<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Ukhuwah</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/ukhuwah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 10:19:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Nasehat Untuk Ahlus Sunnah di Indonesia</title>
		<link>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 04:14:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhtilaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ishlah]]></category>
		<category><![CDATA[MANHAJ]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Perpecahan]]></category>
		<category><![CDATA[Persatuan]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1812</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Muhammad al Imam hafizhahullah (Muhadharah Via Telepon) بسم الله الرحمن الرحيم Segala puji bagi Allah Ta’ala, dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya -shallallahu ‘alaihi wa salam-. Amma ba’du: Aku memuji Allah Yang Maha Tinggi dan Maha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fnasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh <strong>Syaikh Muhammad al Imam</strong> <em>hafizhahullah</em><br />
(Muhadharah Via Telepon)</p>
<p><strong>بسم الله الرحمن الرحيم</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah Ta’ala, dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan  yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi  bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya -shallallahu ‘alaihi wa  salam-. Amma ba’du:</p>
<p><span id="more-1812"></span></p>
<p>Aku memuji Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mampu, Rabb Al-’Arsy Al-Karim  yang telah memudahkan kami untuk berhubungan dengan saudara-saudara  kami. Maka ini merupakan keutamaan dari Allah Ta’ala untuk kita dan  untuk manusia, hanya saja kebanyakan manusia tidak mensyukurinya. Hal  ini merupakan nikmat yang besar disaat kita bisa saling berhubungan,  kita tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, kita bersama-sama  memerangi hawa nafsu, menghadap kepada peribadatan kepada Al-Maula  (Allah Ta’ala).</p>
<p>Wahai saudaraku sekalian, ketahuilah -barakallahu fiikum-. Sesungguhnya  Allah telah memilih umat islam di antara sekian umat, dan memilih  Muhammad sebagai seorang rasul dan nabi di antara sekian banyak orang  dan di antara sekian banyak pahlawan, dan memilih ahlus sunnah wal  jama’ah, ahlu ittaba’ wal atsar, ahlul hadits wal khabar di antara  sekian banyak sempalan dan kelompok. Pemilihan dari Allah Ta’ala ini  adalah setelah pemilihan, pengkhususan, penyaringan dan taufiq dari  Allah Ta’ala. Dan pengkhususan yang kedua ini adalah pengkhususan ahlul  atsar wal khabar diantara sekian banyak kelompok sempalan dan kesesatan.  Dan ini adalah pengkhususan, pemilihan, taufiq dan penyaringan yang  sempurna, yang dengannya akan sempurna kehidupan seorang muslim dalam  segi agama, lurus dengannya agama ini, dan akan baik dunianya dengannya.</p>
<p>Dan sebagaimana kalian ketahui bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan  kitab-Nya yang mulia dan sunnah nabi-Nya penjagaan dari kesalahan bagi  siapa saja yang berpegang teguh dengan keduanya, sebagai nikmat bagi  yang diberi taufiq mengamalkan keduanya, dan sebagai rahmat bagi siapa  saja yang menjadi sebab ketaatan kepada keduanya. Maka seorang muslim  yang meniti jalan rasul bukan pelaku bid’ah, yang berpegang teguh <strong>bukan  bercerai berai</strong>, yang mengarah kepada al-haq bukan berpaling, yng  mengamalkan syari’at bukan berpaling, menunaikan al-haq bukan mengubah  dan bukan mengganti, yang seperti ini Allah Ta’ala telah menjamin  baginya adanya dukungan dan pertolongan yang khusus beserta perlindungan  dan penjagaan yang dikhususkan baginya dari sekian banyak manusia.</p>
<p>Allah Rabb semesta alam berfirman kepada nabi-Nya,</p>
<p><strong>إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ  كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ  لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ  سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ  كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ  الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ<br />
</strong><br />
“Jika kalian enggan menolongnya (Muhammad) maka sungguh Allah telah  menolongnya, ketika orang-orang kafir mengeluarkannya sedang dia salah  satu dari dua orang, ketika keduanya berada di dalam goa, ketika dia  mengatakan kepada temannya: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya  Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan dari-Nya atasnya,  dan Allah mengkokohkaan mereka dengan tentara yang kalian belum  melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu hina. Dan  seruan Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha  Bijaksana.” (At-Taubah: 40)</p>
<p>Maka seorang muslim yang berpegang teguh jika dihinakan manusia dan jika  dimusuhi manusia maka sesungguhnya bersamanya ada penolong yang paling  baik (yaitu Allah Ta’ala). Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>إِن يَنصُرْكُمُ اللَّهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ</strong></p>
<p>“Jika Allah menolong kalian maka tiada yang bisa mengalahkan kalian.”</p>
<p>Mak seorang muslim jika meminta bantuan kepada Allah tidak akan  merugikannya hinaan para penghina dan tidak akan terealisasikan padanya  makarnya pembuat makar. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla mengawasi mereka  semua.</p>
<p>Wahai saudaraku sekalian, yang dituntut adalah agar kita <strong>memperkuat  hubungan kita dengan pencipta kita</strong>, pemelihara kita, dan yang memiliki  perkara kita semua. Kita memperkuat hubungan kita dengan Rabb kita.  Dengan penuh rasa takut mereka diawasi oleh-Nya, takut kepada-Nya,  berharap kepada-Nya, mengejar apa yang ada di sisi-Nya, menjauhi apa  yang menjadi ancaman-Nya Maha Suci Allah dan Maha Tinggi.</p>
<p>Kapan kalbu-kalbu itu dihidupkan dengan dzikir kepada Allah Ta’ala,  penuh dengan pengagungan kepada Allah Ta’ala dan rasa takut kepada Allah  Ta’ala serta merasa di awasi oleh Allah Ta’ala, maka akan mudah bagi  anggota badan untuk melahirkan ucapan dan amalan yang baik, yang shalih.  Hati-hatilah engkau dari kelalaian untuk memperbaiki kalbumu karena  <strong>perbaikan kalbu-kalbu kita ini lebih berat dari pada perbaikan  bendungan, lebih berat dari pembangunan pabrik, lebih berat dari  pembuatan kapal</strong>. Jangan engkau lalai untuk memperbaiki kalbumu. Jika  baik kalbumu maka akan baik keadaanmu, jika lemah kalbumu akan lemah  keadaanmu, dan jika rusak kalbumu akan rusak keadaanmu. Dan jika kalbumu  menjauh dari Allah Ta’ala maka Allah akan menjauh dari hamba. Dan  balasan itu sesuai dengan amalannya.</p>
<p>Wahai saudaraku sekalian, sesungguhnya berpegang teguh dengan manhaj  nubuwah benar-benar wujud kelurusan dan hakekat petunjuk, penegak amalan  hamba di atas sebaik-baik perbekalan. Hendaknya semua semangat untuk  berada di atas titian ini, titian di atas manhaj nubuwah. Syaikhul Islam  -rahimahullah- berkata: “Al-haq itu perputar bersama Rasul kemana dia  mengarah, dan bersama para shahabatnya tanpa yang lainnya kemana mereka  mengarah”. Maka merupakan kaidah yang sangat agung yang bertolak darinya  ahlus sunnah dan mereka membangun pegangan teguh mereka di atasnya:  “Bahwa mereka bersama al-haq di manapun berada, berputar bersama mereka  kemanapun mereka mengarah”. Sungguh pemimpin orang terpilih dan  orang-orang terbaik telah mengajarkan pada kita agar kita mengatakan  pada do’a istikharah:</p>
<p><strong>وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ</strong></p>
<p>“Dan taqdirkan bagiku kebaikan di manapun berada, kemudian jadikan aku  ridha padanya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan lainnya.</p>
<p>Lafazh: “Kemudian jadikan aku ridha padanya”, sesorang terkadang  mengetahui al-haq, ditampakkan oleh Allah Ta’ala al-haq padanya tapi dia  enggan menerimanya, jika dia menerimanya tidak bisa jujur dalam  menerimanya dan tidak ikhlas dalam menunaikannya. Tidaklah setiap orang  yang menerima al-haq terus menjadi al-haq.</p>
<p>Maka kita butuh untuk memahami bagaimana bisa berpegang teguh dengan  agama Allah Ta’ala dan menegakkan syari’at Allah Ta’ala, berhenti pada  batasan-batasan Allah Ta’ala. Jika Allah Ta’ala merizkikan kepadamu  sikap berpegang teguh dengan al-kitab dan as-sunnah maka engkau akan  puas tenang dengan keduanya dan engkau tidak akan menginginkan  selainnya, dan tidak menginginkan gantinya. Maka ketahuilah bahwa Allah  Ta’ala telah memuliakan dengan sesuatu yang mencukupkan engkau dari adat  manusia dan pandangan manusia serta aturan manusia. Engkau tidak  membutuhkan sedikitpun apa yang mereka miliki, sesungguhnya kita ini  butuh untuk mempelajari dan mendalami syari’at islam, mengamalkannya dan  medakwahkannya serta membelanya. Kita butuh akan itu semua.</p>
<p>Maka setiap kita hendaknya memuji Allah Ta’ala akan anugerah-Nya dan  akan apa yang dikhususkan dengannya dan dia dimuliakan dengannya. Ingat  dan ingatlah jangan sampai syaithan mendatangi kita dari pintu  kelalaian. Syaithan itu musuh manusia dan makhluk yang paling keras  gangguannya terhadap orang-orang beriman dan terhadap orang yang  berpegang teguh, dan orang yang baik dan shalih. Sesungguhnya gangguan  untuk golongan orang ini sangatlah besar. Allah Ta’ala berfirman  mengabarkan tetntang syaithan,</p>
<p><strong>لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ</strong></p>
<p>“Benar-benar aku akan duduk (merintangi) bagi mereka jalan-Mu yang  lurus.”</p>
<p>Syaithan tidaklah duduk merintangi di jalannya orang-orang yang  menyimpang, dan jalannya orang sesat dan kafir. Hanyalah dia duduk  (melazimi) merintangi jalan kebenaran dan jalan istiqamah. Sebagaimana  yang dikabarkan, siapa yang ingin istiqamah dan memperbaiki hubungan dia  dengan Allah Ta’ala, dan ingin kokoh dalam syari’at Allah Ta’ala  bertindaklah syaithan dengan makrnya dan tipu dayanya, dengan was-wasnya  dan tipuan hiasannya, dengan hinaannya dan manakut-nakuti beserta  pemecah-belahannya. Rasul -shallallahu ‘alaihi wa salam- telah benar  dalam sabadanya,</p>
<p><strong>إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِى  الجَزِيرَةِ وَلَكِنْ فِى التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya syaithan telah putus asa untuk bisa diibadahi orang yang  shalat di jazirah. <strong>Akan tetapi (dia merusak) dengan memecah belah antara  mereka</strong>.” Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir -radhiyallahu ‘anhu-.</p>
<p>Maka syaithan memecah belah antara orang-orang yang beriman, bahkan  antara orang yang bajik dan shalih. Maka siapa diantara kita yang tidak  waspada dan sadar akan pemecah belahannya syaithan akan menjerumuskannya  dalam pergulatan dan pertarungan terhadap saudaranya sesama muslim  untuk bisa menyingkirkan keduanya. Oleh karena itu, waspadalah dari  datangnya syaithan melalui kelalaian kita. Dan kita semangat sebatas  kemampuan kita melakukan segala perkara sehingga kita bisa membendung  pintunya dan bisa memotong jalannya bi idznillah. Kita semangat untuk  saling menasehati antara kita, karena tujuan perbaikan bukan tujuan yang  lain dari keinginan-keinginan yang menjauhkan keikhlasan dan kejujuran.  Dan juga kita semangat untuk saling menasehati antara kita ketika telah  terjadi perselisihan antara si fulan dan yang lain, dan kita harus  berhias, bersenang-senang dan bernikmat-nikmat dengan sifat sabar demi  terjaganya ukhuwah dalam agama ini, dan demi dakwah kepada Allah Rabb  semesta alam, serta demi tambahnya kebaikan dan saling tolong-menolong  dalam kebaikan.</p>
<p>Rabb kita jalla sya’nuhu menguji dan memberi cobaan pada kita dengan  sebagian kita, agar bisa diketahui adanya kesabaran kita atau tidak  adanya, dan agar diketahui mana yang jujur dalam ta’awun dalam kebaikan  dan ketakwaan dan yang tidak seperti itu. Rabb kita berfirman dan Dia  adalah yang paling benar ucapannya,</p>
<p><strong>وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ  بَصِيرًا</strong></p>
<p>“Dan Kami jadikan sebagian kalian bagi yang lainnya fitnah (ujian),  apakah kalian akan bersabar? Dan adalah Rabbmu itu Maha Melihat.”</p>
<p>Subhanallah, betapa banyak saudara kita yang lalai dari ayat ini. Ketika  timbul dari saudaranya sesuatu dia berusaha bagaimana bisa  menyingkirkannya, bagaimana bisa mengalahkannya, dan bagaimana bisa  memaksakan pendapatnya -kecuali orang yang dirahmati Allah Ta’ala-.</p>
<p>Rabb kita mengajak kita kepada pemberian yang paling luas yang Dia  berikan kepada hamba, memuliakan dengannya hamba. Al-Bukhary dan Muslim  telah meriwayatkan dari hadits Abu Sa’id bahwa Rasulullah -shallallahu  ‘alaihi wa salam- bersabda,</p>
<p><strong>وَمَا أَعْطَى اللَّهُ أَحَدًا مِنْ عَطَاءٍ أَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ</strong></p>
<p>“Tidaklah seorangpun diberi pemberian lebih baik daan lebih luas dari  kesabaran.”</p>
<p>Wahai saudara sekalian, aku ingakan kalian akan atsar yang sangat agung,  yaitu atsar yang hasan dari Ibnu Mas’ud dia berkata ditujukan kepada  shahabat di saat itu, pada saat terjadinya sedikit perselisihan:  <strong>“Sesungguhnya apa yang kalian benci selama dalam jama’ah itu lebih baik  dari apa yang kalian cintai dalam perpecahan”.</strong></p>
<p>Maka tetap bersamanya kalian dengan saudaramu ahlus sunnah lebih baik  bagimu, wallahi, meskipun ada sedikit perselisihan, meski terjadi  perselisihan antara engkau dan saudaramu, yang ini keterlaluan dalam  bicara tentangnya atau tentang saudaranya. <strong>Kesabaran, perbaikan dan  nasehat dan yang semisalnya adalah obat, penyembuh</strong>, dan terapinya semua  perkara ini. Maka <strong>janganlah kalian ceburkan diri kalian dalam  perselisihan</strong>, dan jadilah sebagaimana yaang kalian diperintah Allah  ta’ala, merujuk kepada ulama dan bertanya kepada mereka, apa yang harus  diperbuat, bagaimana sikapnya bersama ini atau bersama orang-orang yang  terjadi dari mereka ini.</p>
<p>Maka kita memuji Allah Ta’ala bahwa dakwah ahlus sunnah di Yaman  berjalan di atas kebaikan demikian pula di tempat lain. Dikarenakan  orang-orangnya mengikuti arahan para ulama yang mana mereka lebih tahu  akan peristiwa perselisihan, yang mana mereka berusaha untuk  memperbaikinya dan <strong>menutup pintu-pintu fitnah</strong>. Maka merujuk kepada  mereka inilah yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala, dan ialah yaang  dibutuhkan oleh setiap orang yang memikul dakwah di manapun berada, dia  butuh akan hal itu. Maka merujuk kepada ulama hadits ulama sunnah adalah  diantara sebab yang paling besar untuk memperbaiki keadaan, untuk  berlangsungnya kebaikan dan persatuan. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنكُم مِّنْ  أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاء وَاللَّهُ سَمِيعٌ  عَلِيمٌ</strong></p>
<p>“Kalau bukanlah keutamaan Allah atas kalian dan rahmat-Nya tidaklah Dia  akn mensucikan seorang dari kalian selamanya, akan tetapi Allah  mensucikan siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Mendengar lagi Maha  Tahu.”</p>
<p>Dan Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ  وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ  لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللَّهِ  عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً</strong></p>
<p>“Dan jika datang suatu perkara keamanan atau ketakutan serta merta  mereka menyebarkannya, kalau saja mereka mengembalikannya kepada Rasul  dan ulil amri dari mereka niscaya akan mengetahui orang jeli  memandangnya dari mereka. Dan kalau bukan karena keutamaan Allah atas  kalian niscaya kalian benar-benar mengikuti syaithan kecuali sedikit.”</p>
<p>Kapan kita bisa menjadi pengikut syaithan? Jika kita meninggalkan  merujuk kepada ulama ketika terjadi perselisihan dan fitnah. Maka kami  mewasiatkan kepada saudara kami -hafizhahumullah- dengan kelurusan,  petunjuk dan kesabaran dan mengikuti bimbingan ulama sehingga daerah  perselisihan tidak meluas, sehingga tidak terjadi saling hajr dan  menghizbikan dengan cara yang tergesa-gesa, buru-buru dan tidak tahu  hakekat masalah dengan batasan-batasannya. Maka terjadilah antara dulu  dan sekarang si fulan berbeda dengan si fulan tapi apa itu kelurusan?  Kelurusan adalah bahwa manusia tidak merujuk kepada yang berselisih atau  salah satunya, namun merujuk kepada ulama yang mengetahui perselisihan  ini, yang hidup atau mengetahui perselisihan ini.</p>
<p>Jika sikap merujuk ini terjadi, maka bergembiralah dengan tetapnya  keadaan lurus, dan terus-menerusnya kebaikan, lestarinya ta’awun,  persaudaraan, saling mendukung, dan saling menolong. Dan inilah yang  terjadi -bihamdillah- pada diri kami di Yaman, mereka menempuh jalan  merujuk kepada ulama dan mendengarkan bimbingannya dan apa yang mereka  katakan. Maka kebaikan terjaga dan dakwah ahlus sunnah tetap berlangsung   -bi idznillah-, juga tertolong dengan pertolongan Allah Ta’ala,  terjaga dengan penjagaan Allah Ta’ala sampai hari kiamat. <strong>Entah dakwah  itu akan tertolong dengan kita entah dengan selain kita, entah akan  tersebar dengan sebab kita atau dengan selain kita</strong>. Allah Ta’ala telah  berfirman,</p>
<p><strong>وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا  أَمْثَالَكُمْ</strong></p>
<p>“Jika kalian berpaling (Allah) akan mengganti dengan suatu kaum selain  kalian kemudian mereka tidak menjadi seperti kalian.”</p>
<p>Barang siapa bukan orang yang berhak mengampu dakwah ini, namun dia  menjadikan dakwah ini untuk meraih kepentingan dunia, maka perbuatan  seperti ini tidak akan langgeng. Karena Allah Ta’ala itu lebih  pencemburu dari pada kita akan agama-Nya, akan dakwah rasul-Nya  -shallallahu ‘alaihi wa salam-. Jika saudar-saudara kita ahlus sunnah  berada di atas bimbingan para ulama, akan tetap ada kebaikan ini,  ukhuwah akan langgeng, dakwah kepada Allah akan kuat.</p>
<p>Yang penting, <strong>dakwah ahlus sunnah akan tertolong dengan kita atau selain  kita</strong>. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا  أَمْثَالَكُمْ</strong></p>
<p>“Jika kalian berpaling (Allah) akan mengganti dengan suatu kaum selain  kalian kemudian mereka tidak menjadi seperti kalian.”</p>
<p>Sepantasnya bagi kita untuk menjihadi diri-diri kita dengan kejujuran  terhadap Allah, keikhlasan kepada Allah, ridha terhadp al-haq dan  menerimanya. Jika ini terwujudkan akan lestari kebaikan ini biidznillah.  Berusahalah dengan sunguh-sungguh, maka berbekallah dengan ilmu syar’i  dan mengamaalkan konsekuensinya.</p>
<p>Aku memohon kepada Allah dengan anugerah-Nya dan kemurahan-Nya, dengan  keutamaan-Nya dan kebaikan-Nya agar mengkokohkan kita semua di atas  al-haq sampai kita bertemu dengan-Nya. Tiada daya dan upaya kecuali  dengan pertolongan Allah Ta’ala.</p>
<p>Ditranskrip dan diterjemahkan oleh:<br />
‘Umar Al-Indunisy<br />
Darul Hadits – Ma’bar, Yaman</p>
<p>Sumber: darussalaf.com</p>
<p>Dikutip dengan editing ulang dari:<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this),  &quot;d40cdL4PtKGOP8mFj2SrrVg5NbQ&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/06/15/nasehat-asy-syaikh-muhammad-al-imam-untuk-salafiyin-indonesia/" target="_blank"><span> http://salafiyunpad.wordpr</span><span>ess.com</span></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/nasehat-untuk-ahlus-sunnah-di-indonesia.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudaraku, Kemanakah Engkau Yang Dahulu?</title>
		<link>http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 22:43:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1446</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi -hafizhahullah- * [ Nasehat kepada diri sendiri, teman-teman kami terkhusus kepada teman-teman lama kami… Semoga Allah senantiasa menjaga diri kami dan Antum semuanya ] Alhamdulillah wa sholatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala aalhi wa shohbihi wa salam Merupakan sebuah kenikmatan tatkala Allah subhaanahu wa ta’ala menunjuki seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh: Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi -<em>hafizhahullah</em>- *</p>
<p><strong><em>[ Nasehat kepada diri sendiri, teman-teman kami terkhusus kepada teman-teman lama kami… Semoga Allah senantiasa menjaga diri kami dan Antum semuanya ]</em></strong></p>
<p><em>Alhamdulillah wa sholatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala aalhi wa shohbihi wa salam</em></p>
<p>Merupakan sebuah kenikmatan tatkala Allah <em>subhaanahu wa ta’ala</em> menunjuki seorang hamba untuk dapat mengenal Islam.<span id="more-116"> </span> Allah <em>ta’ala</em> berfirman :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (آل عمران )</strong></p>
<p>“<em>Sungguh Allah telah memberikan anugerah kepada orang-orang yang beriman, tatkala (Allah) mengutus seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari golongan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka (dari kesyirikan, kebid’ahan, dan akhlak buruk lainnya [</em>Lihat <em>Taisir Karimirrahman]), dan mengajarkan kepada mereka al kitab dan al hikmah, meskipun sebelumnya, mereka dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imran : 164)</em></p>
<p><em><span id="more-1446"></span></em></p>
<p>Bahkan nikmat hidayah Islam merupakan nikmat terbesar yang diterima seorang manusia dari Allah. Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu </em>mengatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><strong> فالمهتدي هو العامل بالحق المريد له وهي اعظم نعمة لله على العبد</strong></p>
<p>“<em>Orang yang mendapatkan hidayah adalah orang yang beramal dengan kebenaran, dia menginginkan hidayah tersebut ada pada dirinya, dan <strong>ini</strong> <strong>merupakan anugerah Allah yang paling besar kepada seorang hamba</strong>.”(</em> <em>Miftah Dar As Sa’adah, Asy Syamilah)</em></p>
<p>Hidayah Islam akan membimbing hamba mengetahui kedudukan dirinya di hadapan Allah <em>ta’ala</em>. Hidayah Islam akan memahamkan hamba akan hakikat keberadaan dirinya di dunia. Hidayah Islam akan membawa hamba untuk senantiasa taat dan tunduk kepada Rabbul ‘Alamin dan menjaga diri dari perbuatan yang mendatangkan kemurkaan-Nya. Sungguh… beruntunglah orang-orang yang berjalan di atas bumi ini, dengan bimbingan dan naungan hidayah Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>.</p>
<p><strong>[ Allah Perintahkan Manusia Meminta Hidayah ]</strong></p>
<p>Di setiap rakaat dalam sholat-sholat kita, bukankah Allah perintahkan kepada kita untuk membaca surat Al Fatihah??? Bukankah dalam salah satu ayat, Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ</strong></p>
<p><em>“(Ya Allah), berikanlah kepada kami hidayah menuju jalan yang lurus” (Al Fatihah : 6)</em></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun adalah orang yang senantiasa berdoa kepada Allah <em>ta’ala </em>memohong hidayah. Dari shahabat Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa membaca doa :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى</strong></p>
<p><em>“Ya Allah, sesungguhnya <strong>aku meminta kepada-Mu hidayah</strong>, ketaqwaan, penjagaan diri, dan hati yang merasa cukup”(HR. Muslim, no. 2721)</em></p>
<p>Lihatlah bagaimana Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengajarkan kepada umatnya tentang pentingnya meminta hidayah. Dan beliau adalah beliau, yang telah diampuni seluruh dosa dan kesalahannya, dijamin oleh Allah <em>ta’ala</em> dengan jaminan surga. Lantas kita… ??? Di manakah kita dibandingkan dengan Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[ Akhi…Hargailah Nikmat yang Agung Ini ]</strong></p>
<p>Tatkala Allah <em>ta’ala </em>melunakkan hati seorang hamba untuk dapat menerima <em>al haq</em>, yang ketika itu mayoritas manusia menolaknya, maka sungguh…inilah anugerah terbesar dari Allah kepada hamba. Tidaklah kenikmatan ini didapatkan oleh semua manusia, Allah (dengan segala hikmah dan pengetahuan-Nya) hanyalah menunjuki hamba tertentu saja diantara hamba-hamba-Nya. Allah <em>ta’ala </em>berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ</strong></p>
<p><em>“Dan sesungguhnya Allah menyesatkan orang-orang yang Dia kehendaki dan Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki” (Fathir : </em></p>
<p>Namun terkadang banyak manusia lalai akan nikmat yang agung ini, lalai dan menyia-nyiakannya. Benih-benih hidayah yang dahulu pernah tumbuh dalam hatinya, benih hidayah yang dahulu seseorang bisa merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah karenanya, merasakan manisnya hidup di atas sunnah… Ada sebagian manusia menelantarkan kenikmatan ini, seakan-akan mereka adalah orang yang belum pernah mengenal hidayah, kembali menjadi <em>awwam</em>.</p>
<p>Sungguh sangat dikhawatirkan apa yang menimpa kaum Yahudi, menimpa pula kepada mereka. Allah <em>ta’ala </em>berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ</strong></p>
<p><em>“Tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah akan memalingkan hati mereka (dari kebenaran). Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (As Shof : 5) </em></p>
<p>Saudaraku… Ayat ini berbicara tentang orang-orang Yahudi, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran, namun tidak mau mengikutinya. Merekalah orang yang dimurkai oleh Allah <em>‘azza wa jalla.</em></p>
<p>Syaikh As Sa’diy <em>rahimahullahu </em>mengatakan, <em>“Salah satu puncak kelancangan dan kesesatan adalah tatkala seorang manusia mengetahui kebenaran, lantas meninggalkannya. Mereka berpaling dari kebenaran dengan maksud dan keinginan mereka. Maka Allah ta’ala akan semakin memalingkan hati mereka dari kebenaran, sebagai hukuman bagi mereka, atas kesesatan yang mereka pilih. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka, karena mereka tidaklah pantas untuk menerima kebaikan, tidak pantas bagi mereka melainkan kebinasaan. </em>(<em>Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal. 758</em>)</p>
<p>Beliau melanjutkan, <em>“Ayat ini, yaitu As Shof ayat 5, menunjukkan bahwa ketika Allah ta’ala tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik, bukanlah berarti Allah dzolim kepada mereka. Tetapi, semua ini hanyalah disebabkan karena perbuatan mereka. Mereka sendirilah lah yang menutup pintu-pintu hidayah, setelah mereka mengilmuinya.”</em>(<em>Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal. 758</em>)</p>
<p>Allah ta’ala telah berfirman :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ</strong></p>
<p><em> “Kami palingkan hati dan penglihatan mereka, sebagaimana pada awalnya mereka tidak beriman kepadanya (Al Quran), dan Kami biarkan mereka bimbang dalam kesesatan” (Al An’am : 110)</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> [Akhi…Kemanakah Engkau yang Dahulu…???]</strong></p>
<p>Kita saksikan realita dengan mata kita, sebagaian saudara-saudara kita yang dahulu bersama kita mempelajari sunnah, yang dahulu sangat semangat mengamalkan sunnah, menggebu-gebu mendakwahkan sunnah, saat ini hanyut tertelan gelombang <em>fitnah</em>.</p>
<p>Jenggot yang dahulu menjadi kebanggaan, sekarang tinggallah menjadi kenangan. Pakaian syar’i yang dahulu engkau kenakan, celanamu yang dahulu di atas mata kaki, seiring berlalunya zaman, semakin memanjang, hingga menyapu jalanan.</p>
<p>Lupakah engkau, wahai saudaraku… bahwa kita dahulu pernah berlomba-lomba memenuhi seruan adzan? Lupakah engkau… bahwa kita dahulu sangat semangat menghadiri kajian-kajian? Bukankah engkau dahulu terhadap teman-teman perempuan selalu menjaga pandangan?</p>
<p>Saudariku, kemana jilbabmu yang engkau kenakan? Jilbabmu yang dahulu engkau banggakan, jilbab yang menutup sempurna, kini semakin mengecil, lantas menghilang. <strong>Saudaraku, kemanakah dirimu yang dahulu…?</strong></p>
<p>Sungguh, kita saksikan saat ini, betapa ganasnya fitnah yang melanda orang-orang yang beriman. Fitnah yang menyerang kaum muslimin.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا</strong></p>
<p><em>“Bersegeralah dalam beramal ketika datangnya fitnah, fitnah yang bagaikan potongan gelapnya malam, seorang yang beriman di pagi hari, menjadi kafir di sore hari atau seorang yang beriman di sore hari, menjadi kafir di pagi harinya, dia menukar agamanya dengan sebagian dari perhiasan dunia.”(HR. Muslim, no 328)</em></p>
<p>Tidaklah selamat dari fitnah ini melainkan dia yang ditunjuki oleh Allah untuk tegar menapak jalan kebenaran. <em>Fitnah</em> <em>syubhat</em> dan <em>fitnah</em> <em>syahwat</em>. Hanyalah kepada Allah, seorang hamba memohon hidayah. Allahu musta’an.</p>
<p>Allah <em>subhaanahu wa ta’ala </em>adalah Dzat yang Maha Membolak balikkan hati manusia. Orang yang dahulu sangat semangat menyerukan sunnah, saat ini telah berubah menjadi seorang yang membenci sunnah. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdoa :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>“يا مقلب القلوب ! ثبت قلبي على دينك” . فقيل له في ذلك .فقال : إنه ليس آدمي إلا و قلبه بين إصبعين من أصابع الله ، فمن شاء أقام و من شاء أزاغ</strong><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Ya Allah, Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu”, kemudian ada yang bertanya tentang doa tersebut. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya tidaklah anak Adam melainkan hatinya berada diantara dua jari dari jemari-jemari Allah. Siapa yang dikehendaki, Allah akan luruskan dia, dan siapa yang dikehendaki, Allah akan simpangkan dia.”(HR. Tirmidzi no. 3517, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini : Sanadnya Shahih)</em></p>
<p><em>Saudaraku…</em></p>
<p><em>Ini adalah sebatas nasehat … </em></p>
<p><em>Bagi kami…sebagai motivator supaya tegar berjalan melawan fitnah syubhat dan syahwat… </em></p>
<p><em>Bagi saudara-saudara kami… sebagai pengingat agar tetap istiqomah, hingga berjumpa Allah kelak di akhirat…</em></p>
<p><em>Terkhusus bagi saudara-saudara lama kami… yang dahulu kita pernah bersama…</em></p>
<p><em>Ini sebatas nasehat…</em></p>
<p><em>Karena agama tidaklah tegak melainkan dengan nasehat….</em></p>
<p><em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ad Dinnu An Nashihat”</em></p>
<p><em>Washolallahu ‘ala Nabiyina Muhammad…</em></p>
<p><em>***</em></p>
<p><em>Al Faqir ‘ila Maghfirati Rabbihi ‘Azza wa Jalla</em></p>
<p><a href="http://hanifnurfauzi.wordpress.com/" target="_blank"><em>Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi</em></a></p>
<p><em>______________________________________</em></p>
<p><em>Wisma Darus Shalihin, 16 Shafar 1431 H</em></p>
<p><em>*</em>Penulis adalah salah seorang mahasiswa UGM (Teknik Kimia) yang sekarang ini banyak berkecimpung dalam kegiatan keislaman, di antara aktivitasnya adalah: menjadi mudir/direktur Ma&#8217;had Bahasa Arab Umar bin Khattab yang dibina oleh <a href="http://ypia.or.id" target="_blank">Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari</a>. Semoga Allah menjaga kami dan beliau dan memberikan keistiqomahan kepada kami dan beliau.   <em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/saudaraku-kemanakah-engkau-yang-dahulu.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyesalan Berkepanjangan</title>
		<link>http://abumushlih.com/penyesalan-berkepanjangan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/penyesalan-berkepanjangan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 15:34:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman, وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا &#8220;Dan ingatlah pada hari kiamat itu nanti orang yang gemar melakukan kezaliman akan menggigit kedua tangannya dan mengatakan, &#8216;Aduhai alangkah baik seandainya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpenyesalan-berkepanjangan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fpenyesalan-berkepanjangan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا  يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا  لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا</p>
<p><span id="more-646"></span></p>
<p>&#8220;Dan ingatlah pada hari kiamat itu nanti orang yang gemar melakukan kezaliman akan menggigit kedua tangannya dan mengatakan, &#8216;Aduhai alangkah baik seandainya dahulu aku mengambil jalan mengikuti rasul itu. Aduhai sungguh celaka diriku, andai saja dulu aku tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman dekatku. Sungguh dia telah menyesatkanku dari peringatan itu (al-Qur&#8217;an) setelah peringatan itu datang kepadaku.&#8217;  Dan memang syaitan itu tidak mau memberikan pertolongan kepada manusia.&#8221; (QS. al-Furqan : 27-29)</p>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ</p>
<p>&#8220;Pada hari itu -hari kiamat- orang-orang yang berteman dekat akan berubah menjadi musuh satu dengan yang lainnya kecuali orang-orang yang bertakwa.&#8221; (QS. az-Zukhruf : 67)</p>
<p>Di antara faidah dari kedua ayat di atas antara lain :</p>
<ol>
<li> Setiap orang yang memalingkan manusia dari jalan Allah maka dia adalah syaitan (lihat Ma&#8217;alim at-Tanzil karya al-Baghawi, tafsir QS. al-Furqan as-Syamilah)</li>
<li>Kandungan ayat di atas -QS. al-Furqan ayat 27-29- berlaku umum meliputi semua orang yang saling mencintai dan berkumpul dalam rangka bermaksiat kepada Allah (lihat Ma&#8217;alim at-Tanzil karya al-Baghawi, tafsir QS. al-Furqan as-Syamilah). Yaitu mereka akan menyesali jalinan persahabatan yang dahulu mereka rajut di atas kedurhakaan kepada Allah, Allahul musta&#8217;aan, ampunilah dosa-dosa kami ya Rabb!</li>
<li>Agama seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya. Sehingga teman memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk kepribadian dan ketaatan beragama pada diri seseorang. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaknya setiap kalian memperhatikan kepada siapa dia berteman.&#8221; (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan lain-lain dihasankan al-Albani di dalam as-Shahihah [927] as-Syamilah)</li>
<li>Persahabatan dan kecintaan yang dibangun di atas kekafiran dan kemaksiatan maka pada hari kiamat nanti akan berubah menjadi permusuhan. Maka orang yang akan selamat darinya hanyalah orang-orang yang bertakwa yaitu yang benar-benar mentauhidkan Allah ta&#8217;ala (lihat Zaadul Masir karya Ibnul Jauzi tafsir surat az-Zukhruf ayat 67, as-Syamilah)</li>
<li>Orang-orang yang berteman di dunia di atas kemaksiatannya maka di akhirat akan saling bermusuhan kecuali orang-orang yang saling mencintai karena Allah (lihat Ma&#8217;alim at-Tanzil karya al-Baghawi tafsir surat az-Zukhruf ayat 67, as-Syamilah)</li>
<li>Kecintaan yang akan kekal adalah kecintaan yang dijalin di antara orang-orang yang bertakwa kepada Allah, karena ia dibangun di atas jalan Allah dan dalam rangka menunaikan ketaatan kepada-Nya (lihat Aisar at-Tafasir tafsir surat az-Zukhruf ayat 67, as-Syamilah). Wallahu a&#8217;lam bis shawab. Wa shallallahu &#8216;ala nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</li>
</ol>
<p>Hamba yang fakir kepada Rabbnya<br />
<em>Semoga Allah mengampuninya</em></p>
<p>Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/penyesalan-berkepanjangan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AGAMA ADALAH NASEHAT</title>
		<link>http://abumushlih.com/agama-adalah-nasehat.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/agama-adalah-nasehat.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 23:53:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=425</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Dari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama seluruhnya adalah nasihat.” Maka kami bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Yaitu untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin, dan untuk rakyatnya.” (HR. Muslim [55]). Hadits yang mulia ini mengandung banyak pelajaran, di antaranya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fagama-adalah-nasehat.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fagama-adalah-nasehat.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Dari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama seluruhnya adalah nasihat.” Maka kami bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Yaitu untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin, dan untuk rakyatnya.” (HR. Muslim [55]).</p>
<p><span id="more-425"></span>Hadits yang mulia ini mengandung banyak pelajaran, di antaranya :</p>
<p><strong>Pertama</strong></p>
<p>Seluruh ajaran agama tercakup dalam hadits ini. Sebab seluruh ajaran agama memiliki maksud yang sama yaitu nasihat. Secara bahasa nasihat bermakna murni dan tulus. Sedangkan yang dimaksud di sini adalah menginginkan kebaikan bagi yang dinasihati (Jami’ul ‘Ulum, hal. 101). An-Nawawi rahimahullah berkata, “<strong>Hadits ini adalah hadits yang memiliki kedudukan yang sangat agung</strong>, di atas hadits inilah seluruh ajaran agama Islam berporos…”. “…Adapun apa yang dikatakan oleh banyak ulama yang menyatakan bahwa hadits ini merupakan seperempat ajaran agama Islam, maka hal itu tidak tepat seperti apa yang mereka ucapkan. Bahkan poros semua ajaran ada dalam hadits ini saja.” (Syarh Muslim, 2/116). Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Hadits ini mungkin untuk dimaknai sebagaimana lahiriyahnya karena setiap amal yang tidak dimaksudkan oleh pelakunya dengan ikhlas maka amal itu bukan termasuk bagian agama.” (Fath Al-Bari, 1/169). Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa nasihat meliputi unsur Islam, Iman, dan Ihsan yang disebutkan dalam hadits Jibril ‘alaihis salam dan ketiganya disebut sebagai agama.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 100)</p>
<p><strong>Kedua</strong></p>
<p>Nasihat untuk Allah adalah : ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, mempersaksikan keesaan-Nya dalam hal rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat-Nya (Syarh Al-Arba’in li Ibni Utsaimin, hal. 116). Selain itu, menunaikan kewajiban dengan sempurna dengan diiringi rasa cinta dan kesungguhan dalam mendekatkan diri kepada-Nya serta menjauhi hal-hal yang diharamkan dan yang dimakruhkan (lihat Jami’ul ‘Ulum, hal. 101). An-Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa salah satu bentuk nasihat untuk Allah adalah, “Meninggalkan ilhad/penyimpangan dalam memahami sifat-sifat-Nya dan menyifati-Nya dengan seluruh sifat kesempurnaan dan kemuliaan, dan membersihkan Allah subhanahu wa ta’ala dari semua kekurangan…” (Syarh Muslim, 2/116). Hakikat nasihat untuk Allah adalah : benarnya keyakinan tentang keesaan diri-Nya dan mengikhlaskan niat dalam beribadah kepada-Nya (Jami’ul ‘Ulum, hal. 101)</p>
<p><strong>Ketiga</strong></p>
<p>Nasihat untuk Kitab-Nya adalah : membelanya dari penyelewengan, membenarkan beritanya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan yang disebutkan di dalamnya, meyakini bahwa ketetapan hukumnya adalah hukum yang terbaik, dan mengimani bahwa Al-Qur’an ini adalah kalamullah, bukan ucapan makhluk-Nya (lihat Syarh Al-Arba’in li Ibni Utsaimin, hal. 116-117). Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan termasuk bentuk nasihat untuk Kitab-Nya adalah dengan mempelajari dan mengajarkannya, dan membacanya dengan benar (Fath Al-Bari, 1/169). Hakikat nasihat untuk Kitab-Nya adalah : beriman dengannya dan mengamalkan ajarannya (Jami’ul ‘Ulum, hal. 101).</p>
<p><strong>Keempat</strong></p>
<p>Nasihat untuk Rasul-Nya adalah : mengimani kerasulan beliau, memurnikan ittiba/pengikutan kepadanya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya, membela ajarannya, meyakini keharusan mengamalkan haditsnya sebagaimana juga harus mengamalkan Al-Qur’an, menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hidup ataupun sesudah matinya -yaitu dengan membela tuntunannya- (Syarh Al-Arba’in li Ibni Utsaimin, hal. 117). Ibnu Hajar rahimahullah juga menyebutkan termasuk bagian dari nasihat untuk Rasul-Nya adalah dengan mengagungkan beliau, menghidupkan sunnahnya dengan mempelajari dan mengajarkannya, meneladani ucapan dan perbuatannya, mencintainya dan mencintai para pengikutnya (Fath Al-Bari, 1/169). An-Nawawi rahimahullah menyebutkan juga termasuk dalam hal ini yaitu memusuhi orang yang memusuhi Rasul, menepis tuduhan jelek kepadanya, beradab ketika membaca haditsnya dan tidak berbicara tentangnya tanpa ilmu, memuliakan ahli hadits/ahlu sunnah, berakhlak dengan akhlaknya, mencintai keluarga dan para sahabatnya, menjauhi ahli bid’ah dan orang-orang yang melecehkan kehormatan para sahabatnya (lihat Syarh Muslim, 2/117).</p>
<p><strong>Kelima</strong></p>
<p>Nasihat untuk para pemimpin kaum muslimin : mencintai kebaikan, hidayah, dan keadilan pada diri mereka, menyukai umat bersatu di bawah kepemimpinan mereka, tidak senang melihat umat berpecah belah, menaati mereka dalam rangka taat kepada Allah, membenci pemberontakan, dan suka memuliakan mereka dalam ketaatan kepada Allah (Jami’ul ‘Ulum, hal. 102-103). Pemimpin kaum muslimin ada 2 : ulama Rabbani dan pemerintah. Bersikap nasihat kepada ulama adalah dengan : mencintai mereka, membantu dakwah mereka, membela kehormatan mereka, meluruskan kesalahannya, menyarankan cara yang lebih baik dalam mendakwahi masyarakat. Sedangkan nasihat untuk pemerintah meliputi : meyakini keabsahan pemerintahan mereka, menyebarluaskan kebaikan mereka, melaksanakan perintah dan larangan mereka selama tidak bertentangan dengan syariat -meskipun mereka adalah pelaku dosa besar-, menutupi aib mereka sebisa mungkin, dan tidak memberontak kepada mereka atau menghasut rakyat untuk melakukannya (lihat Syarh Al-Arba’in li Ibni Utsaimin, hal. 120-122). Al-Khattabi rahimahullah menjelaskan termasuk nasihat bagi pemerintah adalah dengan : shalat bermakmum di belakang mereka, berjihad bersama mereka, menyalurkan sedekah/zakat melalui mereka, dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Dan apabila mereka adalah ulama maka termasuk nasihat untuk mereka adalah dengan bersangka baik kepada mereka (lihat Syarh Muslim, 2/117). Termasuk dalam nasihat bagi ulama adalah dengan menyebarkan keutamaan-keutamaan mereka (Fath Al-Bari, 1/169).</p>
<p><strong>Keenam</strong></p>
<p>Nasihat untuk rakyat biasa : yaitu dengan membimbing mereka demi kemaslahatan mereka, memberikan pelajaran kepada mereka dalam urusan agama maupun dunia, menutupi aib-aib mereka, melengkapi kekurangan mereka, membela mereka dalam menghadapi serangan musuh, menjauhi tipu daya dan kedengkian kepada mereka, mencintai kebaikan untuk mereka sebagaimana mencintai kebaikan itu bagi dirinya dan membenci keburukan menimpa mereka sebagaimana dia tidak menyukai hal itu menimpa dirinya (Jami’ul ‘Ulum, hal. 103). Yang dimaksud dengan rakyat biasa adalah selain pemerintah dan ulama. Termasuk dalam nasihat untuk mereka adalah dengan melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan lembut dan ikhlas, menyayangi mereka, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, menasihati mereka dengan baik, melindungi harga diri dan harta mereka, dan mendorong mereka untuk melakukan ketaatan (lihat Syarh Muslim, 2/117-118).<strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Ketujuh</strong></p>
<p>Termasuk dalam nasihat untuk Allah, untuk kitab-Nya dan untuk rasul-Nya adalah : [1] <strong>membantah berbagai penyimpangan dan kesesatan dengan dalil-dalil Al-Kitab dan As-Sunnah </strong>dengan membuktikan kebatilan tersebut berdasarkan dalil-dalilnya, [2] membantah pendapat-pendapat yang lemah yang muncul akibat ketergelinciran para ulama, [3] menerangkan hadits yang sahih dan yang lemah dengan menjelaskan keadaan para periwayatnya. Dan ini semua merupakan bentuk nasihat yang hanya bisa dilakukan oleh ahlinya/ulama dan orang-orang yang berilmu. Termasuk dalam nasihat yaitu memberikan wejangan/saran ketika saudara kita meminta nasihat. Hal ini juga menunjukkan bahwa semakin besar nasihat yang dilakukan oleh seseorang maka semakin tinggi kedudukannya di sisi Allah. Abu Bakar Al-Muzani rahimahullah berkata, “Tidaklah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu melampaui keutamaan para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan puasa ataupun shalat, akan tetapi dengan sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya.” Ibnu ‘Aliyah mengatakan, “Yang bersemayam di dalam hatinya adalah kecintaan karena Allah ‘azza wa jalla dan nasihat kepada makhluk-Nya.” Fudhail bin Iyadh rahimahullah mengatakan, “Tidaklah ada di antara kami ini orang yang bisa mencapai kedudukan yang mulia dengan banyaknya shalat atau puasa, orang yang dapat meraih kemuliaan di antara kami adalah dengan kedermawanan diri, kelapangan dada, dan nasihat kepada umat manusia.” Ibnul Mubarak pernah ditanya, “Amal apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Menasihati karena Allah.” Ma’mar mengatakan, “Dahulu dikatakan bahwa orang yang paling menasihati kamu adalah yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah di dalam hatimu.” Para ulama salaf biasa menasihati orang lain dengan sembunyi-sembunyi. Sampai-sampai ada yang mengatakan, “Barangsiapa yang menasihati saudaranya antara dirinya dengan saudaranya itu maka itulah nasihat. Barangsiapa yang menasihatinya di depan orang banyak maka sesungguhnya dia telah menjatuhkannya.” Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Ciri orang mukmin itu menutupi aib dan senang menasihati, sedangkan ciri orang fajir adalah suka membuka aib orang dan melecehkannya.” Ibnu Abbas pernah ditanya bagaimana cara menasihati penguasa. Beliau menjawab, “Kalau kamu melakukannya, maka kamu harus berbicara/menyampaikan langsung berdua dengannya.” (lihat Jami’ul ‘Ulum, hal. 104-105).</p>
<p><strong>Kedelapan</strong></p>
<p>Hadits ini menunjukkan bolehnya mengakhirkan penjelasan dari waktu pembicaraan, sebagaimana tampak dari pertanyaan para sahabat, “Untuk siapakah nasihat itu?”. (Fath Al-Bari, 1/169). Baru setelah sahabat bertanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan penjelasan lebih terperinci.</p>
<p><strong>Kesembilan</strong><br />
Hadits ini juga menunjukkan betapa besar semangat para sahabat untuk menimba ilmu (lihat Syarh Al Arba’in li Ibnu Utsaimin, hal. 123).</p>
<p><strong>Kesepuluh</strong><br />
Hadits ini juga menunjukkan bagusnya tata cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memberikan pelajaran kepada para sahabatnya. Beliau menyebutkan perkara secara global kemudian disertai penjelasan yang lebih rinci (lihat Syarh Al Arba’in li Ibnu Utsaimin, hal. 123).</p>
<p><strong>Kesebelas</strong></p>
<p>Hendaknya memulai dari yang terpenting kemudian perkara penting yang lain. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits ini yang mendahulukan penyebutan nasihat untuk Allah sebelum nasihat untuk yang lainnya (lihat Syarh Al Arba’in li Ibnu Utsaimin, hal. 123). Wallahu a’lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/agama-adalah-nasehat.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ADA APA ANTARA YAHUDI DENGAN KITA?</title>
		<link>http://abumushlih.com/ada-apa-antara-yahudi-dengan-kita.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/ada-apa-antara-yahudi-dengan-kita.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 01:36:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemurnian Ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>
		<category><![CDATA[Ukhuwah]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh akan kalian dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrik).” (QS. al-Maa’idah [5]: 82). Yahudi dan orang-orang musyrik. Dua kelompok inilah musuh Islam yang paling keras dalam berupaya untuk menghancurkan umat Islam. Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Secara umum, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fada-apa-antara-yahudi-dengan-kita.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fada-apa-antara-yahudi-dengan-kita.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh akan kalian dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrik).” (QS. al-Maa’idah [5]: 82).</p>
<p><span id="more-400"></span></p>
<p>Yahudi dan orang-orang musyrik. Dua kelompok inilah musuh Islam yang paling keras dalam berupaya untuk menghancurkan umat Islam. Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Secara umum, kedua kelompok inilah golongan manusia yang paling besar dalam memusuhi Islam dan kaum muslimin dan paling banyak berusaha mendatangkan bahaya kepada mereka. Hal itu karena sedemikian keras kebencian orang-orang itu kepada mereka (umat Islam) yang dilatar belakangi oleh sikap melampaui batas, kedengkian, penentangan, dan pengingkaran (mereka kepada kebenaran).” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 220).</p>
<p>Demikian pula orang-orang Nasrani, mereka juga menginginkan agar umat Islam mengikuti jejak kesesatan mereka. Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah merasa puas/ridha kepada kalian sampai kalian mau mengikuti millah (ajaran agama) mereka.” (QS. al-Baqarah [2]: 120).</p>
<p>Seperti itulah tekad jahat musuh-musuh Islam yang sangat bernafsu untuk mencabut aqidah Islam yang suci nan mulia dari dada-dada kaum muslimin. Tak henti-hentinya mereka menyerang kaum muslimin dengan pemikiran dan kekuatan mereka, serta bekerja keras –siang dan malam- agar umat yang terbaik ini menjadi teman setia mereka untuk bersama-sama masuk ke jurang neraka. Allah ta’ala menggambarkan tentang permusuhan yang dikobarkan oleh orang-orang musyrik kepada umat ini dalam firman-Nya (yang artinya), “Dan mereka senantiasa memerangi kalian agar kalian mau murtad dari agama kalian kalau saja mereka mampu melakukannya. Barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya kemudian mati dalam keadaan kafir, maka mereka itulah orang yang terhapus amal-amal mereka di dunia dan di akhirat. Dan mereka itulah para penghuni neraka, mereka kekal berada di dalamnya.” (QS. al-Baqarah [2]: 217).</p>
<p>Itulah upaya mereka! Bukanlah tujuan mereka semata-mata untuk membunuh kaum muslimin atau merampas harta-harta mereka. Akan tetapi sesungguhnya maksud mereka adalah agar umat Islam ini murtad dari agamanya, sehingga mereka akan ikut-ikutan menjadi kafir sesudah –sebelumnya- mereka beriman. Dan pada akhirnya mereka akan ikut terseret ke dalam neraka. Inilah karakter orang-orang kafir secara umum. Tidak henti-hentinya mereka memerangi umat Islam. Dan yang paling menonjol dalam hal itu adalah ahli kitab yaitu Yahudi dan Nasrani. Mereka kerahkan kekuatan mereka untuk memurtadkan kaum muslimin dengan mendirikan berbagai yayasan, mengirimkan para misionaris, menyebarkan para dokter serta membangun sekolah-sekolah dalam rangka menjaring umat manusia  masuk ke dalam agama mereka. Akan tetapi, ketahuilah bahwasanya Allah enggan memenuhi hasrat mereka –untuk memadamkan cahaya-Nya- maka Allah akan tetap menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir itu tidak suka (disadur dari Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 81-82).</p>
<p>Oleh sebab itu tidak semestinya, bahkan haram hukumnya bagi umat Islam memberikan loyalitas mereka kepada musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak akan kamu temukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir justru berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya, meskipun orang-orang itu adalah ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah ditetapkan Allah keimanan di dalam hati mereka, dan Allah mengokohkan mereka dengan pertolongan dari-Nya, dan Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah, ketahuilah sesungguhnya golongan Alah sajalah yang benar-benar mendapatkan kemenangan.” (QS. al-Mujadilah [58]: 22).</p>
<p>Berdasarkan ayat yang mulia ini, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan dalam kitabnya yang sangat masyhur Tsalatsatul Ushul, “Barangsiapa yang menaati rasul dan mentauhidkan Allah, maka tidak boleh baginya memberikan loyalitas (pembelaan dan kecintaan) kepada orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya, meskipun orang itu adalah kerabat yang paling dekat.”</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah terdapat suri teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian dan telah tampak dengan jelas antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah semata.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4). Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah menegaskan, “Maka sudah seharusnya kaum muslimin membenci dan memusuhi musuh-musuh Allah, dan di sisi lain menyayangi serta mencintai orang-orang yang beriman (umat Islam).” (Syarh Tsalatsati Ushul, hal. 12).</p>
<p>Maka sudah sewajarnya –bahkan wajib- bagi kaum muslimin untuk membantu saudaranya yang tertindas dan diperangi oleh musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya menurut kemampuan mereka masing-masing. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kecintaan, berkasih sayang, dan hubungan perasaan di antara sesama mereka adalah laksana satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang kesakitan, maka semua anggota tubuh yang lain pun akan saling membantunya dengan merasakan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari [6011] dan Muslim [2586], dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhuma, ini lafazh Muslim).<br />
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa seorang mukmin akan turut merasa susah dan sedih karena sesuatu yang membuat susah dan sedih saudaranya sesama mukmin yang lain.” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 163).</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Mukmin yang satu dengan mukmin yang lain seperti satu bangunan, satu sama lain saling memperkuat.” (HR. Bukhari [481] dan Muslim [2585] dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu). Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menafikan keimanan dari orang-orang yang tidak menyukai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana yang dia inginkan untuk dirinya. Beliau bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga dia menyukai kebaikan bagi saudaranya seperti apa yang dia sukai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari [13] dan Muslim [45] dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu). Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa seorang mukmin akan turut merasa senang dengan sesuatu yang membuat senang saudanya sesama mukmin yang lain dan dia juga menginginkan kebaikan bagi saudaranya sesama mukmin sebagaimana dia menginginkan hal itu bagi dirinya sendiri. Dan ini semua muncul akibat bersihnya hati dari tipu daya, kedengkian, dan hasad.” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 163).</p>
<p>Sesungguhnya bumi Palestina merupakan bagian dari tanah air kaum muslimin. Bahkan seluruh muka bumi ini pada hakikatnya adalah tanah air umat Islam, bukan tempat berpijak bagi orang-orang kafir dan mempersekutukan Rabb mereka! Kaum muslimin yang berada di sana adalah saudara-saudara kita seaqidah. Maka musibah yang menimpa mereka akibat kekejian Yahudi merupakan musibah yang menimpa kita pula. Doa dan bantuan kita untuk mereka adalah wujud persaudaraan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Yakinlah, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kemenangan kepada siapa saja yang benar-benar memperjuangkan tegaknya agama yang hanif ini. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa.” (QS. al-Hajj [22]: 40). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Jika Allah menolong kalian, maka niscaya tidak akan ada yang dapat mengalahkan kalian. Namun, jika Allah membiarkan kalian (tidak memberikan pertolongan), maka siapakah lagi yang dapat menolong kalian setelah-Nya. Maka kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin itu bertawakal.” (QS. Ali Imran [3]: 160).</p>
<p>Oleh sebab itu wajib bagi kita untuk menanggalkan segala pengaruh buruk agama kekafiran dari tubuh umat Islam. Karena hanya dengan keimanan yang benar kepada Allah dan Rasul-Nya, kaum muslimin akan mendapatkan kemenangan. Bukan malah dengan meniru-niru penyimpangan mereka dengan merayakan tahun baru dan berhura-hura, meninggalkan majelis ilmu, meninggalkan para ulama, beramal tanpa ilmu, tidak tunduk kepada kebenaran, dan hanyut dalam urusan dunia sehingga melupakan akhirat. Ya Allah, hancurkanlah musuh-musuh-Mu dan tolonglah hamba-hamba-Mu, sesungguhnya Engkau Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa. Hanya kepada Mu-lah kami memohon taufik, pertolongan, dan kekuatan.</p>
<p>Ditulis di Yogyakarta, 3 Muharram 1430 H<br />
Oleh hamba yang fakir kepada Rabbnya<br />
Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/ada-apa-antara-yahudi-dengan-kita.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
