<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Tauhid</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/tauhid/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Merasakan Kelezatan Iman</title>
		<link>http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 May 2012 08:43:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2502</guid>
		<description><![CDATA[Dari al-&#8217;Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman [34]) Ridha adalah merasa puas dan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmerasakan-kelezatan-iman.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmerasakan-kelezatan-iman.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari al-&#8217;Abbas bin Abdul Muthallib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akan merasakan lezatnya iman; orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [34])</p>
<p><span id="more-2502"></span></p>
<p>Ridha adalah merasa puas dan cukup dengan sesuatu serta tidak mencari lagi sesuatu yang lain bersamanya. Makna hadits ini adalah; orang tersebut tidak mencari dan berharap kecuali kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> semata, tidak mau berusaha kecuali di atas jalan Islam, dan tidak mau menempuh suatu jalan kecuali apabila sesuai dengan syari&#8217;at Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Seseorang yang telah merasa ridha dengan sesuatu maka sesuatu itu akan terasa mudah baginya. Demikian pula seorang mukmin apabila iman telah meresap ke dalam hatinya maka akan terasa mudah segala ketaatan kepada Allah dan dia akan merasakan nikmat dengannya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/86] cet. Dar Ibnu al-Haitsam)</p>
<p>Hadits di atas menunjukkan bahwa orang yang bisa merasakan kelezatan iman adalah yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Ridha      Allah sebagai Rabb</li>
<li>Ridha      Islam sebagai agama</li>
<li>Ridha      Muhammad sebagai rasul</li>
</ol>
<p><strong>Ciri Pertama:</strong><br />
<em>Ridha Allah Sebagai Rabb</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>[1] Kandungan Makna Rabb</strong></p>
<p>Imam ar-Raghib al-Ashfahani <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Akar kata dari Rabb adalah tarbiyah; yaitu menumbuhkan sesuatu dari satu keadaan kepada keadaan berikutnya secara bertahap hingga mencapai kesempurnaan.”</em> (lihat <em>al-Mufradat fi Gharib al-Qur&#8217;an</em> [1/245])</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Rabb artinya adalah yang mentarbiyah seluruh alam; dan alam itu adalah segala sesuatu selain Allah. Tarbiyah itu berupa penciptaan mereka, pemberian berbagai sarana yang Allah sediakan untuk mereka, pemberian nikmat kepada mereka dengan kenikmatan yang sangat agung; yang seandainya mereka tidak mendapatkannya niscaya mereka tidak mungkin bertahan hidup di alam dunia. Nikmat apapun yang ada pada diri mereka adalah bersumber dari Allah ta&#8217;ala.”</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, sebagaimana tercantum dalam <em>al-Majmu&#8217;ah al-Kamilah</em> [1/34])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Rabb menurut bahasa digunakan untuk tiga makna; sayyid/tuan yang dipatuhi, maalik/pemilik atau penguasa, atau sosok yang melakukan ishlah/perbaikan untuk selainnya.”</em> (lihat transkrip ceramah <em>Syarh Tsalatsat al-Ushul</em> milik beliau)</p>
<p><strong>[2] Tarbiyah Umum dan Tarbiyah Khusus</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menjelaskan, <em>“Tarbiyah Allah ta&#8217;ala kepada makhluk-Nya ada dua macam: umum dan khusus. Tarbiyah yang bersifat umum adalah berupa penciptaan seluruh makhluk, pemberian rizki dan petunjuk kepada mereka menuju kemaslahatan hidup mereka untuk bisa bertahan hidup di alam dunia. Adapun tarbiyah yang bersifat khusus adalah tarbiyah yang Allah berikan kepada para wali-Nya. Allah mentarbiyah mereka dengan keimanan, memberikan taufik kepada mereka untuk itu dan menyempurnakan iman mereka. Allah singkirkan berbagai rintangan dan penghalang yang membatasi antara mereka dengan diri-Nya. Hakikat tarbiyah khusus ini adalah pemberian taufik untuk menggapai segala kebaikan dan penjagaan dari segala keburukan. Barangkali inilah rahasia mengapa kebanyakan doa para nabi itu menggunakan kata Rabb, sebab semua cita-cita dan keinginan mereka berada di bawah kendali rububiyah Allah yang khusus ini. Maka firman-Nya &#8216;Rabbul &#8216;alamin&#8217; menunjukkan atas keesaan Allah dalam hal mencipta, mengatur, pemberian nikmat, dan kekayaan-Nya yang maha sempurna. Hal itu sekaligus menggambarkan betapa besarnya kebutuhan seluruh alam ini kepada-Nya, dari segala sisi dan pertimbangan.” </em>(<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, lihat <em>al-Majmu&#8217;ah al-Kamilah</em> [1/34], lihat juga <em>Tafsir Surah al-Fatihah</em>, hal. 12) <em> </em></p>
<p><strong>[3] Tauhid Rububiyah</strong></p>
<p>Tauhid rububiyah adalah seorang hamba meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, Yang Maha Mencipta, Yang Maha Memberikan Rizki, Yang Mengatur segala urusan, yang  memelihara dan menjaga seluruh makhluk dengan segala bentuk nikmat dan Allah pula yang memelihara dan menjaga makhluk-makhluk pilihan-Nya yaitu para nabi dan pengikut mereka dengan bimbingan akidah yang benar, akhlak yang mulia, ilmu-ilmu yang bermanfaat, maupun amal salih. Inilah bentuk tarbiyah (pemeliharaan dan penjagaan) yang bermanfaat bagi hati dan ruh, yang akan membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akherat (lihat <em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 13)</p>
<p>Allah adalah Rabb alam semesta. Artinya, Allah adalah pencipta dan penguasa alam semesta. Dialah yang melakukan <em>ishlah</em>/perbaikan dan <em>tarbiyah</em>/pemeliharaan dan pembinaan kepada mereka dengan nikmat-nikmat-Nya. Diantara kenikmatan itu -bahkan yang paling agung- adalah diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab. Kemudian Allah pula yang akan memberikan balasan kepada hamba atas amal-amal mereka. Konsekuensi rububiyah Allah adalah berupa perintah dan larangan kepada hamba, balasan atas kebaikan mereka, dan hukuman atas kejahatan mereka. Inilah hakikat rububiyah (lihat <em>at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 26)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Secara ringkas, tauhid rububiyah bisa didefinisikan dengan mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah ada pencipta selain Allah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi?”</em> (QS. Fathir: 3). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan milik Allah lah kekuasaan atas langit dan bumi.”</em> (QS. Ali &#8216;Imran: 189). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, siapakah yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan. Niscaya mereka akan menjawab, Allah. Maka katakanlah, Lalu mengapa kalian tidak bertakwa.” </em>(QS. Yunus: 31) (lihat <em>al-Qaul al-Mufid &#8216;ala Kitab at-Tauhid</em> [1/5-6] cet. Maktabah al-&#8217;Ilmu, lihat juga <em>Syarh al-Arba&#8217;in an-Nawawiyah</em> hal. 34)</p>
<p>Apabila diringkas lagi, bisa disimpulkan bahwa tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 17 karya Syaikh Muhammad bin &#8216;Abdul &#8216;Aziz al-Qor&#8217;awi, lihat juga <em>Qathfu al-Jana ad-Dani Syarh Muqoddimah Risalah Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani</em>, hal. 56 karya Syaikh al-Muhaddits Abdul Muhsin al-&#8217;Abbad al-Badr, dan <em>at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 6 karya Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh <em>hafizhahumullahu</em>)</p>
<p><strong>[4] Orang Musyrik Pun Mengakui Tauhid Rububiyah</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Para rasul mereka pun mengatakan, “Apakah ada keraguan terhadap Allah; padahal Dia lah yang menciptakan langit dan bumi.”.” </em>(QS. Ibrahim: 10). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab, &#8216;Yang menciptakannya adalah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui&#8217;.” </em>(QS. az-Zukhruf: 9)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan diri mereka, niscaya mereka menjawab: Allah. Lalu dari mana mereka bisa dipalingkan (dari menyembah Allah).”</em> (QS. az-Zukhruf: 87). Imam Ibnu Abil &#8216;Izz al-Hanafi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya orang-orang musyrik arab dahulu telah mengakui tauhid rububiyah. Mereka pun mengakui bahwa pencipta langit dan bumi ini hanya satu.”</em> (lihat <em>Syarh al-&#8217;Aqidah ath-Thahawiyah</em>, hal. 81, lihat juga <em>Fath al-Majid</em>, hal. 16, <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [6/201] [7/167])</p>
<p><strong>[5] Konsekuensi Mengimani Allah Sebagai Rabb</strong></p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, <em>“Sebagaimana pula wajib diketahui bahwa pengakuan terhadap tauhid rububiyah saja tidaklah mencukupi dan tidak bermanfaat kecuali apabila disertai pengakuan terhadap tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam beribadah) dan benar-benar merealisasikannya dengan ucapan, amalan, dan keyakinan&#8230;”</em> (lihat <em>Syarh Kasyf asy-Syubuhat</em>, hal. 24-25).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan mereka juga terjerumus dalam kemusyrikan.” </em>(QS. Yusuf: 107). Ikrimah berkata, <em>“Tidaklah kebanyakan mereka -orang-orang musyrik- beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan berbuat syirik. Apabila kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Maka mereka akan menjawab, &#8216;Allah&#8217;. Itulah keimanan mereka, namun di saat yang sama mereka juga beribadah kepada selain-Nya.”</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [13/556])</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Abdurrazzaq al-Badr <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Kemudian, sesungguhnya keimanan seorang hamba kepada Allah sebagai Rabb memiliki konsekuensi mengikhlaskan ibadah kepada-Nya serta kesempurnaan perendahan diri di hadapan-Nya. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan Aku adalah Rabb kalian, maka sembahlah Aku.” (QS. al-Anbiya&#8217;: 92). Allah ta&#8217;ala juga berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian.” (QS. al-Baqarah: 21). Keberadaan Allah sebagai Rabb seluruh alam memiliki konsekuensi bahwa Allah tidak akan meninggalkan mereka dalam keadaan sia-sia atau dibiarkan begitu saja tanpa ada perintah dan larangan untuk mereka. Akan tetapi Allah menciptakan mereka untuk mematuhi-Nya dan Allah mengadakan mereka supaya beribadah kepada-Nya. Maka orang yang berbahagia diantara mereka adalah yang taat dan beribadah kepada-Nya. Adapun orang yang celaka adalah yang durhaka kepada-Nya dan lebih memperturutkan kemauan hawa nafsunya. Barangsiapa yang beriman terhadap rububiyah Allah dan ridha Allah sebagai Rabb maka dia akan ridha terhadap perintah-Nya, ridha terhadap larangan-Nya, ridha terhadap apa yang dibagikan kepadanya, ridha terhadap takdir yang menimpanya, ridha terhadap pemberian Allah kepadanya, dan tetap ridha kepada-Nya tatkala Allah tidak memberikan kepadanya apa yang dia inginkan.”</em> (lihat <em>Fiqh al-Asma&#8217; al-Husna</em>, hal. 97)</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia suka berlaku zalim dan bersifat bodoh. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka, tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu sebagai standar untuk menilai perkara yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Akan tetapi sesungguhnya standar yang benar adalah apa yang Allah pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan larangan-Nya.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 89)</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[6] Makna &#8216;Ridha Allah Sebagai Rabb&#8217; </strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dari keterangan-keterangan para ulama di atas, dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan ridha Allah sebagai Rabb mencakup hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Meyakini      bahwa seluruh kenikmatan -jasmani maupun ruhani- adalah bersumber dari      Allah</li>
<li>Meyakini      bahwa segala sesuatu yang ada di alam dunia ini adalah ciptaan dari-Nya</li>
<li>Meyakini      bahwa segala kejadian yang ada di alam dunia ini adalah terjadi dengan      kehendak-Nya. Allah lah yang mengatur segalanya dan Allah yang paling      mengetahui tentangnya.</li>
<li>Meyakini      bahwa Allah adalah penguasa tunggal alam semesta, Dia lah yang berhak      memerintah dan melarang atas hamba-hamba-Nya, dan Dia lah yang akan      memberikan balasan dan hukuman atas amal perbuatan mereka</li>
<li>Meyakini      bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab dan mengutus para rasul yang      menjadi pembimbing umat manusia untuk menggapai kebahagiaan hidup yang      sejati</li>
<li>Meyakini      bahwa Allah semata yang berhak untuk diibadahi, yang menjadi tumpuan      harapan, dan tempat bergantungnya hati. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam      hal itu semua</li>
<li>Memurnikan      segala macam bentuk ibadah kepada-Nya serta meninggalkan dan mengingkari      segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya</li>
<li>Menaati      perintah dan larangan-Nya serta mengimani pahala dan siksa yang      diberikan-Nya</li>
<li>Merasa      ridha dengan takdir dan musibah yang ditetapkan oleh-Nya</li>
</ol>
<p><strong>Ciri Kedua:</strong><br />
<em>Ridha Islam Sebagai Agama</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>[1] Kandungan Makna Islam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Secara bahasa islam artinya adalah menyerahkan diri. Adapun menurut syari&#8217;at, islam adalah sikap pasrah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan melaksanakan ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya (lihat <em>at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-&#8217;Aali</em>, hal. 62)</p>
<p>Dari Abdullah bin &#8216;Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Islam dibangun di atas lima perkara: syahadat bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah &#8211;dalam riwayat lain syahadat diungkapkan dengan kata-kata: mentauhidkan Allah, dalam riwayat lain lagi disebutkan: beribadah kepada Allah dan mengingkari sesembahan selain-Nya&#8211;, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berhaji, dan berpuasa Ramadhan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [8] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [16])</p>
<p><strong>[2] Pokok Ajaran Islam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Islam ditegakkan di atas dua prinsip pokok. Pertama; beribadah kepada Allah semata. Kedua; beribadah kepada Allah hanya dengan syari&#8217;at-Nya. Kedua hal ini telah tercakup di dalam dua kalimat syahadat yang kita ucapkan: <em>asyhadu an laa ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah</em>. <em>“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” </em></p>
<p>Kalimat <em>laa ilaha illallah</em> bermakna tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah. Maka seluruh sesembahan yang diibadahi oleh manusia selain Allah adalah sesembahan yang batil. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demikian itulah, karena sesungguhnya Allah itu adalah -sesembahan- yang benar. Adapun segala yang mereka seru/sembah selain-Nya adalah batil.”</em> (QS. al-Hajj: 62). Adapun kalimat <em>Muhammadur rasulullah</em> bermakna tidak ada orang yang menjadi pedoman dalam hal syari&#8217;at selain Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menaati rasul itu maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 80)</p>
<p>Oleh karena itu amalan yang diterima di sisi Allah adalah yang memenuhi dua syarat: ikhlas (tidak syirik) dan <em>ittiba&#8217;</em>/mengikuti tuntunan (bukan bid&#8217;ah). Kedua hal inilah yang dimaksud oleh firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.”</em> (QS. al-Kahfi: 110). Fudhail bin Iyadh <em>rahimahullah </em>berkata, <em>“Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.”</em> (lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 19 cet. Dar al-Hadits).</p>
<p><strong>[3] Pondasi Ajaran Islam</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [9] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [35], lafal ini milik Muslim). Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa yang paling utama di antara semua cabang itu adalah tauhid; yang hukumnya wajib atas setiap orang, dan tidaklah dianggap sah cabang-cabang iman yang lain kecuali setelah sahnya hal ini.” </em>(lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/88] cet. Dar Ibnul Haitsam)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan.” </em>(lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manakah yang lebih baik; orang yang menegakkan bangunannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, ataukah orang yang menegakkan bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia pun akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam.”</em> (QS. at-Taubah: 109)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hal itu dikarenakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat padanya. Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini -yaitu membangun masjid- dengan keikhlasan yang tertanam di dalam hatinya, maka amalan itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.”</em> (lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p><strong>[4] Agama Para Nabi</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif/bertauhid dan seorang muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. Ali Imran: 67). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“&#8230; Maka ikutilah millah Ibrahim yang lurus, dan tidaklah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. Ali Imran: 95). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian Kami wahyukan kepadamu; hendaklah kamu mengikuti millah Ibrahim yang lurus itu, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (QS. an-Nahl: 123). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah (Muhammad), &#8216;Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama/millah Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.&#8217;.” </em>(QS. al-An&#8217;am: 161).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah ada teladan yang baik untuk kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya, Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian, dan telah jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah saja&#8230;” </em>(QS. al-Mumtahanah: 4).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” </em>(QS. an-Nahl: 36). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus seorang pun rasul sebelum engkau -wahai Muhammad- melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” </em>(QS. al-Anbiyaa&#8217;: 25).</p>
<p><strong>[5] Islam Telah Sempurna</strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku telah ridha Islam sebagai agama bagi kalian.”</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 3). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ini adalah nikmat terbesar dari Allah ta&#8217;ala untuk umat ini. Dimana Allah ta&#8217;ala telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka sehingga mereka tidak membutuhkan lagi agama selainnya, dan juga tidak butuh nabi selain nabi mereka -semoga salawat dan keselamatan terus terlimpah kepada beliau-. Oleh sebab itulah Allah ta&#8217;ala menjadikan beliau sebagai penutup nabi-nabi dan diutus kepada segenap jin dan manusia&#8230;” </em>(lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [3/20])</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya, dan kelak di akherat dia akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.”</em> (QS. Ali Imran: 85). Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Artinya, siapa pun yang beragama kepada Allah dengan selain agama Islam padahal Islam itu jelas-jelas telah diridhai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya, maka amalannya pasti tertolak dan tidak akan diterima. Agama Islam itulah ajaran yang mengandung sikap kepasrahan/istislam kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan ketundukan kepada rasul-rasul-Nya. Oleh sebab itu, selama seorang hamba tidak memeluk agama ini maka dia belum memiliki sebab keselamatan dari azab Allah dan tidak memiliki sebab untuk meraih kejayaan berupa limpahan pahala dari-Nya. Dan semua agama selainnya adalah batil.”</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 137)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam.”</em> (QS. Ali Imran: 19). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menjelaskan, <em>“Ini adalah berita dari Allah ta&#8217;ala bahwa tidak ada agama yang diterima di sisi-Nya dari siapa pun selain agama Islam. Hakikat  Islam adalah mengikuti para rasul dengan menjalankan ajaran yang diturunkan Allah kepada mereka di setiap masa sampai akhirnya mereka -para rasul- ditutup dengan diutusnya Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang menutup semua jalan menuju-Nya kecuali jalan Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Barangsiapa yang bertemu dengan Allah setelah diutusnya Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam keadaan memeluk agama selain yang disyari&#8217;atkan oleh beliau maka tidak diterima&#8230;” </em>(lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [2/19] cet. Maktabah at-Taufiqiyah)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberikan al-Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kaum yang ummi/buta huruf (yaitu orang-orang musyrik); ”Maukah kalian masuk Islam?”. Apabila mereka masuk Islam, sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk. Namun apabila mereka justru berpaling, maka sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Allah Maha melihat semua hamba.”</em> (QS. Ali Imran: 20). Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ayat ini dan juga ayat-ayat lain yang serupa merupakan penunjukan yang sangat tegas mengenai keumuman pengutusan beliau -semoga salawat dan keselamatan tercurah kepadanya- kepada semua manusia sebagaimana hal itu telah diketahui sebagai bagian dari agama secara pasti, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil al-Kitab maupun as-Sunnah dalam banyak ayat dan hadits.”</em> (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [2/20])</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala </em>berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Muhammad itu adalah bapak dari salah seorang lelaki di antara kalian, akan tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi.”</em> (QS. al-Ahzab: 40). Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang pun yang mendengar kenabianku dari kalangan umat ini, entah dia Yahudi atau Nasrani, lalu dia tidak mau beriman terhadap ajaran yang aku bawa melainkan kelak dia pasti termasuk penduduk neraka.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [153]). Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Di dalam hadits ini terdapat kandungan hukum bahwasanya semua agama telah dihapuskan pemberlakuannya dengan adanya risalah Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/245])</p>
<p><strong>[6] Makna &#8216;Ridha Islam Sebagai Agama&#8217;</strong></p>
<p>Dari keterangan-keterangan di atas kita dapat menyimpulkan bersama bahwa yang dimaksud dengan ridha Islam sebagai agama itu meliputi hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Beribadah      hanya kepada Allah dan mengingkari segala bentuk peribadahan kepada selain      Allah</li>
<li>Meyakini      bahwa Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah utusan Allah</li>
<li>Meyakini      wajibnya rukun Islam, yaitu: syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji</li>
<li>Meyakini      bahwa ibadah tidak akan diterima apabila tidak ikhlas atau tidak mengikuti      tuntunan</li>
<li>Meyakini      tauhid sebagai pondasi agama Islam yang tidak akan sah amal apapun      tanpanya</li>
<li>Meyakini      bahwa agama para nabi adalah satu -yaitu islam- meskipun syari&#8217;atnya      berlainan</li>
<li>Meyakini      bahwa asas agama para nabi adalah tauhid</li>
<li>Meyakini      bahwa seluruh agama yang ada telah dihapuskan dengan ajaran Islam yang      dibawa oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Meyakini      kesempurnaan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em>, sehingga ia tidak memerlukan penambahan atau      koreksi</li>
</ol>
<p><strong>Ciri Ketiga:</strong><br />
<em>Ridha Muhammad Sebagai Rasul</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>[1] Anugerah Risalah</strong></p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>mengatakan, <em>“Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan. Pertama; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap jiwa apabila dibiarkan begitu saja niscaya ia akan mengakui bahwasanya Allah adalah ilah/sesembahan baginya. Ia akan mencintai-Nya dan akan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Akan tetapi karena adanya bisikan setan dari kalangan jin dan manusia satu sama lain itulah yang menyebabkan kebatilan di mata mereka seolah menjadi sesuatu yang tampak indah dan menawan. Kedua; Allah ta&#8217;ala telah memberikan petunjuk kepada umat manusia dengan bimbingan yang bersifat umum. Sehingga di dalam diri mereka secara fitrah telah terpatri pengenalan -kepada kebenaran- dan sebab-sebab guna meraih ilmu. Setelah itu, Allah pun menurunkan kitab-kitab suci dan mengutus para rasul sebagai pembimbing bagi mereka.”</em> (lihat <em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em>, hal. 35)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, yang mensucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah), sementara sebelumnya mereka berada di dalam kesesatan yang amat nyata.”</em> (QS. Ali Imran: 164)</p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Risalah adalah kebutuhan yang sangat mendesak bagi hamba. Mereka benar-benar membutuhkannya. Kebutuhan mereka terhadapnya jauh di atas segala jenis kebutuhan. Risalah adalah ruh, cahaya, dan kehidupan alam semesta. Maka kebaikan seperti apa yang ada pada alam tanpa ruh, tanpa cahaya, dan tanpa kehidupan?”</em> (lihat <em>Ma&#8217;alim Ushul al-Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wa al-Jama&#8217;ah</em>, hal. 78 karya Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani)</p>
<p><strong>[2] Sumber Kehidupan Hakiki</strong></p>
<p>Allah<em> ta&#8217;ala </em>berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, ketika menyeru kalian untuk sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya Allah yang menghalangi antara seseorang dengan hatinya. Dan sesungguhnya kalian akan dikumpulkan untuk bertemu dengan-Nya.”</em> (QS. al-Anfal: 24)</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Sesungguhnya kehidupan yang membawa manfaat hanya bisa digapai dengan merespon seruan Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang tidak merespon seruan tersebut maka tidak ada kehidupan sejati padanya. Meskipun dia memiliki kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dirinya dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Oleh sebab itu kehidupan yang hakiki dan baik adalah kehidupan orang yang memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya secara lahir dan batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, walaupun tubuh mereka telah mati. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang telah mati, meskipun badan mereka hidup. Oleh karena itu orang yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna di antara mereka dalam memenuhi seruan dakwah Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya di dalam setiap ajaran yang beliau dakwahkan terkandung unsur kehidupan sejati. Barang siapa yang kehilangan sebagian darinya maka dia kehilangan sebagian unsur kehidupan, bisa jadi di dalam dirinya masih terdapat kehidupan sekadar dengan responnya terhadap ajakan Rasul shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> (lihat <em>al-Fawa&#8217;id</em>, hal. 85-86 cet. Dar al-&#8217;Aqidah)</p>
<p><strong>[3] Kasih Sayang Rasul Kepada Umatnya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian. Terasa berat baginya apa yang menyusahkan kalian. Dia sangat bersemangat memberikan kebaikan kepada kalian. Dan terhadap orang-orang yang beriman dia sangat lembut dan penyayang.”</em> (QS. at-Taubah: 128)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Setiap Nabi memiliki sebuah doa yang mustajab, maka semua Nabi bersegera mengajukan doanya itu. Adapun aku menunda doaku itu sebagai syafa&#8217;at bagi umatku kelak di hari kiamat. Doa -syafa&#8217;at- itu -dengan kehendak Allah- akan diperoleh setiap orang di antara umatku yang meninggal dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [199])</p>
<p>Dari Urwah, suatu ketika &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu&#8217;anha</em> -istri Nabi- menceritakan kepadanya, bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>“Pernahkah anda menemui suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku telah mendapatkan tanggapan dari kaummu sebagaimana apa yang aku temui. Tanggapan paling berat yang pernah aku dapatkan adalah pada hari &#8216;Aqabah, ketika itu aku tawarkan diriku kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, akan tetapi dia tidak menerima tawaranku sebagaimana yang aku kehendaki. Aku pun kembali dengan perasaan sedih mewarnai wajahku. Tanpa terasa tiba-tiba aku sudah berada di Qarn Tsa&#8217;alib. Aku angkat kepalaku ke atas, ternyata ada awan yang sedang menaungi diriku. Aku pun memperhatikan, ternyata di sana ada Jibril, lalu dia pun memanggilku. Dia berkata, &#8216;Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu terhadapmu dan penolakan yang mereka lakukan terhadapmu. Dan Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung, agar kamu perintahkan kepadanya apa yang ingin kau timpakan kepada mereka.&#8217; Maka malaikat penjaga gunung itu pun menyeruku dan mengucapkan salam kepadaku, lalu dia berkata, &#8216;Wahai Muhammad&#8217;. Dia berkata, &#8216;Apabila kamu menginginkan hal itu, niscaya akan aku timpakan kepada mereka dua bukit besar itu.&#8217;.”</em> Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> justru menjawab, <em>“Tidak, sesungguhnya aku berharap mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari tulang sulbi keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab Bad&#8217;u al-Khalq</em> [3231])</p>
<p>Dari Abdullah bin Amr bin al-&#8217;Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, beliau menceritakan: Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> membaca firman Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> mengenai Ibrahim (yang artinya), <em>“Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah banyak menyesatkan manusia, barangsiapa yang mengikutiku maka sesungguhnya dia adalah termasuk golonganku.”</em> (QS. Ibrahim: 36). &#8216;Isa <em>&#8216;alaihis salam</em> juga berkata (yang artinya), <em>“Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba-Mu, dan apabila Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”</em> (QS. al-Ma&#8217;idah: 118). Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, <em>“Ya Allah, umatku, umatku.”</em> Dan beliau pun menangis. Allah<em> &#8216;azza wa jalla</em> berfirman, <em>“Wahai Jibril, pergi dan temuilah Muhammad -sedangkan Rabbmu tentu lebih mengetahui- lalu tanyakan kepadanya, apa yang membuatmu menangis?”</em>. Maka Jibril <em>&#8216;alaihis sholatu was salam</em> menemui beliau dan bertanya kepadanya, lalu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memberitakan kepadanya tentang apa yang telah diucapkannya -dan Dia (Allah) tentu lebih mengetahuinya-. Kemudian Allah berfirman, <em>“Wahai Jibril, pergi dan temuilah Muhammad, dan katakan kepadanya, &#8216;Sesungguhnya Kami pasti akan membuatmu ridha berkenaan dengan nasib umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu bersedih.&#8217;.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [202])</p>
<p>Sa&#8217;id bin al-Musayyab meriwayatkan dari ayahnya, beliau menceritakan: Ketika kematian hendak menghampiri Abu Thalib, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun datang kepadanya. Di sana beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah bin al-Mughirah telah berada di sisinya. Kemudian beliau berkata, <em>“Wahai pamanku. Ucapkanlah laa ilaha illallah; sebuah kalimat yang aku akan bersaksi dengannya untuk membelamu kelak di sisi Allah.”</em> Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah berkata, <em>“Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthallib?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terus menerus menawarkan syahadat kepadanya, sedangkan mereka berdua pun terus mengulangi ucapan itu. Sampai akhirnya ucapan terakhir Abu Thalib kepada mereka adalah dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em>&#8230; (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Jana&#8217;iz</em> [1360] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [24])</p>
<p><strong>[4] Konsekuensi Iman Kepada Rasul</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Makna syahadat bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah yaitu mentaati segala perintahnya, membenarkan berita yang disampaikannya, menjauhi segala yang dilarang dan dicegah olehnya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syari&#8217;atnya.”</em> (lihat <em>Hushul al-Ma&#8217;mul bi Syarh Tsalatsat al-Ushul</em>, hal. 116)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah Kami utus seorang rasul pun melainkan supaya ditaati dengan izin Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 64). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apa saja yang dibawa oleh rasul kepada kalian maka ambillah, dan apa saja yang dilarang olehnya kepada kalian maka tinggalkanlah.” </em>(QS. al-Hasyr: 7).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah dia -Muhammad- berbicara dari hawa nafsunya, tidaklah hal itu melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” </em>(QS. an-Najm: 3-4). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan ikutilah dia (rasul) mudah-mudahan kalian mendapatkan petunjuk.” </em>(QS. al-A&#8217;raaf: 158). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apabila mereka tidak mau memenuhi seruanmu (Muhammad), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu mengikuti hawa nafsunya. Dan siapakah orang yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah.” </em>(QS. al-Qashash: 50)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Hendaknya merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah atau merasakan siksaan yang sangat pedih.”</em> (QS. an-Nur: 63). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Tidak pantas bagi seorang beriman lelaki ataupun perempuan apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian ternyata masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam menyelesaikan urusan mereka.”</em> (QS. al-Ahzab: 36). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian, apabila kalian berselisih tentang perkara apa saja maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, apabila kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 59).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang taat kepada rasul, sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 80). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka demi Rabbmu, mereka sama sekali tidak beriman sampai mereka mau menjadikan kamu sebagai hakim/pemutus perkara dalam apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak lagi mendapati rasa sempit di dalam diri mereka atas apa yang kamu putuskan dan mereka pun pasrah secara sepenuhnya.”</em> (QS. an-Nisaa&#8217;: 65)</p>
<p><strong>[5] Makna &#8216;Ridha Muhammad Sebagai Rasul&#8217;</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan ridha Muhammad sebagai rasul adalah mencakup hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Meyakini bahwa diutusnya      Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> merupakan anugerah dan      karunia terbesar bagi umat manusia</li>
<li>Meyakini bahwa kebutuhan      umat manusia terhadap bimbingan rasul (risalah) adalah di atas segala      kebutuhan mereka</li>
<li>Meyakini bahwa kehidupan      yang sejati dan kebahagiaan yang hakiki hanya bisa digapai dengan  memenuhi seruan Rasulullah <em>shallallahu      &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Meyakini betapa besar      kasih sayang Rasul kepada umatnya dan semangat beliau yang begitu besar      dalam rangka memberikan hidayah kepada mereka</li>
<li>Meyakini kebenaran      berita yang disampaikan olehnya</li>
<li>Meyakini wajibnya      menaati perintahnya dan menjauhi larangannya, dan bahwasanya hal itu      termasuk dalam ketaatan kepada Allah</li>
<li>Meyakini bahwa ibadah      kepada Allah -seikhlas apapun- tidak akan diterima oleh-Nya apabila tidak      sesuai dengan syari&#8217;at dan ajaran beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Menerima segala      ketetapan beliau dengan penuh kepasrahan</li>
<li>Menjadikan sabda dan      ketetapan beliau sebagai rujukan dalam menyelesaikan segala macam      perselisihan serta menjunjung tinggi sabda-sabdanya di atas seluruh ucapan      manusia</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/merasakan-kelezatan-iman.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iman Kepada Takdir</title>
		<link>http://abumushlih.com/iman-kepada-takdir.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/iman-kepada-takdir.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 06:58:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jabriyah]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Qodariyah]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Takdir]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2499</guid>
		<description><![CDATA[Iman kepada takdir adalah salah satu rukun iman. Dari &#8216;Umar bin Khaththab radhiyallahu&#8217;anhu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda tentang iman, “Yaitu kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir baik maupun yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/iman-kepada-takdir.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fiman-kepada-takdir.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fiman-kepada-takdir.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Iman kepada takdir adalah salah satu rukun iman. Dari &#8216;Umar bin Khaththab <em>radhiyallahu&#8217;anhu </em>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda tentang iman, <em>“Yaitu kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir baik maupun yang buruk.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [1]])</p>
<p><span id="more-2499"></span></p>
<p>Ketika mendengar pengingkaran takdir yang dilakukan oleh sebagian penduduk Bashrah yang terpengaruh pemikiran Ma&#8217;bad al-Juhani, Abdullah bin &#8216;Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> mengatakan dengan tegas kepada Yahya bin Ya&#8217;mar dan Humaid bin Abdurrahman, <em>“Apabila kamu bertemu dengan mereka, kabarkanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka telah berlepas diri dariku. Demi Allah yang dengan nama-Nya Abdullah bin Umar bersumpah! Seandainya salah seorang diantara mereka ada yang berinfak dengan emas sebesar Uhud maka Allah tidak akan menerimanya hingga mereka beriman kepada takdir.”</em> Kemudian beliau membawakan hadits di atas sebagai dalilnya (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/15] cet. Dar Ibnu al-Haitsam)</p>
<p><strong>[1] Kandungan Iman Kepada Takdir</strong></p>
<p>Iman kepada takdir mencakup empat tingkatan:</p>
<ol>
<li>Mengimani ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu sebelum      terjadinya</li>
<li>Mengimani bahwa Allah telah menuliskan itu semua sebelum      terjadinya</li>
<li>Mengimani bahwa semua itu terjadi dengan kehendak dari-Nya</li>
<li>Mengimani bahwa semua itu ada karena diciptakan oleh-Nya</li>
</ol>
<p>Diantara dalil untuk keempat tingkatan ini adalah:</p>
<ol>
<li>Firman Allah (yang artinya), <em>“Agar kalian mengetahui bahwa      Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan bahwasanya Allah itu ilmu-Nya      meliputi segala sesuatu.”</em> (QS. ath-Thalaq: 12)</li>
<li>Firman Allah (yang artinya), <em>“Dan segala sesuatu telah kami      catat dalam imam/kitab induk yang jelas.”</em> (QS. Yasin: 12). Yang      dimaksud kitab induk yang jelas adalah Lauhul Mahfuzh</li>
<li>Dari Abdullah bin &#8216;Amr bin al-&#8217;Ash <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>,      Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Allah telah      menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan      langit dan bumi.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Qadar</em> [2653])</li>
<li>Firman Allah (yang artinya), <em>“Seandainya Rabb-mu berkehendak      niscaya seluruh yang ada di atas muka bumi itu pasti beriman.” </em>(QS.      Yunus: 99)</li>
<li>Firman Allah (yang artinya), <em>“Bagi siapa pun diantara kalian      yang berkehendak untuk menempuh jalan yang lurus. Namun, kalian tidaklah      berkehendak kecuali apabila Allah Rabb alam semesta juga menghendakinya.” </em>(QS.      at-Takwir: 28-29)</li>
<li>Firman Allah (yang artinya), “Allah adalah pencipta segala      sesuatu.” (QS. az-Zumar: 62) (lebih lengkap lihat <em>al-Mukhtashar fi      &#8216;Aqidati Ahlis Sunnah fi al-Qadar</em> karya Syaikh Dr. Ibrahim ar-Ruhaili <em>hafizhahullah</em>,      hal. 17-25 cet. Dar al-Imam Ahmad)</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[2] Dua Macam Kehendak Allah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kehendak/<em>irodah</em> Allah terbagi menjadi dua macam:</p>
<ol>
<li><em>Irodah kauniyah</em>; yaitu kehendak      Allah yang mencakup segala hal yang terjadi di alam semesta. Apa pun yang      Allah kehendaki pasti terjadi dan apa pun yang tidak Allah kehendaki tidak      akan terjadi. Bisa jadi hal itu dicintai dan diridhai oleh-Nya, atau      justru sebaliknya; hal itu adalah perkara yang tidak dicintai dan tidak      diridhai-Nya. Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), <em>“Barangsiapa      yang Allah kehendaki untuk mendapatkan hidayah maka Allah akan lapangkan      dadanya untuk menerima Islam, dan barangsiapa yang Allah kehendaki untuk      disesatkan maka Allah akan jadikan dadanya sempit dan sesak; seolah-olah      dia sedang mendaki ke atas langit.”</em> (QS. al-An&#8217;am: 125)</li>
<li><em>Irodah syar&#8217;iyah</em>; yaitu kehendak      Allah yang terkandung dalam perintah-Nya, di dalamnya tercermin kecintaan      dan keridhaan-Nya. Namun, apa yang dikehendaki-Nya menurut syari&#8217;at belum      tentu terjadi kecuali apabila dikehendaki oleh-Nya secara kauni/<em>irodah      kauniyah</em>. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah      menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi      kalian.”</em> (QS. al-Baqarah: 185). Segala bentuk ketaatan adalah sesuatu      yang Allah kehendaki secara syar&#8217;i (<em>irodah syar&#8217;iyah</em>), akan tetapi      tidak setiap hamba menjadi pelaku ketaatan. Ada diantara mereka yang      bermaksiat. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang taat bisa melakukan ketaatan      dengan terkumpulnya kedua macam kehendak tersebut. Adapun orang yang      bermaksiat, maka pada dirinya hanya terwujud <em>irodah kauniyah</em>. Allah      -dengan hikmah-Nya- menghendakinya terjadi walaupun hal itu bukan perkara      yang Allah cintai (lihat <em>al-Mukhtashar fi &#8216;Aqidati Ahlis Sunnah fi      al-Qadar</em>, hal. 55-58)</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[3] Buah Iman Kepada Takdir </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Diantara faidah yang bisa dipetik dari beriman kepada takdir adalah ketenangan hati serta tidak mudah goncang dalam menghadapi pahit getirnya perjalanan hidup. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah menimpa suatu musibah di muka bumi atau pada diri kalian sendiri melainkan telah tercatat dalam kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya hal itu bagi Allah sangatlah mudah. Supaya kalian tidak berputus asa atas apa yang telah luput dari kalian dan supaya kalian tidak terlalu bergembira atas apa yang Allah berikan kepada kalian.”</em> (QS. al-Hadid: 22-23) (lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 343-344)</p>
<p>Selain itu, orang yang beriman terhadap takdir akan memiliki keteguhan sikap dalam menghadapi berbagai cobaan, krisis, dan tekanan. Karena mereka meyakini bahwa hidup ini memang sebuah ujian. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.”</em> (QS. al-Mulk: 2). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang memang Allah tetapkan atas kami. Dia lah penolong kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakal.”</em> (QS. at-Taubah: 51) (lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 345)</p>
<p>Bahkan, dengan keimanan kepada takdir, seorang hamba bisa merubah bencana yang menimpanya menjadi pahala. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah menimpa suatu musibah melainkan dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya. Dan Allah terhadap segala sesuatu Maha Mengetahui.”</em> (QS. at-Taghabun: 11). &#8216;Alqomah berkata tentang maksud ayat ini, <em>“Dia adalah seorang yang tertimpa musibah, maka dia menyadari bahwa hal itu datang dari Allah, oleh sebab itu dia pun merasa ridha dan pasrah.”</em> Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tertimpa musibah kemudian bersabar maka Allah akan anugerahkan petunjuk ke dalam hatinya (lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 345-346)</p>
<p><strong>[4] Sabar Menghadapi Takdir</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sabar yang dipuji ada beberapa macam: [1] sabar di atas ketaatan kepada Allah &#8216;azza wa jalla, [2] demikian pula sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada Allah &#8216;azza wa jalla, [3] kemudian sabar dalam menanggung takdir yang terasa menyakitkan. Sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi perkara yang diharamkan lebih utama di atas kesabaran menghadapi takdir yang terasa menyakitkan.”</em> (lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, hal. 279)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya Allah memiliki hak untuk diibadahi oleh hamba di saat tertimpa musibah, sebagaimana ketika dia mendapatkan kenikmatan.”</em> Beliau juga mengatakan, <em>“Maka sabar adalah kewajiban yang selalu melekat kepadanya, dia tidak boleh keluar darinya untuk selama-lamanya. Sabar merupakan penyebab untuk meraih segala kesempurnaan.”</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [11/344]).</p>
<p>Dari Shuhaib <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” </em>(HR. Muslim dalam <em>Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa&#8217;iq</em> [2999])</p>
<p><strong>[5] Kaum Penolak Takdir</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kaum penolak takdir/Qadariyah dapat dibagi menjadi 2:</p>
<ol>
<li>Qadariyah ekstrim yaitu yang mengingkari ilmu Allah terhadap      segala sesuatu sebelum terjadinya. Mereka juga mengingkari apabila      segalanya telah tertulis dalam <em>lauhul mahfuzh</em>. Mereka mengatakan      bahwa Allah memang telah memerintah dan melarang, akan tetapi Allah tidak      mengetahui siapakah yang akan taat dan siapa yang akan bermaksiat.      Sehingga menurut mereka segalanya terjadi begitu saja secara tiba-tiba      tanpa diketahui dan ditakdirkan sebelumnya oleh Allah. Aliran ini bisa      dikatakan telah musnah atau hampir tiada</li>
<li>Qadariyah yang mengakui ilmu Allah mencakup segalanya, akan      tetapi mengingkari takdir Allah terhadap perbuatan hamba. Menurut mereka      perbuatan hamba tercipta secara merdeka sebagai hasil ciptaan mereka      sendiri -bukan atas ciptaan dan kehendak Allah- dan inilah yang dianut      oleh Mu&#8217;tazilah. Kebalikan dari aliran ini adalah kelompok yang ekstrim      dalam menetapkan takdir, sampai-sampai mereka mengatakan bahwa hamba tidak      lagi memiliki kemampuan dan pilihan atas perbuatannya sendiri. Menurut      mereka hamba dalam keadaan <em>mujbar</em>/dipaksa dalam semua perbuatan      mereka. Karena pemikiran itulah mereka disebut dengan Jabriyah (lihat <em>al-Irsyad      ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 341 cet. Dar Ibnu Khuzaimah)</li>
</ol>
<p><strong>[6] Takdir Rahasia Allah</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam waktu yang sangat lama, namun kemudian akhir hidupnya ditutup dengan amalan penduduk surga.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Qadar</em> [2651])</p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;ad as-Sa&#8217;idi <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka dalam pandangan manusia, namun sebenarnya dia adalah penduduk surga.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Jihad wa as-Siyar</em> [2898] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Qadar</em> [112])</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/iman-kepada-takdir.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syahadat Laa Ilaha Illallah</title>
		<link>http://abumushlih.com/syahadat-laa-ilaha-illallah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/syahadat-laa-ilaha-illallah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2012 05:57:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Laa ilaha illallah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2486</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca rahimakumullah, syahadat laa ilaha illallah adalah cabang keimanan yang tertinggi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha &#8230; <a href="http://abumushlih.com/syahadat-laa-ilaha-illallah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsyahadat-laa-ilaha-illallah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsyahadat-laa-ilaha-illallah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } -->Pembaca <em>rahimakumullah</em>, syahadat <em>laa ilaha illallah</em> adalah cabang keimanan yang tertinggi. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [9] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [35], lafal ini milik Muslim)</p>
<p><span id="more-2486"></span>Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa yang paling utama di antara semua cabang itu adalah tauhid; yang hukumnya wajib atas setiap orang, dan tidaklah dianggap sah cabang-cabang iman yang lain kecuali setelah sahnya hal ini.” </em>(lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/88] cet. Dar Ibnul Haitsam)</p>
<p>Syahadat inilah yang kelak akan menyelamatkan seorang hamba di hari kiamat. Maka tidaklah mengherankan jika Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sangat bersemangat untuk mendakwahi pamannya Abu Thalib agar mau mengucapkan kalimat ini sebelum kematiannya. Sa&#8217;id bin al-Musayyab meriwayatkan dari ayahnya, beliau menceritakan: Ketika kematian hendak menghampiri Abu Thalib, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun datang kepadanya. Di sana beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah bin al-Mughirah telah berada di sisinya. Kemudian beliau berkata, <em>“Wahai pamanku. Ucapkanlah laa ilaha illallah; sebuah kalimat yang aku akan bersaksi dengannya untuk membelamu kelak di sisi Allah.”</em> Abu Jahal dan Abdullah bin Umayyah berkata, <em>“Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthallib?”</em>. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terus menerus menawarkan syahadat kepadanya, sedangkan mereka berdua pun terus mengulangi ucapan itu. Sampai akhirnya ucapan terakhir Abu Thalib kepada mereka adalah dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em>&#8230; (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Jana&#8217;iz</em> [1360] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [24])</p>
<p>Tentu saja yang dimaksud orang yang bersyahadat dengan sebenarnya adalah orang yang memahami kandungannya. Oleh sebab itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mempersyaratkan ilmu pada diri orang yang mengucapkan syahadat, jika dia memang ingin masuk ke dalam surga. Dari &#8216;Utsman bin &#8216;Affan <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah, niscaya dia akan masuk ke dalam surga.”</em> (HR. Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [26])</p>
<p>Namun, memahami kandungan syahadat dan mengucapkannya pun belum cukup jika tidak disertai dengan amalan nyata di dalam kehidupan. Oleh sebab itu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mempersyaratkan orang yang ingin masuk surga untuk membersihkan dirinya dari syirik. Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, niscaya dia masuk ke dalam neraka.”</em> Dan aku -Ibnu Mas&#8217;ud- berkata, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti akan masuk surga.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Jana&#8217;iz</em> [1238] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [92])</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Syahadat dengan lisan saja tidak cukup. Buktinya adalah kaum munafik juga mempersaksikan keesaan Allah &#8216;azza wa jalla. Akan tetapi mereka hanya bersaksi dengan lisan mereka. Mereka mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka yakini di dalam hati mereka. Oleh sebab itu ucapan itu tidak bermanfaat bagi mereka&#8230;”</em> (lihat <em>Syarh al-Arba&#8217;in an-Nawawiyah</em>, hal. 23 cet. Dar Tsurayya 1424 H). Ini menunjukkan bahwa  mengucapkan syahadat belum bisa menyelamatkan jika tidak dibarengi dengan keyakinan dan dibuktikan dengan amalan. Meskipun demikian, bukan berarti kita boleh sembarangan mencurigai orang. Sebab yang menjadi patokan adalah apa yang tampak secara lahiriah. Adapun urusan batin kita serahkan kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Marilah, sejenak kita simak kisah Usamah bin Zaid berikut ini&#8230;</p>
<p>Usamah bin Zaid <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> menceritakan: Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengirim kami untuk bertempur melawan kaum Huraqah. Kami pun menggempur mereka dan berhasil membuat mereka kocar-kacir. Aku bersama seorang Anshar mengikuti salah seorang diantara mereka. Tatkala kami berhasil meringkusnya, tiba-tiba dia mengucapkan <em>laa ilaha illallah</em>. Temanku dari kaum Anshar pun menahan diri, sedangkan aku terus menyerangnya dengan tombakku hingga dia tewas. Pada saat kami pulang, kejadian itu dilaporkan kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Maka beliau bersabda, <em>“Wahai Usamah! Apakah kamu membunuhnya padahal dia telah mengucapkan laa ilaha illallah?!”</em>. Aku  menjawab, <em>“Orang itu hanya ingin cari selamat.”</em> Dalam riwayat lain Usamah menjawab, <em>“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia mengucapkan kalimat itu karena takut dari tebasan pedang.”</em> Dalam riwayat lain Nabi bertanya, <em>“Apakah kamu membelah dadanya, sehingga bisa mengetahui apakah dia benar-benar mengucapkannya atau tidak?!” </em>Dalam riwayat lain Nabi berkata,<em> “Apa yang akan kamu lakukan dengan laa ilaha illallah apabila kelak ia datang pada hari kiamat?!”</em>. Nabi terus mengulangi ucapan itu sampai-sampai aku berharap seandainya aku belum masuk Islam sebelum hari itu (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Maghazi</em> [4269] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [96])</p>
<p>Kisah ini menunjukkan kepada kita betapa agung kedudukan kalimat <em>laa ilaha illallah</em>. Apabila seseorang telah mengucapkannya terjagalah darah dan hartanya, kecuali apabila dia melakukan dosa yang sangat besar sehingga menyebabkan dirinya layak untuk diperangi atau ditumpahkan darahnya. Dari Abdullah bin &#8216;Umar <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Aku diperintahkan untuk memerangi umat manusia sampai mereka mempersaksikan laa ilaha illallah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukannya maka mereka telah menjaga dariku darah dan harta mereka, kecuali ada alasan lain yang dibenarkan dalam Islam untuk mengambilnya. Adapun hisab atas mereka itu adalah urusan Allah.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab al-Iman</em> [25] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [22])</p>
<p>Darah seorang muslim haram untuk ditumpahkan kecuali ada sebab yang jelas dan dibenarkan oleh syari&#8217;at dalam menumpahkannya. Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak halal menumpahkan darah seorang muslim yang bersyahadat laa ilaha illallah dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah kecuali dengan salah satu diantara tiga alasan: membalas nyawa dengan nyawa, seorang yang telah menikah namun berzina, dan orang yang meninggalkan agamanya serta memisahkan diri dari jama&#8217;ah/persatuan.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab ad-Diyat</em> [6878] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Qisamah wal Muharibin wal Qishash wad Diyat</em> [1676]</p>
<p>Imam an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Adapun sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8216;orang yang meninggalkan agamanya serta memisahkan diri dari jama&#8217;ah&#8217; maka itu bersifat umum mencakup semua orang yang murtad dari Islam dengan sebab apapun kemurtadannya. Oleh sebab itu wajib membunuhnya jika dia tidak mau kembali kepada Islam. Para ulama mengatakan: Hukum ini juga mencakup setiap orang yang keluar dari jama&#8217;ah (persatuan umat) dengan sebab bid&#8217;ah, pemberontakan, atau karena tindak kejahatan lain yang dia lakukan. Demikian pula termasuk dalam hal ini adalah kaum Khawarij. Wallahu a&#8217;lam.”</em> (<em>Syarh Muslim</em> [6/228])</p>
<p>Seorang khalifah yang lurus, Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> telah menunjukkan kepada kita keteladanan dan keberanian dalam memerangi orang-orang yang secara terang-terangan menghinakan ajaran Islam dan mengingkari syari&#8217;at yang sudah baku. Tatkala sebagian orang arab sepeninggal Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menjadi murtad dan menjadi pengikut nabi palsu -Musailamah al-Kadzdzab dan al-Aswad al-&#8217;Ansi- dan sebagian yang lain masih mengakui kewajiban sholat akan tetapi menolak kewajiban zakat, maka bangkitlah Sahabat Nabi yang mulia ini untuk menumpas pemberontakan mereka.</p>
<p>Sahabat Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> menceritakan: Tatkala Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> wafat kemudian Abu Bakar diangkat menjadi khalifah sesudahnya, maka sebagian orang Arab pun kembali ke dalam kekafiran. &#8216;Umar bin al-Khaththab berkata kepada Abu Bakar, “Bagaimana bisa engkau memerangi orang-orang itu, padahal Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah bersabda, <em>“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan laa ilaha illallah. Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah maka terjaga harta dan nyawanya kecuali ada alasan yang benar untuk mengambilnya. Adapun hisabnya adalah urusan Allah.”</em> Abu Bakar menjawab, <em>“Demi Allah, aku pasti akan memerangi orang-orang yang membeda-bedakan antara sholat dengan zakat, karena zakat adalah kewajiban atas harta. Demi Allah, seandainya mereka menolak menyerahkan kepadaku seutas tali yang dahulu biasa mereka serahkan kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam -di masa beliau masih hidup- niscaya aku akan memerangi mereka karena penolakan itu.”</em> &#8216;Umar bin al-Khaththab berkata, <em>“Demi Allah, tidaklah aku melihatnya kecuali  Allah &#8216;azza wa jalla telah melapangkan dada Abu Bakar untuk berperang. Sehingga aku pun mengetahui bahwa tindakan beliau adalah benar.”</em> (HR. Bukhari dalam <em>Kitab az-Zakah</em> [1399] dan Muslim dalam <em>Kitab al-Iman</em> [20])</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/syahadat-laa-ilaha-illallah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Hakikat Ibadah</title>
		<link>http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 20:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba']]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2484</guid>
		<description><![CDATA[Secara bahasa ibadah bermakna perendahan diri dan ketundukan (Lihat Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 17, at-Tauhid al-Muyassar, hal. 53). Oleh sebab itu orang arab menyebut jalan yang biasa dilalui orang dengan istilah thariq mu&#8217;abbad (Lihat Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim [1/34])). &#8230; <a href="http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengenal-hakikat-ibadah.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fmengenal-hakikat-ibadah.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Secara bahasa ibadah bermakna perendahan diri dan ketundukan (Lihat <em>Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 17, <em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 53).</p>
<p><span id="more-2484"></span></p>
<p>Oleh sebab itu orang arab menyebut jalan yang biasa dilalui orang dengan istilah <em>thariq mu&#8217;abbad </em>(Lihat<em> Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim </em>[1/34])). Yaitu jalan yang telah dihinakan, karena telah banyak diinjak-injak oleh telapak kaki manusia (Lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 34). Sehingga, ibadah bisa diartikan dengan perendahan diri, ketundukan dan kepatuhan (Lihat <em>at-Tanbihat al-Mukhtasharah Syarh al-Wajibat</em>, hal. 28).</p>
<p>Secara terminologi, ada beberapa definisi yang diberikan oleh para ulama tentang makna ibadah, yang pada hakikatnya semua definsi itu saling melengkapi. Di antaranya mereka menjelaskan bahwa ibadah adalah ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya yang disampaikan melalui lisan para rasul-Nya (Lihat <em>Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 17). Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> juga menerangkan bahwa ibadah itu mencakup ketundukan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, serta membenarkan berita yang dikabarkan-Nya (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 45)</p>
<p>Ibnu Juraij <em>rahimahullah</em> mengatakan bahwa ibadah kepada Allah artinya adalah mengenal Allah (Lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [7/327]). Yang dimaksud mengenal Allah di sini adalah mentauhidkan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat tentang perintah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada Mu&#8217;adz sebelum keberangkatannya ke Yaman. Beliau bersabda, <em>“.. Hendaklah yang pertama kali kamu ajak kepada mereka adalah supaya mereka beribadah kepada Allah &#8216;azza wa jalla -dalam riwayat lain disebutkan untuk mentauhidkan Allah-, kemudian apabila mereka sudah mengenal Allah&#8230;”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Nawawi</em> [2/49] cet. Dar Ibnul Haitsam, lihat pula <em>Shahih Bukhari</em> cet. Maktabah al-Iman, tahun 1423 H, hal. 203 dan 1467. Lihat juga <em>Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 80 cet. Dar al-Hadits tahun 1423 H)</p>
<p>Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ibadah adalah puncak perendahan diri yang dibarengi dengan puncak kecintaan. Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Menurut pengertian syari&#8217;at ibadah itu adalah suatu ungkapan yang memadukan antara kesempurnaan rasa cinta, ketundukan, dan rasa takut.”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [1/34]). Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, <em>“Sebagian ulama mendefinisikan ibadah sebagai kesempurnaan rasa cinta yang disertai kesempurnaan sikap tunduk.”</em> (lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 34).</p>
<p>Syaikh Shalih al-Fauzan menegaskan, <em>“Ibadah yang diperintahkan itu harus mengandung unsur perendahan diri dan kecintaan. Ibadah ini mengandung tiga pilar; cinta, harap, dan takut. Ketiga unsur ini harus berpadu. Barangsiapa yang hanya bergantung kepada salah satu unsur saja maka dia belum dianggap beribadah kepada Allah dengan sebenarnya. Beribadah kepada Allah dengan modal cinta saja, maka ini adalah metode kaum Sufi. Beribadah kepada-Nya dengan modal rasa harap semata, maka ini adalah metode kaum Murji&#8217;ah. Adapun beribadah kepada-Nya dengan modal rasa takut belaka, maka ini adalah jalannya kaum Khawarij.”</em> (<em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 35)</p>
<p>Ibadah juga diartikan dengan tauhid. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em> mengenai maksud firman Allah (yang artinya), <em>“Wahai umat manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 21</strong>). Beliau menjelaskan, <em>“Artinya tauhidkanlah Rabb kalian&#8230;”</em> (<em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [1/75])</p>
<p>Di dalam kitabnya <em>al-&#8217;Ubudiyah </em>(Lihat<em> al-&#8217;Ubudiyah, </em>hal. 6 cet. Maktabah al-Balagh, tahun 1425 H), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa perkataan atau perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi (Lihat <em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em>, karya Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 54 cet. al-Maktab al-Islami tahun 1423 H). Dari sini, maka ibadah itu mencakup perkara hati/batin dan juga perkara lahiriyah. Sehingga seluruh ajaran agama itu telah tercakup dalam istilah ibadah (Lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I&#8217;tiqad</em>, hal. 34).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> menerangkan di dalam <em>Syarh Tsalatsat al-Ushul </em>(Lihat<em> Syarh Tsalatsat al-Ushul, </em>hal. 23 cet. Dar al-Kutub al-&#8217;Ilmiyah tahun 1424 H) bahwa pengertian ibadah bisa dirangkum sebagai berikut; suatu bentuk perendahan diri kepada Allah yang dilandasi dengan rasa cinta dan pengagungan dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana yang dituntunkan dalam syari&#8217;at-Nya.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Ibadah dibangun di atas dua perkara; cinta dan pengagungan. Dengan rasa cinta maka seorang akan berjuang menggapai keridhaan sesembahannya (Allah). Dengan pengagungan maka seorang akan menjauhi dari terjerumus dalam kedurhakaan kepada-Nya. Karena kamu mengagungkan-Nya maka kamu pun merasa takut kepada-Nya. Dan karena kamu mencintai-Nya, maka kamu pun berharap dan mencari keridhaan-Nya.”</em> (lihat <em>asy-Syarh al-Mumti&#8217; &#8216;ala Zaad al-Mustaqni&#8217;</em> [1/9] cet. Mu&#8217;assasah Aasam, tahun 1416 H).</p>
<p>Dari pengertian-pengertian di atas paling tidak kita dapat menarik satu kesimpulan penting bahwa sesungguhnya ibadah itu ditegakkan di atas rasa cinta dan pengagungan. Rasa cinta akan melahirkan harapan dan tunduk kepada perintah-Nya, sedangkan pengagungan akan menumbuhkan rasa takut dan mematuhi larangan-larangan-Nya. Selain itu, kita juga bisa mengerti bahwa pelaksanaan ibadah tidak bisa dilakukan secara sembarangan, namun harus mengikuti tuntunan para rasul <em>&#8216;alaihimush sholatu was salam</em>. Dalam konteks sekarang, maka kita semua harus mengikuti petunjuk dan ajaran Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, nabi dan rasul yang terakhir.</p>
<p>Ibadah/amalan akan menjadi benar dan diterima di sisi Allah jika memenuhi 2 syarat; ikhlas dan ittiba&#8217; (Lihat <em>Mazhahiru Dha&#8217;fil &#8216;Aqidah fi Hadzal &#8216;Ashr wa Thuruqu &#8216;Ilajiha</em>, oleh Syaikh Dr. Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em>, hal. 10 cet. Kunuz Isybiliya, tahun 1430 H. Sebagian ulama menambahkan syarat ketiga yaitu aqidah yang benar, sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali dalam <em>Abraz al-Fawa&#8217;id Syarh Arba&#8217; al-Qawaid</em>).</p>
<p>Ikhlas artinya ibadah itu hanya diperuntukkan kepada Allah dan tidak dipersekutukan dengan selain-Nya. Ini merupakan kandungan dari syahadat <em>laa ilaaha illallaah</em>. Lawan dari ikhlas adalah syirik, riya&#8217; dan sum&#8217;ah. <em>Riya&#8217;</em> adalah beribadah karena ingin dilihat orang, sedangkan <em>sum&#8217;ah</em> adalah beribadah karena ingin didengar orang. Ittiba&#8217; maksudnya adalah setia dengan tuntunan/sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, tidak mereka-reka tata cara ibadah yang tidak ada tuntunannya. Ini merupakan kandungan dari <em>syahadat anna Muhammadar rasulullah</em>. Lawan dari <em>ittiba&#8217;</em> adalah <em>ibtida&#8217;</em> atau membuat bid&#8217;ah (Silahkan baca <em>al-Bid&#8217;ah, Dhawabithuha wa Atsaruha as-Sayyi&#8217; fi al-Ummah</em>, oleh Syaikh Dr. Ali bin Muhammad Nashir al-Faqihi <em>hafizhahullah</em>, cet. Jami&#8217;ah al-Islamiyah bil Madinah al-Munawwarah).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. al-Kahfi: 110</strong>). Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa amal salih ialah amalan yang sesuai dengan syari&#8217;at Allah, sedangkan tidak mempersekutukan Allah maksudnya adalah amalan yang diniatkan untuk mencari wajah Allah, inilah dua rukun amal yang akan diterima di sisi-Nya (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [5/154] Baca juga <em>al-Qawa&#8217;id wa al-Ushul aj-Jami&#8217;ah wa al-Furuq wa at-Taqasim al-Badi&#8217;ah an-Nafi&#8217;ah</em> karya Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em>, hal. 40-42 cet. Dar al-Wathan tahun 1422 H).</p>
<p>Sebagaimana orang yang tidak ikhlas amalannya tidak diterima, demikian pula orang yang tidak ittiba&#8217; -alias berbuat bid&#8217;ah- maka amalannya pun tidak diterima. Apalagi orang yang beribadah tanpa keikhlasan dan tanpa ittiba&#8217; (Lihat <em>Bahjat al-Qulub al-Abrar wa Qurratu &#8216;Uyun al-Akhyar Syarh Jawami&#8217; al-Akhbar</em> karya Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em>, hal. 14 cet. Darul Kutub al-Ilmiyah, tahun 1423 H). Oleh sebab itu para ulama, di antaranya Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em> menafsirkan bahwa yang dimaksud <em>ahsanu &#8216;amalan</em> (amal yang terbaik) dalam surat al-Mulk [ayat 2] sebagai amalan yang paling ikhlas dan paling benar (Lihat <em>al-&#8217;Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, hal. 93).</p>
<p>Ikhlas jika dikerjakan karena Allah, sedangkan benar jika dikerjakan dengan mengikuti sunnah/ajaran Nabi (Lihat <em>Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</em>, karya Ibnu Rajab al-Hanbali <em>rahimahullah</em>, hal. 19 cet. Dar al-Hadits, tahun 1418 H). Bukan dengan cara-cara bid&#8217;ah. Bid&#8217;ah adalah tata cara beragama yang diada-adakan dan menyaingi syari&#8217;at, dimaksudkan dengannya untuk berlebih-lebihan dalam ibadah kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> (lihat <em>al-Bid&#8217;ah, Dhawabithuha wa Atsaruha as-Sayyi&#8217; fi al-Ummah</em>, hal. 13). Hal ini memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa syari&#8217;at Islam ini mengatur niat dan cara. Niat yang baik juga harus diwujudkan dengan cara dan sarana yang baik pula (Lihat pula <em>Ighatsat al-Lahfan min Masha&#8217;id asy-Syaithan</em>, karya Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em>, hal. 16 cet. Dar Thaibah, tahun 1426 H). Islam tidak mengenal kaidah ala Yahudi; &#8216;tujuan menghalalkan segala cara&#8217;.</p>
<p>Dengan demikian untuk beribadah dengan baik, seorang muslim harus memadukan antara <em>shihhatil irodah</em> (ketulusan niat) dengan <em>shihhatul fahm</em> (kelurusan pemahaman). Oleh sebab itu Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menyatakan bahwa kedua hal tadi -<em>shihhatul irodah</em> dan <em>shihhatul fahm</em>- merupakan anugrah dan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba. Ketulusan niat terwujud di dalam tauhid dan keikhlasan, sedangkan kelurusan pemahaman terwujud dalam ittiba&#8217; kepada sunnah. Sehingga amat wajar jika para ulama sangat menekankan kedua pokok yang agung ini. Sampai-sampai diriwayatkan bahwa Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> pernah berdoa, <em>“Allahumma ahyinaa &#8216;alal islam, wa amitnaa &#8216;alas sunnah.”</em> Artinya: <em>“Ya Allah, hidupkanlah kami di atas islam (tauhid), dan matikanlah kami di atas Sunnah.”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/mengenal-hakikat-ibadah.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbaiki Tauhid</title>
		<link>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 09:10:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2474</guid>
		<description><![CDATA[Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 16) Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperbaiki-tauhid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fperbaiki-tauhid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p><span id="more-2474"></span></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak/sakit maka sakitlah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah jantung.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong> dari an-Nu&#8217;man bin Basyir <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Oleh sebab itu mendakwahkan tauhid merupakan program yang sangat mulia. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Oleh sebab itu para da&#8217;i yang menyerukan tauhid adalah da&#8217;i-da&#8217;i yang paling utama dan paling mulia. Sebab dakwah kepada tauhid merupakan dakwah kepada derajat keimanan yang tertinggi.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 16)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Iman terdiri dari tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah laa ilaaha illallaah, sedangkan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.”</em> (<strong>HR. Muslim </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Jati diri seorang muslim sangat ditentukan oleh sejauh mana kualitas tauhidnya. Karena tauhid dalam jiwanya laksana pondasi bagi sebuah bangunan. Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan.” </em>(<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manakah yang lebih baik; orang yang menegakkan bangunannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, ataukah orang yang menegakkan bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia pun akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 109</strong>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Hal itu dikarenakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat padanya. Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini -yaitu membangun masjid- dengan keikhlasan yang tertanam di dalam hatinya, maka amalan itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 13)</p>
<p>Tauhid ibarat sebatang pohon. Cabang-cabangnya adalah amalan. Adapun buahnya adalah kebahagiaan hidup di dunia dan kenikmatan tiada tara di akhirat. Demikian pula syirik, dusta dan riya&#8217; seperti sebatang pohon, yang buah-buahnya di dunia adalah cekaman rasa takut, kekhawatiran, sempit dada, dan gelapnya hati. Dan di akhirat nanti pohon yang jelek itu akan membuahkan siksaan dan penyesalan (lihat <em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, </em>hal. 14)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan perumpamaan suatu kalimat yang baik seperti pohon yang indah, pokoknya tertanam kuat -di dalam tanah- sedangkan cabangnya menjulang ke langit.”</em> (<strong>QS. Ibrahim: 24</strong>). Yang dimaksud &#8216;kalimat yang baik&#8217; di dalam ayat ini adalah syahadat <em>laa ilaaha illallaah</em> (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 425)</p>
<p>Saudara-saudaraku, sangat banyak ayat maupun hadits yang menerangkan tentang keutamaan memperbaiki dan mendakwahkan tauhid ini. Tidak sanggup rasanya lisan dan tangan ini untuk menggambarkan betapa agungnya dakwah tauhid ini. Bagaimana tidak? Sementara inilah hak Allah Rabb penguasa alam semesta dan intisari dakwah para Rasul<em> &#8216;alaihimush sholatu was salam</em>!</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, agama yang murni adalah milik Allah.”</em> (<strong>QS. az-Zumar: 2-3</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku adalah orang yang pertama-tama pasrah.” </em>(<strong>QS. al-An&#8217;aam: 162-163</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang rasul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya; Tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” </em>(<strong>QS. al-Anbiyaa&#8217;: 25</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” </em>(<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 23</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Allah pun membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri.” </em>(<strong>QS. al-Hasyr: 19</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tentram.” </em>(<strong>QS. ar-Ra&#8217;d: 28</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Orang yang paling berbahagia dengan syafa&#8217;atku adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dengan ikhlas dari dalam hatinya.”</em> (<strong>HR. Bukhari </strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah laa ilaha illallaah niscaya dia akan masuk surga.” </em>(<strong>HR. Abu Dawud </strong>dari Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>)</p>
<p>Syaikh Abdul Malik Ramadhani <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya seluruh seruan yang ditegakkan dengan klaim ishlah/perbaikan sedangkan ia tidak memiliki pusat perhatian dalam masalah tauhid, tidak pula berangkat dari sana, niscaya dakwah semacam itu akan tertimpa penyimpangan sebanding dengan jauhnya mereka dari pokok yang agung ini. Seperti halnya orang-orang yang menghabiskan umur mereka dalam upaya memperbaiki hubungan antara sesama makhluk semata, akan tetapi hubungan mereka terhadap al-Khaliq -yaitu aqidah mereka- sangat menyelisihi petunjuk salafus shalih.”</em> (<em>Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar</em>, hal. 17)</p>
<p>Maka tidaklah berlebihan jika kita katakan, <em>“Di mana pun bumi dipijak, maka di situlah dakwah tauhid harus ditegakkan!”</em>. Kebahagiaan seperti apakah yang anda idamkan, kejayaan macam apakah yang anda impikan, apabila semangat dakwah tauhid sama sekali tidak bergejolak di dalam hati anda?!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/perbaiki-tauhid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pokok Kebahagiaan</title>
		<link>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 23:36:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitrah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ittiba']]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2468</guid>
		<description><![CDATA[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah [al-Fatawa Juz 14/295-296] menjelaskan : Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan. Pertama; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap &#8230; <a href="http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpokok-kebahagiaan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpokok-kebahagiaan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>[<em>al-Fatawa</em> Juz 14/295-296] menjelaskan :</p>
<p><span id="more-2468"></span></p>
<p>Allah Yang Maha Suci telah memberikan karunia dua perkara agung kepada keturunan Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan.</p>
<p><strong>Pertama</strong>; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap jiwa apabila dibiarkan begitu saja niscaya ia akan mengakui bahwasanya Allah adalah <em>ilah</em>/sesembahan baginya. Ia akan mencintai-Nya dan akan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Akan tetapi karena adanya bisikan setan dari kalangan jin dan manusia satu sama lain itulah yang menyebabkan kebatilan di mata mereka seolah menjadi sesuatu yang tampak indah dan menawan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>; Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah memberikan petunjuk kepada umat manusia dengan bimbingan yang bersifat umum. Sehingga di dalam diri mereka secara fitrah telah terpatri pengenalan -kepada kebenaran- dan sebab-sebab guna meraih ilmu. Setelah itu, Allah pun menurunkan kitab-kitab suci dan mengutus para rasul sebagai pembimbing bagi mereka.</p>
<p>(<em>Mawa&#8217;izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em> karya Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 35)</p>
<p>Dari keterangan Syaikhul Islam di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya sumber kebahagiaan umat manusia adalah<strong> ikhlas</strong> -yaitu beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya- dan <strong><em>ittiba&#8217;</em></strong> -yaitu konsisten dengan ajaran dan petunjuk Rasulullah-, inilah rahasia kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Kedua hal ini pula lah yang terkandung dalam dua kalimat syahadat yang senantiasa kita ucapkan. Dua kalimat yang juga selalu diserukan oleh para mu&#8217;adzin kaum muslimin di berbagai belahan bumi.</p>
<p>Dasar kaidah yang agung ini adalah firman Allah <em>ta&#8217;ala</em> (yang artinya), <em>“Maka barangsiapa yang berharap untuk berjumpa dengan Rabb-nya, hendaklah dia melakukan amal salih, dan janganlah dia mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>QS. al-Kahfi: 110</strong>). Amal yang salih adalah amalan yang sesuai dengan Sunnah/tuntunan Nabi. Adapun amalan yang ikhlas adalah yang semata-mata dipersembahkan untuk Allah. Sebagaimana diterangkan oleh Fudhail bin &#8216;Iyadh <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Dari sinilah kita mengetahui mengapa perhatian para ulama salaf terhadap tauhid dan sunnah sangatlah besar; karena memang kedua hal itulah asas Islam. Dengan memahami tauhid dengan benar maka seorang hamba akan mengerti jalan untuk menggapai ikhlas. Dan dengan memahami sunnah dengan baik maka seorang hamba akan mengerti cara untuk <em>ittiba&#8217;</em> kepada Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Apabila tauhid dan sunnah itu merupakan perkara yang paling mendasar, maka memahami lawan-lawannya pun menjadi perkara yang sangat penting. Karena tidak mungkin seorang mengenal tauhid dengan baik tanpa mengenal lawannya, yaitu syirik. Demikian pula, tidak mungkin seorang mengenal sunnah dengan baik tanpa mengenal lawannya, yaitu bid&#8217;ah.</p>
<p>Maka sungguh sangat aneh jika ada orang yang mengaku muslim akan tetapi sangat alergi membahas tentang syirik dan bid&#8217;ah?! Bahkan, yang lebih aneh lagi adalah sikap sebagian orang yang mencemooh dakwah tauhid dan menjauhkan umat Islam darinya. Dengan bangganya dia menikmati amalan-amalan bid&#8217;ah dan melecehkan dakwah tauhid dengan bahasa-bahasa yang merendahkan para ulama. <em>Subhanallah</em>, tidakkah kita takut akan hukuman-Nya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/pokok-kebahagiaan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wajah Islam Di Indonesia</title>
		<link>http://abumushlih.com/wajah-islam-di-indonesia.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/wajah-islam-di-indonesia.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 23:23:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2451</guid>
		<description><![CDATA[*Sebuah Catatan Untuk Para Cendekiawan Islam sebagai sebuah agama tidak mungkin dipisahkan dari realita hidup bermasyarakat. Mengapa demikian? Tentu saja jelas alasannya; karena Islam itu sendiri hadir di atas muka bumi ini semenjak dulu kala. Dan Islam itulah yang mempersatukan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/wajah-islam-di-indonesia.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwajah-islam-di-indonesia.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwajah-islam-di-indonesia.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><span style="color: #000000;"><strong>*</strong><em>Sebuah Catatan Untuk Para Cendekiawan</em></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Islam sebagai sebuah agama tidak mungkin dipisahkan dari realita hidup bermasyarakat. Mengapa demikian? Tentu saja jelas alasannya; karena Islam itu sendiri hadir di atas muka bumi ini semenjak dulu kala. Dan Islam itulah yang mempersatukan umat manusia sebelum mereka berselisih dan menyempal ke dalam berbagai jalan yang menyimpang.</p>
<p><span id="more-2451"></span></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Manusia itu (dahulunya ) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 213</strong>)</p>
<p>Dalam sebuah riwayat dengan sanad sahih dari Ibnu Abbas yang dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim dan yang lainnya, ketika menjelaskan makna ayat <em>“Manusia itu (dahulunya ) satu umat.” </em>Ibnu Abbas berkata, <em>“Mereka semuanya dahulu berada di atas Islam.”</em> Demikian juga al-Bazzar dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata, <em>“Rentang waktu antara Adam dan Nuh adalah sepuluh kurun/abad. Mereka semuanya berada di atas syari&#8217;at yang benar, kemudian mereka pun berselisih. Setelah itu Allah pun mengutus nabi-nabi.”</em> (lihat <em>Nashihah ila Jama&#8217;ah al-Ikhwan al-Muslimin</em> oleh Syaikh Abdullah al-Ubailan, hal. 1)</p>
<p>Itulah wajah Islam di awal mula sejarah umat manusia di atas muka bumi ini beribu-ribu tahun yang silam. Demikian pula halnya seluruh para nabi yang Allah utus, mereka sepakat dalam asas ajaran Islam yaitu tauhid; mengesakan Allah dalam beribadah. Meskipun dalam tataran syari&#8217;at bisa jadi berlainan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku (Allah), oleh sebab itu sembahlah Aku (saja).”</em> (<strong>QS. al-Anbiya&#8217;: 25</strong>).</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bagi masing-masing umat Kami jadikan syari&#8217;at dan jalan.”</em> (<strong>QS. al-Ma&#8217;idah: 48</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kami segenap para nabi adalah anak-anak sebapak -dengan ibu yang berbeda-, sedangkan agama kami ini adalah sama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh nabi adalah sama yaitu tauhid, meskipun syari&#8217;atnya berlainan (lihat <em>Nashihah ila Jama&#8217;ah al-Ikhwan al-Muslimin</em>, hal. 2)</p>
<p>Orang-orang musyrik pun memahami bahwa maksud dari dakwah para rasul itu adalah supaya masyarakat mengesakan Allah dalam beribadah. Yaitu tidak boleh menujukan ibadah kepada selain Allah, atau mempersekutukan selain-Nya dalam hal ibadah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> menceritakan tanggapan mereka (yang artinya), <em>“Apakah dia -Muhammad-  hendak menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja?!”</em> (<strong>QS. Shaad: 5</strong>). Demikian pula reaksi kaum &#8216;Aad terhadap dakwah Nabi Hud<em> &#8216;alaihis salam</em>. Mereka berkata (yang artinya), <em>“Apakah kamu datang kepada kami agar kami menyembah Allah semata dan meninggalkan apa-apa yang disembah -secara turun temurun- oleh nenek moyang kami?!”</em> (<strong>QS. al-A&#8217;raaf: 70</strong>)</p>
<p>Ayat-ayat di atas menggambarkan kepada kita dengan jelas bahwa reaksi masyarakat yang menentang dakwah para rasul adalah realita di dalam sejarah internasional. Di antara alasan yang kerapkali dibawakan adalah demi mempertahankan warisan budaya nenek moyang [!]. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan apabila dikatakan kepada mereka, &#8216;Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah&#8217;. Mereka menjawab, &#8216;(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).&#8217; Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.”</em> (<strong>QS. al-Baqarah: 170</strong>)</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya yang menggelitik pikiran kita adalah; lalu bagaimana dengan konteks Indonesia? Apakah realita semacam ini juga yang terjadi? Supaya ruang lingkup pembicaraan ini tidak melebar kemana-mana maka marilah kita fokuskan dalam masalah tauhid saja; yang kita semua mengetahui bahwa ini merupakan asas ajaran agama kita.</p>
<p>Adalah sebuah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri bahwa kebudayaan berhala telah berkembang di negeri ini semenjak dahulu kala. Tidak terhitung tempat-tempat yang dianggap keramat, dijadikan sebagai tempat sesaji, demikian pula patung-patung dan candi-candi yang menandai gaya hidup paganisme yang telah mengakar di sebagian masyarakat. Tidak sedikit sosok mistis yang diagung-agungkan dan dianggap memiliki pengaruh terhadap kehidupan. Benda-benda &#8216;sakti&#8217; dan pusaka pun dikeramatkan. Berbagai ritual persembahan pun dilakukan. Entah yang berlokasi di atas gunung, di tengah kota, di pedesaan, sampai pun di pesisir pantai. Tradisi yang erat dengan keyakinan nenek moyang, yang terwarnai oleh kesyirikan (silahkan baca sebuah buku menarik berjudul <em>Bahaya..!!! Tradisi Kemusyrikan Di Sekitar Kita</em> tulisan H. Willyuddin A.R. Dhani, S.Pd)</p>
<p>Sayangnya, sebagian kalangan yang disebut-sebut sebagai intelektual muslim -sadar ataupun tidak- &#8216;menutup-nutupi&#8217; realita pahit ini dengan kedok menjaga kebhinekaan bangsa [?!] Dengan cara-cara yang halus dan samar mereka menolak arus pemurnian yang diserukan oleh para da&#8217;i -di antaranya dipelopori oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, Tuanku Imam Bonjol, dan tokoh yang lainnya- untuk membersihkan kehidupan masyarakat dari berbagai bentuk takhayul, bid&#8217;ah dan churafat (TBC). Yang dalam bahasa kita sekarang bisa diungkapkan dengan slogan <em>&#8216;Memurnikan Aqidah dan Menebarkan Sunnah&#8217;</em>&#8230; Seolah-olah perjuangan yang dilakukan oleh para kyai dan da&#8217;i tersebut adalah gerakan ekstrem yang <strong>agresif, beringas, intoleran, dan penuh kebencian</strong> (lihat tuduhan ini dalam kata pengantar KH. Abdurrahman Wahid; <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 20)</p>
<p>Tidak berhenti di situ saja, mereka -kaum liberal- pun menuduh gerakan dakwah tauhid sebagai proyek Wahabisasi global. Yang kita bicarakan di sini, bukanlah gerakan tarbiyah yang diusung oleh kader-kader salah satu partai politik di negeri ini (tidak perlu kami sebutkan karena sudah sangat populer). Bukan pula gerakan politik ala kelompok dakwah yang senantiasa mendengung-dengungkan khilafah sebagai solusi atas segala problematika umat. Bukan pula sekelompok rakyat sipil yang gemar melakukan penggrebekan tempat-tempat maksiat dengan dalih amar ma&#8217;ruf nahi mungkar. Bukan itu yang kita maksudkan. Pembicaraan mengenai ketiga kelompok itu ada tempatnya tersendiri.</p>
<p>Sesungguhnya yang menjadi sasaran utama serangan propaganda ini adalah dakwah tauhid yang mereka gelari dengan sebutan <strong>Wahabi</strong>. Orang awam tentu akan merasa ngeri dengan istilah-istilah menakutkan yang dimunculkan oleh para pengusung pemikiran liberal ini. Di antara istilah yang sering dipakai adalah istilah <strong>kelompok garis keras</strong>. Gus Dur berkata, <em>“&#8230;Kami berpedoman pada paham Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah, sementara mereka -kelompok garis keras- mewarisi kebiasaan ekstrem Khawarij yang gemar mengkafirkan dan memurtadkan siapa pun yang berbeda dari mereka, kebiasaan buruk yang dipelihara oleh Wahabi dan kaki tangannya.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 21-22). Di bagian lain dari buku ini pun mereka mengamini penyebutan Wahabi sebagai <strong>reinkarnasi <em>Khawarij</em></strong> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 100)</p>
<p>Bukan itu saja tuduhan yang mereka lemparkan. Dengan begitu berapi-apinya mereka menjauhkan umat dari dakwah tauhid ini dengan dalih menyelamatkan umat dari cengkeraman <strong>Wahabisasi Global</strong> dan dalam rangka mengembalikan kemuliaan dan kehormatan Islam yang telah ternodai. Gus Dur kembali melemparkan fitnahnya, <em>“&#8230; Arus dana Wahabi yang tidak hanya membiayai terorisme tetapi juga penyebaran ideologi dalam usaha wahabisasi global juga nyaris luput dari perhatian publik. Selama ini, arus dana Wahabi ke Indonesia tidak mendapat perhatian publik secara serius, padahal dari sinilah fenomena infiltrasi -penyusupan- paham garis keras memperoleh dukungan dan dorongan yang luar biasa kuat sehingga menjadi bisnis yang menguntungkan banyak agennya.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 36)</p>
<p>Di dalam catatan kaki buku tersebut pun disebutkan sebuah &#8216;berita&#8217; yang terkesan sangat mengerikan dan mengancam umat Islam di berbagai belahan penjuru dunia. Dalam hal ini mereka telah berterus terang bahwa yang mereka maksud dengan Wahabi itu adalah Arab Saudi. Mereka berkata, <em>“Aktivitas Saudi di Indonesia hanya merupakan bagian kecil dari kampanye senilai US $ 70.000.000.000,- selama kurun waktu antara 1979-2003 untuk menyebarkan sekte fundamentalis Wahabi di seluruh dunia. Usaha-usaha dakwah Wahabi yang terus meningkat ini merupakan “kampanye propaganda terbesar di seluruh dunia yang pernah dilakukan -anggaran propaganda Soviet pada puncak Perang Dingin menjadi sangat kecil dibandingkan belanja propaganda Wahabi ini.”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39). Tidak aneh jika mereka terkesan menyejajarkan &#8216;bahaya&#8217; Wahabi ini dengan bahaya laten Komunis! Gus Dur menyebut Wahabisasi sebagai gerakan yang merusak Islam Indonesia yang spiritual, toleran, dan santun, dan mengubah Indonesia sesuai dengan ilusi mereka tentang negara Islam yang di Timur Tengah pun tidak ada [?] (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39).</p>
<p>Gus Dur juga berkata, <em>“Dengan balutan jubah dan jenggot Arab yang ditampilkan, yang oleh beberapa pihak telah dipandang lebih tampak seperti preman berjubah, mereka ingin menunjukkan seolah-olah pandangan ekstrem yang mereka teriakkan dan paksakan memang benar-benar merupakan pesan Islam yang harus diperjuangkan. Padahal, mereka merusak agama Islam dan bertanggung jawab atas banyaknya kekerasan yang mereka lakukan atas nama Islam di Indonesia dan seluruh dunia. Dan kita sebagai umat Islam harus menanggung malu atas perbuatan mereka.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 39). Semakin lengkap sudah gelaran buruk yang disematkan oleh mereka kepada Wahabi agar umat benar-benar menjauhi dakwah mereka&#8230;</p>
<p>Para peneliti yang menulis buku tersebut ingin menjelaskan kepada kita apa sesungguhnya yang mereka maksud dengan istilah Wahabi. Coba kita simak propaganda mereka! Dengan fasihnya mereka berkata, <em>“Wahabi adalah sebuah sekte keras dan kaku pengikut Muhammad ibn &#8216;Abdul Wahhab.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 62). Di bagian lain buku ini, mereka semakin mempertegas bahwa yang mereka maksud dengan Wahabi tidak lain adalah <strong>Salafi</strong> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 95). Apa yang tertanam dalam pikiran orang yang membaca definisi di atas? Ya&#8230; Wahabi itu keras dan kaku&#8230; Betapa keji tuduhan yang mereka lemparkan! Mereka juga mengatakan, <em>“Islam yang sangat apresiatif dan penuh perasaan dalam merespon permasalahan umat, di tangan Ibn &#8216;Abdul Wahhab berubah menjadi tak peduli, keras, dan tak berperasaan.”</em> (<em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 63)</p>
<p>Demikianlah, kedustaan seolah-olah telah menjadi sedemikian murah-meriah bagi para pengusung pemikiran liberal ini. Dengan entengnya mereka mengatakan tentang Wahabi, <em>“Setiap Muslim yang tidak mempunyai pemahaman dan praktik ajaran Islam yang persis seperti Wahabi dianggap murtad, karenanya perang dibolehkan, atau bahkan diwajibkan, terhadap mereka&#8230;”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 67). <em>Maha suci Allah, sungguh ini adalah kedustaan yang sangat besar!</em></p>
<p>Sudah banyak bantahan ilmiah dan santun untuk tuduhan-tuduhan &#8216;emosional&#8217; semacam ini. Padahal, dakwah salafiyah beserta para ulamanya -yang dijuluki &#8216;Wahabi&#8217; dalam rangka membuat orang lari darinya- berlepas diri dari segala tuduhan keji tersebut. Salafiyah itu sendiri adalah ajaran yang diwariskan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya. Sebuah ajaran yang menebarkan rahmat bagi semesta alam. Ajaran yang memberikan bimbingan bagi umat manusia dalam segala sudut kehidupan. Ajaran yang sempurna, yang diturunkan oleh Rabb penguasa alam semesta.</p>
<p>Erat kaitannya dengan tema awal tulisan ini, yaitu menyoroti dakwah tauhid sebagai seruan yang mendapatkan penentangan dari umat para rasul, dan apakah fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Maka, perkenankanlah kami untuk menunjukkan kepada segenap pembaca sebuah penafsiran aneh bin ajaib yang dilakukan oleh para penyusun buku <em>Ilusi</em> yang telah berulang kali kita singgung dalam tulisan ini. Sebuah penafsiran yang lebih tepat disebut sebagai pemerkosaan terhadap dalil agama yang suci dan suatu kekeliruan fatal dalam memahami maksud firman Allah dan sabda Nabi-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Satu bukti ini saja sudah cukup membuktikan kepada kita seperti apa sebenarnya pemahaman mereka tentang aqidah Islam. <em>Allahul musta&#8217;aan</em>&#8230;</p>
<p>Mereka -dengan tanpa rasa malu- memberikan penjelasan sebagai berikut: “Dalam hubungannya dengan agama-agama lain, dengan indah Nabi -<em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, pen</em>- menuturkan, <em>“Nahnu abna&#8217;u &#8216;allat, abuna wahid wa ummuna syatta”</em> (Kami [para rasul] adalah anak-anak para istri dari seorang laki-laki, ayah kami satu namun ibu kami banyak). Dalam keluarga umat manusia, para rasul mempunyai ayah (agama) yang sama yakni Islam (dalam arti berserah diri kepada Tuhan), namun mempunyai ibu (<em>syi&#8217;rah wa minhaj</em>) yang banyak/berbeda-beda.” Kemudian mereka menyimpulkan hadits itu dengan licik, <em>“Ini adalah pengakuan atas pluralisme, dan inilah yang ditolak oleh kelompok garis keras.”</em> (lihat <em>Ilusi Negara Islam</em>, hal. 102-103)</p>
<p>Penjelasan di atas mengandung banyak kontradiksi dan kerancuan, di antaranya:</p>
<p><strong>Kerancuan Pertama:</strong></p>
<p>Mereka membawakan hadits tersebut dalam konteks hubungan Islam dengan agama-agama lain. Padahal, sebagaimana bisa kita saksikan bersama bahwa sesungguhnya hadits tersebut tidak membicarakan hubungan antara Islam dengan agama-agama lain. Karena sebagaimana disebutkan dalam hadits ini -mungkin mereka enggan untuk menampilkannya secara tegas dan lengkap- bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Agama kami -para rasul- adalah satu.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Dari sini kita mengetahui bahwa hadits ini berbicara mengenai agama para nabi itu adalah Islam, walaupun syari&#8217;atnya berlainan, namun pokoknya adalah sama yaitu tauhid (silahkan baca juga <strong>QS. an-Nahl: 36</strong>). Jadi, hadits ini bukan berbicara tentang agama selain Islam.</p>
<p><strong>Kerancuan Kedua:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Penyelewengan penafsiran di atas tidak lain muncul dari kerancuan mereka dalam memahami makna Islam. Oleh sebab itu mereka memberikan penjelasan di dalam tanda kurung tentang Islam yang menjadi agama para rasul itu, dalam pandangan mereka. Islam, dalam arti <strong>berserah diri kepada Tuhan</strong>, demikian penafsiran mereka. Inilah kebiasaan buruk para pemuja pemikiran liberal! Mereka menuduh orang lain kaku dan tekstualis dalam menafsirkan dalil. Sementara dalam kasus-kasus tertentu, mereka justru lebih tekstualis dan lebih kaku dalam memahami dalil.</p>
<p>Lihatlah, dalam memaknai Islam di sini mereka mencukupkan diri dengan makna bahasanya saja. Yaitu Islam dengan pengertian berserah diri kepada Tuhan, sebuah penafsiran yang teramat sempit dan bahkan tidak jelas. Konsekuensi dari penafsiran mereka ini adalah pemeluk agama apa pun adalah muslim, selama mereka berserah diri kepada Tuhan. Padahal, kalau kita mau sedikit saja membuka cakrawala, menelaah ayat-ayat dan hadits-hadits lain, atau kalau sempat <em>ya</em> membaca tafsir para ulama kita terdahulu, akan tampak dengan jelas bagi kita bahwa yang dimaksud dengan Islam di sini bukan sekedar berserah diri kepada Tuhan!</p>
<p>Dalam al-Qur&#8217;an, ayat semacam itu banyak kita temukan. Di antaranya sudah kami sebutkan di depan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku (Allah), oleh sebab itu sembahlah Aku (saja).”</em> (<strong>QS. al-Anbiya&#8217;: 25</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat, seorang rasul -yang mengajak-; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut/sesembahan selain Allah.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima, dan dia di akhirat akan termasuk orang-orang yang merugi.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 85</strong>)</p>
<p>Demikian pula di dalam hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, akan kita temukan penjelasan-penjelasan yang gamblang tentang apa hakikat dari Islam yang sekarang ini diwajibkan -bukan dipaksakan- oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em> kepada umat manusia. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang pun di antara umat ini yang mendengar kenabianku, entah dia beragama Yahudi atau Nasrani, kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak mengimani ajaran [Islam] yang aku bawa, kecuali dia pasti termasuk penghuni Neraka.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Demikian pula ketika Jibril datang kepada Nabi kemudian menanyakan tentang makna Islam, Iman, dan Ihsan. Semuanya telah diterangkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan gamblang. Sudah selayaknya para cendekiawan itu kembali merenungi perkataan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan lebih mempercayainya daripada ucapan kaum Orientalis dan para pakar filsafat yang senantiasa dirundung oleh keragu-raguan.</p>
<p>Demikian pula di dalam tafsir para ulama tentang <em>Shirathal Mustaqim</em> (jalan yang lurus). Akan kita dapati bahwa hakikat jalan yang lurus itu -pada zaman kita sekarang ini- hanya ada pada agama Islam yang diajarkan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Di antara penafsiran <em>Shirathul Mustaqim</em> yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir adalah: [1] Mengikuti Allah dan Rasul, [2] Ibnu Abbas menjelaskan bahwa jalan yang lurus itu adalah Kitabullah (al-Qur&#8217;an), [3] Ibnu Abbas, Ibnu Mas&#8217;ud dan para sahabat yang lain mengatakan bahwa maksudnya adalah agama Islam, [4] Mujahid menafsirkan jalan yang lurus itu dengan kebenaran, [5] Menurut Abul &#8216;Aliyah, maksudnya adalah jalan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan kedua sahabatnya -Abu Bakar dan Umar-. Semua penafsiran ini adalah benar dan tidak bertentangan. Bahkan, di dalam hadits yang sahih telah ditegaskan oleh Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa Yahudi sebagai golongan yang dimurkai/<em>al-maghdhubi &#8216;alaihim</em>, sedangkan Nasrani sebagai golongan yang sesat/<em>adh-dhallin</em> (lihat <em>Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim</em> [1/36-39])</p>
<p><strong>Kerancuan Ketiga:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mereka -setelah terjatuh dalam berbagai kerancuan- akhirnya menarik sebuah kesimpulan yang merupakan komplikasi akibat kerancuan-kerancuan yang mengendap sebelumnya, bahwa hadits tersebut -para nabi itu saudara seayah dan berbeda ibu- menjadi sebuah pengakuan (pembenaran) atas pluralisme yang mereka gembar-gemborkan dengan segala pengorbanan. Sungguh memalukan, sekaligus realita yang teramat pahit dan memilukan! Lalu siapakah sebenarnya orang yang rela menjual agamanya kalau demikian kenyataannya?</p>
<p>Sebagai penutup, ada sedikit pesan untuk para pemuda yang begitu bersemangat membela Islam dan bertekad untuk menerapkannya di segala lini kehidupan namun tidak mengikuti manhaj Salafus Shalih dalam dakwahnya. Ketahuilah, bahwa kesan negatif yang muncul mengenai dakwah Islam itu -berupa kekerasan dan sikap-sikap yang tidak bijak- adalah realita yang tidak bisa kita pungkiri muncul dari sebagian kaum muslimin yang tidak paham terhadap ajaran agamanya. Padahal, jika kita tulus dan serius mengikuti jalan tauhid ini niscaya kita akan menemukan wajah Islam yang sesungguhnya. Wajah yang mulia dan membuat bangga pemeluknya. <em>Allahul musta&#8217;aan</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/wajah-islam-di-indonesia.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (5)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 17:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2449</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Dakwah Kepada Syahadat Laa ilaaha illallaah Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak [kalian] kepada Allah di atas bashirah/ilmu.” (QS. Yusuf: 108) Dari Ibnu Abbas radhiyallahu&#8217;anhuma, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-5.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-5.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Dakwah Kepada Syahadat Laa ilaaha illallaah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak [kalian] kepada Allah di atas bashirah/ilmu.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 108</strong>)</p>
<p><span id="more-2449"></span></p>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu&#8217;anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ketika hendak mengutus Mu&#8217;adz ke Yaman bersabda kepadanya, <em>“Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum Ahlil Kitab, hendaklah yang pertama kali kamu dakwahkan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallaah.”</em> Dalam riwayat lain disebutkan, <em>“Supaya mereka mentauhidkan Allah.”</em> <em>“Kemudian, apabila mereka mematuhimu untuk itu maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam. Lalu apabila mereka telah mematuhimu untuk itu, sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sedekah/zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan untuk orang-orang miskin di antara mereka. Lalu apabila mereka mematuhimu untuk itu, maka jauhilah harta-harta terbaik mereka dan berhati-hatilah dari doanya orang yang terzalimi; karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara dia dengan Allah.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>)</p>
<p>Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda pada peperangan Khaibar, <em>“Sungguh besok akan aku berikan bendera ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan rasul-Nya dan dia dicintai Allah dan rasul-Nya. Melalui kedua tangannyalah Allah akan berikan kemenangan.”</em> Maka orang-orang pun memperbincangkan hal itu semalaman. Siapakah kira-kira yang akan mendapatkan bendera itu. Di pagi harinya mereka bergegas menemui Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Mereka semua ingin mendapatkan bendera itu. Beliau pun bersabda, <em>“Dimana Ali bin Abi Thalib?”</em>. Ada yang menjawab, <em>“Kedua matanya sedang sakit.”</em> Maka mereka pun mengutus orang untuk menjemputnya. Ketika dia sudah datang maka Nabi pun meludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya. Setelah itu dia pun sembuh, seolah-olah sebelumnya dia tidak menderita sakit sama sekali. Kemudian Nabi memberikan bendera itu kepadanya. Beliau berpesan, <em>“Berangkatlah dengan tenang sampai kamu tiba di medan perang mereka. Kemudian ajaklah mereka untuk memeluk Islam. Sampaikan kepada mereka kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada Allah ta&#8217;ala di dalam Islam. Demi Allah, apabila Allah memberikan petunjuk kepada seorang saja dengan perantara dirimu maka itu jauh lebih baik daripada onta-onta merah.”</em> Mereka &#8216;memperbincangkan&#8217;, maksudnya &#8216;mendiskusikan&#8217; hal itu.</p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Dakwah -mengajak orang- kepada [agama] Allah merupakan jalan      pengikut Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
<li>Peringatan untuk senantiasa memperhatikan keikhlasan; karena      banyak orang yang berdakwah kepada kebenaran, akan tetapi sebenarnya dia      mengajak demi kepentingan dirinya sendiri</li>
<li><em>Bashirah</em>/ilmu -dalam dakwah-      merupakan sesuatu yang wajib dimiliki</li>
<li>Salah satu pertanda keindahan tauhid tatkala tauhid itu menjaga      kesucian Allah <em>ta&#8217;ala</em> dari segala bentuk celaan</li>
<li>Salah satu bukti keburukan syirik adalah karena ia merupakan      bentuk celaan kepada Allah</li>
<li>Salah satu pelajaran terpenting, bahwa harus menjauhkan orang      muslim dari golongan orang-orang musyrik; agar dia tidak ikut menjadi      bagian dari mereka, meskipun dia tidak sampai berbuat kesyirikan</li>
<li>Tauhid merupakan kewajiban yang paling pertama</li>
<li>Tauhid lebih didahulukan dari segalanya, termasuk sholat      sekalipun</li>
<li>Makna &#8216;supaya mereka mentauhidkan Allah&#8217; sama dengan makna      syahadat laa ilaaha illallaah</li>
<li>Bisa jadi seorang termasuk kalangan orang yang memiliki suatu      kitab suci akan tetapi dia sendiri tidak memahami kitabnya, atau dia      mengetahui ajarannya akan tetapi tidak mengamalkannya</li>
<li>Perlu diperhatikan bahwa hendaknya bertahap dalam melakukan      pengajaran</li>
<li>Memulai sesuatu dengan yang terpenting sebelum yang lain</li>
<li>Sasaran pembagian zakat</li>
<li>Seorang yang berilmu menyingkap kerancuan (syubhat) yang ada      pada pelajar</li>
<li>Larangan memungut zakat dari jenis harta yang terbaik</li>
<li>Hendaknya menjauhi doanya orang yang terzalimi</li>
<li>Berita bahwa doa orang yang terzalimi itu tidak terhalang</li>
<li>Salah satu pertanda -beratnya perjuangan- tauhid adalah      kesusahan, kelaparan, dan musibah yang menimpa pemimpin para rasul dan      wali-wali Allah</li>
<li>Sabda beliau &#8216;Aku akan memberikan bendera ini&#8217; dst merupakan      salah satu tanda kenabian</li>
<li>Beliau meludahi kedua mata Ali, ini juga termasuk      tanda/mukjizat kenabian</li>
<li>Keutamaan Ali <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em></li>
<li>Keutamaan para sahabat yang mendiskusikan hal itu semalaman      sampai-sampai mereka hampir tidak peduli dengan berita kemenangan perang</li>
<li>Iman kepada takdir, karena bendera itu diperoleh orang yang      tidak berupaya mendapatkannya sedangkan orang yang berupaya justru tidak      mendapatkannya</li>
<li>Hendaknya menjaga adab, sebagaimana disebutkan dalam hadits <em>&#8216;berangkatlah      dengan tenang&#8217;</em></li>
<li>Dakwah kepada Islam didahulukan sebelum perang</li>
<li>Hal itu [dakwah] disyariatkan bagi kaum yang telah didakwahi      sebelumnya dan diperangi</li>
<li>Berdakwah dengan hikmah, berdasarkan sabda beliau, <em>“Sampaikan      kepada mereka kewajiban yang harus mereka tunaikan.”</em></li>
<li>Mengetahui hak Allah yang harus ditunaikan di dalam Islam</li>
<li>Pahala -yang besar- bagi orang yang menjadi perantara orang      lain -walaupun hanya satu- sehingga mendapatkan hidayah</li>
<li>Bolehnya bersumpah tatkala berfatwa (bukan karena diminta      bersumpah)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-5.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (4)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 17:50:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Riya']]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2447</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Takut Terjerumus Syirik Allah &#8216;azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. an-Nisaa&#8217;: 116) &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-4.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-4.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Takut Terjerumus Syirik</strong></p>
<p>Allah <em>&#8216;azza wa jalla</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 116</strong>)</p>
<p><span id="more-2447"></span></p>
<p><em>al-Khalil</em> (Kekasih Allah, Ibrahim)<em> &#8216;alaihis salam</em> berkata (yang artinya), <em>“(Ya Allah) Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada berhala.”</em> (<strong>QS. Ibrahim: 35</strong>)</p>
<p>Di dalam sebuah hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.”</em> Beliau pun ditanya apa maksudnya. Maka beliau menjawab, <em>“Riya&#8217;.”</em></p>
<p>Dari Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mati dalam keadaan berdoa kepada sesembahan selain Allah maka dia masuk Neraka.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Dalam riwayat Muslim, dari Jabir, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang bertemu Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya niscaya dia masuk Surga. Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya niscaya dia akan masuk Neraka.”</em></p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Takut terjerumus syirik</li>
<li>Riya&#8217; termasuk syirik</li>
<li>Riya&#8217; itu termasuk syirik kecil</li>
<li>Syirik kecil ini sangat dikhawatirkan menimpa orang-orang salih</li>
<li>Dekatnya Surga dan Neraka</li>
<li>Penggabungan kedekatan jarak antara keduanya (Surga dan Neraka)      di dalam hadits yang sama</li>
<li>Barangsiapa yang bertemu Allah dalam keadaan berbuat syirik      maka dia masuk Neraka, meskipun dia adalah orang yang paling rajin      beribadah</li>
<li>Perkara yang sangat agung yaitu permintaan/doa al-Khalil (Nabi      Ibrahim) demi keselamatan dirinya dan anak keturunannya agar terjaga dari      penyembahan kepada berhala</li>
<li>Ibrahim pun mempertimbangkan kondisi kebanyakan orang -yang      bisa mengancam keselamatan dirinya- sebagaimana disebutkan dalam doanya      (yang artinya), <em>“Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah      menyesatkan banyak manusia.” </em>(<strong>QS. Ibrahim: 35</strong>)</li>
<li>Di dalamnya terkandung tafsiran laa ilaaha illallaah,      sebagaimana disebutkan oleh Bukhari</li>
<li>Keutamaan orang yang selamat dari syirik</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-4.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Tauhid (3)</title>
		<link>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 17:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaidah Penting]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Ruqyah]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2445</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Barang Siapa Merealisasikan Tauhid Niscaya Dia Akan Masuk Surga Tanpa Hisab Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin teladan, senantiasa patuh kepada Allah, cenderung kepada tauhid, dan dia tidak termasuk &#8230; <a href="http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-3.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkitab-tauhid-3.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Barang Siapa Merealisasikan Tauhid Niscaya Dia Akan Masuk Surga Tanpa Hisab</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin teladan, senantiasa patuh kepada Allah, cenderung kepada tauhid, dan dia tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 120</strong>)</p>
<p><span id="more-2445"></span></p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan orang-orang yang kepada Rabb mereka, mereka itu tidaklah mempersekutukan.”</em> (<strong>QS. al-Mu&#8217;minun: 59</strong>)</p>
<p>Dari Hushain bin Abdurrahman. Dia berkata: Suatu ketika aku bersama Sa&#8217;id bin Jubair, dia berkata, <em>“Siapakah di antara kalian yang tadi malam melihat ada bintang jatuh?”</em>. Aku menjawab, <em>“Aku.”</em> Lalu aku katakan, <em>“Adapun aku, ketika itu aku bangun bukan karena sedang sholat. Akan tetapi aku tersengat binatang berbisa.”</em> Dia bertanya, <em>“Lalu apa yang kamu lakukan?”</em>. Aku menjawab, <em>“Aku meminta ruqyah.” Dia bertanya, “Apa yang mendasari kamu melakukan hal itu?”</em>. Aku jawab, <em>“Ada sebuah hadits yang disampaikan kepadaku oleh asy-Sya&#8217;bi.”</em> Dia bertanya, <em>“Hadits apa yang dia sampaikan kepada kalian?”</em>. Aku menjawab: Dia menuturkan kepada hadits dari Buraidah bin al-Hushaib, bahwa Nabi bersabda, <em>“Tidak ada ruqyah -yang lebih manjur- daripada untuk mengobati &#8216;ain/mata jahat atau tersengat binatang berbisa.”</em> Dia -Sa&#8217;id bin Jubair- berkata: “Sungguh baik orang yang telah mengikuti dalil yang telah dia dengar. Akan tetapi, Ibnu &#8216;Abbas telah menuturkan hadits kepada kami dari Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda: “Ditampakkan kepadaku umat-umat. Di sana aku melihat ada seorang nabi bersama dengan sekelompok orang pengikut. Ada pula seorang nabi yang disertai oleh satu atau dua orang. Bahkan, ada nabi yang tidak disertai oleh seorang pengikut pun. Kemudian tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok besar manusia. Aku menyangka bahwa mereka itu adalah umatku. Dikatakan kepadaku, <em>“Ini adalah Musa bersama dengan kaumnya.”</em> Kemudian aku memandang lagi, ternyata ada sekelompok besar manusia. Dikatakan kepadaku, <em>“Inilah umatmu. Bersama dengan mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.”</em> Kemudian beliau -Nabi- bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang pun membicarakan hal itu. Sebagian mereka berkata, <em>“Barangkali mereka itu adalah para sahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</em> Sebagian lagi mengatakan, <em>“Barangkali mereka itu adalah orang-orang yang dilahirkan di lingkungan Islam dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah sama sekali.”</em> Mereka pun menyebutkan kemungkinan sebab-sebab yang lain. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun keluar menemui mereka. Mereka menyampaikan masalah itu kepada beliau. Maka beliau bersabda, <em>“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak minta diobati dengan kay/besi panas, tidak beranggapan sial/tathayyur, dan bertawakal hanya kepada Rabb mereka.” </em>Bangkitlah &#8216;Ukkasyah bin Mihshan, dia berkata, <em>“Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk golongan itu.”</em> Beliau menjawab, <em>“Ya, kamu termasuk golongan itu.”</em> Lalu ada seorang lelaki yang bangkit dan berkata, <em>“Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk golongan itu.”</em> Beliau pun menjawab, <em>“Kamu sudah didahului oleh &#8216;Ukkasyah.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pelajaran dari bab ini:</p>
<ol>
<li>Mengetahui berbagai tingkatan orang dalam bertauhid</li>
<li>Maksud dari merealisasikan tauhid</li>
<li>Pujian Allah kepada Ibrahim sebagai sosok yang tidak termasuk      golongan orang musyrik</li>
<li>Pujian Allah kepada para pemimpin wali-wali Allah yang bersih      dari syirik</li>
<li>Tidak meminta ruqyah dan tidak berobat dengan kay merupakan      bentuk perealisasian tauhid</li>
<li>Karakter utama yang memadukan ciri-ciri tersebut adalah tawakal</li>
<li>Kedalaman ilmu para sahabat, karena mereka mengerti bahwa      kemuliaan itu tidak akan bisa dicapai tanpa amal</li>
<li>Besarnya semangat para sahabat terhadap kebaikan</li>
<li>Keutamaan umat ini dari sisi kuantitas maupun kualitas</li>
<li>Keutamaan para sahabat Musa</li>
<li>Ditampakkannya umat-umat kepada Nabi <em>&#8216;alaihish sholatu was      salam</em></li>
<li>Setiap umat akan dikumpulkan -di hari kiamat- bersama nabinya      masing-masing</li>
<li>Sedikitnya jumlah orang yang menerima dakwah nabi-nabi</li>
<li>Nabi yang tidak memiliki pengikut maka dia akan datang      sendirian pada hari kiamat</li>
<li>Buah ilmu ini, yaitu tidak perlu terpedaya dengan jumlah yang      banyak, dan tidak perlu merasa kecewa akibat jumlah yang sedikit</li>
<li>Keringanan untuk ruqyah dalam rangka penyembuhan &#8216;ain dan      tersengat binatang berbisa</li>
<li>Kedalaman ilmu salaf, hal itu tampak dari ucapannya, <em>“Sungguh      baik orang yang mengikuti dalil yang dia dengar. Akan tetapi demikian&#8230;” </em>Beliau      -Sa&#8217;id bin Jubair- mengetahui bahwa hadits yang pertama tidaklah      bertentangan dengan hadits yang kedua</li>
<li>Jauhnya salaf dari memuji orang dengan sesuatu yang tidak ada      pada dirinya</li>
<li>Dalam<em> </em>sabda beliau, <em>“Kamu termasuk dalam golongan      itu.”</em> merupakan salah satu tanda kenabian</li>
<li>Keutamaan &#8216;Ukkasyah</li>
<li>Penggunaan sindiran</li>
<li>Keluhuran akhlak Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/kitab-tauhid-3.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

