<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Tahdzir</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/tahdzir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Goresan Pesan Untuk Pembela Kebenaran</title>
		<link>http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 19:24:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tahdzir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2218</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba&#8217;du. Istilah dakwah salafiyah sudah tidak asing lagi di telinga kita. Suka atau tidak suka semua kelompok -kecuali Syi&#8217;ah dan bala tentaranya- pada akhirnya tentu akan sepakat jika &#8230; <a href="http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgoresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fgoresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p><span id="more-2218"></span></p>
<p>Istilah dakwah salafiyah sudah tidak asing lagi di telinga kita. Suka atau tidak suka semua kelompok -kecuali Syi&#8217;ah dan bala tentaranya- pada akhirnya tentu akan sepakat jika kita ajak untuk mengikuti para sahabat secara umum, walaupun dalam prakteknya mereka banyak menyelisihi generasi terbaik tersebut. Mereka -secara umum- bahkan mengklaim apa yang mereka yakini sebagai pemahaman para Sahabat, walaupun klaim mereka tidak dilandasi dengan bukti yang memadai. Yang memprihatinkan adalah, tatkala terbukti secara ilmiah bahwa apa yang mereka yakini atau amalkan ternyata bertentangan dengan pemahaman Sahabat mulailah muncul sikap permusuhan dan aksi penolakan. Terkadang penolakan itu sekedar dipendam di dalam hati, terkadang diucapkan dengan lisan, dan tidak jarang berakhir dengan peperangan, <em>Allahul musta&#8217;an</em>&#8230;</p>
<p>Saudaraku, sesungguhnya penisbatan kepada salafus shalih adalah penisbatan yang mulia dan terpuji, bukan perkara yang tercela sama sekali. Hal itu berulang kali kita dengar dari nukilan para ulama, di antaranya Syaikhul Islam Abul Abbas al-Harrani <em>rahimahullah</em>. Namun, yang menjadi persoalan sekarang ini adalah tatkala penisbatan ini dirancukan dengan sikap golongan atau kelompok tertentu yang mempersempit makna salafiyah. Kita memang tidak ingin memasukkan perusak dakwah ke dalam jajaran Salafi. Demikian pula sebaliknya. Kita juga tidak ingin menjatuhkan orang-orang yang masih bisa diperhitungkan perannya dalam dakwah yang agung ini dari kedudukan yang semestinya.</p>
<p>Oleh sebab itu wahai saudaraku, sudah semestinya kita bisa bersikap bijak dan adil dalam menilai dan bersikap, baik kepada diri kita sendiri ataupun kepada orang lain; yang mungkin kita anggap berseberangan dengan kita dalam banyak hal. Perhatikanlah bagaimana para Sahabat -teladan kita semua- dalam menilai diri mereka sendiri dan dalam memposisikan orang lain sebagaimana mestinya. Kita masih ingat, penuturan Ibnu Abi Mulaikah yang sangat masyhur dan dikutip oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, <em>“Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan ternyata mereka semuanya khawatir dirinya terjangkit kemunafikan.”</em> Ini adalah salah satu bukti kerendahan hati para Sahabat bersama dengan segala kebesaran yang mereka miliki. Amat jauh dengan keadaan sebagian kita pada hari ini, yang terkadang -secara tak terasa- telah menobatkan diri sendiri sebagai juru bicara kafilah dakwah yang mulia ini; sehingga siapapun yang berseberangan dengannya dianggap sebagai musuh dakwah salafiyah, <em>laa haula wa laa quwwata illa billah!</em></p>
<p>Dari situlah, alangkah tepat apa yang diungkapkan oleh Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> tatkala menggambarkan sosok manusia yang bijak. Beliau menjelaskan, <em>“Orang yang paling bijak itu adalah yang menjadikan keluhannya kepada Allah -atas musibah</em><em>/cobaan yang menimpanya- dikarenakan kesalahan dirinya sendiri, bukan malah dengan mengambinghitamkan orang lain.” </em>Di satu sisi, seorang Salafi memang dituntut untuk merasa mulia dan bergembira dengan kelurusan manhaj yang telah mereka pilih dan jalani. Akan tetapi, jangan dilupakan pula bahwa salah satu bagian dari kelurusan manhaj ini adalah tidak meremehkan orang lain atau menolak kebenaran yang disampaikan oleh orang atau kelompok lain. Tentu saja kita ingat, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah menjelaskan bahwa hal itu merupakan bentuk kesombongan.</p>
<p>Memang, kita harus angkat bicara untuk mengoreksi berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh sekte-sekte sesat. Itu merupakan bagian dari nasehat. Bahkan, tidak akan tegak agama ini tanpanya. Namun, sekali lagi kita harus bisa membedakan antara pengusung manhaj dengan manhaj itu sendiri. Kita semua tahu bahwa para Sahabat itu secara individu tidaklah ma&#8217;shum, kita tentu saja jauh berada di bawah mereka. Apabila -misalnya- ada salah seorang Sahabat -yang karena ketidaksengajaan darinya atau ketidaktahuan- sedikit melenceng dari Sunnah, kemudian kita tidak mengeluarkannya dari jajaran para Sahabat. Maka demikian pula semestinya, apabila kita melihat ada sebagian saudara kita yang dengan sebab yang sama terjerumus dalam bentuk penyimpangan terhadap sebagian cabang Sunnah tanpa dia sadari. Tentu tidaklah bijak apabila dengan serta merta dan tanpa <em>tabayyun</em> lantas kita pun mencoret namanya dari jajaran pengikut generasi utama; apalagi sampai membid&#8217;ahkan atau mengkafirkannya tanpa alasan yang kuat.</p>
<p>Banyak hal yang harus kita ukur dan kaji jika kita hendak menjatuhkan vonis berat semacam itu, apalagi pada hakekatnya itu bukanlah wilayah kewenangan kita para pemula yang mencium aroma pengajian belum berapa lama. Di antara poin paling pokok yang harus kita garis bawahi adalah pondasi keikhlasan. Tidak ada yang mengingkari bahwa poin ini merupakan intisari dari agama Islam yang hanif ini. Inilah standar utama dalam menilai dan menyikapi. Memang, ikhlas adalah amalan hati. Namun, itu bukan berarti keikhlasan itu tidak bisa dideteksi. Seorang yang jujur dengan keikhlasannya tentu akan sangat tidak menyukai ketenaran. Selain itu, seorang yang ikhlas tidak beramal atau berdakwah untuk mengejar target-target duniawi. Inilah sebabnya mengapa para Sahabat senantiasa berusaha mengoreksi dirinya sendiri sebelum jauh berbicara mengenai penyimpangan yang dilakukan oleh orang lain. Kita tentu masih ingat ucapan emas Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, <em>“Seorang mukmin sejati itu selalu memandang dosa-dosanya seakan-akan dia duduk di bawah gunung dan khawatir kalau-kalau gunung itu akan runtuh menjatuhi dirinya. Adapun seorang fajir akan memandang dosa-dosanya hanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya kemudian dia pun menghalaunya dengan begini -upaya yang ringan sekali- (meremehkannya, pen).”</em></p>
<p>Benar, pembicaraan mengenai sesuai atau tidak dengan Sunnah adalah pembicaraan mengenai cara, bukan niatnya. Akan tetapi ingatlah, bahwa yang kita nilai dengan timbangan syari&#8217;at adalah manusia seperti kita; yang sarat dengan kekurangan dan ketidaktahuan. Kita harus memandang mereka tidak hanya dengan kaca mata syari&#8217;at, namun juga dengan kaca mata takdir; kaca mata kasih sayang dan belas kasihan. Mungkin hujjah belum sampai kepada mereka, mungkin mereka salah paham, mungkin ada perilaku kita yang justru menjauhkan mereka dari dakwah ini, mungkin&#8230; mungkin&#8230; Ada banyak sekali kemungkinan yang mengharuskan kita bersikap hati-hati dan tidak sembarangan menjatuhkan vonis sesat kepada sebagian saudara kita yang berbeda pandangan dengan kita. Inilah mungkin yang selama ini jarang kita praktekkan. Kita justru sering mengambil sikap dan tindakan seolah-olah kita adalah manhaj salaf itu sendiri. Sehingga kita tidak pernah mengenal istilah kompromi dan toleransi. Hantam sana-sini tak peduli, <em>toh</em> ini kan bagian dari nasehat, begitu tipu daya setan yang kerap menghampiri telinga kita -yang penuh dengan &#8216;kotoran&#8217;- ini.</p>
<p>Tidakkah kita ingat wahai saudaraku, bagaimana kelembutan dan kebijakan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam berdakwah kepada orang-orang munafik. Padahal, kita juga mengetahui bersama bahwa Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun diperintahkan oleh Allah untuk berjihad melawan mereka dan bersikap keras kepada mereka. Apakah ini artinya beliau tidak taat atau mengkhianati tugasnya; atau akan kita katakan bahwa beliau bersikap plin-plan, sama sekali tidak! Hal ini justru memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita bahwa terkadang orang yang paling keras permusuhannya kepada kita itulah yang berhak untuk kita perlakukan dengan lemah lembut, bukan dengan sikap keras. Inilah kandungan pesan yang pernah dinasehatkan oleh Syaikh al-Albani <em>rahimahullah</em> kepada segenap penyeru dakwah salafiyah yang mulia ini&#8230;</p>
<p>Sederhananya; seorang Salafi memang dituntut untuk membela manhaj yang haq ini selama-lamanya. Namun, di sisi lain dia juga harus mengingat bahwa dirinya -atau gurunya sekalipun- adalah manusia biasa yang berusaha meniti manhaj ini dengan segala keterbatasan yang ada pada dirinya. Dengan kesadaran semacam inilah akan lenyap segala bentuk fanatisme buta&#8230; <em>Allahul muwaffiq</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kajian Liburan Tematik 2 in 1</title>
		<link>http://abumushlih.com/kajian-liburan-tematik-2-in-1.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kajian-liburan-tematik-2-in-1.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 09:57:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Hajr]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tahdzir]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1405</guid>
		<description><![CDATA[2 kajian dalam 1 bulan Januari Kajian 1 “Landasan Membangun Jalan Selamat” Kitab rujukan : Sittu Duror Karya  Syaikh Abdul Malik Ramadhani Hari : Sabtu-Senin, 16-18 Januari 2010 Waktu : 08.30-13.30 WIB Tempat : Masjid Al-Ashri, Pogung Rejo Pemateri : &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kajian-liburan-tematik-2-in-1.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-liburan-tematik-2-in-1.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkajian-liburan-tematik-2-in-1.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong></strong>2 kajian dalam 1 bulan Januari</p>
<p><strong>Kajian 1</strong></p>
<p><strong>“Landasan Membangun Jalan Selamat”</strong></p>
<p><strong>Kitab rujukan</strong> : Sittu Duror</p>
<p>Karya  Syaikh Abdul Malik Ramadhani</p>
<p><strong>Hari </strong>: Sabtu-Senin, 16-18 Januari 2010</p>
<p><strong>Waktu </strong>: 08.30-13.30 WIB</p>
<p><strong>Tempat </strong>: Masjid Al-Ashri, Pogung Rejo</p>
<p><strong>Pemateri </strong>: Ustadz Afifi Abdul Wadud</p>
<p><span id="more-391"> </span></p>
<p>Kajian 2</p>
<p><strong>“10 Nasihat untuk Pemuda Ahlus Sunnah”</strong></p>
<p>Kitab Rujukan : Nashihatun li Syabaab</p>
<p>Karya : Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily</p>
<p>Hari : Rabu-Ahad, 20-24 Januari 2010</p>
<p>Tempat/Waktu :</p>
<p>Masjid Al-Ashri, 20-21 Januari 2010 / 16.00-17.30 WIB</p>
<p>Masjid Pogung Raya (MPR), 22 Januari 2010 / 16.00-17.30 WIB</p>
<p>Masjid Pogung Raya (MPR), 23-24 Januari 2010 / 08.30-11.30 WIB</p>
<p>Pemateri : Ust. Aris Munandar, S.S.</p>
<p>Nb. Wajib bagi santri Ma’had Al-Ilmi</p>
<p><strong>Informasi :</strong></p>
<p>Kajian 1 : 085228558344</p>
<p>Kajian 2 :</p>
<p>Putra : 0816639211</p>
<p>Putri : 085292995015</p>
<p><strong>Penyelenggara :</strong></p>
<p>Kajian 1 : Forum Kajian Islam Mahasiswa (fkim.org)</p>
<p>Kajian 2 : Mahad Al-Ilmi Yogyakarta (mahadilmi.wordpress.com)</p>
<p>Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kajian-liburan-tematik-2-in-1.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bertakwalah, Wahai Para Da&#8217;i!</title>
		<link>http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 23:01:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Ghibah]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh wa Ta'dil]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Tahdzir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1175</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka yang mengajak ke jalan Allah dengan ucapan dan perbuatan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbertakwalah-wahai-para-dai.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fbertakwalah-wahai-para-dai.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka yang mengajak ke jalan Allah dengan ucapan dan perbuatan mereka. <em>Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p>Sesungguhnya tugas dakwah merupakan tugas mulia yang diembankan di pundak para da&#8217;i. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan siapakah orang yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal soleh, dan dia mengatakan, &#8216;sesungguhnya saya ini tergolong di antara kaum muslimin&#8217;.”</em> (QS. Fushshilat: 33).</p>
<p><span id="more-1175"></span>Dakwah merupakan sebab keberuntungan dan keselamatan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal soleh, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.”</em> (QS. al-&#8217;Ashr: 1-3). Berdasarkan ayat ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> menyatakan bahwasanya dakwah merupakan perkara yang wajib untuk dipelajari dan diamalkan oleh setiap muslim.</p>
<p>Terlebih lagi, dakwah merupakan jalan hidup manusia terbaik dan orang-orang yang setia mengikutinya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah -hai Muhammad-; Inilah jalanku, aku mengajak -manusia- menuju Allah di atas landasan bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku, Maha suci Allah dan sama sekali aku bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. Yusuf: 108).</p>
<p>Maka dari itulah, pekerjaan dan tugas yang sangat mulia ini harus ditunaikan dengan cara yang benar dan niat yang ikhlas karena Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Bagaimana pun juga dakwah merupakan ibadah, dan ibadah tidak akan diterima kecuali apabila memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mengikuti tuntunan nabi-Nya. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”</em> (QS. al-Kahfi: 110).</p>
<p>Niat yang ikhlas tanpa diiringi dengan cara yang benar tidak akan bermanfaat. Bukankah Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman mengenai nasib malang orang-orang yang menyimpang dari jalan-Nya semacam kaum Khawarij dan saudara-saudaranya dari kalangan ahli bid&#8217;ah perusak ajaran agama (yang artinya), <em>“Katakanlah: maukah kuberitakan kepada kalian mengenai orang-orang yang paling merugi amalnya, yaitu orang-orang yang sia-sia upaya mereka dalam kehidupan dunia sementara mereka mengira bahwa mereka telah melakukan suatu kebaikan dengan sebaik-baiknya.”</em> (QS. al-Kahfi: 103-104). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menyebutkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> bahwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah kaum Haruriyah/Khawarij. Meskipun demikian, ayat ini berlaku umum bagi setiap orang yang beribadah kepada Allah akan tetapi tidak berada di atas jalan yang diridhai oleh Allah, sebagaimana disimpulkan oleh Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> (silahkan baca tafsir Ibnu Katsir)</p>
<p>Keikhlasan tanpa dibarengi dengan metode yang benar tidak akan diterima. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami maka amal itu pasti tertolak.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafazh Muslim). Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan -dalam agama-&#8230;”</em> (HR. Bukhari). al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> mengatakan dalam <em>Fath al-Bari</em> (13/288), <em>“Yang dimaksud perkara baru ini adalah perkara yang diada-adakan dan tidak memiliki sumber/dalil dari syari&#8217;at. Dalam istilah syari&#8217;at hal itu dinamakan sebagai bid&#8217;ah. Adapun suatu perkara -baru- yang memiliki landasan hukum dari syari&#8217;at maka tidak bisa disebut sebagai bid&#8217;ah. Sehingga dalam istilah syari&#8217;at -semua jenis- bid&#8217;ah adalah tercela&#8230;”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sesungguhnya tugas yang mulia ini akan mendatangkan pahala yang melimpah ruah jika dilakukan sebagaimana mestinya. Dan sebaliknya, dakwah akan bisa menimbulkan malapetaka jika tidak dilakukan dengan sebagaimana mestinya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala yang diperoleh orang yang mengikutinya tanpa sedikitpun mengurangi pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia akan mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikuti kesesatannya tanpa sedikitpun mengurangi dosa-dosa mereka.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Untuk itulah -<em>ikhwah</em> sekalian, semoga Allah membimbing kita semua- mengetahui jalan yang lurus yaitu Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah kunci keselamatan dan keberhasilan dakwah. Sebaliknya, kebodohan terhadap Sunnah Nabi merupakan sebab utama kehancuran dakwah kita -selain ketidakikhlasan dalam beramal-, <em>Allahul musta&#8217;aan</em>. Imam Malik<em> rahimahullah</em> berkata, <em>“as-Sunnah adalah bahtera Nabi Nuh. Barangsiapa yang menaikinya niscaya dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya maka dia pasti tenggelam.”</em> (lihat kitab <em>al-Hujaj al-Qawiyyah &#8216;ala Anna Wasa&#8217;il ad-da&#8217;wah tauqifiyah</em> karya Syaikh Abdussalam Burjis <em>rahimahullah</em>).</p>
<p>Yahya bin Mu&#8217;adz ar-Razi <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Perselisihan manusia itu semuanya kembali kepada tiga sumber utama. Masing-masing memiliki lawan. Barangsiapa yang jatuh dari satu urusan niscaya dia akan terperosok kepada lawannya. Tauhid, lawannya syirik. Sunnah, lawannya adalah bid&#8217;ah. Dan taat, yang lawannya adalah maksiat.”</em> (<em>al-I&#8217;tisham </em>[1/91] dinukil dari <em>Ilmu Ushul Bida&#8217;</em> karya Syaikh Ali al-Halabi <em>hafizhahullah</em>, hal. 39).</p>
<p>Sa&#8217;id bin Jubair <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan as-Sunnah.”</em> (Disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam <em>al-Amru bil Ma&#8217;ruf wan Nahyu &#8216;anil munkar</em>, hal. 77 cet Dar al-Mujtama&#8217;). Ibrahim an-Nakha&#8217;i<em> rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Seandainya para sahabat Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mencukupkan diri dengan mengusap kuku niscaya akupun tidak akan membasuhnya untuk mencari keutamaan dalam mengikuti mereka.”</em> (Diriwayatkan oleh ad-Darimi dan Ibnu Batthah, dinukil dari <em>Ilmu Ushul Bida&#8217;</em>, hal. 57)</p>
<p>Apabila demikian kenyataannya, maka memperingatkan umat dari bahaya bid&#8217;ah dan tokoh-tokoh yang menyebarkannya merupakan kewajiban yang berada di pundak para ulama dan da&#8217;i di sepanjang masa. Tidakkah kita ingat, dulu di masa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika beliau memperingatkan umat ini dari bahaya laten Khawarij yang akan muncul dan membara semenjak kepergiannya? Tidakkah kita ingat, dulu di masa sahabat ketika Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> dengan lantang menyatakan permusuhan dan sikap berlepas diri beliau dari kesesatan Ma&#8217;bad al-Juhani dan teman-temannya para penganut aliran Qadariyah di Bashrah? Tidakkah kita ingat, dulu di masa Imam asy-Sayfi&#8217;i <em>rahimahullah</em> tatkala beliau dengan tegas dan keras menyatakan sikapnya mengenai hukuman yang akan beliau jatuhkan kepada orang-orang yang menggeluti ilmu kalam/filsafat dan mencampakkan Kitabullah dan Sunnah nabi-Nya -yaitu dengan dipukuli dengan sandal dan diarak mengelilingi perkampungan dan di pasar-pasar-? Dan atsar/riwayat serupa yang lainnya masih banyak&#8230;</p>
<p>Maka <em>subhanallah</em> sedemikian banyak riwayat yang sudah sangat-sangat populer itu seolah-olah lenyap dari ingatan sebagian manusia, sehingga dengan entengnya mereka menuduh para ulama dan da&#8217;i yang memperingatkan manusia dari kesesatan dan ketergelinciran sebagian tokoh-tokoh mereka -akibat kebid&#8217;ahan atau penyimpangannya- adalah orang-orang yang maunya menang sendiri, merasa dirinya paling benar, bersikap angkuh, dan meremehkan jasa para pejuang agama?! Wahai orang yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, di manakah penghormatan kalian kepada Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan Sunnah para sahabatnya? Kalau anda diam, mereka diam, dan semua orang diam terhadap kemungkaran, lalu siapakah yang akan memperingatkan manusia dari kesesatan dan penyimpangan? Renungkanlah -dengan akal sehat dan pikiran yang jernih- betapa besar bahaya dan kerusakan yang timbul apabila para ulama dan da&#8217;i tidak memperingatkan kaum muslimin dari penyimpangan yang diserukan dan disebarluaskan di antara mereka? Sangggupkah anda menanggung dosa-dosa orang yang mengikuti kesesatan itu dan mengajarkannya kepada anak didik dan masyarakatnya? Jawablah, wahai saudaraku&#8230; Tegakah <em>antum</em> (anda) menyaksikan tokoh pujaan<em> antum</em> memikul dosa yang begitu banyak akibat telah mengajarkan kesesatan kepada umat manusia, dan umat manusia pun menularkan ajaran sesatnya kepada anak cucu mereka? Jawablah, wahai saudaraku&#8230; Apakah sikap semacam itu merupakan suatu keangkuhan ataukah justru sebuah bukti nyata rasa kasih sayang seorang mukmin kepada sesama saudaranya? Jawablah, wahai saudaraku dari lubuk hatimu yang paling dalam!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk umat manusia, kalian memerintahkan yang ma&#8217;ruf dan melarang dari yang mungkar, dan kalian beriman kepada Allah.”</em> (QS. Ali Imran: 110). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Lelaki yang beriman dan perempuan yang beriman, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan yang ma&#8217;ruf dan melarang dari yang mungkar.”</em> (QS. at-Taubah: 71). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Isra&#8217;il melalui lisan Dawud dan Isa bin Maryam. Hal itu disebabkan kemaksiatan mereka dan kebiasaan mereka melampaui batas. Mereka pun biasa tidak saling melarang kemungkaran yang dilakukan di antara mereka. Sungguh jelek perbuatan yang mereka lakukan itu.”</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 78-79).</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Berbicara dalam bentuk kritik/celaan kepada orang-orang/tokoh (periwayat hadits atau yang semacamnya, pent) dalam rangka menunaikan nasehat untuk Allah, untuk Rasul-Nya, untuk kitab-Nya, dan untuk kaum mukminin itu tidak dikategorikan dalam perbuatan ghibah/menggunjing, bahkan dia akan mendapatkan pahala dengan tindakan yang dilakukannya itu selama dia benar-benar tulus berniat untuk itu (memberikan nasehat bukan semata-mata mencela, pent).”</em> (<em>al-Ba&#8217;its al-Hatsits Syarh Ikhtishar Ulum al-Hadits</em> karya Ahmad Syakir, hal. 228)</p>
<p>Maka bertakwalah, wahai para da&#8217;i dengan lisan-lisan kita dan anggota badan kita&#8230; Sesungguhnya kita akan ditanya di hadapan Allah dan harus mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan selama hidup di dunia. Apakah nasehat yang kita berikan benar-benar ikhlas karena-Nya? Apakah kita termasuk orang yang berlapang dada ketika diberi nasehat? Apakah kita termasuk orang yang menganggap bahwa nasehat saudara kita merupakan bukti cinta dan kasih sayangnya kepada kita? Apakah selama ini kita mau menelaah ucapan dan perbuatan kita; sudahkah itu semua sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, ataukah sebenarnya menyelisihi Sunnah namun kita berkeras mempertahankannya?</p>
<p>Ingatlah ucapan emas seorang tabi&#8217;in yang mulia salah satu murid senior Abdullah bin Abbas yaitu Sa&#8217;id bin Jubair <em>rahimahullah</em>. Beliau mengatakan, <em>“Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan as-Sunnah.”</em> (Disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam <em>al-Amru bil Ma&#8217;ruf wan Nahyu &#8216;anil munkar</em>, hal. 77).</p>
<p>Marilah kita memohon kepada Allah hidayah untuk berjalan di atas jalan-Nya yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberikan anugerah ilmu dan amal salih dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada&#8217; dan orang-orang soleh. Dan semoga Allah menjauhkan kita dari jalan orang-orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran namun tidak mau tunduk kepadanya. Sebagaimana pula kita berlindung kepada Allah agar tidak tergolong orang-orang yang sesat, yaitu orang yang bersemangat dalam beribadah dan berdakwah namun tanpa bimbingan ilmu yang benar. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa. Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah.</p>
<p>Yogyakarta, awal bulan Dzulqo&#8217;dah 1430 H<br />
Yang mengharapkan luasnya ampunan Rabbnya</p>
<p>Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<p>http://abumushlih.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/bertakwalah-wahai-para-dai.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenalilah siapa teman anda</title>
		<link>http://abumushlih.com/kenalilah-siapa-teman-anda.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kenalilah-siapa-teman-anda.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 10:36:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tahdzir]]></category>
		<category><![CDATA[Teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=863</guid>
		<description><![CDATA[oleh Syaikh Abdul Aziz ar-Rais الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، أما بعد فإن منهج السلف الصالح وهم الصحابة والتابعون لهم بإحسان لا يكون إلا حقاً ، ويجب على كل أحد قبوله والسير إلى الله على &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kenalilah-siapa-teman-anda.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkenalilah-siapa-teman-anda.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkenalilah-siapa-teman-anda.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>oleh Syaikh Abdul Aziz ar-Rais</p>
<p style="text-align:right;">الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، أما بعد</p>
<p style="text-align:right;">فإن منهج السلف الصالح وهم الصحابة والتابعون لهم بإحسان لا يكون إلا حقاً ، ويجب على كل أحد قبوله والسير إلى الله على طريقتهم ، قال الإمام ابن تيمية- رحمه الله- كما في مجموع الفتاوى ( 4/49): لا عيب على من أظهر مذهب السلف وانتسب إليه واعتزى إليه ، بل يجب قبول ذلك منه بالاتفاق، فإن مذهب السلف لا يكون إلا حقاً ا.هـ.</p>
<p style="text-align:right;">والأدلة على هذا من الكتاب والسنة الصحيحة كثيرة، إليك دليلاً واحداً طلباً للاختصار المناسب لهذا المقام وهو قوله تعالى (وَمَنْ يُشَاقًقً الرَّسُولَ مًنْ بَعْدً مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبًعْ غَيْرَ سَبًيلً الْمُؤْمًنًينَ نُوَلًّهً مَا تَوَلَّى وَنُصْلًهً جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصًيراً</p>
<p style="text-align:right;"><span id="more-863"></span></p>
<p style="text-align:right;">وجه الدلالة: رتب الله سبحانه الوعيد على مشاقة الرسول صلى الله عليه وسلم، واتباع غير سبيل المؤمنين، فلو لم تكن مخالفة سبيل المؤمنين سبباً من أسباب الوعيد، لكان ذكره لغواً تعالى الله وتقدس» وأول المؤمنين دخولاً في هذه الآية هم الصحابة الكرام، فالمأثور عنهم هو الحق الذي يجب اتباعه، فلا يصح لأحد من التابعين مخالفته ومن وافقهم من التابعين فهو سائر على سبيل المؤمنين الممتدح وهكذا .</p>
<p style="text-align:right;">أما إذا لم ينقل عن الصحابة الكرام شيء، ونقل عن التابعين الأخيار، فإن السبيل سبيلهم» لأن الله بحكمته وعدله لم يكن ليخفي الحق، ويظهر الباطل وقد قال نبيه صلى الله عليه وسلم: «لا تزال طائفة من أمتي على الحق ظاهرين» أخرجه مسلم عن ثوبان ونحوه في الصحيحين عن معاوية والمغيرة بن شعبة، وقال: «من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد» متفق عليه من حديث عائشة واللفظ للبخاري، فمن خالف وأحدث فهماً أو اتبع فهماً محدثاً خلاف ما عليه الأوائل من السلف الصالح في الفهم، فما فهم أو اتبع مردود . وإذا تدبرت علمت أن كل دليل على حجية الإجماع، دليل على حجية فهم السلف» فإنهم إذا فهموا فهماً من غير مخالف منهم، فهو إجماع منهم على هذا الفهم .</p>
<p style="text-align:right;">إذا تبين هذا وتقرر فقد جعل سلفنا الكرام أمارة عظيمة ينكشف بها أهل الباطل، وإن تستروا وتقنعوا بأقنعة أهل السنة خديعة لأهل الحق أهل السنة، من هذه الأمارات معرفة أهل الباطل وأهل البدعة بأخدانهم وألفتهم وجلسائهم وبطانتهم، قال أبو داود: قلت لأحمد بن حنبل: أرى رجلاً من أهل السنة مع رجل من أهل البدع، أترك كلامه ؟ قال :لا، أو تُعْلًمه أن الذي رأيته معه صاحب بدعة، فإن ترك كلامه وإلا فألحقه به ، قال ابن مسعود: المرء بخدنه ا.هـ «كما في طبقات الحنابلة (1/ 160) ومناقب أحمد لابن الجوزي ص250»<br />
وقال الأوزاعي: من ستر عنا بدعته لم تخف علينا ألفته.</p>
<p style="text-align:right;">وقال ابن المبارك: من خفيت علينا بدعته لم تخف علينا ألفته.ذكره في (الإبانة الصغرى ص156).<br />
وقال معاذ بن معاذ: قلت ليحيى بن سعيد: يا أبا سعيد الرجل وإن كتم رأيه لم يخف ذاك في ابنه ولا صديقه ولا في جليسه.<br />
وقال الغلابي: كان يقال: يتكاتم أهل الأهواء كل شيء إلا التآلف والصحبة.<br />
وقال ابن عون: من يجالس أهل البدع أشد علينا من أهل البدع.<br />
ولما قدم سفيان الثوري البصرة ، جعل ينظر إلى أمر الربيع &#8211; يعني ابن صبيح &#8211; وقدره عن الناس ، سأل أي شيء مذهبه ؟ قالوا: ما مذهبه إلا السنة . قال: من بطانته ؟ قالوا: أهل القدر. قال: هو قدري ا.هـ.</p>
<p style="text-align:right;">ذكر هذه الآثار ابن بطة في الإبانة الكبرى (2/453)، ثم قال تعليقاً على كلام الإمام سفيان الثوري: لقد نطق بالحكمة فصدق وقال بعلم، فوافق الكتاب والسنة، وما توجبه الحكمة ويدركه العيان ويعرفه أهل البصيرة والبيان، قال الله عز وجل: (يَا أَيُّهَا الَّذًينَ آمَنُوا لا تَتَّخًذُوا بًطَانَةً مًنْ دُونًكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّوا مَا عَنًتُّمْ).</p>
<p style="text-align:right;">فيا لله كم لهذه الأمارة من فائدة في كشف أهل البدع المتزينين عند أهل السنة بالسنة فحظوا بتزكياتهم تارة، وأفسدوا الصف من الداخل تارة أخرى سعياً في الوشاية ونفخاً في الخلاف بين أهل السنة .</p>
<p style="text-align:right;">فيا أهل السنة السلفيين شيباً وشباباً رجالاً ونساءً لا تغيبنّ هذه الأمارة عنكم واجعلوها كشافاً لتمييز الخبيث من الطيب، إلا أنني أنبه إلى أن هناك فرقاً بين من يجالس أهل البدع لعمل وظيفي أو لمصلحة دينية أو دنيوية كتجارة من غير جعلهم بطانة وخدناً وأن يكونوا مخرجه ومدخله .</p>
<p style="text-align:right;">ثم في الختام ألفت نظر القارئ الكريم أنه إذا كان من جعل أهل البدع بطانة للسني تخرجه من السنة إلى البدعة فكيف بمن لا يعادي أهل البدع بل ويثني عليهم على رؤوس الأشهاد !!</p>
<p style="text-align:right;">أسأل الله أن يكثر أهل السنة ويبارك فيهم، ويرفع رايتهم ، ويجمع شملهم على الهدى ، ويقمع راية أهل الكفر والبدع .</p>
<p style="text-align:right;">تاريخ النشر: الاثنين 23/10/2006<br />
جريدة الوطن الكويتية</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kenalilah-siapa-teman-anda.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan berbaring seperti itu!</title>
		<link>http://abumushlih.com/jangan-berbaring-seperti-itu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jangan-berbaring-seperti-itu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 04:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Tahdzir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=861</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji manusia siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada manusia terbaik sepanjang masa Muhammad bin Abdullah al-Hasyimi, teladan bagi umat dan hamba pilihan-Nya, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jangan-berbaring-seperti-itu.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-berbaring-seperti-itu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjangan-berbaring-seperti-itu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji manusia siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada manusia terbaik sepanjang masa Muhammad bin Abdullah al-Hasyimi, teladan bagi umat dan hamba pilihan-Nya, semoga keselamatan pun tercurah kepada para pengikutnya yang setia mengamalkan sunnahnya hingga akhir masa. Amma ba’du.</p>
<p><span id="more-861"></span>Sesungguhnya Sunnah/ajaran yang diwariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum muslimin merupakan harta paling berharga dan rambu-rambu kehidupan yang paling menakjubkan dalam sepanjang perjalanan sejarah umat manusia. Bagaimana tidak? Sedangkan segala perkara mulai dari sejak bangun tidur hingga tidur kembali telah diajarkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Kemudian para sahabat pun mentransfer ilmu-ilmu yang diajarkan oleh Nabi kepada generasi sesudahnya demikian seterusnya dilanjutkan oleh para tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta para imam ahlul hadits di setiap generasi. Hingga akhirnya ajaran Islam itu bisa sampai kepada kita melalui literatur-literatur ulama hadits yang berkhidmat kepada agama, semoga Allah membalas jasa-jasa mereka.</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha Islam menjadi agama bagi kalian.” (QS. al-Maa’idah : 3). Inilah sebuah ayat yang senantiasa terngiang-ngiang di telinga kaum muslimin ketika mengingat keagungan dan kesempurnaan ajaran Islam ini. Sampai-sampai dikisahkan di dalam Shahih Bukhari [hadits no 7268] di dalam Kitab al-I’tisham bi al-Kitab wa as-Snunnah dari penuturan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu bahwa orang Yahudi pun turut mempersaksikan peristiwa agung dan bersejarah ini -yaitu turunnya ayat tersebut al-Maa’idah : 3- sebagai sebuah anugerah yang tiada tara bagi umat Islam, sampai-sampai dia mengatakan kepada Umar, “Seandainya ayat ini turun kepada Yahudi niscaya mereka menjadikan hari turunnya ayat itu sebagai hari raya.” (lihat Shahih al-Bukhari cet. Maktabah al-Iman hal. 1450). Subhanallah! Sungguh besar anugerah Allah kepada kaum muslimin.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah panutan kita. Beliau berbicara, memerintah, melarang, memuji dan mencela berdasarkan wahyu dari Rabb-nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara dari hawa nafsunya akan tetapi dia hanya menyampaikan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. an-Najm : 3-4). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Apa saja yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” (QS. al-Hasyr : 7). Setiap keputusan dan penilaian syari’at yang dinyatakan oleh beliau merupakan garis tegas yang akan memisahkan antara keinginan Allah subhanahu wata’ala dan hawa nafsu manusia. Sementara ketetapan Allah pasti bijaksana, adapun keinginan manusia senantiasa dilandasi oleh sifat bodoh dan aniaya. Oleh sebab itu tidak selayaknya bagi laki-laki yang beriman maupun kaum perempuannya untuk mencari alternatif solusi lain selain kembali tunduk dan pasrah kepada syari’at dan adab-adab Islam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak pantas bagi orang yang beriman baik lelaki ataupun perempuan apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan lain dalam mengatasi urusan mereka, barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. al-Ahzab : 36).</p>
<p>Saudaraku sekalian -para pemuda yang semoga dirahmati Allah- sesungguhnya kita hidup di masa kemungkaran begitu merajalela di masyarakat. Media-media informasi dan tayangan-tayangan televisi telah berubah menjadi racun yang mengotori hati dan penyakit yang menggerogoti akhlak anak negeri. Sedangkan syari’at Islam yang suci ini tentu saja tidak membuka celah bagi para perusak agama untuk menghancurkan aset umat yang sangat berharga ini -yaitu generasi muda-. Oleh sebab itu, di antara tipu daya Iblis yang patut untuk kita waspadai adalah berbagai sarana dan kebiasaan buruk yang kini banyak bertebaran di dalam kehidupan sehari-hari kaum muslimin.</p>
<p>Di dalam sebuah syair dikatakan, “Aku mengenali keburukan bukan untuk melakukannya, akan tetapi untuk menjaga diri dari bahayanya. Sebab barangsiapa yang tidak bisa membedakan baik dan buruk, sangat dikhawatirkan ia pasti terjerumus dalam keburukan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mewanti-wanti kita untuk menghindari perkara-perkara yang samar demi terbebas dari perkara yang haram. Beliau bersabda, “Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, dan yang haram juga jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal yang samar, banyak orang yang tidak mengetahuinya, maka barangsiapa yang menjaga diri dari perkara yang samar itu tentu dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terperosok dalam perkara syubhat/samar-samar itu niscaya akan terseret ke dalam perkara yang haram.” (HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599]).</p>
<p>Anas bin Malik radhiyallahhu’anhu menceritakan -sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dalam Kitab ar-Riqaq [hadits no. 6492] -yang mengisahkan tentang betapa besar kehati-hatian generasi sahabat demi menjaga diri dari keharaman-, “Sesungguhnya kelak kalian akan melakukan perbuatan-perbuatan yang dalam pandangan kalian hal itu lebih ringan daripada rambut, namun dalam pandangan kami yang hidup di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hal itu kami anggap termasuk perkara yang menghancurkan.” (lihat Shahih al-Bukhari cet. Maktabah al-Iman, hal. 1318).</p>
<p>Oleh sebab itulah generasi sahabat dan kaum salaf pada umumnya sangat dikenal sebagai manusia-manusia yang sangat wara’ dan bertakwa kepada Allah. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, “Barangsiapa di antara kalian yang ingin mencari panutan, maka ikutilah orang yang sudah meninggal, karena orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah/penyimpangan. Mereka itulah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka itu adalah orang-orang yang paling bersih hatinya di antara umat ini, paling dalam ilmunya serta paling sedikit membeban-bebani diri [dengan sesuatu yang bukan ajaran agama]…” (lihat Mu’taqad Ahlis Sunnah fi Tauhid Asma’ wa Shifat, hal. 59).</p>
<p>Para sahabat begitu mengagungkan sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada di antara mereka yang marah besar kepada temannya gara-gara temannya tidak mau mendengar/menuruti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai-sampai dia berkata kepada sahabatnya itu, “Aku tidak akan berbicara denganmu selama-lamanya, aku telah sampaikan kepadamu hadits Nabi namun kamu enggan mengikutinya.” Begitulah maknanya. Bahkan ada pula di antara mereka yang mencaci maki anaknya dengan cacian yang sangat keras gara-gara sang anak menentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitulah para pendahulu kita yang shalih. Mereka hidup, bertindak dan bersikap dengan senantiasa menjadikan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai undang-undang kehidupan mereka. Sami’na wa atha’na, itulah semboyan hidup mereka.</p>
<p>Nah, sangatlah jauh berbeda apabila kita coba membandingkan apa yang terjadi di masa silam dengan apa yang sering muncul di masa kini. Bukan saja di kalangan masyarakat awam yang jauh dari ilmu -sebagaimana bisa disaksikan dalam iklan di televisi dan di media periklanan yang lain-, bahkan juga di kalangan orang-orang yang menampakkan batang hidungnya di dalam majelis ilmu. Sebagian di antara mereka begitu mudah melakukan hal-hal yang merusak kehormatan dan bahkan memalukan di hadapan orang banyak. Subhanallah, seolah-olah kehormatan dan harga diri pada jaman sekarang ini sudah tidak ada lagi harganya! Terdorong oleh kewajiban memberikan nasehat kepada sesama kaum muslimin, saya ingin mengingatkan kepada diri saya dan para pembaca yang mulia tentang sebuah syari’at yang mulia, sebuah sunnah yang telah diabaikan oleh banyak orang, sunnah tarkiyah [perkara yang seharusnya ditinggalkan] yang diwariskan oleh al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita.</p>
<p>Imam at-Tirmidzi membuat bab di dalam Sunannya dengan judul ‘Dibenci/makruh berbaring di atas perut (tengkurap)’. Beliau mengatakan; Abu Kuraib menuturkan kepada kami; Abdah bin Sulaiman dan Abdurrahim menuturkan kepada kami dari Muhammad bin Amr; Abu Salamah menuturkan kepada kami riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada seseorang yang berbaring di atas perutnya (tidur tengkurap), maka beliau berkata, “Sesungguhnya cara berbaring seperti ini tidak dicintai oleh Allah.” (HR. Tirmidzi : 2692, disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Takhrij Misykat al-Mashabih, 4718 [12], dan dinilainya ‘hasan shahih’ dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi, 2768. asy-Syamilah. Diriwayatkan pula oleh Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad [1187] dari jalan Thikhfah bin Qais al-Ghifari, disahihkan al-Albani dengan teks “Bangkitlah, sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang dibenci Allah”, lihat Syarh Shahih al-Adab al-Mufrad, 3/307 oleh Syaikh Husain bin Audah al-Awaisyah hafizhahullah).</p>
<p>Syaikh al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa tidak selayaknya bagi seorang tidur dengan posisi di atas perutnya [tengkurap]. Terlebih lagi jika dia berada di tempat-tempat yang dikelilingi banyak orang. Sebab apabila orang-orang melihatnya dalam posisi seperti ini maka hal itu adalah pemandangan yang dibenci. Akan tetapi apabila ada orang yang perutnya sedang sakit dan dia ingin berbaring dengan posisi seperti ini dikarenakan hal itu lebih terasa enak baginya maka hal ini tidak mengapa, sebab -saat itu- hal ini dibutuhkan.” (Syarh Riyadh ash-Shalihin, 2/659).</p>
<p>Imam Ibnu Majah menuturkan kepada kita; Ya’qub bin Humaid bin Kasib menuturkan kepada kami; Isma’il bin Abdullah menuturkan kepada kami; Muhammad bin Nu’aim bin Abdullah al-Mujammir meriwayatkan dari ayahnya, dari Ibnu Thikhfah al-Ghifari, dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, beliau mengatakan, “Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan melewatiku sedangkan ketika itu aku berbaring di atas perutku (tengkurap). Maka beliau pun membangunkanku dengan menggunakan kakinya seraya berkata, “Hai Junaidib (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya cara berbaring seperti ini [tengkurap] adalah cara berbaring penghuni neraka.” (HR. Ibnu Majah: 3724, disahihkan oleh al-Muhaddits al-Albani di dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibni Majah. asy-Syamilah).</p>
<p>Lihatlah saudaraku, mungkin bagi sebagian orang perkara ini dinilai sepele dan remeh. Atau ada yang akan mengatakan, “Perkara kecil kok dibesar-besarkan!”. Atau yang lain mengatakan, “Ini kan cuma makruh saja. Jadi ya gakpapa.” Padahal, sebagian ulama menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan haramnya tidur/berbaring dengan cara tengkurap (lihatlah Rasy al-Barad Syarh al-Adab al-Mufrad, hal. 636).</p>
<p>Pendapat ini -pengharaman tidur tengkurap- merupakan pendapat yang cukup kuat. Hal itu didukung oleh sebuah riwayat dalam al-Mu’jam al-Kabir oleh Imam ath-Thabrani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Thikhfah al-Ghifari -dia adalah salah seorang ahlush shuffah- yang pada suatu malam tidur/berbaring dengan posisi tengkurap, “Janganlah kamu tidur dengan cara seperti itu, karena itu adalah cara berbaring penduduk neraka.” (HR. Thabrani [8148] asy-Syamilah). Di dalam riwayat ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas melarang perbuatan itu. Sedangkan menurut kaidah ushul bahwa hukum asal larangan itu menunjukkan keharaman perbuatan yang dilarang kecuali apabila terdapat dalil lain yang menunjukkan bahwa hukumnya adalah makruh (lihat Jam’ al-Mahshul fi Syarh Risalah Ibni Sa’di fi al-Ushul, hal. 52 oleh Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan). Oleh sebab itu di dalam Aun al-Ma’bud [11/80, asy-Syamilah] disebutkan, “Di dalam hadits tersebut terkandung keterangan hukum yang menunjukkan bahwa tidur dengan posisi di atas perut/tengkurap adalah tidak boleh, dan posisi itu adalah posisi tidur syaitan.” Camkanlah hal ini baik-baik wahai saudaraku!</p>
<p>Apakah sesuatu yang tidak dicintai Allah, sesuatu yang dibenci oleh Allah dengan seenaknya akan kita katakan sebagai perkara yang ringan dan sepele?! Apakah dengan mental semacam ini kita akan maju berperang melawan tank dan rudal al-Yahud wa an-Nashara? Laa haula wa laa quwwata illa billaah. Padahal, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d : 11).</p>
<p>Semoga Allah menyejukkan hati kita dengan ketundukan kita dan saudara-saudara kita kepada kebenaran. Ya Allah, tambahkanlah kepada Kami keyakinan kepada-Mu dan ketakwaan lahir maupun batin, sesungguhnya Engkau Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa. Ya Allah ampunilah kesalahan dan dosa-dosa kami, sesungguhnya Engkau Maha pengampun lagi Maha penyayang. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</p>
<p>Yogyakarta, 16 Muharram 1430 H<br />
Ditulis oleh hamba yang membutuhkan Rabbnya</p>
<p>Abu Mushlih Ari Wahyudi<br />
Semoga Allah mengampuninya dan kaum muslimin semua</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jangan-berbaring-seperti-itu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NASEHAT UNTUK KITA BERSAMA</title>
		<link>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-kita-bersama.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-kita-bersama.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2009 17:26:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Fakta]]></category>
		<category><![CDATA[Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Tahdzir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=511</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita berbagai macam nikmat dan karunia. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi akhir zaman dan panutan umat manusia untuk menemukan kebenaran dan menggapai kebahagiaan. Semoga Allah ta&#8217;ala menjadikan hidup kita &#8230; <a href="http://abumushlih.com/nasehat-untuk-kita-bersama.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-kita-bersama.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-kita-bersama.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita berbagai macam nikmat dan karunia. Shalawat dan salam semoga   selalu terlimpah kepada Nabi akhir zaman dan panutan umat manusia untuk menemukan kebenaran dan menggapai kebahagiaan. Semoga   Allah ta&#8217;ala menjadikan hidup kita berbarakah dan mendatangkan manfaat bagi diri kita dan umat manusia.</p>
<p><span id="more-511"></span>Saudara-saudaraku sekalian -semoga Allah menjaga kita- merupakan sebuah sunnatullah pada makhluk-Nya perjuangan untuk   menggapai kemuliaan sarat diliputi dengan berbagai rintangan dan hambatan. Sejarah telah mencatat perjuangan para nabi dan   rasul di tengah-tengah kaumnya dengan berbagai macam cobaan dan tekanan yang harus mereka alami. Tidak hanya dari orang yang   jauh bahkan dari orang-orang yang dekat pun reaksi dan tanggapan negatif muncul untuk menghambat laju gerakan dakwah Islam.</p>
<p>Ingatlah bagaimana Nabi Ibrahim &#8216;alaihis salam yang berjuang keras menegakkan dakwahnya di tengah-tengah kaumnya yang begitu   kental dengan pembangkangan. Demikian pula Nabi Musa &#8216;alaihis salam, Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan   nabi-nabi yang lain. Mereka semua berjuang keras untuk memperbaiki aqidah umat sebelum yang lainnya. Mereka disakiti dan   dicemooh oleh musuh-musuhnya, itu hal yang biasa. Maka demikian pula keadaan para penerus dakwah mereka yang hidup di   sepanjang masa, dari sejak jaman sabahat hingga hari ini, para pembela kebenaran senantiasa di hadapkan dengan para pencela   dan penentang dakwah yang haq.</p>
<p>Saudaraku -semoga Allah menambahkan ilmu kepada kita- sesungguhnya perjuangan dakwah Islam yang diemban oleh para ulama dan   penimba ilmu di sepanjang masa merupakan anugerah besar yang seharusnya kita syukuri. Bagaimana tidak, sedangkan melalui   lisan dan tangan-tangan mereka lah umat manusia mengenal Rabb mereka, mengenal Nabi-Nya dan mengenal ajaran-ajaran agama-Nya.   Namun, perkara yang amat disayangkan ketika kita saksikan banyak di antara umat manusia justru memberikan balasan yang buruk   kepada para da&#8217;i dan pejuang kebenaran. Mereka dimusuhi, diejek, dijatuhkan kehormatannya, bahkan ada di antara mereka yang   harus dipenjarakan bahkan dilenyapkan dari muka bumi gara-gara menyelisihi hawa nafsu dan kebatilan yang mereka yakini.</p>
<p>Ingatlah bagaimana penderitaan Nabi kita shallallahu &#8216;alaihi wa sallam karena dilempari batu oleh penduduk Tha&#8217;if hingga   meneteskan darah. Ingatlah bagaimana penderitaan Amar bin Yasir radhiyallahu&#8217;anhu beserta keluarganya. Ingatlah bagaimana   derita seorang budak beriman yang berkulit hitam bernama Bilal bin Rabah -semoga Allah meridhainya dan saya pun ridha   kepadanya- di bawah tindihan batu di atas teriknya padang pasir yang menyengat. Ingatlah bagaimana siksaan yang dialami oleh   Imam Ahmad rahimahullah akibat mempertahankan aqidah al-Qur&#8217;an adalah Kalamullah. Ingatlah bagaimana cercaan dan tindak   kekerasan dari musuh yang dialami oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, seorang mujahid yang berjihad dengan lisan,   pena, dan jiwa raganya. Semua itu telah dicatat dalam sejarah umat Islam.</p>
<p>Dan hendaknya kita dapat mengambil pelajaran dari   semua kejadian tersebut bahwasanya kebenaran akan senantiasa menghadapi musuh yang tidak akan jemu memeranginya yaitu para   pengusung kebatilan dengan beragam corak dan warnanya. Selain itu, hendaknya kita pun menyadari bahwa kebutuhan kaum muslimin   kepada ulama mereka adalah kebutuhan yang sangat besar. Lebih daripada kebutuhan mereka kepada para dokter dan pakar   kesehatan! Oleh sebab itu jangan sampai kita termasuk golongan orang yang tidak mengenal jasa para ulama atau justru   menjatuhkan kehormatan mereka di mata manusia. Sebab mereka adalah pewaris nabi-nabi, komandan perjalanan hidup umat manusia.</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Allah akan mengangkat derajat beberapa tingkatan bagi orang-orang yang beriman di   antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.&#8221; (QS. al-Mujadilah : 11). Allah ta&#8217;ala juga berfirman (yang   artinya), &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang   yang berilmu.&#8221; (QS. Fathir : 29). Allah ta&#8217;ala juga berfirman (yang artinya), &#8220;Bertanyalah kepada orang yang memiliki ilmu   jika kalian tidak mengetahui.&#8221; (QS. an-Nahl : 43). Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Sesungguhnya Allah   akan mengangkat derajat sebagian kaum dengan Kitab (al-Qur&#8217;an) ini dan Allah juga akan merendahkan sebagian mereka dengan   sebab Kitab ini pula.&#8221; (HR. Muslim dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu&#8217;anhu). Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam   juga bersabda, &#8220;Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam urusan agama.&#8221; (HR. Bukhari dari   Mu&#8217;awiyah radhiyallahu&#8217;anhu).</p>
<p>Dengan mencermati dalil-dalil di atas akan jelaslah bagi kita bahwa itu semua menunjukkan kepada kita tentang agungnya   kedudukan para ulama di dalam agama kita. Ulama dalam pengertian yang sejati yaitu yang memahami dan mengamalkan ajaran Islam   yang murni dari segala macam kotoran keyakinan dan penyimpangan amalan adalah sosok panutan yang harus kita teladani. Hasan   al-Bashri rahimahullah sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat menceritakan bahwasanya para ulama salaf dahulu apabila   selesai mempelajari suatu ilmu maka tidak lama kemudian bekas ilmu itu pun tampak dalam shalatnya, kekhusyu&#8217;annya, akhlak dan   perilakunya. Disebutkan pula oleh Fudhail bin &#8216;Iyadh rahimahullah, &#8220;Seorang yang berilmu tetap dinilai jahil/bodoh selama dia   belum mengamalkan ilmunya. Kemudian apabila dia telah mengamalkan ilmu tersebut barulah dia benar-benar menjadi orang yang   alim.&#8221; Suatu ketika Abdullah anak dari Imam Ahmad betanya kepada ayahnya, &#8220;Wahai ayahku, apakah Ma&#8217;ruf al-Kurkhi adalah orang   yang berilmu?&#8221;. Maka Imam Ahmad -Imam Ahlus Sunnah- mengatakan, &#8220;Bahkan dia adalah pemilik pokok dari ilmu yaitu rasa takut   kepada Allah.&#8221; Demikianlah keadaan para ulama salaf, mereka menjadikan ilmu sebagai panglima dalam beramal dan mengarungi   bahtera kehidupan. Mereka hidup di atas ilmu dan meninggal di atas ilmu pula. Maka sangat masyhur di antara kaum muslimin   perkataan Imam Ahmad ketika ditanya, &#8220;Kapankah seseorang bisa merasakan nikmatnya beristirahat dan bersantai-santai?&#8221;. Maka   beliau menjawab, &#8220;Yaitu ketika pertama kali dia meletakkan kedua telapak kakinya di surga.&#8221;</p>
<p>Sungguh indah hidup para ulama,   mereka beramal dengan ilmunya, mereka mendakwahkannya dan bersabar menghadapi segala hambatan yang mereka jumpai di jalan   kebenaran.   Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang   yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.&#8221; (QS. al-&#8217;Ashr : 1-3).</p>
<p>Cobaan hidup merupakan batu ujian yang akan membedakan siapakah hamba yang jujur dan tulus dan siapakah orang-orang yang   beribadah di tepian yang hatinya dipenuhi dengan keraguan. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Alif lam mim, apakah   manusia itu mengira mereka akan ditinggalkan begitu saja mengucapkan &#8216;Kami telah beriman, kemudian tanpa ada ujian? Sungguh   Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapakah di antara mereka yang jujur dan siapakah yang   dusta.&#8221; (QS. al-Ankabut : 1-3). Fitnah atau ujian pasti menimpa kita. Bahkan hakikat kehidupan kita di dalam dunia ini adalah   ujian dari-Nya. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya, &#8220;Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian   siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.&#8221; (QS. al-Mulk : 2).</p>
<p>Para ulama -semoga Allah merahmati mereka- telah memiliki jasa yang sangat besar bagi umat manusia. Berbagai macam fitnah dan   cobaan telah mereka paparkan solusinya. Ketika umat manusia dibuat kelimpungan oleh berbagai bujukan hawa nafsu dan rayuan   syahwat yang menggelora, maka para ulama hadir dengan siraman dalil-dalil wahyu al-Kitab dan as-Sunnah yang akan menentramkan   hati para pemuda. Ketika umat manusia dibuat pusing tujuh keliling oleh berbagai macam kerancuan berpikir yang dihembuskan   oleh aliran-aliran menyimpang dan meresahkan, maka para ulama hadir dengan argumentasi-argumentasi ilmiah yang   meluluhlantakkan syubhat ahli kebatilan. Begitulah ciri ulama dan buah dari dakwah mereka. Hanya dengan taufik dari Allah lah   mereka dapat menunjuki dan menuntun umat manusia menuju keridhaan-Nya.</p>
<p>Oleh sebab itu, sebuah renungan bagi kita bersama yang selayaknya kita hayati dalam-dalam; ketika perkembangan teknologi   sudah demikian maju dan menembus sekat ruang dan waktu dan seiring dengan itu pula berbagai sampah pemikiran dan racun   kemaksiatan dimuntahkan di dunia maya, maka tidak selayaknya kita termasuk orang-orang yang meramaikan dunia maya ini dengan   semakin banyak kerancuan, kebodohan dan penyimpangan. Sudah selayaknya kita menggunakan fasilitas ini untuk mendekatkan diri   kepada Allah dengan menimba ilmu dari para ulama melalui karya-karya atau ceramah-ceramah mereka. Kalau pun ternyata karya   atau ceramah para ulama itu ternyata berbahasa Arab, maka apa susahnya kita berupaya untuk mendalami bahasanya yaitu Bahasa   Arab? Bukankah selama ini di sekolah-sekolah kita telah bergumul dengan bahasa Inggris sekian lama, padahal itu bukan bahasa   kita sehari-hari? Bukankah dengan mengerti bahasa Inggris itu kita dapat merasakan kemudahan-kemudahan dalam urusan dunia?   Lantas apa yang menghalangi kita untuk belajar bahasa Arab, padahal kita semua tahu Kitab suci kita berbahasa Arab, sholat   yang kita lakukan sehari-hari juga terdiri dari bacaan dan doa yang bebahasa Arab, kitab-kitab para ulama pun ditulis dengan   bahasa Arab? Di manakah letak penghargaan kita kepada bahasa yang mulia ini? Bukankah dengan memahami bahasa Arab kita akan   menemukan jalan untuk memahami al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah yang itu merupakan pedoman hidup kita? Bukankah dengan memahami bahasa   Arab seorang muslim tidak akan lagi taklid melulu kepada para ulama sehingga dia akan benar-benar bisa beribadah kepada Allah   di atas ilmu dan keterangan yang nyata baginya?</p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku, para ulama tidak menginginkan kita seperti beo yang selalu mengikuti semua ucapan mereka. Yang   mereka inginkan adalah agar kita menjadi orang yang paham akan ajaran agamanya. Mereka ingin agar kita kembali kepada dalil.   Tidakkah kita ingat ucapan salah satu di antara mereka, &#8220;Apabila kamu temukan di dalam Kitabku sesuatu yang bertentangan   dengan al-Kitab dan as-Sunnah maka tinggalkanlah pendapatku dan ambillah apa yang terdapat di dalam al-Kitab dan as-Sunnah.&#8221;   Padahal kita juga tahu bahwa para ulama adalah manusia, mereka pun bisa tergelincir dalam kesalahan tanpa sengaja. Maka   kewajiban kita adalah mengikuti kebenaran, tanpa sedikit pun meremehkan sebagian ulama. Untuk itulah perjuangan para ulama   harus dilanjutkan oleh generasi berikutnya, orang-orang terpercaya yang mengemban ilmu agama dengan keadilan dan kesalihan.   Tidak akan baik umat ini kecuali dengan sesuatu yang membuat baik generasi awalnya, demikian ungkap Imam Malik rahimahullah.</p>
<p>Kejayaan di masa salaf adalah kejayaan yang dibangun di atas keikhlasan dan ilmu, bukan di atas kemunafikan dan kejahilan.   Kejayaan mereka adalah kejayaan yang dipandu oleh para ulama, itu artinya kita membutuhkan sosok ulama dan itu juga bermakna   kita harus mendukung dakwah mereka dan menasehati mereka -dengan cara yang baik- demi kebaikan kita bersama. Oleh sebab itu   setiap kita hendaknya menyadari kedudukan dan kadar kita masing-masing.</p>
<p>Seorang Ustadz -yang saya cintai karena Allah-   memberikan sebuah nasehat kepada saya suatu saat beberapa tahun yang silam, &#8216;rahimahullahumra&#8217;an ya&#8217;rifu qadra nafsihi&#8217;   (semoga Allah merahmati orang yang menyadari kapasitas dirinya). Benarlah apa yang beliau katakan!  Ketika kita menyadari bahwa kita ini jahil maka tak selayaknya -dan memang tidak boleh- kita merasa sombong dan sok tidak   membutuhkan para ulama. Mungkin dengan lisan kita tidak mengucapkannya, namun lisanul hal -perilaku dan keadaan kita- bisa   jadi menunjukkan sikap itu.</p>
<p>Dengan ilmu yang pas-pasan seorang berbicara seenak perutnya, mengumbar kata-kata di dunia maya   tanpa ada seorang pun yang menghalangi dirinya memuntahkan semua isi otaknya, namun beberapa lama kemudian dia menyadari   bahwa apa yang dahulu dia lontarkan ternyata tidak lebih daripada kejahilan dan kesalahpahaman yang disebarluaskan. Aduhai,   alangkah malang jika kita hidup pada jaman semacam itu -dan ternyata sekarang kita hidup di jaman itu, wallahul musta&#8217;aan-   ketika orang-orang bebas melontarkan ucapan tanpa berpikir panjang dan mengatur ungkapan supaya lebih sopan dan bijak sesuai   keperluan, maka alangkah buruknya kita apabila kita termasuk golongan yang meramaikan dunia maya ini dengan kesia-siaan,   kedustaan, kemaksiatan, apalagi mencela para ulama dan mencabik-cabik ajaran agama yang sudah sempurna.Ingatlah, bahwa   malaikat mencatat perbuatan kita.</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), &#8220;Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak   memiliki ilmu tentangnya; sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu semua pasti akan diminta pertanggungjawabannya.&#8221;   (QS. al-Israa&#8217; : 36). Siapkah anda ketika Allah mempertanyakan kepada anda tentang caci maki, tudingan tanpa bukti, fitnah,   dan cemoohan yang selama ini anda terbitkan dan alamatkan kepada para ulama dan dakwah yang mereka bawa? Wahai saudaraku,   pikirkanlah dahulu apa yang hendak engkau tulis dan engkau sebarkan; jangan sampai semakin banyak tulisan dan artikel yang   kita terbitkan justru menjadi hujjah untuk menjatuhkan hukuman bagi kita di akhirat kelak; pada hari di mana tak lagi berguna   harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat dari syirik dan dosa, dari kotoran   bid&#8217;ah dan limbah kemaksiatan.</p>
<p>Semoga Allah mengetuk hatimu dan membangkitkan kesadaranmu, masih banyak tugas besar yang   harus dikerjakan oleh umat ini dan aku berharap kamu adalah salah satu penggerak dakwah tauhid ini; kerjakanlah apa yang   bermanfaat untukmu! Semoga Allah mempertemukan kita di akhirat di bawah naungan Arsy-Nya. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina   Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam, walhamdu lillahi Rabbil &#8216;alamin.</p>
<p>Yogyakarta, 28 Muharram 1430 H</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-kita-bersama.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

