Tentara Pun Bersujud Kepada-Nya

Beberapa hari ini, musholla peduli bencana Merapi di sebelah utara Stadion Maguwoharjo kedatangan jama’ah yang istimewa. Mereka adalah para tentara, prajurit-prajurit bangsa yang siap siaga mengerahkan tenaganya untuk membantu para pengungsi yang tengah dirundung duka akibat musibah erupsi Merapi. Kehilangan rumah, kehilangan harta, kehilangan sanak saudara, kehilangan usaha, kehilangan ternak, bahkan kehilangan cita-cita… Inilah mendung yang menggelayuti alam pikiran banyak pengungsi.

“Saya mau pulang kemana?”. “Saya mau kerja apa?”. “Saya mau makan apa?”. “Anak saya bagaimana?”. Itulah sebagian tanda tanya besar yang merasuk dalam hati mereka, mengusik pikiran dan terkadang harus memecahkan tangisan dan lelehan air mata… Hanya Allah tempat kami meminta pertolongan dari segala keburukan dan kesusahan yang terpampang di depan mata…  Oleh sebab itu wajarlah apabila banyak sekali pihak yang menangkap kesedihan mereka dan mewujudkannya dalam berbagai bentuk kepedulian dan bantuan. Dan para tentara itu, saya rasa juga memiliki empati yanag dalam terhadap penderitaan yang sedang dialami oleh saudara-saudara mereka. Tidak tanggung-tanggung, Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) hari ini datang ke Maguwo meninjau kinerja anak buahnya dalam menjalankan tugas-tugas mereka dalam program rehabilitasi dan recovery pasca bencana ini. Sesuatu yang layak untuk dihargai dan mendapatkan perhatian dari anak-anak negeri.

Tatkala waktu sholat Zhuhur tiba, mereka pun berdatangan menghadiri sholat jama’ah dengan seragam mereka yang khas, baju loreng dan sepatu tentara yang kemudian mereka lepas di depan musholla. Mereka ganti sepatu itu dengan sandal jepit yang disediakan di sana -yang bahkan kanan dan kirinya tidak serasi-, melangkah ke tempat wudhu dan bersuci untuk menghadap Rabb langit dan bumi, menunaikan kewajiban sholat 5 waktu, sesuatu yang lebih mereka cintai daripada jabatan yang mereka miliki. Tak lama kemudian, mereka telah larut dalam ibadah agung yang mencerminkan keimanan seorang mukmin di hadapan Rabbnya. Sebuah ibadah -yang kalau dikerjakan dengan sepenuh hati- tentu akan menahan diri pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar…

Selepas sholat dan berdzikir, mereka pun beranjak pergi meninggalkan musholla ini. Namun, di tengah langkah mereka datanglah sosok da’i sederhana yang menawarkan buletin dakwah kepada mereka. Bukan itu saja yang ditawarkannya, akan tetapi buku ushul tsalatsah (tiga landasan utama), hadits arba’in, panduan dzikir dan doa, bahkan tak lupa beberapa butir korma dan air minum pun ditawarkan olehnya. Sungguh, pemandangan yang menyejukkan sekaligus mencerminkan kejernihan sikap seorang da’i. Bukan hanya pengungsi atau korban erupsi merapi yang butuh dakwah, bahkan bapak-bapak tentara ini pun semestinya diperhatikan. Jangan sia-siakan kesempatan ini… “Sungguh, apabila Allah menunjuki seorang saja dengan perantara dirimu, itu jauh lebih baik daripada onta-onta merah.”

Melalui kepedulian semacam inilah, disertai kesadaran yang tertancap kuat di dalam hati, kesabaran dalam menghadapi kesulitan, keinginan yang kuat untuk membantu sesama, segala beban berat dan penderitaan para pengungsi dan korban erupsi -dengan izin Allah- akan sedikit demi sedikit terkurangi. Apalagi mereka adalah saudara kita, yang bersujud kepada Rabb yang sama, mengikuti Nabi yang sama, dan memegang teguh agama yang sama. Walaupun dalam beberapa perkara mereka tergelincir -itupun karena ketidakpahaman mereka-, namun mereka adalah saudara kita, yang barangkali hati mereka jauh lebih bersih daripada hati kita, mereka lebih sabar dan ikhlas daripada kita, bahkan mungkin lebih banyak perjuangan dan pengorbanannya untuk membela agama…

Oleh sebab itulah, kepedulian kita kepada mereka merupakan konsekuensi dari perasaan cinta karena Allah (baca: aqidah) yang tertanam dalam hati setiap mukmin. Laa yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akihi maa yuhibbu li nafsihi, “Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai dia menyukai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana yang dia sukai bagi dirinya sendiri.”

Sekarang, marilah kita bertanya sejauh mana bukti kesempurnaan iman itu ada dan tertancap di dalam hati kita? Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Yogyakarta, 8 Muharram 1432 H/ 14 Desember 2010

Bantuan dapat disalurkan ke:

Rekening BNI UGM Yogyakarta
Nomor rekening 0125792540 a.n. Devi Novianti

Rekening Bank Syari’ah Mandiri Cabang 094 Kaliurang Yogyakarta
Nomor rekening 0947008920 a.n. Ginanjar Indrajati Bintoro

Rekening Bank Mandiri Cabang Yogyakarta Gedung Magister 13705
Nomor rekening 137-00-065.4879-2 a.n. Bintoro

Rekening BCA
Nomor rekening 0130537146 a.n. Hanif Nur Fauzi

Bagi anda yang telah berpartisipasi, harap mengkonfirmasikan diri kepada kami melalui sms dengan format sebagai berikut:
Nama/Alamat/TanggalKirim/JumlahUang/RekeningTujuan/Merapi

Ke nomor :
0852 5205 2345 (Wiwit Hardi P.)
atau
0856 4305 2159 (Nizamul Adli)

YM: ypiapeduli@yahoo.com

Atas partisipasi dan perhatian anda kami ucapkan jazaakumullahu khairaan.

Laporan Pemasukan per 12 Desember 2010
http://muslim.or.id/dari-redaksi/update-12-des-laporan-pemasukan-donasi-tanggap-merapi.html

Profesor Simon Pimpin Rapat Rehabilitasi Masjid Pasca Bencana
http://ypia.or.id/prof-simon-pimpin-rapat-rehabilitasi.html

Susunan Tim Rehabilitasi
http://ypia.or.id/revisi-susunan-panitia-rehabilitasi-dan-recovery-masjid.html

This entry was posted in Kisah and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *