<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Teroris</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/teroris/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 07:31:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Aktifis Pengajian Identik Dengan Teroris?</title>
		<link>http://abumushlih.com/aktifis-pengajian-identik-dengan-teroris.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/aktifis-pengajian-identik-dengan-teroris.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 00:56:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[al-Qaeda]]></category>
		<category><![CDATA[Dulmatin]]></category>
		<category><![CDATA[Ijtihad]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[Pengeboman]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[Takfir]]></category>
		<category><![CDATA[Teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1618</guid>
		<description><![CDATA[Apabila kita cermati munculnya fenomena aliran dan pemahaman yang menyimpang di kalangan umat Islam -seperti halnya kasus yang sedang banyak dibicarakan yaitu tentang terorisme berkedok jihad- boleh jadi akan banyak orang yang merasa heran bercampur kebingungan. Bagaimana bisa orang yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/aktifis-pengajian-identik-dengan-teroris.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Faktifis-pengajian-identik-dengan-teroris.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Faktifis-pengajian-identik-dengan-teroris.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Apabila kita cermati munculnya fenomena aliran dan pemahaman yang  menyimpang di kalangan umat Islam -seperti halnya kasus yang sedang  banyak dibicarakan yaitu tentang <strong>terorisme berkedok jihad</strong>- boleh jadi  akan banyak orang yang merasa heran bercampur kebingungan. Bagaimana  bisa orang yang dikenal rajin beribadah, aktif mengikuti kegiatan  keagamaan, dan menunjukkan semangat yang tinggi dalam berislam ikut  terseret dalam pemahaman yang sesat?</p>
<p><span id="more-1618"></span>Jawabannya tentu tidak sulit. Sebab bagaimana pun juga semangat  keberagamaan yang tidak dilandasi dengan ilmu yang benar tidaklah  mencukupi. Bahkan hal itu bisa membahayakan diri sendiri serta orang  lain. Oleh sebab itu, sebagian ulama salaf  memperingatkan, <em>“Barang  siapa yang <a href="http://abumushlih.com/pengertian-ibadah.html/" target="_blank">beribadah</a> kepada Allah tanpa <a href="http://abumushlih.com/keagungan-ilmu.html/" target="_blank">ilmu</a>, maka apa yang dirusaknya  lebih banyak daripada yang diperbaiki.”</em></p>
<p>Nah, mungkin ada orang yang mengatakan, <em>“Bukankah mereka itu juga  mempelajari al-Qur’an dan hadits, bahkan sudah jadi ustadz. Lalu di mana  letak kesalahannya?”</em></p>
<p>Saudaraku sekalian, semoga Allah menambahkan kepada kita curahan  petunjuk dan bimbingan-Nya. Seringkali kita lihat bahwa ternyata  orang-orang yang menyimpang itu juga membawakan dalil ayat ataupun  hadits untuk membela kekeliruan mereka. Sehingga orang yang tidak paham  bisa saja akan mengiyakan dan minimal ‘memaklumi’ apa yang mereka  lakukan. Apalagi kalau yang berbicara adalah sosok yang dianggap sebagai  kyai dan ditokohkan oleh banyak orang. Sederhana saja, dia cukup  mengatakan bahwa itu <em>‘kan</em> hasil ijtihad mereka, dan orang yang  berijtihad itu meskipun salah ya tetap berpahala. Intinya mereka yang  melakukan bom bunuh diri dan peledakan gedung itu tidak boleh  disalahkan. <em>Lha wong mereka itu mujahid kok</em>, itulah inti yang dia  maksudkan.</p>
<p><strong>Mencomot ayat demi mendukung paham sesat</strong></p>
<p>Sebenarnya perbuatan mencomot ayat atau hadits dan memelintirnya demi  kepentingan membela pemikiran menyimpang bukanlah perkara baru. Kita  masih ingat bagaimana dahulu di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib  <em>radhiyallahu’anhu</em> orang-orang yang menganut paham Khawarij/pemberontak  mengusung ayat <em>inil hukmu illa lillah</em>, artinya tidak ada hukum kecuali  hukum Allah. Ayat itu mereka salah gunakan untuk mengkafirkan pemerintah  yang berkuasa ketika itu yaitu Ali bin Abi Thalib karena mereka  menganggap beliau tidak berhukum dengan hukum Allah.</p>
<p>Padahal apa yang beliau lakukan sama sekali tidak melanggar hukum  Allah bahkan didukung oleh dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah,  sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhuma</em> ketika  mendebat orang-orang Khawarij. Menghadapi tudingan itu, dengan cerdas  Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em> mengomentari sikap mereka yang  tidak bisa memahami ayat secara utuh,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيدَ بِهَا بَاطِلٌ</strong></p>
<p><em>“Itu adalah ucapan yang benar, namun maksudnya batil.”</em> (HR. Muslim  dari Ubaidullah bin Abi Rafi’ <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p>Dari kejadian ini, kita bisa memetik pelajaran berharga bahwa  semata-mata membawakan ayat atau hadits untuk mendukung suatu pendapat  atau keyakinan tidaklah cukup apabila tidak diiringi dengan pemahaman  serta metode penarikan kesimpulan hukum/istidlal dan istinbath yang  benar.</p>
<p>Selain kejadian di atas, sebenarnya masih banyak contoh lainnya. Di  antaranya adalah model penafsiran (lebih tepat dikatakan &#8216;pemelintiran&#8217;)  makna ‘Islam’ yang dilakukan oleh  penganut ajaran <a href="http://abumushlih.com/empat-kegagalan-islam-liberal-dalam-berijtihad.html/" target="_blank"><strong>Islam Liberal</strong></a>.   Mereka mengatakan bahwa istilah islam atau muslim itu tidak hanya  mencakup pemeluk agama Islam. Menurut anggapan mereka, Islam adalah  bentuk kepasrahan diri kepada Yang Maha benar, yaitu Allah. Maka di masa  sekarang ini -menurut keyakinan mereka- siapa saja dan dari agama mana  pun bisa menjadi muslim tanpa harus mengikuti agama Nabi Muhammad  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Bagi mereka cukuplah seorang dikatakan  sebagai muslim jika meyakini Allah itu ada dan meyakini adanya hari  akhir yang mereka tafsirkan dengan masa depan. Padahal, kita semua sudah  sama-sama mengerti bahwa <a href="http://abumushlih.com/makna-islam.html/" target="_blank">Islam</a> yang diterima oleh Allah -setelah  diutusnya Rasulullah- adalah apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا  يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ  ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ  مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ</strong></p>
<p><em>“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah ada  seorang pun yang mendengar kenabianku di kalangan umat ini, baik Yahudi  ataupun Nasrani kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan  ajaranku ini niscaya dia akan tergolong penduduk neraka.”</em> (HR. Muslim  dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p>Demikian pula banyak orang yang meyakini bahwa Allah itu ada di  mana-mana. Mereka membawakan ayat <em>wahuwa ma’akum ainama kuntum</em>, “Dan Dia  bersama kalian di mana pun kalian berada.” Padahal Allah <em>ta’ala</em> sendiri  telah menegaskan dalam banyak ayat demikian pula Nabi dalam banyak  hadits bahwa Allah itu tinggi berada di atas langit, di atas Arsy-Nya.  Secara naluri dan fitrah, ketika orang berdoa niscaya dia akan  menengadahkan telapak tangannya dan mengangkatnya ke atas, bahkan  sampai-sampai ada yang mendongakkan kepalanya. Apa itu artinya? Artinya  setiap orang yang masih bersih fitrahnya akan meyakini bahwa Allah itu  di atas. Bahkan tidak jarang kita dengar sebagian orang yang notabene  jauh dari aktifitas agama kalau menemukan masalah atau musibah, maka dia  pun berkata, <em>“Ya kita serahkan saja pada <strong>yang di atas</strong>.”</em></p>
<p>Itu beberapa contoh pemelintiran ayat yang dilakukan oleh sebagian  orang. Mereka mengira bahwa apa yang mereka yakini adalah benar, namun  ternyata keliru. Sungguh malang keadaan yang menimpa mereka, semoga  Allah memberikan petunjuk-Nya kepada kita dan mereka.</p>
<p><strong>Menyingkirkan yang jelas dan menonjolkan yang samar</strong></p>
<p>Pembaca sekalian, semoga Allah mengarahkan gerak langkah kita di atas  jalan-Nya. Salah satu ciri paling menonjol yang dimiliki oleh kaum ahlul  bid’ah (penyeru kebid’ahan) dari sejak dulu hingga sekarang adalah  <strong>gemar menggunakan dalil-dalil yang masih samar untuk mendukung pemikiran  mereka</strong> dan kemudian menyingkirkan, menutup-nutupi, atau menyimpangkan  makna dalil-dalil lain yang sudah tegas dan jelas. Seperti contoh kasus  yang dibawakan di atas. Dalil yang samar itu biasa disebut sebagai   ayat-ayat yang <em>mutasyabih</em>, sedangkan dalil yang jelas itu biasa disebut  sebagai ayat-ayat yang <em>muhkam</em>.  Allah telah menjelaskan hal ini di dalam  firman-Nya,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ  مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ  فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ  مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ</strong></p>
<p><em>“Dialah -Allah- yang telah menurunkan kepadamu Kitab suci itu, di  antaranya ada ayat-ayat yang muhkam yaitu Ummul Kitab sedangkan yang  lain adalah ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang di dalam  hatinya menyimpan penyimpangan/zaigh maka mereka akan mengikuti ayat  yang mutasyabih itu demi menimbulkan fitnah dan ingin menyimpangkan  maknanya…”</em> (QS. Ali Imran: 7)</p>
<p>Ibnu Juraij menjelaskan maksud ungkapan ‘orang-orang yang di dalam  hatinya tersimpan penyimpangan’ di dalam ayat ini, <em>“Mereka itu adalah  orang-orang munafik.”</em> Hasan al-Bashri berkata, <em>“Mereka itu adalah kaum  Khawarij.”</em> Qatadah apabila membaca ayat tersebut maka beliau mengatakan,  <em>“Apabila mereka itu bukan Haruriyah (Khawarij, pen) dan Saba’iyah  (Syi’ah, pen) maka aku tidak tahu lagi siapakah mereka itu.”</em> al-Baghawi  berkata, <em>“Ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini mencakup semua ahli  bid’ah.”</em> (<em>Ma’alim at-Tanzil</em> karya Imam al-Baghawi [2/9] as-Syamilah)</p>
<p>‘Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em> meriwayatkan, Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ  مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ</strong></p>
<p><em>“Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat  mustasyabihat maka mereka itulah orang-orang yang disebut oleh Allah -di  dalam ayat tadi- maka waspadalah kamu dari bahaya mereka.”</em> (HR.  Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dll)</p>
<p>Penulis syarah Sunan Abu Dawud berkata, <em>“Ayat ini berlaku umum bagi  semua kelompok yang melenceng dari kebenaran yaitu dari kalangan  kelompok-kelompok bid’ah. Sesungguhnya mereka itu sering mempermainkan  Kitabullah dengan permainan yang sangat keterlaluan, kemudian mereka  menarik kesimpulan hukum dari ayat-ayat itu yang sebenarnya sama sekali  tidak mengandung penunjukan atas apa yang mereka yakini, namun hanya  demi menyembunyikan kebodohan diri mereka.”</em> (<em>Aun al-Ma’bud</em> [10/117]  as-Syamilah)</p>
<p>Nah, inilah yang terjadi. Jarang sekali ada orang yang berbuat <a href="http://abumushlih.com/sunnah-dan-bidah.html/" target="_blank">bid’ah</a> -terutama tokohnya- tidak membawakan ayat atau hadits untuk mendukung  keyakinan dan pemahaman mereka yang keliru. Sehingga alangkah tidak  tepat apabila ada orang yang berkeyakinan, <em>“Yang penting kan ada  dalilnya.”</em> Atau berkata, <em>“Kamu ini jangan suka menyalahkan orang lain.  Kebenaran itu milik Allah, bukan milik kamu!”</em>. Atau dengan ungkapan,  <em>“Mbok ya toleransi dengan orang lain yang berbeda pendapat denganmu.  Jangan jadi orang yang maunya menang sendiri.”</em> Ada lagi yang berujar,  <em>“Yang penting kan niatnya. <a href="http://abumushlih.com/ikhlaslah.html/" target="_blank">Innamal a’malu bin niyat</a>, iya kan?!”</em>. Atau  berkata, <em>“Jadi orang itu jangan picik, semua orang ‘kan bebas  berpendapat.”</em> Dan seabrek celotehan lain yang pada hakikatnya adalah  bertujuan untuk menyimpangkan manusia dari jalan kebenaran. Orang yang  tidak mengerti akan manggut-manggut dan takluk di bawah silat lidah  mereka yang tidak bermutu itu. <em>Allahul musta’an</em> (Allah semata tempat  kita minta pertolongan).</p>
<p><strong>Salah penafsiran</strong></p>
<p>Untuk menunjukkan kepada pembaca sekalian tentang bukti kejahatan kaum  <a href="http://abumushlih.com/aliran-aliran.html/" target="_blank">ahli bid’ah</a> ini terhadap dalil syari’at maka berikut ini kami bawakan  sebuah ayat yang dicomot oleh sebagian kalangan untuk membela pendapat  yang menyatakan bahwa terorisme itu adalah bagian dari ajaran Islam.  Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ  قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ  وَعَدُوَّكُمْ</strong></p>
<p><em>“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka -musuh- kekuatan apa saja  yang kalian sanggupi, kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang  dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian…”</em> (QS. al-Anfal: 60).</p>
<p>Mereka menafsirkan kata <em>irhab</em> (menggentarkan musuh) di dalam ayat ini  dengan istilah teror. Sehingga melakukan teror kepada orang-orang kafir  -selama mereka dianggap ‘memusuhi’ Islam- adalah sah-sah saja, bahkan  berpahala karena itu adalah bagian dari <a href="http://abumushlih.com/teroris-bukan-mujahid-dan-bukan-mujtahid.html/" target="_blank">jihad</a>. Bagaimana kita menjawab  syubhat/kerancuan ini?</p>
<p>Syaikh Abdullah bin al-Kailani berkata menjelaskan maksud ayat ini,  <em>“Sesungguhnya irhab/menggentarkan yang diperintahkan sebagaimana tertera  di dalam al-Qur’an al-Karim itu <strong>khusus berlaku bagi orang-orang [kafir]  yang melampaui batas</strong> dengan tujuan memalingkan mereka dari tindakan  permusuhan yang mereka lakukan di saat hal itu mereka lancarkan (di saat  perang maksudnya, pen). Akan tetapi maksud irhab di sini bukanlah  irhab/teror yang sengaja melanggar batas sebagaimana yang dimaknakan di  masa kini yang pada hakikatnya justru ditolak oleh ajaran Islam.”</em> (<em>al-Irhab wal Unuf wa at-Tatharruf fi Dhau’i al-Kitab wa as-Sunnah</em>, hal.  12 as-Syamilah)</p>
<p>Oleh sebab itu <strong>Majma’ al-Fiqhi al-Islami</strong> dalam konferensi ke-13 yang  diselenggarakan pada tanggal 26 Syawwal 1422 H (10 Januari 2002) di  Rabithah al-’Alam al-Islami di Mekah Mukarramah telah menetapkan  bahwasanya gerakan radikal, mengumbar kekerasan, dan terorisme sama  sekali <strong>tidak termasuk bagian dari ajaran Islam</strong>. Lembaga ini juga  menyatakan bahwa perbuatan itu adalah tindakan yang membahayakan serta  menimbulkan dampak yang buruk dan keji. Di dalamnya terkandung tindakan  yang melampaui batas dan kezaliman terhadap manusia (lihat <em>al-Irhab,  al-Mafhum wa al-Asbab wa Subul al-’Ilaj</em>, hal. 16 as-Syamilah)</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Mu’alla al-Luwaihiq menjelaskan bahwa dengan  pengkajian lebih dalam dapat disimpulkan bahwa sebagian sisi persoalan  terorisme ini telah dibahas oleh para ulama aqidah dan fiqih serta telah  dijelaskan hukum-hukumnya di dalam bab khusus yang dinamai Bab <em>Qital  ahlil baghyi </em>yang artinya: <strong>memerangi pembuat kekacauan</strong> (<em>al-Irhab wa  al-Ghuluww</em>, hal. 28 as-Syamilah). Dan dari sisi yang lain orang-orang  yang melakukan teror ini pun dapat dikategorikan sebagai <strong>pengusung paham  Khawarij</strong>, penebar kerusakan di atas muka bumi, dan termasuk kategori  orang yang bertindak ghuluw/melampaui batas. Yang jelas Allah <em>ta’ala</em> tidak mencintai orang-orang yang membuat kerusakan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ  إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ</strong></p>
<p><em>“Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah  tidak menyukai orang-orang yang menebarkan kerusakan.”</em> (QS. al-Qashash:  77)</p>
<p>Bahkan Allah memberikan hukuman yang sangat keras bagi orang-orang  yang gemar menebar teror dan kerusakan di muka bumi ini. Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ  اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا  أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ  أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا  وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah  dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka  dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan  bersilang, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian  itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat  mereka berhak memperoleh siksaan yang besar.”</em> (QS. al-Ma’idah: 33)</p>
<p>Di dalam tafsirnya Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Orang-orang  yang memerangi Allah dan rasul-Nya itu adalah orang-orang yang secara  terus terang memusuhi Allah serta membuat kerusakan di muka bumi dalam  bentuk <a href="http://abumushlih.com/pembatal-keislaman.html/" target="_blank">kekafiran</a>, pembunuhan, perampasan harta, maupun menebarkan rasa  takut di jalan-jalan.”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 229-230).</p>
<p>Pendapat yang populer menyatakan bahwa ayat ini berbicara tentang  hukuman yang dijatuhkan kepada perampok. Apabila mereka melakukan  perampokan sekaligus pembunuhan maka mereka berhak untuk dihukum bunuh  dan disalib sebagai pelajaran dan peringatan bagi orang-orang selain  mereka. Apabila mereka membunuh namun tidak merampas harta maka mereka  cukup dihukum bunuh, tanpa disalib. Apabila mereka hanya merampas harta  dan tidak melakukan pembunuhan maka hukuman bagi mereka adalah dipotong  tangan dan kaki mereka secara bersilang, yaitu tangan kanan dan kaki  kirinya yang dipotong. Apabila mereka menakut-nakuti orang tanpa  disertai dengan pembunuhan dan perampasan harta (ancaman bom misalnya,  pen) maka mereka diusir dari negerinya dan tidak boleh menetap terus  menerus di suatu daerah selama taubat mereka belum tampak nyata. Inilah  pendapat Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhuma</em> serta banyak ulama lainnya,  meskipun dalam sebagian perkara mereka berbeda pendapat (Diringkas dari  <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 230).</p>
<p>Kemudian, Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> juga menyampaikan pelajaran  yang sangat berharga -semoga kita bisa meresapi hikmahnya-, <em>“Apabila  kejahatan ini sedemikian besar persoalannya dapatlah diketahui  bahwasanya <span style="text-decoration: underline;">membersihkan muka bumi ini dari para penebar kerusakan,  menjaga keamanan jalan dari ancaman pembunuhan dan perampokan harta  serta membebaskan cekaman rasa takut dari masyarakat merupakan salah  satu kebaikan yang paling baik, ketaatan yang paling mulia, dan   merupakan bentuk perbaikan di muka bumi. Sebagaimana pula lawannya  dikategorikan sebagai tindak perusakan di muka bumi</span>.”</em> (<em>Taisir al-Karim  ar-Rahman</em>, hal. 230).</p>
<p>Inilah kesimpulan cerdas seorang ulama tafsir mumpuni dan memiliki  kapasitas untuk berijtihad seperti beliau. Amat berbeda dengan  kesimpulan penafsiran yang dilontarkan oleh sebagian orang yang dijuluki  sebagai ustadz dan kiyai tapi tidak mengerti manhaj/metode penafsiran  yang benar terhadap ayat-ayat dan hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em>. Setelah merenungkan hal ini baik-baik, kita sangat berharap agar  saudara kita yang salah jalan -dan masih hidup- mau menyadari  <a href="http://abumushlih.com/tuduhlah-akal-kalian.html/" target="_blank">kekeliruannya</a>, <a href="http://abumushlih.com/bertaubatlah-2.html/" target="_blank">bertaubat</a>, dan segera kembali kepada <a href="http://abumushlih.com/inilah-jalan-kami.html/" target="_blank">jalan yang lurus</a>,  yaitu jalannya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para  sahabatnya. <em>Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa  sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/aktifis-pengajian-identik-dengan-teroris.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Wahabi Dan Teroris</title>
		<link>http://abumushlih.com/antara-wahabi-dan-teroris.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/antara-wahabi-dan-teroris.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 16:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Fundamentalis]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Radikalisme Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Teroris]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1598</guid>
		<description><![CDATA[Terorisme seringkali ditudingkan kepada umat Islam, terutama golongan Wahabi/Salafi. Sebagian orang mengira bahwa tudingan itu hanya sekedar propaganda barat untuk menjatuhkan harga diri kaum muslimin di mata dunia internasional. Sehingga mereka senantiasa menuduh barat (baca: Amerika) sebagai dalang di balik &#8230; <a href="http://abumushlih.com/antara-wahabi-dan-teroris.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fantara-wahabi-dan-teroris.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fantara-wahabi-dan-teroris.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Terorisme seringkali ditudingkan kepada umat Islam, terutama golongan Wahabi/<a href="http://abumushlih.com/hakekat-dakwah-salafiyah.html/" target="_blank">Salafi</a>. Sebagian orang mengira bahwa tudingan itu hanya sekedar  propaganda barat untuk menjatuhkan harga diri kaum muslimin di mata  dunia  internasional. Sehingga mereka senantiasa menuduh barat (baca:  Amerika) sebagai dalang di balik munculnya fenomena radikal semacam itu. Sebagian lagi sebaliknya, mengira bahwa terorisme  -dengan melakukan pengeboman di tempat-tempat umum- merupakan bagian  dari jihad <em>fi sabilillah</em> dan tergolong amal salih yang paling utama.  Sehingga mereka beranggapan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah sosok  mujahid dan mati syahid.</p>
<p><span id="more-1598"></span>Terlepas dari apa yang mereka sangka, sebenarnya kita bisa melihat  dengan kaca mata yang adil dan objektif bahwa di samping adanya makar  musuh-musuh Islam dari luar, sebenarnya kita juga menghadapi   musuh-musuh dalam selimut yang berupaya meruntuhkan kekuatan umat dari  dalam. Salah satu di antara mereka adalah sekte Khawarij di masa silam  dan para penganut pemikiran sekte tersebut di masa kini yang gemar  melakukan aksi teror dengan mengatasnamakan jihad. Mereka menampakkan  diri sebagai kaum muslimin yang punya komitmen terhadap agama,  berpenampilan seperti layaknya orang-orang salih dan taat, dan bersikap  seakan-akan membela ajaran Islam, namun sebenarnya mereka sedang  melakukan upaya penghancuran Islam dari dalam, sadar ataupun tidak!</p>
<p><strong>Sejarah Hitam Sekte Khawarij</strong></p>
<p>Tidakkah kita ingat sejarah hitam kaum Khawarij yang diabadikan di dalam  kitab-kitab hadits? Sebuah sekte yang diperselisihkan status  keislamannya oleh para ulama (yang kuat mereka tidak dikafirkan, lihat  <em>al-Minhaj Syarh Muslim bin al-Hajjaj</em> [4/390 dan 393]). Mereka adalah  sekelompok orang yang memiliki ciri khas pandai membaca al-Qur’an dan  menghafalkannya, suka mengusung slogan keadilan dan pembelaan rakyat  yang tertindas guna menghalalkan pemberontakan kepada penguasa muslim.  Berawal dari kedangkalan berpikir mereka, akhirnya hal itu menyeret  mereka ke jurang kebid’ahan yang mengerikan. Mereka bunuhi umat Islam  sementara para pegiat kemusyrikan justru mereka biarkan.</p>
<p>Nah, berikut ini kami nukilkan sebagian hadits yang mengisahkan  tentang kekejian manhaj kaum <a href="http://abumushlih.com/khawarij-kontemporer.html/" target="_blank">Khawarij</a> dan sikap Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersama para sahabat dalam menghadapi mereka. Agar  jelas bagi siapa saja bahwa sikap ulama Ahlus Sunnah as-Salafiyun -pengikut salafus shalih- dalam  memerangi Khawarij dan pemikiran mereka bukanlah karena motif menjilat  penguasa atau mencari muka di hadapan mereka, namun hal itu mereka  lakukan semata-mata demi ‘melanjutkan kehidupan Islam’ sebagaimana yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tentu saja dengan cara meneladani metode perjuangan  generasi terbaik dari umat ini.</p>
<p>Jabir bin Abdullah <em>radhiyallahu’anhuma</em> menceritakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله  عليه وسلم- بِالْجِعْرَانَةِ مُنْصَرَفَهُ مِنْ حُنَيْنٍ وَفِى ثَوْبِ  بِلاَلٍ فِضَّةٌ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْبِضُ مِنْهَا  يُعْطِى النَّاسَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ اعْدِلْ. قَالَ « وَيْلَكَ وَمَنْ  يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ  أَكُنْ أَعْدِلُ ». فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رضى الله عنه دَعْنِى  يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَقْتُلَ هَذَا الْمُنَافِقَ. فَقَالَ « مَعَاذَ  اللَّهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّى أَقْتُلُ أَصْحَابِى إِنَّ هَذَا  وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ  يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ».</strong></p>
<p><em>“Ada seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam di Ji’ranah -nama tempat- sepulangnya beliau dari  -peperangan- Hunain, ketika itu di atas kain Bilal terdapat perak yang  diambil sedikit demi sedikit oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam untuk dibagikan kepada orang-orang. Kemudian lelaki itu  mengatakan, ‘Hai Muhammad, berbuat adillah!’. Maka Nabi menjawab,  ‘Celaka kamu! Lalu siapa lagi yang mampu berbuat adil jika aku tidak  berbuat adil. Sungguh kamu pasti telah celaka dan merugi jika aku tidak  berbuat adil.’ Maka Umar bin al-Khatthab radhiyallahu’anhu berkata,  ‘Biarkanlah saya wahai Rasulullah untuk menghabisi orang munafiq ini.’  Maka beliau bersabda, ‘Aku berlindung kepada Allah, jangan sampai  orang-orang nanti mengatakan bahwa aku telah membunuh para sahabatku  sendiri. Sesungguhnya orang ini dan para pengikutnya adalah suka membaca  al-Qur’an akan tetapi bacaan mereka tidak melampaui pangkal tenggorokan  mereka. Mereka keluar darinya sebagaimana keluarnya anak panah yang  menembus  sasaran bidiknya.’.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa ungkapan <strong>‘mereka suka  membaca al-Qur’an akan tetapi bacaan mereka tidak melampaui pangkal  tenggrorokan mereka’</strong> memiliki dua penafsiran. Pertama, dimaknakan bahwa  hati mereka tidak memahami isinya dan tidak bisa memetik manfaat darinya  selain membaca saja. Kedua, dimaknakan amal dan bacaan mereka tidak  bisa diterima oleh Allah (lihat <em>al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin  al-Hajjaj</em> [4/389] cet. 2003 penerbit Dar Ibn al-Haitsam)</p>
<p>Dalam riwayat lain, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menegaskan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا  يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَقْتُلُونَ أَهْلَ  الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ  كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ  لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya di belakang orang ini akan muncul suatu kaum yang rajin  membaca al-Qur’an namun tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka.  Mereka membunuhi umat Islam dan justru meninggalkan para pemuja berhala.  Mereka keluar dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari sasaran  bidiknya. Apabila aku menemui mereka, niscaya aku akan membunuh mereka  dengan cara sebagaimana terbunuhnya kaum ‘Aad.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim  dari Abu Sa’id al-Khudri <em>radhiyallahu’anhu</em>, ini lafaz Muslim)</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menerangkan, <em>“Di dalam hadits ini terkandung  dorongan untuk memerangi mereka -yaitu Khawarij- serta menunjukkan  keutamaan Ali radhiyallahu’anhu yang telah memerangi mereka.”</em> (<em>al-Minhaj  Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj</em> [4/391] cet. 2003 penerbit Dar Ibn  al-Haitsam)</p>
<p>Mereka  bukanlah orang yang malas beribadah, bahkan mereka adalah  sosok yang menakjubkan dalam ketekunan dan kesungguhan beribadah. Namun  di sisi yang lain, mereka telah menyimpang dari manhaj Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat sehingga membuat mereka  layak menerima ancaman dan hukuman yang sangat-sangat berat, yaitu hukum  bunuh!</p>
<p>Dalam teks riwayat yang lain Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebutkan ciri mereka,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ  أَحَدُكُمْ صَلاَتَهُ مَعَ صَلاَتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya orang ini -Dzul Khuwaishirah, gembong Khawarij,pent-  akan memiliki pengikut-pengikut yang membuat salah seorang di antara  kalian meremehkan sholatnya apabila dibandingkan dengan sholat mereka,  dan meremehkan puasanya apabila dibandingkan dengan puasa mereka…”</em> (HR.  Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri <em>radhiyallahu’anhu</em>, ini lafaz  Muslim)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>سَيَخْرُجُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ  أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ  قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ  يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ  فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِى قَتْلِهِمْ أَجْرًا  لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</strong></p>
<p><em>“Akan muncul di akhir masa ini nanti sekelompok orang yang umurnya  masih muda-muda dan lemah akalnya. Apa yang mereka ucapkan adalah  perkataan manusia yang terbaik. Mereka suka membaca al-Qur’an akan  tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka.  Mereka melesat dari agama seperti halnya anak panah yang melesat dari  sasaran bidiknya. Apabila kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka.  Karena sesungguhnya dengan terbunuhnya mereka maka orang yang  membunuhnya itu akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat  kelak.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib  <em>radhiyallahu’anhu</em>, ini lafaz Muslim)</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> menerangkan, <em>“Hadits ini menegaskan wajibnya  memerangi Khawarij dan pemberontak negara, dan hal itu merupakan perkara  yang telah disepakati oleh segenap ulama.”</em> (<em>al-Minhaj Syarh Shahih  Muslim bin al-Hajjaj</em> [4/397] cet. 2003 penerbit Dar Ibn al-Haitsam)</p>
<p>Ubaidullah bin Abi Rafi’ <em>radhiyallahu’anhu</em> -salah seorang bekas budak  yang dimerdekakan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>-  menceritakan bahwa ketika terjadi pemberontakan kaum Haruriyah  (Khawarij) sedangkan saat itu dia bersama pihak Ali bin Abi Thalib  <em>radhiyallahu’anhu</em>, mereka -kaum Khawarij- mengatakan, <em>“Tidak ada hukum  kecuali milik Allah.”</em> Maka Ali bin Abi Thalib pun menanggapi ucapan  mereka dengan mengatakan, <em>“Itu adalah ucapan yang benar namun dipakai  dengan maksud yang batil…”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim)</p>
<p>Dalam riwayat lainnya, Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> menyatakan  tentang betapa buruknya mereka,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ</strong></p>
<p><em>“Mereka itu adalah sejelek-jelek makhluk.”</em> (HR. Muslim dari Abu Dzar  <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p><strong>Mewaspadai al-Qa&#8217;adiyah Gaya Baru</strong></p>
<p>al-Qa’adiyah merupakan salah saktu sekte Khawarij yang memiliki  ideologi Khawarij, hanya saja mereka tidak memilih sikap memberontak.  Meskipun demikian, mereka menganggap pemberontakan sebagai perkara yang  baik, tidak boleh diingkari, bahkan berpahala! Dengan kata lain -dalam  bahasa sekarang- mereka menilai bahwa pemberontakan yang dilakukan oleh  rekan-rekan mereka -dengan menimbulkan kekacauan dan mengancam penguasa;  bom bunuh diri dan semisalnya- bukan perkara yang salah, alias hasil  ijtihad yang harus dihargai dan layak untuk diberi pahala [?!].</p>
<p>Sampai-sampai salah seorang tokoh mereka di negeri ini berkata, <em>“Menurut  saya mereka -teroris- adalah mujahid. Dan apa yang mereka lakukan itu merupakan  hasil ijtihad mereka. Walaupun saya tidak sependapat dengan -hasil  ijtihad- mereka.”</em> Maha Suci Allah dari ucapan mereka!</p>
<p>Ketika menjelaskan biografi ringkas Imran bin Hitthan -salah seorang  perawi hadits yang terseret paham Khawarij- Ibnu Hajar berkata,  <em>“al-Qa’adiyah adalah salah satu sekte dari kelompok Khawarij. Mereka  berpendapat sebagaimana pendapat Khawarij, namun mereka tidak ikut  melakukan pemberontakan. Akan tetapi mereka menghias-hiasi/menilai baik  perbuatan itu.”</em> (<em>Hadyu as-Sari</em>, hal. 577). Sebelumnya, Ibnu Hajar juga  menukil ucapan Abul Abbas al-Mubarrid, <em>“Imran bin Hitthan adalah gembong  kelompok al-Qa’adiyah dari aliran Shafariyah. Dia adalah khathib/orator  dan penya’ir di kalangan mereka.”</em> (<em>Hadyu as-Sari</em>, hal. 577).</p>
<p>Imran bin  Hitthan inilah yang meratapi kematian Abdurrahman bin Muljam -sang  pembunuh Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em>- dengan untaian bait-bait  sya’irnya yang heroik. Dikisahkan bahwa pada akhir hidupnya dia kembali  ke jalan yang benar dan meninggalkan paham Khawarij, sebagaimana yang  diriwayatkan oleh Abu Zakariya al-Mushili di dalam <em>Tarikh al-Mushil</em> (lihat <em>Hadyu as-Sari</em>, hal. 577,578, lihat juga <em>Tahdzib at-Tahdzib</em> [8/128] as-Syamilah)</p>
<p>Ibnu Hajar mengatakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>والقَعَدية الذين يُزَيِّنون الخروجَ على  الأئمة ولا يباشِرون ذلك</strong></p>
<p><em>“al-Qa’adiyah adalah orang-orang yang menghias-hiasi perbuatan  pemberontakan kepada para pemimpin -umat Islam- dan mereka tidak ikut  terjun langsung dalam tindakan tersebut.”</em> (<em>Hadyu as-Sari</em>, hal. 614 cet  Dar al-Hadits)</p>
<p>as-Syahrastani mengatakan,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>كل من خرج على الإمام الحق الذي اتفقت  الجماعة عليه يُسمى خارجياً سواء كان الخروج في أيام الصحابة على الأئمة  الراشدين أو كان بعدهم على التابعين بإحسان والأئمة في كل زمان</strong></p>
<p><em>“Setiap orang yang memberontak kepada pemimpin yang sah yang  disepakati oleh rakyat sebagai pemimpin mereka maka dia disebut sebagai  Khariji (kata tunggal dari Khawarij). Sama saja apakah dia melakukan  pemberontakan itu di masa sahabat masih hidup kepada para pemimpin yang  lurus atau setelah masa mereka yaitu kepada para tabi’in yang senantiasa  mengikuti pendahulu mereka dengan baik serta para pemimpin umat di  sepanjang masa.”</em> (<em>al-Milal wa an-Nihal</em> [1/28] as-Syamilah)</p>
<p>Salah satu pemikiran Khawarij yang berkembang saat ini -terutama di  kalangan sebagian pemuda Islam yang bersemangat tapi tanpa ilmu- adalah  pendapat yang <strong>membolehkan -tidak harus- untuk memberontak kepada  pemimpin muslim yang zalim</strong> (lihat mukadimah kitab <em>al-Khawarij wal Fikru  al-Mutajjaddid</em> karya Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir al-Ubaikan, hal. 6).  Sebagaimana pula keterangan semacam ini pernah kami dengar dari  perkataan Syaikh Abdul Malik Ramadhani -<em>hafizhahullah</em>- dalam sebuah rekaman video  ceramah beliau ketika memberikan pelajaran kitab <em>asy-Syari’ah</em> karya Imam  al-Ajurri.</p>
<p><strong>Bom Bunuh Diri Bukan Jihad</strong></p>
<p>Di manakah letak ilmu pada diri orang yang melakukan bom bunuh diri  dan menyuruh orang lain untuk bunuh diri? Padahal Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ  اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا</strong></p>
<p><em>“Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah  Maha menyayangi kalian.”</em> (QS. an-Nisaa’: 29)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ  بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</strong></p>
<p><em>“Barang siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu alat/senjata  maka dia akan disiksa dengannya kelak pada hari kiamat.”</em> (HR. Bukhari  dan Muslim dari Tsabit bin ad-Dhahhak <em>radhiyallahu’anhu</em>, ini lafaz  Muslim)</p>
<p>Ketika mengomentari ulah sebagian orang yang nekad melakukan bom  bunuh diri dengan alasan untuk menghancurkan musuh, maka Syaikh Ibnu  Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Hanya saja kami katakan, orang-orang  itu yang kami dengar melakukan tindakan tersebut, kami berharap mereka  tidak disiksa seperti itu sebab mereka adalah orang-orang yang  jahil/bodoh dan melakukan penafsiran yang keliru. Akan tetapi, tetap  saja mereka tidak memperoleh pahala, dan <strong>mereka bukan orang-orang yang  syahid </strong>dikarenakan mereka telah melakukan sesuatu yang tidak diijinkan  oleh Allah, akan tetapi mereka telah melakukan apa yang dilarang  oleh-Nya.”</em> (<em>Syarh Riyadh as-Shalihin</em>, dinukil dari <em>al-Kaba’ir ma’a Syarh  Ibnu Utsaimin</em>, hal. 109)</p>
<p>Di manakah letak ilmu pada diri orang yang membunuh nyawa orang kafir  tanpa hak? Padahal Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ  رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ  عَامًا</strong></p>
<p><em>“Barang siapa yang membunuh seorang kafir yang terikat perjanjian maka dia tidak akan mencium  bau surga. Sesungguhnya baunya itu akan tercium dari jarak perjalanan  empat puluh tahun.”</em> (HR. Bukhari dalam Kitab al-Jizyah dan Kitab  ad-Diyat dari Abdullah bin Amr <em>radhiyallahu’anhuma</em>, lafaz ini ada di  dalam Kitab al-Jizyah)</p>
<p>al-Munawi menjelaskan bahwa ancaman yang disebutkan di dalam hadits  ini merupakan dalil bagi para ulama semacam adz-Dzahabi dan yang lainnya  untuk menegaskan bahwa <strong>perbuatan itu -membunuh kafir mu’ahad-  termasuk kategori dosa besar</strong> (<em>Faidh al-Qadir</em> [6/251] as-Syamilah).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حتَّى  يَشْهَدُوا أنْ لا إلَهَ إلاَّ الله، وأَنَّ مُحَمَّداً رسولُ اللهِ،  ويُقيموا الصَّلاةَ ، ويُؤْتُوا الزَّكاةَ ، فإذا فَعَلوا ذلكَ ، عَصَمُوا  مِنِّي دِمَاءهُم وأَموالَهُم، إلاَّ بِحَقِّ الإسلامِ ، وحِسَابُهُم على  اللهِ تَعالَى</strong></p>
<p><em>“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi  bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan Muhammad adalah  utusan Allah, mendirikan shalat, membayarkan zakat, apabila mereka  telah melakukannya maka terjagalah darah dan harta mereka dariku kecuali  dengan alasan haq menurut Islam, dan hisab mereka terserah pada Allah  ta’ala”</em> (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu’anhuma</em>)</p>
<p>Syaikh <a href="http://al-islam.com/ind/" target="_blank">Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh</a> -<em>hafizhahullah</em>- (beliau adalah menteri Urusan Keislaman Arab Saudi) menerangkan  bahwa di dalam kata-kata <em>“apabila mereka telah melakukannya maka  terjagalah darah dan harta mereka dariku”</em> terdapat dalil yang  menunjukkan bahwa orang kafir itu hartanya boleh diambil dan darahnya  boleh ditumpahkan. Dan orang <strong>yang dimaksud di dalam hadits ini adalah  kafir harbi</strong>, yaitu orang kafir yang sedang terlibat peperangan dengan  pasukan kaum muslimin. Oleh sebab itu misalnya jika anda mengambil harta  seorang kafir harbi maka tidak ada hukuman bagi anda. <strong>Adapun  orang kafir mu’ahad, kafir musta’man dan kafir dzimmi -ketiganya bukan  kafir harbi,pen- maka mereka semua tidak boleh diperangi</strong> (lihat  <em>Syarah Arba’in</em>, hal. 63)</p>
<p><strong>Siapakah Wahabi/Salafi?</strong></p>
<p>Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi <em>hafizhahullah</em> -beliau  adalah guru besar Aqidah di Universitas Islam Madinah- menerangkan di  dalam kitabnya <em>‘Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid Asma’ wa  Shifat’</em> [halaman 54] bahwa pendapat yang benar lagi  populer ialah pendapat jumhur ulama Ahlis Sunnah wal Jama’ah yaitu yang  menyatakan bahwa salafush shalih itu mencakup tiga generasi yang  diutamakan dan telah dipersaksikan kebaikannya oleh Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> dalam sabdanya, <em>“Sebaik-baik manusia adalah di  jamanku, kemudian sesudah mereka, kemudian sesudahnya lagi.”</em> (HR.  Bukhari dan Muslim). Sehingga istilah salafush shalih itu mencakup  sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.</p>
<p>Syaikh at-Tamimi mengatakan, <em>“Dan <strong>setiap orang yang meniti jalan  mereka dan berjalan di atas metode/manhaj mereka maka dia disebut  salafi</strong>, sebagai penisbatan kepada mereka.”</em> (<em>Mu’taqad</em>, hal. 54).</p>
<p>Beliau juga memaparkan [halaman 54] bahwa salafiyah adalah manhaj  yang ditempuh oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> beserta generasi  yang diutamakan sesudah beliau. Nabi telah memberitakan bahwa manhaj  salaf ini akan tetap ada hingga datangnya hari kiamat. Sebagaimana yang  disabdakan oleh Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Akan senantiasa ada  segolongan manusia di antara umatku yang selalu menang di atas  kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menelantarkan  mereka sampai datang ketetapan Allah sementara mereka tetap dalam  keadaan menang.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Kemudian, Syaikh at-Tamimi juga menegaskan [halaman 55] bahwa perkara  yang dibenarkan apabila seorang menyandarkan diri kepada manhaj salaf  ini selama dia konsisten menetapi syarat-syarat dan kaidah-kaidahnya.  Maka siapa pun yang menjaga keselamatan aqidah dan amalnya sehingga  sesuai dengan pemahaman tiga generasi yang utama tersebut, maka dia  adalah orang yang bermanhaj salaf.</p>
<p>Di tempat yang lain [halaman 63] beliau mengatakan, <em>“Terkadang para  ulama menggunakan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai pengganti  istilah salaf.”</em></p>
<p>Dari pemaparan ringkas di atas maka kita dapat mengambil kesimpulan  bahwa istilah salaf atau salafi sebenarnya adalah istilah yang sudah  sangat terkenal dalam pembicaraan para ulama. Mereka itu tidak lain  adalah para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta orang-orang yang  mengikuti mereka dengan baik. Orang-orang yang mengikuti manhaj Salaf inilah yang biasa dijuluki dengan gelar &#8216;Wahabi&#8217;. Yang amat disayangkan adalah, <a href="http://abumushlih.com/awas-bahaya-ruwaibidhah.html/" target="_blank">sebagian pemuda</a> yang terseret dalam paham Khawarij -sebagaimana sudah diterangkan di atas- juga merasa bahwa dirinya adalah penganut ajaran Wahabi. Sehingga itulah salah satu faktor pemicu munculnya anggapan bahwa Wahabi itu ada dua golongan yaitu Wahabi Salafi dan Wahabi Jihadi (yaitu yang menebar teror berkedok jihad). Padahal, para ulama Salafi berlepas diri dari tindakan-tindakan brutal yang mereka perbuat, sebagaimana sudah dipaparkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin di atas.</p>
<p><strong>Reaksi Yang Salah</strong></p>
<p>Dengan mencermati beberapa keterangan di atas, maka kita bisa menarik  kesimpulan bahwa salah satu sebab utama munculnya aksi-aksi bom bunuh  diri dan perusakan tempat-tempat umum dengan mengatasnamakan jihad  adalah racun pemikiran Khawarij yang bercokol di dada sebagian pemuda  yang ‘cetek’ pemahaman agamanya. Mereka sama sekali tidak berjalan di  bawah bimbingan para ulama Rabbani. Semangat mereka membara, namun ilmu  yang mereka miliki tidak cukup untuk menopang cita-citanya. Niat mereka  mungkin baik, namun cara yang mereka tempuh jelas-jelas menyelisihi  al-Kitab dan as-Sunnah serta pemahaman salafus shalih.</p>
<p>Akibatnya, musuh-musuh dari luar Islam pun dengan mudah  menyamaratakan bahwa Islam mengajarkan kekerasan dan agama yang tidak  mengenal perikemanusiaan. Mereka ingin menanamkan kesan kepada publik  bahwa siapa saja yang ingin menegakkan kembali syari’at Islam dan tauhid  maka mereka pasti identik dengan terorisme dan gemar membuat kekacauan.  Oleh sebab itu mereka pun melekatkan gelaran <strong>Islam Fundametalis</strong> kepada  kelompok mana saja yang bercita-cita untuk mengembalikan kejayaan Islam  sebagaimana yang diraih oleh para pendahulu mereka, tidak terkecuali  kepada Ahlus Sunnah as-Salafiyun.</p>
<p>Sayangnya, sebagian kaum muslimin yang  tidak mengerti juga ikut-ikutan latah menuduh saudaranya yang mengikuti  Sunnah Nabi dan berupaya untuk menebarkan dakwah tauhid sebagai penganut aliran  sesat dan menyimpang gara-gara penampilan mereka yang mirip dengan  tokoh-tokoh teroris atau istri mereka yang dimunculkan fotonya di media-media massa.  Semata-mata karena celana cingkrang, jenggot dan cadar maka julukan  teroris pun dengan enteng dilekatkan kepada mereka. Padahal memelihara  jenggot dan memakai cadar termasuk tuntunan Nabi Muhammad <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>. Bagi anda yang ingin menyimak penjelasan lebih tentang hukum cadar, jenggot, dan celana &#8216;cingkrang&#8217; silahkan membaca tulisan saudara kami yang mulia al-Akh Muhammad Abduh Tuasikal di link berikut ini -<a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2655-penampilan-seperti-ini-bukanlah-teroris.html" target="_blank">rumaysho.com</a>-. Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan.</p>
<p>Akhir kata, kami memohon kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang tinggi lagi mulia, semoga Allah membukakan pintu hidayah bagi saudara-saudara kita yang melenceng dari jalan yang lurus dan semoga Allah berkenan melimpahkan ampunan-Nya kepada kita. Dan semoga kejadian semacam ini bisa menjadi pelajaran bagi para pemuda Islam di mana saja mereka berada, bahwa perjuangan Islam adalah perjuangan yang suci, yang harus ditegakkan di atas ilmu al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman sahabat Nabi dan bimbingan para ulama Rabbani. <em>Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin</em>.</p>
<p>Selesai disusun ulang di wisma MTI, Pogung Kidul</p>
<p>28 Rabi&#8217;ul Awwal 1431 H</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/antara-wahabi-dan-teroris.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rajin Pengajian Kok Sesat?</title>
		<link>http://abumushlih.com/rajin-pengajian-kok-sesat.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/rajin-pengajian-kok-sesat.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 01:02:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[Liberal]]></category>
		<category><![CDATA[Muhkam]]></category>
		<category><![CDATA[Mutasyabihat]]></category>
		<category><![CDATA[Syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[Teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=952</guid>
		<description><![CDATA[Apabila kita cermati munculnya fenomena aliran dan pemahaman yang menyimpang di kalangan umat Islam -seperti halnya kasus yang sedang banyak dibicarakan yaitu tentang terorisme berkedok jihad- boleh jadi akan banyak orang yang merasa heran bercampur kebingungan. Bagaimana bisa orang yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/rajin-pengajian-kok-sesat.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Frajin-pengajian-kok-sesat.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Frajin-pengajian-kok-sesat.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Apabila kita cermati munculnya fenomena aliran dan pemahaman yang menyimpang di kalangan umat Islam -seperti halnya kasus yang sedang banyak dibicarakan yaitu tentang terorisme berkedok jihad- boleh jadi akan banyak orang yang merasa heran bercampur kebingungan. Bagaimana bisa orang yang dikenal rajin beribadah, aktif mengikuti kegiatan keagamaan, dan menunjukkan semangat yang tinggi dalam berislam ikut terseret dalam pemahaman yang sesat?</p>
<p><span id="more-952"></span></p>
<p>Jawabannya tentu tidak sulit. Sebab bagaimana pun juga semangat keberagamaan yang tidak dilandasi dengan ilmu yang benar tidaklah mencukupi. Bahkan hal itu bisa membahayakan diri sendiri serta orang lain. Oleh sebab itu, sebagian ulama salaf  memperingatkan, &#8220;Barang siapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka apa yang dirusaknya lebih banyak daripada yang diperbaiki.&#8221;</p>
<p>Nah, mungkin ada orang yang mengatakan, &#8220;Bukankah mereka itu juga mempelajari al-Qur&#8217;an dan hadits, bahkan sudah jadi ustadz. Lalu di mana letak kesalahannya?&#8221;</p>
<p>Saudaraku sekalian, semoga Allah menambahkan kepada kita curahan petunjuk dan bimbingan-Nya. Seringkali kita lihat bahwa ternyata orang-orang yang menyimpang itu juga membawakan dalil ayat ataupun hadits untuk membela kekeliruan mereka. Sehingga orang yang tidak paham bisa saja akan mengiyakan dan minimal &#8216;memaklumi&#8217; apa yang mereka lakukan. Apalagi kalau yang berbicara adalah sosok yang dianggap sebagai kyai dan ditokohkan oleh banyak orang. Sederhana saja, dia cukup mengatakan bahwa itu &#8216;kan hasil ijtihad mereka, dan orang yang berijtihad itu meskipun salah ya tetap berpahala. Intinya mereka yang melakukan bom bunuh diri dan peledakan gedung itu tidak boleh disalahkan. Lha wong mereka itu mujahid kok, itulah inti yang dia maksudkan.</p>
<p><strong>Mencomot ayat demi mendukung paham sesat</strong><br />
Sebenarnya perbuatan mencomot ayat atau hadits dan memelintirnya demi kepentingan membela pemikiran menyimpang bukanlah perkara baru. Kita masih ingat bagaimana dahulu di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu&#8217;anhu orang-orang yang menganut paham Khawarij/pemberontak mengusung ayat inil hukmu illa lillah, artinya tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Ayat itu mereka salah gunakan untuk mengkafirkan pemerintah yang berkuasa ketika itu yaitu Ali bin Abi Thalib karena mereka menganggap beliau tidak berhukum dengan hukum Allah.</p>
<p>Padahal apa yang beliau lakukan sama sekali tidak melanggar hukum Allah bahkan didukung oleh dalil dari al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu&#8217;anhuma ketika mendebat orang-orang Khawarij. Menghadapi tudingan itu, dengan cerdas Ali bin Abi Thalib radhiyallahu&#8217;anhu mengomentari sikap mereka yang tidak bisa memahami ayat secara utuh,</p>
<p style="text-align:right;">كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيدَ بِهَا بَاطِلٌ</p>
<p>&#8220;Itu adalah ucapan yang benar, namun maksudnya batil.&#8221; (HR. Muslim dari Ubaidullah bin Abi Rafi&#8217; radhiyallahu&#8217;anhu)</p>
<p>Dari kejadian ini, kita bisa memetik pelajaran berharga bahwa semata-mata membawakan ayat atau hadits untuk mendukung suatu pendapat atau keyakinan tidaklah cukup apabila tidak diiringi dengan pemahaman serta metode penarikan kesimpulan hukum/istidlal dan istinbath yang benar.</p>
<p>Selain kejadian di atas, sebenarnya masih banyak contoh lainnya. Di antaranya adalah model penafsiran (lebih tepat dikatakan pemelintiran) makna &#8216;Islam&#8217; yang dilakukan oleh  penganut ajaran Islam Liberal.  Mereka mengatakan bahwa istilah islam atau muslim itu tidak hanya mencakup pemeluk agama Islam. Menurut anggapan mereka, Islam adalah bentuk kepasrahan diri kepada Yang Maha benar, yaitu Allah. Maka di masa sekarang ini -menurut keyakinan mereka- siapa saja dan dari agama mana pun bisa menjadi muslim tanpa harus mengikuti agama Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Bagi mereka cukuplah seorang dikatakan sebagai muslim jika meyakini Allah itu ada dan meyakini adanya hari akhir yang mereka tafsirkan dengan masa depan. Padahal, kita semua sudah sama-sama mengerti bahwa Islam yang diterima oleh Allah -setelah diutusnya Rasulullah- adalah apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Beliau bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ</p>
<p>&#8220;Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah ada seorang pun yang mendengar kenabianku di kalangan umat ini, baik Yahudi ataupun Nasrani kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan ajaranku ini niscaya dia akan tergolong penduduk neraka.&#8221; (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu)</p>
<p>Demikian pula banyak orang yang meyakini bahwa Allah itu ada di mana-mana. Mereka membawakan ayat wahuwa ma&#8217;akum ainama kuntum, &#8220;Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.&#8221; Padahal Allah ta&#8217;ala sendiri telah menegaskan dalam banyak ayat demikian pula Nabi dalam banyak hadits bahwa Allah itu tinggi berada di atas langit, di atas Arsy-Nya. Secara naluri dan fitrah, ketika orang berdoa niscaya dia akan menengadahkan telapak tangannya dan mengangkatnya ke atas, bahkan sampai-sampai ada yang mendongakkan kepalanya. Apa itu artinya? Artinya setiap orang yang masih bersih fitrahnya akan meyakini bahwa Allah itu di atas. Bahkan tidak jarang kita dengar sebagian orang yang notabene jauh dari aktifitas agama kalau menemukan masalah atau musibah, maka dia pun berkata, &#8220;Ya kita serahkan saja pada yang di atas.&#8221;</p>
<p>Itu beberapa contoh pemelintiran ayat yang dilakukan oleh sebagian orang. Mereka mengira bahwa apa yang mereka yakini adalah benar, namun ternyata keliru. Sungguh malang keadaan yang menimpa mereka, semoga Allah memberikan petunjuk-Nya kepada kita dan mereka.</p>
<p><strong>Menyingkirkan yang jelas dan menonjolkan yang samar</strong><br />
Pembaca sekalian, semoga Allah mengarahkan gerak langkah kita di atas jalan-Nya. Salah satu ciri paling menonjol yang dimiliki oleh kaum ahlul bid&#8217;ah (penyeru kebid&#8217;ahan) dari sejak dulu hingga sekarang adalah gemar menggunakan dalil-dalil yang masih samar untuk mendukung pemikiran mereka dan kemudian menyingkirkan, menutup-nutupi, atau menyimpangkan makna dalil-dalil lain yang sudah tegas dan jelas. Seperti contoh kasus yang dibawakan di atas. Dalil yang samar itu biasa disebut sebagai  ayat-ayat yang mutasyabih, sedangkan dalil yang jelas itu biasa disebut sebagai ayat-ayat yang muhkam.  Allah telah menjelaskan hal ini di dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align:right;">هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ</p>
<p>&#8220;Dialah -Allah- yang telah menurunkan kepadamu Kitab suci itu, di antaranya ada ayat-ayat yang muhkam yaitu Ummul Kitab sedangkan yang lain adalah ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya menyimpan penyimpangan/zaigh maka mereka akan mengikuti ayat yang mutasyabih itu demi menimbulkan fitnah dan ingin menyimpangkan maknanya…&#8221; (QS. Ali Imran: 7)</p>
<p>Ibnu Juraij menjelaskan maksud ungkapan &#8216;orang-orang yang di dalam hatinya tersimpan penyimpangan&#8217; di dalam ayat ini, &#8220;Mereka itu adalah orang-orang munafik.&#8221; Hasan al-Bashri berkata, &#8220;Mereka itu adalah kaum Khawarij.&#8221; Qatadah apabila membaca ayat tersebut maka beliau mengatakan, &#8220;Apabila mereka itu bukan Haruriyah (Khawarij, pen) dan Saba&#8217;iyah (Syi&#8217;ah, pen) maka aku tidak tahu lagi siapakah mereka itu.&#8221; al-Baghawi berkata, &#8220;Ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini mencakup semua ahli bid&#8217;ah.&#8221; (Ma&#8217;alim at-Tanzil karya Imam al-Baghawi [2/9] as-Syamilah)</p>
<p>&#8216;Aisyah radhiyallahu&#8217;anha meriwayatkan, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ</p>
<p>&#8220;Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mustasyabihat maka mereka itulah orang-orang yang disebut oleh Allah -di dalam ayat tadi- maka waspadalah kamu dari bahaya mereka.&#8221; (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dll)</p>
<p>Penulis syarah Sunan Abu Dawud berkata, &#8220;Ayat ini berlaku umum bagi semua kelompok yang melenceng dari kebenaran yaitu dari kalangan kelompok-kelompok bid&#8217;ah. Sesungguhnya mereka itu sering mempermainkan Kitabullah dengan permainan yang sangat keterlaluan, kemudian mereka menarik kesimpulan hukum dari ayat-ayat itu yang sebenarnya sama sekali tidak mengandung penunjukan atas apa yang mereka yakini, namun hanya demi menyembunyikan kebodohan diri mereka.&#8221; (Aun al-Ma&#8217;bud [10/117] as-Syamilah)</p>
<p>Nah, inilah yang terjadi. Jarang sekali ada orang yang berbuat bid&#8217;ah -terutama tokohnya- tidak membawakan ayat atau hadits untuk mendukung keyakinan dan pemahaman mereka yang keliru. Sehingga alangkah tidak tepat apabila ada orang yang berkeyakinan, &#8220;Yang penting kan ada dalilnya.&#8221; Atau berkata, &#8220;Kamu ini jangan suka menyalahkan orang lain. Kebenaran itu milik Allah, bukan milik kamu!&#8221;. Atau dengan ungkapan, &#8220;Mbok ya toleransi dengan orang lain yang berbeda pendapat denganmu. Jangan jadi orang yang maunya menang sendiri.&#8221; Ada lagi yang berujar, &#8220;Yang penting kan niatnya. Innamal a&#8217;malu bin niyat, iya kan?!&#8221;. Atau berkata, &#8220;Jadi orang itu jangan picik, semua orang &#8216;kan bebas berpendapat.&#8221; Dan seabrek celotehan lain yang pada hakikatnya adalah bertujuan untuk menyimpangkan manusia dari jalan kebenaran. Orang yang tidak mengerti akan manggut-manggut dan takluk di bawah silat lidah mereka yang tidak bermutu itu. Allahul musta&#8217;an (Allah semata tempat kita minta pertolongan).</p>
<p><strong>Salah penafsiran</strong><br />
Untuk menunjukkan kepada pembaca sekalian tentang bukti kejahatan kaum ahli bid&#8217;ah ini terhadap dalil syari&#8217;at maka berikut ini kami bawakan sebuah ayat yang dicomot oleh sebagian kalangan untuk membela pendapat yang menyatakan bahwa terorisme itu adalah bagian dari ajaran Islam. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ</p>
<p>&#8220;Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka -musuh- kekuatan apa saja yang kalian sanggupi, kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian…&#8221; (QS. al-Anfal: 60).</p>
<p>Mereka menafsirkan kata irhab (menggentarkan musuh) di dalam ayat ini dengan istilah teror. Sehingga melakukan teror kepada orang-orang kafir -selama mereka dianggap &#8216;memusuhi&#8217; Islam- adalah sah-sah saja, bahkan berpahala karena itu adalah bagian dari jihad. Bagaimana kita menjawab syubhat/kerancuan ini?</p>
<p>Syaikh Abdullah bin al-Kailani berkata menjelaskan maksud ayat ini, &#8220;Sesungguhnya irhab/menggentarkan yang diperintahkan sebagaimana tertera di dalam al-Qur&#8217;an al-Karim itu khusus berlaku bagi orang-orang [kafir] yang melampaui batas dengan tujuan memalingkan mereka dari tindakan permusuhan yang mereka lakukan di saat hal itu mereka lancarkan (di saat perang maksudnya, pen). Akan tetapi maksud irhab di sini bukanlah irhab/teror yang sengaja melanggar batas sebagaimana yang dimaknakan di masa kini yang pada hakikatnya justru ditolak oleh ajaran Islam.&#8221; (al-Irhab wal Unuf wa at-Tatharruf fi Dhau&#8217;i al-Kitab wa as-Sunnah, hal. 12 as-Syamilah)</p>
<p>Oleh sebab itu Majma&#8217; al-Fiqhi al-Islami dalam konferensi ke-13 yang diselenggarakan pada tanggal 26 Syawwal 1422 H (10 Januari 2002) di Rabithah al-&#8217;Alam al-Islami di Mekah Mukarramah telah menetapkan bahwasanya gerakan radikal, mengumbar kekerasan, dan terorisme sama sekali tidak termasuk bagian dari ajaran Islam. Lembaga ini juga menyatakan bahwa perbuatan itu adalah tindakan yang membahayakan serta menimbulkan dampak yang buruk dan keji. Di dalamnya terkandung tindakan yang melampaui batas dan kezaliman terhadap manusia (lihat al-Irhab, al-Mafhum wa al-Asbab wa Subul al-&#8217;Ilaj, hal. 16 as-Syamilah)</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Mu&#8217;alla al-Luwaihiq menjelaskan bahwa dengan pengkajian lebih dalam dapat disimpulkan bahwa sebagian sisi persoalan terorisme ini telah dibahas oleh para ulama aqidah dan fiqih serta telah dijelaskan hukum-hukumnya di dalam bab khusus yang dinamai Bab Qital ahlil baghyi yang artinya: memerangi pembuat kekacauan (al-Irhab wa al-Ghuluww, hal. 28 as-Syamilah). Dan dari sisi yang lain orang-orang yang melakukan teror ini pun dapat dikategorikan sebagai pengusung paham Khawarij, penebar kerusakan di atas muka bumi, dan termasuk kategori orang yang bertindak ghuluw/melampaui batas. Yang jelas Allah ta&#8217;ala tidak mencintai orang-orang yang membuat kerusakan. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ</p>
<p>&#8220;Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang menebarkan kerusakan.&#8221; (QS. al-Qashash: 77)</p>
<p>Bahkan Allah memberikan hukuman yang sangat keras bagi orang-orang yang gemar menebar teror dan kerusakan di muka bumi ini. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka berhak memperoleh siksaan yang besar.&#8221; (QS. al-Ma&#8217;idah: 33)</p>
<p>Di dalam tafsirnya Syaikh as-Sa&#8217;di rahimahullah berkata, &#8220;Orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya itu adalah orang-orang yang secara terus terang memusuhi Allah serta membuat kerusakan di muka bumi dalam bentuk kekafiran, pembunuhan, perampasan harta, maupun menebarkan rasa takut di jalan-jalan.&#8221; (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 229-230).</p>
<p>Pendapat yang populer menyatakan bahwa ayat ini berbicara tentang hukuman yang dijatuhkan kepada perampok. Apabila mereka melakukan perampokan sekaligus pembunuhan maka mereka berhak untuk dihukum bunuh dan disalib sebagai pelajaran dan peringatan bagi orang-orang selain mereka. Apabila mereka membunuh namun tidak merampas harta maka mereka cukup dihukum bunuh, tanpa disalib. Apabila mereka hanya merampas harta dan tidak melakukan pembunuhan maka hukuman bagi mereka adalah dipotong tangan dan kaki mereka secara bersilang, yaitu tangan kanan dan kaki kirinya yang dipotong. Apabila mereka menakut-nakuti orang tanpa disertai dengan pembunuhan dan perampasan harta (ancaman bom misalnya, pen) maka mereka diusir dari negerinya dan tidak boleh menetap terus menerus di suatu daerah selama taubat mereka belum tampak nyata. Inilah pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu&#8217;anhuma serta banyak ulama lainnya, meskipun dalam sebagian perkara mereka berbeda pendapat (Diringkas dari Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 230).</p>
<p>Kemudian, Syaikh as-Sa&#8217;di rahimahullah juga menyampaikan pelajaran yang sangat berharga -semoga kita bisa meresapi hikmahnya-, &#8220;Apabila kejahatan ini sedemikian besar persoalannya dapatlah diketahui bahwasanya membersihkan muka bumi ini dari para penebar kerusakan, menjaga keamanan jalan dari ancaman pembunuhan dan perampokan harta serta membebaskan cekaman rasa takut dari masyarakat merupakan salah satu kebaikan yang paling baik, ketaatan yang paling mulia, dan  merupakan bentuk perbaikan di muka bumi. Sebagaimana pula lawannya dikategorikan sebagai tindak perusakan di muka bumi.&#8221; (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 230).</p>
<p>Inilah kesimpulan cerdas seorang ulama tafsir mumpuni dan memiliki kapasitas untuk berijtihad seperti beliau. Amat berbeda dengan kesimpulan penafsiran yang dilontarkan oleh sebagian orang yang dijuluki sebagai ustadz dan kiyai tapi tidak mengerti manhaj/metode penafsiran yang benar terhadap ayat-ayat dan hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Setelah merenungkan hal ini baik-baik, kita sangat berharap agar saudara kita yang salah jalan -dan masih hidup- mau menyadari kekeliruannya, bertaubat, dan segera kembali kepada jalan yang lurus, yaitu jalannya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</p>
<p>Yogyakarta, 23 Sya&#8217;ban 1430 H</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/rajin-pengajian-kok-sesat.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadi Muslim, Kenapa Takut?</title>
		<link>http://abumushlih.com/jadi-muslim-kenapa-takut.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jadi-muslim-kenapa-takut.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 02:32:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[Liberal]]></category>
		<category><![CDATA[Pengeboman]]></category>
		<category><![CDATA[Robin Hood]]></category>
		<category><![CDATA[Teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=950</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini sering kita dengar bahwa orang-orang yang dikejar-kejar oleh aparat akibat aksi terorisme adalah sosok orang-orang yang rajin ke masjid, mengenakan busana muslimah (baca: cadar), dan memakai celana/pakaian di atas mata kaki (tidak isbal) sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi. &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jadi-muslim-kenapa-takut.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjadi-muslim-kenapa-takut.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjadi-muslim-kenapa-takut.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Akhir-akhir ini sering kita dengar bahwa orang-orang yang dikejar-kejar oleh aparat akibat aksi terorisme adalah sosok orang-orang yang rajin ke masjid, mengenakan busana muslimah (baca: cadar), dan memakai celana/pakaian di atas mata kaki (tidak isbal) sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi. Ringkasnya, mereka yang terlibat jaringan teroris itu rata-rata adalah orang yang dianggap punya semangat beragama dan aktif dalam kegiatan agama semacam sholat berjama’ah dan pengajian.</p>
<p><span id="more-950"></span></p>
<p>Pembaca sekalian, semoga Allah menetapkan kita di atas kebenaran. Sebenarnya Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah agama yang indah dan sempurna. Bagaimana tidak? Islam mengajarkan kepada umatnya untuk beribadah hanya kepada satu sesembahan yang benar saja yaitu Allah Rabb yang menciptakan dan memelihara alam semesta. Sementara agama-agama yang lain menyeru manusia untuk beribadah kepada thaghut/sesembahan selain Allah, sesuatu yang sama sekali tidak menguasai walaupun hanya setipis kulit ari. Oleh karena itulah, agama segenap Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah di atas muka bumi ini adalah satu, dan itu tidak lain adalah tauhid. Allah ta’ala berfirman,</p>
<p>“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36)</p>
<p>Dengan demikian, menjadi seorang muslim yang benar-benar bertauhid adalah cita-cita semua orang, jika mereka benar-benar ingin meraih kesuksesan hidup di dunia maupun di akhirat. Kenapa demikian? Sebab tidaklah Allah ta’ala mengutus para rasul di atas muka bumi ini melainkan untuk membimbing mereka untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Oleh sebab itu Allah mengaitkan antara ketaatan kepada Allah dan rasul dengan keberuntungan dan kemenangan. Allah ta’ala berfirman,</p>
<p>“Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia pasti akan mendapatkan keberuntungan yang sangat besar.” (QS. al-Ahzab: 71)</p>
<p>Maka hakikat orang yang sukses itu adalah yang benar-benar taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sementara, ketaatan paling agung di dalam Islam itu tidak lain adalah mewujudkan tauhid dan melenyapkan kemusyrikan dari dalam diri mereka. Dengan tauhid itulah seorang hamba akan mendapatkan karunia dari Allah berupa surga. Allah ta’ala berfirman,</p>
<p>“Sesungguhnya barang siapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka, dan sama sekali tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim/musyrik itu.” (QS. al-Ma’idah: 72)</p>
<p><strong>Model Islam ‘Pengecut’</strong><br />
Apabila kita tengok sejarah umat Islam di masa Nabi dan para sahabat, kita dapati memang ada sebagian orang yang rajin sholat berjama’ah di masjid, namun untuk sholat-sholat tertentu saja yaitu selain sholat Subuh dan ‘Isyak. Di masa itu belum ada listrik dan penerangan seperti masa sekarang. Sehingga orang-orang yang tidak menghadiri jama’ah sholat Subuh dan ‘Isyak tidak ketahuan siapa saja, karena keadaan gelap. Mereka itu tidak lain adalah kaum munafikin, yang jasadnya bersama kaum muslimin namun hati mereka bersama orang-orang kafir. Orang-orang munafik memang memiliki ‘program’ untuk menebarkan keragu-raguan di tengah barisan umat Islam. Di antara tipu daya mereka adalah dengan menampakkan kebersamaan di satu sisi, namun di sisi lain mereka menggerogoti kekuatan kaum muslimin dari dalam. Inilah model Islam ‘pengecut’ yang mereka tawarkan.</p>
<p>Nah, pada jaman kita sekarang ini pun terrnyata model Islam semacam itu masih ada. Mereka yang mempropagandakan liberalisme Islam, bahwa seorang muslim itu tidak boleh fanatik kepada ajaran agamanya, seorang muslim tidak boleh menganggap orang di luar Islam sebagai orang kafir, seorang muslim harus meyakini bahwa kebenaran itu ada pada semua agama, oleh sebab itu surga –dalam persepsi mereka- itu tidak hanya dihuni oleh orang Islam saja (baca: pengikut Rasulullah), namun siapa saja berhak masuk surga asalkan mereka beriman kepada Allah (baca: meyakini adanya Allah) dan hari akhir (baca: masa depan, kata mereka). Inilah kerancuan pemahaman yang ingin mereka sebar luaskan di tengah-tengah kaum muslimin, agar kaum muslimin terlepas dari ajaran agamanya sedikit demi sedikit hingga akhirnya Islam tinggal nama. Maka -harapan mereka- seorang muslim, tak ada lagi bedanya dengan seorang penyembah berhala. Dia tidak sholat, tidak berjama’ah di masjid, tidak mengenakan jilbab, laki-lakinya tidak memelihara jenggot, meniru gaya hidup orang kafir dan menjadi manusia berwatak binatang yang cita-citanya adalah memuaskan hawa nafsu perut dan beberapa senti di bawah perut. Inilah yang mereka dambakan siang dan malam!</p>
<p>Saudara-saudaraku sekalian, semoga Allah memberikan kesabaran kepada kita untuk menjaga agama ini dari rongrongan musuh Allah dan Rasul-Nya. Seorang muslim bukanlah sosok pengecut seperti yang mereka serukan. Seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan senantiasa memberikan loyalitasnya kepada Islam dan kaum muslimin. Bukankah Allah berfirman,</p>
<p>“Tidak akan kamu jumpai orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir itu berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, meskipun mereka itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau sanak keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah ditetapkan keimanan di dalam hati mereka dan Allah perkuat mereka dengan ruh/pertolongan dari-Nya&#8230;” (QS. al-Mujadilah: 22)</p>
<p>Maka orang yang mulia dan dihormati dalam pandangan seorang muslim adalah orang yang dimuliakan oleh Allah dan Rasul-Nya karena iman dan amal salih mereka. Bukan semata-mata karena ucapan dan penampilan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat sebagian orang dengan sebab Kitab ini dan akan menghinakan sebagian orang dengan sebab Kitab ini pula.” (HR. Muslim).</p>
<p>Bukankah Allah ta’ala juga berfirman,</p>
<p>“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. al-Hujurat: 13)</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,</p>
<p>“Sesungguhnya Allah tidak memperhatikan kepada rupa-rupa kalian, tidak juga kepada harta-harta kalian, akan tetapi yang diperhatikan oleh Allah adalah hati dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim)</p>
<p>Maka orang-orang Liberal yang menyerukan kepada kaum muslimin untuk menanggalkan identitas dan karakter keislaman mereka, entah itu berupa busana muslimah, kesetiaan kepada Sunnah Nabi, dan komitmen kepada tauhid, pada hakikatnya mereka sedang menyeru kaum muslimin untuk ‘nyemplung ‘ (menceburkan diri) ke dalam jurang kehinaan dan kerendahan. Sungguh akhlak yang sangat-sangat tercela! Adakah orang yang lebih pengecut daripada mereka yang mengatasnamakan intelektualisme Islam untuk memurtadkan umat Islam dari agamanya? Mereka itulah orang-orang yang rela menjual agamanya demi kenikmatan dunia yang tiada artinya di sisi Allah, seharga sayap nyamuk pun tidak!</p>
<p><strong>Model Islam ‘Robin Hood’</strong><br />
Pembaca sekalian mungkin masih ingat sosok bernama Robin Hood yang konon katanya pahlawan pembela rakyat kecil, namun menempuh perjuangannya dengan cara mencuri alias maling. Nah, ternyata di antara kaum muslimin pun ada orang-orang yang bertindak sebagaimana si Robin Hood tokoh yang jelas tidak layak untuk diteladani. Sebagian orang yang memiliki semangat membara di dalam dadanya untuk menyelamatkan umat Islam dari penjajahan pemikiran yang dilakukan oleh barat (baca: orang kafir) beserta antek-anteknya (di antaranya adalah penganut ajaran Liberal) berusaha untuk menumpas orang-orang kafir tanpa pandang bulu.</p>
<p>Mereka tidak peduli, yang penting mereka ingin menghancurkan orang kafir di mana saja dan dengan cara apa saja. Dalam hal ini mereka sangat jelas tampak tidak memiliki bekal ilmu dalam menempuh perjuangannya. Maka muncullah berbagai aksi bom bunuh diri, pengeboman, pembajakan pesawat, dan pemberontakan kepada penguasa muslim yang ada, atau yang populer dengan istilah teror. Sehingga hal itu menimbulkan terjadinya kekacauan di tengah-tengah masyarakat Islam. Saling curiga pun terjadi dan rasa aman tercabut. Orang-orang -terutama para pejabat negara dan orang asing- menjadi khawatir akan keselamatan diri mereka. Padahal Islam tidak membenarkan terjadinya pertumpahan darah kecuali ada alasan yang benar seperti dalam situasi perang dengan orang kafir. Apalagi jika yang terbunuh/ikut menjadi korban itu adalah orang muslim, maka dosanya jauh lebih besar dan lebih berat.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>“Hilangnya dunia itu lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin -tanpa hak-.” (HR. Nasa’i)</p>
<p>Demikian pula, membunuh orang kafir tanpa hak adalah sebuah dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>“Barang siapa yang membunuh orang kafir yang terikat perjanjian -dengan individu atau pemerintah muslim- maka dia tidak akan mencium baunya surga. Sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,</p>
<p>“Barang siapa bunuh diri dengan suatu alat/cara maka dia akan disiksa dengan cara itu pula di hari kiamat kelak.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Pembaca sekalian, alangkah bodohnya orang yang menganggap bahwa dakwah Islam adalah dakwah yang tidak mengenal kasih sayang. Tidakkah kita ingat bahwa tujuan dakwah Islam adalah mengentaskan umat manusia dari pemujaan kepada thaghut dan berbagai bentuk kemusyrikan yang ada? Dakwah tauhid adalah dakwah yang penuh dengan kasih sayang kepada umat manusia, bahkan kepada orang kafir sekalipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuat adil dan tidak menzalimi mereka. Sebelum mengobarkan perang, maka terlebih dulu beliau memerintahkan kepada pasukannya untuk mengajak orang-orang kafir agar masuk ke dalam Islam dan memeluk ajaran tauhid yang suci ini. Kalau mereka enggan maka masih ada alternatif bagi mereka untuk tetap hidup di bawah pemerintahan Islam dengan cara membayarkan jizyah kepada pemerintah. Nabi juga melarang membunuh anak-anak dan perempuan. Maka di manakah letak keadilan ketika darah manusia sudah tidak dihargai, nyawa mereka dilenyapkan begitu saja tanpa pandang bulu, gedung-gedung diledakkan dan harta serta fasilitas publik menjadi rusak dan tidak berfungsi? Di manakah letak keadilan pada aksi teror yang menghalalkan darah orang kafir tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at? Kalau mereka ingin menegakkan keadilan dengan cara semacam itu lalu di manakah letak keadilannya? Pikirkanlah wahai orang-orang yang berakal&#8230;</p>
<p>Perang yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat adalah peperangan suci yang tidak dikotori oleh kezaliman dan cara-cara kotor ala teroris. Ketika umat Islam berada dalam kondisi lemah bahkan jihad secara fisik itu tidak disyari’atkan, karena akan mendatangkan mafsadat/kerusakan yang lebih besar bagi kaum muslimin sendiri. Sebagaimana halnya ketika berada di Mekah –sebelum hijrah-, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya tidak melakukan aksi-aksi militer dan penyerangan secara fisik. Mereka mencukupkan diri dengan jihad dengan ilmu, jihad dengan al-Qur’an, bukan dengan pedang dan tombak.</p>
<p><strong>Dua jenis ‘tetangga’ yang berbahaya</strong><br />
Maka kaum muslimin sekalian –semoga Allah merahmati kami dan anda- di masa sekarang ini kita hidup di antara orang-orang yang memiliki kecenderungan kepada salah satu di antara dua model manusia di atas. Dua jenis tetangga berbahaya yang harus kita waspadai. Yang pertama, orang-orang yang menganut pemikiran liberal dan menganggap semua agama sama, orang-orang yang bercita-cita untuk melepaskan kaum muslimin dari segala karakter dan kepribadian mereka. Yang kedua, orang-orang yang terseret dalam aliran menyimpang namun berpenampilan layaknya muslim dan muslimah yang taat. Mereka ingin membela Islam namun dengan cara-cara yang tidak benar. Inilah realita umat yang kita hadapi sekarang ini.</p>
<p>Tidak ada jalan keluar bagi kita dalam mengatasi persoalan ini kecuali dengan mengembalikan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih, menegakkan tauhid pada diri kita dan keluarga kita serta berpegang teguh dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menjauhi syirik dan bid’ah yang telah merajalela di tubuh umat ini. Itulah tugas kita bersama. Belum lagi, kita masih harus bekerja ekstra keras guna membersihkan umat ini dari segala penyimpangan akhlak dan moral yang banyak menimpa generasi mudanya.</p>
<p>Allah ta’ala berfirman,</p>
<p>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d: 11)</p>
<p>Allah ta’ala berfirman,</p>
<p>“Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir, hal itu lebih baik dan lebih bagus hasilnya.” (QS. an-Nisaa’: 59)</p>
<p>Allah ta’ala berfirman,</p>
<p>“Barang siapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman maka Kami akan membiarkannya terombang-ambing di dalam kesesatannya, dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’: 115)</p>
<p>Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Ikutilah tuntunan, jangan kalian mengada-adakan sesuatu yang tidak ada ajarannya. Sebab kalian telah dicukupkan.”</p>
<p>Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Tidak akan baik keadaan akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang menyebabkan baik generasi awalnya.”</p>
<p>al-Auza’i rahimahullah berkata, “Wajib atasmu untuk mengikuti jejak orang-orang yang terdahulu (para sahabat) dan jauhilah pendapat pikiran orang-orang itu meskipun mereka menghias-hiasinya dengan ucapan indah di hadapanmu.”</p>
<p>Apabila hari-hari ini kita bersedih dengan teror fisik yang dilakukan oleh jenis ‘tetangga’ yang ‘suka ribut-ribut dan berbau kematian’ (istilahnya Imam Samudera) maka sudah sepatutnya pula kita prihatin dengan teror pemikiran yang dilakukan oleh jenis ‘tetangga’ yang sok intelek dan dianggap sebagai reformis yang ternyata berpikiran liberal. Apabila teror yang pertama melenyapkan nyawa tak bersalah dan menelan korban yang salah jalan, maka teror yang kedua mencabut kaum muslimin dari ruh dan jiwa keberagamaan mereka. Wallahul musta’an (Allah sajalah tempat kita meminta pertolongan)</p>
<p>Aduhai, di manakah posisi kalian wahai kaum muslimin?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jadi-muslim-kenapa-takut.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khawarij Kontemporer</title>
		<link>http://abumushlih.com/khawarij-kontemporer.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/khawarij-kontemporer.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 11:54:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Harokah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhwanul Muslimin]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[Sayyid Quthb]]></category>
		<category><![CDATA[Takfir]]></category>
		<category><![CDATA[Teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=942</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Prof Dr Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily Pada abad ini, sungguh pemikiran takfir telah tersebar begitu dahsyat, kekuatannya melampaui abad-abad sebelumnya. Pemikiran takfir tersebar ditengah-tengah kaum muslimin, sehingga penyakit ini menjangkiti begitu banyak orang yang sebelumnya tidak dikenal banyak melakukan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/khawarij-kontemporer.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkhawarij-kontemporer.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fkhawarij-kontemporer.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh<br />
<strong>Prof Dr Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily</strong></p>
<p>Pada abad ini, sungguh pemikiran takfir telah tersebar begitu dahsyat, kekuatannya melampaui abad-abad sebelumnya. Pemikiran takfir tersebar ditengah-tengah kaum muslimin, sehingga penyakit ini menjangkiti begitu banyak orang yang sebelumnya tidak dikenal banyak melakukan bid’ah. Diantara sumber dan sebab tersebarnya adalah sebagian kelompok dakwah modern yang asasnya bukan sunnah (ajaran) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan bercampur aduk didalamnya berbagai bid’ah dan kesesatan, baik dikarenakan buruknya tujuan pendirinya, maupun karena kebodohan mereka tentang agama.</p>
<p><span id="more-942"></span></p>
<p>Kemudian muncullah banyak buku hasil produksi kelompok-kelompok tersebut, yang dikenal dengan buku-buku pemikiran. Buku-buku tersebut telah merusak aqidah sejumlah besar kaum muslimin, sehinga menyelewengkan mereka dari ajaran agama. Buku-buku tersebut menilai bahwa masyarakat muslim dewasa ini adalah masyarakat jahiliyyah dan kafir, karena mereka telah membuang Islam kebelakang punggung mereka, dan mereka telah memeluk kekufuran yang nyata, dan tidak ada seorangpun, diantara individu-idividu umat yang selamat dari vonis kafir ini, baik pemerintah maupun rakyatnya, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda. Fenomena ini memiliki peran terbesar, dalam mewujudkan generasi abad ini yang terdidik berdasarkan kepada buku-buku tersebut, hingga bibit-bibit ide untuk mengkafirkan seluruh masyarakat Islam dewasa ini tertanam di dalam jiwa-jiwa mereka, sehingga kesesatan tersebut menjadi suatu keyakinan yang kokoh bagi mereka, dan tidak perlu ditanyakan lagi tentang fitnah dan keburukan yang akan muncul dari balik keyakaninan ini.</p>
<p>Saya tidak ingin memperbanyak dalam memberikan permisalan dari buku tersebut, tentang teks dan perkataan mengenai pengkafiran masyarakat Islam dewasa ini, akan tetapi saya hanya ingin menyebutkan sebagian contoh dan bukti yang ada di dalam buku-buku Sayyid Quthub rahimahullah, karena dialah Imam yang diagungkan oleh mayoritas Ikhwanul Muslimin dan orang-orang yang terpengaruh dengan manhaj mereka, terlebih lagi buku orang ini paling luas penyebarannya, dan paling kuat pengaruhnya, jika dibandingkan dengan buku-buku lain yang sejenis, sampai-sampai sebagian orang yang menisbatkan diri mereka kepada sunnah, terfitnah oleh buku-bukunya. Pada hakekatnya, buku-buku Ikhwanul Muslimin penuh dengan ungkapan-ungkapan pengkafiran pemerintah dan masyarakat muslim dewasa ini.</p>
<p>Diantara teks pengkafiran Sayyid Quthub terhadap seluruh masyarakat Islam dewasa ini, adalah yang tercantum di “Ma’aalim Fith Thoriq” : “Dan hakekat permasalahannya, adalah perkara kufur dan iman, syirik dan tauhid, jahiliyah dan Islam, dan inilah yang harus diperjelas …. Sesungguhnya, manusia (sekarang) bukanlah kaum muslimin (sebagaimana yang mereka akui), dan mereka hidup dalam kehidupan jahiliyyah. Jika ada orang yang suka menipu dirinya, atau menipu orang lain, kemudian berkeyakinan bahwa Islam bisa tegak berdampingan dengan kejahiliyyahan ini, maka terserah dia. Akan tetapi, ketertipuan atau penipuannya, tidak akan merubah hakekat kenyataan sedikitpun. Ini bukan Islam, dan mereka bukan kaum muslimin” [2]</p>
<p>Sayyid Quthub berkata di dalam Fii Zhilalil Qur’an : “Sungguh, waktu terus berputar seperti ketika agama ini datang membawa kalimat Laa ilaha illallah kepada manusia. Sungguh manusia (sekarang) telah murtad, beralih kepada peribadatan kepada para hamba dan kepada kedholiman berbagai agama, berpaling dari Laa ilaha illallah, meskipun masih ada sekelompok orang yang memperdengarkan Laa ilaaha illallah”</p>
<p>Manusia seluruhnya dan termasuk di dalamnya, mereka yang senantiasa mendengung-dengungkan ditempat adzan, baik dibelahan timur maupun barat bumi, kalimat : Laa ilaaha illallah, tanpa bukti dan konsekwensi …., dan mereka adalah yang berat dosanya, dan paling keras siksaannya pada hari kiamat, karena mereka telah murtad menuju peribadatan hamba, setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, dan setelah memeluk agama Allah”[3]</p>
<p>Sayyid Quthub berkata : “Sesungguhnya, sekarang ini tidak ada satu negara atau masyrakat muslim pun di muka bumi, kaidah berinteraksi dengan mereka adalah dengan syari’at Allah dan fiqih Islam” [4]</p>
<p>Teks-teks yang gamblang seperti diatas, masih banyak di dalam buku-buku Sayyid Quthub. Itu semua tidak ada kemungkinan untuk ditakwilkan, karena maksud semuanya adalah mengkafirkan para ulama, pemerintah dan (seluruh) individu umat Islam, sampai para tukang adzan (muadzdzin), mereka semuanya menurut Sayyid Quthub adalah kaum kafir lagi murtad, dosanya lebih berat, dan adzab mereka lebih keras dari selainnya.</p>
<p>Maka, dari buku-buku ini dan sejenisnya, sebagian pengikut takfir masa ini menimba manhaj mereka, ide pengkafiran masyarakat muslim, beserta akibat-akibatnya, seperti pembajakan, peledakan dan pembunuhan terhadap jiwa yang dilarang, diberbagai negeri kaum muslimin dan yang diluar mereka.</p>
<p>Kenyataan ini telah diakui oleh tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin dan mereka tulisakan di buku-buku mereka.</p>
<p>Al-Qardhawi mengatakan : “ Pada fase ini, muncul buku-buku Sayyid Quthub yang mewakili fase terakhir pemikiran takfirnya, yang dengan cepat mengkafirkan masyarakat …. serta pengumuman jihad penyerangan atas seluruh manusia”.</p>
<p>Farid Abdul Kholiq mengatakan : “Sesungguhnya pemikiran takfir tumbuh diantara para pemuda Ikhwanul Muslimin yang berada di penjara Al-Qonathir [5], pada akhir tahun lima puluhan dan permulaan enam puluhan. Mereka itu terpengaruh oleh pemikiran dan tulisan Sayyid Quthub, sehingga mereka berkesimpulan bahwa masyarakat dalam keadaan jahiliyyah, para pemimpinnya telah kafir, karena mengingkari Allah sebagai Hakim tunggal, buktinya mereka tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Begitu pula rakyatnya kafir, jika meridhoi hal tersebut”.</p>
<p>Salim Al-Bahnasawy [6] berkata : “Sayyid Quthub telah mengadopsi sebagian pendapat Al-Maududi serta menampilkannya dalam tulisan-tulisannya, dan lebih khusus pada juz ke-7 dari tafsir Fii Zhilalil Qur’an, kemudian datang suatu kaum berkesimpulan atas dasar hal itu, bahwa kaum muslimin telah kafir, karena mereka mengucapkan syahadat tanpa mengetahui maknanya, dan tanpa mengamalkan isinya, sehingga meskipun mereka sholat, puasa, haji dan menyangka bahwa diri mereka kaum muslimin, maka sama sekali tidak merubah kekafiran mereka” [7]</p>
<p>Ali Jarisyah [8] menetapkan bahwa kaum takfiriyin (suka mengkafirkan kaum muslimin), asalnya mereka adalah dari kelompok Ikhwanul Muslimin, kemudian mereka memisahkan diri dari Ikhwanul Muslimin dan mengkafirkan Iikhwanul Muslimin.</p>
<p>Teksnya : “Dalam pembicaraan, sekelompok orang telah memisahkan diri dari kelompok besar Islam, ketika mereka berada di penjara. Meskipun demikian, kelompok kecil tersebut juga mengkafirkan kelompok besar, karena kelompok kecil ini tetap berpegang pada pendapat mereka dalam pengkafiran peguasa, staf-stafnya, serta seluruh masyarakat. Dari kelompok pecahan tersebut terpecah lagi menjadi kelompok-kelompok yang banyak, yang satu megkafirkan yang lainnya” [9]</p>
<p>Al-Bahnasawi menjelaskan perpecahan kelompok ini di dalam diri mereka sendiri dalam berinteraksi dengan kaum muslimin, maka dia mengatakan : “Ketika itu, terpecah pengikut pemikiran ini menjadi dua:</p>
<p>[1]. Kelompok yang tidak menampakkan pengkafiran atas orang-orang yang menyelisihi mereka, sehingga kaum muslimin yang tidak sependapat dengan mereka, tidak kafir, boleh shalat dibelakang mereka,isteri-isteri pengikut pemikiran ini juga tidak kafir, sehinga tidak perlu membatalkan akad pernikahan mereka.</p>
<p>[2]. Kelompok yang memisahkan diri dengan terang-terangan, dan mengumumkan pengkafiran atas saudara-saudaranya yang tidak mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi pemikiran ini, diantaranya kelompok Ikhwanul Muslimin.</p>
<p>Inilah kelompok yang terkenal dengan sebutan “Jama’ah Takfir dan Hijrah”, akan tetapi mereka menamakan diri dengan nama “Jama’atul Mukminn” atau “ Al-Jama’ah Al-Mukminah”.</p>
<p>Adapun kelompok pertama lebih memilih untuk tidak menampakkan manhaj mereka, dengan menjalankan dua kaidah : Memisahkan diri secara perlahan, dan (bergerak di) masa-masa lemah (fase Mekkah)” [10]</p>
<p>Pada hakekatnya, pemikiran yang Al-Bahnasawi berusaha membantahnya , yang dimiliki oleh Jama’ah At-Tafkir wal-Hijrah adalah pemikiran Ikhwanul Muslimin, bahkan itulah pemikiran dan keyakinan Sayyid Quthub. Motivasi Al-Bahnasawi melakukan hal ini, adalah kebesaran cinta dan sayangnya kepada Sayyid Quthub, sebagaimana hal itu nampak di dalam bukunya, dengan berusaha melepaskan keterkaitan Sayyid Quhub dengan keyakinan tafkir [11], meskipun dia telah mengakui bahwa aqidah ini diambil dari buku-buku Sayyid Quthub, dan Sayyid Quthub mengadopsinya dari Al-Maududi.</p>
<p>Diantara bukti hal ini, adalah keterus terangan Sayyid Quthub sendiri akan wajibnya mengembargo masyarakat muslim, yang dia sebut sebagai masyarakat jahiliyyah. Dia juga mewajibkan untuk mengasingkan diri, bahkan dari masjid-masjid, yang dia menyebutnya sebagai tempat-tempat ibadah jahiliyyah, seraya mengatakan : “Dan disinilah Allah membimbing kita untuk menjauhi tempat-tempat ibadah jahiliyyah, dan menjadikan rumah-rumah keluarga muslim sebagai masjid. Anda akan merasakan di dalamnya benar-benar terpisah dari masyarakat jahiliyyah” [12]</p>
<p>Dia juga mengatakan : “Sungguh tiada keselamatan bagi seorang muslim di seluruh dunia dari tertimpa adzab, kecuali dengan memisahkan diri baik secara aqidah, perasaan maupun metode hidup dari orang-orang jahiliyyah dari kaummnya, sampai Allah mengizinkan berdirinya negara Islam yang mereka pegang teguh” [13]</p>
<p>Pada hakekatnya, aqidah pengkafiran masyarakat muslim ini, dan menganggap mereka sebagai masyarakat jahiliyyah lagi kafir, tidak hanya dimiliki oleh Saayid Qutuhub saja, akan tetapi itulah keyakinan yang bibit-bibitnya sudah tertanam kuat dan tersebar luas pada para pemimpin Ikhwanul Muslimin. Diantara pengusung pemikiran ini yang paling menonjol adalah Muhammad Quthub[14], yang telah mengkhususkan pembahasan ini dalam bukunya yang terkenal, “Jahiliyyatul Qorni Isyrin” (Jahiliyah abad ke-20). Pada berbagai tempat di dalam bukunya ini, Muhammad Quthub terang-terangan mengkafirkan masyarakat muslim dewasa ini</p>
<p>Muhamad Quthub mengatakan : “Adapun keadaan yang dinamakan dunia Islam, maka hal itu sebagian keadaannya berbeda dengan kondisinya di Eropa, akan tetapi pada akhirnya akan bertemu dengannya, sebagaimana jahiliyyah bertemu dengan jahiliyyah di setiap tempat dimuka bumi, dan disetiap masa, meskipun sifat-sifatnya sedikit berbeda, yang membedakan jahiliyyah yang ini dengan yang itu, serta membedakan antara keadaan ini dengan keadaan itu.</p>
<p>Islam di dunia ini (sekarang) asing bagi manusia, seperti keterasingannya pada awal munculnya di era jahiliyyah jazirah arab dahulu, dan jahiliyyah yang sekarang[15] melebihi yang terdahulu, Islam dibenci oleh banyak orang.</p>
<p>Setapak demi setapak pada pasal ini kita akan berbicara tentang kelompok-kelompok manusia yang berbeda-beda, agar bisa kita jelaskan, kenapa mereka membenci Islam [16]</p>
<p>Kemudian dia menyebutkan, diantara kelompok-kelompok tersebut yang membenci Islam adalah kelompok thogut, dan yang dimaksud adalah para penguasa, kelompok cendekiawan, seniman dan para penulis, tukang dongeng, para penyair, anak-anak pria dan wanita.[17]</p>
<p>Setelah itu, dia mengatakan : “Derajat kebenciannya sama, antara yang membangkang dengan yang lemah” [18]</p>
<p>Lalu dia bertanya-tanya : “Maka, jika demikian, apakah yang masih tersisa dari kaum muslimin?! [19]</p>
<p>Kemudian dia mencatat hasilnya : “Sungguh manusia pada generasi ini, telah kafir padahal mereka mengetahuinya” [20]</p>
<p>Dan tidaklah buku-buku para pemimpin Ikhwanul Muslimin yang lain keadaannya lebih baik dari buku-buku Sayyid Quthub dan saudaranya. Dan hal itu bukanlah suatu hal yang mengherankan, karena Sayyid Quthub menurut mereka adalah Imam yang diagungkan, Syaikhul Islam, pembaharu agama abad ini. Hal ini juga diikuti simpatisan mereka, maka bagaimana mungkin mereka akan menyelisihi idola mereka ?!</p>
<p>Dan tidaklah keadaan Al-Maududi dan para pengikutnya di Pakistan, India dan lainnya lebih baik dari kelompok Ikhwanul Muslimin, bahkan sebagian peneliti buku-buku Al-Maududi menjelaskan bahwa Sayyid Quthub mengadopsi pemikiran dan manhajnya dari Al-Maududi saja, sebagaimana perkataan Al-Bahnasawi yang terdahulu.</p>
<p>Yang terakhir, sesungguhnya saya memperingatkan dengan keras kepada setiap pemuda yang memiliki kecemburuan terhadap agamanya untuk tidak membaca buku-buku pemikiran tersebut, yang namanya saja sudah menunjukkan betapa jauhnya buku-buku tersebut dari agama. Karena buku-buku pemikiran, sebagaimana penamaan mereka, yakni buku-buku yang dihasilkan dari berbagai pemikiran dan pendapat pengarangnya, kadar bahanya buku-buku ini tidak lebih rendah dari buku-buku filsafat yang dilarang oleh salaf, bahkan lebih dahsyat. Buku-buku ini tidak berdiri diatas dalil dan tidak selaras dengan pemahaman salaf, bahkan merupakan pencampuran (kolaborasi) antara berbagai bid’ah dan kesesatan. Ciri khas yang menonjol dari buku-buku tersebut adalah memprovokasi dan menyeru umat untuk memberontak dan membangkang penguasa, dengan mempropagandakan kekafiran dan kemurtadan penguasa dari agama, serta menjadikan para pemuda tersebut disibukkan dengan politik dan masuk dalam konflik, sehingga keburukan dan bahayanya buku-buku ini begitu besar, dan begitu banyak orang-orang yang terfitnah oleh buku-buku ini, dan tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah semata. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. [21]</p>
<p>[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 24 Th V Dzulqo’dah 4127H. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafy Surabaya, Jl Sidotopo Kidul No. 51 Surabaya]<br />
__________<br />
Footenotes<br />
[1]. Dialihbahasakan oleh Abu Zahroh Imam Wahyudi Lc, dari buku At-Takfir wa Dhowabithuh” karya Prof Dr Ibrahim bin Amir Ar-Rauhaily, dosen fakultas Da’wah wa Ushuludin, Universitas Islam Madinah hal : 37-45. Tulisan ini kami muat sebagai jawaban atas orang-orang yang menyatakan Khowarij sekarang ini, sudah punah (-pent)<br />
[2]. Ma’alim Fith Thoriq hal : 158<br />
[3]. Fii Zhilalil Qur’an (2/1057)<br />
[4]. Idem (4/2122)<br />
[5]. Penjara ini ada di Kairo, Mesir (-pent)<br />
[6]. Penulis dari kalangan Ikhwanul Muslimin, pernah tinggal di Kuwait. (-pent)<br />
[7]. Al-Hukmu wa Qodhiyah Takfiril Muslimin hal : 50<br />
[8]. Penulis dari kalangan Ikhwanul Muslimin, lulusan Fakultas Hukum, Kairo<br />
[9]. Al-Ittijaahat Al-Fikriyah Al-Mu’aashiroh hal : 279<br />
[10]. Al-Hukmu wa Qodhiyah Takfiril Muslimin hal : 34-35<br />
[11]. Al-Hukmu wa Qodhiyah Takfiril Muslimin hal : 50, 56, 66, 73, 74,76, 112<br />
[12]. Fii Zhilalil Qur’an 3/1816<br />
[13] idem 4/2122<br />
[14]. Adik kandung Saayid Quthub, lulusan Fakultas Bahasa Inggris di Universitas Kairo Mesir, kemudian mendapatkan gelar Diploma dalam bidang Psikologi. Dialah yang mengusung dan mengembangkan pemikiran Sayyid Quthub di Saudi Arabia, ketika ia mengajar di Universitas Umul Quro, Mekkah. Sehingga tidak mengherankan apabila muncul dari sana tokoh-tokoh yang berpemikiran takfir akan tetapi berbaju salaf, semisal Dr Safar Hawali dll. Allahu Musta’an. (-pent)<br />
[15]. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Adapun mensifati zaman secara mutlak, maka tidak ada masa jahiliyah setelah diutusnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena senantiasa akan ada segolongan dari umatnya yang akan nampak di atas kebenaran sampai kiamat nanti” (Iqtidho’ush Shirothol Mustaqim : 1/259)<br />
Dr Nashir bin Abdul Karim Al-Aql (pentahqiq buku diatas) mengomentari : “Atas dasar ini, maka menggunakan istilah Jahiliyah dengan mutlak untuk kaum muslimin secara umum, atau untuk suatu negeri kaum muslimin, atau untuk suatu masyarakat muslim, tanpa perincian keadaan, perbuatan, tindakan atau individu tertentu, merupakan suatu kesalahan dan peremehan, yang sudah sepatutnya seorang muslim menjauhinya. Adapun yang disampaikan oleh beberapa penulis, penyusun dan pemikir bahwa semua atau semua masyarakat muslim adalah masyarakat jahiliyyah (tanpa perincian atau pengkhususan siapa yang menurut syari’at berhak menyandang istilah tersebut), maka itu bukanlah metode yang selamat, bahkan menyelisihi kaidah-kaidah syari’at dan manhaj As-Salaf Ash-Shalih. (editor).<br />
[16]. Jahiliyatul Qornil ‘Isyrin hal :328-329<br />
[17]. Idem : 329-331<br />
[18]. Idem hal 337<br />
[19]. Idem hal 337<br />
[20]. Idem hal 351<br />
[21]. Lihatlah fatwa larangan sebagian ulama masa kini dari membaca buku-buku tersebut, seperti dalam kitab “Al-Ajwibah Al-Mufidah An-Manahijid Dakwal Al-Jadidah” oleh Syaikh Sholih Al-Fauzan, dikumpulkan oleh Jamal Furaihan Al-Haritsi. Juga buku “Fatawa Al-Akabir” dikumpulkan dan dikomentari oleh Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Rhamadhany. (-pent)</p>
<p>Sumber: almanhaj.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/khawarij-kontemporer.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teroris Bukan Mujahid dan Bukan Mujtahid!</title>
		<link>http://abumushlih.com/teroris-bukan-mujahid-dan-bukan-mujtahid.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/teroris-bukan-mujahid-dan-bukan-mujtahid.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 06:06:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Ijtihad]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[Pengeboman]]></category>
		<category><![CDATA[Teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=939</guid>
		<description><![CDATA[Kaum muslimin, semoga Allah membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus. Di hari-hari ini kita bisa melihat dengan mata kepala kita, bagaimana sejarah perjuangan umat Islam kembali dinodai oleh ulah oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan Islam dan jihad. Dengan &#8230; <a href="http://abumushlih.com/teroris-bukan-mujahid-dan-bukan-mujtahid.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fteroris-bukan-mujahid-dan-bukan-mujtahid.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fteroris-bukan-mujahid-dan-bukan-mujtahid.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Kaum muslimin, semoga Allah membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus. Di hari-hari ini kita bisa melihat dengan mata kepala kita, bagaimana sejarah perjuangan umat Islam kembali dinodai oleh ulah oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan Islam dan jihad. Dengan seenaknya mereka melakukan tindak pengeboman, penghancuran, serta berupaya untuk mengacaukan ketentraman negeri kaum muslimin dengan kedok jihad dan ijtihad. Padahal, Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari apa yang mereka lakukan. Alangkah cocok sebuah bait syair yang menggambarkan keadaan orang-orang seperti mereka,</p>
<p><span id="more-939"></span></p>
<p><em>Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila<br />
Namun, malang. Ternyata Laila tidak mengiyakan omongan mereka</em></p>
<p>Begitulah kurang lebih keadaan mereka. Dengan tanpa malu-malu, mereka mengaku sebagai barisan mujahidin dan menobatkan diri sebagai mujtahid. Bagaimana mungkin orang yang gemar menebar kekacauan dan kerusakan di atas muka bumi dengan membunuh nyawa tanpa hak layak untuk disebut sebagai mujahid, apalagi dinobatkan sebagai mujtahid? Allahul musta&#8217;an! Di manakah akal mereka?</p>
<p><strong>Orang-orang yang salah sangka</strong><br />
Saudaraku sekalian, marilah kita renungkan barang sejenak fenomena yang menyayat hati ini. Para pemuda yang jahil/tidak mengerti syari&#8217;at Islam dengan mudahnya ditipu oleh mujahid dan mujtahid gadungan. Sehingga akhirnya nyawa mereka sendiri pun mereka relakan -dengan aksi bom bunuh diri- untuk memperjuangkan apa yang mereka kira sebagai sebuah jihad dan pengorbanan untuk agama. Aduhai, alangkah malang nasib mereka. Tidakkah mereka ingat akan sebuah firman Allah yang menceritakan keadaan orang-orang seperti mereka, yang bersusah payah melakukan suatu usaha dan menyangka telah mempersembahkan sesuatu yang terbaik bagi agamanya. Padahal kenyataannya mereka adalah orang yang paling merugi amalnya. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا  الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا</p>
<p>&#8220;Katakanlah: Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi amalnya. Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dunia sementara mereka mengira telah melakukan sesuatu kebaikan dengan sebaik-baiknya.&#8221; (QS. al-Kahfi: 103-104)</p>
<p>Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib, ad-Dhahhak dan para ulama lainnya bahwa golongan yang termasuk dalam cakupan ayat ini adalah kaum Haruriyah/Khawarij. Meskipun ayat ini juga mencakup celaan bagi Yahudi dan Nasrani. Sehingga Ibnu Katsir menyimpulkan, &#8220;Sesungguhnya ayat ini berlaku umum bagi siapa saja yang beribadah kepada Allah namun tidak di atas jalan yang diridhai Allah. Dia menyangka bahwa dia berada di pihak yang benar dan amalnya akan diterima. Padahal, sebenarnya dia adalah orang yang bersalah dan amalnya tertolak.&#8221; (Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Azhim [5/151-152])</p>
<p><strong>Haram bicara agama tanpa ilmu!</strong><br />
Saudaraku sekalian, sesungguhnya kemuliaan Islam ini akan ternoda tatkala orang yang bukan ahlinya berbicara tentang sesuatu yang menyangkut ajaran agama. Tidakkah kita ingat firman Allah ta&#8217;ala,</p>
<p style="text-align:right;">وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا</p>
<p>&#8220;Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.&#8221; (QS. al-Isra&#8217;: 36)</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ</p>
<p>&#8220;Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah angkat bicara.&#8221; Ada yang bertanya, &#8220;Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?&#8221;. Beliau menjawab, &#8220;Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.&#8221; (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).</p>
<p>Ruwaibidhah bukanlah mujtahid. Mujtahid berbicara dengan ilmu, sedangkan Ruwaibidhah berbicara dan berfatwa dengan kejahilan/kebodohan mereka. Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</p>
<p style="text-align:right;">إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ</p>
<p>&#8220;Apabila seorang hakim hendak memutuskan sesuatu lalu berijtihad kemudian benar maka dia memperoleh dua pahala. Adapun apabila dia akan memutuskan sesuatu lalu berijtihad kemudian tersalah maka dia akan memperoleh satu pahala.&#8221; (HR. Bukhari dalam Kitab al-I&#8217;tisham bil Kitab wa Sunnah dari Amr bin al-&#8217;Ash radhiyallahu&#8217;anhu)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar menukil keterangan dari Ibnul Mundzir, beliau mengatakan, &#8220;Seorang hakim yang tersalah itu mendapat pahala sesungguhnya hanyalah apabila dia adalah seorang alim/yang berilmu tentang ijtihad kemudian dia pun berijtihad. Adapun apabila dia bukanlah seorang yang alim/berilmu maka dia tidak mendapatkan pahala.&#8221; Bahkan apabila dia nekad memutuskan dan mengeluarkan fatwa tanpa ilmu maka dia berdosa, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar sebelum menukil ucapan Ibnul Mundzir di atas. Beliau juga menukil keterangan dari al-Khatthabi bahwa seorang yang berijtihad akan diberi pahala jika dirinya memang telah memiliki alat-alat/ilmu untuk berijtihad. Orang seperti itulah yang apabila tersalah masih bisa diberi toleransi (lihat Fath al-Bari [13/364])</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani mengatakan, &#8220;Ijtihad tidak boleh dilakukan kecuali oleh seorang yang faqih/ahli hukum agama yang mengetahui dalil-dalil dan tata cara menarik kesimpulan hukum darinya, sebab melakukan penelitian terhadap dalil-dalil tidak mungkin dilakukan -dengan benar- kecuali oleh orang yang memang ahli di dalam bidangnya.&#8221; (Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah, hal. 470).</p>
<p>Terlebih lagi, untuk berijtihad ada syarat-syaratnya yang tidak sembarang orang bisa memenuhinya. Di antaranya adalah: [1] Memahami seluk beluk sumber hukum yaitu al-Kitab, as-Sunnah, Ijma&#8217;, Qiyas, dsb. [2] Memahami bahasa Arab [3] Mengetahui maksud dari ungkapan umum dan khusus dalam bahasa Arab, muthlaq dan muqayyad. Bisa membedakan antara nash, zhahir, dan mu&#8217;awwal. Mujmal dan mubayyan. Manthuq dan mafhum, dsb [4] Dia harus mengerahkan segenap kemampuannya dalam mengambil kesimpulan hukum, tidak boleh setengah-setengah. Itu adalah sebagian syarat yang terkait dengan orangnya. Masih ada lagi syarat lain yang terkait dengan perkara yang menjadi objek ijtihad, di antaranya: bukan dalam perkara yang sudah ada dalil tegasnya, dalil yang ada dalam perkara tersebut memang masih membuka ruang -tidak dipaksakan- yang memungkinkan adanya perbedaan penafsiran, dsb (lebih lengkap baca di Ma&#8217;alim Ushul Fiqh &#8216;inda Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah, hal. 479-484).</p>
<p><strong>Berbuat dosa kok mengharap pahala?</strong><br />
Di manakah letak ilmu pada diri orang yang melakukan bom bunuh diri dan menyuruh orang lain untuk bunuh diri? Padahal Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا</p>
<p>&#8220;Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah Maha menyayangi kalian.&#8221; (QS. an-Nisaa&#8217;: 29)</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p>&#8220;Barang siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu alat/senjata maka dia akan disiksa dengannya kelak pada hari kiamat.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim dari Tsabit bin ad-Dhahhak radhiyallahu&#8217;anhu, ini lafaz Muslim)</p>
<p>Ketika mengomentari ulah sebagian orang yang nekad melakukan bom bunuh diri dengan alasan untuk menghancurkan musuh, maka Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, &#8220;Hanya saja kami katakan, orang-orang itu yang kami dengar melakukan tindakan tersebut, kami berharap mereka tidak disiksa seperti itu sebab mereka adalah orang-orang yang jahil/bodoh dan melakukan penafsiran yang keliru. Akan tetapi, tetap saja mereka tidak memperoleh pahala, dan mereka bukan orang-orang yang syahid dikarenakan mereka telah melakukan sesuatu yang tidak diijinkan oleh Allah, akan tetapi mereka telah melakukan apa yang dilarang oleh-Nya.&#8221; (Syarh Riyadh as-Shalihin, dinukil dari al-Kaba&#8217;ir ma&#8217;a Syarh Ibnu Utsaimin, hal. 109)</p>
<p>Di manakah letak ilmu pada diri orang yang membunuh nyawa orang kafir tanpa hak? Padahal Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا</p>
<p>&#8220;Barang siapa yang membunuh seorang kafir yang terikat perjanjian -dengan kaum muslimin atau pemerintahnya- maka dia tidak akan mencium bau surga. Sesungguhnya baunya itu akan tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.&#8221; (HR. Bukhari dalam Kitab al-Jizyah dan Kitab ad-Diyat dari Abdullah bin Amr radhiyallahu&#8217;anhuma, lafaz ini ada di dalam Kitab al-Jizyah)</p>
<p>al-Munawi menjelaskan bahwa ancaman yang disebutkan di dalam hadits ini merupakan dalil bagi para ulama semacam adz-Dzahabi dan yang lainnya untuk menegaskan bahwa <strong>perbuatan itu -membunuh kafir mu&#8217;ahad- termasuk kategori dosa besar</strong>. Meskipun seorang muslim tidak mesti dihukum bunuh sebagai akibat dari kejahatan itu (Faidh al-Qadir [6/251] as-Syamilah).</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حتَّى يَشْهَدُوا أنْ لا إلَهَ إلاَّ الله، وأَنَّ مُحَمَّداً رسولُ اللهِ، ويُقيموا الصَّلاةَ ، ويُؤْتُوا الزَّكاةَ ، فإذا فَعَلوا ذلكَ ، عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءهُم وأَموالَهُم، إلاَّ بِحَقِّ الإسلامِ ، وحِسَابُهُم على اللهِ تَعالَى</p>
<p>“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayarkan zakat, apabila mereka telah melakukannya maka terjagalah darah dan harta mereka dariku kecuali dengan alasan haq menurut Islam, dan hisab mereka terserah pada Allah ta’ala” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu&#8217;anhuma)</p>
<p>Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah menerangkan bahwa di dalam kata-kata “apabila mereka telah melakukannya maka terjagalah darah dan harta mereka dariku” terdapat dalil yang menunjukkan bahwa orang kafir itu hartanya boleh diambil dan darahnya boleh ditumpahkan. Dan orang yang dimaksud di dalam hadits ini adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang sedang terlibat peperangan dengan pasukan kaum muslimin. Oleh sebab itu misalnya jika anda mengambil harta seorang kafir harbi maka tidak ada hukuman bagi anda. <strong>Adapun orang kafir mu’ahad, kafir musta’man dan kafir dzimmi -ketiganya bukan kafir harbi,pen- maka mereka semua tidak boleh diperangi</strong> (lihat Syarah Arba’in, hal. 63)</p>
<p><strong>Berjihadlah!</strong><br />
Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya seorang mujahid sejati adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya untuk melakukan ketaatan kepada Allah -termasuk di dalamnya memerangi orang kafir dengan cara yang benar-, bukan dengan melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ</p>
<p>&#8220;Orang yang berjihad adalah orang yang berjuang menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.&#8221; (HR. Ahmad dari Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu&#8217;anhu dinilai sahih oleh al-Albani dalam as-Shahihah [549] as-Syamilah)</p>
<p>Tanyakanlah kepada dirimu: Bukankah Nabi melarang membunuh orang kafir tanpa hak? Bukankah kita wajib taat kepada beliau? Bukankah ketaatan kepada Nabi itu pada hakikatnya merupakan ketaatan kepada Allah? Lalu dengan alasan apa kita menghalalkan darah yang diharamkan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam untuk ditumpahkan? Apakah kita merasa berada di atas agama yang lebih baik dan lebih hebat daripada agama yang diajarkan oleh Rasulullah?<strong> Jawablah wahai orang-orang yang masih memiliki akal dan hati nurani!</strong></p>
<p>Sejak kapan membunuh orang kafir tanpa hak disebut jihad? Sejak kapan meledakkan gedung-gedung umum yang menimbulkan jatuhnya korban tanpa pandang bulu disebut sebagai jihad? Tanyakanlah kepada mereka yang sok menjadi mujtahid dan membolehkan &#8216;jihad&#8217; ala teroris semacam itu: ijtihad ulama manakah yang membolehkan seorang muslim membunuh dirinya dan meledakkan bangunan umum yang berakibat melayangnya nyawa-nyawa tak bersalah? Atau barangkali yang mereka sebut sebagai ulama mujtahid itu memang bukan ulama alias Ruwaibidhah? Waspadalah -wahai para pemuda- dari tipu daya, silat lidah, dan penampilan mereka!</p>
<p>Ingatlah, sesungguhnya jihad yang diridhai Allah adalah jihad di jalan-Nya yang lurus, bukan di jalan yang menyimpang. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ</p>
<p>&#8220;Orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang/berjihad di jalan Kami niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik/ihsan.&#8221; (QS. al-&#8217;Ankabut: 69)</p>
<p>al-Baghawi menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu&#8217;anhuma, beliau berkata tentang tafsiran ayat ini, &#8220;Yaitu orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh di dalam ketaatan kepada Kami niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan untuk meraih pahala dari Kami.&#8221; (Ma&#8217;alim at-Tanzil [6/256] as-Syamilah)</p>
<p>Maka marilah kita berjihad di atas ketaatan, bukan di atas kedurhakaan!</p>
<p><strong>Hati-hatilah dari al-Qa&#8217;adiyah masa kini!</strong><br />
al-Qa&#8217;adiyah merupakan salah saktu sekte Khawarij yang memiliki ideologi Khawarij, hanya saja mereka tidak memilih sikap memberontak. Meskipun demikian, mereka menganggap pemberontakan sebagai perkara yang baik, tidak boleh diingkari, bahkan berpahala! Dengan kata lain -dalam bahasa sekarang- mereka menilai bahwa pemberontakan yang dilakukan oleh rekan-rekan mereka -dengan menimbulkan kekacauan dan mengancam penguasa; bom bunuh diri dan semisalnya- bukan perkara yang salah, alias hasil ijtihad yang harus dihargai dan layak untuk diberi pahala [?!]. Sampai-sampai salah seorang tokoh mereka di negeri ini berkata, &#8220;Menurut saya mereka adalah mujahid. Dan apa yang mereka lakukan itu merupakan hasil ijtihad mereka. Walaupun saya tidak sependapat dengan -hasil ijtihad- mereka.&#8221; Inilah ucapan gembongnya Khawarij di negeri ini!</p>
<p>Ketika menjelaskan biografi ringkas Imran bin Hitthan -salah seorang perawi hadits yang terseret paham Khawarij- Ibnu Hajar berkata, &#8220;al-Qa&#8217;adiyah adalah salah satu sekte dari kelompok Khawarij. Mereka berpendapat sebagaimana pendapat Khawarij, namun mereka tidak ikut melakukan pemberontakan. Akan tetapi mereka menghias-hiasi/menilai baik perbuatan itu.&#8221; (Hadyu as-Sari, hal. 577). Sebelumnya, Ibnu Hajar juga menukil ucapan Abul Abbas al-Mubarrid, &#8220;Imran bin Hitthan adalah gembong kelompok al-Qa&#8217;adiyah dari aliran Shafariyah. Dia adalah khathib/orator dan penya&#8217;ir di kalangan mereka.&#8221; (Hadyu as-Sari, hal. 577). Imran bin Hitthan inilah yang meratapi kematian Abdurrahman bin Muljam -sang pembunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu&#8217;anhu- dengan untaian bait-bait sya&#8217;irnya yang heroik. Dikisahkan bahwa pada akhir hidupnya dia kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan paham Khawarij, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Zakariya al-Mushili di dalam Tarikh al-Mushil (lihat Hadyu as-Sari, hal. 577,578, lihat juga Tahdzib at-Tahdzib [8/128] as-Syamilah)</p>
<p>Ibnu Hajar mengatakan,</p>
<p style="text-align:right;">والقَعَدية الذين يُزَيِّنون الخروجَ على الأئمة ولا يباشِرون ذلك</p>
<p>&#8220;al-Qa&#8217;adiyah adalah orang-orang yang menghias-hiasi perbuatan pemberontakan kepada para pemimpin -umat Islam- dan mereka tidak ikut terjun langsung dalam tindakan tersebut.&#8221; (Hadyu as-Sari, hal. 614 cet Dar al-Hadits)</p>
<p>as-Syahrastani mengatakan,</p>
<p style="text-align:right;">كل من خرج على الإمام الحق الذي اتفقت الجماعة عليه يُسمى خارجياً سواء كان الخروج في أيام الصحابة على الأئمة الراشدين أو كان بعدهم على التابعين بإحسان والأئمة في كل زمان</p>
<p>&#8220;Setiap orang yang memberontak kepada pemimpin yang sah yang disepakati oleh rakyat sebagai pemimpin mereka maka dia disebut sebagai Khariji (kata tunggal dari Khawarij). Sama saja apakah dia melakukan pemberontakan itu di masa sahabat masih hidup kepada para pemimpin yang lurus atau setelah masa mereka yaitu kepada para tabi&#8217;in yang senantiasa mengikuti pendahulu mereka dengan baik serta para pemimpin umat di sepanjang masa.&#8221; (al-Milal wa an-Nihal [1/28] as-Syamilah)</p>
<p>Salah satu pemikiran Khawarij yang berkembang saat ini -terutama di kalangan sebagian pemuda Islam yang bersemangat tapi tanpa ilmu- adalah pendapat yang membolehkan -tidak harus- untuk memberontak kepada pemimpin muslim yang zalim (lihat mukadimah kitab al-Khawarij wal Fikru al-Mutajjaddid karya Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir al-Ubaikan, hal. 6). Sebagaimana pula keterangan semacam ini pernah kami dengar dari perkataan Syaikh Abdul Malik Ramadhani dalam sebuah rekaman video ceramah beliau ketika memberikan pelajaran kitab asy-Syari&#8217;ah karya Imam al-Ajurri.</p>
<p>Inilah sekelumit nasihat dan pelajaran bagi kita semua. Semoga masih ada telinga yang mau mendengar dan hati yang masih mau menerima kebenaran. Sebagian sumber tulisan ini kami ketahui dari buku Madarik an-Nazhar fi as-Siyasah karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani, serta buku &#8216;Mereka adalah Teroris&#8217; susunan Ust. Luqman Ba&#8217;abduh, semoga Allah menerima amal kita dan mereka, serta mengampuni dosa kita dan mereka.</p>
<p>Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar, dan karuniakanlah kepada kami ketaatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami yang salah itu salah, dan karuniakanlah kepada kami keteguhan sikap untuk menjauhinya. Wa shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</p>
<p>Yogyakarta, 17 Sya&#8217;ban 1430 H</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/teroris-bukan-mujahid-dan-bukan-mujtahid.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

