<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DAKWAH TAUHID &#187; Wanita</title>
	<atom:link href="http://abumushlih.com/tag/wanita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abumushlih.com</link>
	<description>Sembahlah Allah, Jauhilah Thaghut!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 23:13:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Wanita-Wanita Penghuni Jahanam (Kajian Umum)</title>
		<link>http://abumushlih.com/wanita-wanita-penghuni-jahanam-kajian-umum.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/wanita-wanita-penghuni-jahanam-kajian-umum.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Oct 2010 00:22:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jadwal Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Pengajian Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Publikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=2058</guid>
		<description><![CDATA[Hadirilah&#8230; Kajian Ilmiah Untuk Umum, Putra dan Putri Wanita-Wanita Penghuni Jahanam (Menyibak Ciri dan Sifat Wanita Ahli Neraka Jahanam) Pembicara: al-Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. (alumni S3 Aqidah Universitas Islam Madinah) Tempat: Masjid al-Karim, Pabelan Kartasura Sukoharjo Solo Hari, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/wanita-wanita-penghuni-jahanam-kajian-umum.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwanita-wanita-penghuni-jahanam-kajian-umum.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fwanita-wanita-penghuni-jahanam-kajian-umum.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Hadirilah&#8230;</p>
<p>Kajian Ilmiah<br />
Untuk Umum, Putra dan Putri</p>
<p>Wanita-Wanita Penghuni Jahanam<br />
(Menyibak Ciri dan Sifat Wanita Ahli Neraka Jahanam)</p>
<p><span id="more-2058"></span><br />
Pembicara:<br />
al-Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.<br />
(alumni S3 Aqidah Universitas Islam Madinah)</p>
<p>Tempat:<br />
Masjid al-Karim, Pabelan Kartasura Sukoharjo Solo</p>
<p>Hari, Tanggal:<br />
Ahad, 7 November 2010</p>
<p>Waktu:<br />
Pkl. 08.30 WIB – selesai</p>
<p>Penyelenggara:<br />
Forum Kajian Islam Al-Atsary Surakarta<br />
bekerjasama dengan Takmir Masjid al-Karim</p>
<p>Didukung oleh Radio SuaraQur’an</p>
<p>Informasi:<br />
081 329 777 662<br />
atau 085 647 525 441</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/wanita-wanita-penghuni-jahanam-kajian-umum.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lezatnya Ketaatan Yang Dipertanyakan</title>
		<link>http://abumushlih.com/lezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/lezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 22:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akherat]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Munafiq]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Surga Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1781</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Banyak orang mengira bahwa menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya merupakan sebuah upaya yang sama sekali tidak menyenangkan, apatah lagi mendatangkan kelezatan. Namun, sebenarnya hal ini adalah sebuah perkara yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/lezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Flezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</p>
<p>Banyak orang mengira bahwa menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya merupakan sebuah upaya yang sama sekali tidak menyenangkan, apatah lagi mendatangkan kelezatan. Namun, sebenarnya hal ini adalah sebuah perkara yang sudah dijelaskan oleh agama. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Akan merasakan manisnya iman, orang yang merasa ridha Allah sebagai rabbnya, islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Jelas sekali dari hadits yang mulia ini bahwa dengan sebab ketaatan seorang hamba akan bisa merasakan kenikmatan berupa manisnya keimanan.</p>
<p><span id="more-1781"></span></p>
<p>Mengapa anggapan negatif semacam itu muncul, sehingga mengesankan bahwa jalan agama merupakan jalan yang tidak menjanjikan kenikmatan apa-apa? Banyak faktor yang mengelabui manusia sehingga membuat mereka memiliki persepsi yang salah semacam itu. Di antaranya adalah unsur kecintaan kepada dunia -yang notabene sementara dan fana- dan melupakan akherat -padahal akherat itu kekal dan abadi-. Dunia, dengan segenap perhiasannya telah banyak menipu orang. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan baginya balasan amalnya di sana dan mereka tak sedikitpun dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan apa-apa di akherat kecuali neraka dan lenyaplah apa yang mereka perbuat serta sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.”</em> (<strong>QS. Huud: 15-16</strong>)</p>
<p>Gara-gara dunia, sebagian orang pun rela menjual agamanya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bersegeralah dalam melakukan amal-amal, sebelum datangnya fitnah-fitnah bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita, sehingga membuat seorang yang di pagi hari beriman namun di sore harinya menjadi kafir, atau sore harinya beriman namun di pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan duniawi semata.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Berbicara soal cinta dunia, tak bisa lepas dari godaan harta, wanita, ataupun tahta. Iblis dan bala tentaranya telah sekian lama berkecimpung dalam dunia &#8216;fitnah&#8217; ini untuk menjebak manusia ke jurang-jurang kebinasaan, melalui pintu harta, wanita, atau tahta. Soal harta, bukanlah perkara yang ringan. Sampai-sampai seorang sahabat yang mulia sekelas Umar bin Khattab pun mengakui dalam sebuah ucapannya, <em>“Ya Allah, kami tidak mampu melainkan merasakan gembira terhadap sesuatu yang Kamu hiasi/jadikan indah bagi kami -yaitu harta, wanita, dan anak-anak-. Ya Allah, maka aku memohon kepada-Mu agar dapat menginfakkannya di jalannya yang benar.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong> secara <em>mu&#8217;allaq</em>).</p>
<p>Karena banyaknya orang yang tertipu oleh harta, maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun mengingatkan kepada mereka. Beliau bersabda, <em>“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya perbendaharaan dunia. Akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah rasa cukup di dalam hati.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>).</p>
<p>Siapa yang mengatakan bahwa dengan dua atau tiga lembah emas manusia akan merasa cukup, dengan gaji dua atau tiga ratus juta per bulan orang akan merasa puas, siapa yang mengatakan&#8230;? Sementara Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sendiri telah mempersaksikan, <em>“Seandainya anak Adam itu memiliki dua lembah emas niscaya dia akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan mengenyangkan rongga/perut anak Adam selain tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa pun yang mau bertaubat.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>)</p>
<p>Di sisi lain, orang-orang yang berpeluh keringat dan pusing tujuh keliling di atas jalan ketaatan merasakan bahwa apa yang mereka lakukan tidak mendatangkan keuntungan duniawi apa-apa. Waktu mereka &#8216;terbuang&#8217;, harta mereka &#8216;berkurang&#8217;, keinginan mereka terkekang; seolah-olah dunia ini telah menjadi sebuah penjara besar yang memasung segala keinginan dan harapan mereka untuk mencapai kenikmatan.</p>
<p>Janganlah anda heran, sebab memang demikianlah keadaan orang-orang yang belum mengenali karakter kehidupan dunia dan kebahagiaan sejati yang akan dirasakan oleh setiap mukmin di dalamnya. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Dunia ini laksana seorang wanita pelacur yang tak pernah mau setia kepada satu suamipun melainkan sebatas harga transaksi pelacuran&#8230;”</em> Maka orang yang tertipu oleh dunia adalah orang yang rela menjual agama dan kehormatannya demi meraih kenikmatan semu yang berakhir dengan siksa, kepedihan, dan penyesalan.</p>
<p>Padahal, para ulama salaf kita mengatakan, <em>“Sesungguhnya di dunia ini ada sebuah surga, barangsiapa yang tidak memasukinya niscaya dia tidak akan memasuki surga di akherat.”</em> Sebagian mereka juga berkata, <em>“Banyak para penghuni dunia yang keluar dari alam dunia sementara mereka belum merasakan sesuatu yang paling nikmat di dalamnya.” </em>Kenikmatan itu tiada lain adalah mengenal Allah dan merasa tentram dengan segala keputusan-Nya.</p>
<p>Itulah orang yang bisa merasakan kelezatan iman, apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah, apabila dia membenci maka bencinya karena Allah, apabila dia memberi maka pemberiannya juga karena Allah, demikian pula apabila tidak memberi maka hal itu pun karena Allah.. Oleh sebab itu, Allah <em>ta&#8217;ala</em> mensifati orang-orang beriman dengan sifat-sifat yang menggambarkan kelapangan dada mereka terhadap apa yang ditetapkan-Nya. Allah menggambarkan bahwa hati mereka tidak merasa sempit atas apa yang diputuskan oleh Rasul-Nya. Hati mereka bergetar saat teringat kepada-Nya, dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka, dan mereka tidak menggantungkan harapan kecuali kepada-Nya semata.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin lelaki ataupun perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka alternatif lain dalam urusan mereka&#8230;”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>). Allah<em> ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Demi Rabbmu, sekali-kali mereka itu tidaklah beriman, sampai mereka menjadikanmu -Muhammad- sebagai hakim atas segala yang mereka perselisihkan di antara mereka, lalu mereka tidak mendapati rasa sempit di dalam hati mereka atas keputusan yang kamu berikan, dan mereka pun pasrah dengan sepenuhnya.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa&#8217;: 65</strong>). Allah <em>ta&#8217;ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetar/takutlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka semakin bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabbnya.”</em> (<strong>QS. al-Anfaal: 2</strong>)</p>
<p>Dan mereka -kaum beriman- adalah orang-orang yang tidak menyimpan keraguan terhadap apa yang dijanjikan oleh Allah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan ketika orang-orang yang beriman melihat golongan-golongan yang bersekutu itu -untuk menghancurkan pasukan Islam- maka mereka berkata, &#8216;Inilah yang dijanjikan Allah dan rasul-Nya, dan Maha benar Allah dan rasul-Nya.&#8217; Dan tidaklah hal itu melainkan menambahkan kepada mereka keimanan dan kepasrahan.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 22</strong>). Sebaliknya, kalau kita perhatikan sosok orang-orang kafir dan munafik, maka Allah mensifati mereka dengan keragu-raguan terhadap janji Allah. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan ingatlah ketika orang-orang munafik serta orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit itu mengatakan: Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami hanya tipu daya belaka.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 12</strong>). Maka di posisi mana kita berada?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/lezatnya-ketaatan-yang-dipertanyakan.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jauhilah Sifat-Sifat Munafik!</title>
		<link>http://abumushlih.com/jauhilah-sifat-sifat-munafik.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/jauhilah-sifat-sifat-munafik.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 06:24:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Munafik]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1760</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Al-Ustadz Abu Abdurrahman Mubarak Sumber: http://akhwat.web.id Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kekuasaan dan hikmah-Nya yang sempurna menjadikan dunia serta perhiasannya yang fana ini sebagai medan ujian dan cobaan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ &#8230; <a href="http://abumushlih.com/jauhilah-sifat-sifat-munafik.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjauhilah-sifat-sifat-munafik.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fjauhilah-sifat-sifat-munafik.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Penulis  : <strong>Al-Ustadz Abu Abdurrahman Mubarak</strong><br />
Sumber: <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;6e240&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://akhwat.web.id/" target="_blank">http://akhwat.web.id</a></p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kekuasaan dan hikmah-Nya yang sempurna  menjadikan dunia serta perhiasannya yang fana ini sebagai medan ujian  dan cobaan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p><strong>الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ  عَمَلًا</strong></p>
<p>“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di  antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2)</p>
<p><span id="more-1760"></span><br />
<strong>الم. أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ  لَا يُفْتَنُونَ</strong></p>
<p>“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan  (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji  lagi?” (Al-’Ankabut: 1-2)</p>
<p>Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmah-Nya memberitahukan  kepada hamba-hamba-Nya hikmah dihadapkannya mereka kepada berbagai ujian  dan cobaan itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ  الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ<br />
</strong><br />
“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka,  maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan  sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-’Ankabut: 3)</p>
<p>Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu menyatakan  dalam tafsirnya: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang  hikmah-Nya yang sempurna. Di mana sifat hikmah-Nya mengharuskan setiap  orang yang mengaku beriman tidak akan dibiarkan begitu saja dengan  pengakuannya. Pasti dia akan dihadapkan pada berbagai ujian dan cobaan.  Bila tidak demikian, niscaya tidak bisa terbedakan antara orang yang  benar dan jujur dengan orang yang dusta. Tidak bisa terbedakan pula  antara orang yang berbuat kebenaran dengan orang yang berbuat kebatilan.  Sudah merupakan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia menguji  (manusia) dengan kelapangan dan kesempitan, kemudahan dan kesulitan,  kesenangan dan kesedihan, serta kekayaan dan kemiskinan.”</p>
<p>Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menyatakan dalam tafsirnya: “(Agar  terbedakan) orang-orang yang benar dalam pengakuannya dari orang-orang  yang dusta dalam ucapan dan pengakuannya. Sedangkan Allah Subhanahu wa  Ta’ala Maha mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan  yang akan terjadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengetahui cara  terjadinya sesuatu bila hal itu terjadi. Hal ini adalah prinsip yang  telah disepakati (ijma’) oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.”</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan telah mengabarkan:</p>
<p><strong>وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ  بَصِيرًا</strong></p>
<p>“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah  kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha melihat.” (Al-Furqan: 20)</p>
<p>Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menerangkan maksud ayat di  atas dalam tafsirnya: “Seorang rasul adalah ujian bagi umatnya, yang  akan memisahkan orang-orang yang taat dengan orang-orang yang durhaka  terhadap rasul tersebut. Maka Kami jadikan para rasul sebagai ujian dan  cobaan untuk mendakwahi kaum mereka. Seorang yang kaya adalah ujian bagi  yang miskin. Demikian pula sebaliknya. Orang miskin adalah ujian bagi  orang kaya. Semua jenis tingkatan makhluk (merupakan ujian dan cobaan  bagi yang sebaliknya) di dunia ini. Dunia yang fana ini adalah medan  yang penuh ujian dan cobaan.”</p>
<p>Dari penjelasan Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu di atas,  kita dapatkan faedah bahwa: seorang istri adalah ujian bagi suaminya,  anak adalah ujian bagi kedua orangtuanya, pembantu adalah ujian bagi  tuannya, tetangga adalah ujian bagi tetangga yang lainnya, rakyat adalah  ujian bagi pemerintahnya, dan sebagainya. Begitu pula sebaliknya.</p>
<p>Selanjutnya, Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menerangkan:  “Tujuannya adalah apakah kalian mau bersabar, kemudian menegakkan  berbagai perkara yang diwajibkan atas kalian, sehingga Allah Subhanahu  wa Ta’ala akan membalas amalan kebaikan kalian. Ataukah kalian tidak mau  bersabar yang dengan sebab itu kalian berhak mendapatkan kemurkaan  (Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan siksaan?! Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:</p>
<p><strong>زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ  وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ  الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ  الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ</strong></p>
<p>“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang  diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis  emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang.  Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali  yang baik (surga).” (Ali ‘Imran: 14)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa kecintaan terhadap  kenikmatan dan kesenangan dunia akan ditampakkan indah dan menarik di  mata manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan hal-hal ini  secara khusus karena hal-hal tersebut adalah ujian yang paling dahsyat,  sedangkan hal-hal lain hanyalah mengikuti. Maka, tatkala hal-hal ini  ditampakkan indah dan menarik kepada mereka, disertai faktor-faktor yang  menguatkannya, maka jiwa-jiwa mereka akan bergantung dengannya.  Hati-hati mereka akan cenderung kepadanya.” (Taisir Al-Karimirrahman,  hal. 124)</p>
<p><strong>Fitnah (godaan) wanita</strong></p>
<p>Betapa banyak lelaki yang menyimpang dari jalan Allah Subhanahu wa  Ta’ala karena godaan wanita. Betapa banyak pula seorang suami terjatuh  dalam berbagai kezaliman dan kemaksiatan disebabkan istrinya. Sehingga  Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman  dengan firman-Nya:</p>
<p><strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ  عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ</strong></p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu  dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu  terhadap mereka.” (At-Taghabun: 14)</p>
<p>Al-Imam Mujahid rahimahullahu berkata: “Yakni akan menyeret orangtua  atau suaminya untuk memutuskan tali silaturahim atau berbuat maksiat  kepada Rabbnya, maka karena kecintaan kepadanya, suami atau orangtuanya  tidak bisa kecuali menaatinya (anak atau istri tersebut).”</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ  ضِلْعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ مَا فِي الضِّلْعِ أَعْلَاهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ  تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ،  فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ</strong></p>
<p>“Berniat dan berbuat baiklah kalian kepada para wanita. Karena seorang  wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan sesungguhnya  rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka apabila kamu  berusaha dengan keras meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya.  Sedangkan bila kamu membiarkannya niscaya akan tetap bengkok. Maka  berwasiatlah kalian kepada para istri (dengan wasiat yang baik).”  (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:</p>
<p><strong>مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنََ  النِّسَاءِ</strong></p>
<p>“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian/godaan) yang lebih  dahsyat bagi para lelaki selain fitnah wanita.” (Muttafaqun ‘alaih dari  Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)</p>
<p>Al-Mubarakfuri rahimahullahu berkata: “(Sisi berbahayanya fitnah wanita  bagi lelaki) adalah karena keumuman tabiat seorang lelaki adalah sangat  mencintai wanita. Bahkan banyak terjadi perkara yang haram (zina,  perselingkuhan, pacaran, dan pemerkosaan, yang dipicu [daya tarik]  wanita). Bahkan banyak pula terjadi permusuhan dan peperangan disebabkan  wanita. Minimalnya, wanita atau istri bisa menyebabkan seorang suami  atau seorang lelaki ambisius terhadap dunia. Maka ujian apalagi yang  lebih dahsyat darinya?</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan godaan wanita itu  seperti setan, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu  ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang  wanita. Kemudian beliau mendatangi Zainab istrinya, yang waktu itu  sedang menyamak kulit hewan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu  menunaikan hajatnya (menggaulinya dalam rangka menyalurkan syahwatnya  karena melihat wanita itu). Setelah itu, beliau keluar menuju para  sahabat dan bersabda:</p>
<p><strong>إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ  شَيْطَانٍ، فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ  فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya wanita itu datang dalam bentuk setan dan berlalu dalam  bentuk setan pula. Apabila salah seorang kalian melihat seorang wanita  (dan bangkit syahwatnya) maka hendaknya dia mendatangi istrinya  (menggaulinya), karena hal itu akan mengembalikan apa yang ada pada  dirinya (meredakan syahwatnya).” (HR. Muslim)</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata dalam Syarah Shahih Muslim  (8/187): “Para ulama mengatakan, makna hadits itu adalah bahwa  penampilan wanita membangkitkan syahwat dan mengajak kepada fitnah.  Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan adanya kecenderungan  atau kecintaan kepada wanita dalam hati para lelaki, merasa nikmat  melihat kecantikannya berikut segala sesuatu yang terkait dengannya.  Sehingga seorang wanita ada sisi keserupaan dengan setan dalam hal  mengajak kepada kejelekan atau kemaksiatan melalui was-was serta  ditampakkan bagus dan indahnya kemaksiatan itu kepadanya.</p>
<p>Dapat diambil pula faedah hukum dari hadits ini bahwa sepantasnya  seorang wanita tidak keluar dari rumahnya, (berada) di antara lelaki,  kecuali karena sebuah keperluan (darurat) yang mengharuskan dia keluar.</p>
<p>Oleh karena itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu  ‘alaihi wa sallam melarang segala sesuatu yang akan menyebabkan  hamba-hamba-Nya terfitnah dengan wanita, seperti memandang, berkhalwat  (berduaan dengan wanita yang bukan mahram), ikhtilath (campur-baur  lelaki dan perempuan yang bukan mahram). Bahkan mendengarkan suara  wanita yang bisa membangkitkan syahwat pun dilarang.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا  فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ</strong></p>
<p>Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka  menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” Yang demikian itu  adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa  yang mereka perbuat. (An-Nur: 30)</p>
<p><strong>فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ  وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا</strong></p>
<p>“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah  orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang  baik.” (Al-Ahzab: 32)</p>
<p><strong>وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا</strong></p>
<p>“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu  perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32)</p>
<p>Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa  sallam bersabda:<br />
<strong><br />
لَا يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ</strong></p>
<p>“Janganlah salah seorang kalian berduaan dengan seorang wanita kecuali  bersama mahramnya.” (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ  الْأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ</strong></p>
<p>“Jauhi oleh kalian masuk kepada para wanita.” Seorang lelaki Anshar  bertanya: “Bagaimana pendapat anda tentang ipar?” Beliau Shallallahu  ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ipar itu berarti kebinasaan (banyak terjadi  zina antara seorang lelaki dengan iparnya).” (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Agar hamba-hamba-Nya selamat dari godaan wanita, Allah Subhanahu wa  Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk  menikah dengan wanita shalihah, yang akan saling membantu dengan dirinya  untuk menyempurnakan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Subhanahu  wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ</strong></p>
<p>“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka  beriman.” (Al-Baqarah: 221)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا  وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ</strong></p>
<p>“Seorang wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya,  kebaikan nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita  yang bagus agamanya, niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih  dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p><strong>Godaan dunia dan harta</strong></p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهُ مُسْتَخْلِفُكُمْ  فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا  النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي  النِّسَاءِ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya dunia itu manis (rasanya) dan hijau (menyenangkan  dilihat). Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan  sebagian kalian dengan sebagian yang lain di dalamnya, maka Dia akan  melihat bagaimana kalian beramal dengan dunia tersebut. Oleh karena itu,  takutlah kalian terhadap godaan dunia (yang menggelincirkan kalian dari  jalan-Nya) dan takutlah kalian dari godaan wanita, karena ujian yang  pertama kali menimpa Bani Israil adalah godaan wanita.” (HR. Muslim dari  Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)<br />
<strong><br />
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ</strong></p>
<p>“Sesungguhnya setiap umat itu akan dihadapkan dengan ujian (yang  terbesar). Dan termasuk ujian yang terbesar yang menimpa umatku adalah  harta.” (HR. At-Tirmidzi dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Harta dan dunia bukanlah tolok ukur seseorang itu dimuliakan atau  dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:</p>
<p><strong>فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ  وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ  فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ</strong></p>
<p>Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan  diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Rabbku telah memuliakanku.”  Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia  berkata: “Rabbku menghinakanku.” (Al-Fajr: 15-16)</p>
<p>Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Maksud ayat-ayat tersebut  adalah tidak setiap orang yang Aku (Allah Subhanahu wa Ta’ala) beri  kedudukan dan limpahan nikmat di dunia berarti Aku limpahkan  keridhaan-Ku kepadanya. Hal itu hanyalah sebuah ujian dan cobaan dari-Ku  untuknya. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezekinya, Aku  beri sekadar kebutuhan hidupnya tanpa ada kelebihan, berarti Aku  menghinakannya. Namun Aku menguji hamba-Ku dengan kenikmatan-kenikmatan  sebagaimana Aku mengujinya dengan berbagai musibah.” (Ijtima’ul Juyusy,  hal. 9)</p>
<p>Sehingga, dunia dan harta bisa menyebabkan pemiliknya selamat serta  mulia di dunia dan akhirat, apabila dia mendapatkannya dengan cara yang  diperbolehkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu  ‘alaihi wa sallam. Dia juga mensyukurinya serta menunaikan hak-haknya  sehingga tidak diperbudak oleh dunia dan harta tersebut. Sebagaimana  sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p><strong>لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا  فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ  حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا</strong></p>
<p>“Tidak boleh iri kecuali kepada dua golongan: Orang yang Allah Subhanahu  wa Ta’ala karuniakan harta kepadanya lalu dia infakkan di jalan yang  benar, serta orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan ilmu  kepadanya lalu dia menunaikan konsekuensinya (mengamalkannya) dan  mengajarkannya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Dan demikianlah keadaan para sahabat dahulu. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu  menceritakan: Beberapa orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  berkata kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p><strong>يَا رَسُولَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ، يُصَلُّونَ  كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ  أَمْوَالِهِمْ</strong></p>
<p>“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah mendahului kami untuk  mendapatkan pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka juga  berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka bersedekah dengan  kelebihan harta mereka.” (HR. Muslim)</p>
<p>Sebaliknya, orang yang tertipu dengan harta dan dunia sehingga dia  diperbudak olehnya, dia akan celaka dan binasa di dunia maupun akhirat.  Na’udzu billah min dzalik (Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa  Ta’ala dari hal tersebut). Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah  memperingatkan tentang hakikat harta dan dunia itu dalam firman-Nya:</p>
<p><strong>وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ</strong></p>
<p>“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”  (Ali Imran: 185)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ  عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ  فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهْلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ</strong></p>
<p>“Bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Namun aku khawatir  akan dibentangkan dunia kepada kalian sebagaimana telah dibentangkan  kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba  mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian, maka dunia  itu akan membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan  orang-orang yang sebelum kalian.” (Muttafaqun ‘alaih dari ‘Amr bin ‘Auf  radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p><strong>تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ،  إِنْ أُعْطِيَ رَضِي وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ</strong></p>
<p>“Celaka hamba dinar, dirham, qathifah, dan khamishah (keduanya adalah  jenis pakaian). Bila dia diberi maka dia ridha. Namun bila tidak diberi  dia tidak ridha.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kejahatan orang yang berilmu dan  ahli ibadah dari kalangan ahli kitab yang telah diperbudak oleh harta  dan dunia dalam firman-Nya:</p>
<p><strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ  وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ  وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ</strong></p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari  orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan  harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi  (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)</p>
<p>Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menerangkan dalam tafsirnya: “Yang  dimaksud ayat tersebut adalah peringatan dari para ulama su’ (orang yang  berilmu tapi jahat) dan ahli ibadah yang sesat. Sebagaimana ucapan  Suyfan ibnu Uyainah rahimahullahu: ‘Barangsiapa yang jahat dari kalangan  orang yang berilmu di antara kita, berarti ada keserupaan dengan para  pemuka Yahudi. Sedangkan barangsiapa yang sesat dari kalangan ahli  ibadah kita, berarti ada keserupaan dengan para pendeta Nasrani. Di mana  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits  yang shahih: ‘Sungguh-sungguh ada di antara kalian perbuatan-perbuatan  generasi sebelum kalian. Seperti bulu anak panah menyerupai bulu anak  panah lainnya.’ Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya: ‘Apakah  mereka orang Yahudi dan Nasrani?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjawab: ‘Siapa lagi?’</p>
<p>Dalam riwayat yang lain mereka bertanya: ‘Apakah mereka Persia dan  Romawi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Siapa lagi  kalau bukan mereka?’</p>
<p>Intinya adalah peringatan dari tasyabbuh (menyerupai) ucapan maupun  perbuatan mereka. Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:</p>
<p><strong>لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ  اللهِ</strong></p>
<p>“(Mereka) benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan  mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)</p>
<p>Hal itu karena mereka memakan harta orang lain dengan kedok agama.  Mereka mendapat keuntungan dan kedudukan di sisi umat, sebagaimana para  pendeta Yahudi dan Nasrani mendapatkan hal-hal tersebut dari umatnya di  masa jahiliah. Hingga ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus  Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pun tetap  berkeras di atas kejahatan, kesesatan, kekafiran, dan permusuhannya,  disebabkan ambisi mereka terhadap kedudukan tersebut. Maka Allah  Subhanahu wa Ta’ala memadamkan kesesatan itu dengan cahaya kenabian  sekaligus menggantikan kedudukan mereka degan kehinaan serta kerendahan.  Dan mereka akan kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala membawa  kemurkaan-Nya.”</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Sungguh, ambisi  terhadap dunia termasuk sebab yang menimbulkan berbagai macam fitnah  pada generasi pertama. Telah terdapat riwayat yang shahih dari Ibnu Umar  radhiyallahu ‘anhuma, dalam Masa’il Al-Imam Ahmad (2/171), bahwa beliau  radhiyallahu ‘anhuma berkata: Seorang dari Anshar datang kepadaku pada  masa khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu. Dia berbicara denganku.  Tiba-tiba dia menyuruhku untuk mencela Utsman radhiyallahu ‘anhu. Maka  aku katakan: ‘Sungguh, demi Allah, kita tidak mengetahui bahwa Utsman  membunuh suatu jiwa tanpa alasan yang benar. Dia juga tidak pernah  melakukan dosa besar (zina) sedikitpun. Namun inti masalahnya adalah  harta. Apabila dia memberikan harta tersebut kepadamu, niscaya engkau  akan ridha. Sedangkan bila dia memberikan harta kepada  saudara/kerabatnya, maka kalian marah.”</p>
<p>Selanjutnya, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Bila  kalian arahkan pandangan ke tengah-tengah kaum muslimin, baik di zaman  yang telah lalu maupun sekarang, niscaya engkau akan saksikan kebanyakan  orang yang tergelincir dari jalan ini (al-haq) adalah karena tamak  terhadap dunia dan kedudukan. Maka barangsiapa yang membuka pintu ini  untuk dirinya niscaya dia akan berbolak-balik. Berubah-ubah prinsip  agamanya dan akan menganggap remeh/ringan urusan agamanya. (Bidayatul  Inhiraf, hal. 141)</p>
<p>Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Setiap orang dari kalangan  orang yang berilmu yang lebih memilih dunia dan berambisi untuk  mendapatkannya, pasti dia akan berdusta atas nama Allah Subhanahu wa  Ta’ala dalam fatwanya, dalam hukum yang dia tetapkan, berita-berita yang  dia sebarkan, serta konsekuensi-konsekuensi yang dia nyatakan. Karena  hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala mayoritasnya menyelisihi ambisi  manusia. Lebih-lebih ambisi orang yang tamak terhadap kedudukan dan  orang yang diperbudak hawa nafsunya. Ambisi mereka tidak akan bisa  mereka dapatkan dengan sempurna kecuali dengan menyelisihi kebenaran dan  sering menolaknya. Apabila seorang yang berilmu atau hakim berambisi  terhadap jabatan dan mempertuhankan hawa nafsunya, maka ambisi tersebut  tidak akan didapatkan dengan sempurna kecuali dengan menolak kebenaran…</p>
<p>Mereka pasti akan membuat-buat perkara yang baru dalam agama, disertai  kejahatan-kejahatan dalam bermuamalah. Maka terkumpullah pada diri  mereka dua perkara tersebut (kedustaan dan kejahatan).</p>
<p>Sungguh, mengikuti hawa nafsu itu akan membutakan hati, sehingga tidak  lagi bisa membedakan antara sunnah dengan bid’ah. Bahkan bisa terbalik,  dia lihat yang bid’ah sebagai sunnah dan yang sunnah sebagai bid’ah.  Inilah penyakit para ulama bila mereka lebih memilih dunia dan  diperbudak oleh hawa nafsunya.” (Al-Fawaid, hal 243-244)</p>
<p><strong>اللَهُّمَ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا  الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ</strong></p>
<p>“Ya Allah, tampakkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan  karuniakanlah kami untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kebatilan itu  sebagai kebatilan dan karuniakanlah kami untuk menjauhinya.” Wallahu  ‘alam bish-shawab.</p>
<p>Sumber: <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;6e240&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=931" target="_blank"><span>http://asysyariah.com/syar</span><span>iah.php?menu=detil&amp;id_onli</span>ne=931</a><br />
<input name="charset_test" type="hidden" value="€,´,€,´,水,Д,Є" />
<input name="fb_dtsg" type="hidden" value="ld20M" />
<input id="feedback_params" name="feedback_params" type="hidden" value="{&quot;actor&quot;:&quot;1292568681&quot;,&quot;target_fbid&quot;:&quot;392438151122&quot;,&quot;target_profile_id&quot;:&quot;1292568681&quot;,&quot;type_id&quot;:&quot;14&quot;,&quot;source&quot;:&quot;2&quot;,&quot;assoc_obj_id&quot;:&quot;&quot;,&quot;source_app_id&quot;:&quot;&quot;,&quot;extra_story_params&quot;:[],&quot;check_hash&quot;:&quot;793550fb6f7067ae&quot;}" />
<input id="post_form_id" name="post_form_id" type="hidden" value="b9089613221d317db3798880d2b6ba46" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/jauhilah-sifat-sifat-munafik.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obat Penenang Jiwa</title>
		<link>http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 16:45:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Jabatan]]></category>
		<category><![CDATA[Ketenangan]]></category>
		<category><![CDATA[Ma'rifatullah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1630</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji untuk Allah, Yang telah menurunkan al-Qur&#8217;an sebagai petunjuk dan obat bagi hamba-hamba yang beriman. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Imam orang-orang yang bertakwa, yang telah menguraikan ayat-ayat-Nya kepada segenap umatnya. Amma ba&#8217;du. Saudaraku, sudah menjadi tabiat manusia &#8230; <a href="http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fobat-penenang-jiwa.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fobat-penenang-jiwa.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Segala puji untuk Allah, Yang telah menurunkan al-Qur&#8217;an sebagai petunjuk dan obat bagi hamba-hamba yang beriman. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Imam orang-orang yang bertakwa, yang telah menguraikan ayat-ayat-Nya kepada segenap umatnya. </span><em><span style="font-weight: normal;">Amma ba&#8217;du</span></em><span style="font-weight: normal;">.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Saudaraku, sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka menyukai sesuatu yang bisa menyenangkan hati dan menentramkan jiwa mereka. Oleh sebab itu, banyak orang rela mengorbankan waktunya, memeras otaknya, dan menguras tenaganya, atau bahkan kalau perlu mengeluarkan biaya yang tidak kecil jumlahnya demi meraih apa yang disebut sebagai kepuasan dan ketenangan jiwa. Namun, ada sebuah fenomena memprihatinkan yang sulit sekali dilepaskan dari upaya ini. Seringkali kita jumpai manusia memakai cara-cara yang dibenci oleh Allah demi mencapai keinginan mereka.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span id="more-1630"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Ada di antara mereka yang terjebak dalam jerat harta. Ada yang terjebak dalam jerat wanita. Ada yang terjebak dalam hiburan yang tidak halal. Ada pula yang terjebak dalam aksi-aksi brutal atau tindak kriminal. Apabila permasalahan ini kita cermati, ada satu faktor yang bisa ditengarai sebagai sumber utama munculnya itu semua. Hal itu tidak lain adalah karena manusia tidak lagi menemukan ketenangan dan kepuasan jiwa dengan berdzikir dan mengingat Rabb mereka.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Padahal, Allah </span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-weight: normal;"> telah mengingatkan hal ini dalam ayat (yang artinya), </span><em><span style="font-weight: normal;">“Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (QS. ar-Ra&#8217;d: 28). Ibnul Qayyim </span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-weight: normal;"> menyebutkan bahwa pendapat terpilih mengenai makna &#8216;mengingat Allah&#8217; di sini adalah mengingat al-Qur&#8217;an. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan al-Qur&#8217;an (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Tafsir al-Qayyim</span></em><span style="font-weight: normal;">, hal. 324) </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Dzikir merupakan sebuah kelezatan bagi hati orang-orang yang mengerti.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Demikian juga Malik bin Dinar mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Tidaklah orang-orang yang merasakan kelezatan bisa merasakan sebagaimana kelezatan yang diraih dengan mengingat Allah.” </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 562). Sekarang, yang menjadi pertanyaan kita adalah; mengapa banyak di antara kita yang tidak bisa merasakan kelezatan berdzikir sebagaimana yang digambarkan oleh para ulama salaf. Sehingga kita lebih menyukai menonton sepakbola daripada ikut pengajian, atau lebih suka menikmati telenovela daripada merenungkan ayat-ayat-Nya, atau lebih suka berkunjung ke lokasi wisata daripada memakmurkan rumah-Nya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Perhatikanlah ucapan Rabi&#8217; bin Anas berikut ini, mungkin kita akan bisa menemukan jawabannya. Rabi&#8217; bin Anas mengatakan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya, karena sesungguhnya tidaklah kamu mencintai apa saja kecuali kamu pasti akan banyak-banyak menyebutnya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Jami&#8217; al-&#8217;Ulum wa al-Hikam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 559). Ini artinya, semakin lemah rasa cinta kepada Allah dalam diri seseorang, maka semakin sedikit pula &#8216;kemampuannya&#8217; untuk bisa mengingat Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan kondisi batin kita yang begitu memprihatinkan, walaupun kondisi lahiriyahnya tampak baik-baik saja. Aduhai, betapa sedikit orang yang memperhatikannya! Ternyata, inilah yang selama ini hilang dan menipis dalam diri kita; yaitu rasa cinta kepada Allah&#8230; </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Syaikh as-Sa&#8217;di </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Pokok dan ruh ketauhidan adalah memurnikan rasa cinta untuk Allah semata, dan hal itu merupakan pokok penghambaan dan penyembahan kepada-Nya. Bahkan, itulah hakekat dari ibadah. Tauhid tidak akan sempurna sampai rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya menjadi sempurna, dan kecintaan kepada-Nya harus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang dicintai. Sehingga rasa cintanya kepada Allah mengalahkan rasa cintanya kepada selain-Nya dan menjadi penentu atasnya, yang membuat segala perkara yang dicintainya harus tunduk dan mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan bisa menggapai kebahagiaan dan kemenangannya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qaul as-Sadid Fi Maqashid at-Tauhid</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 95)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Kalau demikian keadaannya, maka solusi untuk bisa menggapai ketenangan jiwa melalui dzikir adalah dengan menumbuhkan dan menguatkan rasa cinta kepada Allah. Dan satu-satunya jalan untuk mendapatkannya adalah dengan mengenal Allah melalui keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan memperhatikan kebesaran ayat-ayat-Nya, yang tertera di dalam al-Qur&#8217;an ataupun yang berwujud makhluk ciptaan-Nya. Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi </span></span><em><span style="font-weight: normal;">hafizhahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya rasa cinta kepada sesuatu merupakan cabang dari pengenalan terhadapnya. Maka manusia yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling cinta kepada-Nya. Dan setiap orang yang mengenal Allah pastilah akan mencintai-Nya. Dan tidak ada jalan untuk menggapai ma&#8217;rifat ini kecuali melalui pintu ilmu mengenai nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Tidak akan kokoh ma&#8217;rifat seorang hamba terhadap Allah kecuali dengan berupaya mengenali nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang disebutkan di dalam al-Qur&#8217;an maupun as-Sunnah&#8230;”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">Mu&#8217;taqad Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah fi Tauhid al-Asma&#8217; wa as-Shifat</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 16) </span></span><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hati seorang hamba akan menjadi hidup, diliputi dengan kenikmatan dan ketentraman apabila hati tersebut adalah hati yang senantiasa mengenal Allah, yang pada akhirnya membuahkan rasa cinta kepada Allah lebih di atas segala-galanya </span><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">(lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Mu&#8217;taqad Ahlis Sunnah wal Jama&#8217;ah fi Tauhid al-Asma&#8217; wa as-Shifat</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 21). Di sisi yang lain, kelezatan di akherat yang diperoleh seorang hamba kelak adalah tatkala melihat wajah-Nya. Sementara hal itu tidak akan bisa diperolehnya kecuali setelah merasakan kelezatan paling agung di dunia, yaitu dengan mengenal Allah dan mencintai-Nya, dan inilah yang dimaksud dengan surga dunia yang akan senantiasa menyejukkan hati hamba-hamba-Nya (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;,</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> hal. 261)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Banyak orang yang tertipu oleh dunia dengan segala kesenangan yang ditawarkannya sehingga hal itu melupakan mereka dari mengingat Rabb yang menganugerahkan nikmat kepada mereka. Hal itu bermula, tatkala kecintaan kepada dunia telah meresap ke dalam relung-relung hatinya. Tanpa terasa, kecintaan kepada Allah sedikit demi sedikit luntur dan lenyap. Terlebih lagi &#8216;didukung&#8217; suasana sekitar yang jauh dari siraman petunjuk al-Qur&#8217;an, apatah lagi pengenalan terhadap keagungan nama-nama dan sifat-Nya. Maka semakin jauhlah sosok seorang hamba yang lemah itu dari lingkaran hidayah Rabbnya. Sholat terasa hampa, berdzikir tinggal gerakan lidah tanpa makna, dan al-Qur&#8217;an pun teronggok berdebu tak tersentuh tangannya. </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Wahai saudaraku</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">&#8230; apakah yang kau cari dalam hidup ini? Kalau engkau mencari kebahagiaan, maka ingatlah bahwa kebahagiaan yang sejati tidak akan pernah didapatkan kecuali bersama-Nya dan dengan senantiasa mengingat-Nya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Allah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ta&#8217;ala</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berfirman (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Akan tetapi ternyata kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, sementara akherat itu lebih baik dan lebih kekal.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. al-A&#8217;la: 16-17). Allah juga berfirman mengenai seruan seorang rasul yang sangat menghendaki kebaikan bagi kaumnya (yang artinya), </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai kaumku, ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepada kalian jalan petunjuk. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (yang semu), dan sesungguhnya akherat itulah tempat menetap yang sebenarnya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (QS. Ghafir: 38-39) (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">ad-Daa&#8217; wa ad-Dawaa&#8217;</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, hal. 260)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Apabila engkau menangis karena ludesnya hartamu, atau karena hilangnya jabatanmu, atau karena orang yang pergi meninggalkanmu, maka sekaranglah saatnya engkau menangisi rusaknya hatimu&#8230; </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Allahul musta&#8217;aan wa &#8216;alaihit tuklaan</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. </span></span></p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/obat-penenang-jiwa.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanda Kiamat Sudah Dekat</title>
		<link>http://abumushlih.com/tanda-kiamat-sudah-dekat.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tanda-kiamat-sudah-dekat.html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 06:11:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Akhir]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Khamr]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1470</guid>
		<description><![CDATA[Dari Anas bin Malik radhiyallahu&#8217;anhu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Sebagian di antara tanda dekatnya hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, khamr ditenggak, dan perzinaan bermunculan -di mana-mana-.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [8/267]) Hadits yang &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tanda-kiamat-sudah-dekat.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftanda-kiamat-sudah-dekat.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftanda-kiamat-sudah-dekat.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --><span style="font-weight: normal;">Dari Anas bin Malik </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;">, Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sebagian di antara tanda dekatnya hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, khamr ditenggak, dan perzinaan bermunculan -di mana-mana-.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [8/267])</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;"><span id="more-1470"></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits yang agung ini memberikan pelajaran, di antaranya:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hancurnya 	alam dunia ini -dengan terjadinya kiamat- akan didahului dengan 	hancurnya pilar-pilar penegak kemaslahatan hidup manusia yang 	menjaga kepentingan dunia dan akherat mereka. Di antara pilar 	tersebut adalah; agama, akal, dan garis keturunan/nasab. Rusaknya 	agama akibat hilangnya ilmu. Rusaknya akal akibat khamr. Rusaknya 	nasab karena praktek perzinaan yang merajalela di mana-mana (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/218)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kemaslahatan hidup umat 	manusia. Islam memperingatkan mereka dari hal-hal yang dapat merusak 	ketentraman hidup mereka. Di antara perkara yang harus mereka 	perhatikan adalah kewajiban menjaga urusan agama, kejernihan akal, 	dan kejelasan nasab. Dan itu juga mengisyaratkan bahwa syari'at 	Islam adalah syari'at yang sangat bijaksana karena ia diturunkan 	dari Allah al-Hakim (Yang Maha bijaksana)...</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dari 	hadits yang agung ini, kita bisa memetik pelajaran bahwa kehancuran 	umat ini adalah dengan hancurnya agama, akal, dan nasab mereka. Oleh 	sebab itu janganlah anda heran jika ternyata musuh-musuh umat Islam 	(dari kalangan orang kafir dan munafik) begitu gencar berupaya 	menjauhkan generasi muda kaum muslimin dari al-Qur'an dan Sunnah 	serta para ulama Rabbani. Mereka sebarkan paham-paham sesat dan 	pemikiran-pemikiran menyimpang melalui doktrin-doktrin inklusivisme 	dan kebebasan, yang pada akhirnya akan memporak-porandakan akidah 	kaum muslimin. Mereka juga giat menyusupkan narkoba dan semacamnya 	ke tengah-tengah masyarakat Islam, yang pada akhirnya akan 	melahirkan sosok para pemuda yang tidak bisa memikirkan tujuan 	hidupnya. Mereka juga giat menyebarkan film-film cabul dan 	sinetron-sinetron murahan, yang pada akhirnya akan menjerumuskan 	mereka ke dalam jurang perzinaan! Maka waspadalah wahai saudaraku 	dari jerat-jerat dan makar mereka... </span><em><span style="font-weight: normal;">Mereka 	itulah musuh kita, maka berhati-hatilah darinya</span></em><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Dorongan 	untuk menimba ilmu. Ilmu tidak akan diangkat melainkan dengan cara 	wafatnya orang-orang yang berilmu. Selama masih ada orang yang 	menimba ilmu maka pengangkatan ilmu -secara total- tidak akan 	terjadi (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/216]). Di 	dalam riwayat Ahmad dan Thabrani dari jalan Abu Umamah disebutkan 	bahwa ketika Hajjatul Wada&#8217; Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ambillah 	ilmu sebelum sebelum ia dicabut atau diangkat.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Maka ada seorang Badui yang bertanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Bagaimana 	ia diangkat?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. Maka 	beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Ketahuilah, 	hilangnya ilmu adalah dengan perginya (meninggalnya) orang-orang 	yang mengembannya.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/237-238]).</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in; font-weight: normal;">Hadits ini 	menunjukkan keutamaan menjaga ilmu, akal, dan kehormatan</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Yang 	dimaksud terangkatnya ilmu bukanlah dicabutnya ilmu begitu saja dari 	dada-dada manusia. Akan tetapi yang dimaksudkan adalah meninggalnya 	para ulama atau orang-orang yang mengemban ilmu tersebut (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath 	al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/237]). Hal 	itu sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> dalam 	hadits lainnya dari Abdullah bin Amr al-Ash </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-weight: normal;">, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya Allah 	tidak akan mencabut ilmu itu secara tiba-tiba -dari dada manusia- 	akan tetapi Allah mencabut ilmu itu dengan cara mewafatkan para 	ulama. Sampai-sampai apabila tidak tersisa lagi orang alim maka 	orang-orang pun mengangkat pemimpin-pemimpin dari kalangan orang 	yang bodoh. Mereka pun ditanya dan berfatwa tanpa ilmu. Mereka itu 	sesat dan menyesatkan.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [8/269])</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Hadits 	ini -beserta hadits lain yang menafsirkannya di atas- menunjukkan 	kepada kita bahwasanya orang alim -yaitu orang yang memahami ilmu 	al-Kitab dan as-Sunnah- merupakan aset umat yang sangat berharga. 	Wafatnya ulama merupakan musibah besar bagi alam semesta. Karena 	dengan kepergian mereka maka pergi pula ilmu yang mereka miliki. 	Sehingga hal itu akan menyebabkan cacatnya -pemahaman- agama (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Fath al-Bari</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/218]). Tidakkah kita ingat, tatkala sang pemimpin para ulama di 	atas muka bumi ini -yaitu Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">- 	wafat, apa yang terjadi? Ternyata, sebagian bangsa Arab ketika itu 	kembali kepada agama kekafiran mereka (sebagaimana dikisahkan dalam 	HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [1/50]). 	Subhanallah&#8230; fitnah kekafiran merebak setelah meninggalnya beliau </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu &#8216;alaihi wa 	sallam</span></em><span style="font-weight: normal;">. Tidakkah kita 	juga ingat, apa yang terjadi setelah wafatnya Umar bin al-Khattab </span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhu</span></em><span style="font-weight: normal;"> -salah seorang pembesar ulama sahabat-? Maka datanglah fitnah 	bertubi-tubi menyerang umat ini bagaikan hempasan ombak lautan yang 	datang silih berganti (lihat Shahih Bukhari cet. Maktabah al-Iman, </span><em><span style="font-weight: normal;">Kitab al-Fitan</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 1420). Maka demikian pula yang terjadi di masa kita sekarang 	ini setelah meninggalnya para ulama besar semacam Syaikh al-Albani, 	Syaikh Ibnu Bazz, Syaikh Ibnu Utsaimin, dan Syaikh Muqbil 	-</span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahumullah</span></em><span style="font-weight: normal;">- 	terjadilah apa yang terjadi.. Fitnah berkecamuk, bahkan di antara 	sesama penuntut ilmu itu sendiri (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tanbih 	al-Hasan fi Mauqif al-Muslim minal Fitan</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 2 karya Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Imam). Dalam situasi 	semacam ini, maka tidak ada solusi yang terbaik selain kembali 	kepada Allah dengan menyibukkan diri dengan ketaatan kepada-Nya. 	Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Tetap 	beribadah di saat harj/fitnah berkecamuk bagaikan berhijrah 	kepadaku.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. 	Muslim dari Ma&#8217;qil bin Yasar, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">at-Tanbih 	al-Hasan fi Mauqif al-Muslim minal Fitan</span></em><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 5)</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Yang 	dimaksud dalam ungkapan &#8216;khamr ditenggak- adalah ia diminum secara 	meluas. Demikian juga, &#8216;perzinaan bermunculan&#8217; artinya ia tersebar 	dan merebak kemana-mana (lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [8/267]) </span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-weight: normal;">Meminum 	Khamr tidak akan mendatangkan kenikmatan, bahkan sebaliknya 	pelakunya akan menuai kesengsaraan. Rasulullah </span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa 	yang minum khamr di dunia kemudian tidak bertaubat darinya maka dia 	tidak akan bisa menikmatinya di akherat kelak.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [7/93]). Beliau 	juga bersabda, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Setiap 	yang memabukkan adalah haram. Sesungguhnya Allah &#8216;azza wa jalla 	telah menjanjikan bagi orang yang meminum sesuatu yang memabukkan 	bahwa Allah akan meminumkan kepadanya Thinatul Khabal.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> Mereka -para sahabat- bertanya, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Wahai 	Rasulullah! Apa yang dimaksud Thinatul Khabal?”</span></em><span style="font-weight: normal;">. 	Beliau menjawab, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Yaitu 	keringat penduduk neraka, atau nanah penduduk neraka.”</span></em><span style="font-weight: normal;"> (HR. Muslim dari Jabir, lihat </span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Muslim</span></em><span style="font-weight: normal;"> [7/92]). Para 	ulama kita mengatakan, </span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa 	yang tergesa-gesa meraih sesuatu padahal belum saatnya, maka justru 	ia tidak akan mendapatkannya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Syaikh as-Sa&#8217;di </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Barangsiapa 	-lelaki- yang mengenakan sutera di dunia, maka ia tidak akan 	memakainya di akherat. Dan barangsiapa yang menenggak khamr di dunia 	maka ia tidak akan meminumnya di akherat. Sebagaimana halnya orang 	yang tergesa-gesa menikmati sesuatu yang terlarang baginya akan 	terhalang mendapatkannya, maka sebaliknya bagi </span></em><em><strong>barangsiapa 	yang meninggalkan sesuatu yang diinginkan oleh nafsunya karena Allah 	niscaya Allah akan gantikan untuknya sesuatu yang lebih baik di 	dunia dan di akherat</strong></em><em><span style="font-weight: normal;">. 	Barangsiapa yang meninggalkan kemaksiatan kepada Allah sementara 	nafsunya sangat menginginkannya maka Allah akan gantikan itu semua 	dengan keteguhan iman di dalam hatinya, perasaan lapang, keberkahan 	dalam rezkinya, kesehatan bagi tubuhnya. Selain itu dia juga akan 	memperoleh pahala dari Allah yang tidak bisa digambarkan bagaimana 	bentuk atau sifatnya. Wallahul musta&#8217;an.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (</span></span><em><span style="font-weight: normal;">al-Qawa&#8217;id 	al-Fiqhiyah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 39-40)</span></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Apabila 	kita cermati, ketiga perkara tadi -yaitu kebodohan, khamr, dan 	perzinaan- maka sesungguhnya yang menjadi akar permasalahan adalah 	merajalelanya kebodohan di tengah-tengah umat ini. Itulah sebab 	utama kehancuran masyarakat. Sampai-sampai diistilahkan oleh Ibnul 	Qayyim </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bahwa kebodohan ini merupakan </span></span><em><span style="font-weight: normal;">daa&#8217;un 	qaatilun</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (penyakit yang mematikan). Sementara, penyakit ganas ini tidak akan 	bisa disembuhkan kecuali dengan siraman dalil al-Qur&#8217;an dan Sunnah 	Nabi yang diajarkan oleh para ulama Rabbani (lihat </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Syarh 	Tsalatsat al-Ushul</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> Syaikh Shalih alu Syaikh, hal. 8). Oleh sebab itu, para pendahulu 	kita yang salih sangat mengagungkan ilmu. Dari Abu Hurairah dan Abu 	Dzar </span></span><em><span style="font-weight: normal;">radhiyallahu&#8217;anhuma</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	mereka berdua pernah berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sebuah 	bab tentang ilmu yang kamu pelajari itu lebih kami sukai daripada 	seribu raka&#8217;at sholat sunnah.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (dinukil dari </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Tajrid 	al-Ittiba&#8217;</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> karya Syaikh Dr. Ibrahim ar-Ruhaili, hal. 26). Imam asy-Syafi&#8217;i </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Menuntut 	ilmu lebih utama daripada melakukan sholat sunnah.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (dinukil dari </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Tajrid 	al-Ittiba&#8217;</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 27). al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali </span></span><em><span style="font-weight: normal;">rahimahullah</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> berkata, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Salah 	satu bukti yang menunjukkan bahwa ilmu lebih utama daripada semua 	amal sunnah adalah: sesungguhnya ilmu itu telah memadukan semua 	keutamaan amal yang berserakan. Sebab ilmu itu adalah bentuk dzikir 	yang paling utama -sebagaimana sudah diterangkan di depan-. Dan ia 	juga merupakan bentuk jihad yang paling utama.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (dinukil dari </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Tajrid 	al-Ittiba&#8217;</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 31). Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya kemuliaan 	dan kejayaan umat ini akan kembali jika mereka mau kembali menekuni 	ajaran Allah dan rasul-Nya. Rasulullah </span></span><em><span style="font-weight: normal;">shallallahu 	&#8216;alaihi wa sallam</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> bersabda, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya 	Allah akan mengangkat derajat sebagian kaum dengan sebab Kitab ini, 	dan akan merendahkan sebagian yang lain karenanya.”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (HR. Muslim dari Umar bin Khattab). Suatu saat, sekelompok warga 	muslim Palestina bertanya kepada seorang Mufti, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">“Kapankah 	kita bisa kembali ke Palestina?”</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">. 	Maka beliau menjawab dengan lugas, </span></span><em><strong>“Jika 	kalian kembali kepada -ajaran- Allah, niscaya kalian akan bisa 	kembali ke Palestina.”</strong></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> (dinukil dari ceramah Syaikh Dr. Muhammad Sa&#8217;id Ruslan, </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Mata 	Ta&#8217;udu Ilaina Falasthin</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">, 	hal. 7). Inilah kebangkitan Islam sejati yang ditakuti oleh 	orang-orang kafir dan munafikin&#8230; Inilah kebangkitan yang akan 	mengguncangkan dunia dan membungkam mulut para durjana! </span></span><em><span style="font-weight: normal;">Wa 	shallallahu &#8216;ala Nabiyyina Muhammadin wa &#8216;ala alihi wa shahbihi wa 	sallam. Walhamdulillahi Rabbil &#8216;alamin.</span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;"> </span></span><span style="font-weight: normal;"> </span></p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tanda-kiamat-sudah-dekat.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Cinta Sejati??</title>
		<link>http://abumushlih.com/adakah-cinta-sejati.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/adakah-cinta-sejati.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 04:45:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kecantikan]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Valentine]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1454</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA hafizhahullah Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Masyarakat di belahan bumi manapun saat ini sedang diusik oleh mitos &#8220;cinta sejati&#8221;, dan dibuai oleh impian &#8220;cinta suci&#8217;. Karenanya, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/adakah-cinta-sejati.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fadakah-cinta-sejati.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fadakah-cinta-sejati.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Oleh : <strong>Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA</strong> <em>hafizhahullah</em></p>
<p>Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</p>
<p>Masyarakat di belahan bumi manapun saat ini sedang diusik oleh mitos <strong>&#8220;cinta sejati&#8221;</strong>, dan dibuai oleh impian &#8220;cinta suci&#8217;. Karenanya, rame-rame, mereka mempersiapkan diri untuk merayakan hari cinta <strong>&#8220;valentine&#8217;s day&#8221;</strong>.</p>
<p>Pada kesempatan ini, saya tidak ingin mengajak saudara menulusi sejarah dan kronologi adanya peringatan ini. Dan tidak juga ingin membicarakan hukum mengikuti perayaan hari ini. Karena saya yakin, anda telah banyak mendengar dan membaca tentang itu semua. Hanya saja, saya ingin mengajak saudara untuk sedikit menyelami: <strong>apa itu cinta? Adakah cinta sejati dan cinta suci? Dan cinta model apa yang yang selama ini menghiasi hati anda?</strong></p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-1454"></span><br />
Seorang peneliti dari <strong>Researchers at National Autonomous University of Mexico</strong> mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis.</p>
<p>Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.</p>
<p>Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (sumber www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB).</p>
<p>Wah, gimana tuh nasib cinta yang selama ini anda dambakan dari pasangan anda? Dan bagaimana nasib cinta anda kepada pasangan anda? Jangan-jangan sudah lenyap dan terkubur jauh-jauh hari. <em>Kasihan deeh</em>.</p>
<p>Anda ingin sengsara karena tidak lagi merasakan indahnya cinta pasangan anda dan tidak lagi menikmati lembutnya buaian cinta kepadanya ? Ataukah anda ingin tetap merasakan betapa indahnya cinta pasangan anda dan juga betapa bahagiannya mencintai pasangan anda?</p>
<p>Saudaraku, bila anda mencintai pasangan anda karena kecantikan atau ketampanannya, maka saat ini saya yakin anggapan bahwa ia adalah orang tercantik dan tertampan, telah luntur.</p>
<p>Bila dahulu rasa cinta anda kepadanya tumbuh karena ia adalah orang yang kaya, maka saya yakin saat ini, kekayaannya tidak lagi spektakuler di mata anda.</p>
<p>Bila rasa cinta anda bersemi karena ia adalah orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang di masyarakat, maka saat ini kedudukan itu tidak lagi berkilau secerah yang dahulu menyilaukan pandangan anda.</p>
<p>Saudaraku! bila anda terlanjut terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri anda, ada baiknya bila anda menguji kadar cinta anda. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta anda kepadanya. Coba anda duduk sejenak, membayangkan kekasih anda dalam keadaan <strong>ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot</strong>. Akankah rasa cinta anda masih menggemuruh sedahsyat yang anda rasakan saat ini?</p>
<p>Para ulama&#8217; sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama <strong>Laila bintu Al Judi</strong>. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghunjam hati Abdurrahman bin Abi Bakar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>. Maka sejak hari itu, Abdurrahman <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut diantara bait-bait syair yang pernah ia rangkai :</p>
<p><em>Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negri Samawah<br />
duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?<br />
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita<br />
paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.<br />
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,<br />
semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.<br />
</em><br />
Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>. Dan <em>Subhanallah</em>, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>.</p>
<p>Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada &#8216;Aisyah istri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang merupakan saudari kandungnya. Mensikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata:</p>
<p><em>&#8220;Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima.?&#8221;<br />
</em><br />
Akan tetapi tidak begitu lama, Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya <strong>&#8220;memble&#8221;</strong> (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada &#8216;Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>. Mendapat pengaduan laila ini, maka &#8216;Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها</strong>.</p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya.</em> (Tarikh Damaskus oleh Ibnu &#8216;Asakir 35/34 &amp; Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)</p>
<p>Bagaimana saudaraku! Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>?([1])</p>
<p>Tidak heran bila nenek moyang anda telah mewanti-wanti anda agar senantiasa waspada dari kenyataan ini. Mereka mengungkapkan fakta ini dalam ungkapan yang cukup unik:</p>
<p><em>Rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.<br />
</em><br />
Anda penasaran ingin tahu, mengapa kenyataan ini bisa terjadi?</p>
<p>Temukan rahasianya pada sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berikut ini:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>(الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ) رواه الترمذي وغيره</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Wanita itu adalah aurat (harus ditutupi), bila ia keluar dari rumahnya, maka setan akan mengesankannya begitu cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya).&#8221;</em> Riwayat At Tirmizy dan lainnya</p>
<p>Orang-orang arab mengungkapkan fenomena ini dengan berkata :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>كُلُّ مَمْنُوعٍ مَرْغُوبٌ</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).</em></p>
<p>Dahulu, tatkala hubungan antara anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat anda, sehingga anda hanyut oleh badai asmara. Karena anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata anda menjadi buta dan telinga anda menjadi tuli, sehingga andapun bersemboyan : <strong>Cinta itu buta</strong>. Dalam pepatah arab dinyatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.</em></p>
<p>Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka sepontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:</p>
<p style="text-align: right;">(<strong>فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ) البقرة 102</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.&#8221;</em> Al Baqarah 102.</p>
<p>Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?</p>
<p>Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa <strong>gunakan nalar sehat dan hati nurani</strong> anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan anda kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.</p>
<p>Mungkin anda kembali bertanya: Bila demikian adanya, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci saya? Kepada siapakah saya harus menambatkan tali cinta saya?</p>
<p>Simaklah jawabannya dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> :</p>
<p style="text-align: right;">(<strong>تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ) متفق عليه</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.&#8221;</em> Muttafaqun &#8216;alaih.</p>
<p>Dan pada hadits lain beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">(<strong>إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ) رواه الترمذي وغيره.</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.&#8221;</em> Riwayat At Tirmizy dan lainnya.</p>
<p>Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tudak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput .</p>
<p style="text-align: right;">(<strong>الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ) الزخرف 67</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.&#8221;</em> Az Zukhruf 67</p>
<p>Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari qiyamat? Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>(ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ) متفق عليه</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan kedalam kobaran api.&#8221;</em> Muttafaqun &#8216;alaih</p>
<p>Saudaraku! hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.</p>
<p>Yahya bin Mu&#8217;az berkata: <em>&#8220;Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.&#8221;</em> Yang demikian itu karena cinta anda tumbuh bersemi karena adanya <strong>iman, amal sholeh dan akhlaq mulia</strong>, sehingga bila iman orang yang anda cintai tidak bertambah, maka cinta andapun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya bila iman orang yang anda cintai berkurang, maka cinta andapun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku.</p>
<p>Saudaraku! setelah anda membaca tulisan sederhana ini, perkenankan saya bertanya: <em>Benarkah cinta anda suci? Benarkah cinta anda adalah cinta sejati?</em> Buktikan saudaraku.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;alam bisshowab</em>, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan.</p>
<p>Oleh : Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA<br />
Artikel : <a href="http://pengusahamuslim.com/" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com</a></p>
<p><span> &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<div><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span>&#8212;-</p>
<p>[1] ) Saudaraku, setelah membaca kisah cinta sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar ini, saya harap anda tidak berkomentar atau berkata-kata buruk tentang sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar. Karena dia adalah salah seorang sahabat nabi, sehingga memiliki kehormatan yang harus anda jaga. Adapun kesalahan dan kehilafan yang terjadi, maka itu adalah hal yang biasa, karena dia juga manusia biasa, bisa salah dan bisa khilaf. Walaupun, amal kebajikan para sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> begitu banyak sehingga akan menutupi kekhilafannya. <strong>Jangan sampai anda merasa bahwa diri anda lebih baik dari seseorang</strong> apalagi sampai menyebabkan anda mencemoohnya karena kekhilafan yang ia lakukan. Disebutkan pada salah satu atsar (ucapan seorang ulama&#8217; terdahulu):</div>
<div style="text-align: right;">مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ مَنْ عَابَهُ بِهِ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ</div>
<div style="text-align: left;"></div>
<div style="text-align: left;"><em>&#8220;Barang siapa mencela -menghina, ed- saudaranya karena suatu dosa yang ia lakukan, tidaklah ia mati hingga terjerumus ke dalam dosa yang sama.&#8221;</em></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/adakah-cinta-sejati.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudariku… Sampai Kapan Kau Terlena?</title>
		<link>http://abumushlih.com/saudariku%e2%80%a6-sampai-kapan-kau-terlena.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/saudariku%e2%80%a6-sampai-kapan-kau-terlena.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 16:02:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaran Berharga]]></category>
		<category><![CDATA[Aurat]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Taubat]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1122</guid>
		<description><![CDATA[Diterjemahkan dari kitab Ilaa Mataa Al Ghaflah karya Abu Umar Salim al Ajmi’ oleh Nafisah bintu Abi Salim -semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik- Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi termulia, &#8230; <a href="http://abumushlih.com/saudariku%e2%80%a6-sampai-kapan-kau-terlena.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudariku%25e2%2580%25a6-sampai-kapan-kau-terlena.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Fsaudariku%25e2%2580%25a6-sampai-kapan-kau-terlena.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Diterjemahkan dari kitab <em>Ilaa Mataa Al Ghaflah</em> karya Abu Umar Salim al Ajmi’</p>
<p>oleh Nafisah bintu Abi Salim -semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik-</p>
<p>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi termulia, pemuka para rasul. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya.</p>
<p><span id="more-1122"></span></p>
<p>Saudariku muslimah…<br />
Ketahuilah, kesulitan yang menimpa umat Islam saat ini merupakan adzab dari Allah. Adzab tersebut tidaklah turun kecuali disebabkan dosa-dosa para hamba, yang dengan itu diharapkan mereka mau bertaubat kepada Rabb mereka dan mau kembali kepada-Nya.</p>
<p>Dalam tulisan ringkas ini kami ingin menjelaskan sebagian sebab yang menyampaikan kita pada apa yang kita alami sekarang ini, agar kita mengoreksi diri dan memperbaiki kesalahan.</p>
<p><strong>Pertama, dosa-dosa dan kemaksiatan</strong><br />
Tidak diragukan lagi bahwa dosa dan kemaksiatan termasuk sebab terbesar yang menyampaikan umat terdahulu pada kebinasaan. Ali radhiyallahu&#8217;anhu berkata: “Tidaklah turun bala (siksaan) kecuali karena dosa, dan bala tersebut tidak akan diangkat kecuali dengan taubat.”</p>
<p>Ketika bala menimpa suatu kaum, tak ada satupun usaha manusia yang mampu menahannya, meski ada orang-orang shalih ada diantara mereka, adzab tetap meliputi. Sebagaimana ucapan Zainab kepada Nabi: “Apakah kita akan dibinasakan sedangkan ada orang-orang shalih diantara kita?” Nabi bersabda: “Ya, apabila telah banyak kejelekan.” (HR. Bukhari no. 7059 dan Muslim no. 2880)</p>
<p>Pada umat ini pun ada orang-orang shalih, akan tetapi banyak pula tersebar kejelekan. Oleh karena itu hendaknya orang-orang yang memiliki akal menjauhi dosa-dosa dan kemaksiatan agar Allah tidak memasukkan dirinya ke dalam adzab-Nya yang pedih dan tidak menghadapkan dirinya kepada kemurkaan Allah.</p>
<p>Berapa banyak penduduk negeri yang berada dalam keamanan dan ketenangan, mereka diberi nikmat dengan makmurnya kehidupan kemudian Allah membinasakan dan mengubah keadaan mereka. Allah ganti nikmat tersebut dengan kelaparan dan rasa aman dengan ketakutan disebabkan dosa dan kemaksiatan.</p>
<p>Allah berfirman (yang artinya): “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezeki datang kepada mereka melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nahl:112)</p>
<p>Maka perhatikanlah kelembutan sifat Allah dan perhatikan bagaimana Allah mengubah keadaan mereka. Semua itu disebabkan dosa dan kemaksiatan hamba.</p>
<p><strong>Kedua, lemahnya ketakwaan</strong><br />
Ketahuilah wahai Saudariku, semoga Allah merahmatimu.<br />
Lemahnya takwa dalam hati juga merupakan sebab yang mengantarkan kepada kebinasaan dan hilangnya kenikmatan serta berubahnya keadaan yang paling baik menjadi yang paling buruk. Lemahnya takwa termasuk sebab datangnya murka Allah.</p>
<p>Dia yang Maha Suci berfirman (yang artinya): “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami, maka Kami siksa mereka karena perbuatan mereka itu.” (QS. Al A’raf: 96)</p>
<p><strong>Ketiga, merajalelanya kerusakan</strong><br />
Merajalelanya bermacam-macam perbuatan dosa, seperti wanita menampakkan perhiasan (aurat) nya di depan laki-laki yang bukan mahram, bercampur baurnya laki-laki dan wanita yang buka mahram tanpa hijab yang syar’i, banyaknya perzianaan, ditinggalkannya shalat dan zakat, banyaknya riba, homo seks, dan sebagainya termasuk sebab turunnya bala pada umat ini. Ketika perbuatan tersebut dilakukan terang-terangan dalam suatu kaum dan disiarkan sampai merata di kalangan mereka, maka dipastikan akan turun adzab. Allah berfirman dalam surat Ar-Ruum ayat 41 (yang artinya):  “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka mau kembali.”</p>
<p>Bila Allah ingin membinasakan suatu kaum, Allah jadikan orang-orang yang paling jahat diantara mereka bertambah kefasikan dan kerusakkannya kemudian mereka menyebarkan kerusakkan itu dan menyeru manusia untuk melakukannya. Saat itulah turun adzab, sebagaimana firman Allah (yang artinya): “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya mentaati Allah, tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan) Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Isra:16)</p>
<p><strong>Keempat, merasa aman dari makar Allah.</strong><br />
Orang-orang yang shalih selalu tunduk dalam ketaatan, bertaubat, dan khusyu. Hati mereka bergetar karena takut kepada Allah dan khawatir terhadap adzab-Nya yang pedih. Namun sungguh mengherankan, ada orang yang menampakkan kemaksiatan di hadapan Allah secara terang-terangan. Sungguh mengherankan, ia terus-menerus melakukan dosa besar dan kemaksiatan. Tidaklah ia meninggalkan satu dosa kecuali telah melakukan dosa yang lain.</p>
<p>Sungguh mengherankan, wanita yang keluar dalam keadaan tidak berpakaian kecuali hanya sekedar menutup separuh badannnya, kemudian ia pergi ke pasar dan menimbulkan fitnah di hati hamba-hamba Allah. Betapa mengherankan orang yang lalai padahal ia berada dalam pengawasan Allah. Sungguh sangat mengherankan, bagaimana mereka semua merasa aman dari makar Allah!!</p>
<p>Apakah mereka belum pernah mendengar firman Allah (yang artinya):  “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami pada mereka di malam hari saat mereka tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami di waktu dhuha ketika mereka sedang bermain? Apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)?. Tidaklah merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf:97-99)</p>
<p>Orang-orang yang merasa aman dari makar Allah adalah orang-orang yang merugi, karena mereka lengah dari adzab Allah hingga adzab itu sampai kepada mereka dengan tiba-tiba tanpa mereka sadari. Yang demikian itu disebabkan mereka merasa aman dari makar Allah. Mereka terus-menerus dalam kemaksiatan, tidak menyadari kemurkaan Allah hingga terjadilah apa yang terjadi.</p>
<p>Wahai Saudariku muslimah…sepantasnya seorang muslim yang hakiki mengetahui beberapa perkara penting berikut ini:<br />
<em></em></p>
<p><em>Pertama</em>, hendaknya kita berserah diri dan meyakini bahwa Allah tidak akan mendzalimi siapapun sebagaimana firman-Nya (yang artinya):  “Dan sekali-kali Allah tidak mendzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushilat: 46)</p>
<p>Sebab turunnya adzab kepada manusia adalah akibat ulah mereka sendiri, sebagai buah dari amalan mereka. Allah berfirman (yang artinya):  “Dan musibah apapun yang menimpa kalian adalah disebabkan perbuatan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan itu).”</p>
<p>“Dan Allah tidaklah mendzalimi mereka, akan tetapi diri-diri mereka sendirilah yang dzalim.” (QS. Ali Imran: 117)</p>
<p><em>Kedua</em>, wajib atas setiap muslim mengetahui bahwa ujian itu datangnya dari Allah. Firman Allah (yang artinya):  “Dan Kami akan memberi kalian cobaan dengan kejelekan dan kebaikan sebagai ujian dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiya: 35)</p>
<p>Hendaknya pula ia mengerti bahwa Allah menguji hamba-hamba-Nya agar dapat dibedakan siapa yang betul-betul beriman kepada Allah dan siapa orang-orang munafik, siapa yang jujur dan siapa yang dusta. Hal ini adalah sunatullah yang berlaku pada umat-umat terdahulu.  Allah berfirman (yang artinya):  “Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang kafir. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantara kalian dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 141-142)</p>
<p><em>Ketiga</em>, wajib bagi kita untuk bersabar, mengharap pahala, dan memuji Allah atas segala yang ditakdirkan-Nya. Hendaknya kita tidak mengeluh atas takdir buruk yang menimpa kita. Kesabaran adalah jalan yang paling selamat dan paling mudah untuk mendapatkan kelapangan dari Allah. Dia berfirman (yang artinya):  “Jika kalian bersabar dan bertakwa maka yang demikian itu sungguh merupakan hal yang patut diutamakan.” (QS. Ali Imran: 186)</p>
<p><em>Keempat</em>, marilah kita bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan-Nya atas apa yang telah kita lakukan baik itu perbuatan maksiat dan dosa-dosa ataupun kelemahan dalam menjalankan kewajiban. Kita sadari bahwa taubat adalah satu-satunya cara mencapai jalan keselamatan. Akankah kita sambut seruan Allah tatkala berfirman (yang artinya): “Dan bertaubatlah kamu sekalian wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (QS. An Nur: 13)</p>
<p>Ataukah kita akan terus berada dalam kemaksiatan dan dosa dengan meninggalkan shalat, memakan riba, dan lainnya?<br />
Akankah para wanita tetap bertabarruj (bersolek dan dipertontonkan di depan laki-laki bukan mahram) dan safar (bepergian) tanpa mahram? Apakah kita ingin menunda taubat dan melupakan firman Allah (yang artinya):  “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Hujurat: 11)</p>
<p>Wahai Saudariku muslimah…<strong>marilah kita bertaubat kepada Allah dengan taubatan nashuha</strong> (yang tulus):<br />
“Wahai Rabb kami, hilangkanlah adzab dari kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang beriman kepada-Mu.” (QS. Ad Dukhan: 12)</p>
<p>Mari kita kembali kepada Allah. Semoga Allah meringankan bencana atas kita dan menahan siksa-Nya. Shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad.</p>
<p>Dikutip dari <a href="http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=32" target="_blank">www.asysyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/saudariku%e2%80%a6-sampai-kapan-kau-terlena.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Lebih Berharga dari Sehelai Sayap Nyamuk!</title>
		<link>http://abumushlih.com/tak-lebih-berharga-dari-sehelai-sayap-nyamuk.html/</link>
		<comments>http://abumushlih.com/tak-lebih-berharga-dari-sehelai-sayap-nyamuk.html/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 03:10:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bersih Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Zuhud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abumushlih.com/?p=1064</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الكَافِرِ “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim) Dari Amr bin ‘Auf radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, فَوالله &#8230; <a href="http://abumushlih.com/tak-lebih-berharga-dari-sehelai-sayap-nyamuk.html/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftak-lebih-berharga-dari-sehelai-sayap-nyamuk.html%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fabumushlih.com%2Ftak-lebih-berharga-dari-sehelai-sayap-nyamuk.html%2F&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الكَافِرِ</p>
<p>“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)</p>
<p><span id="more-1064"></span></p>
<p>Dari Amr bin ‘Auf radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,</p>
<p style="text-align:right;">فَوالله مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ</p>
<p>“Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dari Ka’ab bin ‘Iyadh radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">إنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً ، وفِتْنَةُ أُمَّتِي : المَالُ</p>
<p>“Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, sedangkan fitnah ummatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, dia berkata hadits hasan sahih)</p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,</p>
<p style="text-align:right;">انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ</p>
<p>“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian -dalam hal dunia- dan janganlah kalian melihat orang yang lebih di atasnya. Karena sesungguhnya hal itu akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat yang Allah berikan kepada kalian.” (HR. Muslim)</p>
<p>Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن : إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ</p>
<p>“Sangat mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak didapatkan kecuali pada diri orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia bersyukur. Dan apabila dia mendapatkan kesusahan maka dia akan bersabar.” (HR. Muslim)</p>
<p>Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشَ الآخِرَةِ</p>
<p>“Ya Allah tidak ada kehidupan yang sejati selain kehidupan akhirat.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإنَّ الله تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ</p>
<p>“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah ta’ala menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia dan wanita.” (HR. Muslim)</p>
<p>Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">كُنْ في الدُّنْيَا كَأنَّكَ غَرِيبٌ ، أَو عَابِرُ سَبيلٍ</p>
<p>“Jadilah kamu di dunia seperti halnya orang asing atau orang yang sekedar numpang lewat/musafir.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ</p>
<p>“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir.” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata hadits hasan sahih)</p>
<p>Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">مَا لِي وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا</p>
<p>“Ada apa antara aku dengan dunia ini? Tidaklah aku berada di dunia ini kecuali bagaikan seorang pengendara/penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian dia beristirahat sejenak di sana lalu meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi, dia berkata hadits hasan sahih)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abumushlih.com/tak-lebih-berharga-dari-sehelai-sayap-nyamuk.html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

