?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Kalau kamu lakukan hal itu,      niscaya mereka akan bersandar (menyepelekan amal).” M</em>enjelang akhir      hayatnya barulah Mu&#8217;adz bin Jabal menyampaikan hadits ini karena ia      khawatir terjatuh dalam perbuatan dosa -yaitu menyembunyikan ilmu- (lihat <em>Syarh      Muslim</em> [2/83])</li>
</ol>
<p>Demikianlah secuplik kisah unik yang dialami oleh sahabat Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Mudah-mudahan menjadi bahan pelajaran bagi kita. Dari sini kita juga bisa memetik pelajaran tentang kedalaman ilmu para ulama salaf dan kepahaman mereka tentang kondisi umat manusia.</p>
<p>Para ulama salaf bukanlah kaum tekstualis yang hanya berkutat pada teks dalil tanpa menganalisa hal-hal lain yang terkait dengannya -sebagaimana tuduhan kaum Liberal-, bahkan mereka pun menyelami dampak dan pengaruh dari suatu dalil terhadap pendengarnya. Mereka menggunakan akalnya demi memahami dan menerapkan dalil, bukan untuk menghakimi dan menyelewengkannya.</p>
<p>Wahai kaum muslimin&#8230; Ketahuilah, bahwa kejayaan umat ini hanya akan diraih bersama manhaj salaf. Bukankah Imam Malik <em>rahimahullah</em> telah mengatakan, <em>“Tidak akan memperbaiki kondisi akhir umat ini kecuali sesuatu yang telah berhasil memperbaiki generasi awalnya.” </em>Imam al-Auza&#8217;i <em>rahimahullah</em> juga berpesan, <em>“Hendaklah kamu setia dengan jejak para salaf meskipun orang-orang menolakmu. Dan waspadalah dari pendapat akal manusia, meskipun mereka menghias-hiasinya dengan ungkapan yang indah.” </em>Akankah kita membuang ucapan emas para ulama salaf dan kita telan ucapan kotor kaum sekuler dan pluralis? <em>Kallaa tsumma kallaa</em> -sekali-kali tidak-&#8230;!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-unik-abu-hurairah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebab Utama Perpecahan</title>
		<link>http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 16:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Ishlah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>
		<category><![CDATA[Umat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2284</guid>
		<description><![CDATA[Ahlus Sunnah meyakini, bahwa persatuan merupakan salah satu pokok ajaran agama mereka. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (QS. Ali Imran: 103) Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan &#8216;tali &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsebab-utama-perpecahan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsebab-utama-perpecahan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ahlus Sunnah meyakini, bahwa persatuan merupakan salah satu pokok ajaran agama mereka. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 103</strong>) <span id="more-2284"></span></p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan &#8216;tali Allah&#8217; di sini adalah <em>al-Jama&#8217;ah</em>/persatuan, atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya. Dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud, tatkala menceritakan golongan yang selamat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Yaitu al-Jama&#8217;ah.”</em> (dinukil dari <em>al-Ishbah fi Bayani Manhaj as-Salaf fi at-Tarbiyah wa al-Ishlah</em> karya Syaikh Abdullah bin Shalih al-Ubailan, hal. 79)</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Apabila umat manusia kembali kepada al-Kitab dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam niscaya persatuan itu akan terwujud. Sebagaimana hal itu telah terjadi pada generasi awal umat ini, padahal mereka dahulu -sebelumnya- berpecah-belah&#8230;”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 82). Beliau menekankan, <em>“Tidak akan bisa menyatukan hati dan mempersatukan umat manusia kecuali dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Kalau tanpa itu maka tidak mungkin mereka bisa bersatu&#8230;”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 82).</p>
<p>Syaikh Abdullah al-Ubailan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Dengan tiga perkara berikut ini, maka persatuan itu akan terlaksana; [1] aqidah yang sahihah, [2] kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah ketika berselisih, [3] taat kepada ulil amri (umara/ulama) serta selalu menginginkan kebaikan bagi mereka dan menasehati dengan cara yang bijak&#8230;” </em>(<em>al-Ishbah</em>, hal. 84).</p>
<p><strong>Apa Sebab Perpecahan?</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Syaikh Abdullah al-Ubailan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Mereka -Ahlus Sunnah- meyakini bahwa sebab utama perpecahan adalah sikap sektarian dan suka bergolong-golongan pada diri sebagian kaum muslimin terhadap suatu kelompok tertentu, jama&#8217;ah tertentu, atau sosok tertentu selain Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 85)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan. Maka engkau -wahai Muhammad- tidak ikut bertanggung jawab atas mereka sedikitpun.”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;am: 159</strong>).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa agama memerintahkan untuk bersatu dan bersepakat, dan agama ini melarang tindak perpecah-belahan dan persengketaan bagi segenap pemeluk agama (Islam), dalam seluruh persoalan agama; yang pokok maupun yang cabang&#8230;”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 285)</p>
<p>Suatu ketika, Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> ditanya, <em>“Kamu berada di atas millah Ali atau millah Utsman?”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Bahkan, saya berada di atas millah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (dinukil dari <em>al-Ishbah</em>, hal. 86)</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Para sahabat dahulu biasa meninggalkan pendapat pribadi mereka, meskipun pendapat itu dibangun di atas al-Kitab dan as-Sunnah. Mereka meninggalkannya apabila hal itu menyebabkan tercerai-berainya persatuan. Lihatlah, bagaimana sikap Abdullah bin Mas&#8217;ud seorang sahabat yang mulia -semoga Allah meridhainya- tatkala Amirul Mukminin Utsman radhiyallahu&#8217;anhu menyempurnakan sholat (tidak mengqashar) di Mina. Padahal, Ibnu Mas&#8217;ud radhiyallahu&#8217;anhu berpendapat qashar di Mina. Meskipun demikian, apabila beliau sholat di belakang Utsman radhiyallahu&#8217;anhu maka beliau menyempurnakan (tidak qashar). Ketika ditanyakan kepadanya tentang hal itu, beliau menjawab, <strong>&#8216;Wahai putraku, perselisihan itu buruk.&#8217;</strong> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>).”</em> (dinukil dari <em>al-Ishbah</em>, hal. 97). Lihatlah, bagaimana Ibnu Mas&#8217;ud mengalah dan mengikuti pendapat Amirul Mukminin demi mempertahankan kesatuan umat&#8230;</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Memang terkadang sesuatu yang lebih utama ditinggalkan kepada sesuatu yang kurang utama, hal itu apabila dengan sesuatu yang kurang utama itu akan membuahkan persatuan. Di saat semacam itu, wajib baginya untuk mengalah dari menginginkan sesuatu yang lebih utama menuju sesuatu yang kurang utama. Hal itu perlu dilakukan demi utuhnya kesatuan dan persatuan kaum muslimin&#8230;” </em>(<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p>Beliau menambahkan, <em>“Hal itu -dianjurkan untuk mengalah- berlaku dengan catatan selama tidak merusak agama. Adapun apabila menimbulkan kerusakan agama, maka tidak boleh. Oleh karenanya wajib bagi seorang muslim mengalah dari memaksakan pendapat dan ijtihadnya, meskipun menurutnya apa yang dia yakini itulah yang lebih utama. Lantas, bagaimana lagi apabila ternyata apa yang dianut oleh jama&#8217;ah (mayoritas umat/ulama) adalah sesuatu yang lebih utama, sedangkan apa yang diyakini oleh orang yang menyelisihi ini adalah sesuatu yang kurang utama, atau bahkan sesuatu yang tidak benar?!.”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Oleh sebab itu seharusnya para penuntut ilmu dan orang-orang yang menyandarkan diri kepada ilmu mencamkan baik-baik kaidah ini; yaitu <strong>apabila seseorang muslim memiliki pendapat dan ijtihad yang seandainya ditampakkan kepada orang banyak menimbulkan kekacauan dan persengketaan, maka semestinya dia tidak perlu menampakkannya</strong>. Cukuplah dia mengikuti apa yang dianut oleh mayoritas umat Islam. Sebab hal itu lebih menjamin -kebaikan- baginya dan lebih mendekati kebenaran.” </em>(<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p>Syaikh Abdullah al-Ubailan mengomentari ucapan terakhir Syaikh Fauzan di atas, <em>“Benar, hal ini tidak ragu lagi sangat diperlukan. Apalagi dalam kondisi berkecamuknya fitnah.”</em> (<em>al-Ishbah</em>, hal. 98).</p>
<p><strong>Kesimpulan dan Pelajaran</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari paparan ringkas di atas, dapat kita petik kesimpulan dan faedah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Berpegang      teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah dengan benar -sebagaimana dipahami      Nabi dan para sahabat- membuahkan persatuan yang sejati, bukan justru      mengobarkan perpecahan di tengah-tengah umat, terlebih lagi di kalangan para      da&#8217;i&#8230;!</li>
<li>Apabila      perpecahan itu telah terjadi, maka sebabnya adalah tidak mewujudkan salah      satu di antara ketiga hal di atas. Bisa jadi karena perbedaan aqidah, atau      tidak mau merujuk kepada al-Kitab dan as-Sunnah, atau karena tidak merujuk      kepada ulil amri (ulama dan umara) dan menasehati mereka dengan cara yang      bijak.</li>
<li>Seorang      muslim hendaknya tidak segan untuk mengalah, menjaga persatuan, dan lebih      mengutamakan kemaslahatan umat di atas kepentingan pribadi dan golongan.</li>
<li>Seorang      muslim -apalagi penuntut ilmu dan da&#8217;i- semestinya memperhitungkan dampak      dari pendapat atau ucapan yang dilontarkannya di hadapan manusia, apakah      hal itu menimbulkan kekacauan di tengah-tengah mereka ataukah tidak.</li>
<li>Sebuah      pelajaran berharga, bahwa perpecahan tidak akan teratasi dengan perpecahan      pula. Perpecahan hanya bisa diatasi dengan persatuan yang sejati.      Barangsiapa mengira bahwa perpecahan bisa diatasi dengan sikap <em>ta&#8217;ashub</em> kepada sosok tertentu selain Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>,      maka sungguh dia telah keliru!</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sebab-utama-perpecahan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sosok Teladan Dalam Kebaikan</title>
		<link>http://abumushlih.com/sosok-teladan-dalam-kebaikan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/sosok-teladan-dalam-kebaikan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 16:13:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2280</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba&#8217;du. Kita mungkin pernah mendengar istilah &#8216;multi-talenta&#8217;. Ya, orang yang digelari dengan istilah ini artinya orang tersebut memiliki bakat dan keahlian yang beraneka-ragam, bukan satu keahlian saja. Bicara &#8230; <a href="http://abumushlih.com/sosok-teladan-dalam-kebaikan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsosok-teladan-dalam-kebaikan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsosok-teladan-dalam-kebaikan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p>Kita mungkin pernah mendengar istilah &#8216;multi-talenta&#8217;. Ya, orang yang digelari dengan istilah ini artinya orang tersebut memiliki bakat dan keahlian yang beraneka-ragam, bukan satu keahlian saja. Bicara soal bakat, mungkin masing-masing orang memang berlainan. Namun, jika berbicara soal amal kebaikan, tidak selayaknya seorang muslim menyia-nyiakan berbagai pintu kebaikan yang dibukakan untuknya. Karena dengan memanfaatkan berbagai pintu kebaikan yang ada, maka seorang hamba akan bisa meraih keutamaan yang sangat agung di akherat kelak, yaitu dipanggil masuk surga dari semua pintu surga&#8230; Sungguh, sebuah harapan yang sangat mulia!</p>
<p><span id="more-2280"></span>Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan di dalam Shahih mereka berdua hadits dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menginfakkan &#8216;sepasang hartanya&#8217; di jalan Allah maka dia akan dipanggil -oleh malaikat- dari pintu-pintu surga, &#8216;Wahai hamba Allah! Inilah kebaikan -yang akan kamu peroleh-.&#8217; Barangsiapa yang tergolong ahli sholat, maka dia akan dipanggil dari pintu sholat. Barangsiapa yang tergolong ahli jihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa yang tergolong ahli sedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah. Barangsiapa yang tergolong ahli puasa, maka dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan.”</em> Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, <em>“Wahai Rasulullah, bahaya apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Lantas, apakah ada orang yang dipanggil dari kesemua pintu itu?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, <em>“Ada. Dan aku berharap semoga kamu termasuk di dalamnya.” </em>(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di beberapa tempat; [1] Kitab <em>ash-Shaum</em> [hadits no. 1897], [2] Kitab <em>al-Jihad wa as-Siyar</em> [hadits no. 2841], [3] Kitab <em>Bad&#8217;u al-Khalq</em> [hadits no. 3216], [4] Kitab <em>Fadhail ash-Shahabah</em> [hadits no. 3666], dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim di Kitab <em>az-Zakah</em> [hadits no. 1027], lihat <em>Fath al-Bari</em> [4/132] dan <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/351])</p>
<p><strong>Makna &#8216;Sepasang Harta&#8217;</strong></p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan &#8216;sepasang harta&#8217; di dalam hadits di atas adalah dua buah harta yang serupa dari jenis apa saja (<em>Fath al-Bari</em> [4/132]). an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menukil keterangan al-Harawi, bahwa tafsiran dari sepasang harta itu misalnya; dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor unta (lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/351]).</p>
<p>Ibnu Baththal <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa yang dimaksud dengan &#8216;sepasang harta&#8217; adalah dua buah [harta benda], seperti misalnya dua keping dinar, dua helai pakaian, dan semacamnya (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal</em> [4/15]). Lalu, apa maksudnya? an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menyimpulkan bahwa ungkapan &#8216;sepasang harta&#8217; ini menunjukkan keutamaan bersedekah dan membelanjakan harta untuk ketaatan serta [kita] dianjurkan untuk memperbanyak hal itu (lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/352]). Dengan kata lain, apabila kita bersedekah maka jangan pelit-pelit&#8230;</p>
<p><strong>Pintu ar-Rayyan Bagi Ahli Shaum</strong></p>
<p>Hadits ini menunjukkan salah satu keutamaan ibadah puasa, yaitu bahwasanya orang-orang yang tekun mengerjakan ibadah yang agung ini kelak di akherat akan dipanggil untuk masuk surga melalui pintu ar-Rayyan. Oleh sebab itu, Imam Bukhari <em>rahimahullah</em> memasukkan hadits ini dalam Kitab ash-Shaum dengan judul bab<em> &#8216;ar-Rayyan bagi orang-orang yang berpuasa&#8217;</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [4/131]).</p>
<p>Selain hadits di atas, di dalam bab tersebut Imam Bukhari juga membawakan hadits dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu, yang disebut dengan ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk [surga] dari pintu itu pada hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang memasuki pintu itu selain mereka. Akan ada panggilan, &#8216;Dimanakah orang-orang yang berpuasa?&#8217;. Maka mereka pun berdiri. Tidak ada yang melewatinya selain mereka. Apabila mereka telah masuk [semua] maka pintu itu akan ditutup sehingga tidak ada lagi seorang pun yang melewatinya.”</em> (HR. Bukhari di Kitab <em>ash-Shaum</em> [hadits no. 1896] dan di Kitab <em>Bad&#8217;u al-Khalq</em> [hadits no. 3257], dan Muslim di Kitab <em>ash-Shiyam</em> [hadits no. 1152], lihat <em>Fath al-Bari</em> [4/131] dan <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/485])</p>
<p><strong>Keutamaan Infaq fi Sabilillah</strong></p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan keutamaan yang besar pada amalan infaq -membelanjakan harta- fi sabilillah. Yang dimaksud dengan fi sabilillah di sini tidak terbatas pada jihad saja. Berdasarkan riwayat yang dibawakan oleh Imam Ahmad yang artinya, <em>“Bagi setiap ahli amalan akan dipanggil dari pintu amalan tersebut.”</em> maka al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, <em>“Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan fi sabilillah lebih luas daripada jihad dan amal-amal salih lainnya.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [6/57]). Qadhi &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em> menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud fi sabilillah di sini  mencakup seluruh perkara kebaikan, sebagaimana dinukil oleh an-Nawawi (lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/352]). Meskipun, kata-kata fi sabilillah jika disebutkan tanpa kaitan maka secara umum maksudnya adalah jihad sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [6/55])</p>
<p>Walaupun, tentu saja membelanjakan harta demi keperluan jihad fi sabilillah merupakan amalan yang juga sangat utama. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Zaid bin Khalid al-Juhani <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau bersabda, <em>“Barangsiapa yang mempersiapkan perbekalan untuk seorang pasukan fi sabilillah maka sesungguhnya dia telah ikut berperang. Dan barangsiapa yang membantu sanak kerabatnya yang ditinggal perang maka sesungguhnya dia juga telah ikut berperang.”</em> (HR. Bukhari di Kitab <em>al-Jihad wa as-Siyar</em> [hadits no. 2843] dan Muslim di Kitab <em>al-Imarah</em> [hadits no. 1895], lihat <em>Fath al-Bari</em> [6/58] dan <em>Syarh Shahih Muslim</em> [6/522])</p>
<p>Ada sebuah pelajaran menarik dari hadits ini. an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Hadits ini mengandung dorongan untuk berbuat baik/ihsan kepada orang-orang yang menunaikan tugas-tugas kemaslahatan bagi kaum muslimin atau orang-orang yang menegakkan urusan-urusan penting bagi mereka/kaum muslimin.”</em> (<em>Syarh Shahih Muslim</em> [6/522]). <em>Hal jazaa&#8217;ul ihsan illal ihsan&#8230;</em></p>
<p><strong>Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hadits ini menunjukkan keutamaan yang ada pada diri Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>. Karena Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan tentang beliau, “<em>Aku berharap semoga kamu termasuk di dalamnya.” </em>Yaitu<em> </em>golongan orang-orang yang dipanggil dari semua pintu surga. Hal itu karena harapan dari Allah atau Nabi-Nya pasti terjadi, sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama (lihat <em>Fath al-Bari</em> [7/31] dan <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/353]).</p>
<p>Perlu diperhatikan pula di sini, bahwa yang dimaksud dengan ahli shaum, ahli sholat, ahli sedekah, maupun ahli jihad -yang layak untuk dipanggil dari semua pintu surga itu- bukanlah orang yang semata-mata telah menunaikan kewajiban-kewajiban tersebut. Namun, yang dimaksud adalah orang-orang yang selain menunaikan yang wajib-wajib maka ia juga melakukan amal-amal yang sunnah dan konsisten dalam melaksanakannya. Abdul Wahid berkata: Seandainya ada yang bertanya, <em>“Apakah tergolong di dalamnya orang yang [sekedar] menunaikan puasa Ramadhan, menzakati hartanya, dan melaksanakan sholat-sholat wajibnya?”</em>. Jawabnya adalah:  Bahwa yang dimaksudkan oleh hadits ini adalah ibadah-ibadah sunnah yang dilakukan secara terus-menerus dan diusahakan untuk diperbanyak. Itulah orang yang layak untuk dipanggil dari pintu-pintu surga (lihat <em>Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal</em> [4/18], lihat juga <em>Fath al-Bari</em> [7/30])</p>
<p>Hadits ini juga mengandung pelajaran bolehnya memuji seseorang di hadapannya selama tidak dikhawatirkan orang tersebut terjerumus dalam fitnah/dosa seperti ujub dan semacamnya (lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/353]). Namun, perlu kita ingat bahwa orang seperti Abu Bakar -dalam hal ilmu maupun amalan- adalah sosok yang sangat jarang ditemukan&#8230; Bahkan, di masa para sahabat sekalipun&#8230;!</p>
<p>Dalam hal amalan, beliau adalah sosok yang sangat unggul dibandingkan yang lainnya. Sebagaimana telah ditunjukkan dalam hadits pintu ar-Rayyan di atas; tatkala beliau menjadi orang yang dipanggil masuk surga dari semua pintu amalan. Selain itu, juga sebagaimana tercermin dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, suatu ketika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya kepada para sahabat, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari ini berpuasa?”</em>. Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menjawab, <em>“Saya.”</em> Beliau bertanya lagi, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah memberi makan orang miskin?”</em>. Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menjawab, <em>“Saya.”</em> Beliau kembali bertanya, <em>“Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit?”</em>. Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> kembali menjawab, <em>“Saya.”</em> Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah itu semua terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti masuk surga.”</em> (HR. Muslim di Kitab <em>az-Zakah</em> dan Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> [hadits no. 1028], lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [4/353] dan [8/12])</p>
<p>Begitu pula dalam hal ilmu, beliau adalah orang yang paling alim di antara para sahabat. Hal itu sebagaimana tergambar dengan jelas dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, suatu saat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> duduk berceramah di atas mimbar. Beliau mengatakan, <em>“Seorang hamba yang telah diberikan pilihan oleh Allah untuk mendapatkan segala perhiasan dunia ataukah apa yang ada di sisi-Nya. Maka hamba tersebut lebih memilih apa yang ada di sisi-Nya.”</em> Abu Bakar pun menangis dan menangis. Lalu dia berkata, <em>“Kami rela untuk menebus anda dengan bapak-bapak dan anak-anak kami (ya Rasulullah).”</em> Dia -Abu Bakar- berkata, <em>“Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam itulah hamba yang diberi pilihan tersebut.”</em> Ternyata Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami tentangnya&#8230; (HR. Bukhari di beberapa tempat; [1] di Kitab <em>ash-Shalah</em> [hadits no. 466], [2] di Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> [hadits no. 3654], [3] di Kitab <em>Manaqib al-Anshar</em> [hadits no. 3904] dan Muslim di Kitab <em>Fadha&#8217;il ash-Shahabah</em> [hadits no. 2382], lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em> [8/7])</p>
<p><strong>Jadilah Kunci Kebaikan!</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya, begitu pula Ibnu Abi &#8216;Ashim di dalam <em>as-Sunnah</em> hadits dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya ada di antara manusia, orang-orang yang menjadi kunci-kunci kebaikan, penutup-penutup keburukan. Dan ada juga sebagian orang yang menjadi kunci-kunci keburukan, penutup-penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan sebagai pembuka pintu kebaikan, dan sungguh celakalah orang yang Allah jadikan dia sebagai pembuka pintu keburukan.”</em> (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam <em>ash-Shahihah</em> [1332], diambil dari <em>&#8216;Kaifa Takunu Miftahan Lil Khair&#8217;</em>, karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr <em>hafizhahullah</em>, hal. 5). Semoga Allah menjadikan kita&#8230; sebagai kunci kebaikan&#8230;! <em>Amin ya Mujiibas saa&#8217;iliin</em>&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/sosok-teladan-dalam-kebaikan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pribadi Teladan</title>
		<link>http://abumushlih.com/pribadi-teladan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/pribadi-teladan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 17:04:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tawakal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1944</guid>
		<description><![CDATA[Banyak kita temukan gambaran mengenai pribadi teladan di dalam untaian ayat-ayat al-Qur&#8217;an. Di antaranya adalah apa yang digambarkan Allah ta&#8217;ala di dalam ayat (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa saja yang mampu mereka persembahkan sementara hati mereka merasa takut; &#8230; <a href="http://abumushlih.com/pribadi-teladan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpribadi-teladan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpribadi-teladan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Banyak kita temukan gambaran mengenai pribadi teladan di dalam untaian ayat-ayat al-Qur&#8217;an. Di antaranya adalah apa yang digambarkan Allah <em>ta&#8217;ala</em> di dalam ayat (yang artinya), <em>“Dan orang-orang yang memberikan apa saja yang mampu mereka persembahkan sementara hati mereka merasa takut; bagaimanakah nasib mereka kelak ketika dikembalikan kepada Rabb mereka.”</em> (<strong>QS. al-Mu&#8217;minun: 60</strong>). Inilah gambaran ideal seorang mukmin. Sosok yang mempersembahkan ketaatan dengan sebaik-baiknya. Di saat yang sama, dia juga merasa takut kalau amalannya tidak diterima.</p>
<p><span id="more-1944"></span> Sebagaimana yang masyhur dari ucapan Hasan al-Bashri <em>rahimahullah</em>, <em>“Seorang mukmin memadukan antara ihsan -perbuatan baik dalam hal amal- dan rasa takut. Adapun seorang munafik -atau fajir- memadukan antara isa&#8217;ah/perbuatan jelek dan perasaan aman -dari hukuman Allah-.”</em> Pribadi semacam ini tak mudah untuk dijumpai, namun bukan berarti tidak ada. Para Sahabat Nabi adalah barisan terdepan dalam mewujudkan keteladanan ini dalam hidup mereka. Ibnu Abi Mulaikah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Aku telah bertemu dengan tiga puluh sahabat Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sedangkan mereka semua merasa takut kalau-kalau dirinya tertimpa kemunafikan.” </em>Padahal, kita semua mengetahui betapa agung kedudukan para Sahabat yang dikatakan oleh sebagian salaf bahwa iman mereka itu laksana gunung. Bahkan, sampai-sampai dikatakan oleh Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> dalam sebuah riwayat yang disandarkan kepada beliau, <em>“Seandainya iman Abu Bakar [saja] ditimbang dengan iman segenap umat ini -selain para Nabi- niscaya iman Abu Bakar yang lebih berat.”</em> <em>Subhanallah</em>!</p>
<p>Kebanyakan orang tatkala berhasil melakukan kebaikan terlalu larut dengan rasa gembira karena keberhasilannya. Seolah-olah dirinyalah yang &#8216;menciptakan&#8217; keberhasilan itu. Sehingga tidak jarang muncul dari lisan atau tingkah lakunya yang mencerminkan perasaan ini. Lupa diri, itulah yang terjadi. Fenomena semacam ini sungguh memprihatinkan. Karena perasaan semacam ini akan menyeret pelakunya kepada <em>ujub</em> yang oleh para ulama dimasukkan dalam kategori syirik; sebab orang yang ujub mempersekutukan Allah dengan -kemampuan- dirinya sendiri (sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz ar-Rayyis <em>hafizhahullah</em> dalam salah satu ceramah beliau). Oleh karena itu, kalau kita bandingkan kondisi kita hari ini dengan para salafus shalih dahulu, amatlah jauh! <em>Bagaikan langit dengan [dasar] sumur</em>, begitu kata orang&#8230;</p>
<p>Suatu ketika, Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> -seorang istri Nabi yang sangat cerdas- bertanya kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengenai kandungan ayat dalam surat al-Mu&#8217;minun di atas, <em>“Apakah mereka itu -yang merasa takut- adalah orang-orang yang suka minum khamr, berzina, atau mencuri?”</em>. Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bukan, wahai putri ash-Shiddiq! Akan tetapi mereka itu adalah orang-orang yang suka berpuasa, mengerjakan sholat, dan rajin bersedekah, namun mereka khawatir kalau-kalau amalan mereka itu tidak diterima. Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan-kebaikan.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, lihat <em>Tsamrat al-&#8217;Ilmi al-&#8217;Amalu</em>, hal. 17).</p>
<p>Mereka menyadari bahwa apa yang mereka persembahkan kepada Allah jauh daripada yang semestinya diterima oleh-Nya. Mereka tidak <em>su&#8217;udzan</em> kepada Allah, namun <em>su&#8217;udzan</em> kepada dirinya sendiri. Bagi mereka semua kebaikan yang mereka lakukan adalah berkat taufik dari-Nya, bukan hasil jerih payah mereka sendiri. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan dari-Nya. Kalaulah Allah menerima amal mereka itu jelas karena kemurahan dari-Nya. Namun, kalau misalnya tidak diterima oleh-Nya, maka hal itu semata-mata karena kekurangan dan keteledoran diri mereka, sehingga apa yang mereka persembahkan tidak layak untuk-Nya (lihat<em> al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 36). Demikianlah keadaan orang yang mengenal siapa dirinya dan siapa Rabbnya. <em>Wallahul musta&#8217;aan</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/pribadi-teladan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudaraku, Kemanakah Engkau Yang Dahulu?</title>
		<link>http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 22:43:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1446</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi -hafizhahullah- * [ Nasehat kepada diri sendiri, teman-teman kami terkhusus kepada teman-teman lama kami… Semoga Allah senantiasa menjaga diri kami dan Antum semuanya ] Alhamdulillah wa sholatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala &#8230; <a href="http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi -<em>hafizhahullah</em>- *</p>
<p><strong><em>[ Nasehat kepada diri sendiri, teman-teman kami terkhusus kepada teman-teman lama kami… Semoga Allah senantiasa menjaga diri kami dan Antum semuanya ]</em></strong></p>
<p><em>Alhamdulillah wa sholatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala aalhi wa shohbihi wa salam</em></p>
<p>Merupakan sebuah kenikmatan tatkala Allah <em>subhaanahu wa ta’ala</em> menunjuki seorang hamba untuk dapat mengenal Islam.<span id="more-116"> </span> Allah <em>ta’ala</em> berfirman :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (آل عمران )</strong></p>
<p>“<em>Sungguh Allah telah memberikan anugerah kepada orang-orang yang beriman, tatkala (Allah) mengutus seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari golongan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka (dari kesyirikan, kebid’ahan, dan akhlak buruk lainnya [</em>Lihat <em>Taisir Karimirrahman]), dan mengajarkan kepada mereka al kitab dan al hikmah, meskipun sebelumnya, mereka dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imran : 164)</em></p>
<p><em><span id="more-1446"></span></em></p>
<p>Bahkan nikmat hidayah Islam merupakan nikmat terbesar yang diterima seorang manusia dari Allah. Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu </em>mengatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><strong> فالمهتدي هو العامل بالحق المريد له وهي اعظم نعمة لله على العبد</strong></p>
<p>“<em>Orang yang mendapatkan hidayah adalah orang yang beramal dengan kebenaran, dia menginginkan hidayah tersebut ada pada dirinya, dan <strong>ini</strong> <strong>merupakan anugerah Allah yang paling besar kepada seorang hamba</strong>.”(</em> <em>Miftah Dar As Sa’adah, Asy Syamilah)</em></p>
<p>Hidayah Islam akan membimbing hamba mengetahui kedudukan dirinya di hadapan Allah <em>ta’ala</em>. Hidayah Islam akan memahamkan hamba akan hakikat keberadaan dirinya di dunia. Hidayah Islam akan membawa hamba untuk senantiasa taat dan tunduk kepada Rabbul ‘Alamin dan menjaga diri dari perbuatan yang mendatangkan kemurkaan-Nya. Sungguh… beruntunglah orang-orang yang berjalan di atas bumi ini, dengan bimbingan dan naungan hidayah Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>.</p>
<p><strong>[ Allah Perintahkan Manusia Meminta Hidayah ]</strong></p>
<p>Di setiap rakaat dalam sholat-sholat kita, bukankah Allah perintahkan kepada kita untuk membaca surat Al Fatihah??? Bukankah dalam salah satu ayat, Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ</strong></p>
<p><em>“(Ya Allah), berikanlah kepada kami hidayah menuju jalan yang lurus” (Al Fatihah : 6)</em></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun adalah orang yang senantiasa berdoa kepada Allah <em>ta’ala </em>memohong hidayah. Dari shahabat Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa membaca doa :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى</strong></p>
<p><em>“Ya Allah, sesungguhnya <strong>aku meminta kepada-Mu hidayah</strong>, ketaqwaan, penjagaan diri, dan hati yang merasa cukup”(HR. Muslim, no. 2721)</em></p>
<p>Lihatlah bagaimana Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengajarkan kepada umatnya tentang pentingnya meminta hidayah. Dan beliau adalah beliau, yang telah diampuni seluruh dosa dan kesalahannya, dijamin oleh Allah <em>ta’ala</em> dengan jaminan surga. Lantas kita… ??? Di manakah kita dibandingkan dengan Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[ Akhi…Hargailah Nikmat yang Agung Ini ]</strong></p>
<p>Tatkala Allah <em>ta’ala </em>melunakkan hati seorang hamba untuk dapat menerima <em>al haq</em>, yang ketika itu mayoritas manusia menolaknya, maka sungguh…inilah anugerah terbesar dari Allah kepada hamba. Tidaklah kenikmatan ini didapatkan oleh semua manusia, Allah (dengan segala hikmah dan pengetahuan-Nya) hanyalah menunjuki hamba tertentu saja diantara hamba-hamba-Nya. Allah <em>ta’ala </em>berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ</strong></p>
<p><em>“Dan sesungguhnya Allah menyesatkan orang-orang yang Dia kehendaki dan Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki” (Fathir : </em></p>
<p>Namun terkadang banyak manusia lalai akan nikmat yang agung ini, lalai dan menyia-nyiakannya. Benih-benih hidayah yang dahulu pernah tumbuh dalam hatinya, benih hidayah yang dahulu seseorang bisa merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah karenanya, merasakan manisnya hidup di atas sunnah… Ada sebagian manusia menelantarkan kenikmatan ini, seakan-akan mereka adalah orang yang belum pernah mengenal hidayah, kembali menjadi <em>awwam</em>.</p>
<p>Sungguh sangat dikhawatirkan apa yang menimpa kaum Yahudi, menimpa pula kepada mereka. Allah <em>ta’ala </em>berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ</strong></p>
<p><em>“Tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah akan memalingkan hati mereka (dari kebenaran). Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (As Shof : 5) </em></p>
<p>Saudaraku… Ayat ini berbicara tentang orang-orang Yahudi, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran, namun tidak mau mengikutinya. Merekalah orang yang dimurkai oleh Allah <em>‘azza wa jalla.</em></p>
<p>Syaikh As Sa’diy <em>rahimahullahu </em>mengatakan, <em>“Salah satu puncak kelancangan dan kesesatan adalah tatkala seorang manusia mengetahui kebenaran, lantas meninggalkannya. Mereka berpaling dari kebenaran dengan maksud dan keinginan mereka. Maka Allah ta’ala akan semakin memalingkan hati mereka dari kebenaran, sebagai hukuman bagi mereka, atas kesesatan yang mereka pilih. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka, karena mereka tidaklah pantas untuk menerima kebaikan, tidak pantas bagi mereka melainkan kebinasaan. </em>(<em>Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal. 758</em>)</p>
<p>Beliau melanjutkan, <em>“Ayat ini, yaitu As Shof ayat 5, menunjukkan bahwa ketika Allah ta’ala tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik, bukanlah berarti Allah dzolim kepada mereka. Tetapi, semua ini hanyalah disebabkan karena perbuatan mereka. Mereka sendirilah lah yang menutup pintu-pintu hidayah, setelah mereka mengilmuinya.”</em>(<em>Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal. 758</em>)</p>
<p>Allah ta’ala telah berfirman :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ</strong></p>
<p><em> “Kami palingkan hati dan penglihatan mereka, sebagaimana pada awalnya mereka tidak beriman kepadanya (Al Quran), dan Kami biarkan mereka bimbang dalam kesesatan” (Al An’am : 110)</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> [Akhi…Kemanakah Engkau yang Dahulu…???]</strong></p>
<p>Kita saksikan realita dengan mata kita, sebagaian saudara-saudara kita yang dahulu bersama kita mempelajari sunnah, yang dahulu sangat semangat mengamalkan sunnah, menggebu-gebu mendakwahkan sunnah, saat ini hanyut tertelan gelombang <em>fitnah</em>.</p>
<p>Jenggot yang dahulu menjadi kebanggaan, sekarang tinggallah menjadi kenangan. Pakaian syar’i yang dahulu engkau kenakan, celanamu yang dahulu di atas mata kaki, seiring berlalunya zaman, semakin memanjang, hingga menyapu jalanan.</p>
<p>Lupakah engkau, wahai saudaraku… bahwa kita dahulu pernah berlomba-lomba memenuhi seruan adzan? Lupakah engkau… bahwa kita dahulu sangat semangat menghadiri kajian-kajian? Bukankah engkau dahulu terhadap teman-teman perempuan selalu menjaga pandangan?</p>
<p>Saudariku, kemana jilbabmu yang engkau kenakan? Jilbabmu yang dahulu engkau banggakan, jilbab yang menutup sempurna, kini semakin mengecil, lantas menghilang. <strong>Saudaraku, kemanakah dirimu yang dahulu…?</strong></p>
<p>Sungguh, kita saksikan saat ini, betapa ganasnya fitnah yang melanda orang-orang yang beriman. Fitnah yang menyerang kaum muslimin.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا</strong></p>
<p><em>“Bersegeralah dalam beramal ketika datangnya fitnah, fitnah yang bagaikan potongan gelapnya malam, seorang yang beriman di pagi hari, menjadi kafir di sore hari atau seorang yang beriman di sore hari, menjadi kafir di pagi harinya, dia menukar agamanya dengan sebagian dari perhiasan dunia.”(HR. Muslim, no 328)</em></p>
<p>Tidaklah selamat dari fitnah ini melainkan dia yang ditunjuki oleh Allah untuk tegar menapak jalan kebenaran. <em>Fitnah</em> <em>syubhat</em> dan <em>fitnah</em> <em>syahwat</em>. Hanyalah kepada Allah, seorang hamba memohon hidayah. Allahu musta’an.</p>
<p>Allah <em>subhaanahu wa ta’ala </em>adalah Dzat yang Maha Membolak balikkan hati manusia. Orang yang dahulu sangat semangat menyerukan sunnah, saat ini telah berubah menjadi seorang yang membenci sunnah. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdoa :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>“يا مقلب القلوب ! ثبت قلبي على دينك” . فقيل له في ذلك .فقال : إنه ليس آدمي إلا و قلبه بين إصبعين من أصابع الله ، فمن شاء أقام و من شاء أزاغ</strong><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Ya Allah, Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu”, kemudian ada yang bertanya tentang doa tersebut. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya tidaklah anak Adam melainkan hatinya berada diantara dua jari dari jemari-jemari Allah. Siapa yang dikehendaki, Allah akan luruskan dia, dan siapa yang dikehendaki, Allah akan simpangkan dia.”(HR. Tirmidzi no. 3517, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini : Sanadnya Shahih)</em></p>
<p><em>Saudaraku…</em></p>
<p><em>Ini adalah sebatas nasehat … </em></p>
<p><em>Bagi kami…sebagai motivator supaya tegar berjalan melawan fitnah syubhat dan syahwat… </em></p>
<p><em>Bagi saudara-saudara kami… sebagai pengingat agar tetap istiqomah, hingga berjumpa Allah kelak di akhirat…</em></p>
<p><em>Terkhusus bagi saudara-saudara lama kami… yang dahulu kita pernah bersama…</em></p>
<p><em>Ini sebatas nasehat…</em></p>
<p><em>Karena agama tidaklah tegak melainkan dengan nasehat….</em></p>
<p><em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ad Dinnu An Nashihat”</em></p>
<p><em>Washolallahu ‘ala Nabiyina Muhammad…</em></p>
<p><em>***</em></p>
<p><em>Al Faqir ‘ila Maghfirati Rabbihi ‘Azza wa Jalla</em></p>
<p><a href="http://hanifnurfauzi.wordpress.com/" target="_blank"><em>Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi</em></a></p>
<p><em>______________________________________</em></p>
<p><em>Wisma Darus Shalihin, 16 Shafar 1431 H</em></p>
<p><em>*</em>Penulis adalah salah seorang mahasiswa UGM (Teknik Kimia) yang sekarang ini banyak berkecimpung dalam kegiatan keislaman, di antara aktivitasnya adalah: menjadi mudir/direktur Ma&#8217;had Bahasa Arab Umar bin Khattab yang dibina oleh <a href="http://ypia.or.id" target="_blank">Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari</a>. Semoga Allah menjaga kami dan beliau dan memberikan keistiqomahan kepada kami dan beliau.   <em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terpaan fitnah bak ombak lautan</title>
		<link>http://abumushlih.com/terpaan-fitnah-bak-ombak-lautan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/terpaan-fitnah-bak-ombak-lautan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 16:13:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=814</guid>
		<description><![CDATA[Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa&#8217;ah, dari Hudzaifah radhiyallahu&#8217;anhu, beliau mengatakan, كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْفِتْنَةِ كَمَا قَالَ قَالَ فَقُلْتُ أَنَا قَالَ إِنَّكَ لَجَرِيءٌ وَكَيْفَ &#8230; <a href="http://abumushlih.com/terpaan-fitnah-bak-ombak-lautan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fterpaan-fitnah-bak-ombak-lautan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fterpaan-fitnah-bak-ombak-lautan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa&#8217;ah, dari Hudzaifah radhiyallahu&#8217;anhu, beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align:right;">كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْفِتْنَةِ كَمَا قَالَ قَالَ فَقُلْتُ أَنَا قَالَ إِنَّكَ لَجَرِيءٌ وَكَيْفَ قَالَ قَالَ قُلْتُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ فَقَالَ عُمَرُ لَيْسَ هَذَا أُرِيدُ إِنَّمَا أُرِيدُ الَّتِي تَمُوجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ قَالَ فَقُلْتُ مَا لَكَ وَلَهَا يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا قَالَ أَفَيُكْسَرُ الْبَابُ أَمْ يُفْتَحُ قَالَ قُلْتُ لَا بَلْ يُكْسَرُ قَالَ ذَلِكَ أَحْرَى أَنْ لَا يُغْلَقَ أَبَدًا قَالَ فَقُلْنَا لِحُذَيْفَةَ هَلْ كَانَ عُمَرُ يَعْلَمُ مَنْ الْبَابُ قَالَ نَعَمْ كَمَا يَعْلَمُ أَنَّ دُونَ غَدٍ اللَّيْلَةَ إِنِّي حَدَّثْتُهُ حَدِيثًا لَيْسَ بِالْأَغَالِيطِ قَالَ فَهِبْنَا أَنْ نَسْأَلَ حُذَيْفَةَ مَنْ الْبَابُ فَقُلْنَا لِمَسْرُوقٍ سَلْهُ فَسَأَلَهُ فَقَالَ عُمَرُ</p>
<p><span id="more-814"></span></p>
<p>&#8220;Dahulu kami duduk-duduk bersama Umar, lalu dia mengatakan, &#8216;Siapakah di antara kalian yang masih hafal hadits Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang mengisahkan tentang fitnah persis sebagaimana yang beliau katakan?&#8217;. Maka aku katakan, &#8216;Aku.&#8217; Beliau mengatakan, &#8216;Sesungguhnya kamu telah berani angkat bicara, maka bagaimanakah yang beliau katakan tentangnya?&#8217;. Aku katakan, &#8216;Aku mendengar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8216;Fitnah yang timbul pada diri seseorang karena keluarganya, harta, jiwa, anak maupun tetangganya, maka itu semua akan bisa terhapus akibatnya dengan menjalankan puasa, sholat, sedekah, dan amar ma&#8217;ruf serta nahi mungkar.&#8217; Maka Umar pun berkata, &#8216;Bukan itu yang aku maksudkan, yang aku inginkan adalah cerita tentang fitnah yang datangnya bergelombang bagaikan ombak lautan.&#8217; Maka Hudzaifah berkata; Aku katakan kepadanya, &#8216;Tidak ada urusan apa-apa antara anda dengannya wahai Amirul mukminin. Sesungguhnya antara anda dengan fitnah itu terdapat pintu gerbang yang terkunci.&#8217; Maka Umar bertanya, &#8216;Apakah pintu itu nanti akan terpecah atau dibuka?&#8217;. Hudzaifah berkata, &#8216;Aku katakan; Tidak, akan tetapi pintu itu akan terpecah.&#8217; Maka Umar berkata, &#8216;Kalau demikian, maka tentunya pintu itu tidak akan bisa terkunci untuk selamanya&#8217;. Maka kami pun bertanya kepada Hudzaifah, &#8216;Apakah Umar mengetahui siapakah yang dimaksud dengan pintu itu?&#8217;. Maka Hudzaifah menjawab, &#8216;Iya, sebagaimana dia tahu bahwa setelah malam ini akan datang esok hari. Sesungguhnya aku telah menceritakan kepadanya suatu hadits yang bukan termasuk perkara yang rumit&#8217;. Perawi berkata, &#8216;Marilah kita tanyakan kepada Hudzaifah siapakah yang dimaksud dengan pintu itu, maka kami pun bertanya kepada Masruq; tanyakanlah kepadanya. Maka dia pun bertanya kepada Hudzaifah, lalu dia menjawab, &#8216;Pintu itu adalah Umar.&#8217;.&#8221; (HR. Muslim, diriwayatkan pula oleh Bukhari).</p>
<p>Faedah yang bisa dipetik dari hadits ini antara lain :</p>
<ol>
<li> Penamaan sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan &#8216;hadits&#8217; adalah didasarkan dengan riwayat bukan hasil rekaan para ulama</li>
<li>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menceritakan kepada para sahabat tentang fitnah yang akan menimpa umat ini, dan itu merupakan bukti atas kenabian, kejujuran dan kasih sayang beliau kepada umatnya</li>
<li>Keberadaan istri dan anak-anak, harta, dan orang lain di sekitar kita merupakan salah satu sebab munculnya fitnah/godaan untuk bermaksiat, baik yang berupa fitnah syubhat maupun syahwat. Sehingga hal itu sangat beresiko mendatangkan dorongan untuk bermaksiat atau melakukan penyimpangan. Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam Ighatsat al-Lahfan menerangkan bahwa sumber fitnah syubhat adalah karena mengedepankan hawa nafsu di atas akal sehat. Sedangkan sumber fitnah syubhat adalah karena mengedepankan logika -yang terbatas- di atas syari&#8217;at. Fitnah syahwat dapat diatasi dengan sabar. Sedangkan fitnah syubhat diatasi dengan ilmu dan keyakinan.</li>
<li>Amal salih dapat menghapuskan dosa.</li>
<li>Para sahabat mengambil ilmu satu dari yang lainnya</li>
<li>Para sahabat adalah orang-orang yang terpercaya</li>
<li>Diterimanya hadits ahad dalam masalah aqidah</li>
<li>Yang dimaksud dengan terpecahnya pintu adalah terbunuhnya Umar radhiyallahu&#8217;anhu. Dan hal ini menunjukkan bahwa sejak pertumpahan darah dengan terbunuhnya beliau maka fitnah itu tidak akan terhenti terjadi pada umat ini hingga hari kiamat terjadi.</li>
<li>Umar mengetahui bahwa dirinya nanti akan mati terbunuh, hal itu telah beliau dengar dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahwa dirinya akan mati syahid.</li>
<li>Kematian seorang sahabat merupakan musibah yang menjadi celah bagi munculnya fitnah, demikian pula kematian para ulama dan orang-orang salih.</li>
<li>Pentingnya sosok seorang pemimpin yang tegas dalam menghadapi berbagai fitnah yang ada</li>
<li>Iman kepada takdir</li>
<li>Bolehnya menggunakan perumpamaan/permisalan dalam menceritakan suatu maksud pembicaraan</li>
<li>Kekhawatiran Umar akan fitnah yang menimpa umat Islam</li>
<li>Perhatian seorang pemimpin terhadap nasib rakyat atau orang yang dipimpinnya</li>
<li>Perhatian seorang pemimpin akan kemaslahatan umat di atas kemaslahatan diri pribadi</li>
<li>Keutamaan Hudzaifah radhiyallahu&#8217;anhu, bahwa beliau adalah sahabat yang sangat mengetahui seluk beluk fitnah yang diceritakan oleh Nabi shallallallahu &#8216;alaihi wa sallam</li>
<li>Para sahabat -demikian juga perawi hadits- memiliki tingkat hafalan yang berbeda dalam meriwayatkan hadits, begitu pula dalam memahami maknanya</li>
<li>Pentingnya fiqhul hadits, dan bahwasanya para ulama hadits bukan sekedar menukil hadits tanpa mengerti maksudnya. Namun mereka adalah orang-orang yang paling mengerti tentang fiqih hadits dan kandungannya.</li>
<li>Keutamaan ahli hadits dan ilmu hadits</li>
<li> Bertanya kepada ahli ilmu</li>
<li>Para sahabat memiliki keutamaan yang bertingkat-tingkat</li>
<li> Keutamaan dan kecerdasan Umar bin Khatthab radhiyallahu&#8217;anhu</li>
<li>Hadits ada yang mudah dipahami maksudnya oleh banyak orang, namun ada juga hanya bisa dipahami maksudnya secara rinci oleh orang-orang tertentu yaitu ahlinya/para ulama yang menekuni bidangya</li>
<li>Dan faedah lainnya yang belum saya ketahui, wallahu a&#8217;lam. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/terpaan-fitnah-bak-ombak-lautan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamu bersama siapa?</title>
		<link>http://abumushlih.com/kamu-bersama-siapa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kamu-bersama-siapa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 15:04:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=783</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya : حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kamu-bersama-siapa.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkamu-bersama-siapa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkamu-bersama-siapa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :</p>
<p style="text-align:right;">حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ</p>
<p><span id="more-783"></span>Sulaiman bin Harb menuturkan kepada kami. Dia berkata; Hammad bin Zaid menuturkan kepada kami dari Tsabit dari Anas radhiyallahu&#8217;anhu bahwa dulu ada seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengenai hari kiamat. Dia berkata, &#8220;Kapankah hari kiamat tiba?&#8221;. Nabi bersabda, &#8220;Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menyambutnya?&#8221;. Dia menjawab, &#8220;Tidak ada melainkan hanya saja saya mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.&#8221; Maka Nabi bersabda, &#8220;Kamu kelak akan bersama dengan orang yang kamu cintai.&#8221; Anas pun mengatakan, &#8220;Tidaklah kami pernah merasa gembira melebihi kegembiraan kami ketika mendengar sabda beliau, &#8216;Kamu kelak akan bersama dengan orang yang kamu cintai&#8217;.&#8221; Maka Anas mengatakan,&#8221;Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar. Dan aku berharap agar kelak bisa bersama mereka dengan kecintaanku kepada mereka meskipun aku tidak bisa beramal seperti amal-amal mereka.&#8221; (HR. Bukhari dalam Kitab al-Manaqib)</p>
<p>Hadits yang agung ini memberikan pelajaran di antaranya :</p>
<ol>
<li>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara gaib</li>
<li> Hendaknya seseorang menanyakan sesuatu yang bermanfaat baginya</li>
<li>Seorang pengajar atau mufti hendaknya mengalihkan jawaban kepada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi penanya jika pertanyaannya kurang bagus dan tidak penting baginya</li>
<li>Cinta Allah dan Rasul merupakan bagian dari iman, bahkan itu merupakan pokoknya</li>
<li>Cinta kepada Allah dan Rasul merupakan sebab utama untuk masuk ke dalam surga</li>
<li>Tidak ada keimanan pada diri orang yang tidak cinta kepada Allah dan Rasul</li>
<li>Dianjurkan menyampaikan kabar gembira kepada saudara sesama muslim</li>
<li>Besarnya pengagungan para sahabat terhadap sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</li>
<li>Keutamaan Anas bin Malik radhiyallahu&#8217;anhu</li>
<li>Kejujuran dan kerendahan hati para sahabat dan sikap saling mencintai satu sama lain dan saling menghormati di antara mereka</li>
<li>Keutamaan Abu Bakar dan Umar</li>
<li>Orang masuk surga dengan sebab amal-amal mereka, meskipun amal bukanlah harga yang seimbang untuk mendapatkan segala kenikmatan surga</li>
<li>Kewajiban mengikuti pemahaman sahabat terutama Abu Bakar dan Umar dan mendahulukan mereka di atas yang lainnya</li>
<li>Perintah untuk mempersiapkan diri dengan iman dan amal salih untuk menghadapi dahsyatnya hari kiamat</li>
<li>Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya amalan hati dan besarnya peran amal hati dalam meningkatkan kualitas amalan</li>
<li>Dan faidah lainnya yang belum saya ketahui. Wallahu a&#8217;lam. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kamu-bersama-siapa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

