<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Syirik</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/syirik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Merasakan Kelezatan Iman</title>
		<link>http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2502</guid>
		<description><![CDATA[Dari al-&#8217;Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman [34]) Ridha adalah merasa puas dan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmerasakan-kelezatan-iman.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmerasakan-kelezatan-iman.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari al-&#8217;Abbas bin Abdul Muthallib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akan merasakan lezatnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [34])</p>
<p><span id="more-2502"></span></p>
<p>Ridha adalah merasa puas dan cukup dengan sesuatu serta tidak mencari lagi sesuatu yang lain bersamanya. Makna hadits ini adalah; orang tersebut tidak mencari dan berharap kecuali kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> semata, tidak mau berusaha kecuali di atas jalan Islam, dan tidak mau menempuh suatu jalan kecuali apabila sesuai dengan syari&#8217;at Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Seseorang yang telah merasa ridha dengan sesuatu maka sesuatu itu akan terasa mudah baginya. Demikian pula seorang mukmin apabila iman telah meresap ke dalam hatinya maka akan terasa mudah segala ketaatan kepada Allah dan dia akan merasakan nikmat dengannya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/86] cet. Dar Ibnu al-Haitsam)</p>
<p>Hadits di atas menunjukkan bahwa orang yang bisa merasakan kelezatan iman adalah yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Ridha      Allah sebagai Rabb</li>
<li>Ridha      Islam sebagai agama</li>
<li>Ridha      Muhammad sebagai rasul</li>
</ol>
<p><strong>Ciri Pertama:</strong><br />
<em>Ridha Allah Sebagai Rabb</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>[1] Kandungan Makna Rabb</strong></p>
<p>Imam ar-Raghib al-Ashfahani <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Akar kata dari Rabb adalah tarbiyah; yaitu menumbuhkan sesuatu dari satu keadaan kepada keadaan berikutnya secara bertahap hingga mencapai kesempurnaan.”</em> (lihat <em>al-Mufradat fi Gharib al-Qur&#8217;an</em> [1/245])</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Rabb artinya adalah yang mentarbiyah seluruh alam; dan alam itu adalah segala sesuatu selain Allah. Tarbiyah itu berupa penciptaan mereka, pemberian berbagai sarana yang Allah sediakan untuk mereka, pemberian nikmat kepada mereka dengan kenikmatan yang sangat agung; yang seandainya mereka tidak mendapatkannya niscaya mereka tidak mungkin bertahan hidup di alam dunia. Nikmat apapun yang ada pada diri mereka adalah bersumber dari Allah ta&#8217;ala.”</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, sebagaimana tercantum dalam <em>al-Majmu&#8217;ah al-Kamilah</em> [1/34])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Rabb menurut bahasa digunakan untuk tiga makna; sayyid/tuan yang dipatuhi, maalik/pemilik atau penguasa, atau sosok yang melakukan ishlah/perbaikan untuk selainnya.”</em> (lihat transkrip ceramah <em>Syarh Tsalatsat al-Ushul</em> milik beliau)</p>
<p><strong>[2] Tarbiyah Umum dan Tarbiyah Khusus</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menjelaskan, <em>“Tarbiyah Allah ta&#8217;ala kepada makhluk-Nya ada dua macam: umum dan khusus. Tarbiyah yang bersifat umum adalah berupa penciptaan seluruh makhluk, pemberian rizki dan petunjuk kepada mereka menuju kemaslahatan hidup mereka untuk bisa bertahan hidup di alam dunia. Adapun tarbiyah yang bersifat khusus adalah tarbiyah yang Allah berikan kepada para wali-Nya. Allah mentarbiyah mereka dengan keimanan, memberikan taufik kepada mereka untuk itu dan menyempurnakan iman mereka. Allah singkirkan berbagai rintangan dan penghalang yang membatasi antara mereka dengan diri-Nya. Hakikat tarbiyah khusus ini adalah pemberian taufik untuk menggapai segala kebaikan dan penjagaan dari segala keburukan. Barangkali inilah rahasia mengapa kebanyakan doa para nabi itu menggunakan kata Rabb, sebab semua cita-cita dan keinginan mereka berada di bawah kendali rububiyah Allah yang khusus ini. Maka firman-Nya &#8216;Rabbul &#8216;alamin&#8217; menunjukkan atas keesaan Allah dalam hal mencipta, mengatur, pemberian nikmat, dan kekayaan-Nya yang maha sempurna. Hal itu sekaligus menggambarkan betapa besarnya kebutuhan seluruh alam ini kepada-Nya, dari segala sisi dan pertimbangan.” </em>(<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, lihat <em>al-Majmu&#8217;ah al-Kamilah</em> [1/34], lihat juga <em>Tafsir Surah al-Fatihah</em>, hal. 12) <em> </em></p>
<p><strong>[3] Tauhid Rububiyah</strong></p>
<p>Tauhid rububiyah adalah seorang hamba meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, Yang Maha Mencipta, Yang Maha Memberikan Rizki, Yang Mengatur segala urusan, yang  memelihara dan menjaga seluruh makhluk dengan segala bentuk nikmat dan Allah pula yang memelihara dan menjaga makhluk-makhluk pilihan-Nya yaitu para nabi dan pengikut mereka dengan bimbingan akidah yang benar, akhlak yang mulia, ilmu-ilmu yang bermanfaat, maupun amal salih. Inilah bentuk tarbiyah (pemeliharaan dan penjagaan) yang bermanfaat bagi hati dan ruh, yang akan membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akherat (lihat <em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 13)</p>
<p>Allah adalah Rabb alam semesta. Artinya, Allah adalah pencipta dan penguasa alam semesta. Dialah yang melakukan <em>ishlah</em>/perbaikan dan <em>tarbiyah</em>/pemeliharaan dan pembinaan kepada mereka dengan nikmat-nikmat-Nya. Diantara kenikmatan itu -bahkan yang paling agung- adalah diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab. Kemudian Allah pula yang akan memberikan balasan kepada hamba atas amal-amal mereka. Konsekuensi rububiyah Allah adalah berupa perintah dan larangan kepada hamba, balasan atas kebaikan mereka, dan hukuman atas kejahatan mereka. Inilah hakikat rububiyah (lihat <em>at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 26)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Secara ringkas, tauhid rububiyah bisa didefinisikan dengan mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah ada pencipta selain Allah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi?”</em> (QS. Fathir: 3). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan milik Allah lah kekuasaan atas langit dan bumi.”</em> (QS. Ali &#8216;Imran: 189). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, siapakah yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan. Niscaya mereka akan menjawab, Allah. Maka katakanlah, Lalu mengapa kalian tidak bertakwa.” </em>(QS. Yunus: 31) (lihat <em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/5-6] cet. Maktabah al-&#8217;Ilmu, lihat juga <em>Syarh al-Arba&#8217;in an-Nawawiyah</em> hal. 34)</p>
<p>Apabila diringkas lagi, bisa disimpulkan bahwa tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 17 karya Syaikh Muhammad bin &#8216;Abdul &#8216;Aziz al-Qor&#8217;awi, lihat juga <em>Qathfu al-Jana ad-Dani Syarh Muqoddimah Risalah Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani</em>, hal. 56 karya Syaikh al-Muhaddits Abdul Muhsin al-&#8217;Abbad al-Badr, dan <em>at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 6 karya Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh <em>hafizhahumullahu</em>)</p>
<p><strong>[4] Orang Musyrik Pun Mengakui Tauhid Rububiyah</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Para rasul mereka pun mengatakan, “Apakah ada keraguan terhadap Allah; padahal Dia lah yang menciptakan langit dan bumi.”.” </em>(QS. Ibrahim: 10). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab, &#8216;Yang menciptakannya adalah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui&#8217;.” </em>(QS. az-Zukhruf: 9)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan diri mereka, niscaya mereka menjawab: Allah. Lalu dari mana mereka bisa dipalingkan (dari menyembah Allah).”</em> (QS. az-Zukhruf: 87). Imam Ibnu Abil &#8216;Izz al-Hanafi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya orang-orang musyrik arab dahulu telah mengakui tauhid rububiyah. Mereka pun mengakui bahwa pencipta langit dan bumi ini hanya satu.”</em> (lihat <em>Syarh al-&#8217;Aqidah ath-Thahawiyah</em>, hal. 81, lihat juga <em>Fath al-Majid</em>, hal. 16, <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [6/201] [7/167])</p>
<p><strong>[5] Konsekuensi Mengimani Allah Sebagai Rabb</strong></p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, <em>“Sebagaimana pula wajib diketahui bahwa pengakuan terhadap tauhid rububiyah saja tidaklah mencukupi dan tidak bermanfaat kecuali apabila disertai pengakuan terhadap tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam beribadah) dan benar-benar merealisasikannya dengan ucapan, amalan, dan keyakinan&#8230;”</em> (lihat <em>Syarh Kasyf asy-Syubuhat</em>, hal. 24-25).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan mereka juga terjerumus dalam kemusyrikan.” </em>(QS. Yusuf: 107). Ikrimah berkata, <em>“Tidaklah kebanyakan mereka -orang-orang musyrik- beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan berbuat syirik. Apabila kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Maka mereka akan menjawab, &#8216;Allah&#8217;. Itulah keimanan mereka, namun di saat yang sama mereka juga beribadah kepada selain-Nya.”</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [13/556])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Abdurrazzaq al-Badr <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Kemudian, sesungguhnya keimanan seorang hamba kepada Allah sebagai Rabb memiliki konsekuensi mengikhlaskan ibadah kepada-Nya serta kesempurnaan perendahan diri di hadapan-Nya. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan Aku adalah Rabb kalian, maka sembahlah Aku.” (QS. al-Anbiya&#8217;: 92). Allah ta&#8217;ala juga berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian.” (QS. al-Baqarah: 21). Keberadaan Allah sebagai Rabb seluruh alam memiliki konsekuensi bahwa Allah tidak akan meninggalkan mereka dalam keadaan sia-sia atau dibiarkan begitu saja tanpa ada perintah dan larangan untuk mereka. Akan tetapi Allah menciptakan mereka untuk mematuhi-Nya dan Allah mengadakan mereka supaya beribadah kepada-Nya. Maka orang yang berbahagia diantara mereka adalah yang taat dan beribadah kepada-Nya. Adapun orang yang celaka adalah yang durhaka kepada-Nya dan lebih memperturutkan kemauan hawa nafsunya. Barangsiapa yang beriman terhadap rububiyah Allah dan ridha Allah sebagai Rabb maka dia akan ridha terhadap perintah-Nya, ridha terhadap larangan-Nya, ridha terhadap apa yang dibagikan kepadanya, ridha terhadap takdir yang menimpanya, ridha terhadap pemberian Allah kepadanya, dan tetap ridha kepada-Nya tatkala Allah tidak memberikan kepadanya apa yang dia inginkan.”</em> (lihat <em>Fiqh al-Asma&#8217; al-Husna</em>, hal. 97)</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia suka berlaku zalim dan bersifat bodoh. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka, tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu sebagai standar untuk menilai perkara yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Akan tetapi sesungguhnya standar yang benar adalah apa yang Allah pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan larangan-Nya.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 89)</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[6] Makna &#8216;Ridha Allah Sebagai Rabb&#8217; </strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dari keterangan-keterangan para ulama di atas, dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan ridha Allah sebagai Rabb mencakup hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Meyakini      bahwa seluruh kenikmatan -jasmani maupun ruhani- adalah bersumber dari      Allah</li>
<li>Meyakini      bahwa segala sesuatu yang ada di alam dunia ini adalah ciptaan dari-Nya</li>
<li>Meyakini      bahwa segala kejadian yang ada di alam dunia ini adalah terjadi dengan      kehendak-Nya. Allah lah yang mengatur segalanya dan Allah yang paling      mengetahui tentangnya.</li>
<li>Meyakini      bahwa Allah adalah penguasa tunggal alam semesta, Dia lah yang berhak      memerintah dan melarang atas hamba-hamba-Nya, dan Dia lah yang akan      memberikan balasan dan hukuman atas amal perbuatan mereka</li>
<li>Meyakini      bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab dan mengutus para rasul yang      menjadi pembimbing umat manusia untuk menggapai kebahagiaan hidup yang      sejati</li>
<li>Meyakini      bahwa Allah semata yang berhak untuk diibadahi, yang menjadi tumpuan      harapan, dan tempat bergantungnya hati. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam      hal itu semua</li>
<li>Memurnikan      segala macam bentuk ibadah kepada-Nya serta meninggalkan dan mengingkari      segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya</li>
<li>Menaati      perintah dan larangan-Nya serta mengimani pahala dan siksa yang      diberikan-Nya</li>
<li>Merasa      ridha dengan takdir dan musibah yang ditetapkan oleh-Nya</li>
</ol>
<p><strong>Ciri Kedua:</strong><br />
<em>Ridha Islam Sebagai Agama</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[1] Kandungan Makna Islam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Secara bahasa islam artinya adalah menyerahkan diri. Adapun menurut syari&#8217;at, islam adalah sikap pasrah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan melaksanakan ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya (lihat <em>at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 62)</p>
<p>Dari Abdullah bin &#8216;Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam dibangun di atas lima perkara: syahadat bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah &#8211;dalam riwayat lain syahadat diungkapkan dengan kata-kata: mentauhidkan Allah, dalam riwayat lain lagi disebutkan: beribadah kepada Allah dan mengingkari sesembahan selain-Nya&#8211;, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berhaji, dan berpuasa Ramadhan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [8] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [16])</p>
<p><strong>[2] Pokok Ajaran Islam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Islam ditegakkan di atas dua prinsip pokok. Pertama; beribadah kepada Allah semata. Kedua; beribadah kepada Allah hanya dengan syari&#8217;at-Nya. Kedua hal ini telah tercakup di dalam dua kalimat syahadat yang kita ucapkan: <em>asyhadu an laa ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah</em>. <em>“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” </em></p>
<p>Kalimat <em>laa ilaha illallah</em> bermakna tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah. Maka seluruh sesembahan yang diibadahi oleh manusia selain Allah adalah sesembahan yang batil. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demikian itulah, karena sesungguhnya Allah itu adalah -sesembahan- yang benar. Adapun segala yang mereka seru/sembah selain-Nya adalah batil.”</em> (QS. al-Hajj: 62). Adapun kalimat <em>Muhammadur rasulullah</em> bermakna tidak ada orang yang menjadi pedoman dalam hal syari&#8217;at selain Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menaati rasul itu maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 80)</p>
<p>Oleh karena itu amalan yang diterima di sisi Allah adalah yang memenuhi dua syarat: ikhlas (tidak syirik) dan <em>ittiba&#8217;</em>/mengikuti tuntunan (bukan bid&#8217;ah). Kedua hal inilah yang dimaksud oleh firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.”</em> (QS. al-Kahfi: 110). Fudhail bin Iyadh <em>rahimahullah </em>berkata, <em>“Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.”</em> (lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 19 cet. Dar al-Hadits).</p>
<p><strong>[3] Pondasi Ajaran Islam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [9] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [35], lafal ini milik Muslim). Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa yang paling utama di antara semua cabang itu adalah tauhid; yang hukumnya wajib atas setiap orang, dan tidaklah dianggap sah cabang-cabang iman yang lain kecuali setelah sahnya hal ini.” </em>(lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/88] cet. Dar Ibnul Haitsam)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan.” </em>(lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manakah yang lebih baik; orang yang menegakkan bangunannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, ataukah orang yang menegakkan bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia pun akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam.”</em> (QS. at-Taubah: 109)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hal itu dikarenakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat padanya. Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini -yaitu membangun masjid- dengan keikhlasan yang tertanam di dalam hatinya, maka amalan itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.”</em> (lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p><strong>[4] Agama Para Nabi</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif/bertauhid dan seorang muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. Ali Imran: 67). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“&#8230; Maka ikutilah millah Ibrahim yang lurus, dan tidaklah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. Ali Imran: 95). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian Kami wahyukan kepadamu; hendaklah kamu mengikuti millah Ibrahim yang lurus itu, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. an-Nahl: 123). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah (Muhammad), &#8216;Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama/millah Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.&#8217;.” </em>(QS. al-An&#8217;am: 161).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah ada teladan yang baik untuk kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya, Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian, dan telah jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah saja&#8230;” </em>(QS. al-Mumtahanah: 4).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” </em>(QS. an-Nahl: 36). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus seorang pun rasul sebelum engkau -wahai Muhammad- melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” </em>(QS. al-Anbiyaa&#8217;: 25).</p>
<p><strong>[5] Islam Telah Sempurna</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku telah ridha Islam sebagai agama bagi kalian.”</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 3). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ini adalah nikmat terbesar dari Allah ta&#8217;ala untuk umat ini. Dimana Allah ta&#8217;ala telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka sehingga mereka tidak membutuhkan lagi agama selainnya, dan juga tidak butuh nabi selain nabi mereka -semoga salawat dan keselamatan terus terlimpah kepada beliau-. Oleh sebab itulah Allah ta&#8217;ala menjadikan beliau sebagai penutup nabi-nabi dan diutus kepada segenap jin dan manusia&#8230;” </em>(lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [3/20])</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya, dan kelak di akherat dia akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.”</em> (QS. Ali Imran: 85). Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Artinya, siapa pun yang beragama kepada Allah dengan selain agama Islam padahal Islam itu jelas-jelas telah diridhai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya, maka amalannya pasti tertolak dan tidak akan diterima. Agama Islam itulah ajaran yang mengandung sikap kepasrahan/istislam kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan ketundukan kepada rasul-rasul-Nya. Oleh sebab itu, selama seorang hamba tidak memeluk agama ini maka dia belum memiliki sebab keselamatan dari azab Allah dan tidak memiliki sebab untuk meraih kejayaan berupa limpahan pahala dari-Nya. Dan semua agama selainnya adalah batil.”</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 137)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam.”</em> (QS. Ali Imran: 19). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menjelaskan, <em>“Ini adalah berita dari Allah ta&#8217;ala bahwa tidak ada agama yang diterima di sisi-Nya dari siapa pun selain agama Islam. Hakikat  Islam adalah mengikuti para rasul dengan menjalankan ajaran yang diturunkan Allah kepada mereka di setiap masa sampai akhirnya mereka -para rasul- ditutup dengan diutusnya Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang menutup semua jalan menuju-Nya kecuali jalan Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Barangsiapa yang bertemu dengan Allah setelah diutusnya Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam keadaan memeluk agama selain yang disyari&#8217;atkan oleh beliau maka tidak diterima&#8230;” </em>(lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [2/19] cet. Maktabah at-Taufiqiyah)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberikan al-Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kaum yang ummi/buta huruf (yaitu orang-orang musyrik); ”Maukah kalian masuk Islam?”. Apabila mereka masuk Islam, sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk. Namun apabila mereka justru berpaling, maka sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Allah Maha melihat semua hamba.”</em> (QS. Ali Imran: 20). Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ayat ini dan juga ayat-ayat lain yang serupa merupakan penunjukan yang sangat tegas mengenai keumuman pengutusan beliau -semoga salawat dan keselamatan tercurah kepadanya- kepada semua manusia sebagaimana hal itu telah diketahui sebagai bagian dari agama secara pasti, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil al-Kitab maupun as-Sunnah dalam banyak ayat dan hadits.”</em> (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [2/20])</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala </em>berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Muhammad itu adalah bapak dari salah seorang lelaki di antara kalian, akan tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi.”</em> (QS. al-Ahzab: 40). Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang pun yang mendengar kenabianku dari kalangan umat ini, entah dia Yahudi atau Nasrani, lalu dia tidak mau beriman terhadap ajaran yang aku bawa melainkan kelak dia pasti termasuk penduduk neraka.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [153]). Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Di dalam hadits ini terdapat kandungan hukum bahwasanya semua agama telah dihapuskan pemberlakuannya dengan adanya risalah Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/245])</p>
<p><strong>[6] Makna &#8216;Ridha Islam Sebagai Agama&#8217;</strong></p>
<p>Dari keterangan-keterangan di atas kita dapat menyimpulkan bersama bahwa yang dimaksud dengan ridha Islam sebagai agama itu meliputi hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Beribadah      hanya kepada Allah dan mengingkari segala bentuk peribadahan kepada selain      Allah</li>
<li>Meyakini      bahwa Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah utusan Allah</li>
<li>Meyakini      wajibnya rukun Islam, yaitu: syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji</li>
<li>Meyakini      bahwa ibadah tidak akan diterima apabila tidak ikhlas atau tidak mengikuti      tuntunan</li>
<li>Meyakini      tauhid sebagai pondasi agama Islam yang tidak akan sah amal apapun      tanpanya</li>
<li>Meyakini      bahwa agama para nabi adalah satu -yaitu islam- meskipun syari&#8217;atnya      berlainan</li>
<li>Meyakini      bahwa asas agama para nabi adalah tauhid</li>
<li>Meyakini      bahwa seluruh agama yang ada telah dihapuskan dengan ajaran Islam yang      dibawa oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Meyakini      kesempurnaan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em>, sehingga ia tidak memerlukan penambahan atau      koreksi</li>
</ol>
<p><strong>Ciri Ketiga:</strong><br />
<em>Ridha Muhammad Sebagai Rasul</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>[1] Anugerah Risalah</strong></p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>mengatakan, <em>“Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan. Pertama; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap jiwa apabila dibiarkan begitu saja niscaya ia akan mengakui bahwasanya Allah adalah ilah/sesembahan baginya. Ia akan mencintai-Nya dan akan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Akan tetapi karena adanya bisikan setan dari kalangan jin dan manusia satu sama lain itulah yang menyebabkan kebatilan di mata mereka seolah menjadi sesuatu yang tampak indah dan menawan. Kedua; Allah ta&#8217;ala telah memberikan petunjuk kepada umat manusia dengan bimbingan yang bersifat umum. Sehingga di dalam diri mereka secara fitrah telah terpatri pengenalan -kepada kebenaran- dan sebab-sebab guna meraih ilmu. Setelah itu, Allah pun menurunkan kitab-kitab suci dan mengutus para rasul sebagai pembimbing bagi mereka.”</em> (lihat <em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em>, hal. 35)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, yang mensucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah), sementara sebelumnya mereka berada di dalam kesesatan yang amat nyata.”</em> (QS. Ali Imran: 164)</p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Risalah adalah kebutuhan yang sangat mendesak bagi hamba. Mereka benar-benar membutuhkannya. Kebutuhan mereka terhadapnya jauh di atas segala jenis kebutuhan. Risalah adalah ruh, cahaya, dan kehidupan alam semesta. Maka kebaikan seperti apa yang ada pada alam tanpa ruh, tanpa cahaya, dan tanpa kehidupan?”</em> (lihat <em>Ma&#8217;alim Ushul al-Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wa al-Jama&#8217;ah</em>, hal. 78 karya Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani)</p>
<p><strong>[2] Sumber Kehidupan Hakiki</strong></p>
<p>Allah<em> ta&#8217;ala </em>berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, ketika menyeru kalian untuk sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya Allah yang menghalangi antara seseorang dengan hatinya. Dan sesungguhnya kalian akan dikumpulkan untuk bertemu dengan-Nya.”</em> (QS. al-Anfal: 24)</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Sesungguhnya kehidupan yang membawa manfaat hanya bisa digapai dengan merespon seruan Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang tidak merespon seruan tersebut maka tidak ada kehidupan sejati padanya. Meskipun dia memiliki kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dirinya dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Oleh sebab itu kehidupan yang hakiki dan baik adalah kehidupan orang yang memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya secara lahir dan batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, walaupun tubuh mereka telah mati. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang telah mati, meskipun badan mereka hidup. Oleh karena itu orang yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna di antara mereka dalam memenuhi seruan dakwah Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya di dalam setiap ajaran yang beliau dakwahkan terkandung unsur kehidupan sejati. Barang siapa yang kehilangan sebagian darinya maka dia kehilangan sebagian unsur kehidupan, bisa jadi di dalam dirinya masih terdapat kehidupan sekadar dengan responnya terhadap ajakan Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 85-86 cet. Dar al-&#8217;Aqidah)</p>
<p><strong>[3] Kasih Sayang Rasul Kepada Umatnya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian. Terasa berat baginya apa yang menyusahkan kalian. Dia sangat bersemangat memberikan kebaikan kepada kalian. Dan terhadap orang-orang yang beriman dia sangat lembut dan penyayang.”</em> (QS. at-Taubah: 128)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Setiap Nabi memiliki sebuah doa yang mustajab, maka semua Nabi bersegera mengajukan doanya itu. Adapun aku menunda doaku itu sebagai syafa&#8217;at bagi umatku kelak di hari kiamat. Doa -syafa&#8217;at- itu -dengan kehendak Allah- akan diperoleh setiap orang di antara umatku yang meninggal dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [199])</p>
<p>Dari Urwah, suatu ketika &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> -istri Nabi- menceritakan kepadanya, bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Pernahkah anda menemui suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku telah mendapatkan tanggapan dari kaummu sebagaimana apa yang aku temui. Tanggapan paling berat yang pernah aku dapatkan adalah pada hari &#8216;Aqabah, ketika itu aku tawarkan diriku kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, akan tetapi dia tidak menerima tawaranku sebagaimana yang aku kehendaki. Aku pun kembali dengan perasaan sedih mewarnai wajahku. Tanpa terasa tiba-tiba aku sudah berada di Qarn Tsa&#8217;alib. Aku angkat kepalaku ke atas, ternyata ada awan yang sedang menaungi diriku. Aku pun memperhatikan, ternyata di sana ada Jibril, lalu dia pun memanggilku. Dia berkata, &#8216;Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu terhadapmu dan penolakan yang mereka lakukan terhadapmu. Dan Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung, agar kamu perintahkan kepadanya apa yang ingin kau timpakan kepada mereka.&#8217; Maka malaikat penjaga gunung itu pun menyeruku dan mengucapkan salam kepadaku, lalu dia berkata, &#8216;Wahai Muhammad&#8217;. Dia berkata, &#8216;Apabila kamu menginginkan hal itu, niscaya akan aku timpakan kepada mereka dua bukit besar itu.&#8217;.”</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> justru menjawab, <em>“Tidak, sesungguhnya aku berharap mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari tulang sulbi keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab Bad&#8217;u al-Khalq</em> [3231])</p>
<p>Dari Abdullah bin Amr bin al-&#8217;Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, beliau menceritakan: Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> membaca firman Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> mengenai Ibrahim (yang artinya), <em>“Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah banyak menyesatkan manusia, barangsiapa yang mengikutiku maka sesungguhnya dia adalah termasuk golonganku.”</em> (QS. Ibrahim: 36). &#8216;Isa <em>&#8216;alaihis salam</em> juga berkata (yang artinya), <em>“Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba-Mu, dan apabila Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 118). Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, <em>“Ya Allah, umatku, umatku.”</em> Dan beliau pun menangis. Allah<em> &#8216;azza wa jalla</em> berfirman, <em>“Wahai Jibril, pergi dan temuilah Muhammad -sedangkan Rabbmu tentu lebih mengetahui- lalu tanyakan kepadanya, apa yang membuatmu menangis?”</em>. Maka Jibril <em>&#8216;alaihis sholatu was salam</em> menemui beliau dan bertanya kepadanya, lalu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan kepadanya tentang apa yang telah diucapkannya -dan Dia (Allah) tentu lebih mengetahuinya-. Kemudian Allah berfirman, <em>“Wahai Jibril, pergi dan temuilah Muhammad, dan katakan kepadanya, &#8216;Sesungguhnya Kami pasti akan membuatmu ridha berkenaan dengan nasib umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu bersedih.&#8217;.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [202])</p>
<p>Sa&#8217;id bin al-Musayyab meriwayatkan dari ayahnya, beliau menceritakan: Ketika kematian hendak menghampiri Abu Thalib, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun datang kepadanya. Di sana beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah bin al-Mughirah telah berada di sisinya. Kemudian beliau berkata, <em>“Wahai pamanku. Ucapkanlah laa ilaha illallah; sebuah kalimat yang aku akan bersaksi dengannya untuk membelamu kelak di sisi Allah.”</em> Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah berkata, <em>“Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthallib?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terus menerus menawarkan syahadat kepadanya, sedangkan mereka berdua pun terus mengulangi ucapan itu. Sampai akhirnya ucapan terakhir Abu Thalib kepada mereka adalah dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em>&#8230; (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Jana&#8217;iz</em> [1360] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [24])</p>
<p><strong>[4] Konsekuensi Iman Kepada Rasul</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Makna syahadat bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah yaitu mentaati segala perintahnya, membenarkan berita yang disampaikannya, menjauhi segala yang dilarang dan dicegah olehnya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syari&#8217;atnya.”</em> (lihat <em>Hushul al-Ma&#8217;mul bi Syarh Tsalatsat al-Ushul</em>, hal. 116)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah Kami utus seorang rasul pun melainkan supaya ditaati dengan izin Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 64). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apa saja yang dibawa oleh rasul kepada kalian maka ambillah, dan apa saja yang dilarang olehnya kepada kalian maka tinggalkanlah.” </em>(QS. al-Hasyr: 7).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah dia -Muhammad- berbicara dari hawa nafsunya, tidaklah hal itu melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” </em>(QS. an-Najm: 3-4). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan ikutilah dia (rasul) mudah-mudahan kalian mendapatkan petunjuk.” </em>(QS. al-A&#8217;raaf: 158). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apabila mereka tidak mau memenuhi seruanmu (Muhammad), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu mengikuti hawa nafsunya. Dan siapakah orang yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah.” </em>(QS. al-Qashash: 50)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Hendaknya merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah atau merasakan siksaan yang sangat pedih.”</em> (QS. an-Nur: 63). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidak pantas bagi seorang beriman lelaki ataupun perempuan apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian ternyata masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam menyelesaikan urusan mereka.”</em> (QS. al-Ahzab: 36). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian, apabila kalian berselisih tentang perkara apa saja maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, apabila kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 59).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada rasul, sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 80). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka demi Rabbmu, mereka sama sekali tidak beriman sampai mereka mau menjadikan kamu sebagai hakim/pemutus perkara dalam apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak lagi mendapati rasa sempit di dalam diri mereka atas apa yang kamu putuskan dan mereka pun pasrah secara sepenuhnya.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 65)</p>
<p><strong>[5] Makna &#8216;Ridha Muhammad Sebagai Rasul&#8217;</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan ridha Muhammad sebagai rasul adalah mencakup hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Meyakini bahwa diutusnya      Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> merupakan anugerah dan      karunia terbesar bagi umat manusia</li>
<li>Meyakini bahwa kebutuhan      umat manusia terhadap bimbingan rasul (risalah) adalah di atas segala      kebutuhan mereka</li>
<li>Meyakini bahwa kehidupan      yang sejati dan kebahagiaan yang hakiki hanya bisa digapai dengan  memenuhi seruan Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Meyakini betapa besar      kasih sayang Rasul kepada umatnya dan semangat beliau yang begitu besar      dalam rangka memberikan hidayah kepada mereka</li>
<li>Meyakini kebenaran      berita yang disampaikan olehnya</li>
<li>Meyakini wajibnya      menaati perintahnya dan menjauhi larangannya, dan bahwasanya hal itu      termasuk dalam ketaatan kepada Allah</li>
<li>Meyakini bahwa ibadah      kepada Allah -seikhlas apapun- tidak akan diterima oleh-Nya apabila tidak      sesuai dengan syari&#8217;at dan ajaran beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Menerima segala      ketetapan beliau dengan penuh kepasrahan</li>
<li>Menjadikan sabda dan      ketetapan beliau sebagai rujukan dalam menyelesaikan segala macam      perselisihan serta menjunjung tinggi sabda-sabdanya di atas seluruh ucapan      manusia</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pokok Kebahagiaan</title>
		<link>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 23:36:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitrah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba']]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2468</guid>
		<description><![CDATA[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah [al-Fatawa Juz 14/295-296] menjelaskan : Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan. Pertama; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap &#8230; <a href="http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpokok-kebahagiaan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpokok-kebahagiaan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>[<em>al-Fatawa</em> Juz 14/295-296] menjelaskan :</p>
<p><span id="more-2468"></span></p>
<p>Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan.</p>
<p><strong>Pertama</strong>; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap jiwa apabila dibiarkan begitu saja niscaya ia akan mengakui bahwasanya Allah adalah <em>ilah</em>/sesembahan baginya. Ia akan mencintai-Nya dan akan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Akan tetapi karena adanya bisikan setan dari kalangan jin dan manusia satu sama lain itulah yang menyebabkan kebatilan di mata mereka seolah menjadi sesuatu yang tampak indah dan menawan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>; Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah memberikan petunjuk kepada umat manusia dengan bimbingan yang bersifat umum. Sehingga di dalam diri mereka secara fitrah telah terpatri pengenalan -kepada kebenaran- dan sebab-sebab guna meraih ilmu. Setelah itu, Allah pun menurunkan kitab-kitab suci dan mengutus para rasul sebagai pembimbing bagi mereka.</p>
<p>(<em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em> karya Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 35)</p>
<p>Dari keterangan Syaikhul Islam di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya sumber kebahagiaan umat manusia adalah<strong> ikhlas</strong> -yaitu beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya- dan <strong><em>ittiba&#8217;</em></strong> -yaitu konsisten dengan ajaran dan petunjuk Rasulullah-, inilah rahasia kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Kedua hal ini pula lah yang terkandung dalam dua kalimat syahadat yang senantiasa kita ucapkan. Dua kalimat yang juga selalu diserukan oleh para mu&#8217;adzin kaum muslimin di berbagai belahan bumi.</p>
<p>Dasar kaidah yang agung ini adalah firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang berharap untuk berjumpa dengan Rabb-nya, hendaklah dia melakukan amal salih, dan janganlah dia mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. al-Kahfi: 110</strong>). Amal yang salih adalah amalan yang sesuai dengan Sunnah/tuntunan Nabi. Adapun amalan yang ikhlas adalah yang semata-mata dipersembahkan untuk Allah. Sebagaimana diterangkan oleh Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Dari sinilah kita mengetahui mengapa perhatian para ulama salaf terhadap tauhid dan sunnah sangatlah besar; karena memang kedua hal itulah asas Islam. Dengan memahami tauhid dengan benar maka seorang hamba akan mengerti jalan untuk menggapai ikhlas. Dan dengan memahami sunnah dengan baik maka seorang hamba akan mengerti cara untuk <em>ittiba&#8217;</em> kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Apabila tauhid dan sunnah itu merupakan perkara yang paling mendasar, maka memahami lawan-lawannya pun menjadi perkara yang sangat penting. Karena tidak mungkin seorang mengenal tauhid dengan baik tanpa mengenal lawannya, yaitu syirik. Demikian pula, tidak mungkin seorang mengenal sunnah dengan baik tanpa mengenal lawannya, yaitu bid&#8217;ah.</p>
<p>Maka sungguh sangat aneh jika ada orang yang mengaku muslim akan tetapi sangat alergi membahas tentang syirik dan bid&#8217;ah?! Bahkan, yang lebih aneh lagi adalah sikap sebagian orang yang mencemooh dakwah tauhid dan menjauhkan umat Islam darinya. Dengan bangganya dia menikmati amalan-amalan bid&#8217;ah dan melecehkan dakwah tauhid dengan bahasa-bahasa yang merendahkan para ulama. <em>Subhanallah</em>, tidakkah kita takut akan hukuman-Nya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wajah Islam Di Indonesia</title>
		<link>http://abumushlih.com/wajah-islam-di-indonesia.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/wajah-islam-di-indonesia.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 23:23:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2451</guid>
		<description><![CDATA[*Sebuah Catatan Untuk Para Cendekiawan Islam sebagai sebuah agama tidak mungkin dipisahkan dari realita hidup bermasyarakat. Mengapa demikian? Tentu saja jelas alasannya; karena Islam itu sendiri hadir di atas muka bumi ini semenjak dulu kala. Dan Islam itulah yang mempersatukan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/wajah-islam-di-indonesia.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwajah-islam-di-indonesia.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwajah-islam-di-indonesia.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><span style="color: #000000;"><strong>*</strong><em>Sebuah Catatan Untuk Para Cendekiawan</em></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Islam sebagai sebuah agama tidak mungkin dipisahkan dari realita hidup bermasyarakat. Mengapa demikian? Tentu saja jelas alasannya; karena Islam itu sendiri hadir di atas muka bumi ini semenjak dulu kala. Dan Islam itulah yang mempersatukan umat manusia sebelum mereka berselisih dan menyempal ke dalam berbagai jalan yang menyimpang.</p>
<p><span id="more-2451"></span></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manusia itu (dahulunya ) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 213</strong>)</p>
<p>Dalam sebuah riwayat dengan sanad sahih dari Ibnu Abbas yang dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim dan yang lainnya, ketika menjelaskan makna ayat <em>“Manusia itu (dahulunya ) satu umat.” </em>Ibnu Abbas berkata, <em>“Mereka semuanya dahulu berada di atas Islam.”</em> Demikian juga al-Bazzar dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata, <em>“Rentang waktu antara Adam dan Nuh adalah sepuluh kurun/abad. Mereka semuanya berada di atas syari&#8217;at yang benar, kemudian mereka pun berselisih. Setelah itu Allah pun mengutus nabi-nabi.”</em> (lihat <em>Nashihah ila Jama&#8217;ah al-Ikhwan al-Muslimin</em> oleh Syaikh Abdullah al-Ubailan, hal. 1)</p>
<p>Itulah wajah Islam di awal mula sejarah umat manusia di atas muka bumi ini beribu-ribu tahun yang silam. Demikian pula halnya seluruh para nabi yang Allah utus, mereka sepakat dalam asas ajaran Islam yaitu tauhid; mengesakan Allah dalam beribadah. Meskipun dalam tataran syari&#8217;at bisa jadi berlainan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku (Allah), oleh sebab itu sembahlah Aku (saja).”</em> (<strong>QS. al-Anbiya&#8217;: 25</strong>).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bagi masing-masing umat Kami jadikan syari&#8217;at dan jalan.”</em> (<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 48</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kami segenap para nabi adalah anak-anak sebapak -dengan ibu yang berbeda-, sedangkan agama kami ini adalah sama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh nabi adalah sama yaitu tauhid, meskipun syari&#8217;atnya berlainan (lihat <em>Nashihah ila Jama&#8217;ah al-Ikhwan al-Muslimin</em>, hal. 2)</p>
<p>Orang-orang musyrik pun memahami bahwa maksud dari dakwah para rasul itu adalah supaya masyarakat mengesakan Allah dalam beribadah. Yaitu tidak boleh menujukan ibadah kepada selain Allah, atau mempersekutukan selain-Nya dalam hal ibadah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> menceritakan tanggapan mereka (yang artinya), <em>“Apakah dia -Muhammad-  hendak menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja?!”</em> (<strong>QS. Shaad: 5</strong>). Demikian pula reaksi kaum &#8216;Aad terhadap dakwah Nabi Hud<em> &#8216;alaihis salam</em>. Mereka berkata (yang artinya), <em>“Apakah kamu datang kepada kami agar kami menyembah Allah semata dan meninggalkan apa-apa yang disembah -secara turun temurun- oleh nenek moyang kami?!”</em> (<strong>QS. al-A&#8217;raaf: 70</strong>)</p>
<p>Ayat-ayat di atas menggambarkan kepada kita dengan jelas bahwa reaksi masyarakat yang menentang dakwah para rasul adalah realita di dalam sejarah internasional. Di antara alasan yang kerapkali dibawakan adalah demi mempertahankan warisan budaya nenek moyang [!]. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan apabila dikatakan kepada mereka, &#8216;Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah&#8217;. Mereka menjawab, &#8216;(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).&#8217; Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 170</strong>)</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya yang menggelitik pikiran kita adalah; lalu bagaimana dengan konteks Indonesia? Apakah realita semacam ini juga yang terjadi? Supaya ruang lingkup pembicaraan ini tidak melebar kemana-mana maka marilah kita fokuskan dalam masalah tauhid saja; yang kita semua mengetahui bahwa ini merupakan asas ajaran agama kita.</p>
<p>Adalah sebuah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri bahwa kebudayaan berhala telah berkembang di negeri ini semenjak dahulu kala. Tidak terhitung tempat-tempat yang dianggap keramat, dijadikan sebagai tempat sesaji, demikian pula patung-patung dan candi-candi yang menandai gaya hidup paganisme yang telah mengakar di sebagian masyarakat. Tidak sedikit sosok mistis yang diagung-agungkan dan dianggap memiliki pengaruh terhadap kehidupan. Benda-benda &#8216;sakti&#8217; dan pusaka pun dikeramatkan. Berbagai ritual persembahan pun dilakukan. Entah yang berlokasi di atas gunung, di tengah kota, di pedesaan, sampai pun di pesisir pantai. Tradisi yang erat dengan keyakinan nenek moyang, yang terwarnai oleh kesyirikan (silahkan baca sebuah buku menarik berjudul <em>Bahaya..!!! Tradisi Kemusyrikan Di Sekitar Kita</em> tulisan H. Willyuddin A.R. Dhani, S.Pd)</p>
<p>Sayangnya, sebagian kalangan yang disebut-sebut sebagai intelektual muslim -sadar ataupun tidak- &#8216;menutup-nutupi&#8217; realita pahit ini dengan kedok menjaga kebhinekaan bangsa [?!] Dengan cara-cara yang halus dan samar mereka menolak arus pemurnian yang diserukan oleh para da&#8217;i -di antaranya dipelopori oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, Tuanku Imam Bonjol, dan tokoh yang lainnya- untuk membersihkan kehidupan masyarakat dari berbagai bentuk takhayul, bid&#8217;ah dan churafat (TBC). Yang dalam bahasa kita sekarang bisa diungkapkan dengan slogan <em>&#8216;Memurnikan Aqidah dan Menebarkan Sunnah&#8217;</em>&#8230; Seolah-olah perjuangan yang dilakukan oleh para kyai dan da&#8217;i tersebut adalah gerakan ekstrem yang <strong>agresif, beringas, intoleran, dan penuh kebencian</strong> (lihat tuduhan ini dalam kata pengantar KH. Abdurrahman Wahid; <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 20)</p>
<p>Tidak berhenti di situ saja, mereka -kaum liberal- pun menuduh gerakan dakwah tauhid sebagai proyek Wahabisasi global. Yang kita bicarakan di sini, bukanlah gerakan tarbiyah yang diusung oleh kader-kader salah satu partai politik di negeri ini (tidak perlu kami sebutkan karena sudah sangat populer). Bukan pula gerakan politik ala kelompok dakwah yang senantiasa mendengung-dengungkan khilafah sebagai solusi atas segala problematika umat. Bukan pula sekelompok rakyat sipil yang gemar melakukan penggrebekan tempat-tempat maksiat dengan dalih amar ma&#8217;ruf nahi mungkar. Bukan itu yang kita maksudkan. Pembicaraan mengenai ketiga kelompok itu ada tempatnya tersendiri.</p>
<p>Sesungguhnya yang menjadi sasaran utama serangan propaganda ini adalah dakwah tauhid yang mereka gelari dengan sebutan <strong>Wahabi</strong>. Orang awam tentu akan merasa ngeri dengan istilah-istilah menakutkan yang dimunculkan oleh para pengusung pemikiran liberal ini. Di antara istilah yang sering dipakai adalah istilah <strong>kelompok garis keras</strong>. Gus Dur berkata, <em>“&#8230;Kami berpedoman pada paham Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah, sementara mereka -kelompok garis keras- mewarisi kebiasaan ekstrem Khawarij yang gemar mengkafirkan dan memurtadkan siapa pun yang berbeda dari mereka, kebiasaan buruk yang dipelihara oleh Wahabi dan kaki tangannya.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 21-22). Di bagian lain dari buku ini pun mereka mengamini penyebutan Wahabi sebagai <strong>reinkarnasi <em>Khawarij</em></strong> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 100)</p>
<p>Bukan itu saja tuduhan yang mereka lemparkan. Dengan begitu berapi-apinya mereka menjauhkan umat dari dakwah tauhid ini dengan dalih menyelamatkan umat dari cengkeraman <strong>Wahabisasi Global</strong> dan dalam rangka mengembalikan kemuliaan dan kehormatan Islam yang telah ternodai. Gus Dur kembali melemparkan fitnahnya, <em>“&#8230; Arus dana Wahabi yang tidak hanya membiayai terorisme tetapi juga penyebaran ideologi dalam usaha wahabisasi global juga nyaris luput dari perhatian publik. Selama ini, arus dana Wahabi ke Indonesia tidak mendapat perhatian publik secara serius, padahal dari sinilah fenomena infiltrasi -penyusupan- paham garis keras memperoleh dukungan dan dorongan yang luar biasa kuat sehingga menjadi bisnis yang menguntungkan banyak agennya.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 36)</p>
<p>Di dalam catatan kaki buku tersebut pun disebutkan sebuah &#8216;berita&#8217; yang terkesan sangat mengerikan dan mengancam umat Islam di berbagai belahan penjuru dunia. Dalam hal ini mereka telah berterus terang bahwa yang mereka maksud dengan Wahabi itu adalah Arab Saudi. Mereka berkata, <em>“Aktivitas Saudi di Indonesia hanya merupakan bagian kecil dari kampanye senilai US $ 70.000.000.000,- selama kurun waktu antara 1979-2003 untuk menyebarkan sekte fundamentalis Wahabi di seluruh dunia. Usaha-usaha dakwah Wahabi yang terus meningkat ini merupakan “kampanye propaganda terbesar di seluruh dunia yang pernah dilakukan -anggaran propaganda Soviet pada puncak Perang Dingin menjadi sangat kecil dibandingkan belanja propaganda Wahabi ini.”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39). Tidak aneh jika mereka terkesan menyejajarkan &#8216;bahaya&#8217; Wahabi ini dengan bahaya laten Komunis! Gus Dur menyebut Wahabisasi sebagai gerakan yang merusak Islam Indonesia yang spiritual, toleran, dan santun, dan mengubah Indonesia sesuai dengan ilusi mereka tentang negara Islam yang di Timur Tengah pun tidak ada [?] (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39).</p>
<p>Gus Dur juga berkata, <em>“Dengan balutan jubah dan jenggot Arab yang ditampilkan, yang oleh beberapa pihak telah dipandang lebih tampak seperti preman berjubah, mereka ingin menunjukkan seolah-olah pandangan ekstrem yang mereka teriakkan dan paksakan memang benar-benar merupakan pesan Islam yang harus diperjuangkan. Padahal, mereka merusak agama Islam dan bertanggung jawab atas banyaknya kekerasan yang mereka lakukan atas nama Islam di Indonesia dan seluruh dunia. Dan kita sebagai umat Islam harus menanggung malu atas perbuatan mereka.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39). Semakin lengkap sudah gelaran buruk yang disematkan oleh mereka kepada Wahabi agar umat benar-benar menjauhi dakwah mereka&#8230;</p>
<p>Para peneliti yang menulis buku tersebut ingin menjelaskan kepada kita apa sesungguhnya yang mereka maksud dengan istilah Wahabi. Coba kita simak propaganda mereka! Dengan fasihnya mereka berkata, <em>“Wahabi adalah sebuah sekte keras dan kaku pengikut Muhammad ibn &#8216;Abdul Wahhab.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 62). Di bagian lain buku ini, mereka semakin mempertegas bahwa yang mereka maksud dengan Wahabi tidak lain adalah <strong>Salafi</strong> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 95). Apa yang tertanam dalam pikiran orang yang membaca definisi di atas? Ya&#8230; Wahabi itu keras dan kaku&#8230; Betapa keji tuduhan yang mereka lemparkan! Mereka juga mengatakan, <em>“Islam yang sangat apresiatif dan penuh perasaan dalam merespon permasalahan umat, di tangan Ibn &#8216;Abdul Wahhab berubah menjadi tak peduli, keras, dan tak berperasaan.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 63)</p>
<p>Demikianlah, kedustaan seolah-olah telah menjadi sedemikian murah-meriah bagi para pengusung pemikiran liberal ini. Dengan entengnya mereka mengatakan tentang Wahabi, <em>“Setiap Muslim yang tidak mempunyai pemahaman dan praktik ajaran Islam yang persis seperti Wahabi dianggap murtad, karenanya perang dibolehkan, atau bahkan diwajibkan, terhadap mereka&#8230;”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 67). <em>Maha suci Allah, sungguh ini adalah kedustaan yang sangat besar!</em></p>
<p>Sudah banyak bantahan ilmiah dan santun untuk tuduhan-tuduhan &#8216;emosional&#8217; semacam ini. Padahal, dakwah salafiyah beserta para ulamanya -yang dijuluki &#8216;Wahabi&#8217; dalam rangka membuat orang lari darinya- berlepas diri dari segala tuduhan keji tersebut. Salafiyah itu sendiri adalah ajaran yang diwariskan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya. Sebuah ajaran yang menebarkan rahmat bagi semesta alam. Ajaran yang memberikan bimbingan bagi umat manusia dalam segala sudut kehidupan. Ajaran yang sempurna, yang diturunkan oleh Rabb penguasa alam semesta.</p>
<p>Erat kaitannya dengan tema awal tulisan ini, yaitu menyoroti dakwah tauhid sebagai seruan yang mendapatkan penentangan dari umat para rasul, dan apakah fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Maka, perkenankanlah kami untuk menunjukkan kepada segenap pembaca sebuah penafsiran aneh bin ajaib yang dilakukan oleh para penyusun buku <em>Ilusi</em> yang telah berulang kali kita singgung dalam tulisan ini. Sebuah penafsiran yang lebih tepat disebut sebagai pemerkosaan terhadap dalil agama yang suci dan suatu kekeliruan fatal dalam memahami maksud firman Allah dan sabda Nabi-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Satu bukti ini saja sudah cukup membuktikan kepada kita seperti apa sebenarnya pemahaman mereka tentang aqidah Islam. <em>Allahul musta&#8217;aan</em>&#8230;</p>
<p>Mereka -dengan tanpa rasa malu- memberikan penjelasan sebagai berikut: “Dalam hubungannya dengan agama-agama lain, dengan indah Nabi -<em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, pen</em>- menuturkan, <em>“Nahnu abna&#8217;u &#8216;allat, abuna wahid wa ummuna syatta”</em> (Kami [para rasul] adalah anak-anak para istri dari seorang laki-laki, ayah kami satu namun ibu kami banyak). Dalam keluarga umat manusia, para rasul mempunyai ayah (agama) yang sama yakni Islam (dalam arti berserah diri kepada Tuhan), namun mempunyai ibu (<em>syi&#8217;rah wa minhaj</em>) yang banyak/berbeda-beda.” Kemudian mereka menyimpulkan hadits itu dengan licik, <em>“Ini adalah pengakuan atas pluralisme, dan inilah yang ditolak oleh kelompok garis keras.”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 102-103)</p>
<p>Penjelasan di atas mengandung banyak kontradiksi dan kerancuan, di antaranya:</p>
<p><strong>Kerancuan Pertama:</strong></p>
<p>Mereka membawakan hadits tersebut dalam konteks hubungan Islam dengan agama-agama lain. Padahal, sebagaimana bisa kita saksikan bersama bahwa sesungguhnya hadits tersebut tidak membicarakan hubungan antara Islam dengan agama-agama lain. Karena sebagaimana disebutkan dalam hadits ini -mungkin mereka enggan untuk menampilkannya secara tegas dan lengkap- bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Agama kami -para rasul- adalah satu.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Dari sini kita mengetahui bahwa hadits ini berbicara mengenai agama para nabi itu adalah Islam, walaupun syari&#8217;atnya berlainan, namun pokoknya adalah sama yaitu tauhid (silahkan baca juga <strong>QS. an-Nahl: 36</strong>). Jadi, hadits ini bukan berbicara tentang agama selain Islam.</p>
<p><strong>Kerancuan Kedua:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Penyelewengan penafsiran di atas tidak lain muncul dari kerancuan mereka dalam memahami makna Islam. Oleh sebab itu mereka memberikan penjelasan di dalam tanda kurung tentang Islam yang menjadi agama para rasul itu, dalam pandangan mereka. Islam, dalam arti <strong>berserah diri kepada Tuhan</strong>, demikian penafsiran mereka. Inilah kebiasaan buruk para pemuja pemikiran liberal! Mereka menuduh orang lain kaku dan tekstualis dalam menafsirkan dalil. Sementara dalam kasus-kasus tertentu, mereka justru lebih tekstualis dan lebih kaku dalam memahami dalil.</p>
<p>Lihatlah, dalam memaknai Islam di sini mereka mencukupkan diri dengan makna bahasanya saja. Yaitu Islam dengan pengertian berserah diri kepada Tuhan, sebuah penafsiran yang teramat sempit dan bahkan tidak jelas. Konsekuensi dari penafsiran mereka ini adalah pemeluk agama apa pun adalah muslim, selama mereka berserah diri kepada Tuhan. Padahal, kalau kita mau sedikit saja membuka cakrawala, menelaah ayat-ayat dan hadits-hadits lain, atau kalau sempat <em>ya</em> membaca tafsir para ulama kita terdahulu, akan tampak dengan jelas bagi kita bahwa yang dimaksud dengan Islam di sini bukan sekedar berserah diri kepada Tuhan!</p>
<p>Dalam al-Qur&#8217;an, ayat semacam itu banyak kita temukan. Di antaranya sudah kami sebutkan di depan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku (Allah), oleh sebab itu sembahlah Aku (saja).”</em> (<strong>QS. al-Anbiya&#8217;: 25</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat, seorang rasul -yang mengajak-; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut/sesembahan selain Allah.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima, dan dia di akhirat akan termasuk orang-orang yang merugi.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 85</strong>)</p>
<p>Demikian pula di dalam hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, akan kita temukan penjelasan-penjelasan yang gamblang tentang apa hakikat dari Islam yang sekarang ini diwajibkan -bukan dipaksakan- oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em> kepada umat manusia. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang pun di antara umat ini yang mendengar kenabianku, entah dia beragama Yahudi atau Nasrani, kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak mengimani ajaran [Islam] yang aku bawa, kecuali dia pasti termasuk penghuni Neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Demikian pula ketika Jibril datang kepada Nabi kemudian menanyakan tentang makna Islam, Iman, dan Ihsan. Semuanya telah diterangkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan gamblang. Sudah selayaknya para cendekiawan itu kembali merenungi perkataan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan lebih mempercayainya daripada ucapan kaum Orientalis dan para pakar filsafat yang senantiasa dirundung oleh keragu-raguan.</p>
<p>Demikian pula di dalam tafsir para ulama tentang <em>Shirathal Mustaqim</em> (jalan yang lurus). Akan kita dapati bahwa hakikat jalan yang lurus itu -pada zaman kita sekarang ini- hanya ada pada agama Islam yang diajarkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Di antara penafsiran <em>Shirathul Mustaqim</em> yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir adalah: [1] Mengikuti Allah dan Rasul, [2] Ibnu Abbas menjelaskan bahwa jalan yang lurus itu adalah Kitabullah (al-Qur&#8217;an), [3] Ibnu Abbas, Ibnu Mas&#8217;ud dan para sahabat yang lain mengatakan bahwa maksudnya adalah agama Islam, [4] Mujahid menafsirkan jalan yang lurus itu dengan kebenaran, [5] Menurut Abul &#8216;Aliyah, maksudnya adalah jalan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan kedua sahabatnya -Abu Bakar dan Umar-. Semua penafsiran ini adalah benar dan tidak bertentangan. Bahkan, di dalam hadits yang sahih telah ditegaskan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa Yahudi sebagai golongan yang dimurkai/<em>al-maghdhubi &#8216;alaihim</em>, sedangkan Nasrani sebagai golongan yang sesat/<em>adh-dhallin</em> (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [1/36-39])</p>
<p><strong>Kerancuan Ketiga:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mereka -setelah terjatuh dalam berbagai kerancuan- akhirnya menarik sebuah kesimpulan yang merupakan komplikasi akibat kerancuan-kerancuan yang mengendap sebelumnya, bahwa hadits tersebut -para nabi itu saudara seayah dan berbeda ibu- menjadi sebuah pengakuan (pembenaran) atas pluralisme yang mereka gembar-gemborkan dengan segala pengorbanan. Sungguh memalukan, sekaligus realita yang teramat pahit dan memilukan! Lalu siapakah sebenarnya orang yang rela menjual agamanya kalau demikian kenyataannya?</p>
<p>Sebagai penutup, ada sedikit pesan untuk para pemuda yang begitu bersemangat membela Islam dan bertekad untuk menerapkannya di segala lini kehidupan namun tidak mengikuti manhaj Salafus Shalih dalam dakwahnya. Ketahuilah, bahwa kesan negatif yang muncul mengenai dakwah Islam itu -berupa kekerasan dan sikap-sikap yang tidak bijak- adalah realita yang tidak bisa kita pungkiri muncul dari sebagian kaum muslimin yang tidak paham terhadap ajaran agamanya. Padahal, jika kita tulus dan serius mengikuti jalan tauhid ini niscaya kita akan menemukan wajah Islam yang sesungguhnya. Wajah yang mulia dan membuat bangga pemeluknya. <em>Allahul musta&#8217;aan</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/wajah-islam-di-indonesia.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (5)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 17:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2449</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Dakwah Kepada Syahadat Laa ilaaha illallaah Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak [kalian] kepada Allah di atas bashirah/ilmu.” (QS. Yusuf: 108) Dari Ibnu Abbas radhiyallahu&#8217;anhuma, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-5.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-5.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Dakwah Kepada Syahadat Laa ilaaha illallaah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak [kalian] kepada Allah di atas bashirah/ilmu.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 108</strong>)</p>
<p><span id="more-2449"></span></p>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika hendak mengutus Mu&#8217;adz ke Yaman bersabda kepadanya, <em>“Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum Ahlil Kitab, hendaklah yang pertama kali kamu dakwahkan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallaah.”</em> Dalam riwayat lain disebutkan, <em>“Supaya mereka mentauhidkan Allah.”</em> <em>“Kemudian, apabila mereka mematuhimu untuk itu maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam. Lalu apabila mereka telah mematuhimu untuk itu, sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sedekah/zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan untuk orang-orang miskin di antara mereka. Lalu apabila mereka mematuhimu untuk itu, maka jauhilah harta-harta terbaik mereka dan berhati-hatilah dari doanya orang yang terzalimi; karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara dia dengan Allah.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda pada peperangan Khaibar, <em>“Sungguh besok akan aku berikan bendera ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan rasul-Nya dan dia dicintai Allah dan rasul-Nya. Melalui kedua tangannyalah Allah akan berikan kemenangan.”</em> Maka orang-orang pun memperbincangkan hal itu semalaman. Siapakah kira-kira yang akan mendapatkan bendera itu. Di pagi harinya mereka bergegas menemui Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Mereka semua ingin mendapatkan bendera itu. Beliau pun bersabda, <em>“Dimana Ali bin Abi Thalib?”</em>. Ada yang menjawab, <em>“Kedua matanya sedang sakit.”</em> Maka mereka pun mengutus orang untuk menjemputnya. Ketika dia sudah datang maka Nabi pun meludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya. Setelah itu dia pun sembuh, seolah-olah sebelumnya dia tidak menderita sakit sama sekali. Kemudian Nabi memberikan bendera itu kepadanya. Beliau berpesan, <em>“Berangkatlah dengan tenang sampai kamu tiba di medan perang mereka. Kemudian ajaklah mereka untuk memeluk Islam. Sampaikan kepada mereka kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada Allah ta&#8217;ala di dalam Islam. Demi Allah, apabila Allah memberikan petunjuk kepada seorang saja dengan perantara dirimu maka itu jauh lebih baik daripada onta-onta merah.”</em> Mereka &#8216;memperbincangkan&#8217;, maksudnya &#8216;mendiskusikan&#8217; hal itu.</p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Dakwah -mengajak orang- kepada [agama] Allah merupakan jalan      pengikut Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Peringatan untuk senantiasa memperhatikan keikhlasan; karena      banyak orang yang berdakwah kepada kebenaran, akan tetapi sebenarnya dia      mengajak demi kepentingan dirinya sendiri</li>
<li><em>Bashirah</em>/ilmu -dalam dakwah-      merupakan sesuatu yang wajib dimiliki</li>
<li>Salah satu pertanda keindahan tauhid tatkala tauhid itu menjaga      kesucian Allah <em>ta&#8217;ala</em> dari segala bentuk celaan</li>
<li>Salah satu bukti keburukan syirik adalah karena ia merupakan      bentuk celaan kepada Allah</li>
<li>Salah satu pelajaran terpenting, bahwa harus menjauhkan orang      muslim dari golongan orang-orang musyrik; agar dia tidak ikut menjadi      bagian dari mereka, meskipun dia tidak sampai berbuat kesyirikan</li>
<li>Tauhid merupakan kewajiban yang paling pertama</li>
<li>Tauhid lebih didahulukan dari segalanya, termasuk sholat      sekalipun</li>
<li>Makna &#8216;supaya mereka mentauhidkan Allah&#8217; sama dengan makna      syahadat laa ilaaha illallaah</li>
<li>Bisa jadi seorang termasuk kalangan orang yang memiliki suatu      kitab suci akan tetapi dia sendiri tidak memahami kitabnya, atau dia      mengetahui ajarannya akan tetapi tidak mengamalkannya</li>
<li>Perlu diperhatikan bahwa hendaknya bertahap dalam melakukan      pengajaran</li>
<li>Memulai sesuatu dengan yang terpenting sebelum yang lain</li>
<li>Sasaran pembagian zakat</li>
<li>Seorang yang berilmu menyingkap kerancuan (syubhat) yang ada      pada pelajar</li>
<li>Larangan memungut zakat dari jenis harta yang terbaik</li>
<li>Hendaknya menjauhi doanya orang yang terzalimi</li>
<li>Berita bahwa doa orang yang terzalimi itu tidak terhalang</li>
<li>Salah satu pertanda -beratnya perjuangan- tauhid adalah      kesusahan, kelaparan, dan musibah yang menimpa pemimpin para rasul dan      wali-wali Allah</li>
<li>Sabda beliau &#8216;Aku akan memberikan bendera ini&#8217; dst merupakan      salah satu tanda kenabian</li>
<li>Beliau meludahi kedua mata Ali, ini juga termasuk      tanda/mukjizat kenabian</li>
<li>Keutamaan Ali <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em></li>
<li>Keutamaan para sahabat yang mendiskusikan hal itu semalaman      sampai-sampai mereka hampir tidak peduli dengan berita kemenangan perang</li>
<li>Iman kepada takdir, karena bendera itu diperoleh orang yang      tidak berupaya mendapatkannya sedangkan orang yang berupaya justru tidak      mendapatkannya</li>
<li>Hendaknya menjaga adab, sebagaimana disebutkan dalam hadits <em>&#8216;berangkatlah      dengan tenang&#8217;</em></li>
<li>Dakwah kepada Islam didahulukan sebelum perang</li>
<li>Hal itu [dakwah] disyariatkan bagi kaum yang telah didakwahi      sebelumnya dan diperangi</li>
<li>Berdakwah dengan hikmah, berdasarkan sabda beliau, <em>“Sampaikan      kepada mereka kewajiban yang harus mereka tunaikan.”</em></li>
<li>Mengetahui hak Allah yang harus ditunaikan di dalam Islam</li>
<li>Pahala -yang besar- bagi orang yang menjadi perantara orang      lain -walaupun hanya satu- sehingga mendapatkan hidayah</li>
<li>Bolehnya bersumpah tatkala berfatwa (bukan karena diminta      bersumpah)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (4)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 17:50:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2447</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Takut Terjerumus Syirik Allah &#8216;azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. an-Nisaa&#8217;: 116) &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-4.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-4.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Takut Terjerumus Syirik</strong></p>
<p>Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 116</strong>)</p>
<p><span id="more-2447"></span></p>
<p><em>al-Khalil</em> (Kekasih Allah, Ibrahim)<em> &#8216;alaihis salam</em> berkata (yang artinya), <em>“(Ya Allah) Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada berhala.”</em> (<strong>QS. Ibrahim: 35</strong>)</p>
<p>Di dalam sebuah hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.”</em> Beliau pun ditanya apa maksudnya. Maka beliau menjawab, <em>“Riya&#8217;.”</em></p>
<p>Dari Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mati dalam keadaan berdoa kepada sesembahan selain Allah maka dia masuk Neraka.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Dalam riwayat Muslim, dari Jabir, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang bertemu Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya niscaya dia masuk Surga. Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya niscaya dia akan masuk Neraka.”</em></p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Takut terjerumus syirik</li>
<li>Riya&#8217; termasuk syirik</li>
<li>Riya&#8217; itu termasuk syirik kecil</li>
<li>Syirik kecil ini sangat dikhawatirkan menimpa orang-orang salih</li>
<li>Dekatnya Surga dan Neraka</li>
<li>Penggabungan kedekatan jarak antara keduanya (Surga dan Neraka)      di dalam hadits yang sama</li>
<li>Barangsiapa yang bertemu Allah dalam keadaan berbuat syirik      maka dia masuk Neraka, meskipun dia adalah orang yang paling rajin      beribadah</li>
<li>Perkara yang sangat agung yaitu permintaan/doa al-Khalil (Nabi      Ibrahim) demi keselamatan dirinya dan anak keturunannya agar terjaga dari      penyembahan kepada berhala</li>
<li>Ibrahim pun mempertimbangkan kondisi kebanyakan orang -yang      bisa mengancam keselamatan dirinya- sebagaimana disebutkan dalam doanya      (yang artinya), <em>“Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah      menyesatkan banyak manusia.” </em>(<strong>QS. Ibrahim: 35</strong>)</li>
<li>Di dalamnya terkandung tafsiran laa ilaaha illallaah,      sebagaimana disebutkan oleh Bukhari</li>
<li>Keutamaan orang yang selamat dari syirik</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (3)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 17:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Ruqyah]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2445</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Barang Siapa Merealisasikan Tauhid Niscaya Dia Akan Masuk Surga Tanpa Hisab Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin teladan, senantiasa patuh kepada Allah, cenderung kepada tauhid, dan dia tidak termasuk &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-3.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-3.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Barang Siapa Merealisasikan Tauhid Niscaya Dia Akan Masuk Surga Tanpa Hisab</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin teladan, senantiasa patuh kepada Allah, cenderung kepada tauhid, dan dia tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 120</strong>)</p>
<p><span id="more-2445"></span></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan orang-orang yang kepada Rabb mereka, mereka itu tidaklah mempersekutukan.”</em> (<strong>QS. al-Mu&#8217;minun: 59</strong>)</p>
<p>Dari Hushain bin Abdurrahman. Dia berkata: Suatu ketika aku bersama Sa&#8217;id bin Jubair, dia berkata, <em>“Siapakah di antara kalian yang tadi malam melihat ada bintang jatuh?”</em>. Aku menjawab, <em>“Aku.”</em> Lalu aku katakan, <em>“Adapun aku, ketika itu aku bangun bukan karena sedang sholat. Akan tetapi aku tersengat binatang berbisa.”</em> Dia bertanya, <em>“Lalu apa yang kamu lakukan?”</em>. Aku menjawab, <em>“Aku meminta ruqyah.” Dia bertanya, “Apa yang mendasari kamu melakukan hal itu?”</em>. Aku jawab, <em>“Ada sebuah hadits yang disampaikan kepadaku oleh asy-Sya&#8217;bi.”</em> Dia bertanya, <em>“Hadits apa yang dia sampaikan kepada kalian?”</em>. Aku menjawab: Dia menuturkan kepada hadits dari Buraidah bin al-Hushaib, bahwa Nabi bersabda, <em>“Tidak ada ruqyah -yang lebih manjur- daripada untuk mengobati &#8216;ain/mata jahat atau tersengat binatang berbisa.”</em> Dia -Sa&#8217;id bin Jubair- berkata: “Sungguh baik orang yang telah mengikuti dalil yang telah dia dengar. Akan tetapi, Ibnu &#8216;Abbas telah menuturkan hadits kepada kami dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda: “Ditampakkan kepadaku umat-umat. Di sana aku melihat ada seorang nabi bersama dengan sekelompok orang pengikut. Ada pula seorang nabi yang disertai oleh satu atau dua orang. Bahkan, ada nabi yang tidak disertai oleh seorang pengikut pun. Kemudian tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok besar manusia. Aku menyangka bahwa mereka itu adalah umatku. Dikatakan kepadaku, <em>“Ini adalah Musa bersama dengan kaumnya.”</em> Kemudian aku memandang lagi, ternyata ada sekelompok besar manusia. Dikatakan kepadaku, <em>“Inilah umatmu. Bersama dengan mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.”</em> Kemudian beliau -Nabi- bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang pun membicarakan hal itu. Sebagian mereka berkata, <em>“Barangkali mereka itu adalah para sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> Sebagian lagi mengatakan, <em>“Barangkali mereka itu adalah orang-orang yang dilahirkan di lingkungan Islam dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah sama sekali.”</em> Mereka pun menyebutkan kemungkinan sebab-sebab yang lain. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun keluar menemui mereka. Mereka menyampaikan masalah itu kepada beliau. Maka beliau bersabda, <em>“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak minta diobati dengan kay/besi panas, tidak beranggapan sial/tathayyur, dan bertawakal hanya kepada Rabb mereka.” </em>Bangkitlah &#8216;Ukkasyah bin Mihshan, dia berkata, <em>“Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk golongan itu.”</em> Beliau menjawab, <em>“Ya, kamu termasuk golongan itu.”</em> Lalu ada seorang lelaki yang bangkit dan berkata, <em>“Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk golongan itu.”</em> Beliau pun menjawab, <em>“Kamu sudah didahului oleh &#8216;Ukkasyah.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Mengetahui berbagai tingkatan orang dalam bertauhid</li>
<li>Maksud dari merealisasikan tauhid</li>
<li>Pujian Allah kepada Ibrahim sebagai sosok yang tidak termasuk      golongan orang musyrik</li>
<li>Pujian Allah kepada para pemimpin wali-wali Allah yang bersih      dari syirik</li>
<li>Tidak meminta ruqyah dan tidak berobat dengan kay merupakan      bentuk perealisasian tauhid</li>
<li>Karakter utama yang memadukan ciri-ciri tersebut adalah tawakal</li>
<li>Kedalaman ilmu para sahabat, karena mereka mengerti bahwa      kemuliaan itu tidak akan bisa dicapai tanpa amal</li>
<li>Besarnya semangat para sahabat terhadap kebaikan</li>
<li>Keutamaan umat ini dari sisi kuantitas maupun kualitas</li>
<li>Keutamaan para sahabat Musa</li>
<li>Ditampakkannya umat-umat kepada Nabi <em>&#8216;alaihish sholatu was      salam</em></li>
<li>Setiap umat akan dikumpulkan -di hari kiamat- bersama nabinya      masing-masing</li>
<li>Sedikitnya jumlah orang yang menerima dakwah nabi-nabi</li>
<li>Nabi yang tidak memiliki pengikut maka dia akan datang      sendirian pada hari kiamat</li>
<li>Buah ilmu ini, yaitu tidak perlu terpedaya dengan jumlah yang      banyak, dan tidak perlu merasa kecewa akibat jumlah yang sedikit</li>
<li>Keringanan untuk ruqyah dalam rangka penyembuhan &#8216;ain dan      tersengat binatang berbisa</li>
<li>Kedalaman ilmu salaf, hal itu tampak dari ucapannya, <em>“Sungguh      baik orang yang mengikuti dalil yang dia dengar. Akan tetapi demikian&#8230;” </em>Beliau      -Sa&#8217;id bin Jubair- mengetahui bahwa hadits yang pertama tidaklah      bertentangan dengan hadits yang kedua</li>
<li>Jauhnya salaf dari memuji orang dengan sesuatu yang tidak ada      pada dirinya</li>
<li>Dalam<em> </em>sabda beliau, <em>“Kamu termasuk dalam golongan      itu.”</em> merupakan salah satu tanda kenabian</li>
<li>Keutamaan &#8216;Ukkasyah</li>
<li>Penggunaan sindiran</li>
<li>Keluhuran akhlak Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Kau Tolak Bencana Dengan Bencana!</title>
		<link>http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 09:42:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Musyrik]]></category>
		<category><![CDATA[Muwahid]]></category>
		<category><![CDATA[Sembelihan]]></category>
		<category><![CDATA[Sesaji]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tolak Bala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2433</guid>
		<description><![CDATA[Tolak bencana, warga tanam kepala kerbau. Itulah judul berita yang tidak jarang kita temukan di media-media elektronik maupun cetak ketika muncul kekhawatiran datangnya bencana di tengah-tengah masyarakat. Memang, tidak ada orang yang suka tertimpa bencana. Oleh sebab itu semua orang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Tolak bencana, warga tanam kepala kerbau. Itulah judul berita yang tidak jarang kita temukan di media-media elektronik maupun cetak ketika muncul kekhawatiran datangnya bencana di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p><span id="more-2433"></span></p>
<p>Memang, tidak ada orang yang suka tertimpa bencana. Oleh sebab itu semua orang berupaya untuk menghindar dan menyelamatkan diri dari bencana. Akan tetapi, yang menjadi masalah -bahkan sumber petaka- adalah ketika sebagian orang justru menolak bencana dengan bencana, bahkan bencana yang lebih dahsyat!</p>
<p><strong>Musibah adalah Takdir Allah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Saudaraku, musibah dan bencana merupakan sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Allah menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Sebagai seorang muslim, kita wajib mengimani takdir. Suatu ketika, malaikat Jibril datang kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bertanya tentang iman, maka di antara jawaban beliau adalah, <em>“Hendaknya kamu beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Iman kepada takdir adalah harga mati, tidak bisa ditawar-tawar. Sahabat Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> berkata tentang orang-orang yang mengingkari takdir di masanya, <em>“Sampaikanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun tidak punya urusan denganku. Demi Allah, yang jiwa Ibnu Umar di tangan-Nya, seandainya mereka punya emas sebesar gunung Uhud kemudian mereka infakkan, maka Allah tidak akan menerimanya sampai mereka beriman terhadap takdir.”</em> (lihat Kitab <em>al-Iman</em>, <em>Shahih Muslim</em>). Ini menunjukkan bahwa orang yang mengingkari takdir bukan termasuk orang beriman.</p>
<p><strong>Berlindunglah Kepada Allah</strong></p>
<p>Seorang hamba yang ingin selamat dari berbagai macam musibah dan bencana hendaknya hanya berlindung dan berdoa kepada Allah. Karena hanya Allah yang menguasai segala urusan di langit dan di bumi. Dia lah yang menguasai segala manfaat dan madharat.</p>
<p><em>Isti&#8217;adzah</em>/meminta perlindungan merupakan salah satu bentuk doa. Sementara doa adalah ibadah; sehingga tidak boleh ia ditujukan kepada selain Allah. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Doa itu adalah [intisari] ibadah.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, hasan sahih). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb kalian berfirman: Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk Jahannam dalam keadaan hina.”</em> (<strong>QS. Ghafir: 60</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sembahlah Allah saja, dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 36</strong>)</p>
<p>Seorang yang berdoa dan memohon perlindungan kepada selain Allah telah menujukan ibadah kepada yang tidak berhak menerimanya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman mengenai sesembahan yang diseru selain-Nya (yang artinya), <em>“Sesembahan-sesembahan yang kalian seru selain-Nya sama sekali tidak menguasai apa-apa walaupun setipis kulit ari.”</em> (<strong>QS. Fathir: 13</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Janganlah kamu menyeru/berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak kuasa memberikan manfaat dan madharat kepadamu. Kalau kamu tetap melakukannya maka kamu benar-benar kamu termasuk orang yang berbuat zalim.”</em> (<strong>QS. Yunus: 106</strong>)</p>
<p><strong>Syirik Kezaliman Terbesar</strong></p>
<p>Menujukan doa dan ibadah kepada selain Allah merupakan kekafiran, kemusyrikan, dan kezaliman. Kekafiran orang yang berdoa kepada selain Allah merupakan ketetapan al-Qur&#8217;an. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menyeru/berdoa kepada sesembahan lain selain [berdoa] Allah, yang sama sekali tidak ada dalil yang membenarkannya, maka sesungguhnya perhitungannya ada di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.”</em> (<strong>QS. al-Mukminun: 117</strong>).</p>
<p>Berdoa kepada selain Allah pun termasuk kezaliman, bahkan kezaliman yang terbesar. Karena ibadah adalah hak Allah. Barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah berarti dia telah menujukan ibadah kepada yang tidak berhak menerimanya, dan itulah kezaliman. Hak Allah adalah hak pertama dan paling agung yang harus dipenuhi, sehingga tidak menunaikan hak Allah merupakan kezaliman yang paling besar. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.”</em> (<strong>QS. Luqman: 13</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dari sini anda bisa mengetahui bahwa slogan-slogan penegakan keadilan yang kerapkali didengungkan oleh sebagian kalangan namun dengan meminggirkan agenda tauhid dan pemberantasan syirik sesungguhnya merupakan seruan yang tidak adil dan tidak proporsional. Bagaimana mereka begitu geram tatkala melihat kezaliman kepada makhluk, sementara kezaliman terhadap hak Sang Khaliq justru dianggap remeh dan biasa-biasa saja?! Sungguh mengherankan&#8230;</p>
<p><strong>Orang Musyrik Pun Berdoa Kepada Allah</strong></p>
<p>Jangan anda kira bahwa orang-orang musyrik tidak pernah berdoa kepada Allah. Bahkan, mereka berdoa kepada Allah siang dan malam. Hanya saja mereka mempersekutukan Allah di dalam doanya. Mereka berdoa kepada Allah, namun mereka juga berdoa kepada selain Allah. Apalagi dalam kondisi genting dan terjepit, mereka mengikhlaskan doanya untuk Allah semata. Walaupun tatkala Allah selamatkan mereka, mereka pun kembali berbuat syirik.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> menceritakan hal itu dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Maka apabila mereka menaiki perahu -di lautan dan diterpa badai- mereka pun berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/doa kepada-Nya. Namun, tatkala Allah selamatkan mereka ke daratan, tiba-tiba mereka pun kembali berbuat syirik.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ankabut: 65</strong>).</p>
<p>Hal ini menunjukkan bagaimana keyakinan orang-orang musyrik di kala itu. Mereka meyakini bahwa dalam keadaan terjepit tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan mereka kecuali Allah. Oleh sebab itu mereka berdoa hanya kepada Allah, tidak kepada selain-Nya. Maka bandingkanlah dengan sebagian orang pada masa sekarang ini yang berdoa, memohon perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah, baik ketika lapang maupun sempit. Aduhai, alangkah bodohnya perbuatan mereka itu&#8230; Melebihi kebodohan orang-orang musyrik masa silam.</p>
<p><strong>Mempersembahkan Sembelihan Adalah Ibadah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Tidak boleh mempersembahkan sembelihan kepada selain Allah, karena hal itu merupakan kemusyrikan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya&#8230;”</em> (<strong>QS. al-An&#8217;aam: 162</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun bersabda, <em>“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Boleh saja menyembelih untuk selain Allah kalau bukan dalam rangka ritual persembahan. Seperti halnya menyembelih kambing untuk <em>walimah</em>/resepsi, untuk hidangan tamu, untuk makan-makan/pesta dan lain sebagainya. Dalil-dalil tentang hal itu sudah sangat jelas dalam al-Qur&#8217;an maupun as-Sunnah. Adapun sembelihan dalam rangka <em>taqarrub</em>/pendekatan diri kepada Allah sudah ditentukan bentuk-bentuknya, seperti halnya qurban pada hari raya Iedul Adha.</p>
<p>Hukum asal perkara ibadah/ritual adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, pasti akan tetolak.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga memperingatkan, <em>“Waspadalah dari perkara-perkara yang diada-adakan -dalam urusan agama-. Karena setiap yang diada-adakan itu adalah bid&#8217;ah.”</em> (<strong>HR. Abu Dawud dan Tirmidzi</strong>, Tirmidzi berkata: <em>hasan sahih</em>)</p>
<p>Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa menyembelih binatang -kerbau atau apapun jenisnya- kemudian menanam kepala atau bagian tubuhnya yang lain di tempat tertentu dengan alasan/niat untuk memohon keselamatan kepada Allah jelas termasuk perbuatan yang mengada-ada dan tidak ada tuntunannya. Karena tidak ada satupun dalil yang memerintahkan perbuatan semacam itu, baik di dalam al-Qur&#8217;an maupun di dalam as-Sunnah, tidak pula diamalkan oleh para Sahabat <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em>. Lantas, ajaran siapakah ini?!</p>
<p>Belum lagi, jika kita telusuri lebih dalam. Ternyata perbuatan semacam ini biasanya dilandasi keyakinan adanya jin atau sosok makhluk gaib tertentu -selain Allah, yang mereka sebut dengan istilah gendruwo, kuntilanak, simbah, dhemit, lelembut, dsb- yang menguasai alam ini -entah itu di laut selatan, gunung tertentu, jembatan yang akan dibangun, sungai tertentu, pohon besar, dsb- yang mereka khawatirkan akan mendatangkan bahaya dan bencana apabila tidak diberikan persembahan (sesaji) kepadanya. Takut kuwalat, takut tertimpa malapetaka, itulah alasan mereka. Kalau seperti ini, jelas syirik hukumnya. Apabila pelakunya meninggal dan belum bertaubat darinya, di akhirat dia kekal tersiksa di dalam neraka, <em>na&#8217;udzu billahi min dzalik</em>!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka Allah haramkan atasnya surga, dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang berbuat zalim (syirik) itu.”</em> (<strong>QS. al-Maa&#8217;idah: 72</strong>)</p>
<p>Sebagian orang -<em>semoga Allah menunjuki mereka</em>- mungkin akan berdalih bahwa hal itu mereka lakukan semata-mata untuk melestarikan tradisi leluhur dan demi mengekspresikan rasa syukur. Aduhai, apakah ayat dan hadits akan kita tolak dengan tradisi leluhur? Apakah syukur itu diwujudkan dengan mempersekutukan Allah dan berbuat kekafiran kepada-Nya?</p>
<p><em>“Anda terlalu kaku, kita harus mengenal kearifan lokal dan menghargai budaya nenek moyang.”</em> Sebagian orang bisa jadi berkomentar demikian. Siapakah yang kaku sesungguhnya? Orang yang setia kepada bimbingan al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah ataukah orang yang bersikukuh mempertahankan pendapatnya yang bertentangan dengan agama? Siapkah yang arif? Orang yang mengikuti hawa nafsu dan perasaannya sembari membuang ayat dan hadits, ataukah orang yang menundukkan jiwa dan raganya kepada ajaran agama Allah yang hanif ini? <em>Allahul musta&#8217;aan</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jangan-kau-tolak-bencana-dengan-bencana.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudaraku&#8230; Apa Yang Kau Cari?</title>
		<link>http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 16:31:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2329</guid>
		<description><![CDATA[Salah seorang teman -semoga Allah menambahkan kepadanya ilmu yang bermanfaat- pernah menulis sebuah artikel dengan judul yang kurang lebih sama dengan judul tulisan ini. Namun, pada kesempatan ini saya hanya akan sedikit menyampaikan beberapa keterangan dan sedikit mengkaji realita yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-apa-yang-kau-cari.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-apa-yang-kau-cari.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Salah seorang teman -<em>semoga Allah menambahkan kepadanya ilmu yang bermanfaat</em>- pernah menulis sebuah artikel dengan judul yang kurang lebih sama dengan judul tulisan ini. Namun, pada kesempatan ini saya hanya akan sedikit menyampaikan beberapa keterangan dan sedikit mengkaji realita yang ada di sekitar kita demi mengingatkan diri kami sendiri dan segenap <em>ikhwah</em>&#8230;</p>
<p><span id="more-2329"></span><strong>Pertama</strong>; <em>Masalah Niat</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa amalan yang kita lakukan akan sangat tergantung pada niat pelakunya. Oleh sebab itu kami mengingatkan kepada segenap <em>ikhwah</em> untuk senantiasa menjaga niat dalam beramal karena Allah, bukan karena mencari tujuan-tujuan yang rendah dan hina. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya setiap amal dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan niatnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan diri-Ku dengan selain-Ku maka akan Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Maka keikhlasan adalah perkara yang sangat penting dan tidak boleh dilupakan oleh setiap kita, dalam setiap amalan yang kita lakukan, di mana pun dan kapan pun&#8230;</p>
<p><strong>Kedua</strong>; <em>Masalah Prioritas</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa keutamaan amalan itu bertingkat-tingkat, ada yang wajib dan ada yang sunnah, ada yang utama dan ada yang lebih utama, ada yang penting dan ada yang lebih penting. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada mengerjakan hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu hendaknya kita lebih mendahulukan sesuatu yang memiliki urgensi dan keutamaan yang lebih daripada sesuatu yang kurang penting dan kurang utama, terlebih lagi di saat-saat kebanyakan manusia tenggelam dalam kelalaian dan penyimpangan-penyimpangan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ibadah di saat fitnah berkecamuk laksana berhijrah kepadaku.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>; <em>Masalah Ilmu</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa ilmu merupakan pintu menuju kebahagiaan, keselamatan, dan kemuliaan. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka akan dipahamkan oleh-Nya dalam urusan agama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Beliau juga bersabda, <em>“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu [agama] niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu hendaknya kita bersemangat dalam menuntut ilmu ini. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> pernah mengatakan, <em>“Barangsiapa yang menuntut ilmu dalam rangka menghidupkan ajaran Islam, maka dia termasuk Shiddiqin dan derajatnya adalah sesudah derajat kenabian.” </em>Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> juga berkata, <em>“Manusia lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dalam sehari cukup sekali atau dua kali. Adapun ilmu, ia dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.”</em></p>
<p><strong>Keempat</strong>; <em>Masalah Hidayah</em></p>
<p>Kita semua mengetahui betapa butuhnya kita terhadap hidayah dan bimbingan dari Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Sehingga setiap hari kita memohon kepada-Nya untuk ditunjuki jalan yang lurus. Hidayah ini mencakup petunjuk berupa ilmu dan amalan. Karena orang yang berjalan di atas jalan yang lurus adalah yang memadukan antara ilmu dan amalan. Bukan sekedar berilmu tapi tidak beramal. Bukan juga beramal namun tanpa ilmu.</p>
<p>Oleh sebab itu kita harus menjaga nikmat hidayah ini dengan baik. Jangan sampai Allah mencabut hidayah ini dari dalam diri kita akibat kelalaian dan kesalahan kita sendiri. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tatkala mereka menyimpang maka Allah pun simpangkan hati mereka.”</em> (<strong>QS. ash-Shaff: 5</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka dia akan mendapatkan penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya di hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata: Wahai Rabbku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku bisa melihat. Allah menjawab; Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami akan tetapi kamu justru melupakannya, maka demikian pula pada hari ini kamu dilupakan.”</em> (<strong>QS. Thaha: 124-125</strong>)</p>
<p><strong>Kelima</strong>; <em>Masalah Dakwah</em></p>
<p>Kita semua juga mengetahui bahwa dakwah merupakan tugas agung para pengikut setia Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Dakwah memiliki keutamaan dan urgensi yang sangat besar. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah di atas ilmu yang nyata, aku dan orang-orang yang mengikutiku, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 108</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu ilmu yang telah kita dapatkan tidak boleh disembunyikan. Hendaknya kita ikut berpartisipasi dalam menyebarluaskannya. Terlebih lagi di masa seperti masa kita sekarang ini tatkala kebatilan dan kemaksiatan begitu gencarnya dipromosikan melalui segala sarana, baik di kota maupun di desa, di kalangan orang tua maupun anak muda. Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> pernah berkata, <em>“Ilmu itu tidak bisa ditandingi oleh apapun, yaitu bagi orang yang niatnya benar.”</em> Ketika ditanya apa maksud niat yang benar itu, beliau menjawab, <em>“Yaitu belajar dalam rangka menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan dari orang lain.”</em></p>
<p><strong>Keenam</strong>; <em>Masalah Sabar</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa untuk menuntut ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya tentu saja dibutuhkan kesabaran. Demikian juga untuk menjauhi larangan-larangan, menjalankan perintah, serta tatkala mengalami musibah. Maka hendaknya setiap kita menggembleng diri dengan kesabaran. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Dengan bekal kesabaran dan keyakinan, maka akan diraih kepemimpinan dalam urusan agama.” </em></p>
<p>Para ulama kita juga menegaskan, bahwa sabar laksana kepala bagi anggota badan. Apabila kesabaran itu hilang maka hilanglah keimanan. Sabar ini sangat dibutuhkan. Lihatlah kesabaran para ulama kita dalam menuntut ilmu hingga harus merasakan haus dan lapar, jauh dari sanak famili, harus meninggalkan tanah kelahiran mereka, bahkan ada di antara mereka yang rela menjual pakaian dan bahkan rumahnya demi menuntut ilmu.</p>
<p>Demikian juga lihatlah kesabaran mereka dalam menghadapi berbagai ujian dan tekanan yang datang dari musuh-musuh dakwahnya. Tidaklah itu semua mereka lakukan kecuali karena keyakinan mereka akan kebenaran janji Allah <em>ta&#8217;ala</em> kepada orang-orang yang sabar. Allah tidak akan menyia-nyiakan jerih payah mereka, Allah tidak akan menyia-nyiakan keimanan dan kesabaran mereka selama hidup di dunia&#8230; Karena Allah akan membalasnya dengan surga yang kenikmatannya belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia&#8230; Sebuah kenikmatan yang sekali celupan di dalamnya bisa melupakan segala kesusahan dan kerepotan yang pernah dialaminya selama hidup di dunia&#8230;</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>; <em>Masalah Akidah</em></p>
<p>Kita semua telah mengetahui keutamaan dan urgensi akidah bagi individu dan masyarakat. Sebab akidah yang benar merupakan kunci keselamatan pada hari pembalasan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari itu [hari kiamat] tidaklah berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu&#8217;ara&#8217;: 88-89</strong>). Allah pun menjadikan dakwah kepada akidah yang benar sebagai pondasi dan ruh dakwah para nabi dan rasul. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu selayaknya setiap pribadi muslim dan muslimah memiliki perhatian yang besar terhadap masalah akidah, memahaminya dengan benar dan berusaha mendakwahkannya kepada umat setelah berusaha menanamkannya di dalam dirinya sendiri. Janganlah kita meremehkan masalah akidah, karena ia adalah pondasi dan ruh agama ini. Akidah tidak hanya dibutuhkan di permulaan, di tengah-tengah, ataupun di akhir saja, namun dia dibutuhkan di semua waktu dan di segala kondisi. Inilah ibadah hati yang tidak boleh terlepas barang sedetik pun dari hati setiap insan.</p>
<p>Kita harus ingat, bahwa bodoh dan lalai terhadap akidah adalah gerbang kehancuran. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman tentang bahaya penyimpangan akidah ini (yang artinya), <em>“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.”</em> (<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 72</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 48</strong>)</p>
<p><strong>Kedelapan</strong>; <em>Masalah Bahasa Arab</em></p>
<p>Kita semua juga telah mengetahui bahwa ayat-ayat dan hadits-hadits ditulis dalam bahasa arab, demikian juga kitab-kitab para ulama kita. Maka menjadi kebutuhan bagi kita semua untuk bisa memahami ayat-ayat, hadits-hadits serta keterangan para ulama dengan benar. Oleh sebab itu alangkah pentingnya bagi setiap penuntut ilmu untuk mempelajari bahasa ini. Umar bin Khattab <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata, <em>“Pelajarilah bahasa arab, karena ia adalah bagian penting dari agama kalian.” </em>Dengan memahami bahasa arab, maka seorang penuntut ilmu akan dapat membaca kitab-kitab tafsir, hadits dan fikih serta kitab-kitab ushul yang akan sangat berguna bagi pembentukan pribadi muslim yang cerdas dan bermanfaat bagi umat manusia.</p>
<p><strong>Kesembilan</strong>; <em>Masalah Waktu</em></p>
<p>Kita semua mengetahui bahwa waktu, umur dan kesempatan merupakan kenikmatan yang tidak ternilai harganya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ada dua nikmat yang banyak orang tertipu olehnya; yaitu kesehatan dan waktu luang.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>). Oleh sebab itu, Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga bersumpah dengan waktu. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi waktu. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.”</em> (<strong>QS. al-&#8217;Ashr: 1-3</strong>)</p>
<p>Oleh sebab itu semestinya kita gunakan waktu ini sebaik-baiknya demi kebahagiaan hidup kita di dunia maupun di akhirat. Sebab kita juga tidak tahu kapan kita akan mati dan dalam keadaan apa kita mati. Yang bisa kita lakukan adalah beramal dan beramal. Hasan al-Bashri <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah kumpulan hari. Apabila berlalu hari itu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.” </em>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berpesan, <em>“Bersegeralah dalam beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Pada waktu pagi seorang beriman namun di sore hari menjadi kafir, atau pada sore hari dia beriman dan esok harinya kafir, dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mungkin ini saja sebagian catatan yang rasanya perlu kami sampaikan sebagai pengingat bagi diri kami dan pembaca sekalian, mengingat pentingnya hal ini untuk disampaikan dan demikian banyaknya perkara yang menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka.</p>
<p>Tulisan ini terutama kami tujukan kepada segenap generasi muda yang telah diberikan kenikmatan oleh Allah berupa akal pikiran dan kesempatan serta kekuatan, agar mereka tidak menyia-nyiakan berbagai kesempatan baik yang telah dibukakan untuk mereka.</p>
<p>Semoga yang singkat ini bermanfaat, <em>wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em>.</p>
<p>* Tulisan ini disusun dengan saran dari salah seorang teman -<em>semoga Allah senantiasa menjaganya</em>-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/saudaraku-apa-yang-kau-cari.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Pendusta</title>
		<link>http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 02:47:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[Sum'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2326</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Kitab al-Imarah Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya golongan pertama manusia yang akan diadili pada hari kiamat ada tiga. Di antaranya adalah seorang lelaki yang mati dalam upaya mencari kesyahidan. &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-pendusta.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftiga-pendusta.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dalam Kitab <em>al-Imarah</em> Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya golongan pertama manusia yang akan diadili pada hari kiamat ada tiga. Di antaranya adalah seorang lelaki yang mati dalam upaya mencari kesyahidan. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang sekiranya akan dia peroleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, &#8216;Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?&#8217;. Dia menjawab, &#8216;Aku telah berperang di jalan-Mu sampai akhirnya aku mati syahid.&#8217; Allah berkata, &#8216;<strong>Dusta kamu</strong>. Sebenarnya kamu berperang demi mendapatkan julukan sebagai orang yang gagah berani, dan hal itu telah kamu dapatkan.&#8217; Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian, ada seorang lelaki yang suka mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta pandai membaca al-Qur&#8217;an. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, &#8216;Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?&#8217;. Di menjawab, &#8216;Aku telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca al-Qur&#8217;an untuk-Mu.&#8217; Allah mengatakan, &#8216;<strong>Dusta kamu</strong>. Sebenarnya kamu mempelajari ilmu demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang berilmu, dan kamu membaca al-Qur&#8217;an agar disebut sebagai ahli baca al-Qur&#8217;an. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan.&#8217; Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya, seorang lelaki yang Allah lapangkan untuknya harta dan Allah berikan kepadanya berbagai jenis kekayaan. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh dengan sebab amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, &#8216;Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?&#8217;. Dia menjawab, &#8216;Tidak pernah aku lewatkan satu perkara pun yang Engkau sukai untuk aku berinfak kepadanya, melainkan aku pasti telah menginfakkan hartaku padanya karena-Mu.&#8217; Allah berkata, &#8216;<strong>Dusta kamu</strong>. Sebenarnya kamu lakukan itu agar kamu disebut sebagai dermawan, dan hal itu telah kamu dapatkan. Kemudian orang itu pun diseret dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim [1905]</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [6/531-532])</p>
<p><span id="more-2326"></span></p>
<p>Hadits yang agung ini menerangkan kepada kita nasib malang yang menimpa tiga pendusta. <em>Pertama</em>, orang yang  berjihad akan tetapi tidak ikhlas. <em>Kedua</em>, orang yang bergelut dengan ilmu dan mendakwahkannya akan tetapi tidak ikhlas. <em>Ketiga</em>, orang yang berderma dengan hartanya akan tetapi tidak ikhlas. Mereka bertiga celaka akibat tidak pandai menjaga hatinya dari riya&#8217; dan sum&#8217;ah. Mereka beramal bukan karena Allah, tapi karena manusia, mengharapkan pujian dan sanjungan mereka. Itulah niat yang tersimpan di dalam hatinya, yang Allah tampakkan pada hari kiamat, pada hari tidak akan ada orang yang bisa berbohong dan menyembunyikan kedustaannya.</p>
<p>Dalam Kitab <em>az-Zuhd</em>, Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda: Allah <em>tabaraka wa ta&#8217;ala</em> berfirman, <em>“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang dia mempersekutukan diriku dengan selain Aku maka Aku tinggalkan dia bersama dengan kesyirikannya.”</em> (<strong>HR. Muslim [2985]</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [9/232])</p>
<p>Abu Ishaq al-Fazari berkata, <em>“Sesungguhnya ada di antara manusia orang yang menyukai pujian kepada dirinya padahal dirinya tidak lebih berharga di sisi Allah daripada sehelai sayap nyamuk.”</em> (<em>Ta&#8217;thir al-Anfas</em>, hal. 573). Ibnu Taimiyah berkata, <em>“Barangsiapa yang mencintai seseorang tapi bukan karena Allah, maka bahaya teman-temannya lebih besar daripada bahaya musuh-musuhnya.”</em> (<em>Ta&#8217;thir al-Anfas</em>, hal. 575). <em>Semoga Allah melindungi kita dari syirik dan segala hal yang menjerumuskan ke dalamnya&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Dzatu Anwath</title>
		<link>http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 17:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Berkah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kekafiran]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tabarruk]]></category>
		<category><![CDATA[Tasyabbuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2308</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu&#8217;anhu, dia menceritakan: Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menuju Hunain. Sedangkan pada saat itu kami masih baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam, pent). Ketika itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-dzatu-anwath.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkisah-dzatu-anwath.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Abu Waqid al-Laitsi <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, dia menceritakan: Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menuju Hunain. Sedangkan pada saat itu kami masih baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam, pent). Ketika itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka beri&#8217;tikaf di sisinya dan mereka jadikan sebagai tempat untuk menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu disebut dengan Dzatu Anwath. Tatkala kami melewati pohon itu kami berkata, <em>“Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.”</em> Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjawab, <em>“Allahu akbar! Inilah kebiasaan itu! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telag mengatakan sesuatu sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Isra&#8217;il kepada Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan. Musa berkata: Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bertindak bodoh.” (<strong>QS. al-A&#8217;raaf: 138</strong>). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.”</em> (<strong>HR. Tirmidzi</strong> dan beliau mensahihkannya, disahihkan juga oleh Syaikh al-Albani dalam takhrij <em>as-Sunnah</em> karya Ibnu Abi &#8216;Ashim, lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/126])</p>
<p><span id="more-2308"></span> Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang musyrik di kala itu memiliki keyakinan yang keliru terhadap Dzatu Anwath, yang hal itu mencakup tiga perkara: [1] Mereka mengagung-agungkan pohon tersebut, [2] Mereka melakukan i&#8217;tikaf (berdiam dalam rangka ibadah) di sisinya, [3] Mereka menggantungkan senjata-senjata mereka dalam rangka mengharapkan keberkahan pohon tersebut mengalir kepada senjata-senjata mereka sehingga diharapkan senjata itu menjadi lebih tajam dan mendatangkan kebaikan yang lebih bagi orang yang membawa senjata tersebut (lihat <em>at-Tam-hid</em>, hal. 132).</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa mencari berkah kepada pohon adalah terlarang -bahkan termasuk syirik-, dan hal itu merupakan salah satu kebiasaan buruk umat-umat terdahulu yang sesat (lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/126 dan 128]). Larangan ini berlaku juga untuk hal yang lain seperti mencari berkah kepada batu, kubur, atau yang lainnya. Termasuk yang terlarang adalah mencari berkah dengan keringat orang soleh, bersentuhan dengan tubuh mereka, atau menyentuh pakaian mereka dan yang semacamnya (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 103). Dari sini kita mengetahui bahwa kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian orang di sisi kubur para wali atau orang soleh berupa mencari berkah dengan menyentuhkan pakaian atau bagian tubuh padanya merupakan perbuatan syirik kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa jahiliyah itu tidak khusus berlaku bagi orang-orang yang hidup di masa sebelum Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Akan tetapi siapa pun yang tidak mengetahui kebenaran dan melakukan perbuatan-perbuatan orang jahil maka dia tergolong <em>ahlul jahiliyah</em> (lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/130]). Hadits ini juga menunjukkan terlarangnya meniru-niru kebiasaan jahiliyah (lihat <em>al-Jadid</em>, hal. 102). Hadits ini juga menunjukkan bahwa orang yang berpindah dari suatu kebatilan yang sudah terbiasa melekat dalam hatinya maka terkadang masih ada saja sisa-sisa kebatilan itu pada dirinya. Terkadang butuh waktu yang tidak sebentar untuk menghilangkan sisa keburukan itu (lihat <em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/132])</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan disunnahkannya mengucapkan takbir [<em>Allahu akbar</em>] ketika mengingkari atau heran terhadap sesuatu, demikian juga halnya ucapan tasbih [<em>Subhanallah</em>]. Hadits ini juga menunjukkan bahwa yang menjadi pegangan -dalam menyikapi- adalah hakikat sesuatu bukan nama atau istilahnya. Kalau itu kebatilan maka tetap batil meskipun nama dan istilahnya berganti (lihat <em>Syarh Kitab Tauhid</em> Syaikh Bin Baz, hal. 66-67)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kisah-dzatu-anwath.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

